• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Sejarah Perkembangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Kota Gunungsitoli Tahun dan penelitian ini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK Penelitian ini berjudul Sejarah Perkembangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Kota Gunungsitoli Tahun dan penelitian ini"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

v ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Sejarah Perkembangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Kota Gunungsitoli Tahun 1965-1990 dan penelitian ini membahas tentang latar belakang berdirinya IKIP Gunungsitoli, perkembangan IKIP Gunungsitoli (1965-1990) dan kontribusi IKIP Gunungsitoli terhadap masyarakat Nias (1965-1990). Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan latar belakang berdirinya IKIP Gunungsitoli, untuk menjelaskan perkembangan IKIP Gunungsitoli tahun 1965- 1990, serta untuk menjelaskan kontribusi IKIP Gunungsitoli terhadap masyarakat Nias (1965-1990). Dalam pelaksanaan penelitian, penulis menghadapin tantangan dan hambatan. Penelitian ini dilakukan saat pandemik Covid-19 sehingga sebagian narasumber tidak dapat diwawancarai dengan bertatap muka langsung, data-data yang dibutuhkan penulis masih belum sempurna akibat dari ketidak ketersediaan data berhubung periode penelitian yang terbilang terlalu lampau.

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu Heruistik, Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi. Penulis menggunkan metode penulisan melalui wawancara dan observasi dengan berpedoman pada buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang akan penulis teliti

Kata kunci : IKIP Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Perkembangan

(11)

vi DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMAKASIH ... ii

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian dan manfaat Penelitian ... 7

1.4 Tinjauan Pustaka ... 8

1.5 Metode Penelitian ... 10

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH GUNUNGSITOLI 2.1 Kondisi Geografis ... 13

2.2 Sejarah Singkat Wilayah Gunungsitoli ... 14

2.3 Gambaran Demografis Kota Gunungsitoli ... 17

2.3.1 Penduduk ... 18

2.3.2 Pendidikan ... 20

2.3.3 Religi ... 23

2.3.4 Perekonomian ... 25

(12)

vii

BAB III SEJARAH BERDIRINYA IKIP GUNUNGSITOLI

3.1 Latar Belakang Pendirian ... 31

3.1.1 Falsafah Masyarakat Nias ... 32

3.1.2 Kondisi Pendidikan ... 37

3.1.2.1 Kekurangan Guru ... 37

3.1.2.2 Kekurangan SDM ... 41

3.1.2.3 Wilayah Yang Terisolasi ... 43

3.2 Proses Berdirinya Institut Keguruan Dan Ilmu Pengetahuan (IKIP) Gunungsitoli ... 46

3.3 Pihak Yang Terlibat ... 50

3.3.1 Pemerintah Daerah Tingkat II Nias... 50

3.3.2 Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan ... 51

3.3.3 Masyarakat ... 51

3.4 Sumber Dana ... 52

3.5 Tantangan Dan Hambatan ... 53

BAB IV PERKEMBANGAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN (IKIP) GUNUNGSITOLI TAHUN 1965 – 1990 4.1 Sarana Dan Prasarana ... 55

4.1.1 Bangunan ... 55

4.1.2 Fasilitas Penunjang ... 60

4.2 Manajemen ... 66

(13)

viii

4.2.1 Visi dan Misi ... 68

4.3 Fakultas Dan Jurusan ... 69

4.4 Dosen Dan Pegawai ... 71

4.5 Mahasiswa ... 74

4.6 Alumni ... 79

4.7 Kerjasama ... 80

4.8 Tantangan ... 82

BAB V KONTRIBUSI KEBERADAAN IKIP GUNUNGSITOLI TERHADAP MASYARAKAT NIAS 5.1 Terhadap Perkembangan Pendidikan ... 84

5.2 Terhadap Perkembangan Pola Pikir Masyrakat ... 90

5.3 Terhadap Pemerintah ... 96

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 101

6.2 Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 106

DAFTAR INFORMAN ... 107

LAMPIRAN ... 112

(14)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Nias (1965-1990) ... 18

Tabel 2 Perkembangan Jumlah Penduduk Dan Rumah Tangga Kota Gunungsitoli (1980-1990)... 19

Tabel 3 Perkembangan Jumlah Sekolah Kota Gunungsitoli ... 20

Tabel 4 Perkembangan Jumlah Siswa Di Kota Gunungsitoli ... 21

Tabel 5 Perkembangan Jumlah Guru Di Kota Gunungsitoli ... 22

Tabel 6 Perkembangan Jumlah Penganut Agama Di Kota Gunungsitoli ... 23

Tabel 7 Perkembangan Luas Panen Tanaman Di Kota Gunungsitoli ... 26

Tabel 8 Perkembangan Jumlah Ternak Di Kota Gunungsitoli ... 28

Tabel 9 Perkembangan Jumlah Produksi Ikan Di Kota Gunungsitoli ... 29

Tabel 10 Jumlah Lulusan Mahasiswa Sistem Paket (1974-1986) Di IKIP Gunungsitoli ... 75

Tabel 11 Jumlah Lulusan Mahasiswa Sistem Kredit Semester (1987-1990) Di IKIP Gunungsitoli ... 77

(15)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Dari IKIP Gunungsitoli ... 112

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian Dan Permintaan Data Dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Gunungsitoli ... 113

Lampiran 3 Peta Kota Gunungsitoli (1877) ... 114

Lampiran 4 Peta Kabupaten Nias (1996) ... 115

Lampiran 5 Letak Lokasi Awal Dan Baru IKIP Gunungsitoli ... 116

Lampiran 6 Denah Kompleks IKIP Gunungsitoli (1975-1990) ... 117

Lampiran 7 Tata Letak Dan Ukuran Gedung Utama ... 118

Lampiran 8 Foto wawancara dengan Wakil Ketua Yayasan dan Pegawai IKIP Gunungsitoli ... 119

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.1 Pendidikan merupakan sektor yang sangat menentukan kualitas suatu bangsa.

Kegagalan pendidikan berimplikasi pada gagalnya suatu bangsa, keberhasilan pendidikan juga secara otomatis membawa keberhasilan sebuah bangsa. Pada hakikatnya, pendidikan tidak tidak dapat dipisahkan dari proses pemanusiaan. Karena itu secara hakikatnya pendidikan adalah memanusiakan manusia melalui pendidikan.2 Pendidikan pada dasarnya mempunyai fungsi pembangunan potensi. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengerti arti pentingnya pendidikan. Mulai dari kecil masyarakat telah diberi pendidikan baik pendidikan secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan formal berorientasi pada pendidikan di sekolah yang diperoleh secara teratur, bertingkat dan mengikuti syarat-syarat yang jelas.

Pendidikan formal memiliki satuan antara lain: Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi.

Istilah pendidikan tinggi dan perguruan tinggi sering saling dipertukarkan dengan anggapan mempunyai arti yang sama. Namun, dua istilah itu sebenarnya

1Basir Barthos, Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 1992, hal. 22.

2Serian Wijatno, Pengelolaan Perguruan Tinggi Secara Efisien, Efektif, dan Ekonomis, Jakarta:

Salemba Empat, 2009, hal. 11.

(17)

2 mempunyai arti yang berbeda. Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jalur pendidikan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi daripada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah. Sebaliknya, perguruan tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi.

Perguruan tinggi di Indonesia dapat diselenggarakan berbentuk:

• Akademi

Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu tertentu.

• Politeknik

Politeknik menyelenggarakan pendidikan vokasi dan pendidikan profesi dalam berbagai bidang pengetahuan khusus.

• Sekolah Tinggi

Mengadakan hanya satu rumpun Ilmu Pengetahuan dan teknologi. Jadi satu kampus Sekolah Tinggi sama halnya dengan satu fakultas.

• Institut

Institut adalah perguruan tinggi yang melaksanakan program pendidikan yang bersifat keilmuan dan kejuruan dalam satu bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni.

• Universitas

Universitas adalah perguruan tinggi yang memiliki berbagai rumpun keilmuan yang diselenggarakan dalam sejumlah fakultas.

(18)

3 Fondasi pendidikan guru diawal kemerdekaan Indonesia lebih kuat untuk guru sekolah dasar dibanding untuk sekolah menengah. Sejumlah orang Indonesia, walaupun jumlahnya sangat kecil, mendapat pendidikan guru SD yang sangat baik di Zaman Belanda. Namun hampir tidak ada yang mendapat pendidikan guru untuk menjadi guru di sekolah menengah. Karena itu diawal kemerdekaan, Indonesia membentuk fondasi pendidikan guru untuk sekolah menengah dengan visi yang sangat progresif untuk masa itu: Pendidikan guru setingkat universitas. Berdirilah perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG) tahun 1954.

