• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

B. Hakekat Mahasiswa dan Perilaku Sosial

4. Perkembangan Perilaku Prososial pada Mahasiswa Dewasa Awal

menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan

oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini orang melibatkan diri secara khusus dalam karir, pernikahan, dan hidup bekeluarga. Menurut Erikson (1902-1994), perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan intergritas.

Menurut Peterson (Elisa & Yohanes, 2016) bertambahnya usia membuat individu dapat menjadi lebih empati, dapat memahami nilai, ataupun makna dari tindakan prososial yang dilakukkan oleh diri individu tersebut. Tetapi, pada jaman milineal seperti ini yang semuanya serba praktis, faktanya tidak semua pada perkembangan dewasa awal ini bersedia untuk mengembangkan perilaku prososial yang positif. Mahasiswa (Dewasa Awal) yang tidak mengembangkan perilaku prososial terlebih pada mahasiswa yang diluar pulau Jawa, akan cenderung menunjukkan perilaku yang kurang dapat bisa diterima oleh norma-norma masyarakat disekitarnya seperti tindakan perilaku antisosial. Ali & Asrori (Elisa & Yohanes, 2016) mengatakan bahwa pada usia dewasa ini tidak sedikit orang yang melakukan perilaku antisosial dikarenakan tugas-tugas perkembangan di masa-masa sebelumnya yang masih kurang berkembang secara baik.

5. Karakteristik Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019

a. Pemilihan Program Studi

Pada saat Mahasiswa Baru Bimbingan dan Konseling memutuskan untuk masuk SMA, mungkin Mahasiswa baru sudah memutuskan pula untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu di perguruan tinggi. Konsekuensinya, setelah lulus dari SMA nanti Mahasiswa baru harus berusaha keras agar dapat kuliah di perguruan tinggi yang disenangi-Nya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila mulai saat ini Mahasiswa baru sudah mempunyai rencana atau pandangan tentang perguruan tinggi mana yang akan Mahasiswa baru masuki serta jurusan apa yang Mahasiswa baru inginkan.

Agar Mahasiswa baru tidak gagal dalam mengikuti seleksi atau ujian masuk perguruan tinggi, maka mulai sekarang Mahasiswa baru harus sudah dapat merencanakan strategi dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:

a). Belajarlah mulai sekarang.

b). Setelah dinyatakan lulus, segeralah buat kelompok bersama teman-teman, baik untuk belajar maupun untuk sharing (saling berbagi) menyangkut jurusan di

perguruan tinggi yang akan dipilih. Hal ini penting untuk memotivasi semangat pada diri Mahasiswa baru.

c). Pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat, jangan hanya ikut-ikutan. Pilihan jurusan yang tepat yang dapat menambah kepercayaan diri serta dapat membakar motivasi belajar.

d). Prediksikanlah jumlah peminatnya berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya untuk mengatasi ketatnya kompetisi.

b. Cara Belajar di Perguruan Tinggi

Cara belajar di perguruan tinggi harus berdasarkan pada sikap mental dan perilaku yang baik. Sikap mental yang perlu dimiliki antara lain: (a) tujuan belajar, (b) minat terhadap pelajaran, (c) kepercayaan pada diri sendiri, (d) keuletan.

Agar dalam belajar dapat membuahkan hasil yang optimal sebaiknya: (a) tempat belajar memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, seperti tata ruangnya, cahaya, sirkulasi udara, serta suhu yang cocok; (b) kesehatan badan pun hendaknya diperhatikan, dengan menjaga pola tidur, pola makan, olahraga serta hiburan; (c) diusahakan agar tersedia perabotan belajar, seperti meja, kursi, lemari buku, serta peralatan tulis yang diperlukan. Hal yang lain diperhatikan ialah: (a) belajar secara

teratur, (b) belajar dengan penuh disiplin, (c) belajar dengan penuh konsentrasi dengan memusatkan pikiran terhadap pelajaran, dan (d) belajar dengan memanfaatkan perpustakaan.

