• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C. Lembaga Keuangan Bank

5. Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

a. Perkembangan sebelum UU No. 10 Tahun 1998

Dalam bukunya, Ascarya dan Diana Yumanita menuliskan bahwa Perbankan Syariah mulai berdiri di Indonesia semenjak tahun 1992. Sebelumnya pemerintah belum memiliki komitmen untuk mengembangkan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia. Perkembangan ini ditandai dengan di buatnya UU No 7 tahun 1992 tentang lembaga keuangan berdasarkan prisip bagi hasil. Dan di tulis lebih rinci lagi pada undang No. 72 tahun 1992. Dalam undang-undang tersebut tidak begitu banyak memuat tentang prinsip bagi hasil. Karena dalam bank syariah sendiri prinsip bagi hasil memiliki cakupan yang lebih luas. Oleh karena itu, UU No. 7 Tahun 1992 dan PP No. 72 Tahun 1992 belum memberikan landasan hukum yang cukup kuat untuk pengembangan bank syariah di Indonesia karena bank syariah hanya dipahami sebagai bank bagi hasil yang selanjutnya harus tunduk pada peraturan perbankan umum konvensional. Selain itu, juga belum ada ketentuan-ketentuan operasional yang mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan bank syariah. Bank syariah yang ada pada saat itu tentu saja mengalami banyak kesulitan dalam mengembangkan kegiatan operasional. Institusi-institusi pendukung juga belum ada karena pemerintah belum sungguh-sungguh memberikan dukungan untuk perkembangan bank syariah. Dengan UU No. 7 Tahun 1992 dan PP No. 72 Tahun 1992, Pemerintah sebenarnya sudah mulai memperkenalkan sistem perbankan ganda atau dual banking system pada sistem perbankan walaupun belum menerapkannya.

Sedangkan dalam perkembangan usahanya sebelum UU No. 10 tahun 1998, jumlah bank syariah di Indonesia baru sebuah, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Pada saat itu posisi pemerintah sendiri belum membuka sepenuhnya

terhadap peluang pendirian perbankan syariah. Hal ini tampak pada landasan hukum bank syariah yang tertuang di dalam UU No. 7 tahun 1992 (Ascarya dan Diana Yumanita. 2005, 05).

Berdasarkan suatu penelitian oleh Merza Gamal pada semester akhir tahun 2005 terhadap sekitar 3.200 nasabah bank syariah di seluruh Indonesia, diketahui bahwa lebih 70% nasabah memilih bank syariah dalam melakukan transaksi perbankan dengan alasan utama sesuai keyakinan agama. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menginginkan dalam melakukan transaksi keuangan tidak bertentangan dengan keyakinan agama. Alasan utama lainya yang menyebabkan nasabah memilih bak syariah adalah karena pelayanan bank syariah yang cepat dan memuaskan sebesar 38% serta karena lokasi kantor bank yang strategis sebesar 30%, di samping alasan-alasan rasional lainnya. Dapat pula diketahui, bahwa pada saat ini, berdasarkan penelitian tersebut, nasabah bank syariah tersebut sebanyak hampir 66% masih menggunakan bank konvensional di samping bertransaksi dengan bank syariah. Alasan utama yang menyebabkan nasabah bank syariah masih menjadi nasabah bank konvensional adalah karena alasan-alasan rasional dalam kemudahan transaksi keuangan. Mereka sangat mengharapkan jaringan bank syariah dapat diperluas serta bank syariah dapat meningkatkan pelayanan dan produk yang dapat mengakomodasikan kebutuhan mereka dalam transaksi keuangan. Dari sisi pendidikan, lebih dari dua pertiga nasabah bank syariah merupakan lulusan perguruan tinggi. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang menjadi nasabah bank syariah bukan hanya karena faktor emosional belaka, melainkan juga karena rasionalitas dalam kebutuhan perbankan dan ekonomi lainnya tanpa meninggalkan keyakinan agama.

b. Perkembangan sesudah UU No.10 Tahun 1998

Tahun 1998 merupakan tonggak bersejarah bagi perkembangan perbankan syariah di Indonesia ketika Pemerintah memberikan komitmennya secara penuh. Pada tahun itu, UU No. 14 Tahun 1976 tentang pokok-pokok perbankan diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 yang memberikan landasan dan operasional untuk perkembangan perbankan syariah secara komprehensif. Oleh karena itu, landasan hukum perbankan syariah menjadi lebih kuat dan jelas. Dengan undang-undang ini, sisttem perbankan ganda diterapkan karena bank konvensional dan bank syariah diakui keberadaannya dan kedua-duanya sama-sama diatur dan diawasi oleh Bank Indonesia. Dengan undang-undang ini, bank umum maupun BPR dapat beroperasi berdasarkan prinsip syariah dan bank umum konvensional, melalui suatu mekanisme tertentu dari Bank Indonesia, dapat melakukan kegiatan usaha perbankan syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah (UUS). Amanah untuk mengembangkan perbankan syariah ini ditindaklanjuti oleh Bank Indonesia dengan mengeluarkan ketentuan mengenai kelambagaan dan jaringan kantor bagi bank umum syariah (BUS), bank umum konvensional (BUK) yang membuka Unit Usaha Syariah (UUS) dan Kantor Cabang Syariah (KCS), serta ketentuan mengenai BPR Syariah (BPRS) (Ascarya dan Diana Yumanita. 2005).

