• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjuangan Menuju Kemerdekaan

Dalam dokumen Modul Kajian IPS.pdf (Halaman 192-200)

Perjuangan Indo nesi a Dalam Mencapai dan Mempertahankan K emerdekaa n

2. Perjuangan Menuju Kemerdekaan

Sejak penjajah Barat pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Nusantara dan melakukan pemerasan, penindasan, dan perampasan kemerdekaan terhadap rakyat Nusantara ini, maka sejak saat itu pula bangsa kita melakukan perlawanan terhadap penjajah. Perlawanan terhadap penjajah ini adalah dalam upaya untuk merebut kembali kemerdekaan yang direnggut oleh penjajah itu. Perjuangan menentang penjajahan ini didasari satu prinsip bahwa kemerdekaan itu merupakan hak setiap bangsa dan bahwa penjajahan merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan yang harus dihapuskan dari muka bumi.

Perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajahan dalam mencapai kemerdekaan dapat dibagi ke dalam dua periode. Periode pertama adalah dimulai dari perjuangan menentang Portugis sampai tahun 1908, yakni sampai masa Kebangkitan Nasional. Periode kedua dimulai dari tahun 1908 yakni dari masa Kebangkitan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Pembagian periode perjuangan ini didasarkan pada sifat-sifat atau ciri-ciri perjuangan yang antara kedua periode itu sangat berbeda satu sama lain.

a.

a. Perjuangan Sebelum Kebangkitan Nasional (sebelum 1908)Perjuangan Sebelum Kebangkitan Nasional (sebelum 1908) 1) Perjuangan Melawan Penjajah Portugis

Perjuangan bangsa Indonesia terhadap penjajah ini hampir dilakukan di seluruh wilayah Nusantara terutama di daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat kekuasaan penjajah. Perjuangan pertama menentang penjajahan dilakukan bangsa Indonesia terhadap penjajah Portugis. Perjuangan melawan Portugis ini dilakukan oleh rakyat Malaka, Johor, Aceh, Maluku, Demak, dan Sunda Kelapa.

a) Perjuangan Rakyat Malaka

Pada tahun 1511 rakyat Malaka di bawah pimpinan Sultan Mahmud Syah I melakukan perlawanan terhadap pendudukan Portugis. Namun akhirnya Portugis dapat mendesak pasukan Malaka sehingga mereka terpaksa menyingkir ke pulau Bintan. Malaka akhirnya jatuh ke Portugis tahun 1511. Pada tahun 1526 pulau Bintan diserbu oleh Portugis. Sultan Mahmud Syah I kemudian lari ke Kampar hingga wafatnya pada tahun 1528.

b) Perjuangan Rakyat Johor

Di bawah pimpinan Alauddin Ri’ayat Syah II, putra dari Sultan Mahmud Syah I, rakyat Johor melakukan perlawanan terhadap Portugis mulai tahun 1530. Perjuangan ini kemudian dilanjutkan oleh Abdul Jalil Syah 1 (1580-1597) yang dapat menangkis serangan Portugis.

c) Perjuangan Rakyat Demak

Di bawah pimpinan Dipati Unus pasukan Demak (Jawa Tengah) pada tahun 1512-1523 melakukan perlawanan terhadap Portugis. Dengan dibantu oleh armada Aceh, Palembang, dan Bintan. Dipati Unus berusaha merebut kembali Malaka dari kekuasaan Portugis, namun tidak berhasil.

d) Perjuangan Rakyat Maluku

Ketika Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511, Portugis kemudian menuju ke Maluku Utara, sebagai pusat penghasil rempah-rempah. Pada tahun 1912 Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Sultan Hairun dari Ternate. Sikap Portugis yang kemudian ternyata berusaha memonopoli perdagangan, memeras dan menindas rakyat, dan juga melakukan penyebaran Agama Kristen secara paksa kepada penduduk Maluku Utara

mendorong rakyat Maluku melakukan perlawanan. Di bawah pimpinan Sultan Hairun rakyat Ternate melakukan perlawanan terhadap Portugis mulai tahun 1550. Dengan dalih untuk mengadakan perundingan damai, Portugis menipu dan membunuh Sultan Hairun, sehingga membuat rakyat Ternate semakin marah. Perjuangan rakyat Ternate ini kemudian diteruskan oleh Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate, Tidore, dan Halmahera bersatu-padu melawan Portugis pada tahun 1570-1575. Pada tanggal 28 Desember 1577 rakyat Ternate berhasil mengusir Portugis dari Ternate. e) Perjuangan Rakyat Sunda Kelapa

