• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

5. Tantangan Pembelajaran Abad 21

2.1.1.2 Permainan Tradisional

Permainan dari kata dasar “main”. Main memiliki arti melakukan permainan guna membuat hati senang atau melakukan aktivitas yang membuat hati senang dengan memanfaatkan sarana tertentu atau tidak sama sekali memerlukan sarana lain menurut KBBI. Manusia disebut sebagai homo ludens, homo yang dimaksud ialah “manusia” dan ludens yang dimaksud adalah “yang suka bermain”. Ciri atau sifat bermain dalam kegiatan manusia adalah: a) a voluntary activity existing out-side “ordinary” life yang memiliki arti melakukan kegiatan yang ada di luar kehidupan “biasanya” secara sukarela; b) totally absorbing yang memiliki arti sepenuhnya memukau (menyita perhatian); c) unproductive yang memiliki arti tidak produktif; d) occurring within a circumscribed time and space yang memiliki arti terjadi pada waktu atau pun ruang tertentu; e) ordered by rules yang memiliki arti diatur oleh aturan-aturan; and f) characte-rized by group relationship which surround themselves by secrecy and disguise yang memiliki arti ada kerahasiaan dan

ketertutupan pada hubungan-hubungan antar kelompok yang menutupi dirinya (Huizinga, 1949: 13).

Secara etimologis, tradisional berasal dari kata Latin tradere yang memiliki arti menyerahkan. Tradisional dari kata tradisi. Tradisi merupakan budaya atau kebiasaan secara turun-temurun yang dijalankan oleh masyarakat seiring berkembangnya jaman. Anak-anak mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kedudukan atau peran sehingga anak-anak dapat membangun karakter melalui kegiatan bermain (Dharmamulya, 2005: 21). Berdasarkan pemaparan di atas, permainan tradisional adalah aktivitas menyenangkan yang berasal dari adanya budaya aau kebiasaan suatu masyarakat.

2. Ruang Lingkup Permainan Tradisional a. Karakteristik Permainan Tradisional

Berikut merupakan karakteristik pada permainan tradisional yang membuatnya memiliki kekhasan (Perdani, 2013).

1) Permainan tradisional menggunakan sumber bermain dan sumber alat permainan dari alam sekitar.

2) Permainan tradisional mengedepankan kolaborasi atau kerjasama, saling asah asih asuh, dan kekompakan.

3) Permainan tradisional melatih emosi dan moral anak dalam menumbuhkan karakter kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab yang penuh pada setiap pemainnya.

4) Permainan tradisional memupuk nilai luhur dan pesan moral yang bajik, seperti sportivitas, berlapang dada menerima kekalahan, kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab.

5) Permainan tradisional memberi kesempatan para pemainnya mendapat pengalaman secara emosional dari adanya kontak fisik atau komunikasi antar pemain.

b. Manfaat Permainan Tradisional

Permainan tradisional bermanfaat bagi anak. Hal tersebut tercerminkan dalam beberapa aspek, yaitu aspek perkembangan anak yang

mencakup aspek motorik, sosial, dan psikis yang terstimulasi melalui permainan-permainan tradisional (Kusmiati & Sumarno, 2018). Selain itu, permainan tradisional dapat menjadi sarana penyalur energi anak-anak yang masih sangat aktif, memberikan anak kesempatan bersosialisasi dengan lingkungannya, dan mengembangkan kepribadian anak (Kusmiati

& Sumarno, 2018).

c. Pengembangan Permainan Tradisional

Sebagai upaya dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dilakukan pengembangan permainan tradisional. Bagian ini menjadi dasar untuk buku pedoman pada bab 2 dan 3. Berikut merupakan pengembangan permainan yang perlu diperhatikan secara umum (Sugar, 2002: 8).

1. Permainan bersifat pengalaman

Permainan memberi kesempatan anak berinteraksi langsung dengan mengolah informasi yang terdapat dalam sebuah permainan.

2. Permainan memungkinkan guru atau fasilitator membimbing anak dalam jumlah tertentu secara khusus

Permainan dapat disesuaikan dengan hampir semua topik sehingga guru atau fasilitator dapat memanfaatkannya untuk memberikan bimbingan khusus kepada satu atau dua anak.

3. Permainan memberikan pilihan untuk guru atau fasilitator di kelasnya Permainan memungkingkan guru atau fasilitator untuk menambahkan variasi dan fleksibilitas pada penyampaian materi pembelajaran.

4. Permainan dengan menguatkan pembelajaran

Permainan memungkinkan guru atau fasilitator menyampaikan materi pembelajaran dengan cara menyenangkan.

5. Permainan harus memberikan umpan balik

Permainan memberikan anak umpan balik langsung tentang kualitas masukan mereka dengan umpan balik korektif yang tepat.

6. Permainan perlu meningkatkan kemampuan tes

Permainan menghadirkan tantangan tersendiri untuk pemainnya.

Tantangan dalam permainan berfungsi sebagai latihan pemainnya dalam meningkatkan kemampuan tes.

