LAPORAN PENELITIAN
MENYINGKAP NORMA DAN NILAI DALAM RITUAL ZIKIR BATU BALANCING PUTIH PADA UPACARA KEMATIAN MASYARAKAT KABUPATEN MADINA SUMATERA UTARA
PENELITI:
Sahrul (Ketua)
Afrahul Fadhila Daulai (Anggota)
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
(LP2M)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUMATERA UTARA MEDAN
2022
Penelitian Dasar Interdisipliner
i Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis muatan norma dan nilai dalam ritual zikir batu balancing putih dan implikasinya terhadap masyarakat Kabupaten Madina Sumatera Utara.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomonologi dan etnografi. Informan penelitian terdiri atas sepuluh orang sekaligus sebagai sumber data primer. Metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, display data dan verifikasi kesimpulan. Merujuk pada hasil penelitian ditemukan sejumlah jenis norma dan nilai dalam ritual zikir batu balancing putih pada upacara kematian masyarakat Madina. Norma tersebut meliputi (1). Batu berwarna putih, diambil dari sungai oleh keluarga musibah dan dimasukkan ke dalam goni atau ember plastik (2). Ukuran batu balancing putih sebesar jempol tangan atau jempol kaki orang dewasa (3). Batu balancing putih ditumpuk-tumpukkan dihadapan jamaah ketika ritual zikir. (4). Imam zikir fasih bacaan Al-Qur‟an dan alim (5). Sebaiknya para imam, jamaah berwuduk dan bersih dari hadas besar dan kecil. (6). Memakai gundal (tanda). (7). Mengambil satu batu usai membaca Q.S. Al-Ikhlas (8). Tidak diperbolehkan saling berbicara dan tegur sapa ketika ritual zikir berlangsung. (9).
Keesokan hari batu balancing putih yang telah dizikirkan diserakkan di atas makam jenazah. (10). Bentuk keyakinan masyarakat secara turun temurun. Sedangkan dari sudut nilai (1). Mengandung nilai keberkahan (2). Membangun sikap ikhlas dan sabar atas musibah kematian (3). Pembimbing jiwa yang gelisah (4). Pahala bacaan zikir batu qulhu dihadiahkan pada jenazah di alam kubur (5). Dapat mengurangi azab kubur terhadap jenazah (6). At-tanzir (peringatan) bagi keluarga dan jamaah (7). At-tafakkur (renungan) atas musibah kematian (8). Amar ma’ruf dan nahi mungkar (mengajak pada jalan kebaikan dan mencegah manusia dari jalan kemungkaran). Implikasi zikir terhadap masyarakat Kabupaten Madina bahwa pada setiap ada kematian diadakan ritual zikir batu balancing putih tanpa melihat status sosial, kaya, fakir, miskin, golongan, kedudukan, dan latar belakang pendidikan. Kalau tidak dlaksanakan maka dipandang sebagai aib, merasa malu dan janggal (merasa bersalah) dalam kehidupan bermasyarakat.
ii
KATA PENGANTAR
Ucapan terbaik segala puji dan syukur pada Allah swt atas segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulisan laporan penelitian ini selesai tepat waktu. Selawat dan salam disampaikan pada Nabi Muhammad saw sebagai suri teladan terbaik dalam kehidupan manusia. Karena itu, mari selalu mengamalkan sunnah- sunnahnya baik dari segi perkataan, perbuatan dan takrirnya terutama dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat.
Penelitian ini berjudul” Menyingkap Norma dan Nilai Dalam Ritual Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat Madina Sumatera Utara. Waktu penelitian lebih kurang enam bulan, dari segi waktu dipandang cukup untuk melakukan reduksi data, display data dan verfikasi kesimpulan.
Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Madina, Sumatera Utara. Kabupaten ini adalah pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Dasar memilih lokasi ini karena di daerah ini sampai sekarang tetap melakukan ritual zikir batu balancing putih pada setiap ada kematian di masyarakat. Dengan tidak memandang status sosial, harajaon (keturunan raja), fakir, miskin, kaya, golongan, jabatan dan tingkat pendidikan.
Tradisi zikir batu balancing putih sering juga dinamakan zikir batu qulhu adalah termasuk budaya agama yang diwariskan oleh leluhur, para ulama dan malim (ustad) kampung. Jadilah semacam keyakinan yang tidak dapat ditinggalkan oleh masyarakat hingga kini.
Karena dipandang baik dan memuat sejumlah norma dan nilai terhadap keluarga musibah, jamaah dan jenazah di alam kubur. Di antara jenis normanya yaitu batu berwarna putih, diambil di sungai oleh keluarga musibah, ukuran batu zikir sebesar jempol tangan atau jempol kaki lelaki dewasa, batu zikir ditumpuk-tumpukkan di hadapan jamaah, imam zikir bagus bacaan Al-Qur‟an dan alim, sebaiknya jamaah bersih dari hadas besar dan kecil, memakai gundal (tanda), mengambil satu batu usai membaca Q.S. Al-Ikhlas demikian seterusnya, tidak dibolehkan berbicara dan tegur sapa ketika zikir
iii
berlangsung dan keesokan harinya batu zikir qulhu ditabur di atas kuburan.
Ditinjau dari segi nilai yaitu punya nilai berkah, menghasilkan sikap ikhlas dan sabar atas musibah kematian, pembimbing jiwa yang gelisah, pahala bacaan dihadiahkan pada jenazah di alam kubur, bentuk ikhtiar mengurangi siksa kubur, at-tanzir (peringatan) bagi keluarga dan jamaah, at-tafakkur (muhasabah) dan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Secara jujur diakui bahwa penelitian belumlah sempurna masih ditemukan beberapa kekurangan dan kelemahan. Karena itu pada para pembaca dimohon memberikan masukan, kritik dan komentar untuk penyempurnaan penelitian berikutnya. Terutama masukan itu datang dari para ahli sosiologi agama dan antropologi agama serta ilmuan agama dan filsafat Islam.
Atas selesainya penelitian ini maka kata ucapan terimakasih yang sangat tepat diberikan pada Rektor UINSU dan kepala LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) dan Ketua Pusat Penelitian UINSU. Ucapan terimakasih yang tidak terhingga disampaikan pada para informan penelitian yang telah bersedia diwawancarai, meluangkan waktu dan memberikan data-data yang diperlukan sehingga penelitian ini selesai. Berikutnya pada anggota peneliti dan pembantu peneliti, budi baikmu tidak terlupakan sepanjang masa. Semoga Allah swt memberikan hidayah, umur yang barokah, reski dan kesehatan selalu, amiin ya rabbal „alamiin.
Medan, 21 Oktober 2022 Ketua Peneliti
Dr. Sahrul, M.Ag
iv DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
Bab I Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan ... 6
1. Rumusan Permasalahan ... 6
2. Batasan Permasalahan ... 7
3. Tujuan Penelitian ... 8
4. Kontribusi Penelitian ... 8
5. Sistematika Laporan ... 9
Bab II Landasan Teoritis ... 10
A. Teori-teori Sosiologi Agama dan Antropologi Agama yang Relevan ... 10
B. Unsur-unsur Yang Mengatur Masyarakat; Agama, Adat, Norma Dan Nilai ... 14
C. Relasi Agama dan Budaya... 26
D. Perintah Berzikir, Tasbih dan Manfaatnya ... 30
E. Penelitian Terdahulu ... 41
Bab III Metodologi Penelitian ... 43
A. Jenis Penelitian dan Pendekatan ... 43
B. Lokasi Penelitian ... 44
C. Informan Penelitian ... 44
D. Metode Pengumpulan Data ... 46
E. Teknik Analisis Data ... 49
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 52
A. Temuan Umum Penelitian ... 52
B. Profil Masyarakat Madina ... 59
C. Temuan Khusus Penelitian ... 66
v
1. Menelusuri Sejarah dan Dalil Ritual Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian
masyarakat di Kabupaten Madina Sumatera Utara ... 66
2. Proses Pelaksanaan Ritual Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat di Kabupaten Madina Sumatera Utara ... 68
3. Menelusuri Jenis-jenis Norma Dalam Ritual Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat Kabupaten Madina Sumatera Utara ... 71
4. Jenis-Jenis Nilai Dalam Ritual Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat Kabupaten Madina Sumatera Utara ... 79
D. Implikasi Ritual Zikir Batu Balancing Terhadap Masyarakat Madina Kabupaten Madina Sumatera Utara ... 88
Bab V Penutup ... 91
A. Kesimpulan ... 91
B. Saran ... 92
DAFTAR REFERENSI ... 93
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 98
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian tentang ritual keagamaan dewasa ini semakin intens dilakukan oleh para ahli sosiologi agama, antropologi agama dan studi agama-agama. Misalnya tahun 2013 muncullah studi antropologi eksprimental untuk menguji hubungan antara ritual dan ketenteraman batin (Xygalatas, et.al., 2013). Mulukom (2017), menjelaskan bahwa ritual keagamaan menjadi identitas diri, pembimbing rohani terhadap kehidupan individu, keluarga, masyarakat sehingga menghasilkan hubungan yang erat antara keyakinan dengan budaya.