Fatahillah atau Faletehan seorang ulama dari Demak yang bertugas menyebarkan agama Islam di Jawa Barat memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Portugis. Pada tahun 1527 pasukan Fatahillah menyerang orang-orang Portugis di Sunda Kelapa dan

dengan nama Jayakarta (disingkat menjadi Jakarta), yang berarti kemenangan akhir. Setelah kemenangan itu, kemudian kerajaan Banten berdiri.

2) Perjuangan Menentang Penjajah Belanda

Perjuangan bangsa menentang penjajahan Belanda dengan menggunakan kekerasan senjata sudah dimulai sejak awal abad ke tujuh belas, abad ke sembilan belas, dan sampai awal abad kedua puluh. Perjuangan ini terjadi di mana-mana di seluruh wilayah Nusantara yang diduduki oleh Belanda. Perjuangan menentang Belanda pada abad ke enam belas antara lain dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram (1613-1645), Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Goa, Sulawesi Selatan (sampai tahun 1667), Sultan Ageng Tirtayasa (1684), Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1635), Untung Suropati dan Trunojoyo (1670), lbnu Iskandar dari Minangkabau (1680).

Sementara itu mereka yang berjuang pada abad ke sembilan belas antara lain: Pattimura dari Maluku (1817), Pangeran Diponegoro dari Jawa (1825 -1830), Imam Bonjol dari Minangkabau (1822-1837), Sultan Badaruddin dari Palembang (1817), Pangeran Antasari dari Kalimantan (1860), Jelantik dari Bali (1850), Anak Agung Made dari Lombok (1895), Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Din dari Aceh (1873-1904),

dan Si Singamangaraja dari Batak (1900).

Perjuangan menentang penjajah Belanda secara gagah berani dilakukan oleh rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Perjuangan itu memang telah membawa kerugian besar bagi pihak penjajah Belanda, namun juga membawa pengorbanan harta benda dan jiwa yang sangat besar pula dari bangsa Indonesia. Meskipun perjuangan dengan peperangan bersenjata dilakukan di mana-mana dan dalam rentang waktu yang sangat lama, namun sampai awal abad ke dua puluh Belanda tidak dapat terusir dari tanah air Indonesia.

Kegagalan perjuangan dengan kekerasan senjata oleh para pahlawan bangsa baik ketika melawan Portugis maupun Belanda seperti yang telah dijelaskan di atas, adalah karena ada beberapa kelemahan dari perjuangan bangsa Indonesia sendiri. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:

a) Perjuangan bersifat lokal atau kedaerahan. Artinya bahwa perjuangan yang dilakukan itu terbatas pada daerah tertentu saja. Tidak ada koordinasi satu sama lain antara para pejuang di satu daerah dengan

daerah lainnya. Misalnya Pangeran Diponegoro berjuang di daerah Yogyakarta dan sekitarnya saja. Imam Bonjol hanya berjuang di daerah Minangkabau. Tidak ada kerja sama antara daerah dalam menentang penjajah.

b) Perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara sporadis dan tidak dalam waktu yang bersamaan. Sebagai akibatnya kekuatan penjajah lebih terkonsentrasikan untuk menghadapi satu perlawanan saja. Jadi penjajah dapat dengan mudah memadamkan perlawanan itu satu demi

satu.

c) Perjuangan pada umumnya dipimpin oleh pemimpin yang kharismatik. Ketika pemimpin ini meninggal dunia atau diasingkan penjajah, maka perjuangan pun berhenti karena tidak ada yang

melanjutkannya.

d) Perjuangan menentang penjajah sebelum masa 1908 dilakukan dengan kekerasan senjata. Dalam hal persenjataan pihak penjajah jauh lebih modern. Persenjataan penjajah sudah menggunakan senjata api, sementara para pejuang Indonesia lebih banyak menggunakan senjata tradisional.

e) Para pejuang dapat diadu domba oleh pihak penjajah, sehingga perselisihan sering terjadi antarpemimpin Indonesia sendiri. Penjajah

Belanda memang lihai menerapkan politik devide et impera, yakni politik memecah belah bangsa Indonesia.