Pendidikan guru terganggu dinamika politik baik di masa orde lama dan orde baru. Di masa orde lama, seperti hal nya organisasi guru, pendidikan guru pun terpengaruh dinamika pro dan anti komunis. Sehingga terpecah dua, IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) adalah kesepakatan penyatuan 2 aliran lembaga pendidikan guru, yang difasilitasi oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1960 terjadi revolusi yang mengakibatkan hilangnya sekolah guru beserta siswa dan guru.

Akibatnya, di awal orde baru terjadi kekurangan guru dan pendidik guru yang signifikan.

Di masa orde baru Presiden Soeharto melakukan depolitisasi dan menurut mono-loyalitas semua guru dan pendidik di sekolah guru. Semuanya harus masuk partai pemerintahan Golongan Karya. Budaya PNS mulai menggantikan budaya profesional, sehingga terjadi de-profesionalisasi guru dan pendidikan guru. Selain itu, pendidikan guru dilakukan serba darurat, super cepat untuk memenuhi pesanan

(19)

4 rekurutmen massal ratusan ribu guru di sekolah dasar dan sekolah menengah. Mutu pun semakin menurun, semakin menjauh dari budaya profesional dan budaya intelektual ini diperparah dengan penambahan lembaga pendidikan guru swasta yang umumnya tidak bermutu baik. Ketika SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dihapus 1989, terjadi pemutusan keahlian dan legasi tradisi pendidikan keguruan yang baik dari zaman Belanda. Guru guru SPG tidak langsung mendapat tempat di IKIP karena kualifikasi pendidikan mereka belum bisa menjadi dosen. Sementara itu banyak kalangan menyangsikan kualitas lulusan IKIP terutama karena mereka tidak dianggap menguasai ilmu pelajaran yang diampunya. Di akhir tahun 1990, mulailah IKIP menjadi Universitas, dengan harapan terjadi penguataan penguasaan konten dari calon-calon guru di IKIP sayangnya sehingga sekarang masalah ini belum terselaikan.

IKIP Gunungsitoli didirikan pada 15 November 1965 dengan Akta Notaris Walter Siregar Nomor 17 tanggal 10 Oktober 1965.3Berdasarkan akta tersebut IKIP Gunungsitoli didirikan oleh Kenan Saragih dan beberapa tokoh pemangku jabatan di Kabupaten Nias saat itu. Dipimpin pertama sekali oleh Drs. H.Chandra Telaumbanua dan menjabat dari tahun 1965-1966.

Pada awalnya, IKIP Gunungsitoli menyelenggarakan pendidikan dengan sistem paket (tingkat) Sarjana Muda, dan mengelola 3 fakultas dan 4 jurusan, dengan masing-masing jurusan berstatus terdaftar, sesuai dengan Surat Keputusan

3https://www.Neliti.com/id/Ikip-gunungsitoli diakses pada tanggal 20 Januari 2020 pada pukul 10.15 Wib

(20)

5 Mendikbud RI Nomor: 1246/PT/III/68 tanggal 12 Desember 1968.4 Adapun fakultas dan jurusan tersebutyaitu:

1. Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan Jurusan Pendidikan Umum 2. Fakultas Keguruan dan Ilmu Sosial (FKIS) dengan Jurusan Civics

Hukum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan

3. Fakultas Keguruan dan Ilmu Eksakta dengan Jurusan Ilmu Pasti

Jurusan Fisika berjalan selama 4 tahun akademik (empat angkatan) yaitu pada tahun 1986-1990 oleh karena sarana yang tersedia di IKIP Gunungsitoli tidak mendukung sehingga izin operasionalnya tidak diperpanjang.

IKIP Gunungsitoli beralamat di Jalan Yos Sudarso Kota Gunungsitoli.

Berdasarkan pidato rektor IKIP pada acara wisuda Periode I tahun 2018, dari tahun 1965 sampai tahun 2018 IKIP Gunungsitoli telah meluluskan alumni sebanyak 6.680 orang dengan rincian Sarjana Muda 442 orang, Diploma Tiga 451 orang, dan Sarjana Strata Satu (S1) sebanyak 5.787 orang dengan hampir 80% lulusan berkecimpung di dunia pendidikan sebagai tenaga pengajar/guru di berbagai TK, SD, SMP, dan SMA serta menjadi dosen di perguruan Tinggi. 5Selain itu ada juga alumni yang berkecimpung di dunia politik dengan menjadi anggota legislatif dan Kepala Desa yang tersebar di daerah Kepulauan Nias.

4IKIP Gunungsitoli, Buku Wisuda Sarjana Pendidikan, Gunungsitoli: IKIP Gunungsitoli, 2018 hal 5

5https://www.corongnias.com/2018/08/310.html diakses pada tanggal 12 Februari 2020 pada pukul 22:45

(21)

6 IKIP Gunungsitoli bertujuan untuk membentuk dan membina tenaga-tenaga pendidik yang berkualitas tinggi, baik ilmu maupun moral, mengangkat masalah-masalah yang muncul dan memecahkannya sebagai sumbangsih dalam pembangunan bangsa dan negara pada umumnya dan Daerah Tingkat II Nias pada khususnya sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat), berusaha secara kreatif dan kritis untuk menjadi salah satu pengembang kebudayaan dalam mempercepat pembangunan dan modernisasi.

IKIP Gunungsitoli diharapkan dapat mengatasi masalah yang dialami oleh masyarakat seperti masalah ekonomi masyarakat. Orangtua cenderung merasa kesulitan jika anaknya harus keluar daerah untuk melanjutkan pendidikannya selain karna biaya yang harus di keluarkan sangat banyak, dan juga orangtua khawatir dengan keadaan anaknya di luar daerah.

Berdasarkan pemaparan di atas peneliti tertarik untuk membahas tentang IKIP Gunungsitoli karena merupakan perguruan tinggi pertama di Nias yang telah berkontribusi penuh dalam meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan sehingga masyarakat di Nias yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tidak harus merantau ke daerah lain di luar Nias.

Selain itu, setelah peneliti melakukan survei di berbagai perpustakaan yang ada di Kota Medan antara lain Perpustakaan USU, Perpustakaan Unimed, Perpustakaan UISU dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Utara maka peneliti menemukan bahwa penelitian tentang IKIP Gunungsitoli belum pernah ditulis.

(22)

7 Atas dasar pemikiran di atas maka penulis akan meneliti “Sejarah Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli 1965-1990”. Penulis membatasi tahun dengan alasan tahun1965 adalah tahun didirikannya IKIP Gunungsitoli.

Sedangkan tahun 1990 adalah tahun di mana IKIP Gunungsitoli mengalami kemunduran dengan ditutupnya salah satu fakultasnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai acuan untuk meneliti yaitu:

1. Bagaimana latar belakang berdirinya IKIP Gunungsitoli?

2. Bagaimana perkembangan IKIP Gunungsitoli tahun 1965-1990 ?

3. Bagaimana kontribusi IKIP Gunungsitoli terhadap masyarakat Nias tahun 1965-1990?

1.3 Tujuan Dan Manfaat Tujuan Penelitian

1. Untuk menjelaskan latar belakang berdirinya IKIP Gunungsitoli ?

2. Untuk menjelaskan perkembangan IKIP Gunungsitoli tahun 1965-1990 ? 3. Untuk menjelaskan kontribusi IKIP Gunungsitoli terhadap masyarakat 1965-

1990?

Manfaat Penelitian

1. Menambah literatur dan pengetahuan tentang perkembangan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) khususnya IKIP Gunungsitoli.

(23)

8 2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian lanjutan tentang IKIP khususnya IKIP

Gunungsitoli.

3. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan tentang IKIP Gunungsitoli khususnya bagi masyarakat Nias.

1.4 Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa literatur kepustakaan berupa buku-buku dan laporan penelitian.

Faoziduhu Lahagu dalam artikel yang diterbitkan di internet dengan judul Kesempatan dan Kendala Berkonstektualisasi Terhadap Filsafat “Sokhi Mate Moroi Aila” Dalam Budaya Masyarkat Nias (Suatu Pergumulan Gereja-Gereja Nias) (2002)menjelaskan tentang dampak positif dan negative dari Filosofi “Sokhi Mate Moroi Aila”. Artikel ini membantu penulis dalam menemukan hubungan antara Falsafah Suku Nias yang melatarbelakangi berdirinya IKIP Gunungsitoli.