Hasil penelitian tersebut di atas, kalau dicermati sebenarnya mirip seperti beberapa fungsi agama dalam kehidupan manusia. (1).
Memusatkan kajian pada aspek di luar kemampuan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan sosial (2). Agama menawarkan hubungan keyakinan dengan kebudayaan sehingga menimbulkan rasa aman (3). Agama menyucikan norma-norma dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. (4). Agama dapat memberi nilai terhadap adat, norma dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. (5). Agama dapat memberi indentitas dan melepaskan diri dari makna simbol dan ritual keagamaan (Lubis, 2015).
Lienard & Lawson (2008) memahami ritual agama adalah ritual budaya yang berkaitan dengan hal-hal adikodrati seperti memuji roh-roh leluhur, dewa-dewa, kuburan, batu dan benda-benda yang dipandang keramat. Dari ritual ini dipersepsi punya norma dan nilai serta dapat membawa ketenangan jiwa bagi para pemeluknya karena bersifat sakral.
Popi Puspitasari, Sudaryono Achmad Junaidi & Heddy Shri Ahimsa Putra (2017) meneliti tentang Struktur ritual dan ruang:
Ziarah dan Pemanfaatan Ruang di Kampung Kota Bersejarah Konteks Luar Batang, Jakarta Indonesia. Dalam hasil penelitiannya ditemukan bahwa tradisi ritual ziarah kubur berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat meskipun seseorang telah
meninggal dunia. Bahkan mereka menganggap bahwa masih ada hubungan roh orang yang meninggal dunia dengan keluarga yang hidup. Untuk menjaga hubungan itu di sinilah diperlukan ritual-ritual keagamaan seperti mengirim doa dan sedekah.
Penelitian yang cukup menarik dilakukan oleh M. Fais Satrianegara, Hamdan Juhannis, Abd. Lagu Madjid, Habibi, Syukfirianty & Syamsul (2021), judul “Budaya Adat dan Ritual Khusus Yang Berkaitan Dengan Kesehatan di Suku Bugis Indonesia”.
Dalam hasil temuan penelitiannya bahwa faktor keyakinan dan agama berpengaruh terhadap pemikiran dan perilaku manusia. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap individu, keluarga dan masyarakat dalam menjaga kesehatannya. Budaya perilaku kesehatan di masyarakat beraneka ragam dan melekat dalam kehidupan sosial. Upaya yang harus dilakukan untuk merobah budaya masyarakat dengan cara menciptakan budaya inovatif yang sesuai dengan agama, adat, norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat.
Kecenderungan hasil-hasil penelitian tersebut di atas, fokus pada budaya-budaya agama bumi belum mengarah pada budaya- budaya agama wahyu. Seperti dijelaskan oleh Bustanuddin (Agus, 2007), secara garis besar agama terbagi dua yaitu agama wahyu dan agama bumi. Agama wahyu sering juga disebut agama langit. Agama bumi adalah buah dari hasil pemikiran manusia yang alat ukurnya adalah rasional dan empiris. Kedua agama inilah yang banyak dikaji oleh para ahli antropologi agama dan sosiologi agama tetapi mereka tidaklah mengkaji tentang kebenaran suatu agama, namun, fokus pada asal usul agama. Mereka sepakat bahwa kedua agama itu membentuk dan memiliki budaya keagamaan karena berkembang di masyarakat.
Perbedaan mendasar antara agama wahyu dan bumi, dapat dilihat dari segi kitab suci, syariat, umat, para nabi sebagai utusan Allah swt dan bersifat rahmatan lil „alamin (Lubis, 2020). Para nabi yang diutus mulai dari Nabi Adam as, sampai kepada Nabi Muhammad saw sebagai nabi penutup. Tujuan diutus para nabi adalah untuk membawa risalah ilahi berisi tentang ketauhidan, ibadah, akhlak, muamalah, batasan baik dan buruk, halal dan haram, hari akhirat, sorga dan neraka.
Sementara itu, agama bumi tidak punya nabi kalaupun ada diangkatnya sendiri. Kemudian tidak punya syariat, umat dan timbul ketika manusia mengalami prustasi, goncangan batin, cobaan hidup yang sangat hebat dan luar biasa. Pada posisi ini manusia tidak dapat menghadapi dengan pikiran lagi kecuali melalui pendekatan- pendekatan spiritual yang disebut dengan emosi keagamaan. Dari dorongan inilah yang menimbulkan kepercayaan terhadap yang gaib dan menimbulkan perilaku religious; berakhlak, bermoral, memanjatkan doa-doa spiritual, dan sedekah untuk membantu kaum fakir dan miskin.
Beberapa contoh agama wahyu adalah Yahudi, Nasrani dan Islam, dianut oleh penduduk dunia. Penganut agama terbanyak kini ialah Islam dan kedua terbanyak ialah Kristen Protestan dan Katolik.
Kedua agama ini disebut agama misi karena sifatnya mengajak pemeluk agama lain untuk memeluk agama yang dianutnya.
Sedangkan agama budaya yaitu Hindhu, Buddha, Konghucu, Sipelbegu di Sumatera Utara, agama Kaharingan di Kalimantan, agama Alu Tododo, Tolotang di Sulawesi Selatan, agama Sunda Wiwitan di Baduy, Banten, agama Jawa Sunda, Tenggerisme, Samanisme di Jawa, Wektu Telu di Nusa Tenggara Barat dan terkini agama Baha‟i sebagai sempalan Syiah di Indonesia.
Agama-agama budaya yang berkembang di Indonesia saat ini tidaklah diakui oleh pemerintah kecuali Hindhu, Buddha dan Konghucu, di samping Islam, Kristen Protestan, dan Katolik.
Pengakuan tersebut dituangkan dalam UUD 1945 Bab IX Agama, Pasal 29 (1). Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (2).
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan itu (Suharti, 2014).
Di Kabupaten Madina, ditemukan agama wahyu (Islam) dan agama bumi; Kristen Katolik, Protestan, Hindhu, Buddha dan Konghucu. Namun, jumlah mereka minoritas. Penduduk Madina 95,50% beragama Islam, tergolong religius dan sekaligus jumlah terbesar di Sumatera Utara. Kehidupan masyarakatnya diatur oleh lima unsur yaitu agama, hukum, adat, norma dan nilai. Kelima unsur
ini saling terkait, ranah agama dalam aspek ketauhidan, hukum, adat, norma dan nilai pada ranah sosial.
Dalam upaya membuktikan masyarakat religius ternyata di setiap kelurahan, desa dan kecamatan ditemukan masjid sebagai tempat ibadah yang tergolong indah dan bagus. Dibangun atas dasar filantropi Islam; zakat, infak, wakaf, sedekah dan bantuan pemerintah daerah. Dalam bidang pendidikan Islam ditemukan juga beragam jenis lembaga pendidikan formal dan informal yaitu Taman Pembacaan Al- Qur‟an (TPA), Pendidikan Islam Usia Dini (PIAUD), madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Madrasah „Aliyah, pesantren, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).
Untuk mencerdaskan pemahaman agama masyarakat maka difungsikan majelis taklim, majelis tafsir Al-Qur‟an, perwiridan kaum bapak, ibu-ibu dan pengajian remaja masjid.
Demikian pula para penduduk menutup aurat baik ketika berada di khalayak ramai, tempat-tempat wisata, supermarket, pemandian umum, kedai kopi, hotel, perumahan dan sekolah. Bahkan pemerintah daerah membuat spanduk, baleho dan papan pengumuman di depan masjid Agung Madina; anda sedang memasuki kawasan Islami jagalah perkataan, perbuatan, negeri beradat dan berakhlak.
Munculnya pernyataan tersebut di atas, sejalan dengan nilai- nilai falsafah hidup etnik Mandailing yaitu Poda Na Lima. Poda artinya nasehat, na artinya yang dan lima artinya lima. Secara ringkas dapat diapahami nasehat yang lima, meliputi (1). Paias rohamu (bersihkan hatimu) (2). Paias pamatangmu (bersihkan jasmanimu) (3). Paias parabitonmu (bersihkan pakaianmu (4). Paias bagasmu (bersihkan rumahmu) (4). Paias pakaranganmu (halaman rumahmu).
Kelima falsafah hidup ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Madina.
Meskipun tergolong muslim religius dalam kehidupan sosial tetapi dalam praktek keagamaan punya budaya-budaya agama seperti marhaban, tepung tawar, mangupah-upah (upah-upah) ketika lahiran anak, pesta pernikahan, sembuh dari sakit, dan memasuki rumah baru.
Dalam hal penyelesaian fardhu kifayah ditemukan dua bentuk budaya agama. Pertama, membayar fidiyah shalat dalam bentuk emas, beras
atau uang sebelum atau sesudah jenazah dikebumikan. Tradisi ini seperti diinformasikan oleh Lia Wardani (2022), adalah warisan para ulama dan leluhur. Berfungsi sebagai penghapus dosa, melepaskan tanggung jawab shalat yang ditinggalkan oleh jenazah semasa hidup, bentuk penangkal bala, dan penambah kebaikan terhadap keluarga musibah dan jenazah. Kedua, melaksanakan zikir batu balancing putih atau zikir batu qulhu pada upacara kematian setiap anggota masyarakat meninggal dunia. Kedua budaya agama ini kelihatan telah membudaya di masyarakat dan jika tidak dilaksanakan maka dipandang sebagai aib, merasa malu, dan janggal (aneh). Seperti ada yang kurang cocok dan kurang afdhal (mulia) rasanya.