Beberapa kelemahan ini menjadi pelajaran yang berarti bagi bangsa Indonesia dalam menentukan strategi perjuangan dalam masa berikutnya. Bangsa Indonesia sadar bahwa kekuatan penjajah yang terorganisasi dengan baik tidak dapat dengan mudah ditaklukkan oleh perjuangan yang bersifat lokal dan tidak terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu perlu dicari strategi perjuangan yang baru yang lebih terorganisasi dan lebih modern.

b.

b. Perjuangan Setelah Kebangkitan Nasional (1908)Perjuangan Setelah Kebangkitan Nasional (1908)

Tahun 1908 merupakan periode pembatas dari dua tipe strategi perjuangan yang berbeda dalam menentang penjajah. Tahun 1908, tepatnya tanggal 20 Mei 1908, merupakan tanggal lahirnya Boedi Oetomo, sebuah organisasi sosial pertama di Indonesia. Tanggal kelahiran Boedi Oetomo ini

menandai lahirnya sebuah strategi perjuangan yang baru dan berbeda dari strategi perjuangan sebelumnya.

Sejak tahun 1908 perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajah memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1) Perjuangan dilakukan dengan menggunakan organisasi, tidak dengan kekerasan senjata lagi.

2) Para pemimpin atau penggerak perjuangan terutama berasal dari kaum terpelajar atau intelektual, bukan dari pihak raja atau sultan.

3) Perjuangan tidak lagi bersifat kedaerahan. Rasa persatuan dan kebangsaan sudah mulai tumbuh.

Pada awal abad ke dua puluh tersebut memang telah tumbuh kesadaran kebangsaan pada bangsa Indonesia, khususnya di kalangan para pelajar. Tumbuhnya kesadaran kebangsaan ini menurut Ismaun (1986:42) terutama dipercepat oleh faktor-faktor berikut.

1) Perlawanan bangsa Filipina terhadap bangsa Spanyol pada tahun 1898, di bawah pimpinan Joze Rizal.

2) Kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang tahun 1905.

3) Kegiatan Partai Kongres di India pada tahun 1885 dalam menentang penjajahan Inggris.

4) Bangkitnya Kemal Pasha di Turki pada tahun 1881.

5) Keberhasilan dr. Sun Yat Sen dalam mendirikan Republik Cina pada tahun 1911.

6) Pecahnya Perang Dunia 1 (1914 - 1918) memberikan pengaruh besar atas kebangkitan nasional Indonesia.

7) Didirikannya Volksraad (DPR) oleh Belanda pada tahun 1918.

Sejak diprakarsai oleh Boedi Oetomo pada tahun 1908, maka di Indonesia kemudian berdiri beberapa organisasi, yang bercorak budaya, politik, maupun keagamaan. Organisasi-organisasi tersebut ada yang secara terang-terangan melakukan gerakan perjuangan politik menentang Belanda dan ada pula yang tidak. Dalam penjelasan berikut akan diuraikan beberapa organisasi yang menonjol setelah masa Kebangkitan Nasional 1908.

1)

1) Budi Oetomo Budi Oetomo

Kelahiran Boedi Oetomo tidak bisa lepas dari peran dr. Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo. Dr. Wahidin sebelumnya memulai kampanye hendak meningkatkan martabat rakyat, antara lain dengan cara membentuk dana pelajar. Kampanye dr. Wahidin ini sangat

menarik Sutomo, pelajar STOVIA (sekolah kedokteran). Cita-cita untuk meningkatkan kedudukan dan martabat rakyat itu sebenarnya sudah ada pada para pelajar STOVIA. karena itu kampanye dr. Wahidin mendorong dan memberikan semangat bagi cita-cita tersebut. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 para pelajar STOVIA di Jakarta mendirikan organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo yang diangkat sebagai ketuanya adalah Sutomo.

