Berdasarkan hasil pendataan oleh Kementerian Pertanian untuk sapi dan kerbau pada tahun 2011, populasi sapi potong mencapai 14,8 juta ekor. Kondisi peternakan sapi potong di Indonesia dewasa ini pada umumnya berbentuk peternakan rakyat yang mempunyai ciri antara lain berskala kecil, motif produksinya usaha rumah tangga, merupakan usaha sambilan, menggunakan teknologi sedarhana dan produktivitasnya masih rendah hingga mutu produksinya cukup beragam. Berdasarkan skala usaha dan tingkat pendapatan peternak, maka usaha tani diklasifikasikan dalam 4 kelompok yaitu :
1. Peternakan sebagai usaha sambilan
Yaitu petani yang mengusahakan berbagai komoditi pertanian terutama tanaman pangan dimana ternak sebagai usaha sambilan untuk mencukupi kebutuhan sendiri (subsisten) dengan tingkat pendapatan dari ternak kurang dari 30 persen.
2. Peternakan sebagai cabang usaha
Petani peternak yang mengusahakan pertanian campuran (mixed farming) dengan ternak sebgai cabang usaha tani dengan tingkat pendapatan dari usaha ternak 30-70 persen (semi komersial atau usaha terpadu).
3. Peternakan sebagai usaha pokok
Peternak mengusahakan ternak sebagai usaha pokok dan komoditi pertanian lainnya sebagai usaha sambilan (komoditas tunggal) dengan tingkat pendapatan dari ternak 70-100 persen.
4. Peternakan sebagai usaha industri
Peternak sebagai usaha industri mengusahakan komoditas ternak secara khusus (specialized farming) usaha peternakan dengan tingkat pendapatan 100 persen dari ternak (komoditi pilihan).
Tujuan pemeliharaan dan pemilikan sapi potong di Indonesia antara lain untuk penunjang sarana pertanian seperti tenaga kerja penarik luku dan penarik gerobak, penghasil pupuk, sebagai tabungan, kepentingan adat dan sebagai ukuran untuk menentukan tinggi rendahnya status sosial seseorang dimata masyarakat.
Selain tujuan pemeliharaan yang beraneka ragam, pola pemeliharaan yang dilakukan pun bermacam-macam tergantung luas lahan yang tersedia, yaitu intensif, semi intensif, dan ekstensif. Pada pemeliharaan intensif, sapi terus menerus dikandangkan. Sedangkan pada semi intensif ternak dikandangkan sore hari hingga pagi hari berikutnya. Pagi hari hingga siang ternak biasanya ditambatkan sekitar rumah atau dilepas (digembalakan) atau dipekerjakan. Pola pemeliharaan ekstensif yaitu menggembalakan ternak di padang penggembalaan umum sepanjang hari.
Pakan yang diberikan umumnya rumput lapangan. Ada juga yang sudah mmemberikan pakan tambahan berupa dedak dan ampas tahu. Selain rumput lapangan diberikan juga sisa tanaman padi, kacang-kacangan, lamtoro, jagung, kaliandra, gamal, turi dan sebagainya. Cara pemberian umumnya belum memakai pedoman yang pasti, tergantung ketersediaan pakan tersebut di lapangan.
Saat ini masih banyak petani peternak yang tidak melakukan pencatatan terhadap hal-hal yang penting dan hanya mengandalkan daya ingat. Pengenalan tanda berahi yang umum diketahui oleh peternak yaitu hewan gelisah, menguak-nguak dan dari alat kelamin keluar lendir. Bila ada tanda berahi, peternak mengawini dengan pejantan atau melapor ke petugas agar dilakukan IB bila di daerah itu sudah terjangkau IB. Waktu antara timbulnya tanda berahi sampai dengan dikawinkan memerlukan saat yang tepat untuk mendapatkan fertilitas yang tinggi. dalam memelihara ternak, sapi berada di luar kandang hingga siang hari, diikat di bawah pohon, di pinggir sawah, sehabis panen sapi dilepas di tengah sawah kemudian petani melakukan kegiatan lain sehingga tanda berahi kadang terlewatkan. Tetapi pola pemeliharaan seperti yang dilakukan di Nusa Tenggara menyebabkan ternak dikawinkan pada umur yang lebih tua dari yang disarankan. Umumnya perkawinan terjadi secara alam diantara keluarga ternak
tersebut, sehingga penampilan reproduksi ternak diduga telah mengalami kemunduran potensi genetik. Ternak yang berpenampilan baik biasanya diperjualbelikan atau dipotong. Sementara ternak yang tersisa merupakan ternak bibit yang bermutu rendah karena perkawinan sedarah yang sering terjadi. Pada umumnya sapi dikawinkan dengan pejantan milik sendiri.
