KONTRIBUSI KEBERADAAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN (IKIP) GUNUNGSITOLI TAHUN 1965-1990
5.1 Terhadap perkembangan pendidikan
Pendirian IKIP Gunungsitoli menjadi salah satu tonggak sejarah perkembangan pendidikan di Nias. IKIP Gunungsitoli merupakan perguruan tinggi pertama yang didirikan di Nias. Pulau Nias sebagai pulau yang terisolir baik secara geografis, pengetahuan dan pendidikan yang telah lama menjadi permasalahan masyarakat.
Kemudian masalah keterisolasian dalam bidang ilmu pengetahuan dapat ditanggulangi dengan hadirnya IKIP Gunungsitoli. Sebelum kehadirannya, masalah pokok utama masyarakat dalam pendidikan adalah ketidakmampuan masyarakat dalam melanjutkan pendidikan. Masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan harus keluar daerah yang membutuhkan biaya yang besar sehingga tidak jarang masyarakat tidak mampu dalam hal biaya untuk mendukung anaknya melanjutkan pendidikannya. Hal ini mengakibatkan rata-rata pendidikan di Kepulauan Nias sangat tertinggal. Oleh karena itu, kehadiran IKIP Gunungsitoli memberi kontribusi tehadap perkembangan pendidikan di Nias, IKIP Gunungsitoli telah membawa dampak positif yaitu kemudahan akses ke dunia pendidikan dan menghasilkan lulusan profesi guru.
85 a. Kemudahan akses pendidikan
Seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya bahwa Pulau Nias adalah pulau yang terisolir baik secara geografis, budaya dan pengetahuan. Kehadiran IKIP Gunungsitoli sebagai perguruan tinggi pertama membawa dukungan terhadap perkembangan pendidikan yang berada dalam keterisolasian. Kehadiran fasilitas pendidikan yang sangat diperlukan ini membawa pengaruh terhadap kemudahan akses ke dunia pendidikan. Masyarakat Nias bukannya tidak peduli terhadap pendidikan namun hanya saja belum memiliki motivasi yang kuat. Sebelum adanya IKIP pendidikan dapat diraih dengan keluar dari daerah, biasanya mereka yang memiliki perekonomian yang baik akan berusaha meraih pendidikan setinggi-tingginya. Hal inilah yang membuktikan masyarakat Nias bukanlah masyarakat yang primitif, yang tidak ingin membuka diri terhadap perkembangan, namun hal itu terhalang oleh perekonmian masyarakat yang buruk.77
Faktor utama penghalang masyarakat berpendidikan adalah masalah ekonomi.
Sebelum kehadiran IKIP Gunungsitoli, menyebabkan minimnya jumlah masyarakat yang berpendidikan tinggi. Minimnya kuantitas ini berimplikasi pada motivasi masyarakat. Masyarakat belum melihat adanya perubahan yang signifikan dalam daerah dari dampak adanya pendidikan. Contohnya dalam sebuah desa karena belum adanya sarjana tidak terlihat ada perubahan baik secara pola pikir maupun pekerjaan.
Mayoritas mereka bekerja sebagai petani dan berkebun, pekerjaan-pekerjaan ini
77Wawancara; Kharisman Halawa Kecamatan Gido pada tanggal 11 November 2020
86 mereka lihat tidak memperlukan keahlian akademik, jadi mereka beranggapan bahwa sekolah atau berpendidikan itu tidak penting karna ujung-ujungnya jika bekerja sebagai petani, tidak memerlukan keahlian akademik yang diajarkan disekolah maka cukup bisa membaca dan menulis saja.78
Setelah kehadiran IKIP Gunungsitoli masyarakat terbantu dalam meraih pendidikan karena biaya yang lebih murah. Masyarakat yang ingin berpendidikan sampai jenjang perguruan tinggi dapat melanjutkannya di dalam daerah yang tentu saja mengeluarkan biaya yang minim dari pada keluar kota. Perbedaan kuliah di dalam dan diluar daerah dapat dilihat dari pengeluaran, misalnya di dalam daerah masyarakat dapat kuliah sembari bekerja membantu pertanian/perkebunan orang tua sedangkan jikalau diluar daerah masyarakat masih belum terbiasa dengan kehidupan diluar daerah mungkin membutuhkan 1-2 tahun untuk beradaptasi, jadi tidak memungkinkan untuk langsung bekerja di kota. Contoh lainnya adalah pengeluaran untuk tempat tinggal dan makan. Jikalau dalam daerah masyarakat dapat tinggal bersama orangtua atau family sedangkan diluar harus menyewa tempat tinggal dan belum lagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Keuntungan lainnya jika kuliah didalam daerah adalah dapat kontrol dari orangtua, hal ini berlaku mayoritas bagi perempuan tapi tidak tertutup kemungkinan untuk laki-laki. Masyarakat cenderung takut putrinya keluar dari kontrol orangtua bukan karna tidak percaya terhadap
78Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias pada tanggal 26 Oktober 2020
87 putrinya namun karna pemikiran yang salah tentang lingkungan perkotaan yang sarat akan pelanggaran norma-norma.79 Pemikiran yang salah ini hadir karena terisolirnya informasi tentang dunia luar. Kehadiran IKIP Gunungsitoli sebagai sarana pendidikan dalam daerah dapat menanggulangi masalah-masalah diatas.
