BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Peristiwa Penangkapan
F (nama inisial) adalah wanita paruh baya berusia 48 tahun yang merupakan ibu dari 7 orang anak. F merupakan asli orang Palembang yang bekerja sebagai tukang cuci baju sembari mengurus anak dan cucunya di rumah sebelum ia pindah ke Medan bersama dengan temannya. Dengan upah mencuci baju yang ia dapatkan, F perlu untuk membiayai anak paling kecilnya yang masih sekolah, membeli lauk untuk dimasak serta membeli beberapa keperluan di rumah. Tidak jarang biaya tersebut tidak cukup sehingga ia perlu untuk meminjam duit pada bosnya. Suami F saat itu bekerja sebagai orang yang mengurus ayam milik orang lain, yang menggantungkan keuntungannya pada hasil produksi telur ayam tersebut. Menurut F, pekerjaan suaminya sulit untuk membiayai semua keperluan rumah tangga sehingga ia juga turut serta membantu mencari nafkah bagi keluarganya.
“Ibu aslinya orang Palembang.”
(R2.W1.290819.BG.B32)
“Kemarin itu ceritanya kan itu Ibu ada utang, 10 juta, ada tujuh anak Ibu, itu Ibu pinjam untuk anak Ibu itu sebenarnya.”
(R2.W1.290819.BG.B26)
“Ibu kemarin itu kerja rumah tangga, Ibu kan menyuci di ini kan, rumah-rumah orang gitu. Gaji sebulan sekali kan, kadang pas gajian uangnya habis. Sebelum gajian itukan uangnya dipinjam. Misalnya kerja seminggu kan engga ada duit, itulah Ibu pinjam. Kadang Ibu pinjam 50 ribu untuk beli makan gitu kan. Dikasih, nanti seminggu lagi pinjam lagi, jadi kalau gajian itu kan habis uang Ibu semua bayar yang Ibu pinjam itu. Itu ayam nanti dapat 3, Suami Ibu juga dapat 3.”
(R2.W2.170919.FC.B102) “Iya Nak, dibagi. Tapi induk ayamnya masih tetap punya yang ini, pemiliknya. Cuma telurnya nanti dapat setengahnya. Bantu ngursin tapi, nanti telurnya disimpan. Kalau bertelur lagi nanti dibagi, disimpan lagi. Baru nanti dijual ke ini, pedagang-pedagang.”
(R2.W2.170919.FC.B104) Selama di Palembang, F tinggal bersama dengan suami dan anak serta cucunya. Dikarenakan perdebatan kecil dengan suaminya 5 tahun lalu, F dan suaminya pisah ranjang sampai sebelum ia berangkat ke Medan untuk mencari nafkah. Kondisi pisah rajang ini membuat F hanya sesekali bertemu dengan suaminya di ruang keluarga bersama dengan anak-anaknya. Perdebatan tersebut juga membuat komunikasi didalam keluarganya menjadi sangat minim.
“Suami Ibu kemarin kan sama Ibu ada masalah lah sedikit.
Makanya ini jadi berantakan kan. 5 tahun uda ini, uda pisah, tapi masih satu rumah. Cuma udah pisah ranjang. Tapi yah masih ada campur, kalau siang, anak kami kan ada tujuh jadi
kami masih ada campur kalau di rumah. Cuman kalau malam engga. Uda pisah, pisah ranjang aja.”
(R2.W1.290819.BG.B74) Suatu hari, anak F meminta untuk menikah karena telah menghamili pasangannya sehingga terpaksa F perlu untuk mengeluarkan dana yang cukup besar. F yang saat itu masih dalam kondisi berhutang pada bosnya, menambah jumlah hutangnya demi mengabulkan permintaan anaknya. Tidak lama setelah itu, anak pertama F terjerat kasus narkoba sehingga ia memerlukan biaya untuk menebus anaknya. Segala cara dilakukan oleh F termasuk meminjam uang dari bosnya dan temannya. F kemudian berhasil untuk meminjam dana sebesar 10 juta untuk menebus anaknya, namun biaya tersebut masih belum cukup untuk mengeluarkan anaknya. Jumlah hutang F yang menumpuk saat itu membuatnya harus terus mencari biaya untuk membayarnya ditambah dengan bunga 10% sehingga per bulannya F harus membayar 1 juta ditambah dengan bunga. Saat itu F merasa bahwa dengan upah pekerjaannya saat itu ia tidak akan mungkin mampu melunasi hutangnya. F kemudian mencoba mencari pekerjaan lain.
“Iya. ‘Jadi kek mana Mak?’ katanya kan. Ibu berpikir lah, ya Allah, aku engga ada duit. Yasudahlah, Ibu kasih kan tabungan Ibu. namanya kita orangtua kan, namanya itu anak kita kan.