Untuk memperoleh pengetahuan teknik beternak, peternak biasanya mendapatkannya dari berbagai sumber seperti penyuluhan, media cetak, media elektronik, informasi dari sesama peternak. Tetapi sebagian besar tetap bertahan pada teknik beternak berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara turun menurun. Kemudian tingkat pendidikan peternak juga masih rendah. Di beberapa tempat adat istiadat masih sangat berpengaruh dalam kehidupan mansyarakat yang berkaitan dengan penerapan dan penerimaan masyarakat akan berbagai inovasi baru.
Permasalahan umum yang timbul adalah berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan pakan baik secara kualitas dan kuantitas terutama di musim kemarau sehingga menyebabkan penurunan berat badan di musim kemarau. Selain itu pola pemeliharaan ekstensif tradisional di Nusa Tenggara yang berlangsung berabad-abad menyebabkan degradasi padang penggembalaan karena overgrazing.
III METODOLOGI
Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini adalah pengolahan data sekunder yang didapatkan dari Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Secara khusus pengolahan data numerik dilakukan secara tabulasi menggunakan Microsoft Excel. Penghitungan persentase kelahiran, perbandingan jantan dan betina, dan penampilan reproduksi umum dilakukan secara manual dengan nilai persentase. Penentuan permasalahan yang terjadi di setiap daerah dilakukan dengan analisis deskriptif.
IV TINJAUAN TENTANG PROGRAM
SWASEMBADA DAGING SAPI DAN KERBAU 2014
(PSDSK 2014)
Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 merupakan salah satu dari 21 program utama Kementerian Pertanian yang terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumber daya daerah (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011).
Program ini juga merupakan peluang untuk dijadikan pendorong dalam mengembalikan Indonesia sebagai negara pengekspor sapi seperti pada masa lalu. Tantangan tersebut tidak mudah karena saat ini impor daging dan sapi bakalan sangat besar, sekitar 30 persen dari kebutuhan daging nasional. Bahkan ada kecenderungan volume impor terus meningkat dan berpengaruh terhadap devisa negara.
Bila kondisi tersebut tidak diwaspadai, maka dapat berpengaruh terhadap kemandirian dan kedaulatan pangan khususnya daging sapi dan Indonesia semakin jauh dari harapan swasembada. Indonesia berpotensi untuk masuk pada jebakan pangan (food trap) negara eksportir apabila nilai impor daging dan sapi bakalan terus meningkat.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011) mengemukakan bahwa pembibitan sapi potong mengacu pada UU no 18 tahun
2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yaitu pemerintah berkewajiban untuk melakukan pengembangan usaha pembibitan sapi dengan melibatkan peran serta seluruh stakeholder peternakan untuk menjamin ketersediaan benih, bibit, dan bakalan.
Skema PSDSK 2014 yang menjadi sasaran kajian penulisan skripsi. Gambar 2. Skema Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014
PSDSK 2014 Langkah Pemerintah Blueprint PSDSK 2014 Pemanfaatan Sapi Potong Betina Produktif IB
Bunting Tidak Bunting
Nasib induk post partum Diserahkan kepada masyarakat Survive Mati
Lahir Tidak tercatat
Sapi induk mati
Di IB Dipotong Dijual Tidak
V HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil didapatkan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Data yang telah didapatkan kemudian diolah secara tabulasi menggunakan Microsoft Excel. Data yang diterima dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan rumus-rumus sederhana dalam Microsoft Excel.
