Kawasan Timur Indonesia merupakan kawasan yang masih luas dan sangat berpotensi menjadi kawasan peternakan. Lahan yang luas dan subur menjadikan kawasan tersebut kaya akan hijauan pakan ternak. Latar belakang tersebut mendorong pemerintah untuk menjadikan Kawasan Timur Indonesia sebagai penerima bantuan sapi Brahman Cross dalam program aksi perbibitan nasional.
Pada tahun 2007, sebanyak 699 ekor sapi Brahman Cross bunting dibagikan ke 4 Propinsi yaitu Kalimantan Selatan (Tanah Laut dan HST), Sulawesi Selatan (Luwu Timur, Gowa, Bantaeng, Maros, dan Takalar), Sulawesi Tengah (Donggala), Gorontalo (Pahuwato). Data perkembangan disajikan pada Tabel 9. dibawah.
Tabel 9. Perkembangan Ternak Brahman Cross Tahun 2007 (Data 2008) Regional Kawasan Timur Indonesia
PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2007 (Data 2008) Regional Kawasan Timur Indonesia
No Propinsi JIA KA Tot TR KT BK JA JR SD J B I A 1 Kalsel 204 60 71 131 131 4 15 15 331 316 15 2 Sulsel 336 87 92 179 179 22 33 21 493 460 33 3 Sulteng 109 29 33 62 62 5 18 0 166 148 18 4 Gorontalo 50 20 22 42 42 1 1 0 91 90 1 Jumlah 699 196 218 414 414 32 67 36 1081 1014 67 Sumber: Diolah, 2012
Data diatas menunjukkan perkembangan ternak Brahman Cross pembagian tahun 2007 di pulau-pulau wilayah Timur Indonesia. Pemeriksaan dan pelaporan dilakukan oleh petugas dari dinas peternakan pada periode triwulan 3 tahun 2008. Persentase kelahiran dari induk yang dibagikan adalah 59,2%. Pedet yang dilahirkan 47,3% berjenis kelamin jantan dan52,7% betina. Indukan yang mati dalam masa perawatan 2007-2008 sebesar 4,6%. Tingkat kematian anak sekitar 16,2%. Persentase sapi indukan bunting kembali adalah 5,2%. Data yang tersaji di laporan pengamatan oleh dinas peternakan memiliki selisih 67 ekor dengan perhitungan yang dilakukan oleh peneliti.
Berdasarkan nilai persentase kelahiran, kematian anak, dan kebuntingan kembali, regional Katimin (Kawasan Timur Indonesia) menempati nilai tengah. Tingkat kematian induk menjadi masalah utama karena nilainya paling tinggi dibandingkan regional-regional lainnya. Adapun yang diperkirakan menjadi penyebab utama kematian induk adalah kurangnya pakan yang diberikan sehingga induk ambruk setelah melahirkan.
Selama ini masyarakat di kawasan Timur Indonesia lebih banyak memelihara sapi lokal (sapi Bali) yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap pakan yang bermutu rendah. Sapi Brahman Cross yang diharapkan dapat menjadi penambah penghasilan dan perbaikan gizi masyarakat ternyata membutuhkan prasyarat (requirement) pakan yang tinggi. Sekali lagi pendidikan kepada kelompok ternak dan pemilihan daerah ternak menjadi kunci penentu berhasil atau tidak program aksi perbibitan nasional ini.
Pada evaluasi yang dilaksanakan pada tahun 2009, hanya ada satu keganjilan yang terjadi, yaitu terjadi penurunan jumlah kelahiran anak yang ada di Kalimantan Selatan. Penambahan kelahiran hanya terjadi di Sulawesi Selatan sebanyak 55 ekor, sedangkan Sulawesi Tengah dan Gorontalo tidak mencatatkan adanya penambahan jumlah ternak. Tingkat kematian ternak, baik induk maupun anak bertambah, kecuali Sulawesi Tengah.
Kematian yang cukup tinggi pada ternak bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak akan hewan ternaknya. Alasan-alasan seperti pakan dan lain sebagainya seharusnya bisa diantisipasi dari awal sehingga tingkat kematian bisa berkurang.
