• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Keselamatan

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 74-80)

BAB III PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN

C. Identifikasi Puri Brata

5. Sistem Keselamatan

sebagai sangu menuju ke akhirat (berusaha sebagai bekal menuju akhirat). Penduduk di sini tidak ada pikiran yang aneh-aneh, pingin kae, pingin kae (pingin ini, pingin itu). Ning nak ono sing rumongso kekurangan ki wajar (tetapi kalau ada yang merasa kurang itu wajar). Ono siji opo loro sing njuluk ning diewangi njungkel njempalik... ngrekoso (Ada 1 atau 2 yang tampak lebih makmur sejahtera tetapi harus bersusah payah).”76

5. Sistem keselamatan

Sebagai bagian dari masyarakat pedesaan di sekitar pesisir Laut Selatan, penduduk desa Kalimundu tidak bisa dilepaskan dengan kisah tentang Nyai Roro Kidul. Sebagai tokoh yang juga dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul, tokoh ini mendapat perhatian khusus dari sebagian masyarakat Bantul. Ada kisah yang menyebutkan, Kanjeng Ratu Kidul akan meminta korban nyawa dari orang yang berkunjung ke Laut Selatan. Pandangan lain yang mencuat adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau bagi mereka yang berada di Laut Selatan. Konon, warna hijau menjadi warna yang disukai oleh Ratu Laut Selatan. Penghormatan yang besar kepada Nyai Roro Kidul tampak juga pada cara masyarakat daerah pesisir Laut Selatan ketika membangun rumah, ketika sebagian besar bangunan tradisional penduduk tidak dibangun membelakangi Laut Selatan (ngungkuri segara kidul) tetapi menghadap ke arah Laut Selatan (madhep segara kidul).

Umat Islam di Pedukuhan Kalimundu tidak banyak merespon kisah tentang Ratu Laut Selatan. Hidup pemeluk beragama berjalan baik dan umat Islam di Pedukuhan Kalimundu dianggap sudah maju dan moderat. Keyakinan bahwa lakum dinukum...” agamamu yo agamamu, agamaku yo agamaku...” menjadi panduan yang dipegang teguh. Sebagai bagian dari pemahaman ajaran dalam Alquran, akidah ini menjadi dasar hidup keagamaan di daerah ini. “Jika seorang

60 muslim diminta untuk membiarkan orang lain melaksanakan keyakinan “agama” mereka, maka mereka pun dituntut juga untuk membiarkan seorang muslim menjalani agama yang mereka yakini kebenarannya. Inilah solusi yang paling perfek dalam menyikapi perbedaan aqidah dalam kehidupan bermasyarakat.”

Secara khusus, orang Jawa tradisional memisahkan kekuatan kosmos menjadi dua bagian, yakni bagian panengen (kanan) dan bagian pangiwo (kiri). Bagian panengen terdapat segala macam unsur kebaikan untuk membangun. Pada bagian pangiwo terletak segala unsur kejahatan yang dapat menghancurkan.77

Jika seorang Jawa ingin mendapatkan kedamaian, ketenteraman dan keselarasan dalam hidup, maka ia harus mengadakan sesuatu yang menyeimbangkan antara dua bagian panengen dan pangiwo tersebut. Untuk itu, kegiatan yang dapat dilakukan, misalnya mengadakan ritual seperti slametan, atau membuat sesaji (sajen) dan menaruhnya di tempat-tempat tertentu, atau melakukan olah pribadi dengan berpuasa, sesirik untuk melakukan atau makan sesuatu, atau menyepi dan bertapa.

Dalam slametan sendiri memuat nilai-nilai hidup orang Jawa, misalnya kebersaman, persaudaraan, dan kerukunan. Ketika orang menjalankan atau mengikuti slametan, mereka akan saling bertemu, bertegur sapa, dan saling meneguhkan bahwa mereka memiliki derajat yang sama. semua itu mencerminkan keselasaran yang ingin dicapai sebagai anggota dalam suatu masyarakat.

Pada dasarnya, upacara slametan diadakan menurut maksud dan tujuan sesuai dengan peristiwa atau kejadian kehidupan sehari-hari yang diperingati. Ada slametan yang diarahkan untuk menandai siklus kehidupan manusia, yakni ketika

77 Kartodirjo Sartono, 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, hlm. 120.

61 menyongsong, mempersiapkan, merayakan kelahiran seseorang hingga proses seseorang memasuki masa dewasa hingga meninggalnya.