Elizaro Gulo dalam Kebijakan Dalam Upaya Memerangi Kemiskinan di Nias(2004)menjelaskan tentang kemiskinan di Nias, kemiskinan dalam bentuk ekonomi dan kemiskinan dalam bentuk pendidikan. Tesis ini membantu penulis dalam menemukan faktor-faktor yang melatar belakangi berdirinya IKIP Gunungsitoli dalam sektor ekonomi.

Sanusi, dkk dalam Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara (1980)menjelaskan tentang proses masuknya pendidikan di daerah Sumatera Utara (Sebelumnya Sumatera Timur) mulai dari masuknya Agama Hindhu Budha, Agama

(24)

9 Islam, masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang hingga Indonesia merdeka.

Buku ini berkaitan dengan penelitian saya tentang menemukan faktor-faktor yang melatarbelakangi sejarah pendidikan di daerah Nias.

F. Zebua dalam Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya Dan Perkembangannya(1996)menjelaskan tentang asal mula Kota Gunungsitoli beserta perkembangan sosial dan ekonominya. Buku ini membantu penulis dalam menemukan latar belakang sosial ekonomi masyarakat yang berpengaruh pada perkembangan pendidikan di daerah Kota Gunungsitoli.

Mochtar Buchori dalam Evolusi Pendidikan di Indonesia Dari Kweekschool sampai IKIP: 1825-1998(2007) menjelaskan tentang perkembangan IKIP dari masa Kolonial sampai kemerdekaan. Buku ini membantu penulis dalam menemukan latar belakang terbentuknya dan fungsi IKIP secara nasional.

Muhammad Rifa’I dalam Sejarah Pendidikan Nasional Dari Masa Klasik Hingga Modern(2004)menjelaskan tentang faktor-faktor terbentuknya bentuk dan jenis pendidikan di Indonesia. Buku ini membantu penulis untuk menemukan latarbelakang berdirinya Institut Keguruan secara Nasional.

Seria Wijatno dalam Pengelolaan Perguruan Tinggi Secara Efisien, Efektif, dan Ekonomis(2009)buku ini menjelaskan tentang bentuk, pengertian dan pengelolaan suatu perguruan tinggi. Buku ini membantu penulis dalam menjelaskan bagaimana bentuk, pengertian dan pengelolaan suatu perguruan yakni perguruan IKIP Gunungsitoli.

(25)

10 1.5 Metode Penelitian

Pada umumnya disebut metode adalah cara, petunjuk pelaksanaan, proses, prosedur atau teknik yang sistematis dalam penelitian untuk mendapatkan objek penelitian. Sejumlah sistematis yang terangkum di dalam metode sejarah sangat membantu penelitian di dalam merekonstruksi kejadian pada masa lalu. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa masa lampau.6 Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian sejarah antara lain:

1. Heuristik, yaitu tahap awal yang dilakukan mencari data-data melalui berbagai sumber-sumber yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Dalam tahap ini sumber data dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu studi lapangan (field research) dan studi perpustakaan (library research). Studi lapangan dapat memperoleh data dengan melalui wawancara dengan berbagai informan yang terkait dengan penelitian seperti kepada staff IKIP Gunungsitoli ataupun kepada bagian staff hubungan masyarakat dan dapat juga terhadap masyarakat sekitar. Sedangkan studi perpustakaan dapat diperoleh dari berbagai buku, dokumen, arsip, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:

- Teknik wawancara, cara ini merupakan teknik pengumpulan data yang secara langsung ke IKIP Gunungsitoli dan melakukan wawancara terhadap masyarakat Kota Gunungsitoli yang berdomisili di dekat IKIP Gunungsitoli maupun yang pernah terlibat dalam pendirian ataupun peresmian IKIP Gunungsitoli, alumni dari

6 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press,1985, hal. 32.

(26)

11 IKIP Gunungsitoli, staf dan pemegang jabatan yang menjabat di tahun berlangsungnya penelitian di IKIP Gunungsitoli. Penulis terlebih dahulu menerapkan kriteria informan dan model wawancara. Penulis turun langsung ke tempat penelitian dengan meminta pihak-pihak yang dianggap sesuai dengan criteria informan untuk dimintai keterangannya.

- Studi keperpustakaan, yaitu dengan mengumpulkan buku, dokumen, arsip dan lain sebagainya yang terkait dengan judul penelitian. Sumber-sumber tertulis tersebut diperoleh dari Arsip dan Dokumen IKIP Gunungsitoli Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Nias, Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Unimed, dan Perpustakaan Kota Medan.

2. Kritik Sumber, yaitu proses yang dilakukan peneliti untuk mencari nilai kebenaran data sehingga mendapatkan informasi yang akurat. Di mana dalam tahap ini sumber-sumber yang telah terkumpul dilakukan kritik, baik kririk internal maupun eksternal.

- Kritik eksternal, kritik yang dilakukan untuk mencari kesesuaian data dengan permasalahan yang diteliti dan memperoleh sumber-sumber yang kredibel.

Kesesuaian dokumen seperti tahun penerbitan dokumen/arsip, judul dokumen/arsip, membandingkan buku dengan buku lain sedangkan untuk narasumber dilakukan kritik terhadap kesesuaian umur narasumber terhadap tahun penelitian IKIP Gunungsitoli, kritik terhadap kesesuaian hubungan narasumber terhadap IKIP Gunungsitoli misalnya berdasarkan jabatan dan pengaruhnya

(27)

12 terhadap IKIP Gunungsitoli sehingga menghasilkan data eksternal yang kredibel yang dapat dipertanggungjawabkan.

- Kritik internal, kritik yang yang dilakukan setelah kritik eksternal. Kritik ini melihat dari isi dokumen/arsip yang kredibel yang sesusai dengan isi penelitian dan mencari narasumber yang objektif dengan kesesuaian data yang diungkapkan buku/narasumber terhadap keadaan dilapangan.

3. Interpretasi, yaitu hasil penganalisaan terhadap sumber-sumber yang diteliti.

Dalam hal ini data yang diperoleh dianalisis sehingga sifatnya lebih objektif.

Dengan perkataan lain, data-data yang diperoleh dianalisis sehingga menjadi fakta.

Jauhnya objek kajian yaitu antara peristiwa dengan peneliti maka sebelum melakuukan penelitian, lebih dahulu dibutuhkan interpretasi, interpretasi sangat dibutuhkan keakuratannya.

4. Historiografi, yaitu penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya menjadi satu kisah atau kajian yang menarik dan selalu berusaha memperhatikan aspek kronologisnya. Historiografi juga merupakan klimaks dari sebuah metode sejarah.7 Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah deskriptif spasial yaitu deskipsi yang melukiskan ruang atau tempat yang pelukisannya dijelaskan dari berbagai segi tentang pendidikan Kota Gunungsitoli yang mengkaji lebih dalam lagi mengenai IKIP Gunungsitoli 1965-1990.

7Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1982, hal. 58.

(28)

13 BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH GUNUNGSITOLI 2.1 Kondisi Geografis

Kota Gunungsitoli merupakan salah satu daerah kota dari Kabupaten Nias yang terletak berjarak sekitar 85 mil laut(nmi) atau setara 148 km dari Kota Sibolga yang dipisahkan oleh lautan. Gunungsitoli terletak di antara 1°17ˈ LU dan 97° 37ˈ BT.

Gunungsitoli memiliki luas wilayah 452.45 km2(8,04% dari luas wilayah Kepulauan Nias)8 . Wilayah Gunungsitoli terdiri dari perbukitan dan pegunungan

Musim hujan yang paling mempengaruhi biasanya terjadi pada bulan Oktober, November dan Desember dengan curah hujan rata-rata 450 mm/bulan dengan rata- rata hari hujan 23hari/bulan. Kota Gunungsitoli memiliki temperatur udara rata-rata maksimal 39,9°C dan minimal 21,3°C.

Batas batas wilayah Gunungsitoli sebagai berikut:

Sebelah Selatan : Mulai dari Sabango (Tȍgizaeru / Fadafada Gȍrȍbao) Sebelah Timur : Pantai Laut

Sebelah Utara : Labua Angi (Pelabuhan Angin) Sebelah Barat : Tumȍri9

Sumber air di wilayah Kota Gunungsitoli berasal dari sungai dan sumur.

Adapun sungai terbesar yang ada di Gunungsitoli adalah Sungai Boyo dan Sungai

8Badan Pusat Statistik, Kabupaten Nias dalam Angka, Nias: Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias/BPS, 1980 hal 11

9 F. Zebua, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli:

Organisasi Kesenian Holitoria, 1992 hal.115

(29)

14 Nou. Sungai Boyo berhulu dari Desa Onowaembo hingga ke Desa Boyo yang kemudian lanjutan sungai itu disebut Sungai Nou yang berawal dari Desa Boyo hingga bermuara ke laut melalui kawasan Kampung Baru.