Banyak laporan yang menyatakan bahwa ada kehilangan ataupun tidak tercatatnya kejadian-kejadian yang cukup penting. Pencatatan masih merupakan hal yang jarang dilakukan oleh masyarakat kita pada umumnya. Dalam program ini, seharusnya pemerintah mewajibkan adanya pencatatan yang selalu dipantau dalam jangka waktu tertentu.
Kawasan Timur Indonesia menerima 284 ekor sapi Brahman Cross pada tahun 2008 yang dibagikan pada 3 propinsi yang berbeda. Kabupaten yang berbeda menjadi fokus utama pemerintah dalam menyebarluaskan program perbibitan. Diharapkan kabupaten-kabupaten baru penerima sapi dapat menunjukkan kinerja yang baik sehingga program dapat berjalan lancar dan berkesinambungan. Perkembangan ternak di Kawasan Timur Indonesia dapat dilihat pada Tabel 10 dibawah.
Tabel 10. Perkembangan Ternak Brahman Cross Tahun 2008 (Data 2009) Regional Kawasan Timur Indonesia
PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2008 (Data 2009) Regional Kawasan Timur Indonesia
No Propinsi Jumlah Induk Awal Kelahiran Anak Kematian Ternak Anak % Induk % Anak % 1 Kalsel 22 0 0,0 0 0,0 0 0,0 2 Kaltim 50 0 0,0 0 0,0 0 0,0 3 Sulteng 212 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Jumlah 284 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Sumber: Diolah, 2012
pelaporan dilakukan oleh petugas dari dinas peternakan pada awal tahun 2009. Belum ada perkembangan ternak sama sekali pada pembagian ternak periode 2008, hal ini bisa saja terjadi karena memang belum ada sapi yang melahirkan (masih dalam masa kebuntingan).
Permasalahan yang disebabkan oleh peternak, seperti penggantian ternak dengan jenis lain, penjualan ternak, alasan-alasan peternak (sapi tidak dapat bekerja di sawah, calon induk tidak sesuai kriteria, peternak merasa rugi), adanya kelompok palsu (hanya setor nama dan uang).
Penggantian ternak Brahman Cross yang dibagikan kepada masyarakat dapat disebabkan oleh kebiasaan peternak yang sebelumnya telah memelihara sapi dengan ras yang berbeda. Sapi Brahman merupakan sapi yang cukup susah dikendalikan, apalagi sapi ex-impor dengan latar belakang sapi umbaran padang rumput yang terbiasa hidup berkoloni di alam bebas.
Peternak yang mendapatkan sapi Brahman Cross menyatakan beberapa alasan yang dianggap memberatkan mereka dalam memelihara sapi Brahman. Alasan pertama, sapi brahman tidak bisa dijadikan sapi dwiguna yang menghasilkan daging dan dapat bekerja di sawah dalam membantu peternak. Alasan kedua adalah calon induk tidak sesuai kriteria, pembelian induk yang dilakukan oleh pemerintah dianggap tidak memenuhi prosedur operasi standar yang telah ditetapkan. Beberapa alasan diatas menjadikan peternak merasa rugi dengan hadirnya program aksi perbibitan nasional yang tidak mengakomodir keinginan peternak.
Adanya kelompok ternak palsu yang dijalankan hanya oleh segelintir orang, sedangkan yang lain hanya memasukkan nama dan dana. Hal ini merupakan masalah yang sangat serius apabila dihubungkan dengan tujuan program aksi perbibitan. Masyarakat yang diharapkan bisa menjadi pelopor pengembang sapi Brahman Cross ternyata hanya sebagai kedok penyelewengan uang negara.
Analisa secara menyeluruh belum dapat dilakukan pada pembagian ternak periode 2008. Data yang terkumpul tidak cukup lengkap untuk dianalisa secara matang.
Dari hasil yang ada, didapatkan data yang tidak valid. Hal ini bisa dikarenakan data yang diambil bukan merupakan data primer, akan tetapi data yang ada di kelompok peternak penerima bantuan. Data yang diambil dapat pula hanya merupakan laporan lisan yang tidak memiliki bukti otentik.
Pada tabel-tabel yang disajikan, daerah yang diarsir merupakan tanda yang menunjukkan bahwa data yang ditulis dalam laporan tidak sesuai dengan perhitungan yang menggunakan Mocrosoft Excel. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan penghitungan manual ataupun salah memasukkan data.