Upacata slametan yang berhubungan dengan proses kelahiran seseorang, antara lain adalah mitoni atau tingkeban (7 bulan kehamilan), brokohan atau babaran (kelahiran bayi), sepasaran (5 hari setelah kelahiran bayi), selapanan (35 hari setelah kelahiran bayi) khitanan (pendewasaan bagi anak laki-laki) dan tetesan (pendewasaan bagi anak perempuan). Upacara slametan yang dilakukan sejak awal menjelang dan atau sesudah masa perkawinan, antara lain malem midodareni, dan kemudian lima hari sesudah perkawinan yang disebut slametan besanan.

Dalam rangka menjaga keselarasan ketika menghadapi peristiwa kematian (kepaten), masyarakat jawa tradisional mengawalinya pada saat geblak atau kematian terjadi. Kemudian, slametan dilanjutkan dengan pengetan 3 hari (nelung dina), 7 hari (mitung dina), 40 hari (matang puluh dina) 100 hari (nyatus dina) sampai 1000 hari (nyewu dina). Slametan nyewu dina biasanya diadakan secara lebih meriah karena menjadi pengenangan terakhir. Kemeriahan pengetan ini sekaligus ditandai dengan ngijing (memasang batu nisan) tepat di atas makam.78

Pendapat Geertz tidak selalu sama persis dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat Jawa.

Perkembangan kebudayaan Jawa menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat pada sesuatu yang gaib, misteri hanya dugaan yang berawal dari keterbatasan mereka memahami fenomena alam yang mengiringi harapannya untuk bisa hidup secara lebih baik dan sejahtera. Begitu datang ajaran baru

78 Geertz Clifford, 1976, The Religion of Java. Chicago and London; The University of Chicago Press, hlm. 147.

62 dengan landasan yang lebih kuat, karena ditopang oleh pengalalaman para penyerunya, disamping juga adanya ajaran yang berdasarkan Kitab Suci, masyarakat Jawa lebih percaya dan menyakininya sebagai sesuatu lebih benar, tanpa menghilangkan kesan-kesan dan pengalaman yang terdapat dalam praktek keagamaan sebelumnya.79

Menurut Bapak Jamal, “Bila sedang punya gawe atau mengadakan slametan, keluarga mau mengadakan pertunjukan wayang sehari semalam ya terserah. Silakan! Tapi ini di Kalimundu....Beda dengan pedukuhan lain.” Ungkapan tersebut, bila dilihat dari ajaran agama, mengisyaratkan satu pemahaman tentang keyakinan kaum muslimin, yakni tidak bertindak sembrono dengan menghakimi salah kepada yang tidak sepaham dengan mereka.

Sikap demikian, mencerminkan kehidupan muslim di Madinah ketika Nabi Muhammad tetap menjamin keamanan kaum non-muslim. Bila dilihat dalam kacamata kejawaan, apa yang dikatakan Bapak Jamal menunjukkan pandangan yang sangat berpengaruh terhadap pola perilaku dan hubungan sosial di kalangan masyarakat Jawa. Paham seperti inilah yang membuat orang Jawa jadi terkesan bersikap kompromis. Melakukan semacam persetujuan atau persesuaian sebagai bentuk “jalan damai” untuk menyelamatkan diri dengan cara mengeleminasi tuntutan-tuntutan ekstrim dari berbagai pihak.80

Demikian yang terjadi dengan upacara majemukan. Sebagai suatu ungkapan syukur atas panen raya, majemukan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Ada sebagian masyarakat melakukannya dengan kirab, kenduri, slametan, bahkan

79 Ahmad Khalil, 2008. Islam Jawa: Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa, UIN Malang, hlm 145.

80 Imam Budhi Santosa, 2012, Falsafah hidup orang Jawa, Yogyakarta, Memayu Publishing, September, hlm. 21

63 ada yang pertunjukan (nanggap) wayang. Menurut penuturan Bapak Rasidal, majemukan dilaksanakan pada waktu sore hari, setelah sholat ashar. Para warga datang ke rumah-rumah mbah kaum dengan membawa berkat atau besek yang berisi nasi dan lauk pauk. Setelah mbah kaum mendoakan ubarampe tersebut, masyarakat saling menukarkan apa yang mereka bawa dan kemudian menyantapnya secara bersama.