Tradisi zikir batu balancing putih adalah ranah keyakinan, sejenis bentuk pujian pada Allah swt. Diwariskan secara turun temurun oleh leluhur, para ulama dan malim (ustad) kampung. Hingga kini masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Madina meskipun di era modern yang sarat perubahan sosial. Urgensi dari zikir batu balancing putih dipersepsi oleh masyarakat punya muatan norma dan nilai. Norma adalah aturan, etika, sistem dan prinsip-prinsip yang harus dipatuhi secara sadar oleh individu maupun kelompok sosial di masyarakat (Capon & Modgil, 2017). Sedangkan nilai adalah kebenaran, kebaikan, manfaat dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.
Muatan norma dalam zikir batu balancing putih; batu berwarna putih, batu diambil oleh keluarga musibah di sungai, tidak boleh dilangkahi dan diletakkan di tempat yang nyaman, memakai gundal (tanda baca), ketika zikir imam dan jamaah bebas dari hadas besar dan kecil, tidak boleh saling berbicara ketika zikir, dan setiap usai membaca Q.S. Al-Ikhlas satu kali maka diambil satu batu. Dua, tiga, empat, lima, enam kali dan seterusnya maka diambil batu sesuai jumlah bacaan. Mengapa menggunakan batu balancing putih?
Mengapa Q.S. Al-Ikhlas dijadikan sebagai media zikir? Mengapa pula tidak Q.S. Yasin yang dibaca?
Uniknya zikir batu balancing putih dipersepsi oleh masyarakat juga punya muatan nilai dalam arti kebaikan. Di antaranya mengandung nilai berkah terhadap keluarga musibah dan jamaah,
fadilah bacaan dan pahalanya dihadiahkan pada jenazah di kuburan, membangun sikap ikhlas dan sabar atas musibah, pembimbing jiwa yang gelisah. Berikutnya sebuah ikhtiar agar Allah swt meringankan siksa kubur, bentuk peringatan pada orang-orang yang masih hidup, at-tafakkur (renungan), amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pelaksanaan zikir batu balancing putih cukup variatif di desa-desa Kabupaten Madina.
Dimulai malam pertama, meskipun pada umumnya dimulai pada malam kedua dan ketiga takziah. Perbedaan ini sebenarnya terletak pada pemahaman bahwa tiga malam berturut-turut justru lebih banyak nilai pahala dari pada dua malam saja.
Usai ritual zikir batu balancing putih dikumpulkan oleh keluarga musibah dan dimasukkan ke dalam sebuah goni atau ember plastik. Pada hari keempat dari kematian maka batu tersebut diletakkan di atas kuburan. Mengapa diletakkan di atas kuburan? Apa norma dan nilainya? Para petugas pembawa batu adalah keluarga musibah dan dibimbing oleh ustad.
Ritual zikir dengan menggunakan batu balancing putih punya implikasi terhadap individu, keluarga dan masyarakat bahkan pada pemerintah daerah. Diadakan pada setiap ada kematian dengan tidak memandang status sosial, harajaon (keturunan raja), kaya, miskin, jabatan, dan latar belakang pendidikan. Meskipun demikian pada kenyataannya masih ada sikap masyarakat yang menerima dan menolak. Timbulnya sikap tersebut dipandang cukup wajar sebab kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat adalah bagian dari ajaran Islam. Warisan nenek moyang yang harus tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh individu, kelompok dan masyarakat.
B. Permasalahan
1. Rumusan Permasalahan
Merujuk pada latar belakang tersebut di atas ada dua masalah utama dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Apa jenis muatan norma dan nilai dalam ritual zikir batu balancing putih pada upacara kematian masyarakat Kabupaten Madina, Sumatera Utara?
2. Bagaimana implikasi muatan norma dan nilai ritual zikir batu balancing putih pada upacara kematian terhadap masyarakat Kabupaten Madina, Sumatera Utara?
2. Batasan Permasalahan
Dalam upaya menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap judul tersebut di atas perlu dijelaskan istilah-istilah berikut:
Norma adalah aturan, patokan, pedoman dan perilaku yang disepakati bersama dalam kehidupan masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia norma ialah aturan atau ketentuan yang sifatnya mengikat setiap elemen masyarakat dalam kehidupan sosial.
Norma terbagi pada beberapa jenis (1). Norma agama (2). Norma adat (3). Norma sosial (4). Norma hukum (5). Norma budaya. (6). Norma kesopanan. Seluruh norma ini ditemukan pada seluruh lapisan masyarakat. Masing-masing elemen masyarakat sangat menaati setiap bentuk norma baik sifatnya tertulis maupun tidak tertulis.
Dalam tulisan ini jenis norma yang dimaksud meliputi batu berwarna putih, batu diambil dari sungai oleh keluarga musibah, ukuran batu sebesar jempol tangan atau jempol kaki orang dewasa, batu balancing putih ditumpuk di hadapan jamaah takziah, imam zikir fasih bacaan Al-Qur‟an dan alim, sebaiknya beruwuduk, bersih dari hadas besar dan kecil, memakai gundal (tanda baca), mengambil satu batu usai membaca satu kali Q.S. Al-Ikhlas, tidak dibolehkan berbicara dan tegur sapa ketika ritual zikir, keesokan harinya batu balancing putih diserakkan di atas kuburan, bentuk keyakinan yang dianut oleh masyarakat Madina.
Nilai adalah keyakinan, adil, cita-cita, manfaat, baik dan benar.
Bisa juga dipahami sesuatu yang bisa memberi makna dalam hidup.
Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia nilai (1). Harga (2). Angka kepandaian (3). Isi; kadar dan mutu (4). Sifat-sifat yang bermanfaat bagi masyarakat (5). Sesuatu yang menyempurnakan manusia sejalan dengan hakekatnya. Nilai beragam jenisnya (1). Nilai akhlak (2). Nilai moral atau etika (3). Nilai rohani (4). Nilai budaya. (5). Nilai hukum.
Dalam tulisan ini nilai adalah berkah, membangun sikap ikhlas dan sabar atas musibah kematian, pembimbing jiwa yang gelisah, pahala bacaan zikir dihadiahkan pada jenazah di alam kubur, bentuk ikhtiar mengurangi siksa azab kubur, at-tanzir (peringatan) terhadap keluarga dan jamaah, at-tafakkur (merenung), dan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Batu balancing putih adalah sejenis batu berwarna putih yang diambil dari sungai. Warna putih di sini berarti suci, indah dan bersih.
Ukurannya yakni sebesar telunjuk tangan atau jempol kaki orang dewasa. Tujuanya agar mudah dipegang ketika diadakan kegiatan zikir pada upacara kematian.
Upacara kematian adalah takziah malam pertama, kedua dan ketiga dari kematian seseorang yang dilaksanakan oleh keluarga, tetangga, jamaah Serikat Tolong Menolong (STM) dan organisasi Islam. Pada umumnya dilaksanakan usai shalat Maghrib dan diumumkan pada waktu pemberangkatan jenazah oleh keluarga atau ustad. Pelaksanaan takziah dipimpin oleh para ulama, dan ustad yang dihormati dari segi agama, tokoh masyarakat dan adat.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan jenis-jenis norma dan nilai dalam ritual zikir batu balancing putih pada upacara kematian masyarakat Kabupaten Madina, Sumatera Utara.
2. Untuk mendeskripsikan implikasi norma dan nilai dalam zikir batu balancing putih pada upacara kematian terhadap masyarakat Kabupaten Madina, Sumatera Utara.
4. Kontribusi Penelitian
Beberapa kontribusi penelitian yaitu:
1. Secara teoritis kontribusi penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang jenis norma dan nilai yang terkandung dalam zikir batu balancing putih atau zikir batu qulhu pada upacara kematian masyarakat di Kabupaten Madina, Sumatera Utara.
2. Secara teoritis, beragam praktek-praktek budaya keagamaan di masyarakat adalah khazanah ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur, para ulama dan para malim kampung yang dipandang punya muatan norma dan nilai di masyarakat.
3. Secara praktis bahwa jenis norma dan nilai yang terkandung dalam zikir batu balancing putih pada upacara kematian masyarakat Mandailing dapat dijadikan sebagai pengingat kematian bagi orang-orang yang ikut takziah bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan manusia akan kembali pada sang pencipta-Nya.
5. Sistematika Laporan Penelitian
Mempermudah membaca hasil penelitian ini maka perlu dibuat sistematika laporan berikut ini.
Bab 1 Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan istilah, tujuan penelitian, kontribusi penelitian dan sistematika laporan.
