• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Industri Rotan di Indonesia

3 METODE PENELITIAN

4.1 Perkembangan Industri Rotan di Indonesia

Sebagai negara penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia, produk jadi rotan Indonesia tidak menunjukkan tingkat ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Rotan merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang paling penting di dunia. Pada daerah Asia Tenggara, diperkirakan lebih dari lima juta orang yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam industri rotan. Perdagangan rotan mentah mencapai US $ 50 juta, namun pada saat produk telah sampai kepada konsumen, nilai melonjak menjadi sekitar US $ 1,2 miliar. Oleh karena itu, nilai tambah dalam perdagangan rotan banyak terjadi dalam fase pengolahan, produksi, distribusi dan pemasaran.

Pulau Jawa merupakan pusat industri hilir rotan, terutama furnitur dan barang anyaman, sementara pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatera merupakan pemasok bahan baku. Di Jawa, industri rotan sebagian besar berada di Jawa Barat, terutama di Kabupaten Cirebon dan Jawa Timur, terutama di sekitar Surabaya. Secara ringkas jumlah industri rotan yang berada di Indonesia disajikan pada Tabel 4. Pada Tabel 4 terlihat bahwa provinsi di pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, JawaTengah dan Jawa Timur mencapai 52 persen dari semua industri rotan yang ada di Indonesia. Untuk kapasitas produk setengah jadi, kapasitas industri pengolahan di Pulau Jawa mencapai 35 persen dan 78 persen untuk produk jadi (TREDA 2010).

Daerah-daerah penghasil bahan baku rotan antara lain: Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Rotan yang berasal dari Sumatera (Sumatera Barat dan Riau) umumnya mempunyai diameter yang besar. Yang termasuk jenis rotan yang berada di Sumatera antara lain Calamus manan. Dari 300 spesies dari tujuh genera yang terdapat di Indonesia, sekitar 100 spesies berada di Kalimantan. Namun demikian, hanya sembilan sampai sepuluh jenis yang termasuk jenis rotan komersial dan diperdagangkan secara luas di Kalimantan Timur, selain itu merupakan varietas non-komersial yang digunakan oleh penduduk asli. Jenis-jenis rotan yang mendominasi perdagangan adalah Calamus caesius, C. Manan, C. Trachycoleus, dan C. scipionum. Departemen Kehutanan memperkirakan hutan

Kalimantan bisa menghasilkan 11.650 ton rotan mentah setiap tahun (TREDA 2010).

Tabel 4 Distribusi industri rotan di 24 provinsi di Indonesia (tahun 2009)

No Provinsi Jumlah industri

Kapasitas Produksi (ton/tahun) Produk setengah jadi Produk jadi 1 Aceh 3 885 980 2 Sumatera Utara 14 14,171 14,054 3 Sumatera Barat 16 15,487 8,419 4 Riau 8 7,627 5,712 5 Jambi 2 3,160 - 6 Bengkulu 1 - 3,600 7 Sumatera Selatan 2 1,796 276 8 Lampung 4 780 1,008 9 DKI Jakarta 28 5,662 25,626 10 Jawa Barat 169 53,460 218,830 11 Jawa Tengah 7 2,580 22,668 12 DI Yogyakarta 2 - 1,280 13 Jawa Timur 96 155,064 148,497 14 Bali 1 - 23 15 Kalimantan Barat 7 33,610 8,208 16 Kalimantan Tengah 17 23,274 14,219 17 Kalimantan Selatan 55 31,985 29,627 18 Kalimantan Timur 8 5,142 2,163 19 Sulawesi Utara 24 51,251 2,540 20 Sulawesi Tengah 54 112,495 15,352 21 Sulawesi Selatan 30 46,341 10,186 22 Sulawesi Tenggara 27 50,648 90 23 Nusa Tenggara Barat 8 4,220 - 24 Maluku 1 - 300

Total 584 619,637 533,658

Sumber: TREDA, 2010

Sulawesi merupakan sumber penting bahan baku rotan. Di antara enam provinsi yang berada di Sulawesi, Sulawesi Tengah merupakan penghasil rotan liar. Rotan liar mencakup sekitar lima juta ha kawasan hutan, atau sekitar 57,5% dari total luas provinsi tersebut, selain itu, Makassar merupakan pusat perdagangan penting dari rotan. Dari sini rotan mentah material dapat diekspor atau diperdagangkan ke Pulau Jawa.

