PERKEMBANGAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN (IKIP) GUNUNGSITOLI TAHUN 1965-1990
4.1 Sarana dan Prasarana .1 Bangunan
4.1.2.4 Perlengkapan kelas
Pada bangunan awal setiap kelas memilki meja, kursi, papan tulis dan lemari dengan status pinjaman. Kemudian pada bangunan baru meja, kursi, papan tulis yang digunakan adalah milik yayasan. Pengadaan fasilitas kelas ini bersumber dari dana yayasan dan juga bantuan pemerintah. Meja dan kursi terbuat dari bahan kayu yang diperoleh dari masyarakat pengrajin kayu di Kota Gunungsitoli.
63 Proses belajar mengajar pada saat itu tergolong masih sederhana, penggunaan kapur dan papan tulis hitam yang biasanya digunakan di sekolah-sekolah dasar dan menengah masih digunakan di IKIP Gunungsitoli.63 Fasilitas yang digunakan cukup modern di IKIP Gunungsitoli adalah mesin tik, mesin stensil dan mesin OHP (Over Head Projektor). Mesin tik digunakan oleh para pegawai sebagai media mencetak surat untuk kepentingan instansi, begitu juga dengan mesin stensil yang merupakan mesin untuk mencetak surat-surat atau kertas ujian. Sedangkan mesin OHP digunakan sebagai proyektor untuk persentasi dosen dan mahasiswa dan juga digunakan saat keperluan keperluan rapat. Mesin ini dimiliki oleh IKIP Gunungsitoli sebanyak 5 buah mesin tik, 1 buah mesin stensil dan 1 buah mesin OHP. Mesin-mesin modern ini digunakan secara bergantian, misalnya OHP digunakan oleh mahasiswa saat dibutuhkan dengan mengambil ke bagian tata usaha. Mesin ini disimpan di tata usaha untuk mencegah adanya perusakan dari mahasiswa. Jika dibutuhkan oleh mahasiswa maka dapat diambil oleh perwakilan kelas ke bagian tata usaha, tidak ada persyaratan khusus untuk dapat menggunakan mesin ini. Semua mahasiswa diseluruh jurusan dapat menggunakannya. Mesin ini disediakan oleh kampus diambil dari anggaran pihak yayasan.
63Wawancara; Hadratwati Waruwu, Kota Gunungsitoli pada tanggal 10 November 2020
64 4.1.2.5 Fasilitas lain
Fasilitas lain yang dimaksud adalah fasilitas yang tersedia yang menunjang kegiatan di IKIP Gunungsitoli namun dana dan fasilitasnya tidak disediakan oleh pihak yayasan ataupun tidak berada dalam kompleks yayasan. Fasilitas ini seperti:
• Indekos
Indekos dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai tinggal dirumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan). Mahasiswa yang belajar di IKIP Gunungsitoli bukan saja dari Kota Gunungsitoli namun juga berasal dari perkampungan-perkampungan dari Kepulauan Nias. Kehadirannya di IKIP Gunungsitoli tentu membutuhkan tempat tinggal sementara untuk dapat mencapai tujuannya belajar di IKIP Gunungsitoli. Awalnya mahasiswa di IKIP Gunungsitoli sebenarnya mayoritas tidak indekos, mayoritas mahasiswa berasal dari Kota Gunungsitoli itu sendiri sedangakan yang berasal dari daerah yang jauh biasanya akan tinggal dengan family/keluarga lain yang berada di IKIP Gunungsitoli.64 Hal ini disebabkan pihak IKIP yang tidak menyediakan asrama bagi mahasiswanya. Namun makin lambat semakin banyaknya kehadiran dari mahasiswa-mahasiswa daerah perkampungan sehingga tahun 1980an mulai dibuka tempat-tempat yang dapat disewakan sementara oleh masyarakat
64Wawancara; Immanuel Waruwu, Desa Saombo Kota Gunungsitoli pada tanggal 9 November 2020 2020
65 sekitar IKIP Gunungsitoli. Perubahan ini membantu perekonomian masyarakat yang ada disekitarnya, dan mendorong mahasiswa daerah jauh dapat mengenyam pendidikan di IKIP Gunungsitoli tanpa harus memikirkan adanya tempat family/keluarga lain yang dapat ditinggali.
• Kantin
Fungsi kantin dalam sebuah kampus adalah sebagai tempat makan/istirahat dan tidak jarang mahasiswa menggunakan kantin sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan mengerjakan tugas kuliah. Seyogiyanya kehadiran kantin di dalam sebuah kampus sangat penting, namun di IKIP Gunungsitoli pada periode 1965-1990 tidak adanya kantin yang berada dalam kompleks yayasan.
