BAB IV KEBANGKITAN NASIONAL
C. Perkembangan Pendidikan Barat dan Pendidikan Islam
73
Bab IV Kebangkitan Nasional
Selain sekolah pamongpraja, terdapat sekolah lain yaitu sekolah dokter Jawa atau
School tot Opieiding van Inlandische Arisen (STOVIA) yang diperuntukkan bagi pribumi untuk menjadi dokter. Kemudian pemerintah kolonial juga mendirikan sekolah guru atau
kweekschool yang bertujuan mendidik kaum pribumi untuk menjadi guru yang berpendidikan Belanda.
Pemerintah kolonial juga melakukan penataan ulang sekolah untuk tingkat dasar dan menengah yang mulai di buka sejak 1892-1893. Sekolah tersebut dibagi menjadi dua, yaitu:
1) sekolah kelas satu (eerste klasse) dibuka untuk anak-anak priyayi atau keturunan bangsawan pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda;
2) sekolah kelas dua atau (tweede klasse) adalah sekolah untuk rakyat biasa dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah atau bahasa Melayu dan tanpa pelajaran bahasa Belanda.
Sekolah kelas satu diubah pada 1914 menjadi Holandsch-Indische Scholen (HIS). Sekolah ini merupakan sekolah Belanda-pribumi yang setingkat Sekolah Dasar dengan sistem pendidikan model Eropa. Lulusan dari sekolah itu dapat meneruskan ke jenjang SLTP yang disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang sudah didirikan pada 1914. Sekolah ini didirikan hanya untuk kalangan priyayi atau bangsawan. Lulusan dari MULO dapat meneruskan ke Algemeene Middlebare School (AMS) setingkat SMU yang sudah didirikan pada 1919. Sekolah ini menyiapkan para siswa untuk memasuki perguruan tinggi di Negeri Belanda.
Jumlah penduduk pribumi yang memasuki sekolah Belanda atau sekolah priyayi hanya sedikit sekali. Hal ini disebabkan pemerintah kolonial membatasi kesempatan tersebut yang didasarkan atas kedudukan ekonomi keluarga serta asal-usul keturunan. Hanya anak kaum priyayi atau bangsawan yang diberi kesempatan untuk masuk ke sekolah HIS, MULO, atau AMS. Oleh karena itu, pada 1905 hanya terdapat 36 orang Indonesia yang dapat meneruskan sekolah ke universitas di Negeri Belanda. Salah seorang Indonesia yang memperoleh gelar doktor (S-3) dari universitas di negeri Belanda adalah Husein Djajadiningrat, seorang keluarga Bupati di Jawa Barat. la menulis disertasi berjudul
Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten (Cristische Beschouwing van de Sedjarah Banten) dan menyelesaikan doktornya dari Universitas Leiden pada 1913.
Dalam perkembanganya, tepatnya pada 1920, pemerintah kolonial Belanda mulai menghapuskan diskriminasi dalam sistem pendidikan. Semua penduduk pribumi diperbolehkan memasuki sekolah apa saja, asal memiliki uang untuk membayar biayanya. Pada 1920, dibuka Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) yang kelak menjadi ITB di Bandung. Pada l924, dibuka Rechtskundige Hooge School (Sekolah Hakim Tinggi) di Batavia (Jakarta) dan tahun 1927, STOVIA diubah menjadi Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran). Semua sekolah tersebut terbuka untuk semua golongan.
Penghapusan perbedaan ras atau asal-usul keturunan terlihat dalam pembukaan sekolah-sekolah di desa (desascholen atau volksscholen). Sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah tersebut dibiayai oleh penduduk dengan bantuan pemerintah kolonial. Jumlah peminatnya cukup tinggi dan tersebar di berbagai desa. Pada 1912, telah berdiri sejumlah 2500 sekolah desa dan pada 1930 meningkat menjadi 9600 sekolah. Lebih dari 40 persen anak-anak pribumi usia SD memasuki sekolah desa dan sebagian di antaranya masuk ke sekolah sambungan (Schakelschool) sebelum memasuki HIS atau MULO.
Di samping pendidikan umum, politik etis juga mendorong lahirnya pendidikan keterampilan. Pendidikan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi keperluan kedinasan yang semakin bertambah. Sekolah-sekolah kejuruan yang didirikan meliputi sekolah teknik, pertanian, perternakan, kehutanan, perdagangan, hukum, dan guru. Kebijakan politik etis berpengaruh luas terhadap peningkatan pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini tampak dari lahirnya banyak sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah kolonial, sekolah-sekolah Islam yang dikelola pesantren, misi-misi Kristen, serta pendidikan perempuan, seperti R.A. Kartini di Jawa Tengah dan Raden Dewi Sartika di Jawa Barat, serta sekolah-sekolah perempuan lainnya di berbagai daerah.
