BAB V PENUTUP
A. Ringkasan
Perhatian pokok penulis dalam tulisan ini adalah menemukan identitas ziarah Puri Brata di tengah-tengah ziarah dalam tradisi Gereja Katolik. Lebih khusus lagi, tergelitik dengan salah satu simbol yakni air, yang ada dalam ziarah Puri Brata. Untuk menjawab pengalaman kegelisahan tersebut, penulis memunculkan serangkaian pertanyaan; Bagaimana simbol ditempatkan dalam ziarah? Bagaimana simbol air di Puri Brata dipersepsi dan dimaknai peziarah di dalamnya? Bagaimana hibriditas ruang, ritus dan pelaku muncul di Puri Brata?
Dalam Bab II penulis menunjukkan bahasan ziarah dalam tradisi agama-agama. Sebagai data umum, dalam tulisan ini, penulis mencoba membantu diri dengan menguraikan tentang ziarah dan praktek ziarah dalam agama-agama serta unsur-unsur yang muncul, yaitu ruang, ritus dan pelaku dalam tiap ziarah agama-agama. Ketiga aspek penting dalam ziarah tersebut, yaitu ruang, ritus dan pelaku mempengaruhi perkembangan dan pemaknaan tradisi ziarah dalam dunia agama-agama. Sebagai “pisau iris”, ruang, ritus dan pelaku membantu penulis menyusun analisis mengenai pemaknaan umat terhadap ziarah. Hal penting lain adalah, ruang, ritus dan pelaku merupakan komponen saling mengait dan mempengaruhi.
102 Ketika mengulas salah satu aspek tersebut dalam ziarah, maka bagian lain serempak akan terulas.
Dalam bab III, penulis memaparkan pembentukan dan pengembangan ziarah Puri Brata. Seperti telah disampaikan, bagian pertamadari bab ini memberikan gambaran situasi geografis, sistem bahasa, agama dan mitos yang hidup di wilayah Puri Brata. Bagian kedua mengulas tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan menjadi tonggak awal dan perkembangan ziarah Puri Brata. Bagian ketiga akan bicara tentang ruang, ritus dan pelaku sebagai unsur pembentuk dan pengembang dalam ziarah Puri Brata.
Dalam Bab IV, penulis membahas ziarah Puri Brata sebagai wilayah perjumpaan budaya. Puri Brata tidak menjadi wilayah ekslusif dan monoidentitas. Keberadaan ziarah Puri Brata menjadi bagian dari proses pembentukan budaya. Proses pembentukan budaya baru tersebut tergarap pada tiga wilayah utama, yakni ruang, ritus dan pelaku. Proses budaya baru inilah yang menjadi ruang ketiga atau ruang ambang.
Dengan semangat berbagi ruang, ritus, peziarah ini, Puri Brata tidak hanya berjuang demi eksistensi dan identitas sendiri tetapi juga bagi keberagaman multikultural. Dengan semangat ini pula, Puri Brata didorong untuk melihat kebutuhan dan hasrat manusia.
Realitas hibriditas Puri Brata menunjukan bahwa hibriditas tidak hanya terjadi pada wilayah antar budaya, melainkan mampu memasuki pada wilayah yang bersendikan agama. Seperti telah manjadi sebuah keniscayaan bahwa agama dan tradisi saling beradaptasi untuk membentuk kultur baru dalam masyarakat, meskipun keasliannya tidak tercerabut. Termasuk dalam hal ini adalah hibriditas
103 Puri Brata, sebagai tempat ziarah Katolik, ketika berhadapan dengan kearifan lokal Jawa dan Islam.
Tradisi-tradisi lokal tersebut memiliki makna dan nilai penting yang menjadi acuan tingkah laku bagi masyarakatnya dalam menjalani kehidupan, termasuk menghadapi perbedaan-perbedaan dalam berinteraksi dengan orang lain yang berbeda budaya. Secara subtansial, kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai tersebut diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari masyarakat setempat. Nilai-nilai kearifan lokal ini dipandang sebagai entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya karena di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreatifitas dan pengetahuan lokal dari para elit dan masyarakatnya.