Selain hal di atas, untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan prestasi dalam belajar, maka diperlukan: (a) minat yang besar terhadap mata kuliah, (b) memiliki tempat belajar yang memenuhi syarat, (c) membersihkan meja belajar dari segala sesuatu yang tidak hubungannya dengan pelajaran, (d) bertekad untuk senantiasa mencapai hasil yang optimal, (e) memelihara kesehatan badan dan memerhatikan tanda-tanda keletihan, (f) menghadiri kuliah secara tertib, mencatat uraian dosen dengan sebaik-baiknya dan mendalami buku-buku atau referensi yang telah ditentukan oleh dosen, (g) rajin mengunjungi perpustakaan fakultas ataupun perpustakaan umum, (h) membiasakan diri untuk membaca jurnal-jurnal nasional maupun jurnal-jurnal internasional untuk menambah wawasan.

Kebiasaan baik dalam membaca buku yang perlu dilaksanakan, yaitu: (a) memperhatikan kesehatan membaca, (b) menyusun rencana waktu untuk membaca buku, (c) membuat tanda-tanda atau catatan-catatan dengan alat tulis ketika membaca bukunya sendiri, (d) membaca sungguh-sungguh terhadap buku

yang dibacanya sehingga menguasai isinya, (e) membaca dengan konsentrasi penuh.

Adapun kesehatan membaca yang perlu diperhatikan adalah (a) sewaktu membaca hendaknya sekali-sekali memenjamkan mata atau melihat ke arah jauh, (b) cahaya datang dari arah kiri atau belakang serta tiada bayangan pada halaman buku yang sedang di baca, (c) buku yang dibaca tidak terletak mendatar di atas meja, melainkan dipegang agak tegak oleh tangan dengan jarak 25-30 cm dari mata, (d) cahaya hendaknya cukup, tidak terlalu gelap atau terlalu terang, (e) lamanya membaca 1-2 jam dengan istirahat 5-10 menit, dan (f) mata perlu dirawat sebaik-baiknya.

Cara membaca buku dapat dilakukan dengan tiga cara: (a) membaca secara urut, dari halaman pertama terus sampai halaman terakhir, (b) membaca dari halaman awal, tetapi selama buku belum lama dibaca maka bila akan dibaca lagi pada kesempatan lain, harus dibaca lagi dari permulaan, (c) membaca secara melompat-lompat tanpa mengikuti urutan bab, melainkan hanya dibaca pada bab-bab yang dibutuhkan saja.

Adapun cara menandai buku dapat dilakukan dengan cara: (a) membutuhkan berbagai tanda dengan stabilo pada uraian-uraian yang dianggap penting, dapat juga dengan memberi garis bawah

atau tanda bintang, (b) membuat catatan-catatan tulisan di pinggir halaman buku, (c) melipat ujung halaman yang memuat uraian yang dianggap penting, dan (d) menyusun semacam indeks pribadi pada bagian belakang dari buku.

Sebenarnya cara belajar yang baik tidaklah terlampau sulit.

Yang sulit dan berat adalah menimbulkan kemauan yang besar untuk belajar dengan cara yang baik. Semua orang mengetahui bahwa belajar sambil tiduran itu tidak baik, tetapi banyak dari kita yang tidak mau meninggalkan cara ini. Jadi, mereka bukannya tidak mampu belajar dengan cara duduk di kursi dan berhadapan dengan meja, tetapi hanya segan menjalaninya.

Keinginan untuk belajar dengan cara yang baik hanya akan tumbuh pada diri sesesorang yang telah sadar akan pentingnya kecakapan belajar secara baik. Dengan belajar secara baik, maka pelajaran-pelajaran akan dapat dikuasai sepenuhnya. Dengan menguasai materi-materi pelajaran, maka ujian akan dapat ditempuh dengan berhasil. Bahkan belajar dengan cara yang baik dapat membentuk watak yang baik pula (Gie, 1979:163)

6. Kebutuhan – kebutuhan dan Perkembangan Perilaku Prososial