Perkembangan sampai 1900, jumlah orang Indonesia yang memasuki sekolah formal berjumlah 265.940 siswa dan tiga puluh tahun kemudian jumlah itu meningkat lagi menjadi 1,7 juta penduduk. Adapun yang dapat bersekolah di sekolah Belanda mulai dari HIS, MULO, AMS, yaitu 84.609. Sebagian kecil dari lulusan AMS atau sejumlah 178 orang menjadi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Jumlah kelompok terdidik itulah yang kelak menjadi kelompok masyarakat yang pertama menyadari bahwa penjajahan Belanda harus diakhiri. Mereka juga menginginkan agar mendirikan negara merdeka dengan pemerintahan sendiri. Hal ini menjadi tujuan utama perjuangan mereka.
Selain pendidikan yang dimotori oleh pemerintah kolonial, peran pendidikan Islam dalam melahirkan nasionalisme juga sangat penting. Golongan terpelajar Islam lahir karena pendidikan pesantren. Pendidikan ini memiliki tradisi yang panjang dan bahkan lahir sebelum pemerintah kolonial Belanda menyelenggarakan pendidikan Barat. Sebagian penduduk Indonesia yang mulai menyadari bahwa pendidikan itu adalah penting mulai menyekolahkan anak- anaknya ke pesantren. Dengan bekal pendidikan agama serta pendidikan umum, banyak di antara alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat.
Banyak di antara lulusan pesantren yang mampu melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Setelah melalui perjalanan panjang dari tempat asal mereka ke Mekkah dan lamanya tinggal di negeri Arab, banyak jemaah haji Indonesia yang bergaul dengan umat Islam dari seluruh dunia. Melalui pergaulan dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman itu, pandangan jemaah haji Indonesia tentang dirinya, agama yang dianut serta keadaan negaranya semakin terbuka. Mereka juga mulai menyadari bahwa penjajahan Belanda sangat merugikan mereka dan kepentingan umat Islam. Kesadaran tersebut kemudian disebarkan ke lingkungan pesantren mereka setelah tiba di tanah air.
75
Bab IV Kebangkitan Nasional
Adanya pendidikan Islam serta banyaknya umat Islam yang melaksanakan ibadah haji pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, lahir pula kelompok umat Islam Indonesia yang berpandangan modern. Mereka disebut sebagai golongan Islam modernis. Kelompok ini menyadari bahwa sebagian besar orang Indonesia adalah sangat miskin dan terbelakang. Mereka menghendaki bahwa untuk mengatasi hal itu diperlukan perjuangan di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, dan politik.
Dalam bidang pendidikan, sebagian kaum Islam modernis juga menghendaki didirikannya pendidikan Islam yang modern, baik berbentuk pesantren maupun pendidikan umum. Organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah dan lainnya merupakan organisasi yang menyadari betapa pentingnya aspek pendidikan untuk meningkatkan harkat dan derajat warga pribumi yang masih dijajah.
Politik etis (politik balas budi) muncul pada tahun 1890 atas desakan golongan liberal dalam parlemen Belanda. Mereka yang berhaluan progresif tersebut memberikan usulan agar pemerintah Belanda memberikan perhatian kepada masyarakat Indonesia yang telah bersusah payah mengisi keuangan negara Belanda melalui program tanam paksa. Desakan ini muncul dari pemikiran bahwa negeri Belanda telah berutang banyak atas kekayaan bangsa Indonesia yang dinikmati oleh masyarakat Belanda.
Gagasan politik etis muncul dari Conraad Theodore van Deventer melalui tulisannya di majalah De Gids pada tahun 1899, dengan judul Een Eereschuld (Suatu Utang Budi). Dalam tulisan tersebut, van Deventer memberikan usulan agar pemerintah Belanda melaksanakan program yang bertujuan untuk membalas budi bangsa Indonesia. Program tersebut dikenal dengan istilah trilogi van Deventer, yang berisi :Penyebaran Berita Proklamasi 1. Edukasi (Pendidikan)
2. Irigasi (Pengairan)
3. Imigrasi (Perpindahan penduduk)
Meskipun pemerintah Belanda telah menjalankan politik etis, tetap saja bangsa Indonesia belum mengalami perubahan yang berarti. Politik etis hanya menguntungkan Belanda, karena program pendidikan, pengairan dan perpindahan penduduk yang dicanangkan melalui politik etis dilaksanakan seluruhnya untuk memberikan keuntungan bagi pemerintah Belanda. Namun di sisi lain, tanpa di sadari oleh Belanda, politik etis ternyata telah melahirkan golongan terpelajar dari kalangan bangsa Indonesia, mereka inilah yang nantinya akan menggerakkan masyarakat untuk melawan Belanda melalui organisasi pergerakan nasional. Golongan terpelajar ini menyadari bahwa hanya dengan kemerdekaanlah bangsa Indonesia akan maju, sejahtera dan sejajar dengan bangsa lainnya di dunia.