Setelah diakomodasinya Bank Syariah pada Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998, maka dari tahun 2000 hingga tahun 2004, dapat dirasakan pertumbuhan Bank Syariah cukup tinggi, rata-rata lebih dari 50% setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2003 dan 2004, pertumbuhan Bank Syariah melebihi 90% dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2005 dan 2006, dirasakan ada perlambatan, meskipun tetap tumbuh sebesar 37% dan 28%. Akan tetapi, walaupun dirasakan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia melambat,

sebenarnya pertumbuhan sebesar itu merupakan prestasi yang cukup baik. Perlu disadari, bahwa di tengah tekanan yang cukup berat terhadap stabilitas makroekonomi secara umum dan perbankan secara khusus, kondisi industri perbankan syariah tetap memperlihatkan peningkatan kinerja yang relatif baik. Di samping itu, dapat pula dipahami, bahwa meskipun share bank syariah pada saat ini (per November 2007) baru 1,756%, namun hal tersebut telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan share pada tahun 1999 yang hanya 0,11% (Merza Gamal, 2008).

Tabel 2.1 Kontribusi Terhadap Aset Perbankan Nasional Jumlah Aset (Miliar Rp) Aset Nasional (miliar Rp) Kontribusi Terhadap Aset Nasional Dec-00 1,790 984,500 0,18% Jun-01 2,269 1,057,992 0,21% Dec-01 2,719 1,039,925 0,26% Jun-02 3,312 999,987 0,33%

Dec-02 4,045 1,059,816 0,38%

Jun-03 5,302 1,058,146 0,50%

Dec-03 7,856 1,026,016 0,74%

Jun-04 11,023 1,124,828 0,98%

Nop-04 14,190 1,204,160 1,11%

Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia, diolah

Penilaian Kesehatan Bank

Penilaian kesehatan bank dilakukan setiap tahun untuk dilihat apakah ada peningkatan atau penurunan dalam kinerjanya. Dalam penilaian kesehatan bank BI memiliki aspek penilaian sebagai berikut :

a. Aspek permodalan (Solvabilitas)

Penilaian pada aspek permodalan didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital Adequacy Ratio) yang telah ditetapkan Bank Indonesia. CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung resiko. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut : CAR = 100% ResikoX rut imbangMenu AktivaTert ModalBank

CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang beresiko. Sesuai dengan ketentuan pemerintah tahun 1999, bahwa nilai CAR minimal harus 8%.

Aspek ini digunakan untuk menilai jenis-jenis aset yang dimiliki oleh bank. Penilaian aset harus sesuai dengan peraturan Bank Indonesia dengan memperbandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan.

c. Aspek kualitas manajemen

Dalam aspek ini yang dinilai adalah manajemen permodalan, manajemen aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen likuiditas. Penilaian didasarkan kepada jawaban dari 250 pertanyaan yang diajukan mengenai manajemen bank yang bersangkutan.

d. Aspek likuiditas

Suatu bank dapat dikatan likuid apabila bank yang bersangkutan dapat membayar semua hutang-hutangnya, terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ditagih dan dapat pula memenuhi semua permohonan kredit yang layak dibiayai. Adapun cara perhitungan likuiditas suatu bank ada bermacam macam. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Current Ratio (CR) = 100% tangLancar X Hu ar AktivaLanc FDR = 100% intiX Modal KLBI TotalDPK rikan itYangDibe JumlahKred  

Current Ratio (CR) menunjukkan sejauh mana bank mampu untuk melakukan kewajiban lancarnya yang dijamin pembayarannya oleh aktiva lancar. Sedangkan Financing to Deposit Ratio (FDR) menunjukkan kemampuan suatu bank untuk membayar kembali kewajibannya kepada para deposan dengan menarik kembali kredit-kreditnya yang telah diberikan kepada para debiturnya. FDR yang terlalu rendah berarti banyak dana yang tidak dioptimalkan pemanfaatanya dalam bentuk penyaluran kredit. Sebaliknya, FDR yang terlalu

besar menunjukkan bahwa bank tersebut terlalu ekspansif dalam penyaluran kredit, di mana dana yang digunakan termasuk beresiko tinggi (fluktuasi tingkat bunga kredit pinjaman). Untuk menciptakan kondisi perbankan yang sehat, maka Bank Indonesia menetapkan batas minimal FDR yang harus dipenuhi suatu bank sebesar 85%-110%.

e. Aspek rentabilitas

Aspek ini merupakan ukuran kemampuan bank dalam meningkatkan labanya dalam setiap periode atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat. Pengukuran rentabilitas untuk mengetahui kinerja suatu bank yang lazim digunakan adalah :

Return on Asset (ROA) = X100%

tal rataAsetTo Rata

LabaBersih

Return on Equity (ROE) = X100%

dalSendiri RatarataMo LabaBersih BOPO = 100% tanOperasional X Pendapa sional BiayaOpera

Semua aspek penilaian di atas dikenal dengan penilaian analisis CAMEL (Capital, Management, Earning, dan Liquidity).

Dokumen terkait