2.2 Sejarah Singkat Wilayah Gunungsitoli

Sejarah Kota Gunungsitoli adalah bagian dari sejarah Nias seluruhnya. Karena Gunungsitoli adalah Ibu Kota Kabupaten Nias, sehingga hubungan timbal balik dengan semua pelosok daerah Nias. Kota Gunungsitoli yang dekat dengan pantai dan wilayah yang paling dekat dengan pulau Sumatera. Membuat kapal-kapal dari Pulau Sumatera lebih dahulu mendarat di daerah Kota Gunungsitoli seperti Pedagang Aceh (1034) dan VOC (1669).10 Pengaruh atau perkembangan yang disebabkan oleh orang luar tersebut lebih dahulu masuk ke Kota Gunungsitoli lalu menyebar ke daerah lain di Kepulaun Nias. Sehingga, Kota Gunungsitoli menjadi pusat peradaban.

Mengenai sejarah berdirinya Kota Gunungsitoli, kebanyakan masyarakat tidak mengetahui momentumnya. Sebagian masyarakat berpikir bahwa momentum lahirnya Gunungsitoli adalah terbitnya UU No.47 tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Gunungsitoli, yakni tanggal 26 November 2008. Perlu dipahami bahwa UU No.

47 Tahun 2008 merupakan yuridiksi formal ditetapkan Gunungsitoli sebagai daerah otonom oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dalam konteks berdirinya suatu kota sebagai pusat peradaban yang memiliki pemerintahan, luas wilayah dan rakyat, maka

10Ibid, hal. 35

(30)

15 perlu ditegaskan bahwa momentum lahirnya Kota Gunungsitoli bukanlah saat terbitnya UU No.47 Tahun 2008.11

2.2.1 Momentum Lahirnya Kota Gunungsitoli

Pada awalnya Gunungsitoli merupakan daerah teritorial yurisdiksi Kerajaan Laraga (berpusat di Desa Luahalaraga kawasan sungai Idanoi) dan Kerajaan Talunidanoi (berpusat di Desa Onozitoli kawasan dataran aliran sungai Idanoi).

Kedua kerajaan ini merupakan cikal bakal keturunan yang mendiami Gunungsitoli.

Oleh beberapa generasi dari kedua kerajaan tersebut menimbulkan pemukiman baru sebagai pusat Kota Gunungsitoli sekarang. Pemukiman tersebut sebagai berikut:

1. Desa Hilihati di daerah Luaha Nou dipimpin Lökhözitulö Zebua (keturunan dari Kerajaan Laraga).

2. Desa Dahana’uwe di kawasan muara Sungai Nou dipimpin Bawölaraga Harefa (keturunan dari Kerajaan Talunidanoi).

3. Desa Bonio di kawasan muara sungai Nou dipimpin Laso Börömbanua Telaumbanua (salah satu staf Badan Pemerintahan Kerajaan Talunidanoi, akibat dari kontra terhadap aturan Jujuran Perkawinan sehingga membentuk desa sendiri melepas diri dari Kerajaan Talunidanoi).12

Ketiga desa yang merupakan pusat Kota Gunungsitoli sekarang yang telah disebutkan di atas semuanya berada di kawasan muara sungai Nou. Luaha Nou yang

11https://www.wartanias.com/2014/02/momentum-berdirinya-kota-gunungsitoli.html diakses pada tanggal 10 November 2020 pukul 19.45 WIB

12Ibid, hal. 55

(31)

16 selama ini telah digunakan sebagai pelabuhan Nou dan untuk kepentingan nelayan, mulai dimasuki perahu dagang Etnis Dawa13 (Aceh, dll.) secara bebas, padahal tidak demikian di pelabuhan Luaha Idanoi. Untuk itu ketiga pimpinan desa tersebut yang kemudian disebut Sitölu Tua (tiga puak/tiga marga) mengadakan fondrakö14. Fondrakö ini disebut Fondrakö Bonio yang memuat beberapa aturan seperti penetapan batas teritorial yurisdiksi antara masing-masing Sitölu Tua dan pemberian bea pelabuhan di Luaha Nou kepada pedagang Etnis Dawa.15

Lahirnya Gunungsitoli ditandai dengan diberlakukannya Fondrakȍ Bonio oleh Sitolu Tua yang mendorong tumbuhnya Pelabuhan Luaha Nou (Pelabuhan / Kota Gunungsitoli) secara sah berdasarkan hukum Fondrakö Bonio. Berlangsungnya Fondrakö Bonio yaitu jatuh pada tanggal 7 April 1629.16

Timbulnya istilah Gunungsitoli akibat dari komunikasi-interaksi atau hasil peradaban / bahasa Ononiha dengan etnis asing/bahasa Melayu. Istilah Gunungsitoli muncul tatkala diadakan kontrak Dagang VOC Belanda dengan raja dari Gunungsitoli, tertanggal 23 Maret 1693.17Alasan pemakaian bahasa Melayu dalam istilah “Gunungsitoli” itu ialah karena bahasa Melayulah yang dipakai sebagai bahasa umum di seluruh Nusantara (Indonesia) ini, dan orang Belanda telah banyak yang dapat berbahasa Melayu.

13Etnis Dawa: suku pendatang

14Fondrakö: musyawarah dan upcara penetapan, pemgesahan adat dan hukum yang berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat.

15Ibid., hal. 57 16Ibid., hal. 68

17Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sumatera Utara, Jakarta: Departemen P dan K, 1982 hal. 101

(32)

17 2.2.2 Gunungsitoli Masa Pemerintahan Republik Indonesia

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sekaligus berdirinya Negara Republik Indonesia dengan sendirinya Pulau Nias dengan kepulauannya masuk dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

Pulau Nias dengan kepulauaannya (Kepulauan Hinako dan Kepulauan Batu) menjadi satu Luhak yang dipimpin oleh kepala Luhak dengan ibu kotanya Gunungsitoli. Kepala Luhak pertama adalah Daliziduhu Marunduri (1945-1946).

Kemudian 1946, status wilayah Luhak Nias ditingkatkan menjadi Kabupaten Nias yang dikepalai oleh Bupati. Bupati pertama adalah Pendeta Ros Telaumbanua (1946- 1950) dengan Ibu Kota Gunungsitoli. Tak berapa lama kemudian Pulau Nias menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Nias yang mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat II.18

2.3 Gambaran Demografis Kota Gunungsitoli ( 1965-1990)

Ilmu Demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara matematis dan statistik kependudukan secara matematis dan statistik dari data penduduk terutama mengenai perubahan jumlah, peseberan dan komposisi/strukturnya.19

18Ibid, hal. 108

19A. Ain Marhareni, Pengantar Kependudukan Jilid 1, Denpasar: CV Sastra Utama, 2018 hal. 7

(33)

18 Penulis telah melakukan survei lapangan dengan melakukan studi kepustakaan di instansi terkait namun akibat dari kekurangan data sehingga penulis hanya menemukan data demografis penduduk Kota Gunungssitoli dari tahun 1980-1990.

2.3.1 Penduduk

Tabel 1

Perkembangan Jumlah Penduduk di Kabupaten Nias Tahun 1965 dan 1990

Nama Tahun 1965 Tahun 1990 Keterangan

Penduduk (Jiwa) 338.701 jiwa 588.643 jiwa Meningkat Sumber: Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980 dan 1990 Penulis mendapatkan data jumlah penduduk Kabuaten Nias dari tahun 1965- 1990 yang disajikan di tabel 1. Dari tabel 1 di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Nias pada tahun 1965 yakni tahun dimulainya pembangunan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli berjumlah 338.701 jiwa yang telah digabungkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan dan pada tahun 1990 mengalami peningkatan menjadi 588.643 jiwa.

(34)

19 Tabel 2

Perkembangan Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Kota Gunungsitoli Tahun 1980-1990

Nama Tahun 1980 Tahun 1990 Keterangan

Penduduk (Jiwa) 72.788 jiwa 90.164 jiwa Meningkat Rumah Tangga (kepala

Keluarga)

11.147 kk 59.197 kk Meningkat

Sumber : Data Badan Statistik Kabupaten Nias 1980-1990

Dari tabel 2 di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk Kota Gunungsitoli pada tahun 1980 jumlah penduduk di Kota Gunungsitoli berjumlah 72.788 jiwa yang telah digabungkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan dan pada tahun 1990 mengalami peningkatan menjadi 90.164 jiwa.