Kalau kita engga memenuhi ininya dia, berdosa kita kan.
Terpaksa lah kita temui keluarga ceweknya. Untung anak gadis ini baik, dia sama mamaknya terus terang, daripada dia diam-diam. Kebanyakan anak-anak sekarang itu diam-diam, nanti ada yang anaknya udah dilahirkan dibuang, ada yang gugurkan. Jadi Ibu kan, dulu pas anak ini kecil-kecil ada lah bercerita sama kawan Ibu. Ada juga yang anaknya gitu juga, hamil duluan, taulah anak-anak remaja ini. Jadi kita ini, tau kita. Bahkan yang sudah punya suami aja bisa sama yang punya istri, itu yang ada ikatan. Ini apalagi bujang sama gadis kalau
udah bercampur, yah ini lah.Apalagi engga ada ikatan apa-apa. kan aja.” Katanya gitu kan. jadi besoknya itu kita bawa, susu, telor, mukenah gitu kan. Ke rumah ceweknya, buat kenalan kan.
Namanya kita ini anak laki-laki kan, jadi kita yang pergi kesana, melamar kan. Jadi ditanya lah, memang benar anak saya ini yang menghamili. “Iya, kami saling cinta. Mau kawin aja.” Anak saya jawab kan. Habis itu yasudahlah, tentukan tanggal, pas itu anak Ibu bilang “Yang biasa aja lah nikahnya.
Jangan yang besar-besar.” Kita ini namany orangtua kan ga enak dengar yang gitu kan. Kita juga engga tega dengarnya.
Apalagi ini anak pertama kan, setidaknya kita ajak orang kiri-kanan (tetangga), sama keluarganya juga, uwaknya, bibinya, neneknya, yang ada didesa-desa ini kan ditelfon, dikasih tau semua. Jadi mau nikah ini kan ibaratnya, banyak ini biayanya kan. apalagi Ibaratnya mendadak ini kan berarti kita engga ada persiapan. Kalau kayak kamu ini kan enak kan, mulai dipersiapkan. Jadi kalau misalnya mau kawin nanti kan udah ada celengan, kalau itu engga ada. Jadi itu untung Ibu ada simpanan, buat ini lah jadinya. Ibaratnya kadang, (berhenti sejenak) namanya anak kita laki-laki kan, kalau kawin apapun engga ada, kita juga yang malu”
(R2.W2.170919.BG.B306)
“….anak Ibu kemarin itu adalah kena masalah sabu kan, jadi kenalah anak Mamak (panggilan responden di rumah), masuklah ke penjara. Habis itu ngurus dialah, ngurusinnya itu sampai udah kena 10 juta, itu kan Ibu pinjam, jadi ada kenalan Ibu kan pinjam 10 juta. Uda ngurus sampai 10 juta itu anak Ibu engga keluar keluar. Itu kan 10 jutanya ibu engga bisa bayar
melunasi hutangnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. F beserta beberapa kenalannya pindah ke Medan pada akhir tahun 2017.
Di Medan, F dan teman-temannya tinggal di sebuah kontrakan yang dekat dengan salah satu pusat perbelanjaan kota Medan. F beserta dengan kenalannya saat itu tinggal bersama 5 orang lainnya yang juga menerima tawaran pekerjaan tersebut.
“Iya ada bunganya, nak.jadi Ibu kan susahkan, mau jual rumah namanya mau gimana nanti tidurnya. Jadi saya bilang gimana mau bayar utangnya, lagi engga ada juga. Habis itu dibilang sama yang nagih, ‘yauda sekarang ini, mau engga ikut, aku punya kawan.’ Itu dia ngajak ke Medan.”
(R2.W1.290819.BG.B30) Awal mula ia bekerja, F hanya disuruh untuk duduk diluar pusat perbelanjaan, menunggu seseorang membawa barang keluar dan membantunya. Upah yang ia dapatkan saat itu sekitar 200 ribu per hari dan harus dipotong untuk melunasi hutangnya sehingga ia hanya menerima 50 ribu untuk disimpan. Hari-hari tersebut berjalan terus sampai F menyadari bahwa ia bekerja pada kelompok pencuri. Setelah mengetahui pekerjaan dari rekan kerjanya, ia kemudian meminta untuk bergabung ikut mencuri (tidak hanya sekedar membantu mengangkut barang) karena upahnya lebih besar dan dirinya dapat lebih cepat untuk melunasi hutang-hutangnya. Ia ikut mencuri di pusat perbelanjaan tersebut tanpa ketahuan selama beberapa saat kemudian ia beserta teman-temannya pindah ke Binjai.