Nasib induk setelah lahir merupakan tanggungjawab kedua belah pihak dalam program ini. Pemerintah sebagai penyelenggara program wajib menjamin adanya ketersediaan sperma yang akan dipakai untuk inseminasi buatan induk-induk yang sudah melahirkan. Peternak wajib melakukan pemeliharaan yang baik dan sesuai prosedur. Setelah induk melahirkan, peternak wajib melaporkan hasilnya dan meminta bantuan untuk menjadikan induk tersebut bunting lagi.
Secara garis besar, perbaikan terjadi di seluruh kawasan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan lebih banyaknya penurunan tingkat kematian ternak. Perbaikan harus tetap dijalankan agar program perbibitan dapat terlaksana dengan baik dan menjadikan program ini sebagai program yang berdaya saing dalam program-program unggulan negara.
VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari studi kasus ini adalah seperti tertera dibawah ini.
Pemeliharaan sapi potong betina BC yang telah diterima oleh masyarakat ternyata belum sesuai dengan harapan awal Program Aksi Perbibitan Nasional yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Kendala yang terjadi di lapangan cukup banyak, baik permasalahan teknis pemeliharaan ataupun aspek kelembagaan antara pemerintah dan masyarakat seperti malnutrisi, silent heat, anestrus post partum, dsb.
Penambahan populasi yang terjadi di masyarakat setelah diadakan program aksi perbibitan nasional Indonesia adalah sebanyak 4792 anakan dari 7782 induk yang dibagikan kepada masyarakat. Hal ini berarti jumlah kelahiran adalah sebesar 61,6 % selama rentang waktu 2,5 tahun. Gambaran reproduksi sapi Brahman Cross yang ada di masyarakat tidak terlalu baik. Banyak terjadi kasus anestrus post partum yang diakibatkan oleh malnutrisi dan endometritis.
Kematian anak disebabkan: diarrhea (nutrisi induk yang buruk,
collibacilosis, coccidiosis dan kecacingan), diare berdarah, dan gangguan saluran
pernafasan
.
Pelaporan yang diberikan oleh evaluator belum memenuhi standar pelaporan yang ada dan hal ini menjadikan analisa terhadap perkembangan ternak di seluruh daerah tidak maksimal.Saran
Dari kesimpulan yang ada, dapat ditarik saran-saran seperti berikut.
Diperlukan upaya perbaikan menyeluruh dalam hal perbibitan sapi dengan menerapkan “good breeding practices” atau GBP. Dalam hal ini perkandangan (kelompok dan individu), pakan (kuantitas, kualitas, ketersediaan), aspek reproduksi (estrus, IB, bunting, partus, dan post partum).
Perbaikan penentuan calon dan lokasi penerima bantuan ternak dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi peternak (kemampuan ekonomi individu
dan tingkat pendidikan), lingkungan budidaya (ketersediaan hijauan, air, dan bahan tambahan pakan yang sesuai dan kontinyu).
Diperlukan sosialisasi aturan serta pembinaan dan bimbingan dari dinas terkait untuk menghindari penukaran dan penjualan ternak, diperlukan aspek legal hukum yang cukup kuat (bukan untuk menjebak tapi untuk mencegah dan demi lancarnya program perbibitan).
Diperlukan pemberian pakan tambahan (konsentrat, mineral, limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar peternakan) dan pembinaan terus menerus terhadap peternak.
Diharapkan ada sosialisasi dan pengawasan standar yang digunakan untuk pelaporan (sistematika pelaporan). Yang perlu dituliskan dalam pelaporan adalah sumber ternak, checklist pemeriksaan reproduksi awal dan pemeriksaan kebuntingan, lampiran surat perjanjian, data lengkap (kelahiran, kematian, penjualan, penukaran, jumlah dan jenis kelamin anak, gambaran pemeliharaan umum, dan waktu evaluasi).
Kerjasama yang dilakukan antara aparatur pemerintah, baik pusat, daerah, maupun desa dengan kelompok peternak yang mendapatkan bantuan sapi potong induk perlu diperbaiki. Peran pemerintah pusat perlu diperbaiki dalam segi pendidikan dan pengawasan kepada peternak dan kelompok ternak. Peran pemerintah daerah perlu ditingkatkan dalam segi surveilans daya dukung lingkungan (alam, SDM, instansi-instansi terkait) dan penentuan daerah penerima. Peran peternak dan kelompok ternak perlu dibenahi agar tidak merasa program ini seperti program-program pemerintah yang hanya memberikan bantuan dan tidak perlu dikembalikan atau hanya dilaporkan seadanya.
DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1991. Petunjuk Beternak Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.Achjadi, R.K. 2009. (a) Kebijakan Perkembangbiakan (Breeding Policy) Sapi Potong sebagai Upaya Mendukung Tercapainya Swasembada Daging 2014. Artikel untuk diskusi terbatas Tabloid Agrina dan majalah TROBOS.
Achjadi, R.K. 2009. (b) Monitoring dan Evaluasi Program Aksi Perbibitan Sapi Brahman Cross (BC) Tahun 2006-2007 di Kabupaten di Indonesia dalam Workshop Kajian Pengembangan Perbibitan Sapi Brahman Cross. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.
Arthur, G.H., D.E. Noakes and H. Pearson. 1989. Veterinary Reproduction and
Obstetrics (Theriogenology). Baillere Tindall, London.
Blakely, J dan D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Church, DC. 1977. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminants, Practical
Nutrition. Department of Animal Science, Oregon State University.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Pedoman Spesifikasi Teknis Pengembangan Ternak Sapi Potong di Indonesia. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan - JICA. 2011. Himpunan Pedoman Teknis Pengembangan Ternak Sapi Potong di Indonesia. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Hafez, E.S.E. (Edit). 1987. Reproduction in Farm Animal. Lea and Febiger, Philadelphia.
Hardjopranoto, S. 1991. Permasalahan Reproduksi pada Sapi Potong dalam Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong di Indonesia. DPP-PPSKI.
Hardjosubroto, W. 1984. Breed Evaluation of Large Ruminant in Indonesia in
Evaluation of Ruminants for The Tropic Asian Preceeding Series 5. J.W.
Coopland, Australia.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Hawk, H.W. and R.A. Bellows. 1987. Beef and Dairy Cattle in Reproduction in
Farm Animal, Hafez, E.S.E (Edit). Lea and Febiger, Philadelphia.
Hunter, R.H.F. 1982. Reproduction of Farm Animals. School of Agriculture University of Edinburg. Longman Group Limited.
Jatmiko, E.T. 1992. Recording dalam Pemeliharaan Sapi Perah. Swadaya Peternakan Indonesia Volume 80.
Jainudeen, M.R. and E.S.E. Hafez. 1987. Cattle and Water Buffalo in
Reproduction in Farm Animal, Hafez, E.S.E. (Edit). Lea and Febiger,
Philadelphia.
Kementerian Pertanian. 2007. Pedoman Umum Pengembangan Perbibitan Ternak Sapi Brahman Cross ex-impor Tahun 2007. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Kementerian Pertanian. 2008. Pedoman Pemeliharaan Sapi Brahman Cross bagi Peternak. Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Kirby, G.W.M. 1989. Bali Cattle in Australia in World Animal Review Volume
31.
Kumaedi. 1991. Pengelolaan Alat Reproduksi pada Sapi. Peternakan Indonesia Volume 78
Levasseur, M.C. and C. Thibault. 1987. Reproductive Life Cycles in Reproduction
in Farm Animal, Hafez, E.S.E. (Edit). Lea and Febiger, Philadelphia.
Mc Donald, L.E. 1980. Veterinary Endocrinology and Reproduction. Lea and Febiger, Philadelphia.
Pane, I. 1996. Pemuliabiakan Sapi Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Partodihardjo, S. 1995. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Jakarta. Pribadi, E.S. 1991. Manajemen Kesehatan Ternak. Peternakan Indonesia Volume
71.
Purbowati, E. 1991. Sekitar Pemilihan Bibit pada Ternak Sapi Potong. Peternakan Indonesia volume 77.
Rahardi F., I. Satyawibawa dan R.N. Setyowati. 1992. Agribisnis Peternakan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rice, L.E. 1986. Reproductive Health Management in Beef Cattle in Current
Therapy in Theriogenology 2, Morrow, D.A. (Edit). W.B. Saunders
Company.