Setelah masyarakat terbantu terkait masalah biaya maka selanjutnya hadirlah lulusan dari IKIP Gunungsitoli. Sarjana desa ini kemudian memperlihatlkan dampaknya dalam desanya seperti mendapat pekerjaan lebih baik (PNS), sehingga hal ini membawa motivasi yang baik kepada masyarakat untuk melihat pentingnya pendidikan. Maka dapat disimpulkan kehadiran IKIP membawa pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan di Nias yaitu memudahkan akses menempuh pendidikan.
b. Menghasilkan lulusan profesi guru
Pada periode ini seseorang dapat menjadi guru yang lebih profesional karena telah menempuh pendidikan perguruan tinggi. Mereka telah menyelesaikan pendidikan di SPG, IKIP dan Universitas. Namun masih banyak masyarakat memandang rendahnya kinerja guru. Rendahnya kinerja guru terlihat dalam dua aspek yaitu pada aspek akademis dan aspek pedagonis.80 Yang dipandang sebagai aspek akademik ialah penguasaan materi pelajaran, sedangkan yang dipandang aspek
79Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias pada tanggal 26 Oktober 2020
80Mochtar Buchori, Evaluasi Pendidikan di Indonesia Dari Kweekschool Sampai Ke IKIP 1825-1998. Yogyakarta: INSISTPress, 2007 hal. 157
88 pedagonis adalah kemampuan guru untuk membina suasana yang baik di dalam kelas.
Dalam aspek akademis masyarakat meyakini bahwa hal ini terjadi karna IKIP yang ada selama ini dinilai terlalu menekankan aspek keguruan dan ilmu pendidikan, sampai-sampai melupakan kemampuan calon guru terhadap materi yang diajarkan, IKIP hanya mengajarkan cara/bagaimana mengajar, tetapi lupa mengajarkan apa yang harusnya diajarkan. Persepsi tersebut merupakan persepsi tentang IKIP secara keseluruhan atau nasional. Di IKIP Gunungsitoli anggapan tersebut tidak jauh beda anggapan masyarakat Nias yang intelektual, namun ada perbedaan mendasar IKIP secara nasional dengan IKIP Gunungsitoli yaitu kebutuhan. Misalnya di perkotaan lulusan IKIP yang mengajar di Sekolah Dasar kelas 1 sudah dapat masuk ke dalam pembahasan ajaran ejaan karna anak didiknya sudah menempuh jalur Taman Kanak-kanak (TK) atau les privat sebelumnya yang telah diajari huruf alphabet, sedangkan di kepulauan Nias guru SD kelas 1 harus memulai dari awal yaitu mengajar huruf alfabeth terlebih dahulu, sebelum masuk kedalam ajaran ejaan. Hal inilah yang membedakan IKIP Gunungsitoli dengan IKIP lain, kualitas yang diharapkan masyarakat terhadap IKIP lain lebih tinggi dari rata-rata yang dibutuhkan masyarakat Nias. Jadi anggapan masyarakat terhadap IKIP lain berbeda dengan anggapan masyarakat terhadap IKIP Gunungsitoli. Namun, kelemahan guru-guru di Nias terlihat dari aspek pedagonis. Guru datang ke sekolah hanya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai guru yaitu mengajar, tanpa mengetahui fungsinya bagi anak didiknya dimasa depan. Kurangnya pendekatan yang membuat siswa dan guru sama-sama fokus pada kewajibannya saat itu juga. Hal ini membuat anak didik kurang
89 percaya diri dan mudah menyerah. Maka, pada periode ini kuantitas anak didik hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sekolah dasar. Selain dari masalah biaya, faktor lainnya adalah kurangnya motivasi. Kekurangan ini akibat dari tidak adanya sarana untuk memperoleh motivasi yang seharusnya dapat diberikan oleh guru sekolah.
Guru sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat itu, terlepas baik tidaknya kualitas yang di dimiliki guru tersebut. Minimnya jumlah guru dan minimnya pendidikan masyarakat membuat guru menjadi kebutuhan utama bagi pendidikan di Nias. Minimnya jumlah guru yang lulus dari perguran tinggi membuat masyarakat beranggapan setidaknya guru lulusan dari IKIP Gunungsitoli memilkik potensi yang baik dibanding guru lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG). Minimnya pendidikan masyarakat juga mempengaruhi persepsi tentang kebutuhnya guru. Orangtua yang tidak menempuh dunia pendidikan akan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya pada sekolah. Karna mereka tidak mengerti bagaimana dunia pendidikan tersebut, mereka hanya melihat bahwa ada perbedaan antara mereka dengan anaknya yang sekolah walaupun perbedaan itu hanya terlihat pada segi dapat membaca dan menghitung.
Setelah adanya lulusan-lusan guru dari IKIP Gunungsitoli yang membutuhkan lapangan kerja yang baru sehingga memperlebar berdirinya sekolah-sekolah baru.
Sehingga anak-anak mendapatkan kemudahan akses ke dunia pendidikan dikarenakan sekolah-sekolah baru yang baru berdiri. Kehadiran guru membawa pengaruh besar
90 terhadap pembangunan pendidikan yaitu dengan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan memiliki empat pilar utama yaitu belajar untuk belajar (learning how to learning), belajar untuk mengetahui (learning how to know), belajar untuk menjadi (learning how to be), dan belajar hidup untuk orang lain (learning how to live together).81 Ke empat pilar ini akan terlaksana jika adanya pelaksana, salah satu pelaksananya adalah guru. Begitu hal nya dengan guru-guru di Nias, yang tentu memberikan dampak pada kecerdasan anak didiknya. Jadi kehadiran IKIP Gunungsitoli yang menghasilkan lulusan-lulusan guru yang berdampak pada kemajuan dunia pendidikan, terutama pada perkembangan kecerdasan putra-putri Nias.