Boedi Oetomo pada mulanya merupakan organisasi pelajar, yang jangkauannya terbatas pada penduduk Jawa, Madura dan baru kemudian meluas ke penduduk Hindia Belanda seluruhnya. Kemudian Boedi Oetomo dapat diterima di kalangan cendekiawan dan priyayi Jawa, sehingga ia bukan organisasi pelajar lagi. Pada akhirnya tahun 1909 Budi Oetomo telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota lebih kurang 10.000 orang.

Karena Boedi Oetomo tidak pernah mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politik kurang begitu penting. Namun suatu hal yang penting dari Boedi Oetomo adalah bahwa di dalam tubuhnya telah ada benih semangat nasional yang pertama dan karena itu ia dapat dipandang sebagai induk Pergerakan Nasional, yang kemudian muncul di dalam tubuh Sarekat Islam dan Indische Partij (Poesponegoro,

1993:183).

2)

2) Sarekat IslamSarekat Islam

Sarekat Islam semua bernama Sarekat Dagang Islam yang didirikan pada tahun 1911 di Solo oleh Haji Samanhudi. Latar belakang ekonomis organisasi ini adalah mengadakan perlawanan terhadap para pedagang Cina dan juga untuk menentang semua penghinaan terhadap rakyat Bumiputera. Sarekat Islam juga lahir untuk menentang politik kristenisasi dan melakukan perlawanan terhadap kecurangan para pejabat Eropa dan Bumiputra. Inti utama perlawanan Sarekat Islam juga ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan dan kesombongan rasial.

Gerakan Sarekat Islam ternyata bisa berhasil menembus sampai lapisan bawah masyarakat. Gerakannya secara berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan terhadap penindasan penjajah kepada pihak Indonesia. Sarekat Islam lebih revolusioner dalam melakukan

organisasi massa yang pertama di Indonesia yang antara tahun 1917 -1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam politik Indonesia. Tokoh-tokoh Penggerak Sarekat Islam yang terkenal adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Suryopranoto

3)

3) Indische Partij Indische Partij

Indische Partij didirikan pada tanggal 25 Desember 1912. Pendirinya adalah Douwes Dekker (seorang Indo) yang kemudian terkenal dengan namanya Danudirdja Setyabudhi. Tokoh terkenal Iridische Partij lainnya adalah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat.

Organisasi ini seratus persen bercorak politik dengan gagasannya yang revolusioner nasional. Gerakannya yang bersifat revolusioner yang menuju ke Indonesia merdeka ini banyak menarik massa.

Indische Partij berpijak pada asas nasionalisme yang mencita-citakan Indonesia merdeka. Faham nasionalismenya saat itu dikenal dengan istilah Indische Nationalisme. Oleh karena dasar perjuangannya yang tegas, Indische Partij dapat dikatakan sebagai partai politik yang pertama di Indonesia. Gerakan Indische Partij yang bersifat radikal mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk bersikap tegas terhadapnya. Gubernur Jenderal Belanda menolak memberi ijin badan

hukum bagi Indische Partij karena organisasi ini berdasarkan politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum. Indische Partij dianggap sebagai organisasi terlarang.

Karena tokoh-tokoh Indische Partij dianggap berbahaya oleh Belanda, maka mereka kemudian mendapat hukuman buangan. Pada bulan Agustus 1913 Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusunio, Suwardi Suryaningrat dibuang ke negeri Belanda. Kepergian ketiga tokoh tersebut menyebabkan kegiatan Indische Partij makin lama makin menurun. Indische Partij kemudian berganti nama menjadi Partai Insulinde, namun tetap tidak pernah mempunyai pengaruh lagi terhadap rakyat, sekalipun Douwes Dekker sudah kembali lagi pada tahun 1918.

4)

4) Gerakan PemudaGerakan Pemuda

Gerakan pemuda sebenarnya sudah mulai tanggal 20 Mei 1908 dengan mendirikan Boedi Oetomo, namun kemudian organisasi ini dalam perkembangannya lebih didominasi oleh golongan tua, sehingga para pemudanya banyak yang tidak puas dan keluar. Gerakan pemuda

yang sesungguhnya adalah Tri Koro Darmo yang didirikan di Jakarta pada tanggal 7 Maret 1915 oleh dr. R. Satiman Wiryosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Tri Koro Darmo berarti tiga tujuan mulia: sakti, budhi, bakti. Tujuan perkumpulan ini adalah mencapai Jawa Raya dengan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.