7. Permainan menunjukkan energi yang baik di kelas

Permainan memperkuat konsep bahwa kelas menjadi tempat yang mendukung anak mencurahkan energinya, misalnya setelah anak terlibat aktif dalam permainan anak dapat kembali fokus pada materi pelajaran.

8. Permainan dapat menjadi sarana mengenalkan topik pembelajaran baru atau topik sulit

Permainan dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas guru atau fasilitator memperkenalkan topik pembelajaran baru atau topik sulit karena format permainan menyenangkan khususnya bagi anak. Pertanyaan sulit yang ada dalam permainan yang tidak dapat dipecahkan oleh anak akan tampak bahwa “pertanyaan hanyalah bagian dari game”.

9. Permainan dapat melengkapi tugas membaca

Permainan dapat ditambahkan lembar panduan atau lembar tanya jawab yang akan melengkapi aktivitas membaca anak.

10. Permainan harus memuat kerja sama tim

Permainan harus melatih anak dalam aturan bekerja sama dan berkolaborasi sebagai kelompok.

11. Permainan memandu untuk bermain sesuai aturan

Permainan memperkuat konsep bahwa bermain sesuai aturan merupakan satu-satunya cara memenangkan permainan secara mutlak.

12. Permainan memupuk pencapaian individu dan kelompok

Permainan memberi kesempatan anak berbagi pendapat dalam kelompok setelah anak memproses pengetahuan tersebut secara mandiri.

13. Permainan meningkatkan keterampilan multitasking

Permainan menciptakan tekanan yang membantu membangun problem solving serta mendorong kreativitas.

14. Permainan menjadi pengganti kegiatan yang menuntut

Permainan menjadi pengganti kegiatan yang menuntut, meskipun dibutuhkan namun ditakuti anak dengan format permainan yang menyenangkan.

Pengembangan permainan dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu informasi dan materi yang diperlukan dalam permainan dipilah, informasi atau materi diubah menjadi pertanyaan, pertanyaan dibuat dimasukkan ke dalam permainan, di setiap pertanyaan ditetapkan skor pada jawaban, melakukan pengulangan pada pertanyaan yang telah dibuat untuk memastikan supaya sesuai dengan informasi atau materi yang akan disajikan, dan agar anak lebih fasih memahami informasi atau materi pembelajaran maka dilakukan pengulangan pada pemberian skor jawaban (Sugar & Sugar, 2002: 19). Berdasarkan gagasan yang dibahas sebelumnya tentang pentingnya mengembangkan wawasan multikultural, pemilihan permainan tradisional dipilih dari daerah-daerah yang berbeda dan disesuaikan dengan usia anak.

Dari kajian beberapa gagasan di atas, diperoleh ringkasan bahwa permainan tradisional adalah aktivitas menggembirakan dengan adanya aturan yang disepakati, baik memanfaatkan sarana atau tanpa memerlukan sarana tambahan. Dalam langkah-langkah pengembangan permainan tradisional perlu memperhatikan beberapa hal tersebut.

2.1.1.3 Pendidikan Karakter Keadilan

Pengertian dari pendidikan karakter yakni upaya mendidik seseorang supaya bijak dalam setiap langkah pengambilan keputusan dan dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari (Megawangi, 2004: 95). Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai sebuah usaha demi terwujudnya karakter siswa yang baik (Sudrajat, 2011). Pendidikan karakter merupakan usaha yang secara sadar ditujukan untuk menanamkan nilai kebaikan dan memperbaiki karakter (Musto, Japar, & Ms, 2018). Seorang individu yang berkarakter dapat lebih mempertanggungjawabkan setiap perilaku yang dilakukannya. Tujuan dari pendidikan karakter salah satunya adalah membimbing anak agar dapat terciptanya kepribadian dengan pengetahuan bijak dalam mengambil keputusan,

dan bermoral yang bajik (Lickona, 2012: 82). Selaras dengan padangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) yang meyakini bahwa karakter merupakan budi pekerti atau watak dalam jiwa manusia yang berasas hukum kebatinan (Asa, 2019). Ki Hadjar Dewantara menegaskan seseorang yang berbudi pekerti dapat berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat menguasai dan memerintah diri sendiri.

Pendidikan karakter membantu memperluas pengetahuan seorang individu mengenai nilai-nilai moral dan etis yang akan mempengaruhi mereka dalam mengambil setiap keputusan yang perlu mereka pertanggungjawabkan secara moral (Kesuma, 2020: 116).

Aristoteles menempatkan pikiran sebagai pijakan awal pendidikan karakter.

Pemikiran yang baik perlu diterapkan dalam menjalani hidup dengan sesama melalui tindakan-tindakan baik yang nyata (Lickona, 2012: 72). Karakter yang baik dicerminkan dengan pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action) (Lickona, 2012: 84). Karakter baik pada diri seseorang bermula dari mengetahui hal baik, berlanjut pada mengingini hal yang baik, lalu diterapkan pada tindakan yang baik. Sebuah kebiasaan yang menjadi karakter merupakan hasil dari pengulangan tindakan baik secara konsisten dalam kurun waktu yang lama (Lickona, 2012: 82). Berikut merupakan bagan unsur karakter yang baik (Lickona, 2012: 84).