Berdasarkan alur pemikiran dalam tiap bab, pada dasarnya manusia menjadikan ziarah sebagai usaha pencarian diri dan pemenuhan harapan. Pemenuhan harapan peziarah tersebut anatara antara lain adalah penebusan dosa, syukur, dan penyembuhan, keperluan perjalanan dan petualangan. Selain itu melalui peziarahan manusia bergulat dengan kekuatan sekaligus keterbatasan mereka, dan mereka kembali ke rumah dengan semangat baru dan seringkali mengalami pembaruan atau bahkan perubahan dalam hal cara pandang dan sikap hidup mereka.
Melalui peristiwa ziarah terjadi banyak perjumpaan, salah satunya relasi antar pribadi. Ruang diri yang sempit semakin terbuka melalui peristiwa peziarahan. Manusia semakin menemukan identitas dirinya melalui berbagai permenungan dalam peziarahan. Melalui pemahaman diri sebagai peziarah
104 tersebut, dapat membantu seseorang untuk menanggalkan berbagai konsep diri yang memisahkannya secara radikal dengan orang lain.
Manusia peziarah tidak bisa dilepaskan dengan tradisi Agama. Melalui Agama tawaran ziarah selalu melekat beserta simbol-simbolnya. Baik itu dalam Islam, Hindu, Buddha, dan Katolik.
Homi Bhabha (1994) mengajukan sebuah dasar dalam identitas hibrida yaitu konsep mimikri untuk menggambarkan proses peniruan atau peminjaman berbagai elemen kebudayaan. Perjumpaan berbagai budaya dalam Puri Brata tergambar dalam tiga wilayah, yakni ruang, ritus, dan pelaku.
Puri Brata sebagai melalui tiga wilayah tersebut tidak lagi menjadi lambang satu bentuk identitas tersendiri, namun lebih menjadi proses pembentukan budaya. Tidak lagi merujuk pada satu tradisi Katolik namun sudah menjadi satu proses budaya baru. Proses budaya baru inilah yang menjadi ruang ketiga atau ruang ambang.
Wilayah ruang lebih tergambar dalam pendekatan kultural dengan kearifan lokal yang telah dimiliki, salah satunya “Tri Hita Karana” yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya. Konsep ruang dalam tempat peziarahan Katolik ini memperlihatkan satu proses budaya baru dengan harapan dan pemaknaan terwujudnya kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya.
Wilayah ritus memaknai secara mendalam perjumpaan antara neptu sebagai ritus tradisi Jawa dengan perayaan Ekaristi sebagai wujud tradisi Katolik. Wilayah
105 pelaku lebih memperlihatkan bagaimana pengalaman peziarah tidak hanya terkait dengan satu identitas, melainkan pengalaman peziarah yang sangat universal.
Dalam penelitian ini secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa peziarahan merupakan satu bentuk budaya yang hibrid. Sulit untuk mengatakan adanya budaya yang murni atau purifikasi. Hal ini sesuai dengan pandangan Bruno Latour bahwa purifikasi tidak pernah berhasil.127 Selalu ada perjumpaan budaya karena adanya pergerakan manusia. Puri Brata memperlihatkan adanya proses budaya baru untuk mempertahankan identitasnya.
B. Politik Hibriditas dalam Kajian Religi: Jalan Panjang
Tradisi ziarah, melalui kajian religi—melalui para pemuka agama—tentu saja mempunyai hak untuk menyampaikan keunikan dan kekhasan kesakralannya. Mereka juga berhak untuk terus memobilisasi membentengi diri terhadap masuknya budaya-budaya etnis lain ataupun budaya modern dan global. Namun demikian, paling tidak, teori hibriditas sebagaimana diterapkan kajian poskolonial, memberikan sebuah perspektif yang bisa mendinamisasi penelitian-penelitian baru tentang kajian religi, tidak terbatas pada tradisi ziarah.
Dengan peneropongan bingkai keberantaraan dan hibriditas seperti ini, penulis ingin menunjukkan betapa kajian religi mampu secara liat dan dinamis membentuk identitas baru dengan cara mengapropriasi budaya lokal, tanpa harus menghilangkan kekuatan komunal mereka. Dengan posisi itulah, kajian tentang ziarah bisa memobilisasi dan mentransformasi ketradisional-kolektif sebagai
127 Keane, Webb, 2007, Christian Moderns: Freedom and Fetish in The Mission Encounter, Los Angeles, University of California Press, hlm. 80.
