BAB II TINJAUAN TEORETIS
B. Perkembangan Leksikografi Arab
5. Urutan Huruf Arab Berdasarkan
Makh
ārij al-Hur
ūf (kolom delapan-sepuluh dari kanan)
Al-Khalil bin Ahmad al-Farāhīdī adalah seorang pakar bahasa Arab yang tiada samanya di masanya. Berbagai hasil karya dan gagasan lahir dari hasil pemikirannya. Diantara gagasan yang lahir dari pemikiran beliau adalah urutan huruf Arab berdasarkan
Makh
ārij al-Hur
ūf
. Beliau mengurutkanannya sebagai berikut:‘Ain, Ha’, Ha, Kha, Gain,Qaf, Kaf, Jim, Syin,
ḍa,
Ṣa, Sin, Zai,
Ṭa, Ta, Da,
Ża,
Ẓa,
Ṡa, Ra, Lam, Nun, Fa, Ba, Mim, Hamzah/Ya, Wau
danAlif
.Sedangkan murid al-Khalīl bernama Sibawaih memiliki urutan yang berbeda dengan gurunya. Bila Sang Guru mengakhirkan huruf
alif
, sang murid justru mengedepankannya, bersanding dengan hurufhamzah
dan membelakangkan hurufwau
. Dapat dilihat pada tabel kolom 9 (sembilan).Lain halnya dengan dua pakar bahasa Arab di atas, ‘Alī al-Qālī dalam mengurutkan
makh
ārij al hur
ūf
mendahulukan huruf ha’(ــﻫ
) dan mengakhirkan dengan hurufya’
atauhamzah
. Dapat dilihat pada tabel kolom 9 (sembilan).6. Urutan Huruf Arab di Wilayah Andalus
(kolom sebelas dari kanan)
Urutan huruf Arab yang tersebar di wilayah Andalus kala itu berbeda dengan urutan huruf hijaiyyah hasil kodifikasi Naṣr bin ‘Āṣim. Hanya huruf pertama (huruf
alif
) sampai huruf kesebelas “Zai” (ز
) yang sama urutannya, selebihnya berbeda. Dapat dilihat pada kolom kesebelas.B.
Perkembangan Leksikografi Arab
mengajarkan gaya menulis atau berbicara benar dan memahami isi atau arti dari pernyataan secara benar adalah universal. Dalam kasus bahasa Arab mempunyai kata yang berlainan untuk setiap subdivisi atau nuansa artinya dan untuk setiap anggota kelas yang dikonotasikan kata. Rambut pada setiap bagian kepala, setiap kekurangan pada mata manusia, masing-masing mempunyai nama sendiri. Setiap tindakan punya ragam sederajat intensitas dan kualifikasi yang berbeda, yang masing-masing memiliki kata berbeda untuk menunjukkannya. Melihat, duduk, berdiri, berjalan, makan, minum masing-masing memiliki lusinan kata yang merujuk pada tindakan serupa yang secara umum dimaksudkan oleh kata-kata ini.24
Selain kebutuhan terhadap kodifikasi bahasa dalam bentuk tulisan di kalangan bangsa Arab, karakter bahasa Arab yang memiliki kekayaan kosakata dan aspek kesamaan makna dalam beberapa kata, merupakan faktor pendukung yang memudahkan bangsa Arab untuk menyusun kamus.
Dalam pandangan Abed al-Jabiri, aktivitas kodifikasi bahasa bukan sekedar pembukuan dalam arti pencatatan. Kodifikasi merupakan peralihan dari bahasa Arab yang tidak ilmiah kepada bahasa ilmiah. Pengumpulan kosakata bahasa dan penetapan cara-cara derivasi dan morfologinya, penetapan kaidah-kaidah struktur serta pemilihan tanda-tanda untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam penulisannya, semua itu tidak hanya disebut penciptaan ilmu baru, yakni ilmu bahasa Arab tetapi juga penciptaan bahasa baru yakni bahasa Arab
fu
ṣh
ā.25Proses kodifikasi, pada akhirnya merubah bahasa Arab dari semula yang tidak ilmiah (tidak bisa dipelajari secara ilmiah) menjadi bahasa ilmiah, bahasa
24H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 184-185.
25H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h.186. Lihat juga Muhammad Abed al-Jabiri, Formasi Nalar Arab, diterjemahkan oleh Imam Khoiri (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), h.131.