Jumlah rumah tangga di Kota Gunungsitoli pada tahun 1980 berjumlah 11.147 Kepala Keluarga dan tahun 1990 mengalami peningkatan menjadi 59.197 Kepala Keluarga.

(35)

20 2.3.2 Pendidikan

Tabel 3

Perkembangan Jumlah Sekolah di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 - 1990

No Sek.

Tahun (19--)

80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 1 SD 78 82 86 75 90 96 98 89 99 99 99 2 SMP 15 15 15 17 18 19 20 20 20 19 19

3 SMA 9 9 9 11 11 10 12 12 12 13 15

Jumlah 102 106 110 103 119 125 130 121 131 131 133 Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980-1990

Dari tabel 3 di atas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 1980 Kota Gunungsitoli secara keseluruhan memiliki 102 Sekolah dengan pembagian SD 78 Sekolah, SMP 15 Sekolah dan SMA 9 Sekolah yang kemudian meningkat tidak begitu signifikan sehungga pada tahun 1990 yang secara total memiliki 133 Sekolah dengan pembagian SD 99, SMP 19 dan SMA 15 Sekolah.

(36)

21 Tabel 4

Perkembangan Jumlah Siswa di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 - 1990

No Tahun Sekolah

Jumlah

SD SMP SMA

1. 1980 73.962 3.474 2.743 80.179

2. 1981 73.861 8.369 1.574 82.230

3. 1982 13.254 3.479 2.753 19.486

4. 1983 13.889 4.235 3.583 21.706

5. 1984 14.206 4.741 3.754 22.701

6. 1985 14.450 5.088 4.139 23.677

7. 1986 14.462 5.459 4.459 24.380

8. 1987 14.555 5.606 4.915 25.076

9. 1988 18.143 5.566 5.291 29.000

10 1989 16.530 5.534 5.105 27.169

11. 1990 15.525 5.062 4.278 24.869

Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias 1980-1990

Dari tabel 4 diatas, dapat disimpulkan bahwa di Kota Gunungsitoli pada tahun 1980 yang secara total memiliki 80.179 siswa dengan SD sebanyak 73.962 siswa, SMP sebanyak 3.474 siswa dan SMA sebanyak 2.743 siswa. yang mengalami penurunan pada tahun-tahun selanjutnya. Tahun 1990 dengan jumlah total siswa 24.869 siswa dengan SD sebanyak 15.525, SMP sebanyak 5.062 dan SMA sebanyak 4.278. Penurunan yang signfikan terlihat dari pelajar SD yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP, hamper tiap tahun penurunan minat melanjut ke

(37)

22 jenjang SMP sebesar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Gunungsitoli dari tahun 1980 sampai 1990 kurang peduli dengan pendidikan. Masyarakat percaya bahwa pendidikan itu hanya sampai pada kemampuan membaca dan menulis.

Tabel 5

Perkembangan Jumlah Guru di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 – 1990

No Tahun Sekolah

Jumlah

SD SMP SMA

1. 1980 523 204 120 847

2. 1981 876 459 76 1411

3. 1982 595 124 84 803

4. 1983 646 280 132 1061

5. 1984 612 248 95 955

6. 1985 723 212 232 1167

7. 1986 775 319 105 1199

8. 1987 780 366 298 1444

9. 1988 817 366 278 1461

10 1989 861 327 210 1398

11. 1990 888 274 198 1360

Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias 1980-1990

Dari tabel 5 diatas, dapat disimpulkan bahwa di Kota Gunungsitoli pada tahun 1980 yang secara total memiliki 847 Guru dengan SD sebanyak 523 Guru, SMP sebanyak 204 Guru dan SMA sebanyak 120 Guru yang mengalami peningkatan pada

(38)

23 tahun 1990 dengan jumlah total Guru 1.360 siswa dengan SD sebanyak 888 Guru, SMP sebanyak 274 Guru dan SMA sebanyak 198 Guru.

2.3.3 Religi

Tabel 6

Perkembangan Jumlah Penduduk Penganut Agama di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 dan 1990

No Tahun

Agama

Islam Katolik Protestan Budha Hindhu

1 1980 8.804 5.609 57.650 635 -

2 1981 8.804 6.822 58.833 635 -

3 1982 8.450 5.896 62.291 664 -

4 1983 9.561 6.059 62.607 687 -

5 1984 9.917 7.256 62.858 690 -

6 1985 1.028 7.873 63.730 695 -

7 1986 10.135 8.295 63.980 612 -

8 1987 13.620 8.619 62.177 627 -

9 1988 13.628 8.619 63.731 676 -

10 1989 13.763 8.660 64.043 678 50 11 1990 13.971 9.604 65.825 684 53 Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980 dan 1990

(39)

24 Dari tabel 6 di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kota Gunungsitoli terdiri dari 5 agama yang dianut yakni Agama Islam, Agama Katolik, Agama Protestan, Agama Budha, Agama Hindhu. Berdasarkan ke lima agama tersebut pada tahun 1980 masyarakat Kota Gunungsitoli mayoritas menganut Agama Protestan yakni mencapai 57.650 jiwa dari keseluruhan jumlah masyarakat Kota Gunungsitoli, Urutan kedua yakni penganut Agama Islam yang mencapai 8.804 jiwa. Ketiga penganut Agama Katolik yang mencapai 5.609 jiwa, urutan keempat penganut Agama Budha yang mencapai 635 jiwa dan Agama Hindhu yang tidak memiliki penganut sama sekali.

Pada tahun1990 masyarakat penganut Agama Protestan mencapai 65.825 dari keseluruhan jumlah masyarakat Kota Gunungsitoli, Kedua penganut Agama Islam 13.971 jiwa, Ketiga penganut Agama Katolik 9.604, keempat penganut AgamaBudha 684 jiwa, urutan terakhir adalah masyarakat penganut Agama Budha 53 jiwa. Pada tahun 1980 dan 1990 mayoritas penganut Agama di Kota Gunungsitoli adalah penganut Agama Protestan.

(40)

25 2.3.4 Perekonomian

2.3.4.1 Pertanian

Pada abad ke 17 masyarakat Nias sudah mengenal sistem bertani ladang, dan baru abad 19 dan 20 berkembang sistem pertanian sawah. Walaupun pada zaman dahulu penggarapan tanah didasarkan pada kemampuan seseorang , namun ditata kepemilikan tanah dengan sistem tanah adat. Demikian juga sistem bertanam, waktunya, jenis tanaman atau cara mengerjakannya disepakati dalam sistem adat.20 Tanaman sawah yang ditanam didominasi oleh tanaman Padi guna untuk memnuhi kebutuhan dalam daerah, keadaan ini membuat harga beras di daerah Nias tidak dapat bersaing dengan kabupaten lain di Sumatera Utara. Harga yang cenderung rendah disebabkan hasil pertanian digunakan untuk kebutuhan sendiri membuat perekonomian masyarakat sangat lemah. Akibat dari perekonomian masyarakat yang lemah sehingga pemenuhan kebutuhan lain selain makanan (yang ditanami sendiri) tidak dapat terpenuhi seperti pemenuhan kebutuhan pendidikan dan informasi, mayoritas orangtua menganggap anaknya cukup hanya tau membaca dan menulis sehingga rata-rata pendidikan masyarakat hanya tamatan SD, sedangkan yang telah lulus SMA dipaksa untuk bekerja dan tidak melanjutkan kuliah karena biaya yang tinggi beserta tidak adanya Perguran Tinggi dalam daerah sehingga untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi harus keluar daerah yang akan menghabiskan banyak biaya. Yang membuat masyarakat Nias tidak dapat mengekspor hasil panen

20Tuhoni Telaumbanua, “Aku adalah Ono Niha! Studi Kebudayaan Nias Dalam Perjumpaan dengan Modernisasi dan Globalisasi”. Jurnal Imiah Pendidikan, Humaniora, Sains dan

Pembelajarannya. Nias: IKIP Gunungsitoli, 2007 hal. 306

(41)

26 ke luar daerah karena minimnya infrastruktur seperti jalan yang belum diaspal di desa-desa pinggir kota.