106 antitesis dari kekuatan individual yang dibawa modernitas. Artinya, mereka tidak semata-mata hidup dalam dogma sehingga pantas dikatakan sebagai konservatif.
Kenyataan di lapangan membuktikan tradisi ziarah tidak bisa lagi dikatakan sebagai monokultur. Tradisi ziarah telah, tengah, dan akan menjadi sang hibrid yang mempunyai mekanisme-mekanisme liat dalam memosisikan, memaknai, menyerap, menyeleksi, dan menerapkan modernitas dalam kehidupan sehari-hari maupun keberlangsungan ritual.
Terkait hal itulah, pemikiran Bhabha tentang hibriditas menemukan kontekstualisasinya. Konsepsi teoretis yang dikembangkan Bhabha berdasarkan narasi-narasi kolonial India serta dinamika diskursif pascakolonial di ruang metropolitan, ternyata bisa diterapkan untuk membaca kajian religi (ziarah) sebagai nilai dan praktik yang bergerak cukup dinamis dan transformatif sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Paling tidak, dengan menggunakan perspektif tersebut, penulis berpendapat tidak harus selalu memproduksi wacana dan pengetahuan terkait budaya lokal dalam konsep kebekuan, kepastian, maupun esensialisasi.
Bhabha menjelaskan bahwa masyarakat mengalami momen-momen transisi di mana ruang dan waktu saling melintasi untuk memproduksi figur-figur kompleks dari perbedaan dan identitas; “yang di dalam” dan “yang di luar”, “inklusi” dan “eksklusi”, “di sini” dan “di sana”, “ke belakang” dan “ke depan”.
128 Dalam kondisi demikian para akademisi humaniora perlu berpikir melampaui narasi-narasi terkait subjektivitas asli dan awal serta memfokuskan pada momen-momen atau proses-proses yang diproduksi dalam artikulasi perbedaan kultural.
128
107 Ruang antara ini menyediakan tempat untuk mengelaborasi strategi-strategi kedirian—tunggal maupun komunal—yang memunculkan tanda baru identitas serta situs inovatif kolaborasi dan kontestasi dalam mendefinisikan ide tentang masyarakat.
C. Kesimpulan
Rangkuman dan pembacaan ulang atas hibriditas dalam Kajian Religi: Jalan Panjang tersebut membantu pemahaman penulis tentang beberapa hal yang muncul dalam tradisi ziarah Puri Brata.
1. Sebagai seorang yang sekian lama menganut agama Katolik dan kerap melakukan ziarah di beberapa tempat, penulis tidak bisa menghilangkan identitas sebagai orang Jawa yang menganut agama Katolik dan berada bersama umat beragama lain (Islam, Hindu, Buddha).
2. Pembacaan diri seperti tersebut memunculkan pemantapan identitas baru bagi penulis, bahwa identitas sebagai orang Jawa Katolik yang kerap melakukan ziarah hanya semakin dipertajam ketika ada identitas lain yang mengitarinya. Penulis menyebut hal ini sebagai identitas relasional, suatu identitas yang dibentuk atau dibarui karena tidak melihat identitas ziarah sebagai pengalaman monokultur melainkan melalui multikultur yang muncul dalam ritus, ruang dan pelaku.
3. Identitas diri penulis sebagai orang Katolik yang terlibat dalam tradisi ziarah perlu dipahami sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, berubah, adaptif dan saling memengaruhi. Dengan kata lain, pembacaan atas identitas diri sebagai orang Jawa Katolik yang berhadapan dengan keunikan dan
108 kekhasan tradisi ziarah perlu dilihat dalam kontinuitas dan diskontinuitas, kesamaan sekaligus perubahan.129
4. Fenomena ziarah masih menjadi kajian menarik yang dapat terus dilakukan dan diperdalam. Fenomena ziarah, sebagai kajian religi, dapat disajikan dengan pelbagai pendekatan akademis kontemporer, yakni melalui pendekatan lintas ilmu (linguistik, psikoanalisa, teologi, antropologi, filsafat, sejarah, dan sebagainya).