Daerah-daerah pengolah rotan antara lain: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sentra industri rotan di Jawa Barat terletak di Kabupaten Cirebon. Terdapat sebanyak 169 industri di daerah ini, baik industri besar maupun industri

kecil dan menengah. Keunikan dari sentra industri rotan di Cirebon yaitu terjadinya kerjasama yang baik antara industri besar dan industri kecil rotan, yaitu terdapat kemitraan antara industri rotan dengan pengrajin rotan di sekitar pabrik atau dikenal dengan istilah pengesub. Hal tersebut menjadi keunggulan kompetitif Cirebon pada bidang industri furnitur. Umumnya pemasaran produk dari Cirebon adalah benua Eropa.

Sebagian besar industri rotan di daerah Jawa Tengah merupakan penghasil kerajinan. Walaupun sebagian besar furnitur yang berasal dari Jawa Tengah menggunakan kayu sebagai bahan bakunya, namun dengan adanya penggunaan rotan sebagai kombinasi dapat menghasilkan produk yang berbeda.

Umumnya bahan baku rotan yang berasal dari Pulau Kalimantan dan Sulawesi masuk ke Pulau Jawa melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur. Industri rotan di Jawa Timur didominasi oleh pabrik-pabrik besar yang memproduksi furnitur untuk pasar AS. Sentra rotan di Jawa Timur yaitu daerah Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Gresik.

4.1.1 Awal perkembangan industri rotan indonesia

Dari hasil wawancara dengan pihak AMKRI (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia) diketahui bahwa perkembangan industri furnitur rotan Indonesia, khususnya di daerah Cirebon dimulai pada tahun 1970. Perkembangan tersebut dimulai dengan dibukanya industri berbasis kerajinan rotan di kabupaten Cirebon, khususnya daerah Tegal wangi dan sekitarnya.

4.1.2 Kejayaan industri rotan

Dari hasil wawancara dengan pihak AMKRI diketahui bahwa puncak kejayaan dari industri rotan adalah pada tahun 1995 dimana ekspor rotan Indonesia mencapai 100 kontainer per bulan. Namun masa kejayaan tersebut hanya berlangsung sekitar 5 tahun. Pada tahun selanjutnya kejayaan industri rotan mulai berkurang.

4.1.3 Kemunduran industri rotan

Berdasarkan hasil wawancara dengan AMKRI industri rotan saat ini mengalami kemunduran. Banyak kalangan yang menyalahkan mengenai kebijakan pemerintah mengenai kebebasan untuk mengekspor rotan asalan. Banyaknya illegal trading menyebabkan bahan baku rotan yang berasal dari

Kalimantan dan Sulawesi langsung diekspor ke China. Di Indonesia terdapat asosiasi yang bergerak pada bidang kerajinan produk jadi rotan yaitu ASMINDO (Asosiasi Kerajinan Indonesia) dan AMKRI (Asosiasi Kerajinan dan Mebel Rotan Indonesia)

Dalam pengembangkan industri produk jadi rotan di Indonesia didukung dengan Keputusan Menteri Perdagangan No. 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang larangan ekspor bahan baku rotan. Dengan ditutupnya ekspor bahan baku rotan secara tidak langsung industri pengolahan rotan dalam negeri harus mampu untuk meningkatkan desain produknya agar dapat bersaing dengan negara lain. Namun demikian perkembangan industri harus melihat situasi yang ada. Karena mulai banyaknya pesaing lain yang juga menghasilkan produk furnitur rotan, seperti Vietnam dan China.

Dokumen terkait