Tabel 7

Perkembangan Luas Panen Tanaman di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 dan 1990

No Tanaman Tahun 1980 Tahun 1990

1 Padi 1.103 1.180

2 Jagung 220 13

3 Ketela 699 962

4 Kacang Tanah 0,4 2

5 Kacang Hijau 1,75 28

6 Bawang 2,5 3

7 Cabe 2,5 34

8 Timun 0,5 6

9 Kangkung 0,5 24

10 Bayam 0,5 8

Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980 dan 1990

(42)

27 2.3.4.2 Peternakan

Salah satu ternak peliaraan masyarakat Nias yang lama ada dan menjadi tradisi adalah ternak babi. Ini sangat penting terutama dalam kebutuhan adat istiadat, dan juga untuk kepentingan persembahan dalam ritus-ritus agama lama. Dahulu cara beternak babi ini dilaksanakan dengan cara memagar kebun dengan bambu, lalu ternak babi dalam jumlah banyak dilepas dalam kebun yang telah dipagar tersebut antara 4-6 bulan hingga makanan yakni daun ubi dan ketela di kebun tersebut habis.21 Ternak babi berfungsi sebagai hewan yang digunakan untuk kepentingan adat, sehingga babi sangat diperlukan oleh masyarakat yang membuat harga babi cenderung naik. Acara adat bagi masyarakat Nias sangat kental hampir semua kegiatan kemasyarakatan ataupun keagamaan diperlukan babi sebagai salah satu persyaratan pelaksanaan acara adat. Hal ini membuat orangtua menggunakan tenaga anak-anaknya untuk bertenak babi dan tidak mementingkan pendidikan. Mayoritas orangtua berpikir anaknya cukup sebatas bisa membaca dan menulis sehingga mayoritas anak-anak dikepulauan Nias menamatkan pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar. Pemenuhan ternak berdampak pada kedudukan keluarga, jadi dalam sebuah acara bagi yang dapat menyediakan babi yang banyak dianggap meiliki kedudukan yang tinggi dalam kemasyaratan sehingga maraknya terjadi pernikahan dini.22 Perempuan tamatan SMA akan segera dinikahkan agar keluarga perempuan

21Wawancara; Okilia Zega. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias pada tanggal 25 Oktober 2020

22Wawancara; Okilia Zega. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias pada tanggal 25 Oktober 2020

(43)

28 mendapat kedudukan adatnya karena perempuan yang tamatan SMA dianggap lebih berharga untuk dinikahkan dibanding perempuan yang lain yang hanya tamatan SD.

Pola pikir masyarakat ini terjadi karena minimnya informasi tentang pentingnya pendidikan mereka beranggapan bahwa perempuan hanya dapat dinikahkan dan bekerja didapur. Hal ini terjadi karena tidak adanya perguran tinggi dalam daerah, jika keluar daerah akan memakan biaya yang tinggi dan ketakutan orangtua terhadap kehidupan perkotaan.

Tabel 8

Perkembangan Jumlah Ternak di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 dan 1990

No Ternak 1980 Tahun 1990

1 Babi 16.220 37.260

2 Ayam 39.810 63.1990

3 Bebek 715 1.061

Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980 dan 1990

Dari tabel 8, dapat disimpulkan masyarakat Kota Gunungsitoli beternak 3 ternak komoditas utama. Babi dibutuhkan untuk keperluan dalam daerah, masyarakat Nias menganut adat yang membutuhkan daging hewan babi, sehingga babi di Kota Gunungsitoli untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Kemudian Ayam digunakan juga untuk pemenuhan kebutuhan dalam daerah sendiri dan selebihnya di

(44)

29 impor luar daerah. Bebek dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga masyarakat Kota Gunungsitoli untuk dan selebihnya di impor ke luar daerah.

2.3.4.3 Perikanan

Pulau Nias berbentuk sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut bebas. Sehingga sektor selanjutnya yang menjadi mata pencaharian masyarakat adalah yang berhubungan dengan laut. Hanya masyarakat yang berada di pinggir laut yang umumnya bekerja sebagai nelayan. Di Pulau Nias, dahulu ini dilakukan oleh pendatang (Minang dan Aceh) yang kemudian diikuti oleh masyarakat Nias.

Sedangkan masyarkat di pedalaman yang tidak dekat dengan laut mengenal usaha mencari ikan di sungai dan membuat keramba yang diprioritaskan untuk dikonsumsi sendiri sebagai lauk pauk.

Tabel 9

Perkembangan Jumlah Produksi Ikan(ton) di Kota Gunungsitoli Tahun 1980 dan 1990

No Jenis Ikan Tahun 1980 Tahun 1990

1 Air Laut 56.500 632,7

2 Air Tawar 8.000 728,2

Sumber: Data Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 1980 dan 1990

Dari tabel 9, dapat disimpulkan bahwa jumlah produksi ikan pada tahun 1980 sebanyak 56.500 ton dan menurun pada tahun 1990 sebanyak 632,7 ton. Begitu

(45)

30 halnya dengan produksi ikan air tawar, pada tahun 1980 sebanyak 8.000 ton yang kemudian pada tahun 1990 mengalami penurunan sebanyak 728,2 ton.

(46)

31 BAB III

SEJARAH BERDIRINYA IKIP GUNUNGSITOLI

3.1 Latar Belakang Pembangan

3.1.1 Kondisi Pendidikan Nasional

Pada permulaan 1950, pendidikan nasional mengalami banyak permasalahan.

Salah satunya adalah pendidikan yang terganggu oleh dinamika politik Indonesia saat itu, dimulai dari Kementerian Pendidikan sampai pada organisasi guru yang berafiliasi dengan anggota-anggota politik kanan maupun politik kiri. Perpecahan ini mengakibatkan terganggunya sistem pendidikan yang membawa pada menurunnya kualitas guru-guru saat itu. Permasalahan selanjutnya adalah banyaknya anak Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan. Dalam laporan yang disusun oleh Balai Tertulis Pendidikan Guru Bandung pada tahun 1950 dicantumkan bahwa diseluruh Indonesia terdapat 12 juta anak dari golongan 6-12 tahun, yang bersekolah berjumlah 4,5 juta sedangkan yang tidak bersekolah sebanyak 7,5 juta anak. 23 Karena Pemerintah Indonesia sudah mengambil keputusan bahwa setiap anak umur 6-12 tahun harus mendapatkan kesempatan belajar maka konsekuensinya adalah bahwa sekolah-sekolah baru harus didirikan, dan guru-guru baru untuk sekolah baru itu harus dipersiapkan. Defisit guru telah pada puncaknya pada saat guru SGA yang menurut rencana akan ditempatkan sebagai guru SD didongkrak untuk menjadi guru

23Mochtar Buchori, Evaluasi Pendidikan di Indonesia Dari Kweekschool Sampai Ke IKIP 1825- 1998. Yogyakarta: INSISTPress, 2007 hal. 86

(47)

32 SMP dan SGB. Melihat kondisi ini maka diperlukan adanya suatu wadah pendidikan guru profesional yang dapat dipergunakan untuk menjadi guru-guru di sekolah menengah. Maka didirikanlah PTPG pada tahun 1954 yang kemudian pada 1957 diubah statusnya dari perguruan tinggi yang berdiri sendiri menjadi bagian dari universitas yang terdekat (FKIP) hingga tahun-tahun berikutnya terjadi perkembangan yang akhirnya terbentuklah IKIP.

Kondisi tersebut tentu berpengaruh pada daerah, termasuk wilayah Nias.

Pendirian sekolah-sekolah baru lebih gencar dilaksanakan pada tahun 1950, yang tentunya membutuhkan guru-guru yang banyak. Pemenuhan guru tidak dapat ditanggulangi oleh SPG yang lehih dahulu telah berdiri, untuk itu perlu didirikan pendidikan guru yang professional untuk menaggulangi hal tersebut. Maka kehadiran IKIP Gunungsitoli tentu ada hubungannya dengan kondisi pendidikan secara nasional.

3.1.1 Falsafah Masyarakat Nias

Falsafah adalah suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta. Bila seseorang dalam keadaan krisis atau menghadapi masalah yang sulit, maka kepadanya dapat diajukan pertanyaan bagaimana menghadapi keadaan semacam itu.

Bentuk pertanyaan ini membutuhkan jawaban secara filosofis.24 Dari jawaban

24 Ahmad Sulton, “Filsafah Nusantara Sebagai Jalan Ketiga Antara Falsafah Barat dan Falsafah Timur” Jurnal UIN Vol. 17, 2016 hal. 20

(48)

33 tersebut memunculkan gagasan/ide yang bersumber dari pemikiran yang kemudian menghasilkan pandangan hidup untuk dianut.

Falsafah hadir ditengah masyarakat sebagai pemecah masalah-masalah selama sedang berlangsungnya interaksi sosial dalam masyarakat. Masing-masing suku di Indonesia memiliki pandangan hidup akibat dari perbedaan adat istiadat, kondisi geografis dan kondisi kebudayaannya.

