• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi dan Menjadi

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 80-85)

BAB III PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN

D. Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi dan Menjadi

Peristiwa penting yang menjadi latar belakang muncul dan berkembangnya ziarah Puri Brata dikaitkan dengan peran keluarga trah lurah Brotosudibyo, terutama pada 3 tokoh utama, yaitu Bapak R. Sebastianus Brotosudibyo, Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo, dan Romo Thomas Aquinas Rochadi, Pr. Bapak Sebastianus Brotosudibyo merupakan generasi ke-3 keturunan lurah yang secara turun temurun telah memimpin desa Gading Harjo, Sanden, Bantul. Tentang Bapak R. Sebastianus Brotosudibyo, Bapak Ant. Suroso mengungkapkan,

“Puri Brata, dulu menjadi rumah Bapak Brotosudibyo. Beliau adalah lurah pertama yang Katolik. Sebagai seorang lurah, Bapak Brotosudibyo juga menjadi cikal bakal umat Katolik di Sanden. Jabatan sebagai lurah tidak membatasi gaya hidup Bapak Brotosudibyo. Meski berpenampilan necis, beliau tetap sederhana.”82

82 Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ant. Suroso (tokoh umat dan masyarakat) pada tanggal 5 September 2014

66 Tampaknya nilai-nilai kesederhanaan itu tumbuh seiring dengan penghayatan religi yang dihayati Bapak Brotosudibyo. Sebagai sosok muda yang sempat dekat dengan Bapak Brotosudibyo, Bapak Ant. Suroso mengutip ungkapan Bapak Brotosudibyo,

“Dik Roso, kula niki lurah sing paling mboten nduwe. Ning kula pun seneng dadi wong Katolik (Dik Roso, saya adalah lurah yang paling miskin, tetapi saya bahagia menjadi umat Katolik)”83

Dalam tatanan kehidupan sosial, perilaku Bapak Broto tercermin dari ungkapan berikut,

“Gaya kepemimpinan Bapak Broto sebagai lurah membawa rasa nyaman bagi warganya. Di daerah Yogyakakarta, lurah adalah jabatan yang sangat terhormat. Ia dipilih rakyat karena kemampuan, kewibawaan, serta pengabdiannya. Lurah tidak mendapat gaji. Ia hanya menerima tanah bengkok (milik kas desa) yang terbaik untuk dikerjakan dan menjadi sumber kehidupannya. Tanah bengkok adalah tanah imbalan untuk pengabdian selama 24 jam dari warga kepada lurahnya. Maka biasanya, ciri suasana rumah seorang lurah yang baik adalah tamunya banyak. Pak lurah itu seakan menjadi sumber penyelesaian segala masalah desa. Suasana rumah seperti itulah yang diciptakan oleh Bapak Brotosudibyo. Tamu tidak pernah berhenti dan sang lurah harus tetap melayani, memberi solusi dengan sepenuh hati. Rumah pak Lurah itu seakan seperti Bethany (rumah penuh berkat), yang memberi kedamaian bagi mereka yang punya persoalan. Bahkan rumah pak Lurah itu juga bisa menjadi Bethpage (rumah yang memberi kelimpahan) atau Bethlehem (rumah roti atau rumah yang memberi makanan) di kala terjadi paceklik atau kekeringan melanda masyarakat desa.”84

Bapak Rasidal, seorang yang masih terlibat sebagai kordinator kelompok macapat dan salah satu pemijat di Puri Brata, dan sejak muda mengenal serta merasa dekat dengan Bapak Brotosudibyo, mengungkapkan,

“Kula wiwit enom mulang laden, kula ngesuhi pak lurah lan dados pengurus koperasi ndeso. Kula nggih mulang njoged lan silat nang Puri Brata. Pak

83 Ibid.

84 Witdarmono, 2011. Dalam A Tribute to Thomas Aquino Rochadi, Pr., Yogyakarta, Puri brata, hlm 45.

67 Lurah Brotosudbyo koyo dene keluarga...tur dasare ditung para sepuh taksih wonten hubungan....pepetung bapak kula kaleh pak lurah kalih kepetung kangmas. Pak lurah dhateng masarakat menika sae. Korup nggih mboten. Neng masyarakat terhormat. Lurah sing berwibawa...mergo menika Bapak Brotosudibyo dangu dados lurah... (Sejak muda saya ikut melayani, saya menyatukan diri saya kepada pak lurah dan menjadi pengurus koperasi desa. Saya juga mengajar seni tari dan bela diri di Puri Brata. Pak Lurah Broto sudah seperti keluarga sendiri...dan menurut para leluhur, saya masih punya hubungan kerabat...bapak saya dengan pak lurah bisa disebut sebagai kakak. Pak lurah kepada masyarakat baik. Korupsi juga tidak. Terhormat di masyarakat. Lurah yang berwibawa....karena itu, Bapak Brotosudibyo lama menjadi lurah)”85

Kisah tentang Bapak Lurah Brotosudibyo menjadi kurang lengkap bila tidak menyertakan kesaksian para narasumber tentang tokoh ke-2, yakni Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo.