Pada tahun 2006 telah didistribusikan betina produktif sapi Brahman Cross sebanyak 1.836 ekor pada 9 propinsi, 25 kabupaten, 32 kelompok peternak yang menjadi cikal bakal VBC (Village Breeding Centre) (Achjadi (a), 2009). Pada tahun 2007, jumlah sapi yang didistribusikan bertambah menjadi 4000 ekor pada 15 propinsi, 41 kabupaten, dan 85 kelompok peternak. Pada tahun 2008 pemerintah mendistribusikan 1.946 ekor pada 8 propinsi yang meliputi 19 kabupaten.
Pada bagian ini akan dibahas perkembangan ternak sapi Brahman Cross sesuai dengan pembagian regional oleh penulis, yaitu regional Sumatera (Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung), regional Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur), dan regional Kawasan Timur Indonesia (Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo) Keterangan untuk semua tabel hasil:
1. Prop : Propinsi 2. Kab : Kabupaten
3. JIA : Jumlah Induk Awal
4. KA : Kelahiran Anak (J: Jantan, B: Betina) 5. Tot : Total Data
6. TR : Total Data yg diolah dengan Microsoft Excel 7. KT : Kematian Ternak (I: Induk, A: Anak)
8. PT : Penjualan Ternak (I: Induk, A: Anak) 9. BK : Beranak Kembali
10. JA : Jumlah Akhir
11. JR : Jumlah Akhir yg diolah dengan Microsoft Excel 12. SD : Selisih data asli dengan data diolah
13. % : Persentase
14. Yang diarsir abu-abu adalah yang data yang didapatkan tidak sesuai dengan penghitungan menggunakan Microsoft Excel.
Spesifikasi Teknis Bibit Sapi
Bibit sapi Brahman Cross yang dibagikan kepada masyarakat diharapkan memenuhi standar Commercial Stock (CS) / bibit sebar. Adapun untuk sapi Brahman Cross belum ada SNI yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. Petunjuk teknis pemilihan bibit sapi Brahman Cross sudah dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Republik Indonesia (Ditjennakkeswan, 2011)
Standar Nasional Indonesia yang sudah diterbitkan adalah untuk Sapi Bali, (SNI 7355, 2008). Dalam standar pemilihan bibit sapi Brahman Cross, digunakan persyaratan kualitatif dan kuantitatif. Persyaratan kualitatif untuk sapi Brahman Cross ialah sebagai berikut.
Bibit sapi Brahman betina memiliki warna putih pada leher dan bahu keabu-abuan, berpunuk, telinga lebar dan tergantung, kepala relatif ramping dan besar, bergelambir dari rahang sampai ke bagian ujung tulang dada bagian depan, kaki panjang dan besar, pantat bulat, dan tidak bertanduk.
Bibit sapi Brahman Jantan tidak akan dibahas, akan tetapi dapat dilihat dalam lampiran. Sapi Brahman Cross yang dibagikan merupakan betina bunting yang di-inseminasi buatan sehingga data untuk pejantan yang digunakan semennya tidak ikut dilaporkan dalam evaluasi.
Adapun bibit sapi Brahman Cross betina secara kuantitatif dilihat dari berat badan dan tinggi gumba minimum. Berat badan minimum yang harus dicapai sebelum sapi betina tersebut dikawinkan adalah seberat 350 kilo. Tinggi gumba minimum yang harus dicapai adalah 125 cm.
Evaluasi dan data awal pembagian tidak menyatakan bahwa sapi yang dibagikan kepada peternak sesuai dengan petunjuk teknis bibit atau tidak. Asumsi umum yang bisa diambil dari tidak adanya pelaporan ialah standar yang diminta sudah tercapai sehingga sapi Brahman Cross ex-impor yang ada dapat dibuntingkan.
Pembahasan mengenai perkembangan regional pembagian sapi Brahman Cross yang bunting dapat dilihat di halaman selanjutnya.