109 Sumber Pustaka
Buku
Ahmad Khalil, 2008. Islam Jawa: Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa, UIN Malang.
Alan, Morinis. 1992. “Introduction: The Territory of the Anthropology of Pilgrimage, dalam Sacred Journeys, edited by Alan Morinis. Westport, CT: Greenwood Press. Moustakas, Clark.
Anderson, Benedict., 2000. Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-budaya Politik di Indonesia, Jakarta, Matabangsa.
Assmann, Jan, 1992. Dalam Das kulturelle Gedächtnis. Schrift, Erinnerung und politische Identität in frühen Hochkulturen (Memori Kultural. Tulisan, Kenangan dan Identitas Politis pada “high-culture” Awal), München.
Bernadette McCarver Snyder. 2001. 115 Kisah Santo-Santa yang Mengasyikkan. Yogyakarta: Kanisius.
Bhabha, Homi, 1994. The Location of Culture, New York, Routlegde. Boon, Marcus. 2010, In Praise of Copying, Harvard College, hlm. 72.
Bowman, Glenn. Christian Ideology and The Image of a Holy Land, dalam Contesting The Sacred-The Anthropology of Christian Pilgrimage., Edited by John Eade and Michael J. Sallnow, 2000, University of Ilinois Press, Urbana and Chicago.
Brandon, S. G. F., gen. ed. 1970. A Dictionary of Comparative Religion. London: Weidenfeld and Nicolson.
110 Budiawan, 2010, Ambivalensi: Postkolonialisme Membedah Musik sampai
Agama di Indonesia, Yogyakarta, Jalasutra
Chan Khoon San, 1991/2001. Buddhist Pilgrimage, Buddha Dharma Education Association Inc. hlm.
Christopher, McKevitt. 2000, San Giovanni Rotondo and The Shrine of Padre Pio., dalam Contesting The Sacred – The Anthropology of Christian Pilgrimage., London: Routlegde.
Coelho, Paulo. 2013, The Pilgrimage, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama
Collins, Michael., Price, A., Mattew., 2003, The Story of Christianity, Dorling Kindersley, Limited London.
Creighton, L. Linda., 2008. The Pilgrimage to Mecca is Dangerous but Exhilarating, Journey of a Lifetime, April .
Cunningham, Lawrence. 1985. The Catholic Experience. Hertford, NC: Crossroad.
Dahlberg, Andrea. 2000, The Body as a Principle of Holism: Three Pilgrimage., dalam Contesting The Sacred-The Anthropology of Christian Pilgrimage., Edited by John Eade and Michael J. Sallnow, 2000, University of Iiinois Press, Urbana and Chicago.
David Hamzah Singarimbun., 2009, Motivasi Umat Katolik Dalam Melakukan Doa Novena Maria (Studi terhadap Doa Novena di Gua Maria Sendang Jatiningsih di Jitar Sumberarum Moyudan Sleman Yogyakarta). Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan KalijagaYogyakarta.
111 Dhavamony, Mariasusai. 1995, Fenomenologi Agama, Yogyakarta, Kanisius. Dillistone., F.W. 2002. Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta, Kanisius.
Eade, John and Sallnow Michael. Contesting The Sacred – The Anthropology of Christian Pilgrimage., 2000, London: Routlegde.
Eliade, Mircea. 1979. Patterns in Comparative Religion, Sheed and Ward.
Geertz, Clifford. 1976, The Religion of Java. Chicago and London; The University of Chicago Press.
Geertz, Clifford. 1981. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin, Bandung: Dunia Pustaka Jaya.
Gitowiratmo, St. 2000, “Refleksi Ziarah Umat Katolik”, dalam Lima Titik Temu Agama-Agama, Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Godfrey, Lienhardt. 1969, Social Anthropology, London, OUP.
Groenen, C., 1988. Mariologi: Teologi dan Devosi. Yogyakarta, Kanisius.
Groenfeldt, D., 2003. Water Development and Spiritual Values in Western and Indigenous Societies; a paper which draws on the presentations made at the World Water Forum. hlm. 6.
Hardjana, AM., 1993. Penghayatan Agama Yang Otentik dan Tidak Otentik, Yogyakarta, Kanisius.