Menurut RM. Cahyo Bandhono,

“Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo dibesarkan dari keturunan keluarga ningrat dengan pendidikan modern pada saat itu (bersekolah dan bergaul dengan orang Belanda) dan memiliki pemikiran yang maju. Dengan keterlibatan pada dunia organisasi untuk masyarakat, kegiatan pemerintahan (pernah menjabat sebagai anggota dari kabupaten Bantul), pada kegiatan kerohanian sebagai Katolik (menjadi ketua WKRI), dan sebagai tempat persinggahan bagi para rohaniwan Katolik untuk mampir istirahat serta kegiatan sosial lainnya, memberikan pendidikan batik pada masyarakat (sehingga pendopo selalu ramai dikunjungi orang banyak)”86

Tentang peran serta Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo di lingkungan desa dan kabupaten serta perhatian terhadap warganya, Bapak Rasidal menyatakan,

“Bu Broto nggih sae. Piyambakipun dados ketua PKK, asring mimpin kegiatan masak-masak lan jait. Dasare bu lurah nggih pinter njoged... (Bu Broto juga baik. Beliau menjadi ketua PKK, dan sering mengajari masak dan jahit. Selain itu, bu lurah juga pandai menari)”87

85 Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Rasidal (tokoh unat dan masyarakat) pada tanggal 22 September 2014.

86 Cahyo Bandhono, 2011. Dalam A Tribute to Thomas Aquino Rochadi, Pr., Yogyakarta, Puri Brata, hlm 98.

87 Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Rasidal (tokoh unat dan masyarakat) pada tanggal 22 September 2014.

68 Dari ungkapan Bapak Rasidal tersebut dapat diketahui keaktifan Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo tidak hanya terbatas sebagai seorang pendamping lurah di desa Kalimundu. Beliau juga sangat memberikan perhatian pada hidup menjemaat di lingkungan Gereja.

Kesaksian tentang hal itu disampaikan oleh Romo Th. Aquinas Rochadi. “Bisikan Tuhan juga hadir melalui sikap ibu yang selalu hormat pada para pastor. Ibu yang selalu memberikan segala yang terbaik bagi Gereja, para imam dan para frater yang membuatku iri. Ketika seorang imam datang ke rumah, ibu menyuruhku menyembelih seekor ayam peliharaanku. Dengan senang hati, saya kerjakan dengan harapan saya pun ikut makan enak hari itu. Setelah ibu menghidangkannya, sang pastor memuji masakan ibu, dan ibu pun membungkus sisanya untuk dibawa pulang si romo. Saya pun sedih tidak mendapatkan sisanya. Ibu berkata, ‘kamu harus bangga karena telah memberikan milikmu untuk Tuhan.’”.88

Kesalehan hidup Ibu Sebastiana Siti Rochialun Brotosudibyo sebagai seorang pemeluk agama Katolik dituturkan oleh Romo Rochadi,

“Ibuku mengajariku bertobat. Ialah orang yang pertama-tama mengaku dosa setelah aku menjadi imam. Betapa mengharukan, menjelang aku misa perdana di rumah, ibu membawa stola dan mengalungkan di leherku dan mengajak masuk kamar. Didudukkan aku pada sebuah kursi dan beliau berlutut di depanku dan mengaku dosa. Tangis haru dan sukacita karena kerendahan hati, tulus mengakui kelemahannya dan rasa syukur bahwa anaknya sekarang menjadi imam yang diberi kuasa kasih Tuhan yang penuh pengampunan...Seolah ibu berpesan agar saya bertobat terus menerus memohon ampun agar disempurnakan oleh kerahiman-Nya.”89

Pribadi ketiga yang terkait dengan permulaan dan perkembangan Puri Brata adalah Romo Thomas Aquinas Rochadi, Pr. Romo Thomas Aquinas Rochadi, Pr., atau nama kecilnya adalah Murdjanto lahir pada tanggal 15 Mei 1958 di Kalimundu, Gadingharjo, Sanden, Bantul, DIY. Djanto (nama panggilan sehari-hari) adalah putra ke-9 pasangan Bapak R. Sebastianus Brotosudibyo, Ibu

88 Thomas Aquino Rochadi, Pr, 2011. Dalam A Tribute to Thomas Aquino Rochadi, Pr., Yogyakarta, Puri Brata, hlm 14.

69 Sebastiana Siti Brotosudibyo. Saudara-saudara Murdjanto antara lain; T. Siti Rochayati (putra ke-2), G. Sri Sulastri (putra ke-3), A. Sugiharta (Putra ke-5), A. Didik Antoro (putra ke-6), A. Soesilo Wibowo (putra ke-7), A.M. Sri Sularsih Mulatrini (putra ke-8).