Perkumpulan ini mempunyai azas sebagai berikut.

a) Menimbulkan pertalian antara murid-murid Bumiputra pada sekolah menengah, dan kursus-kursus perguruan kejuruan dan sekolah rakyat.

b) Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.

c) Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan budaya Indonesia.

Pada Kongres di Solo ditetapkan bahwa mulai tanggal 12 Juni 1918 Tri Koro Darmo berganti nama menjadi Jong Java. Dalam anggaran dasarnya tahun 1920 ditetapkan bahwa Jong Java bertujuan mendidik para anggotanya supaya kelak dapat memberikan tenaganya untuk pembangunan Jawa Raya dengan jalan mempererat persatuan, menambah pengetahuan anggota serta berusaha menimbulkan cinta akan budaya sendiri. Gerakan Pemuda Indonesia tidak hanya ada di dalam

negeri saja, tetapi juga di luar negeri seperti Eropa dan negara-negara Arab.

Organisasi Pemuda Indonesia di luar negeri yang paling terkenal adalah Perhimpunan Indonesia yang berpusat di Belanda. Perhimpunan Indonesia ini mempunyai peranan dalam mendorong perjuangan bangsa dalam menyampaikan informasi ke dunia luar tentang perjuangan rakyat Indonesia. Perhimpunan Pemuda ini gerakannya ke arah politik terutama ketika dipimpin oleh Muhamad Hatta dan A. Subardjo.

5)

5) Partai Nasional I Partai Nasional Indonesiandonesia

Partai Nasional Indonesia (semula namanya Perserikatan Nasional Indonesia) didasari oleh gagasan nasionalisme modern yang gerakannya bercorak nasional murni dan bersifat radikal. PNI didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 atas inisiatif Ir. Sukarno dan kawan-kawan yang tergabung dalam Algemeene Studie Club.

azas percaya pada diri sendiri. Dengan azasnya ini PNI bersikap nonkooperatif, artinya tidak mau bekerja sama atau ikut serta dengan dewan-dewan bentukan Belanda. Dalam rapat-rapatnya PNI selalu mencita-citakan persatuan bangsa Indonesia. Cita-cita persatuan ini tercapai dalam rapat tanggal 17-18 Desember 1927 di Bandung yang dihadiri oleh PNI, Boedi Oetomo, Partai Sarekat Islam, Pasundan, Kaum Betawi, Soematranenbond, Indonesische Studieclub, dan Algeemene Studieclub. Rapat ini sepakat mendirikan suatu federasi yaitu Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Dalam Kongres PNI pertama 27-30 Mei di Surabaya Ir. Sukarno terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar PNI. Cita-cita PNI untuk menggalang persatuan bukan hanya mempengaruhi pikiran organisasi-organisasi politik lainnya, melainkan juga berpengaruh positif pada organisasi pemuda yang kemudian mengadakan Sumpah Pemuda, dan organisasi persatuan wanita yang kemudian membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia. Sikap PNI yang tegas dan nonkooperatif serta memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan dengan cepat dapat menarik massa. Pengaruh Ir. Sukarno sebagai pemimpin PNI dan pemimpin Indonesia telah meluas dan meresap di seluruh Indonesia dan

dalam seluruh lapisan masyarakat.

Kemajuan besar PNI dalam membawa rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan membuat pemerintah kolonial Belanda merasa cemas menghadapi PNI. Akhirnya pemerintah kolonial Belanda bertindak keras dengan menangkapi para tokoh dan anggota PNI pada tanggal 29 Desember 1929. Empat tokoh PNI yaitu Ir. Sukarno, Gatot Mangkoepradja, Markoen Soemardiredja, dan Supriadinata dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan kolonial pada tanggal 22 Desember 1930.

Dalam dokumen Modul Kajian IPS.pdf (Halaman 192-200)