Robert, S.J. 1971. Veterinary Obstetrics and Genital Disease. Ithaca, New York. Salisbury, H.M. dan L. Vandemark. 1985. Reproduksi pada Ternak. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
Soenarjo, Ch. 1993. Fertilitas dan Infertilitas pada Sapi Tropis. CV Baru, Jakarta. Standar Nasional Indonesia 7355. 2008. Bibit Sapi Bali. Badan Standardisasi
Sugeng, Y.B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Toelihere, M.R. 1979. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung. Toelihere, M.R. 1981. Ilmu Kemajiran pada Ternak Sapi. Edisi 1. IPB. Toelihere, M.R. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung. Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. UI Press,
Jakarta.
Vanderplassche, M. 1982. Reproductive Efficiency in Cattle, A Guideline for
LAMPIRAN
Keterangan untuk semua tabel Lampiran: 1. Prop : Propinsi
2. Kab : Kabupaten
3. JIA : Jumlah Induk Awal
4. KA : Kelahiran Anak (J: Jantan, B: Betina) 5. Tot : Total Data
6. TR : Total Data yg diolah dengan Microsoft Excel 7. KT : Kematian Ternak (I: Induk, A: Anak)
8. PT : Penjualan Ternak (I: Induk, A: Anak) 9. BK : Beranak Kembali
10. JA : Jumlah Akhir
11. JR : Jumlah Akhir yg diolah dengan Microsoft Excel 12. SD : Selisih data asli dengan data diolah
13. % : Persentase
14. Yang diarsir abu-abu adalah yang data yang didapatkan tidak sesuai dengan penghitungan menggunakan Microsoft Excel.
Lampiran 1. PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2006 (DATA 2008)
No Prop Kab JIA Kelahiran Anak Tot (Ekor) TR KT PT BK Jumlah Akhir Jumlah Rumus Keterangan Selisih Data Jantan Betina I A I A
1 Sumbar Pesisir Selatan 96 26 44 70 70 11 7 0 0 0 155 148 Apr-08 7 2 Riau Kuantan Singingi 48 23 22 45 45 2 5 0 0 9 91 86 Apr-08 5 3 SumSel Musi Banyuasin 96 35 33 68 68 4 24 0 0 30 160 136 Apr-08 24 BPTU Sembawa 96 24 40 64 64 2 11 2 26 0 130 119 Mar-08 11 4 Lampung Lampung Selatan 48 25 17 42 42 3 5 0 0 0 87 82 Apr-08 5 Tulang Bawang 48 25 17 42 42 3 6 0 0 6 87 81 Jul-08 6 5 Banten Lebak 96 41 29 70 70 1 23 0 0 0 165 142 Apr-08 23 6 Jabar Ciamis 48 6 14 20 20 2 11 0 15 0 66 40 Sep-08 26 Sukabumi 96 30 44 74 74 6 18 0 0 30 164 146 Sep-08 18 Banjar 96 35 31 66 66 16 11 0 0 1 146 135 Sep-08 11 Bogor 48 9 20 29 29 12 18 0 0 8 65 47 Sep-08 18 Cianjur 48 9 22 31 31 29 9 5 0 0 45 36 Sep-08 9 Kuningan 48 21 28 49 49 2 9 0 0 23 95 86 Sep-08 9 7 Jateng Grobogan 84 32 37 69 69 10 19 4 60 11 79 60 Okt-08 19 Banyumas 84 36 39 75 75 8 6 0 0 0 151 145 Sep-08 6 Banjarnegara 84 43 34 77 77 1 6 0 0 22 160 154 Sep-08 6 Tegal 84 29 26 55 55 12 2 0 0 4 127 125 Sep-08 2 Magelang 84 34 37 71 71 6 12 0 0 11 149 137 Sep-08 12 Kudus 84 39 24 63 63 12 17 0 0 5 135 118 Sep-08 17 Pati 84 47 25 72 72 7 11 0 0 8 149 138 Sep-08 11 8 DIY Bantul 96 43 43 86 86 3 6 0 0 40 179 173 Mar-08 6 Sleman 48 21 24 45 45 0 1 0 6 8 87 86 Mar-08 1 9 Jatim Jember 48 14 28 42 42 4 6 0 0 0 86 80 Apr-08 6 Probolinggo 96 39 35 74 74 12 6 0 0 0 158 152 Apr-08 6 Lumajang 48 22 21 43 43 0 5 0 0 5 91 86 Apr-08 5