Masyarakat Nias memiliki falsafah Sökhi Mate Moroi Aila yang artinya lebih baik mati daripada malu. Masyarakat Nias dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari sistem adat, seperti pada acara keagamaan, kelahiran, perkawinan, kematian, musim menanam, musim menuai dan berkunjung ke rumah saudara semuanya memiliki tata cara adat/sistem adat yang dianut. Sistem adat ini memberi dampak pada kenaikan status sosial (bosi) seseorang/keluarga bagi yang dapat menjalankannya. Sebagai contoh dalam adat pernikahan, dimintanya jujuran (böwö) yang besar dan ditambah dengan rangkaian acara pesta adat (owasa) besar-besaran yang memakan begitu banyak biaya, mau tidak mau untuk mendapatkan status sosialnya masyarakat berusaha untuk dapat memenuhinya. Walaupun bagi keluarga yang tidak mampu akan bersedia untuk berhutang dan menempuh berbagai macam cara yang cenderung merugikan diri sendiri dan keluarga agar pesta tersebut dapat terlaksana. Dampak dari perlakuan ini, keluarga baru yang baru saja menikah jatuh miskin karena memprioritaskan membayar hutangnya terlebih dahulu pada saat acara pernikahannya. Hal ini terus

(49)

34 berlanjut ke keturunannya, kondisi ini salah satu yang menyebabkan kemiskinan di Nias. Biaya acara adat yang begitu besar untuk mendapatkan status sosial di tengah masyarkat. Jadi meskipun terjadi proses “memiskinkan”, adat istiadat itu kemudian harus dilaksanakan agar tidak ingin dipermalukan dan juga supaya dipandang di tengah masyarakat dalam mendapat status sosialnya.25 Contoh lainnya bila seseorang bertamu di suatu keluarga, maka keluarga tersebut meskipun tidak mampu secara ekonomi akan mencoba ddengan segala upaya mengadakan pesta kecil untuk menyambut tamunya yang dihormati. Hal-hal seperti ini merupakan beberapa faktor yang membuat masyaarkat Nias menganut falsafah Sökhi Mate Moroi Aila, lebih baik mati karena miskin daripada dipermalukan karena tidak tau adat.

Falsafah ini kemudian diturunkan turun temurun yang kemudian merambat pada bidang kehidupan sosial lainnya, tidak lagi hanya terbatas pada acara adat tetapi juga pada bidang-bidang lain yang dianggap dapat memberi kedudukan atau tidak bisa dipermalukan oleh orang lain. Seperti contoh, para perantauan sering melakukan perkelahian dan pembunuhan hanya karna hal sepele agar tidak dianggap lemah (dipermalukan) walaupun merugikan diri sendiri yang berakibat dipenjara ataupun mati terbunuh.26

Namun, falsafah ini juga mengandung nilai positif. Tidak dapat dipungkiri bahwa falsafah ini telah mendorong usaha-usaha untuk meningkatkan martabat

25Faoziduhu Lahagu, “Kesempatan dan Kendala Berkonstektualisasi Terhadap Filsafat Sökhi Mate Moroi Aila”, Artikel Pergumulan Gereja Nias, 2013 hal. 4

26P. Thomas Maduwu, “Sökhi Mate Moroi Aila”, Jurnal Pusaka Nias Dalam Warisan, Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2010 hal. 129

(50)

35 keluarga atau martabat pribadi. Misalnya bersekolah dan meraih gelar setinggi- tingginya, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.27 Tujuan dari falsafah ini sebenarnya adalah untuk mendapatkan kedudukan status sosial dalam masyarakat.

Falsafah ini juga berperan penting dalam memajukan dunia pendidikan di daerah Nias. Adapun beberapa faktor yang menjadi pola pikir masyarakat yang menjadi alasan terciptanya kemajuan dunia pendidikan sambil mencapai tujuan falsafah tersebut.

1. Salah satu pandangan bahwa patokan kesuksesan di daerah Nias adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pegawai Negeri Sipil dianggap sukses karna mendapat gaji bulanan tidak peduli musim apapun, sedangkan mayoritas masyarakat sebagai petani penghasilannya dipengaruhi oleh musim dan kondisi tanah. Untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil tentu lebih berpeluang besar bagi yang pendidikannya tinggi dan salah satu profesi yang banyak mendapat kuota Calon Penerimaan Pegawai Negeri Sipil adalah menjadi guru karena pada saat itu sedang dibutuhkan guru yang banyak. Guru di kepulauan Nias didominasi oleh lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG) sebelum didirikannya IKIP Gunungsitoli.

Sedangkan Sekolah Profesi Guru setara dengan Sekolah Menengah Atas, maka peluang besar menjadi PNS ditempati oleh lulusan perguruan tinggi bidang keguruan.28

27Faoziduhu., Op. Cit hal.3

28Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias pada tanggal 26 Oktober 2020

(51)

36 2. Guru termasuk pimpinan masyarakat. Masyarakat Nias menghormati guru sebagai pembawa kemajuan, dapat membaca menulis adalah hasil pengajaran. Orangtua mempercayakan sepenuhnya kepada guru atau pihak sekolah pendidikan anak mereka, tugas dan tanggungjawabnya sangat berat. Disamping itu pada umumnya orangtua memiliki pendidikan yang relatif rendah sehingga tidak perlu mencampuri urusan sekolah. Masyarakat juga menganggap guru dapat memberi informasi tentang lanjutan sekolah yang tamat dari desa. Guru dianggap punya pengetahuan yang luas serta pengalaman yang banyak, sehingga menjadi tempat bertanya masyarakat.29

Kedua faktor di atas bertujuan untuk mendapat kedudukan di tengah masyarakat agar dianggap sebagai pemimpin,berpengetahuan dan berpengaruh.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut maka dirasa perlu untuk mendirikan perguruan tinggi pendidikan guru walaupun sumber dayanya sangat minim. Yang sejalan dengan falsafah Sökhi Mate Moroi Aila. Lebih baik kekurangan daripada malu tidak punya sama sekali.

29Departemen Pendidikan dan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Daerah, Sistem Kesatuan Hidup Daerah Sumatera Utara, Jakarta: Departemen Pendidikan, 1982 hal. 120

(52)

37 3.1.2 Kondisi Pendidikan

3.1.2.1 Kekurangan Guru

Hadirnya pendidikan formal di Nias berawal dari datangnya misionaris Kristen.

Mereka mendirikan sekolah sebagai tempat mendidik calon guru untuk kepentingan penyebaran Agama Kristen di daerah Nias. Misionaris yang datang atas permintaan pemerintah Belanda di Nias untuk mengembangkan Agama Kristen yang kemudian didirikannyalah sekolah-sekolah Misionaris yaitu sekolah anak-anak, sekolah seminari dan sekolah pendeta.30 Tujuan dari pendirian ini adalah untuk menghasilkan tenaga penginjil dan tenaga pengajar untuk menyebarluaskan agama Kristen

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini bercikal bakal dari sistem pendidikan yang diberlakukan Belanda pada saat menguasai Indonesia. Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan perkembangan dari sitem pendidikan semasa kependudukan Belanda. Belanda mendirikan sekolah di Indonesia bukan karena mereka peduli dengan kondisi pendidikan anak-anak Indonesia, pendirian sekolah ini semata-mata bertujuan untuk kepentingan Belanda sendiri. Mereka mendirikan sekolah dengan bersifat diskriminasi rasial, adanya pengotak-kotakan sekolah untuk anak Belanda, sekolah untuk priyayi dan sekolah untuk pribumi. Tujuan mereka memberi pendidikan bagi anak-anak Indonesia adalah untuk menggeruk keuntungan sendiri. Sekolah-sekolah

30Felix Yanto Ziliwu, “Peranan Misionaris Jerman Dalam Perkembangan Pendidikan Di Pulau Nias”. Tesis, Medan: FIS Unimed, 2016 hal. 4

(53)

38 tersebut diharapkan dapat menghasilkan para pegawai yang bekerja untuk pemerintahan kolonial di Indonesia dan diharapkan anak-anak Indo-Belanda memiliki rasa nasionalisme mereka terhadap Belanda yang akan menguntungkan pihak Belanda. Permasalahan pengotak-kotakan ini juga terjadi pada penyediaan guru, guru di sekolah anak Belanda didatangkan dari negeri Belanda sedangkan untuk pribumi diambil dari warga-warga desa yang bisa membaca dan menulis. Perkembangan pendidikan terus berlanjut hingga menyentuh “politik etis” yaitu politik untuk mensejahterakan kehidupan tanah jajahan dengan didirikan sarana-sarana pendidikan juga tidak berdampak banyak. Sekolah-sekolah umum yang dibuka untuk anak-anak Indonesia mulai ada sejak Belanda tidak lagi fokus untuk menyebarkan agama Kristen. Sekolah umum seperti Sekolah Desa (Volksschol), Holland Inlands School (HIS), Meer Uitgebberied Lager Onderwijs (MULO), Hogere Burger School (HBS) dan Algeme Middelbere School (AMS) telah dibuka di Pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya, namun tetap dibedakan kelas bagi pribumi dan anak-anak Belanda.