Masa kecil Murdjanto ditandai dengan peristiwa tragis. Ketika berusia 7 tahun dan sedang ikut memanen kelapa, Murdjanto tertimpa kelapa. Ia jatuh pingsan, kemudian lumpuh dan wajahnya menjadi hitam karena darah yang membeku. Semua orang yang datang menjenguknya menangis dan berpikir anak ini kelak akan jadi apa. Rumah sakit memang ada. Namun, karena tinggal di desa, hanya ada rumah sakit sederhana dan obat seadanya. Namun, ia yakin akan sembuh berkat doa orang-orang yang mencintainya.

Pengalaman sakit menunjukkan kepada Murdjanto peran orangtua, terutama kuasa doa ibu dan kuasa kasih bapak. Tuhan mengaruniakan Murdjanto sakit agar dapat merasakan penderitaan orang sakit dimana ada rasa kesepian, kebutuhan akan dukungan doa, kekuatan cinta hingga mengalami mukjizat penyembuhan. Sebagai keluarga Katolik, rumah Bapak R. Sebastianus Brotosudibyo dan Ibu Sebastiana Siti Brotosudibyo kerap mendapat kunjungan Romo atau Frater. Pengalaman seperti inilah yang mempengaruhi awal panggilan Mudjanto untuk juga menjadi seorang imam. Tentang hal ini, Murdjanto mengisahkan,

“Bertemu dengan frater dan kedekatan dengan mas Sularto yang membangun cita-cita dimana saya mengagumi mereka sebagai idola, sosok yang penuh idealisme, integritas, cerdas dan pandai berbahasa. Ketertarikan ini membuahkan cita-cita bahwa saya ingin menjadi seperti mereka. Dorongan yang sangat kuat untuk masuk seminari dan menjadi imam terwujud berkat peran doa seorang ibu, dan kasih kakak; mas Didik. Akhirnya, pada tahun 1975, saya masuk seminari Menengah Mertoyudan.”90

70 Setelah menjalani masa Tahun Orientasi di rumah retret Civita dan selama belajar filsafat di STF Driyarkara, Murdjanto mendalami doa meditasi dibawah bimbingan Romo Alex Dirja, SJ. Sekian tahun menjalani pendidikan sebagai seorang imam, akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1986, Murdjanto ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta.

Peristiwa awal yang menandai kemampuan Romo Thomas Aquinas Rochadi, Pr,. sebagai penyembuh terjadi persis ketika ia akan ditahbiskan.

“Hadiah tahbisan kuperoleh saat seorang ibu selingkungan Gereja Ganjuran datang kepadaku menjelang tahbisan dan memohon doa, ‘Romo, saya mohon hadiah tahbisan, nanti ketika Romo ditahbiskan tolong doakan suami saya saya yang sudah 3 tahun gila. Saya percaya kuasa doa ketika seorang romo ditahbiskan’. Dan saya sempat datang ke rumah ibu itu untuk melihat keadaan suaminya. Keadaannya sangat menyedihkan, dia diam, dan matanya kosong, kurus, bau karena tidak mau mandi dan makan semaunya. ketika saya pulang ke rumah untuk misa perdana, saya melihat bapak itu datang, duduk di paling depan dengan pakaian rapi dan telah waras, bahkan minta untuk dibaptis karena rupanya dia belum Katolik.”91

Predikat penyembuh yang disematkan terhadap Romo Rochadi kian berkembang. St. Sularto menyampaikan kesan tersebut.

“Beberapa tahun kemudian, ketika namanya dikenal sebagai romo yang memberi perhatian pada pelayanan orang-orang sakit dan menderita, banyak orang mulai menyebut-nyebut Romo Rochadi sebagai “Romo Penyembuh”. Banyak orang disembuhkan dari sakit berkat sentuhan doa dan sentuhan tangan Romo Rochadi.92

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 80-85)

Dokumen terkait