• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Pembahasan

4.3.3 Aktivitas Komunikasi Ritual Balik Taun Rendangan

4.3.3.2 Peristiwa Komunikatif Balik Taun Rendangan

Terjadi ketika rendangan menghadap Abah untuk melakukan carita, mula-mula rendangan mendekat kepada Abah dengan cara ngagengsor

(menggeser posisi duduk), kemudian membungkukan badan ke arah Abah

dan menyerahkan sepahen. Sepahen kemudian diambil oleh Apih Jakar yang duduk disamping Abah, sepahen tersebut dipisahkan, antara tumpang sepahen (uang dan rokok). Sepahen yang kemudian akan diberikan kembali kepada para rendangan sebagai bekal. Rendangan menjulurkan tangan untuk kemudian bersalaman kepada Abah, demikian pula dengan

Abah ia membungkukan badan menyambut salam dari rendangan. Abah

akan merespon dengan hanya menganggukan kepala dan kadang bergumam yang juga merupakan tanda persetujuan terkait apa yang disampaikan oleh rendangan.

“Assalamualikum, wa’alaikumsalam, atu sumuhun Abah, kula ngabalikeun nya sri na, nya dunya na, jeung manusana, hayang

sing aya kalulusan kamulusan, kaberkahan jeung

“Assalamu‟alaikum, wa‟alaikumsalam, Abah, saya mengembalikan sri (padi), dunia, danmanusia (jiwa). Semoga selalu ada dalam

kelulusan, kemulusan, keberkahan dan keselamatan”

1. Setting

Ritual ini yaitu berlangsung di ruangan Abah, ruangan khusus untuk melakukan pertemuan personal antara rendangan dengan Abah

secara langsung.Waktu pelaksanaan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB sampai selesai. Ruangan tersebut lantainya terbuat dari papan kayu dengan dinding dari bilik bambu. Terdapat beberapa tokoh wayang golek di sudut sebelah utara, dan hiasan patung kepala macan belang tepat di atas Abah.

2. Partisipants

Cerita balik taun rendangan melibatkan Abah dan rendangan

dari berbagai kampung yang termasuk ke dalam incu putu masyarakat adat kasepuhan Cisungsang. Rendangan ini juga ada yang merangkap dengan jabatan adat lain, seperti Aki Edis ia rendanagn namun ia juga sekaligus sebagai sabah. Perempuan yang ikut carita bukan sebagai rendanagn tapi sebagai pemangku jabatan adat seperti canoli (tukang dapur), paraji (dukun beranak) yang juga ikut carita untuk melakukan laporan terkait tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat adat.

3. Ends

Ujian dilaksanakan carita balik taun rendanagn adalah untuk mengembalikan apayang telah diminta oleh rendangan, ini berkaitan dengan carita papangkal (cerita mengembara). Jika carita papangkal

merupakan cerita untuk meminta izin memulai proses pertanian, dalam

carita ini ada istilahnya “menta bahan menyan panglaina” yaitu bekal untuk memulai pertanian. Sedangkan cerita balik taun rendangan

merupakan cerita untuk mengembalikan apa yang dulu telah diminta, mengembalikan disini maksudnya adalah mulang tarima

(mengembalikan rasa syukur) atas apa yang telah didapat selama satu tahun ke belakang, baik itu masalah pertanian maupun terkait kehidupan masyarakat adat itu sendiri. Selain sebagai laporan wajib, balik taun juga upaya mengharapkan berkah dalam segala hal, kalau

istilah dalam masyarakat adat yaitu “kalulusan, kamulusan, kaberkahan, kasalametan”.

4. Act sequence

Urutan tindakan di sini yaitu pada saat rendanagan sedang

paamprok jongok (duduk saling berhadapan). Rendangan

menyampaikan maksud dan tujuan kepada Abah, Abah mendengarkan apa yang disampaikan, setelah carita selesai, rendangan bersalaman kembali kepada Abah dan bergeser mundur. Pesan yang dikomunikasikan oleh rendanagn pada dasarnya hampir semuanya sama, yaitu tentang “ngabaliken sri, dunya jeng manusana”

mengembalikan esensi dari padi, kehidupan dunia, dan jiwa manusia agar selalu dalam keadaan keberkahan dan keselamatan.

5. Keys

Tindakan tutur yang menjadi fokus dalam carita balik taun yaitu pada saat rendangan mulai melakukan carita dihadapan Abah. Setiap

rendangan melakukan cara yang sama ketika berhadapan dengan

Abah, mulai dari pakaian yang serba hitam, ikat kepala, membawa

sepaheun, carita balik taun diawali dengan salam dan diakhiri dengan salam pula. Setiap rendangan punya gaya yang berbeda dalam menyampaiakn carita, ada yang menggunakan bahasa panjang lebar, ada yang hanya seperlunya, tapi pada dasarnya semua yang tiap

rendangan sampaikan adalah dengan tujuan sama.

6. Instrumentalities

Pesan disampikan dalam bentuk verbal dan non verbal, pesan verbal disampaikan lewat cerita lisan oleh rendangn kepada Abah, sementara pesan non verbal tapak dari gestur dan mimik wajah yang muncul saat menyampaikan carita kepada Abah. Rendangan akan bersalaman kepada Abah, kontak fisik ini digunakan untuk memulai pembicaraan dan juga sebagai bentuk penghormatan ketika hendak bertemu dengan Abah. Posisi duduk rendangan lebih membungkuk saat berbicara dan tidak menatap wajah Abah. Abah sendiri lebih

sering mengangguk dan jarang berbicara, lebih sering mendengarkan apa yang disampaikan oleh rendangan.

7. Norm of interaction

Pada saat carita balik taun, setiap rendangan bersalaman dengan

Abah sebelum memulai carita, ini salah satu tindakan non verbal yang sudah menjadi aturan baku, rendangan tidak boleh langsung menyampaikan carita. Tepung salam merupakan pembukaan untuk mengawali sesuatu, Abah adalah representasi dari karuhun yang sangat dihormati, sehingga sudah menjadi aturan tidak tertulis ketika hendak bertemu dengan Abah harus bersalaman terlebih dahulu. Pada saat berbicara dengan Abah rendangan cenderung lebih sering menundukan kepala, ini salah satu norma dalam berkomunikasi, menunduk saat berbicara pada lawan bicara bisa mempunyai konotasi beragam, salah satunya karena rasa segan dan hormat kepada lawan bicara. Abah adalah sosok yang dihormati oleh rendangan, sehingga itu menjadi salah satu alasan kenapa rendangan lebih sering menundukan kepala dan tidak menatap Abah ketika melakukan carita balik taun rendangan.

8. Genre

Peristiwa balik taun rendangan bukan sekedar ritual semata, dalam ritual tersebut terjadi proses penyampaian informasi dari rendangan

kepada ketua adat. Artinya terjadi pengiriman pesan, baik verbal maupun non verbal. Genre peristiwa dalam ritual bailk taun rendangan

dapat dikatakan sebagai disource community (masyarakat wacana) atau lebih tepatnya wacana monolog. Hal ini tampak dari proses balik taun

rendangan yang hanya terjadi proses menyampaikan informasi dari

rendangan saja, sementara Abah dalam hal ini hanya mendengarkan dan memberikan respon jika apa yang disampaikan rendangan

memang memerlukan semcam izin atau persetujan dari Abah.

Dokumen terkait