Untuk daerah Nias belum diketahui pasti kapan terbentuknya sekolah umum.

Pada masa Liberal (1816-1891) kurikulum sekolah mengalami perubahan, masyarakat menaruh kepercayaan akan kekuasaan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian ilmiah empiris. Tujuan pendidikan bukan lagi sekedar memupuk rasa takut akan Tuhan dan pusat studi bukan lagi Kitab Injil. Pendidikan ditujukan kepada kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial dan usaha mencapai

(54)

39 tujuan-tujuan sekuler lainnya.31 Sehingga dapat dipastikan bahwa sekolah di Nias yang didirikan oleh para Misionaris berubah menjadi sekolah umum. Sekolah-sekolah umum ini kemudian mendapat tenaga pengajar dari Kwewkschool Tano Bato yang datang ke Gunungsitoli.32 Yang kemudian setelah kemerdekaan terus mengalami perkembangan sehingga pada tahun 1980, Gunungsitoli memilki 78 SD, 15 SMP dan 9 SMA.

Untuk memenuhi kebutuhan guru di Kabupaten Nias dihadirkan guru-guru luar orang Nias ataupun lulusan dari luar Nias. Hal ini disebabkan tidak adanya sarana yang memadai dalam Kabupaten Nias yang dapat mencetak guru-guru yang baik.

Pada awalnya memang sudah terbentuk Sekolah Profesi Guru (SPG) sebelum didirikannya IKIP Gunungsitoli, lulusan sekolah profesi ini satu-satunya guru yang terpelajar yang dapat dipekerjakan sebagai tenaga guru di Kabupaten Nias di luar dari guru-guru yang diambil dari luar daerah.33 Namun lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG) ini pun tidak serta merta mau jadi guru, mereka berpendidikan SPG hanya karena ingin diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) lalu ketika telah diangkat para lulusan ini berlomba-lomba bekerja di perkantoran Dinas bidang pendidikan. Alasan paling besar mengapa mereka tidak mau jadi guru adalah karena kondisi sekolah yang terpencil, yang harus berjalan kaki, penuh lumpur belum lagi dengan rampok, ini

31S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2018 hal. 9

32Masjkuri, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara. Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980 hal. 34

33Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli pada tangga;

26 Oktober 2020

(55)

40 menjadi pertimbangan bagi mereka untuk berlomba kerja di kantor dinas yang berada di kota.

Kekurangan guru di Nias bukan saja kekurangan secara kuantitas namun juga secaara kualitas. Terdapatnya guru-guru pembantu/honorer dari warga desa yang syaratnya hanya bisa membaca dan menulis tidak dapat diharapkan untuk memajukan pendidikan. Guru bertanggungjawab menstraferkan ilmunya. Mereka diharapkan profesional dalam cara mengajar dan memiliki wawasan yang luas. Guru tidak hanya mampu mengajari anak didiknya menulis dan membaca namun juga dapat memberi wawasan kepada anak didiknya bagaimana perkembangan-perkembangan yang terjadi di luar daerah mereka. Begitu halnya dengan lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG). Lulusan SPG ini tidak mampu berbuat banyak dalam hal mengajar karena tingkat pendidikannya setara dengan sekolah menengah atas, ilmunya masih sedikit dibanding dengan lulusan perguruan tinggi. Belum lagi sikap acuh tak acuh mereka.

Guru kadang datang sekali seminggu, bahwa ada yang sekali sebulan karena memang motivasinya belajar di SPG bukanlah menjadi guru namun untuk mendapatkan pekerjaan.34 Hal-hal di atas yang makin memperburuk keadaan guru di Kabupaten Nias.

34Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli pada tanggal 26 Oktober 2020

(56)

41 Untuk mensuplai guru yang profesional maka dirasa perlu untuk mendirikan sarana yang dapat mencetak guru-guru profesional. Profesional dalam arti memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikan sekolah menengah atas sederajat.

3.1.2.2 Kekurangan sumber daya manusia

Salah satu daerah yang sangat tertinggal di Indonesia berada di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Nias. Di kabupaten ini pada tahun 1983 terdapat 64% desa tertinggal , yang pada berikutnya oleh pemerintah pusat menyatakan semua desanya adalah penerima IDT ( inpres desa tertinggal ).35 Sebenarnya daerah nias yang dikelilingi laut memiliki potensi yang cukup besar di berbagai bidang antara lain , di bidang pertanian , perikanan dan pariwisata. Namun potensi ini kurang dapat dimanfaatkan karena kurangnya pembiayaan serta rendahnya sumber daya manusia yang tersedia . Sumber daya ini terhambat oleh rendahnya tingkat pendidikan penduduk, walaupun pembagunan pendidikan telah dilaksankan semenjak awal yakni, jauh sebelum Indonesia merdeka oleh kaum misionaris dan mencapai puncaknya pada dekade 1980-an. Sebagian besar penduduk belum menikmati bangku sekolah dasar. Artinya sebagian besar dari penduduk Nias tentu tidak mampu untuk membaca dan menulis, kurang mampu berbahasa Indonesia dan buta pengetahuan dasar. Mutu sumber daya manusia jauh lebih rendah dibandingkan mutu sumber daya manusia di kabupaten lainnya di Sumatera Utara. Sementara itu, mereka yang

35Talizaro Gulo, “Kebijakan Dalam Upaya Memerangi Kemiskinan”, Tesis. Medan: USU Press, 2014 hal. 1

(57)

42 berpendidikan yakni tamatan SLTA ke atas, umumnya meninggalkan Nias dan mengadu nasib di daerah yang lebih layak. Kondisi ini tidak menunjang pembangunan daerah, sebab pembangunan ekonomi harus mengutamakan pembangunan berpendidikan.36 Berpendidikan bukan berarti hanya memiliki gelar namun bertujuan untuk menciptakan intergritas atau kesempurnaan pribadi.

Intergritas itu mengangkat jasmaniah , emosional dan etis. Melihat kondisi di atas pemerintah berkewajiban untuk menanggulangi hal tersebut, terkhusus di Nias, masyarakat tidak memiliki sumber daya manusia yang memadai akibat dari miskinnya ilmu pengetahuan yang disebabkan oleh:

1. Tingkat pendidikan rata rata masyarakat Nias relatif rendah, khususnya yang bertempat tinggal di pedesaan dan kebanyakaan tidak menduduki bangku sekolah dasar.

2. Sumber daya informasi yang tersedia relatif kurang , misalnya surat kabar tidak menyebar hingga ke pedesaan , begitu pula dengan TV dan radio yang suaranya sulit dimengerti karena kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia

3. Tidak adanya lembaga – lembaga yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dasar mereka37

Untuk itu, poin ketiga dari hal tersebut di atas dirasa dapat ditanggulangi oleh salah satunya yaitu, didirikannya sebuah perguruan tinggi di Nias . Latar

36Robinson Tarigan, “Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Tingkat Pendapatan Perbandingan Antara Empat Hasil Penelitian”, Jurnal Wawasan Vol. II No. 3, Medan: USU, 2006 hal. 26

37Talizaro,. Op. Cit hal. 80

Referensi

Dokumen terkait

Kelimpahan tertinggi sebanyak 0,5 individu/m 2 di Stasiun E, pada lokasi ini terdapat area pelumpang tempat menampung bahan bakar minyak untuk kawasan Pulau

Realitas politik yang menunjukkan masih rendahnya keterwakilan perempuan di DPRD yaitu masih berada di bawah proporsi, hal ini menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan

Hasil analisis data yang telah diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode talking stick dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi

DALAM suatu rapat pada awal tahun 1994 Senat Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung

Kemampuan Akhir yang Diharapkan Metode Pembelajaran Pengalaman Belajar Mahasiswa (Deskripsi Tugas) Kriteria Penilaian (Indikator) Bobot Nilai diharapkan dapat menganalisis

Hasil uji kolerasi antara pembagian kerja domestik dengan variabel lainya menunjukan bahwa yang terdapat hubungan yang signifikan yaitu antara pembagiaan kerja domestic

Dari hasil tersebut maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa Budaya Kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan.

Sebagai pembanding lainnya, jika rata-rata industri atau koperasi menetapkan target penjualan persediaan adalah 22 hari, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas