EVALUASI ATAS PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA PENDUKUNG
B. PERKEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA PENDUKUNG 1. Perkembangan IT
Pekembangan teknologi informasi di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI dikelola oleh Bidang Data dan Sarana Informasi (BDSI) yang merupakan salah satu unit organisasi Sekretariat Jenderal DPR RI. BDSI mempunyai tugas untuk melaksanakan pengolahan data dan informasi, pemeliharaan, serta pengembangan sistem jaringan komputer.
Kegiatan Bidang Data dan sarana Informasi untuk merealisasikan output disusun dalam Sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi DPR RI yang meliputi lima aspek pokok teknologi informasi dan komunikasi (TIK) , yaitu: pertama, brainware yang terdiri dari personil sebanyak 26 orang, di mana pejabat fungsional umum 8 orang dan fungsional pranata komputer berjumlah 18 orang.
Kedua netware, yaitu koneksi local area network (LAN) fiber optic dari core switch ke backbone ke tiap gedung, jumlah jaringan sampai dengan Januari 2012 yaitu 2.887 user/ pemakai jaringan dengan menggunakan kabel
65
dan WIFI 269 hotspot. Bandwidth internet 155 Mbps dengan rasio upload dan download 1:1; dan terbentuknya website www.dpr.go.id. Secara khusus, menurut www.alexa.com (website yang mengkhususkan dalam bidang ranking website internasional), website www.dpr.go.id menempati urutan/ranking:
1. Kategori regional asia di Indonesia dengan jumlah website 1.483, website www.dpr.go.id menempati ranking 2 per 17 Mei 2011.
2. Kategori regional asia di Indonesia untuk website pemerintah dengan jumlah website 85 pemerintah, DPR RI www.dpr.go.id menempati ranking 1 per 17 Mei 2011.
3. Rentang Nilai yang dilakukan oleh www.google.com antara 1 s.d. 10, website DPR RI telah mencapai nilai 8.
Beberapa perkembangan tentang website yang dimiliki oleh DPR RI menunjukkan peningkatakan, seperti:
1. Pengakses (hit counter) sampai dengan 4 Juni 2012 dengan 34.355.531 hit counter.
2. Pengakses/pengguna bandwidth masuk ke www.dpr.go.id sudah mencapai 155 s.d 295 Giga Byte perbulan.
3. Langganan bandwidth internet 155 Mbps, dengan penggunaan seluruh user mencapai 159,71 Mbps.
4. Keamanan jaringan dan website dilakukan oleh pranata komputer dengan sistem pemantauan yang terekam (log file), sehingga dapat diketahui / terdeteksi siapa dan dari mana para pengunjung website yang mencoba mengganggu.
5. Isi (content) website internet www.dpr.go.id antara lain memuat:
a. Tentang DPR (al.: sejarah, tatib, tugas, kedudukan, keanggotaan, persidangan, Proses pembahasan RUU).
b. Keanggotaan (seluruh, per fraksi, per komisi, per Dapil).
c. Streaming TV parlemen online.
d. UU mulai dari 1946 s.d 2012.
e. RUU yang sedang dibahas.
f. RUU yang sudah disetujui.
g. Hasil hasil / laporan singkat rapat-rapat DPR.
66 h. Jadwal harian.
i. Agenda rapat bulanan.
j. Link Aplikasi yang terdiri dari:
1) Pengaduan Masyarakat online http://pengaduan.dpr.go.id dan SMS aspirasi: 0811 9 44 33 44
2) Layanan Informasi Publik, http://ppid.dpr.go.id
3) Layanan pengadaan secara elektronik / LPSE, http://lpse.dpr.go.id
4. Link website kementerian / lembaga Pemerintah
Ketiga, dataware yang telah dimiliki oleh Setjen DPR RI juga menunjukkan perkembangan seperti:
1. Total space data 2,4 Tera Byte (TB).
2. Data server share 1,08 TB.
3. Bidang Data dan Sarana Informasi memiliki 72.989 file, 100 Gega Byte (GB), folder bersama 14.895 file, 9 GB, Pemberitaan 500 GB, dan Data Setjen 34 GB, data aplikasi server 218 GB, data APBN 112 GB, dan data Komisi 110 GB.
Keempat, software yang telah dimiliki oleh Setjen DPR RI juga menunjukkan perkembangan seperti:
1. Kebijakan berupa Pedoman Teknologi Informasi dan Komunikasi DPR.
2. Pengembangan Sistem seperti:
a. Operating system (OS) Server: Windows server & Linux.
b. Database : MySQL dan MsQL
c. Aplikasi : Php, Java Script, dan Html.
d. End user :
1) Unit kerja: OS dan office system desktop PC dan notebook di tiap unit kerja disesuaikan dengan OS yang telah tersedia.
2) Bidang Data: Windows dan OS Linux: Ubuntu dan Garuda.
Kelima, hardware yang telah dimiliki oleh Setjen DPR RI juga menunjukkan perkembangan seperti:
67
1. Server yang dimiliki berjumlah 57 unit yang dikelola dalam satu ruang khusus dengan monitoing 24 jam dengan sistem piket.
2. Backbone switch yang dimiliki 96 tersebar di 48 tempat.
3. Infrastruktur yang dikembangkan adalah koneksi LAN fiber optic dari core switch ke backbone ke tiap gedung, pengembangan infrastruktur dilakukan dengan merubah/mengganti distribution switch dan kabel yang masih menggunakan type cat 5 menjadi cat 6 serta menghubungkan seluruh switch backbone fiber optic dengan core switch.
Lima aspek pokok teknologi informasi dan komunikasi (TIK) inilah yang diberdayakan untuk merealisasikan pencapaian output dalam kurun waktu 2010-2014 yaitu terciptanya penggunaan 45 sistem aplikasi dan pengembangan/pemeliharaan sistem jaringan komputer.
Seluruh proses penggunaan sistem Teknologi Informasi dilakukan pengelolaan/manajemen dengan berpedoman pada system Development life circle (SDLC):
1. Investigated. Dilakukan dengan menitoring sistem dan masukan-masukan dan keluhan dari unit kerja pemakai
2. Analize. Menganalisa hasil monitoring dan masukan/ keluhan pengguna /user system dengan memperhatikan 5 aspek TIK
3. Design. Mengatasi solusi hasil analisa dengan membuat design dan penyempurnakan aplikasi
4. Implement. Menerapkan penyempurnaan aplikasi kepada pengguna/user 5. Maintain. Melakukan perbaikan dan penyempurnaan sistem aplikasi
Sesuai dengan permintaan unit kerja, maka jumlah yang dikerjakan yaitu 46 sistem aplikasi, melebihi program rencana kegiatan reformasi birokrasi yang berjumlah 35 dan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan aplikasi yang berjumlah 5.
Seluruh kegiatan terkait pengembangan teknologi informasi yang telah dilaksanakan maupun yang sedang dalam proses dan perencanaan merupakan kegiatan untuk mendukung pengembangan e-parliament seperti yang dimaksudkan dalam Rencana Strategi DPR RI 2010 – 2014, yang
68
meliputi sistem komunikasi yang aksesibel melalui teknologi informasi yang menjangkau masyarakat secara luas.
Namun sebenarnya masih ada kendala utama dalam pengembangan teknologi Informasi di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI, yaitu terkait jumlah SDM yang belum setara dengan beban kerja dan infrastruktur TI yang butuh penyesuaian.
2. Perpustakaan
Renstra DPR RI 2010-2014 memprioritaskan pembangunan dan pengembangan perpustakaan parlemen pada tahun 2011 sebagai bagian terpadu prasarana parlemen. Namun dengan adanya keputusan Rapat Konsultasi antara Pimpinan DPR RI dengan Pimpinan Fraksi-Fraksi dan Pimpinan BURT DPR RI yang menunda atau tidak melaksanakan pengembangan prasarana utama DPR RI dan menyerahkannya kepada Kementerian Pekerjaan Umum sehingga pembangunan perpustakaan parlemen yang merupakan bagian terpadu dari pengembangan prasarana utama DPR RI tidak dapat dilaksanakan.
Namun demikian, upaya pengembangan perpustakaan parlemen tetap dilakukan dalam bentuk:
1. Penetapan Pedoman Umum Pengelolaan Perpustakaan DPR RI.
2. Pembuatan website perpustakan online http://perpustakaan.dpr.go.id.
3. Katalog koleksi buku perpustakaan DPR sudah terhubung dengan website http://www.dpr.go.id dapat diakses dari seluruh unit kerja di DPR RI;
4. koleksi kliping yang dapat diakses oleh pengguna unit kerja di seluruh DPR RI melalui kliping.dpr.go.id.
5. Koleksi peraturan perundang-undangan berlangganan dari pik.kompas.co.id dan hukumonline.com hanya dapat diakses di Perpustakaan DPR RI.
6. Koleksi semua terbitan DPR RI (antara lain: buku pedoman, hasil kajian, jurnal, dan sebagainya) yang menjadi ciri khas dari Perpustakaan DPR RI.
7. Penambahan koleksi Perpustakaan DPR RI.
8. Standard Operation Procedure (SOP) tentang kegiatan layanan Perpustakaan DPR RI.
9. Penyusunan abstraksi koleksi Perpustakaan DPR RI.
69 C. ANALISIS
Berdasarkan sisi konteks, ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Setjen DPR RI sebagai unsur penunjang DPR yang harus menyiapkan kebutuhan sarana dan prasana untuk menunjang tugas dan fungsi DPR RI masih memiliki keterbatasan.
Padahal secara dokumentasi sudah ada rekomendasi, yaitu hasil kajian dari TIM KAJIAN PENINGKATAN KINERJA DPR RI dengan SK Pimpinan DPR No.
12 tertanggal 16 Februari 2006 yang memuat setidaknya ada 11 (sebelas) rekomendasi terkait dengan persoalan Gedung DPR, yaitu:
1. Penyiapan sarana gedung untuk ruang kerja dan rapat Anggota.
2. Pembuatan standar ruang rapat dan ruang kerja.
3. Penambahan jumlah tenaga ahli Anggota dan Alat Kelengkapan Dewan.
4. Peningkatan jumlah staf pendukung keahlian di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR.
5. Pengembangan Pusat Penelitian.
6. Pengembangan jaringan yang memudahkan Anggota untuk mengakses data dan informasi pada ruang kerjanya.
7. Pengembangan sistem pelayanan data dan informasi.
8. Pembangunan tempat khusus bagi masyarakat yang datang langsung ke DPR RI untuk menyampaikan aspirasinya.
9. Pembangunan Pusat Data dan Analisa APBN.
10. Peningkatan fasilitas press room yang lebih representatif dalam menunjang tugas kewartawanan Dewan.
11. Pengelolaan Komplek Gedung MPR/DPR akan dilakukan oleh satu badan pengelola.
Kesebelas rekomendasi tersebut selanjutnya akan berdampak pada penambahan ruang-ruang baru dan penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi bangunan yang sekarang ada. Selain terkait dengan rekomendasi di atas, persoalan gedung DPR juga masih dihadapkan pada desain tata ruang yang belum dijadikan acuan bagi pembangunan dengan karakter demokrasi.
Karena itu secara input, strategi pengembangan sarana dan prasarana diarahkan pada pembangunan kompleks perkantoran parlemen yang
70
mencerminkan karakter demokrasi yang sekaligus mempunyai nilai (utility) fungsional, lingkungan, sejarah (cagar budaya), estetika, keamanan, teknologi, simbol negara dan dinamika politik sehingga mendorong munculnya rencana penataan ulang kawasan komplek parlemen.
Selain persoalan yang telah teridentifikasi dalam dokumen rekomendasi di atas, saat ini Setjen DPR RI juga menghadapi kekurangan untuk pengembangan kapasitas organsiasi Setjen DPR RI sendiri yang dilihat dari sisi pengembangan SDM. Hal ini terlihat dari ruang diklat di lingkungan Setjen DPR RI masih sangat kurang dan diperlukan penyesuaian kebutuhan.
Saat ini ruang diklat yang dimiliki hanya berjumlah empat ruangan dimana fasilitas dalam ruangan diklat tersebut dinilai masih belum memenuhi standar untuk mencapai proses belajar yang baik, seperti kursi yang kurang nyaman, perlengkapan audio yang kurang baik, dan lain-lain.
Kekurangan sarana dan prasarana ruang diklat ini harus segera dilakukan penyesuaian kebutuhan dalam rangka mendukung agenda reformasi birokrasi yang saat ini diusung oleh Sekretariat Jenderal DPR RI.
Salah satu program reformasi birokrasi tersebut adalah peningkatan kompetensi sumber daya manusia, yang pastinya akan sangat membutuhkan ketersediaan ruang diklat dengan fasilitas ajar yang baik.
Namun demikian kegiatan yang ditujukan untuk pengembangan sarana dan prasarana secara proses memiliki sensitivitas publik yang tinggi sehingga sering kali rencana kerja yang sudah ditetapkan dalam anggaran DPR RI tidak jadi dilaksanakan.
71