yang tunduk kepada sistem yang juga diikuti oleh obyek ilmiahnya. Proses pengumpulan dan kodifikasi bahasa bertolak dari kekhawatiran terjadinya kerusakan bahasa karena menyebarnya dialek yang menyimpang (
lahn
) dalam masyarakat di mana orang Arab sebagai kelompok minoritas. Karena terjadinyalahn
yang disebabkan oleh terjadinya percampuran antara orang Arab dan non-Arab (maw
āli
) di kota-kota besar semisal Irak-Syam, maka wajar jika bahasa Arab yang dipandang valid (al-lugah al-
ṣah
īhah
) dicari dari orang-orang Arab Badui khususnya dari kabilah-kabilah yang masih terisolir dan masyarakatnya masih memelihara instink dan kemurnian pelafalannya. Karena itu, para leksikolog lebih mengarahkan periwayatan bahasa kepada orang Badui.26Bahasa Arab Badui yang dijadikan standar para leksikolog Arab di era kodifikasi, menjadikan bahasa Arab tidak mengandung kata-kata dan konsep-konsep baru yang ada dalam al-Qur’an dan hadis yang populer dalam masyarakat Mekkah dan Madinah, khususnya kata-kata kebudayaan. Maka bahasa Arab, bahasa kamus dan Nahwu, jauh lebih sempit dan kaku dibanding bahasa al-Qur’an dan konsekuensinya kurang berperadaban dibanding bahasa al-al-Qur’an.
Inilah yang menjadikan al-Qur’an senantiasa lebih luas dan kaya, dan menjadikan bahasa Arab yang dikodifikasi pada era kodifikasi tetap tidak mampu menyerap bahasa lain.27
Walaupun demikian realitas bahasa Arab, tetapi bahasa Arab sebagai bahasa wahyu, tercatat sebagai bahasa pertama yang dipelajari secara ilmiah. Itu terjadi karena desakan berjuta orang Islam baru yang ingin memahami wahyu yang mereka yakini sebagai pesan Ilahi. Tuntutan untuk mengajar bahasa Arab kepada orang muslim yang tidak berbahasa Arab turut melahirkan ilmu bahasa,
26H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 186-187.
27H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 190.
yaitu tata bahasa, otografi, sintaksis, leksikologi, linguistik dan puisi. Orang pertama yang melakukan tugas peletakan tata bahasa Arab dalam bentuk sistematis adalah Abū al-As’ad al-Dualī (69 H/689 M). Dia adalah seorang
t
ābi’in
(generasi kedua muslim) dan pernah menyertai Alī bin Abī Ṭālib, khalifah keempat, dalam perang Shiffin. Abū al-As’ad al-Dualī juga bertanggung jawab merancang tanda-tanda vokalisasi, yang ditentukan oleh status tata bahasa kata-kata dan membentuk indeks status itu.28Guru bahasa Arab dan leksikolog paling awal dan mungkin terbesar adalah Khalīl bin Ahmad al-Farāhīdī, guru Sibawaih. Khalīl adalah ahli tata bahasa terbesar dan ahli sastra abad kedua hijriyah. Dia menemukan, membuat teori, dan menetapkan mode ritmis puisi Arab dan menamainya. Kamusnya,
al-‘Ain, kamus pertama kata Arab dan kitab tata bahasa (sintaksis) dia mensurvei serta menemukan kata-kata dalam bahasa Arab serta menemukan 1.235.412 kata.
Abu Bakar al-Zabidi (379 H/ 989 M), yang meringkas maha karya Khalīl, menyensus bahasa ini dan menyusunnya seperti pada tabel berikut ini:29
Jumlah Kata Bentuk Akar Dipakai Diabaikan
750 2 huruf 589 161
19.650 3 huruf 4.269 15.381
33.400 4 huruf 2.820 30.580
6.375.600 6.429.400
5 huruf 42 7.720
6.375.680 6.421.680
28H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 190-191.
29H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 192-193.
Berbicara mengenai ilmu leksikologi, tidak bisa terlepas dari ilmu semantik yang dikenal dengan istilah
‘ilm al-Dil
ālah
(ilmu tentang makna).Leksikologi juga dianggap sebagai cabang dari ilmu Semantik dan ilmu Mufradat (ilmu kosakata) sebab substansi daripada leksikologi merupakan kelanjutan pembahasan dan penelitian yang berorientasi pada kosakata bahasa. Hal itu dikarenakan fokus kajian dari leksikologi juga mengarah pada pembahasan seputar pengertian makna dan kata, perkembangan, perubahan serta makna kata.
Sebagaimana telah ditegaskan bahwa leksikologi merupakan ilmu linguistik murni dan leksikografi adalah ilmu linguistik terapan. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebab leksikologi tanpa leksikografi (seni leksikografi), leksikologi tentu hanya berpusat pada kajian teoretis dan perdebatan makna saja.
Sementara dengan adanya seni leksikografi, merupakan mediator dan penghubung dari studi ini untuk menjadi kajian studi terapan yang akan menjadi konstruktor bagi pengembangan kajian linguistik agar lebih meluas yang tidak hanya secara teoretis tetapi juga sebagai kajian praktis. Perpaduan dari keduanya merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa suatu bidang studi dituntut untuk dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat luas, sehingga leksikologi tidak hanya diklaim sebagai studi yang hanya mampu berkutat pada kajian teori tentang kata, bahasa dan makna semata tetapi lebih dari itu.
leksikografi dapat menjadi acuan untuk menghasilkan berbagai kamus yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tentunya berkualitas baik dari segi sistematika maupun metode penyusunan yang selalu berpedoman pada studi leksikografi.
C. Jenis dan Fungsi Mu’jam