Hardjosoediro, Soedjono, 1951. Lurah Desa dalam Negara Demokrasi, Djakarta/ Amsterdam, Penerbit Djambatan.
Harvey dan Marilyn Diamond. 1999. Hidup Sehat Sepanjang Masa (Fit For Live), Jakarta: Kentindo Publisher.
112 Haryanto Cahyadi., 2004, (Ed) Sutrisno, Mudji., Hermenetika Pascakolonial, dalam Keterlemparan Manusia dalam Dunia Ambigu, Yogyakarta, Kanisius.
Heuken, A. 1985. Ensiklopedi Orang Kudus. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
I Gede Riana. Dampak Penerapan Kultur Lokal Tri Hita Karana / JTI, Vol. 13, No. 1, Juni 2011I Gede Suwantana and Ni Ketut Ayu Juliasih, 2015. Water And Spirituality Water Preservation of The Balinese Ritual Sides., Presented In International Seminar “Waterscapes In Bali And Beyond: Shifting Paradigms Of Pollutions And Purity”, Unhi Denpasar In Collaboration With Heidelberg University Germany.
Imam Budhi Santosa, 2012, Falsafah hidup orang Jawa, Yogyakarta, Memayu Publishing.
Jack B. Hebner dan David B. Osborn, 1990, Kumbha Mela – The World’s Largest for Faith, Mandala Publishing Group, San Rafael, California, USA.
Jan Margry, Peter. 2008. Secular Pilgrimage: A Contradiction in Terms? Dalam Shrines and Pilgrimage in the Modern World New Itineraries into the Sacred, Amsterdam University Press.
Jenkin, R., 2008, Social Identity, Oxford, Roudledge.
John Eade and Michael J. Sallnow, Contesting The Sacred-The Anthropology of Christian Pilgrimage. 2000, University of Iiinois Press, Urbana and Chicago.
Keane, Webb. 2007, Christian Moderns: Freedom and Fetish in The Mission Encounter, Los Angeles, University of California Press.
113 Kees de Jong, “Ziarah Menyentuh Yang Adi Kodrati”, dalam Lima Titik Temu
Agama-Agama, Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 2000.
Kementerian Agama RI, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah, 2010, Tuntunan Praktis Perjalanan Ibadah Haji, Jakarta.
Kisai, vol 15 dalam Wensinck, A.J. 1916, The Idea Of Western Semites Conserning The Navel of The Earth, Amsterdam.
Langer, Rita. 2007, Buddhist Rituals of Death And Rebirth Contemporary Sri Lanka - Practice And Its Origins, USA and Canada: Routledge.
Leahy, Louis. 2001. Siapakah Manusia? Sintesis Filosofis tentang Manusia, Yogyakarta, Kanisius.
Lestari, R.D., 2009, Pemaknaan Umat Terhadap Ziarah Di Gua Maria Kerep Ambarawa, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.
Lindsey, David Michael. 2003., Perempuan dan Naga, Kanisius, Yogyakarta. Marcel, Gabriel. Homo Viator, Sketch of Phenomenology and a Metaphysic of
Hope, Terj. Emma Craufurd, Chicago: Henry Regnery Company.
Mardiatmadja, B.S., 2000, Makna Ziarah di Tahun Yubelium, dalam Hidup, No. 40 Tahun LIV, 1 Oktober 2000.
Martono, Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan Poskolonial, 2011, Jakarta: Rajawali Press.
Masduki, Anwar, 2014, “The Tenth Saint”: The Construction of Gus Dur’s Sainthood, Thesis, Yogyakarta: CRCS UGM Jogjakarta.
Meilena, Didit., 2009, Ritual Ziarah Di Gua Maria Marganingsih Dusun Ngaren Paseban Bayat Klaten. Skripsi Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
114 Moodod, T. 2007, Multiculturalism, Cambrigde: Polity Press.
Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto, 2004, Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas, Yogyakarta: Kanisius
Nandy, Ashis. 1983. The Intimate Enemy - Loss And Recovery Of Self Under Colonialism, Oxford New York Toronto, Oxford University Press.