Bab II Landasan Teoritis berisi tentang teori-teori sosiologi Agama dan Antropologi Agama yang relevan, aspek-aspek kehidupan beragama, fungsi agama dalam kehidupan sosial, relasi agama dan budaya, perintah berzikir, tasbih dan manfaatnya serta penelitian terdahulu.
Bab III Metode Penelitian mengemukakan tentang lokasi penelitian, jenis penelitian dan pendekatan, informan penelitian, sumber primer dan sekunder, metode pengumpulan data dan teknik analisis data
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan meliputi temuan umum penelitian dan temuan khusus penelitian.
Bab V Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran
10 BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Teori-teori Sosiologi Agama dan Antropologi Agama Yang Relevan
Mengkaji norma dan nilai dalam zikir batu balancing putih pada upacara kematian masyarakat Mandailing Kabupaten Madina memerlukan beberapa teori yang relevan. Di antara teori tersebut yaitu:
1. Teori fenomonologi
Menurut teori ini bahwa seluruh tipologi masyarakat; primitif, tradisional, modern dan postmodern dapat diamati dari segi fenomena- fenomena sosial bukan dari aspek nowmena (abstrak). Fenomena sosial adalah gambaran dari realitas, gejala-gejala sosial atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masyarakat. Contoh, perilaku sosial, interaksi sosial, prustasi, kemiskinan, norma, nilai-nilai dan konflik sosial.
Bentuk-bentuk perilaku sosial yang mudah diamati sekarang misalnya hampir semua anak-anak, remaja, mahasiswa, ibu-ibu dan orang dewasa ketika duduk santai, menunggu angkutan umum, menjelang waktu perkuliahan dimulai di kelas, bahkan sedang menunggu waktu shalat masuk menggunakan handphone; membaca WatshApp, internet dan menonton youtobe. Contoh lain, di Jakarta sekarang lagi tren SCBD (Sudirman Central Business District), Citayam fashion week, para remaja dan dewasa berkumpul dengan menggunakan gaya masing-masing. Sedangkan dalam bidang interaksi sosial masyarakat desa masih kuat interaksi sesamanya karena faktor hubungan keluarga, satu desa, relijius, dan berpegang teguh pada aturan-aturan yang disepakati bersama. Di kota dewasa ini interaksi sosial justru semakin renggang antara sesama anggota masyarakat karena status sosial, profesi, ekonomi, kesibukan bekerja di kantoran, perubahan sosial dan dipengaruhi oleh faktor kepentingan.
Cara untuk menemukan gejala-gejala sosial yaitu melalui pengamatan terencana, tidak terencana, wawancara secara terstruktur dan tidak terstruktur. Munculnya gejala-gejala sosial tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kultural karena sudah lama dianut oleh masyarakat secara turun temurun, kebiasaan- kebiasaan, perubahan sosial, penemuan-penemuan baru, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju.
Kedua, faktor struktural yaitu aturan, kepemimpinan dan pola hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
Mengutip penjelasan Jean Baudrillard (dalam Lubis, 2014) bahwa untuk memahami fenomena sosial di masyarakat yakni menggunakan cara simulasi (sulit mengetahui beda asli atau palsu), hipperealitas (sulit membedakan mana realitas dan fantasi), simbol, dan kode (misal kini menggunakan komputerisasi) dan impulsive artinya berpikir cepat dan pragmatis tanpa memikirkan dampaknya.
Penggunaan teori fenomonologi pada prinsipnya tidak berbeda dengan teori etnometodologi yang dapat mengungkap percakapan sehari-hari dengan orang yang diteliti dan sekaligus dapat menafsirkan maknanya. Keunggulan teori fenomenologi adalah dapat mengungkap fakta secara empiris dan kebenaran secara objektif melalui pengamatan dan wawancara. Kemudian dapat digunakan dalam bentuk penelitian skala besar dan kecil.
2. Teori budaya
Pada dasarnya teori budaya terbagi dua. Pertama, budaya sebagai pita kesadaran untuk menyingkap memori kolektif dari suatu budaya masyarakat. Kedua, budaya sebagai sistem adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Dari teori inilah dapat dipahami bahwa budaya adalah cara hidup suatu masyarakat yang diwariskan, dipelihara dan dikembangkan oleh antar generasi. Dalam memahami budaya masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara (1). Menggunakan teori kulit buah manggis lihat dibagian bawah buahnya jika terdapat lima atau enam tanda “bintang” maka lima atau enam isi dalamnya. Misal, ketika masyarakat menggunakan tari tortor, gordang sembilan (gendang sembilan) dan onang-onang (nyanyian tradisional) maka
dapat dipastikan adalah etnik Mandailing. Jika di depan pintu ditulis kata salom dapat diartikan etnik Batak Toba, beragama Kristen Katolik dan Protestan. Demikian pula jika ada pesta pernikahan menggunakan tari jaepong, kuda kepang, menyambut pengantin laki- laki dan perempuan pijak telor ayam dan mandi kembang bunga maka dinamakan budaya etnik Jawa. (2). Teori kulit bawang yaitu menggambarkan masyarakat berlapis-lapis. Lapisan pertama kulit bawang adalah lapisan permukaan yang kadang-kadang mudah dilihat dan belum tentu diketahui apa makna di dalamnya. Lapisan kedua kulit bawang, masih sebatas menggambarkan kulit tetapi sudah mulai dipahami apa makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan kulit dalam yaitu kulit inti yang menggambarkan makna sesungguhnya dari suatu budaya. Untuk memperoleh makna dari kulit dalam tentu diperlukan penelitian secara mendalam dan fokus melalui pengamatan dan wawancara. Para peneliti budaya kadang-kadang hanya melihat kulit luar artinya sebatas permukaan saja belum melihat secara khusus makna suatu budaya bagi masyarakat.
Kedua bentuk budaya tersebut di atas jika dilihat dari sifat budaya (1). Budaya bersifat simbol (2). Budaya merupakan karya cipta masyarakat (3). Berpola dan berintegrasi (4). Budaya dapat dikembangkan dan diwariskan (5). Dapat dipelajari dan mempunyai mekanisme dalam pelaksanaannya (6). Budaya bersifat kontinyu dan kumulatif (7). Budaya terus berkembang (8). Budaya menyebar dan dipahami oleh orang lain (9). Budaya bersifat sosial (11). Budaya itu sungguh beraneka ragam yang dianut oleh suku dan bangsa (12).
Budaya itu bisa bersifat permanen dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman (Lileweri, 2014).
Beberapa poin-poin dari sifat budaya, dapat dipahami bahwa budaya adalah hasil dari cipta, rasa dan cita-cita. Bisa juga perilaku yang bisa dipelajari secara sosial dan ditransmisikan ke dalam bentuk ide, norma, nilai dan kebiasaan. Sifatnya terus mengalami perkembangan, bersifat sosial, berpola, berinteraksi dan cukup beragam bentuknya di masyarakat sesuai dengan etnik atau bangsanya. Beragamnya bentuk budaya tentu merupakan sunnatullah di muka bumi.
3. Teori Struktur Fungsional
Menurut teori ini kehidupan sosial adalah bentuk kehidupan berbagai komunitas yang mempunyai struktur sosial untuk mengatur dan memelihara kehidupan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (Nazsir, 2009). Berkaitan dengan hal itu, Damsar menginformasikan bahwa manusia adalah paling taat dan patuh terhadap pola struktural yang fungsional dalam kehidupannya. Asumsi dasar teori ini (1). Setiap masyarakat dipastikan punya struktur sosial secara relatif dan stabil (2). Elemen-elemen terstruktur dengan baik (3). Setiap elemen dalam struktur sosial punya fungsi masing-masing (4). Setiap elemen struktur diikat dengan konsensus nilai di kalangan anggotanya (Damsar, 2017).
Struktur sosial yang terdapat dalam kehidupan nyata dapat diamati secara kasat mata karena struktur terdiri dari (a). Semua hubungan yang terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. (b). Ditemukan perbedaan antara individu dengan individu maupun kelompok dengan kelompok. Pengertian lain dari struktur sosial adalah jaringan antara unsur-unsur sosial meliputi keluarga, kelompok, lembaga, kebudayaan, perubahan sosial, stratifikasi sosial dan kepemimpinan.
Sunarto (2004), bahwa pembahasan mengenai struktur sosial selalu dikaitkan dengan perilaku sosial mendasar dalam kehidupan sehari- hari dan hubungan antar sesama manusia. Dalam Islam struktur sosial meliputi (1). Individu (2). Keluarga (3). Masyarakat (4). Negara (5).
Kepemimpinan (Sahrul, 2021).
Seluruh unsur struktur sosial di masyarakat bisa sama dan berbeda, namun, yang mengatur hubungan sosial adalah norma, nilai dan adat. Bagi masyarakat beragama selain norma, dan nilai bahwa ajaran agama menjadi patokan dasar. Bagi penganut agama samawat (agama wahyu) sumber ajaran agama adalah Al-Qur‟an dan Hadis.
Sedangkan bagi penganut agama bumi adalah akal dan kebiasaan- kebisaan yang dianut oleh masyarakat sesuai dengan kehendak penganut dan pemimpin agamanya. Karena itu, kehidupan keagamaan masing-masing penganut agama berbeda-beda dan kitab suci juga diciptakan sesuai dengan selera pembuat agama tersebut.
Bagi penganut agama samawat (agama wahyu) yang dapat menjelaskan ajaran Islam adalah para nabi yang diutus oleh Allah swt ke muka bumi, diberi kitab suci, syariatnya terbatas untuk kaumnya dan bersifat rahmatan lil’alamiin. Kemudian ajaran tersebut dipahami dan dijelaskan oleh para sahabat, para ulama yang disebut sebagai pewaris para nabi. Selain para ulama yaitu para da‟i/da‟iyah, ustad dan muballigh juga sangat berperan penting sebagai juru sampai Al- Qur‟an dan Hadis pada umat manusia.
B. Unsur-Unsur Yang mengatur Kehidupan Masyarakat:
Agama, Adat, Norma dan Nilai 1. Agama
Kehidupan sosial yang baik dan tertib adalah diatur oleh agama, adat, norma dan nilai. Dari segi bahasa Arab agama dinamakan ad-din dan millah. Dalam bahasa Inggris adalah religion kata sifatnya religious artinya bersifat keagamaan. Dari segi bahasa Sanksakerta agama berasal dari kata a maksudnya tidak dan gam artinya kacau, tidak hilang dan tidak putus. Pengertian agama ini dinilai benar karena agama diajarkan secara terus menerus dalam lingkup individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara sehingga masyarakat beragama tidak kacau tetapi tertib dan teratur.
Secara istilah agama adalah aturan Allah swt yang diturunkan pada para nabi dan diberi kitab suci sebagai pedoman hidup. Poin- poin yang diajarkan tentang keimanan, keislaman, kehidupan duniawi, halal, haram, kehidupan setelah mati, hari akhirat, sorga dan neraka.
Dari aturan inilah manusia bisa mengatur hidupnya sehingga memperoleh kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Lubis (2015), menjelaskan agama adalah seperangkat ajaran yang mengatur hubungan manusia pada sang pencipta, hubungan pada sesama manusia dan hubungan pada alam lingkungannya. Dari ketiga hubungan ini manusia senantiasa diajak untuk berbuat baik, damai, tidak saling bermusuhan, tidak merusak bumi dan isinya yang diperuntukkan oleh Allah swt untuk kemaslahatan umat manusia.
Auguste Comte (1798-1858), agama adalah jawaban dari cara berpikir manusia dan masyarakat yang cenderung mencari jawaban
mutlak dari berbagai masalah alam dan kehidupan (Agus, 2010). Dari pengertian agama inilah ia membagi tiga tahapan pemikiran manusia;
tahapan teologis, tahap metafisika dan tahapan positivisme. Tahapan pertama manusia dikendalikan oleh para dewa, dan pada tahapan kedua bahwa dibelakang kekuatan manusia ada kekuatan ghaib, namun, tidak dijelaskan siapa kekuatan ghaib dimaksud. Pada kesimpulannya tahapan pertama dan tahapan kedua pemikiran manusia sulit dihapami secara akal dan tidak dapat dibuktikan. Karena itu, Comte, berpikir bahwa yang bisa diamati secara empiris yang bisa ditangkap melalui akal saja dan kasat mata. Di luar itu ditolak kebenarannya. Dari pemahaman inilah dapat dikatakan bahwa Auguste Comte tidak percaya terhadap agama.
Clifford Geertz (1926-2006), agama adalah sistem budaya, produk manusia bukan suatu ajaran yang berasal dari Tuhan. Sigmen Freud (1856-1939), agama adalah daya khayal manusia (ilusi).
Dadang Kahmad agama adalah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan pada sesama manusia dan hubungan pada alam sekitar. Ketiga hubungan inilah sejajar artinya tidak hanya diutamakan pada hubungan pada sang pencipta semata tetapi hubungan pada sesama manusia dan lingkungan juga sangat penting.
Aspek-aspek Kehidupan beragama
Mengutip penjelasan Bustanuddin Agus aspek-aspek kehidupan agama meliputi (a). Percaya pada yang ghaib. Poin ini paling banyak dipelajari oleh ahli agama dan penganut agama. Karena merupakan hal paling mendasar dalam ajaran agama. Dalam Islam ilmu yang bicara soal yang ghaib adalah ilmu tauhid (ilmu tentang Ketuhanan). Dasar rujukannya adalah Q.S. Al-Ikhlas/112: 1-4.
Katakanlah Allah itu Esa, tempat meminta, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya. Dari ilmu inilah manusia dapat mengetahui Tuhan dengan sebenar- benarnya dan tidak ada keraguan pada-Nya sedikitpun, dijelaskan secara terperinci melalui konsep tauhid ‘uluhiyah (mengesakan zatnya), rububiyah (ciptaannya) dan asma wa sifatiyah (nama dan sifat-sifat Allah).
Versi non muslim Tuhan dapat digambarkan dalam bentuk dewa, patung patung, boneka, diberi lampu dan diberi sesaji.
Disembah dan tempat meminta tolong, pada hal hanya sebuah benda.
Namun, demikianlah kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun.
Perilaku menyembah patung jauh sebelum kedatangan Islam sudah ada di kota Mekkah dan hal inilah yang ditentang keras oleh Nabi Muhammad saw karena perbuatan syirik, dosanya tidak bisa diampuni oleh Allah swt.
Atas sikap rasul ini pula ia dimusuhi dan mau dibunuh oleh pemuka-pemuka suku Quraysi, syukurlah ia tetap dilindungi oleh Abdul Muthalib (kakek) dan Abu Thalib, (paman). (b). Sakral artinya suci, qudus seperti percaya pada kitab suci, tanah suci, bulan suci, batu suci, kuburan, palang salib, dan sungai Gangga di India. Versi non mslim yang membuat suci itu adalah manusia atau penganut agama bukan Tuhan. Sebab, agama dipersepsi sesuai dengan kehendak manusia. (c). Batiniyah atau mistisisme (tasawuf). Aspek ini berkaitan dengan kerohaniaan manusia, ingin dekat dan menyatu dengan Tuhan. Dalam Islam disebut dengan konsep tasawuf, tarekat dan suluk. Pada aspek ini bahwa pengalaman batin cukup sulit untuk dibuktikan dan diamati secara sosiologis. Mungkin pelakunya saja yang bisa memahami dan menjelaskan secara detail. Tujuan dari aspek batiniyah adalah agar manusia merasa tenteram batinnya, mengerti tentang arti kehidupan, tidak gelisah tetapi bahagia. Berapa banyak orang kaya, status sosial tinggi, punya jabatan terhormat, punya kenderaan mewah, rumah mewah, istri cantik dan anak-anak sukses pendidikannya tetapi tidak merasakan bahagia dalam hidupnya.
Sebaliknya betapa banyak pula orang status sosial rendah, tidak kaya, hidup bersahaja, profesi adalah tukang, petani, pengerajin, karyawan dan pedagang tetapi batinnya amat tenang, bisa menikmati hidup, sehat selalu, dia sadar suatu ketika akan mati dan bertemu dengan sang penciptanya. Karena itu, usai bekerja dia beribadat dengan khusuk, berdoa dan tawakkal minta ampunan dari Allah swt.
Anak-anaknya dibimbing menjadi anak saleh atau salehah, taat pada perintah Allah swt dan rasul-Nya. Akhirnya nanti mereka sekeluarga
bersama-sama masuk sorga tanpa ada suatu hambatan dan saling mengucapkan kata selamat.
Fungsi agama dalam kehidupan sosial
Agama jelas tidak hanya sebatas ajaran dan mengatur tata tertib hidup manusia tetapi mempunyai beberapa fungsi dalam kehidupan sosial penganutnya. Mengutip Sahrul dalam buku Agama dan Masalah-masalah Sosial, enam fungsi agama (1). Adalah pedoman hidup mutlak yang mengatur hubungan manusia pada sang pencipta, hubungan pada sesama manusia dan hubungan pada alam sekitar. Bentuk hubungan pada sang pencipta adalah melaksanakan ibadat, tunduk dan patuh terhadap ajaran-Nya. Hubungan pada sesama manusia diajarkan untuk selalu berbuat baik dan tidak boleh berbuat buruk, saling menghormati dan menghargai meskipun manusia beda agama dan suku maupun bangsa. Terhadap alam sekitar dijaga dan dilestarikan serta tidak boleh dirusak untuk kepentingan pribadi dan golongan. Gunakanlah untuk kepentingan bersama, generasi muda, anak dan cucu di masa depan.
Meskipun agama mengajarkan kebaikan tetapi banyak manusia melanggar aturan-aturan Allah swt dan rasul-Nya di muka bumi.
Misalnya, melakukan penebangan hutan semena-mena, pembakaran hutan, pertambangan illegal, meracun ikan dan memburu hewan- hewan dan burung-burung yang dilindungi. (2). Edukasi (mendidik).
Artinya agama bisa mendidik manusia agar bisa mengenal pencipta- Nya, mensyukuri nikmat yang telah dianugerahi padanya, dan menjadikan nikmat pula sebagai sarana ibadah. Berikutnya agama juga mendidik manusia agar bersikap adil, jujur, amanah, tidak sombong, tidak boleh bersikap dengki, irihati, buruk sangka, menebar fitnah dan adu domba sesama muslim. (3). Pembimbing rohani adalah mengarahkan jiwa manusia untuk selalu dekat pada Allah, tidak berbuat maksiat, menjaga amanah dan membersihkan jiwanya dari sifat-sifat akhlak tercela.
Dalam pandangan Islam sumber masalah di dunia ini adalah akibat dari kotornya jiwa manusia, Jika bersih jiwanya maka dia selalu taat kepada Allah swt dan menjauhi segala larangan-Nya dan tidak bersikap dengki pada orang lain. (4). Agama sebagai pembentuk
solidaritas sosial sesama penganut agama. Melalui ajaran agama dapat memperkokoh silaturrahim, hubungan kekeluargaan, hubungan ketetanggaan, hubungan sosial dan hubungan antara penganut agama.
Ketika ada musibah pada penganut agama, individu, keluarga dan kelompok bersama-sama merasakan ikut berduka, saling membantu dan saling menasehati. Seterusnya ketika keluarga mendapat kebahagiaan maka para penganut agama secara bersama- sama mengucapakan kebahagian dan menyuruh bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. (5). Kontrol sosial. Agama sebagai pengendali sosial yaitu berisi tentang konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar. Mengajak manusia untuk ke jalan kebaikan dan mencegah manusia dari perbuatan mungkar yang bertentangan dengan ajaran agama, adat, norma dan nilai. Di antara jalan kebaikan adalah mengajak manusia untuk menjalin silaturahim, ikut dalam gerakan amal saleh, pembangunan jalan, pendidikan, menyantuni anak-anak yatim, fakir, miskin dan pembangunan gedung wakaf produktif untuk kemaslahatan umat.
Sedangkan bentuk mencegah perbuatan mungkar yakni agar manusia menjauhi sifat-sifat kikir, sombong, dengki, khianat, pornografi, zina, judi, narkoba, minum-minuman keras, menjauhi sikap permusuhan sesama muslim, tidak saling membunuh dan berperang sesama muslim. (6). Agama sebagai pembentuk kerukunan sosial antar seagama dan beda agama.
Dalam konsep inilah dikembangkan sikap saling toleran menghargai perbedaan agama, berbeda itu indah. Dalam Islam toleransi adalah saling memaklumi bukan membenarkan ajaran agama yang salah secara tauhid. Berikutnya mengembangkan sikap moderasi, yakni jalan tengah, bersikap adil dan tidak bersikap ekstrim pada penganut agama lain. Prinsip utama toleransi Allah swt jelaskan Q.S.
Al-Kafirun/109: 1-6.
ن ٞدِب َعَ ۠اَىَأ ٓ َلََو ُدُبۡعَأ ٓاَن َنوُدِبََٰع ۡمُجىَأ ٓ َلََو َنوُدُبۡعَت اَن ُدُبۡعَأ ٓ َلَ َنوُرِفََٰكۡلٱ اَهُّيَأَٰٓ َي ۡلُق ا
ِويِد َِلَِو ۡمُكُييِد ۡمُك َل ُدُبۡعَأ ٓاَن َنوُدِبََٰع ۡمُجىَأ ٓ َلََو ۡمُّتدَبَع
Katakanlah wahai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang kamu sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Inti dari ayat tersebut di atas adalah bagimu agamamu dan bagiku agama ku. Sikap yang sejuk dan tegas yang diinformasikan oleh Al- Qur‟an dan dapat direalisasikan dengan baik dalam kehidupan beragama. Belakangan ayat ini pula salah satu dalil yang digunakan ketika berbicara mengenai moderasi beragama.
2. Adat istiadat
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia adat ialah gagasan kebudayaan yang meliputi aturan, nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan dan hukum adat yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Diwariskan secara turun temurun kepada generasinya untuk dipatuhi bersama dan sebagai alat pengikat di antara seluruh kelompok sosial (Dikbud, 2002).
Adat dalam kehidupan masyarakat cukup pluralis (beraneka ragam) dan sangat tergantung pada etnik dan bangsa. Indonesia sebagai negara kepulauan dan beragam suku tentu kaya tentang adat istiadat. Di antaranya (a). Adat Melayu (2). Adat Aceh (3). Adat Nias (4). Adat Bugis (5). Adat Jawa (6). Adat Batak Toba (7). Adat Mandailing (8). Adat Karo (9). Adat Gayo (10). Adat Banjar (11).
Adat suku Asmat (12). Adat Bali (13). Adat Sunda (14). Adat Minahasa. (15). Adat Minangkabau (16). Adat Mentawai (17). Adat Ambon (18). Adat Maluku (19). Adat Plores (20). Adat Toraja (21).
Adat Badui (22). Adat Anak Suku Dalam Jambi dan lainnya.
Bangsa-bangsa di dunia tentu juga punya adat yang beragam, pada bangsa Jepang membungkukkan badan menghadap raja, pada orang tua dan masyarakat, memakai pakaian Kimono (pakaian tradisional), Geisha (seniman penghibur), Matsuri (pesta budaya) dan Sadau (upacara minum teh). Pada bangsa Amerika ditemukan adat topi koboi, memakai celana pendek, bergaul bebas antara laki-laki dan perempuan, pelukan dan ciuman. Pada bangsa Thailand taat pada
ajaran agama, festival songkrang, festival kinjay (tidak memakan daging selama sepuluh hari), pernikahan diatur biksu dan tidak menangis ketika ada keluarga meninggal dunia. Pada bangsa India di antara adatnya; salam khas, sapi dianggap hewan suci, tindik dan pakaian khas.
Di Indonesia adat menjadi pedoman dasar dalam kehidupan sosial, misal pada masyarakat Dayak membakar tulang belulang leluhur (tradisi Tiwah), menguburkan jenazah di gua tebing, di Rumah Mayat Kulambu, dan pesta makan bersama ketika ada meninggal dunia. Pada etnik Mandailing yang mengatur pelaksanaan adat istiadat pesta pernikahan berada di tangan Dalihan Na Tolu dan Naposo Bulung. Dalihan Na Tolu artinya tungku tiga sejarangan yaitu mora, kahanggi dan anak boru. Mora yaitu pemilik pesta atau para orang tua sering juga disebut suhut, kahanggi adalah sepupu dan bisa juga karena semarga dan anak boru adalah menantu laki-laki dan perempuan. Sedangkan na poso bulung adalah pemuda dan bagi remaja putri disebut nauli bulung.
Pada etnik Minangkabau berlaku pepatah yaitu adat basandi syarak dan syarak besandi kitabullah. Artinya adat harus sesuai dengan syarak yaitu Al-Qur‟an dan Sunnah dan itulah menjadi pedoman dasar adat istiadat dalam kehidupan sosial. Atas dasar landasan inilah kehidupan adat istiadat di tanah Minangkabau tergolong Islami dan menolak adat yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Seluruh adat istiadat yang dimiliki oleh suku dan bangsa punya fungsi (1). Menjadi aturan yang harus dipatuhi bersama (2). Mengatur hubungan sosial antara pemangku adat (raja) dan elemen elemen masyarakat (3). Sarana komunikasi antara elemen-elemen masyarakat (4). Sarana pengendali sosial terhadap semua bentuk perilaku masyarakat yang terdapat dalam suatu daerah atau etnik (5). Sarana pemberi sangsi atau hukuman pada setiap orang yang melanggar aturan adat istiadat.
Ditinjau dari segi manfaat adat (1). Setiap elemen masyarakat mengetahui bentuk tutur, sopan santun, dan aturan pada orang yang harus dihormati dan dimuliakan (2). Agar masyarakat dapat berlaku
sopan dan menjaga segala bentuk aturan di suatu daerah atau masyarakat (3). Dapat menciptakan kerukunan sosial dan keharmonisan sosial di masyarakat karena masyarakat taat pada aturan-aturan adat. (4). Masyarakat mengetahui secara jelas mana adat yang dibolehkan dan mana adat yang dilarang dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat. (5). Setiap bentuk adat adalah untuk dipatuhi oleh seluruh elemen masyarakat.
3. Norma
Norma adalah patokan perilaku sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Norma sering juga dikatakan dengan peraturan- peraturan sosial yang mengatur seluruh bentuk hubungan sosial (Wulandari, 2011). Alo Lileweri menjelaskan norma adalah cara-cara yang dapat diterima dan diharapkan dapat mengatur seluruh bentuk kehidupan sosial. Merujuk pada Kamus Sosiologi, norma (1). Model perilaku dalam pergaulan sosial yang diakui sebagai norma yang mengatur kehidupan sosial. (2). Sebagai pedoman, pembimbing perilaku atau tindakan yang benar dan dengan tindakan tersebut sifatnya mengikat, dipatuhi bersama dan tidak boleh dilanggar (Lileweri, 2015).