Pada mulanya, acara ini dilakukan dilakukan secara serentak oleh warga desa, namun pelaksanaannya per dusun. Setelah makan bersama, mereka menonton wayang yang dimainkan oleh seorang dalang dari luar desa atau kabupaten. Pagelaran wayang kulit ini menjadi acara wajib yang tidak bisa diabaikan. Jika tidak nanggap wayang kulit dalam acara majemukan maka bencana besar atau pagebluk akan menimpa masyarakat. Namun, dapat dikatakan bahwa untuk Pedukuhan Kalimundu, suatu perayaan disertai dengan tontonan wayang kini sudah tidak dilaksanakan lagi atau sudah jarang ditemui di desa tersebut.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, perayaan panen raya semakin lama semakin ditinggalkan karena semakin besar biaya yang diperlukan. Selain itu masyarakat sudah terpapar oleh ajaran-ajaran Islam sehingga secara perlahan mulai meninggalkan tradisi yang dirasa kurang sesuai dengan ajaran Islam. Pengaruh agama Islam sebagai suatu tuntunan keagamaan di Pedukuhan Kalimundu sangat mempengaruhi sikap dan pandangan masyarakat setempat terhadap beberapa ritual slametan yang ada.

“Tradisi-tradisi semakin berkurang. Nak desa kene ki wes slamet ora ono opo-opo (Kalau desa ini sendiri sudah tenteram, tidak ada apa-apa)...wayangan yo ayo....slametan ono yo rapopo (Ada wayangan yang tidak apa-apa, tidak ada juga tidak apa-apa)...Kalimundu ki kepenak...kabeh do njaluk slamet...kula niku bakda bar sholat njug ndonga njaluk slamet...

64 niku nak wong Islam ngoten...ndongake wong tuo sing wes dipundhut yo bar sholat (Kalimundu itu nyaman...semua bisa meminta keselamatan....setelah sholat, saya berdoa keselamatan...kalau umat Islam begitu...mendoakan orangtua yang sudah meninggal juga setelah sholat).”81

Ada semacam pertentangan antara warga yang masih ingin menjakankan tradisi dan warga yang telah menghayati ajaran agama Islam. Hal ini muncul, misalnya dalam slametan nyewu dina (peringatan seribu hari) bagi keluarga yang sudah meninggal. “Ada salah satu keluarga yang akan mengadakan slametan nyewu dina berikut memasang kijing (nisan) bagi orangtuanya yang meninggal. Tetapi salah seorang anggota keluarga menolak rencana nyewu dina tersebut. Percaya nggak percaya, tidak lama kemudian, orang yang menolak itu mengalami celaka.”

Di sekitar Pedukuhan Kalimundu terdapat upacara adat yang dilaksanakan secara turun-temurun. Upacara tersebut berkaitan dengan jumedhuling mahesa suro atau munculnya seekor kerbau misterius di malam bulan Suro. Konon, kerbau liar itu merupakan utusan Nyi Roro Kidul. Penguasa Laut Selatan itu menyuruh mahesa untuk membantu para petani mengolah tanah pertanian mereka. Setelah berhasil ditangkap dan dijinakkan oleh tokoh sakti, mahesa itu difungsikan untuk nggaru atau membajak sawah pertanian. Kerbau itu dianggap berjasa karena membantu petani dalam menggarap sawah. Bahkan ketika hasil panen menjadi lebih baik dan berlimpah, para petani pun mulai mengadakan syukuran.

Pelaksanaan acara-acara slametan di Pedukuhan Kalimundu semakin berkurang. Hal ini diakui oleh Bapak Baryudi. “Karena dulu wong-wong tuo isih

81

65 do bodo, nak saiki do mbuka ayat. Kabeh ki nak ora ono tuntunane rasah dienggo (Karena dahulu orangtua-tua masih bodoh, sekarang sudah membuka ayat. Segala sesuatu jika tidak ada dasar (ayat)nya tidak perlu dilakukan.” Di tengah meredupnya tradisi masyarakat pedesaan, akidah agama tampak kian marak. Bila masyarakat diajak untuk menonton wayang sebagai bagian dari slametan, maka ungkapan yang muncul nanggap wayang sing odo-odo sopo... (pementasan wayang itu ulah siapa) tetapi ketika diadakan pengajian, maka masyarakat berbondong-bondong untuk hadir dan mengikuti.

D. Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi dan Menjadi Tonggak Awal

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 74-80)

Dokumen terkait