Lampiran 2. PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2007 (Data 2008)
No Propinsi Kabupaten Jumlah Induk Awal Kelahiran Anak Tot (Ekor) TR KT BK JA JR Ket Selisih Data Jantan Betina I A
1 Sumut Simalungun 98 26 34 60 60 1 17 10 157 140 Okt-08 17 2 Riau Kuantan Singingi 49 16 24 40 40 0 5 9 89 84 Apr-08 5 Kota Pekan Baru 99 29 43 72 72 1 22 4 170 148 Apr-08 22 3 Sumbar Limapuluh Kota 300 53 51 104 104 6 5 0 398 393 Mei-08 5 4 Jambi Batang Hari 98 30 33 63 63 3 7 0 158 151 Jul-08 7 Kerinci 49 12 23 35 35 1 6 20 83 77 Agust-08 6 5 SumSel Musi Banyuasin 148 35 24 59 59 0 2 0 207 205 Agust-08 2 OKI 50 9 14 23 23 3 4 0 70 66 Mar-08 4 Musi Rawas 72 8 10 18 18 7 0 0 83 83 Apr-08 0 OKU Timur 50 16 14 30 30 0 0 0 80 80 Feb-08 0 OKU 50 22 22 44 44 0 0 0 94 94 Jul-08 0 6 Bengkulu Muko-muko 100 37 39 76 76 6 4 0 170 166 Sep-08 4 Rejang Lebong 100 28 31 59 59 1 4 0 158 154 Sep-08 4 7 Lampung Tulang Bawang 100 40 37 77 77 3 15 0 174 159 Apr-08 15 Lampung Timur 101 12 19 31 31 0 9 0 132 123 Mei-08 9 Lampung Tengah 100 37 36 73 73 2 3 0 171 168 Feb-08 3 8 Jabar Bandung 50 20 15 35 35 2 10 19 83 73 Jul-08 10 Tasikmalaya 99 45 41 86 86 3 6 11 182 176 Sep-08 6 Ciamis 99 30 29 59 59 1 15 0 157 142 Jul-08 15 Sukabumi 198 73 76 149 149 6 37 8 341 304 Jul-08 37 Cirebon 49 17 20 37 37 2 5 0 84 79 Jul-08 5 9 Jateng Klaten 150 61 58 119 119 5 17 0 264 247 Agust-08 17 Wonogiri 99 24 37 61 61 9 18 0 151 133 Agust-08 18 Purworejo 50 12 21 33 33 1 10 0 82 72 Agust-08 10 Boyolali 99 11 19 30 30 0 4 0 129 125 Agust-08 4 Purbalingga 100 45 17 62 62 6 28 0 156 128 Agust-08 28 10 DIY Bantul 50 27 14 41 41 0 4 7 91 87 Agust-08 4
Probolinggo 97 27 20 47 47 1 1 0 143 142 Apr-08 1 Nganjuk 50 13 21 34 34 2 8 0 82 74 Feb-08 8 12 Kalsel Tanah Laut 100 30 27 57 57 1 15 15 156 141 Okt-08 15 HST 104 30 44 74 74 3 0 0 175 175 Okt-08 0 13 Sulsel Luwu Timur 95 8 28 36 36 2 6 0 129 123 Apr-08 6 Gowa 49 4 1 5 5 0 0 0 54 54 Jan-08 0 Bantaeng 96 44 35 79 79 13 3 21 162 159 Mar-08 3 Maros 49 14 15 29 29 0 9 0 78 69 Jul-08 9 Takalar 47 17 13 30 30 7 15 0 70 55 Jan-08 15 14 Sulteng Donggala 109 29 33 62 62 5 18 0 166 148 Jul-08 18 15 Gorontalo Pahuwato 50 20 22 42 42 1 1 0 91 90 Jul-08 1
Lampiran 3. PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2006 (Data 2009)
No Propinsi Kabupaten Jumlah Induk Awal Kelahiran Anak Persentase Rumus
Kematian Ternak Persentase kematian
Anak Persentase Induk Anak Induk Anak Rumus Induk Rumus Anak 1 Sumbar Pesisir Selatan 96 40 41,7 41,7 16 26 16,7 39,4 16,7 65,0 2 Riau Kuantan Singingi 48 46 95,8 95,8 2 6 4,2 11,5 4,2 13,0 3 SumSel Musi Banyuasin 96 74 77,1 77,1 10 24 10,4 24,5 10,4 32,4 BPTU Sembawa 96 64 66,7 66,7 2 11 2,1 14,7 2,1 17,2 4 Lampung Lampung Selatan 48 36 75,0 75,0 11 5 22,9 12,2 22,9 13,9 Tulang Bawang 48 50 104,2 104,2 5 6 10,4 10,7 10,4 12,0 5 Banten Lebak 96 100 104,2 104,2 1 28 1,0 21,9 1,0 28,0 6 Jabar Ciamis 48 42 87,5 87,5 0 11 0,0 20,8 0,0 26,2 Sukabumi 96 76 79,2 79,2 6 13 6,3 14,6 6,3 17,1 Banjar 96 72 75,0 75,0 16 11 16,7 13,3 16,7 15,3 Bogor 48 41 85,4 85,4 3 8 6,3 16,3 6,3 19,5 Cianjur 48 31 64,6 64,6 14 14 29,2 31,1 29,2 45,2 Kuningan 48 55 114,6 114,6 4 9 8,3 14,1 8,3 16,4 7 Jateng Grobogan 84 48 57,1 57,1 10 20 11,9 29,4 11,9 41,7 Banyumas 84 75 89,3 89,3 8 6 9,5 7,4 9,5 8,0 Banjarnegara 84 76 90,5 90,5 1 6 1,2 7,3 1,2 7,9 Tegal 84 55 65,5 65,5 12 2 14,3 3,5 14,3 3,6 Magelang 84 77 91.7 91,7 8 12 9,5 13,5 9,5 15,6 Kudus 84 68 81,0 81,0 14 17 16,7 20,0 16,7 25,0 Pati 84 72 85,7 85,7 7 11 8,3 13,3 8,3 15,3 8 DIY Bantul 96 117 121,9 121,9 3 11 3,1 8,6 3,1 9,4 Sleman 48 45 93,8 93,8 0 1 0,0 2,2 0,0 2,2 9 Jatim Jember 48 47 97,9 97,9 2 6 4,2 11,3 4,2 12,8 Probolinggo 96 27 28,1 28,1 35 17 36,5 38,6 36,5 63,0 Lumajang 48 74 154,2 154,2 1 5 2,1 6,3 2,1 6,8 Jumlah 1836 1508 191 286
Lampiran 4. PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2007 (Data 2009)
No Propinsi Kabupaten Jumlah Induk Awal Kelahiran Anak Persentase Rumus
Kematian Ternak Persentase kematian
Anak Persentase Induk Anak Induk Anak Rumus Induk Rumus Anak 1 Sumut Simalungun 98 63 64,3 64,3 1 17 1,0 21,3 1,0 27,0 2 Riau Kuantan Singingi 49 42 85,7 85,7 0 5 0,0 10,6 0,0 11,9 Kota Pekan Baru 99 60 60,6 60,6 9 27 9,1 31,0 9,1 45,0 3 Sumbar 50 Kota 300 173 57,7 57,7 20 5 6,7 2,8 6,7 2,9 4 Jambi Batang Hari 98 74 75,5 75,5 2 11 2,0 12,9 2,0 14,9 Kerinci 49 37 75,5 75,5 1 6 2,0 14,0 2,0 16,2 5 Sumsel Musi Banyuasin 148 117 79,1 79,1 5 11 3,4 8,6 3,4 9,4 OKI 50 30 60,0 60,0 4 10 8,0 25,0 8,0 33,3 Musi Rawas 72 49 68,1 68,1 8 0 11,1 0,0 11,1 0,0 OKU Timur 50 28 56,0 56,0 5 2 10,0 6,7 10,0 7,1 OKU 50 46 92,0 92,0 16 1 32,0 2,1 32,0 2,2 6 Bengkulu Muko-muko 100 41 41,0 41,0 28 33 28,0 44,6 28,0 80,5 Rejang Lebong 100 63 63,0 63,0 3 18 3,0 22,2 3,0 28,6 7 Lampung Tulang Bawang 100 86 86,0 86,0 3 15 3,0 14,9 3,0 17,4 Lampung Timur 101 71 70,3 70,3 4 12 4,0 14,5 4,0 16,9 Lampung Tengah 100 73 73,0 73,0 4 3 4,0 3,9 4,0 4,1 8 Jabar Bandung 50 38 76,0 76,0 3 11 6,0 22,4 6,0 28,9 Tasikmalaya 99 86 86,9 86,9 5 6 5,1 6,5 5,1 7,0 Ciamis 99 61 61,6 61,6 1 6 1,0 9,0 1,0 9,8 Sukabumi 198 137 69,2 69,2 9 37 4,5 21,3 4,5 27,0 Cirebon 49 44 89,9 89,8 1 0 2,0 0,0 2,0 0,0 9 Jateng Klaten 150 118 78,7 78,7 3 17 2,0 12,6 2,0 14,4 Wonogiri 99 62 62,6 62,6 10 18 10,1 22,5 10,1 29,0 Purworejo 50 35 70,0 70,0 6 10 12,0 22,2 12,0 28,6 Boyolali 99 79 79,8 79,8 2 16 2,0 16,8 2,0 20,3 Purbalingga 100 62 62,0 62,0 6 28 6,0 31,1 6,0 45,2 10 DIY Bantul 50 41 82,0 82,0 0 4 0,0 8,9 0,0 9,8 11 Jatim Ngawi 349 295 84,5 84,5 10 55 2,9 15,7 2,9 18,6
Mojokerto 50 40 80,0 80,0 4 7 8,0 14,9 8,0 17,5 Probolinggo 97 34 35,1 35,1 37 21 38,1 38,2 38,1 61,8 Nganjuk 50 40 80,0 80,0 2 8 4,0 16,7 4,0 20,0 12 Kalsel Tanah Laut 100 50 50,0 50,0 1 15 1,0 23,1 1,0 30,0 HST 104 71 68,3 68,3 8 0 7,7 0,0 7,7 0,0 13 Sulsel Luwu Timur 95 69 72,6 72,6 7 6 7,4 8,0 7,4 8,7 Gowa 49 23 46,9 46,9 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Bantaeng 96 79 82,3 82,3 13 3 13,5 3,7 13,5 3,8 Maros 49 33 67,3 67,3 0 9 0,0 21,4 0,0 27,3 Takalar 47 30 63,8 63,8 7 15 14,9 33,3 14,9 50,0 14 Sulteng Donggala 109 62 56,9 56,9 5 18 4,6 22,5 4,6 29,0 15 Gorontalo Pahuwato 50 42 84,0 84,0 2 4 4,0 8,7 4,0 9,5 Jumlah 4000 2798 260 507
Lampiran 5. PERKEMBANGAN TERNAK BRAHMAN CROSS TAHUN 2008 (Data 2009) No Propinsi Kabupaten
Jumlah Induk Awal
Kelahiran Anak Persentase Rumus
Kematian Ternak Persentase kematian
Anak Persentase Induk Anak Induk Anak Rumus Induk Rumus Anak 1 Sumsel OKU Selatan 102 9 8.8 8,8 1 0 1,0 0,0 1,0 0,0 2 Bengkulu Seluma 40 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Lebong 40 3 7,5 7,5 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 3 Lampung Pesawaran 100 46 46,0 46,0 1 7 1,0 13,0 1,0 15,2 Way Kanan 100 7 7,0 7,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Lampung Barat 250 146 58,4 58,4 6 28 2,0 16,0 2,4 19,2 4 Jateng Semarang 50 6 12,0 12,0 1 2 2,0 25,0 2,0 33,3 Temaggung 150 2 1,3 1,3 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Wonosobo 150 8 5,3 5,3 1 2 1,0 20,0 0,7 25,0 Brebes 150 17 11,3 11,3 2 4 1,0 19,0 1,3 23,5 Kebumen 250 155 62,0 62,0 4 10 2,0 6,0 1,6 6,5 5 Jatim Tulungagung 50 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Madiun 50 32 64,0 64,0 1 2 2,0 6,0 2,0 6,3 Blitar 30 2 6,7 6,7 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Kediri 50 16 32,0 32,0 0 2 0,0 11,0 0,0 12,5 Trenggalek 100 37 37,0 37,0 0 5 0,0 12,0 0,0 13,5 6 Kalsel Tapin 22 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 7 Kaltim Paser 50 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 8 Sulteng Toli-toli 212 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 Jumlah 1946 486 17 62