Nusantara, Bintang. 2009, Tempat Ziarah sebagai Pengudusan Ruang Bagi Yang Kudus: Studi Tentang Proses Pembentukan Peziarahan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Yogyakarta. Tesis Program Magister Ilmu Religi dan Budaya , Universitas Sanata Dharma.
Ozorak, Weiss. The View From The Edge: Pilgrim and Transformation, dalam On the Road to Being There Studies in Pilgrimage and Tourism in Late Modernity, Edited by William H. Swatos, Jr., 2006 by Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands. Koninklijke Brill NV incorporates the imprints Brill Academic, 2006.
Puri Brata. 2011. A Tribute to Thomas Aquino Rochadi, Pr., Yogyakarta, Puri Brata.
Quinn, George. 2007. “Throwing Money at The Holy Door; Commercial Aspects of Popular Pilgrimage in Indonesia,” dalam Greg Fealy and Sally White (eds.), Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Riley-Smith, J. S. C. 1986. The First Crusade and the Idea of Crusading. London. Rose, Gillian. The Interstitial Perspective: A Review Essay On Homi Bhabha's The Location of Culture Department of Geography, University of Edinburgh, Drummond Street, Edinburgh, Scotland.
115 Rutherford, Jonathan. 1990. The Third Space. Interview with Homi Bhabha. In:
Ders. (Hg): London: Lawrence and Wishart.
Sartono, Kartodirjo. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Saukko, Paula. 2003. Doing Research in Culturas Studies: An Introduction to Classical and New Methodological Approaches. London: Sage Publications. Shoshanna, Brenda. 2007, Zen Wisdom., Jakarta, Bhuana Ilmu Populer.
Smith Z Jonathan (ed), The Harper Collins Dictionari of Religion, (San Francisco: The American Academy Of Religion Press, 1995).
Soemarjo, Jacob. 2002, Arkeologi Budaya Indonesia, Yogyakarta, Qalam. Spradley, James P. 2007, Metode Etnografi, Yogyakarta, Tiara Wacana. Sudiarja, A. 2006. Agama di Zaman Yang Berubah, Yogyakarta, Kanisius.
Sumandiyo, Hadi,Y. 2006, Seni dalam Ritual Agama, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Suyono, R.P., 2007. Dunia Mistik Orang Jawa, Yogyakarta, LkiS.
Swearer, Donald. Buddhism and Society in Southeast Asia. Chambersburg, P A: Anima Publications, 1981
Sykes, J. B. 1982. The Concise Oxford Dictionary of Current English, 7th ed. Oxford: Clarendon Press.
Turner, V, 1973. Q The Center Out There: Pilgrim’s Goal. History of Religions 12, no. 3.
Turner, Victor and Turner, Edith. 1978. Image and Pilgrimage in Christian Culture: Anthropological Perspectives.New York: Columbia University Press.
116 UNESCO, October 2013, Lumbini The Birthplace of Lord Buddha in Nepal.
Second edition.
Wartaya Winangun, Y.W. 1990, Masyarakat Bebas Struktur, Liminalitas dan Komunitas Menurut Victor Turner, Yogyakarta, Kanisius.
Zelliot, Eleanor. 1987, “A Historical Introduction to the Wārkāri Movement,” in D.B. Mokashi, Palkhi: An Indian Pilgrimage, Albany: State University of New York Press.
Koran/Majalah
Heddy Shri Ahimsa-Putra. “Sistem Air Kehidupan”, dalam Kedaulatan Rakyat. Sabtu Pon 17 Maret 2007.
Heru Prakosa, Jiwa yang Gelisah: Ziarah Pengenangan dan Permenungan, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56.
Maria Etty, Majakah HIDUP, Edisi No. 18 Tanggal 2 Mei 2010
Shaobo Xie, 1996, Review Article' Writing on Boundaries: Homi Bhabhas Recent Essays Review of International English Literature, 27:4, October
Bagus Laksana, Ziarah Kasiyo Sarkub, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007. Kieser, Bernhard. Berjiwa Ziarah Asli, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007.
Sindhunata, 2007. Musafir dalam Batin, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007.
Jacobs, Tom. Paradoksal Manusia Peziarah, dalam BASIS no. 9-10, tahun ke-56, 2007.