Di Binjai, F dan teman-temannya juga tinggal di rumah kontrakan. Mereka mengincar salah satu swalayan disana untuk mencuri susu kaleng. Setiap kali masuk mereka akan mencuri beberapa
kaleng susu, menyembunyikannya didalam baju serta berpura-pura langsung keluar. Terkadang ia membawa plastik hitam besar, mengisinya dengan susu kaleng dan keluar mengikuti salah satu pelanggan di kasir seakan-akan merupakan pembantu yang membawakan belanjaan majikannya. Tanpa sepengetahuan F, ia telah menjadi incaran satpam yang berjaga disana. Saat pertama kali ia mencuri ia telah masuk ke dalam CCTV. Kedua kali ia mencuri, ia telah dipanggil oleh satpam namun saat itu ia berhasil lari. Namun, pada kali ketiga ia mencuri, ia langsung dibawa oleh satpam ke gudang. Ia kemudian diinterogasi disana, F kemudian ditanyai apakah ingin berdamai atau masuk ke penjara. Berpikir bahwa dirinya diberikan kesempatan untuk berdamai, F memilih untuk menyelesaikannya secara damai. Namun oleh bosa swalayan tersebut ia diminta untuk membayar 24 juta sebagai ganti rugi atas kaleng susu yang telah dicuri oleh F dan komplotannya. Saat itu yang tertangkap hanya dirinya dan supirnya, teman-temannya yang lain berhasil kabur. Ia dan supirnya saat itu tidak mampu membayar jumlah uang yang diminta sehingga mereka berakhir ke kantor polisi untuk kemudian diproses.
“…Ibu itu jalan aku ikut tapi begitu sampai di supermarketnya, Ibu nunggu. Disuruhnya ‘kau duduk sini, nanti dia bawa barang, kau tunggu barang ini.’ habis itu dia masuk ke supermarket itu, nah masuk lah dia. Pas itu kutunggu tiba-tiba dia bawa banyak barang yakan. Pas itu pulang kan, dibilang banyak barang banyak duit. ‘nah gaji kau sekian, dipotong tapi.’ katanya gitu. Gajinya 200 ribu nanti 50 ribu dikasih ke Ibu 150 ribunya buat bayar utang. Namanya engga ada lagi duit, pas itu nampak ibu dia kerjanya mencuri gitu kan. Lama-lama Ibu liat dia kerjakan, mencuri itulah. Dibilang sama kawan Ibu lah emang kerjaan ini, nyuri, kita ini.. daripada ini..
kita gausah munafik lah, soal uang ini kan pening juga.
Udahlah, tau kerjaan orang ini ngapai Ibu bilang lah ‘ayolah, aku ikut masuk.’ Jadilah Ibu ikut masuk kan, ambil juga Ibu, ambil susu kalengan . itu dari berastagi itu pindah ke binjai. Ibu ikut lah, ngambil itu susu-susu kalengan.”
(R2.W1.290819.BG.B46)
“Iya. Disitu Ibu bayarannya langsung dipotong buat bayar utang Ibu, jadi per harinya itu Ibu dapat 50 ribu, itu kan lumayan juga. Habis dari sana itu, barulah kami ke Binjai, sumpermarket Asia King itu. Ketangkap, kawan Ibu lari. Kami kan ada buat janji itu, kalau misalnya ketangkap itu jangan sampai menyebut nama siapa-siapa. Jadi itu Ibu sama supir itu yang kena. Jadi Ibu engga mau menyebutkan nama-nama kawanan Ibu itu, biar resikonya Ibu semua yang tanggung.”
(R2.W2.170919.BG.B154)
“Kemarin itu Ibu awal-awal ngambil susu satu kali. Karena diajak kawan ini kan. itu.. itu kan kemarin, pas kawan Ibu masuk, Ibu ikut masuk. Rupanya pas sekali itu yang ada CCTV, pertama kali masih didiamkannya dulu Ibu. kedua juga masih didieminnya, pas kedua itu katanya Ibu udah dicari rupanya engga ada. Pas ketiga kali, datang lagi Ibu. pas datang lagi ditengok kan di kamera kan, rupanya kawan aku tadi itu lari, Ibu yang ketangkap.”
(R2.W1.290819.BG.B62) F masuk ke kantor polisi dan diinterogasi selama 23 hari.
Selama proses interogasi F diberi pertanyaan terkait alasannya mencuri, mengenai komplotannya, serta beberapa pertanyaan mengenai identitas F. F saat itu memilih untuk bungkam dan tidak menceritakan keberadaan komplotannya karena baginya cukup dirinya saja yang tertangkap. F juga takut jika ia membuat teman-temannya tertangkap, urusannya akan menjadi lebih rumit. Selama 23 hari masa interogasi tersebut, F merasa sangat takut dan tidak berdaya, ia tidak bersemangat untuk makan dan juga mengalami kurang tidur sehingga ia jatuh sakit.