Sumber-sumber norma (1). Perilaku yang dapat diamati, namun, cara ini bisa juga tidak objektif karena dipengaruhi oleh faktor kondisional. (2). Melalui komunikasi langsung dan tidak langsung misal dengan kata-kata tersirat, mimik dan gerak tubuh. (3).
Pengetahuan tentang diri sendiri, ternyata bisa mempengaruhi persepsi tentang norma dan sering juga tidak objektif (palsu). Sumber lain dari norma adalah ajaran agama, moral, adat dan hukum (Lileweri, 2015).
Beragam bentuk-bentuk norma (1). Norma agama (2). Norma adat (3). Norma sosial (4). Norma kesopanan (5). Norma kesusilaan (6). Norma kebiasaan (7). Norma hukum (8). Norma budaya (9).
Norma kebangsaan dan negara.
Norma agama adalah aturan-aturan yang terkandung dalam agama dan tertulis dalam kitab suci. Dalam Islam aturan-aturan tersebut dirujuk pada Al-Qur‟an dan Hadis. Jika tidak ditemukan dari kedua sumber itu maka dirujuk pada ijma’ ulama (kesepakatan
ulama), qiyas (Analisa perbandingan), dan ijtihad. Ijma‟ulama ialah kesepakatan hukum yang ditetapkan oleh para ulama dan qiyas adalah analisis perbandingan. Sedangkan ijtihad adalah pendapat para ulama yang belum ditemukan dalilnya dalam Al-Qur‟an dan Hadis dan pendapat tersebut dikeluarkan berdasarkan kepentingan hukum oleh para ulama mujtahid.
Norma adat adalah aturan-aturan adat yang dibuat oleh pemuka-pemuka adat, tokoh-tokoh masyarakat, kaum bapak, ibu-ibu, pemuda dan masyarakat tertentu untuk dipatuhi bersama. Norma sosial adalah aturan-aturan yang berlaku secara sosial di tengah- tengah masyarakat, sifatnya ada tertulis dan tidak tertulis, mengikat.
Di antara bentuk norma-norma sosial (a). Diterima oleh semua elemen di masyarakat (b). bersifat kolektif (3). Norma pengganti (4). Norma deskriptif (Lileweri, 2015).
Norma kesopanan adalah tatakrama dalam kehidupan sosial.
Misal, ketika memasuki suatu kampung harus mematuhi bentuk- bentuk kesopanan di masyarakat; mengucapkan salam, memanggil para pemuka agama dengan ustad atau tuan guru. Di Malaysia misalnya cukup banyak norma kesopanan misalnya tidak boleh mengucapkan kata membutuhkan, bisa; artinya bisa ular dan laki-laki tidak boleh salaman dengan wanita karena bukan mahramnya.
Norma kesusilaan yaitu dalam bentuk akhlak, moral dan etika.
Akhlak adalah gambaran jiwa seseorang. Misalnya kaum wanita memakai jilbab dan tidak boleh mengumbar aurat dalam pergaulan sosial, berkata kotor, cium-ciuman dan pergaulan bebas. Etika dan moral adalah perbuatan baik dan buruk yang dilaksanakan tetapi alat ukurnya akal manusia. Norma kebiasaan adalah aturan-aturan yang sudah lama berlaku di masyarakat. Misalnya ketika ada keluarga dan tetangga meninggal dunia maka diahruskan untuk hadir dan memberi ucapan belasungkawa. Jika keluarga mendapat musibah juga warga ikut memberi bantuan sosial berupa moril dan materil. Jika jamaah masjid mau berangkat haji maka diantar-antar bersama-sama ke asrama haji dan pulang haji disambut dengan marhaban dan tepung tawar.
Norma hukum adalah aturan yang tertulis dan tidak tertulis di masyarakat. Tetapi dari aturan ini adalah masyarakat akan taat pada hukum yang berlaku dan tidak mau melanggar. Jika dilanggar akan diberi sangsi paling rendah dikeluarkan dari persatuan atau adat desa.
Norma budaya adalah jenis perilaku yang khas atau aturan dari etnik atau bangsa yang dapat dipelajari dari individu, orang tua, guru, sahabat, keluarga, pengalaman, artikel, majalah, buku-buku dan website online. Dengan cara ini kini justru lebih memudahkan memahami berbagai jenis budaya yang dianut oleh masyarakat.
Norma kebangsaan dan negara adalah aturan yang harus dipatuhi oleh suatu bangsa dan negara dalam hubungan bilateral, multilateral antar bangsa dan negara. Misalnya menghormati kedaulatan negara, bahasa negara, bendera kebangsaan dan lagu kebangsaan.
Keseluruhan bentuk norma tersebut di atas punya hubungan pada setiap norma. Hubungannya adalah mengikat setiap elemen, saling memperkokoh, dan mengatur seluruh kehidupan. Misal seseorang tidak boleh membunuh dan menghina larangan ini diperkuat oleh norma agama, norma adat, norma kesusilaan, norma kebiasaan, norma hukum, norma kebangsaan.
4. Nilai
Dalam kehidupan sosial sering orang tidak memahami dan tidak dapat membedakan antara norma, nilai dan kebiasaan. Bahkan cenderung menyamakan dan mencampuradukkan maksudnya. Ketiga kata ini sesungguhnya berbeda maknanya. Norma adalah aturan seperti dijelaskan sebelumnya. Nilai adalah ide-ide yang berkaitan dengan yang baik, benar, dan adil dari suatu budaya yang dianut oleh etnik, bangsa atau masyarakat (Lileweri, 2015). Mengutip penjelasan Latif (2009), nilai adalah manfaat, kebaikan dan pedoman umum dari berbagai perilaku manusia.
Nilai-nilai yang terdapat di masyarakat tidaklah terbentuk secara tiba-tiba tetapi ditentukan oleh beberapa faktor. (1). Sejarah (2).
Evolusi sosial dan ekonomi (3). Pengaruh hubungan sosial dengan masyarakat lain (4). Keteladanan dalam keluarga dan masyarakat (5).
Cerita-cerita rakyat yang disampaikan pada generasi muda dalam
bentuk film, komik, majalah dan buku-buku. (6). Pemberian penghargaan dan pemberian sangsi hukum pada masyarakat yang melanggar hukum. (7). Pendidikan agama di dalam keluarga (8).
Pendidikan formal di sekolah.
Nilai-nilai yang terbentuk di masyarakat, diperlukan beberapa cara untuk memperolehnya. (1). Melalui berpikir logis dan sistematis dalam kehidupan social (2). Tafakkur (muhasabah, evaluasi) (3).
Tafakkur (merenung) (4). Tadabbur (memgambil hikmah) (5).
Tasakkur (bersyukur) atas nikmat Allah swt. (5). Melalui hati dan fungsi rasa dengan tidak lagi menggunakan pertimbangan- pertimbangan akal semata (Latif, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan beberapa bentuk nilai dalam kehidupan masyarakat. (1). Nilai agama (2). Nilai-nilai moral atau etika. (3). Nilai instrumental (4). Nilai utama. Nilai agama adalah aturan yang mengikat pada pemeluk agama untuk ditaati dan dijauhi seluruh larangannya. Ditaati atau dipatuhi dalam bentuk ajakan untuk bertauhid, beribadah, berakhlak mulia dan berbuat baik pada sesama manusia. Larangan ialah dalam bentuk tidak boleh dikerjakan misalnya berbuat mungkar yang bertentangan dengan ajaran agama, norma dan adat.
Nilai-nilai moral atau etika adalah kebaikan dan kebenaran yang dianut oleh suatu individu, keluarga dan masyarakat. Di antara nilai-nilai moral yaitu suka menolong pada kaum fakir dan miskin karena mereka tergolong kurang mampu. Bersikap jujur dan amanah ketika diberi jabatan oleh masyarakat. Bersikap adil dalam penegakan hukum, artinya menerapkan hukum pada setiap individu yang melanggar hukum, tajam ke atas dan tajam ke bawah. Selalu menebar kebaikan dalam bentuk mengajak pada jalan kebaikan dan mencegah manusia dari jalan kemungkaran. Kemudian tidak boleh bersikap sombong karena harta, pangkat, anak dan pencapaian gelar kesarjanaan. Menjadi perilaku pemaaaf ketika orang melakukan kesalahan dan kekhilafan.
Nilai instrumental adalah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan nilai-nilai-nilai dasar. Nilai disini tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan umum.
Misal membantu kaum fakir dan miskin adalah bukan saja untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kesejahteraan umat pada umumnya.
Nilai-nilai utama adalah nilai paling utama ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Misal gemar berinfak, sedekah, dan wakaf ketika membangun masjid, sekolah dan pesantren. Suka membangun amal usaha dalam bidang ekonomi untuk mensejahterakan jamaah masjid. Dengan demikian kelompok masyarakat menjadi bahagia, senang dan merasa diperhatikan dari aspek-aspek sosial.
Dalam Islam nilai-nilai utama seperti dijelaskan pada Q.S. Al- Ma‟un/107: 1-7.