Kantin berada disekitaran IKIP Gunungsitoli yang dibuka oleh masyarakat sekitar, kehadirannya tetap berfungsi sebagaimana yang diinginkan mahasiswa sebagai tempat makan, berkumpul, dan berdiskusi. Kantin tidak banyak, berhubung karena kondisi keuangan mahasiswa juga kurang mendukung, jadi mereka jarang berkumpul di kantin karna akan memakan lebih banyak biaya.65 Ketidakhadiran kantin di dalam kampus atau kompleks yayasan belum dapat diketahui penulis penyebabnya.
• Toko alat tulis kantor
Toko ini menyediakan alat-alat keperluan mahasiswa seperti alat-alat tulis, buku dan penyewaan mesin tik. Toko ini terletak di depan kompleks yayasan.
65Wawancara; Immanuel Waruwu, Desa Saombo Kota Gunungsitoli pada tanggal 9 November 2020 2020
66 Kehadiran took ini membantu mahasiswa dalam pemenuhan kebutuhan kampusnya. Kehadiran IKIP Gunungsitoli membuka usaha-usaha baru dan memperbaiki keadaan ekonomi disekitaran IKIP Gunungsitoli.
4.2 Manajemen
Sejak awal pendiriannya, IKIP Gunungsitoli dinaungi oleh yayasan. Lama sebelum lahirnya UU No. 16 Tahun 2001, lembaga yayasan sudah dikenal dan diakui keberadaannya daam kehidupan lalu lintas hukum, berdasarkan praktik-praktik kebiasaan hukum. Yayasan yang didirikan bersifat hukum kebiasaan sehingga pada saat itu belum jelas defenisi sebenarnya dari sebuah yayasan. Pengertian Yayasan berdasarkan esensialnya pada waktu itu terkandung:
1. Adanya suatu harta kekayaan
2. Harta kekayaan sendiri/ harta milik yayasan 3. Ada tujuan tertentu atas dasar kekayaan
4. Adanya pengurus yang melaksanakan tujuan dari diadakannya kekayaan tersebut66
Yayasan yang menaungi IKIP Gunungsitoli pada awalnya di beri nama
“Jajasan IKIP Gunungsitoli” berdasarkan Akta Notaris Water Siregar Nomor 17 yang kemudian tahun 1973 diadakan perubahan nama yayasan yaitu Yayasan Perguruan
66 https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl27/status-hukum-yayasan-sebelum-berlakunya-uu-yayasan diakses pada tanggal 1 Februari 2021 pukul 19.47 Wib
67 Tinggi Nias berdasarkan Akta Notaris Walter Siregar No. 45.67 Alasan perubahan nama yayasan ini salah satunya adalah perubahan tujuan yayasan. Yayasan yang menaungi IKIP Gunungsitoli menganggap perlu adanya perluasan bidang perguruan tinggi yang harus didirikan di Kabupaten Nias, yang nantinya akan menjadi penggerak roda pembangunan daerah Nias. Tujauan yayasan ini kedepannya adalah membuat perguruan tinggi baru di daerah Nias tidak hanya IKIP Gunungsitoli saja, sehingga tahun 1990an dibangunlah perguruan tinggi baru yang dinaungi oleh Yayasan Perguruan Tinggi Nias seperti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pembangunan Nias (STIE Pembanguna Nias).
Berdasarkan Anggaran Dasar Rumah Tangga yang lama dan yang baru yang selanjutnya Yayasan Perguruan Tinggi Nias, Ketua Umum oleh Bupati Nias dan wakil ketua umum adalah Ketua DPRD Kabupaten Nias. Jadi selama 1965-1990 yang menjadi ketua umum adalah pejabat Bupati Nias, penggantian jabatan Bupati otomatis akan menggantikan ketua umum Yayasan Perguruan Tinggi Nias.
IKIP Gunungsitoli seperti pada umumnya perguruan tinggi memiliki Rektor, Dosen, Pegawai dan Mahasiswa. Adapun Rektor yang menjabat dalam periode 1965-1990 yaitu:
1. Drs. H. Chandra Teaumbanua (1965-1966) 2. T.W Siregar S.H (1966-1967)
67Erwin Wahyu Purwanto’ “Anggaran Dasar Rumah Tangga Yayasan Perguruan Tinggi Nias”
Akta Notaris No. 51 Tanggal 29 Januari 1988 pasal 5
68 3. Dra. Ny. N.Z Abednego (1967-1968)
4. Drs. T.S Bu’ulolo (1968-1972) 5. Drs. T.S Telaumbanua (1972-1974) 6. SM Mendrofa, S.H tahun (1974-1976) 7. Drs. D. Zagoto (1976-1977)
8. Hanati Nazara S.H (1977-1984) 9. Drs. D. Zagoto (1984-1987) 10. Drs. Silvester Lase (1987-1988)
Beberapa lembaga yang ada pada IKIP Gunungsitoli periode 1965-1990 yaitu Lembaga Penelitian, Lembaga Pengkajian Kebudayaan, Lembaga Bantuan Hukum dan Koperasi Simpan Pinjam.68