F mengaku selama masa interogasi tersebut F sering sakit kepala, sakit lambung serta demam.
“Iya, masih disana. Dari baru keluar dari kasir, dia tangkapnya bilangnya ‘permisi ya Bu.’ Kata satpamnya kan ‘Permisi ya Bu, kita ke gudang dulu.’ Gitu kan. Ibu juga sudah merasa kan,
sudah merasa bersalah juga bahwa ada barang yang Ibu ambil.
Habis gudang ‘keluarkan yang Ibu ambil tadi.’ Kata satpamnya, Ibu keluarkan. Terus Ibu minta maaf, ‘ maaf ya nak, Ibu khilaf.’
Habis itu katanya ‘iya, Ibu ini bukan sekali-dua kali. Sudah tiga kali.’ Ibu minta maaf lagi kan. nah pas itu dia mau damai, tapi mahal nak, mau 24 juta, Ibu mana ada duit Nak. Pas itu dia tanya ‘Ibu mau damai.’ Saya bilang mau lah. ‘Ibu ada uang, duit 24 juta.’ Katanya lagi. Ya ampun nak, mana ada Ibu uang, Ibu aja kerjainya karena utrang ini, mau bayar utang. Gitu kan, jadi katanya ‘yaudah kalau engga ada, gabisa ganti rugi. Ini kantor polisi.’ Ibu dibawa ke kantor polisi, pas sampai ke kantor polisi yaudahlah Ibu diperiksa. Diperiksa di kantor polisi lama juga, ada 23 hari juga. Habis 23 hari itu selesai, dikirim lah Ibu ke itu, ke Lapas Binjai.”
(R2.W1.290819.BG.B64) Setelah diinterogasi, F beserta dengan komplotannya diserahkan ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman. F divonis bersalah dan menjalani masa hukuman di dalam Lapas selama 2 tahun. Saat itu F merasa kesal karena ia seharusnya kasusnya 363 yang berarti masa hukumannya hanya sebentar namun pada akhirnya ia harus menjalani 2 tahun didalam Lapas. F yang merasa marah saat itu mengurungkan niatnya untuk meluapkan emosi karena menurutnya apapun yang dilakukannya tidak akan berdampak apa-apa. Saat itulah, muncul perasaan bersalah pada dirinya, menyesal telah memilih untuk ikut komplotan pencuri ini daripada mencari pekerjaan yang lebih baik. F juga merasa bersalah pada anaknya karena saat ia pindah ke Medan, F berjanji untuk pulang setelah 1 minggu bekerja, namun janji tersebut tidak dapat ia tepati karena ia sekarang berakhir di Lapas.
“Tapi tidak sesuai Nak, kasus Ibu kan 363, sekarang Ibu kan engga ada duit untuk nebus sidang-sidangnya. Sekarang murni ibu jalaninya.”
(R2.W1.290819.BG.B52)
“……Janji Ibu kemarin sama anak-anak Ibu itu seminggu.
Pergi dari kampung itu janjinya cuma seminggu. Rupanya lebih, lebih dari seminggu…..”
(R2.W1.290819.BG.B72)
“Kesel lah nak, kesel ada, nyesel juga ada. Keselnya itu kan padahal kasus saya ini 363 itu hukumannya sebentar cuman, tapi saya kena 2 tahun. Kalau nyeselnya itu padahal gara-gara masalah sedikit, saya engga bisa lebih giat lagi, malah ikut-ikut kawan begini, terakhir malah masuk kesini. Tinggalin anak-anak, cucu saya sama suami juga. Jadinya mereka ikut sedih, engga bisa ketemu saya kan. saya itu sampai susah tidur kalau udah mikirin itu.”
(R2.W1.290819.EF.B182) Mendengar putusan hakim F hanya bisa menangis karena ia tidak mampu melakukan hal apapun terhadap apa yang telah menimpa dirinya. Setelah mendengar putusan hakim, F diperbolehkan untuk menelepon dan mnegabari keluarganya. Saat memberitahukan bahwa dirinya masuk Lapas, keluarganya langsung menangis sedih dan marah pada F. Mendengar hal tersebut, F merasa sangat bersalah karena telah membuat keluarganya kecewa dan marah padanya. Perasaan bersalah yang muncul pada F membuatnya terus-menerus mengkhawatirkan keadaan dirumahnya. Perasaan bersalah ini membuat F tidak memiliki motivasi untuk melakukan apapun termasuk makan dan tidur yang kemudian membuatnya jatuh sakit. F yang dari awal telah memiliki riwayat sakit maag, merasakan sangat sakit setiap ia mengkhawatirkan keluarganya dirumah.