ٍِِِن ۡسَِۡىٱ ًِبَعَط َٰىَيَع ُّطُحٌَ َلَ َٗ ٌٍَِزٍَۡىٱ ُّعُدٌَ يِرَّىٱ َلِىََٰرَف ٌِِِّدىٱِث ُةِّرَنٌُ يِرَّىٱ َذٌَۡء َزَأ ٌََۡ َٗ َُُٗءٓا َسٌُ ٌُٕۡ ٌَِِرَّىٱ َُُٕ٘بَس ٌِِٖۡر َلََص َِع ٌُٕۡ ٌَِِرَّىٱ ٍَِِّيَصَُۡيِّى ٞوٌۡ ََ٘ف َُُ٘عَْ
َُُ٘عبََۡىٱ
(1). Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama (2). Itulah orang yang mengherdik anak yatim (3). Dan tidak memberi makan orang-orang miskin (4). Celakalah orang-orang yang shalat (5). Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya (6). Orang yang berbuat riya (7). Enggan memberikan bantuan.
Berdasarkan ayat tersebut di atas, ditemukan dua bentuk nilai utama dalam kehidupan sosial (1). Menyantuni anak yatim (2).
Memberi sedekah pada kaum fakir dan miskin. Kedua bentuk golongan ini seringkali disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur‟an dan Hadis bahkan Nabi Muhammad saw dan para sahabat sangat berpihak kepada golongan ini. Untuk membantu mereka maka maka zakat harta, zakat fitrah, zakat emas, perak, zakat pertanian, zakat hewan ternak dan zakat profesi diperuntukkan untuk fakir dan miskin.
Demikian pula pada hari raya Idul Adha 2/3 daging hewan qurban adalah diperuntukkan pada kaum fakir dan miskin. Sedangkan 1/3 daging hewan qurban adalah untuk para perqurban dan keluarganya.
Besarnya jumlah bagian para kaum fakir dan miskin tujuannya adalah agar dalam kehidupan sosial tidak berlaku sikap diskriminatif terhadap mereka tetapi membangun sikap harmonisasi sosial yang akrab.
Dalam rangka merealisasikan nilai utama inilah K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah tahun 1912 di Yogyakarta dalam
berbagai kegiatan dakwahnya selalu mendakwahkan Q.S. Al-Ma‟un pada jamaahnya. Bukan satu kali, dua kali, tiga dan sepuluh tetapi sampai ratusan kali. Bahkan para penerima dakwah merasa bosan dan memberi saran pada K.H. Ahmad Dahlan agar berkenan merobah dan menambah materi lain agar pemahaman agama jamaah bertambah dan wawasan ke Islaman semakin luas. Atas saran tersebut justru K.H.
Ahmad Dahlan cukup senang dan tidak tersinggung dan memberi jawaban bahwa selama para penerima dakwah belum memahami dan merealisasikannya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat maka selama itu pula materi dakwah tidak diganti.
Di tanah air kini beragam bentuk organisasi sosial keagamaan untuk mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu para fakir dan miskin. Misalnya Dompet Du‟afa, Lazismu, Baznas, Dompet Peduli Umat, Nasib Nasi Bungkus, Sahabat Yatim Indonesia dan Rumah Zakat. Seluruh bentuk organisasi sosial tersebut ada yang dibentuk resmi oleh pemerintah dan didirikan oleh kelompok- kelompok sosial yang peduli terhadap kaum du’afa.
C. Relasi Agama dan Budaya
Kata agama dan budaya adalah dua kata yang berbeda.
Meskipun demikian banyak di kalangan para ahli agama dan sosiologi agama yang menjelaskan bahwa agama dan budaya punya hubungan erat. Sebaliknya juga muncul pendapat bahwa antara agama dan budaya sama sekali tidak punya hubungan karena posisi agama jauh lebih tinggi dari budaya. Agama adalah agama dan budaya adalah budaya.
Di dunia Barat, agama dipandang adalah bagian dari budaya karena manusia yang menciptakan agama dan menolak adanya kepercayaan pada yang ghaib. Di antara pendapat yang paling populer seperti dikatakan oleh Geertz (2014) agama adalah sistem budaya, murni buatan manusia. Alasan penolakan kepercayaan terhadap yang ghaib karena tidak kelihatan wujudnya dan tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Dalam dunia Islam agama adalah aturan Allah swt yang diturunkan kepada para nabi melalui malaikat Jibril dan diberikan
kitab suci sebagai pedoman dasar untuk mengatur seluruh tata kehidupan manusia baik dan buruk sehingga memperoleh kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Dengan demikian agama adalah keyakinan pada yang ghaib di luar diri manusia; Allah, wahyu, para malaikat, alam kubur, hari kiamat, sorga dan neraka.
Munculnya perbedaan pemahaman tersebut di atas karena pendekatannya berbeda disatu sisi menggunakan pendekatan akal semata dan pada sisi lain menggunakan pendekatan kewahyuan.
Karena itu, sampai sekarang perdebatan mengenai agama dan budaya terus menerus terjadi, sulit dicari kata sepakat.
Dalam upaya memperkecil perdebatan mengenai hubungan agama dan budaya ada tiga istilah yang selalu muncul di masyarakat (1). Istilah agama (2). Agama budaya (3). Kebudayaan agama. Istilah agama adalah inklud dalam pengertian agama di atas, agama budaya adalah petunjuk hidup manusia berdasarkan hasil olah pikir manusia, tradisi-tradisinya dan tidak ada hubungan sama sekali dengan wahyu.
Sedangkan budaya agama hasil kreatif dan inovatif manusia beragama seperti tafsir Al-Qur‟an, pemahaman hadis, fikih dan kaligrafi Islam.
Merujuk pada ketiga istilah agama tersebut di atas, memang belum terlihat di mana letak integrasi agama dan budaya? Untuk menjawab pertanyaan itu cukup penting didudukkan terlebih dahulu unsur-unsur agama (1). Ghaib yang diyakini dan disembah (2). Wahyu (3). Pembawa wahyu (4). Para nabi sebagai penerima wahyu (5).
Kitab suci (6). Jelas tatacara beribadat (8). Punya umat (9). Hari kiamat (9). Balasan baik dan buruk; sorga dan neraka.
Sementara itu, budaya adalah gagasan, karakter, praktek ritus, simbol, seni, estetika, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Koentjaraningrat budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia.
Unsur-unsur budaya terdiri dari (1). Bahasa (2). Sistem pengetahuan (3). Organisasi sosial (4). Sistem peralatan hidup dan teknologi (5).
Sistem mata pencaharian (6). Sistem religi dan (7). Kesenian (Kontjaraningrat, 2000).
Berdasarkan unsur-unsur agama, para kaum agamawan tidak mengakui bahwa agama adalah sistem budaya karena bukan hasil cipta, rasa dan karya manusia. Pemahaman ini dinilai benar tetapi
yang harus bisa dipahami bahwa tidak semua dalam kehidupan manusia merupakan wahyu Allah swt justru banyak ditemukan penafsiran manusia dari wahyu Allah sesuai dengan kemampuan akalnya sehingga disebut dengan budaya. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw bersabda kamu lebih tahu tentang urusan duniawimu.
Dari hadis ini mengindikasikan bahwa wilayah budaya diberi hak otonom untuk diatur oleh manusia dalam arti tidakla sebebas- bebasnya tetap di dalamnya unsur agama harus menjadi patokan dasar.
Merujuk pada pemahaman ini maka agama dan budaya bukanlah sesuatu yang terpisah tetapi memiliki hubungan yang erat.
Wahyuni (2018), menjelaskan bahwa hubungan agama dan budaya terletak pada posisi agama dapat mempengaruhi sistem kepercayaan dan praktek-praktek kehidupan sebaliknya budaya dapat mempengaruhi agama khususnya tentang bagaimana agama ditafsirkan dan bagaimana pula ritual-ritual agama dipraktekkan.
Bustanuddin Agus (2006), hubungan agama dan budaya, agama adalah sebagai pondamen utama, sumber ajaran moral dan etika sementara itu budaya yang dihasilkan oleh manusia tidaklah boleh bertentangan dengan ajaran agama. Perintah shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah qurban adalah ajaran qat‟i tetapi ketika menafsirkan ajaran agama dan melaksanakan tafsirannya adalah budaya. Contoh lain takbir ketika akan memotong hewan qurban adalah ajaran tetapi ketika takbir menggunakan mikropon adalah budaya. Demikian pula misalnya gerakan amal saleh di berbagai masjid dan majelis taklim adalah ajaran tetapi ketika mengutip uang menggunakan kotak infak atau peci adalah budaya. Menutup aurat itu adalah ajaran Islam tetapi menutup aurat dengan pakaian adalah budaya atau hasil budaya.
Sahrul (2021), menjelaskan bahwa hubungan agama dan budaya, agama adalah sumber ajaran tauhid dan landasan moral dan etika dalam pengembangan budaya. Fungsi agama terhadap budaya adalah pemurni dan pembersih mana budaya yang bisa diterima dan mana budaya yang bisa ditolak karena bertentangan dengan tauhid.
Jika suatu budaya mengandung unsur-unsur syirik maka dengan