Gambar 2. 3 Bagan Unsur Karakter Yang Baik

Moral Knowing

Ketiga unsur karakter tersebut saling berhubungan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral. Dari anak panah yang menghubungkan setiap bagian berdasarkan diagram di atas menunjukkan bahwa setiap komponen saling mempengaruhi dan tidak dapat berfungsi sebagai bagian yang terpisah. Pengetahuan moral (moral knowing) merupakan muatan enam aspek, yaitu aware of moral, understand moral values, choose perspective, moral contemplation, make a decision, dan personal knowledge sebagai tujuan pendidikan karakter yang diinginkan (Lickona, 2012: 85). Perasaan moral (moral feeling) merupakan sisi emosional karakter yang memuat aspek, yaitu conscience, pride, empathy, love good things, self control, dan modesty. Tindakan moral (moral action) memuat tiga aspek, yaitu ability, volition, dan habit.

1. Pengertian Karakter Keadilan

Karakter keadilan merupakan karakter yang perlu dipupuk pada anak sejak usia dini. Dalam bahasa Inggris, keadilan memiliki beberapa term yang berbeda, seperti justice diterjemahkan sebagai peradilan, equity diterjemahkan sebagai hak menurut keadilan, fairness diterjemahkan sebagai adil atau kewajaran, dan impartiality diterjemahkan sebagai sifat yang netral atau tidak memihak. Secara etimologis, keadilan adalah kebenaran ideal sesuatu hal mengenai benda atau orang secara moral.

Keadilan adalah entitas yang menggerakkan seseorang untuk mampu berperilaku reseptif, menerapkan kejujuran, dan melakukan kebajikan (Borba, 2008: 267). Fairness merupakan sikap untuk mampu transparan terhadap sesama, menghargai kesetaraan antar individu, bermain sesuai aturan yang disepakati, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai keuntungan (Setyaputri dkk, 2018). Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa keadilan adalah entitas yang menggerakkan seseorang untuk mampu berperilaku transparan, reseptif, melakukan kebajikan, menghargai hak orang lain, dan mematuhi aturan.

2. Ruang Lingkup Keadilan

Ruang lingkup keadilan terdiri dari masalah-masalah yang menimbulkan krisis keadilan dan langkah-langkah untuk memupuk karakter adil.

a. Masalah-masalah yang Menimbulkan Krisis Keadilan

Hal berlawanan dengan keadilan yang menjadi pemicu krisis keadilan yaitu kompetisi, individualisme, dan materialisme (Borba, 2008: 262). Kasus-kasus kekerasan pada anak dianggap masih marak terjadi. Dari hasil survei nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan sebesar 62% anak perempuan dan laki-laki di Indonesia menjadi korban tindak kekerasan dari satu tindak kekerasan (UNICEF, 2002: 46). Survei dari Dr.

Donald McCabe dan The International Center for Academic Integrity (May, 2020) terhadap lebih dari 70.000 siswa sekolah menengah di Amerika Serikat menunjukkan 64% siswa memberi kesaksian bahwa mereka menyontek saat ujian, 58% melakukan plagiarisme, dan 95%

mengatakan mereka berpartisipasi dalam beberapa bentuk kecurangan seperti menyalin pekerjaan rumah milik teman, dikutip dari laman resmi The International Center for Academic Integrity (ICAI).

Kasus kecurangan lain yang diteliti oleh Bretag, dkk (2018: 5) bahwa 14.086 siswa yang mewakili 4,38% dari total siswa di delapan Universitas Australia yang disurvei menunjukkan 81,7% siswa terlibat 1-2 kali menyontek dan 9,4% siswa terlibat 10 kali atau lebih.

Permasalahan tersebut dapat terjadi karena adanya 4 faktor penghambat terbentuknya keadilan pada anak, yaitu 1) hubungan antara orang tua dan anaknya yang kurang baik sejak usia dini, 2) ketiadaan contoh yang baik dari orangtua, tokoh panutan seperti, guru, orang tua, tokoh agama, atau tokoh masyarakat 3) keharusan berkompetisi, dan 4) kurangnya bermain bersama teman (Borba, 2008:

263).

b. Langkah-langkah Mengembangkan Karakter Keadilan

Terdapat tiga langkah yang dapat diterapkan untuk membangun kebajikan utama keadilan pada anak, yaitu 1) memperlakukan anak

secara adil sebagai bentuk pemberian contoh yang nyata agar anak menangkap makna keadilan, 2) mempraktekkan sikap adil kepada anak seperti mau berkompromi, transparan, mengedepankan kejujuran, mematuhi aturan dan 3) anak diajarkan untuk menentang ketidakadilan dan kecurangan dengan cara mendorong anak melakukan pelayanan atau kegiatan sosial (Borba, 2008: 270).

3. Indikator Karakter Keadilan

Anak yang memiliki rasa keadilan yang kuat diindikasikan dengan indikator, yaitu 1) menghormati hak sesama, 2) mengikuti aturan, 3) berusaha memecahkan masalah secara damai, 4) inisiatif membagi benda miliknya, 5) menerima menang atau kalah, 6) berpikiran terbuka, 7) berkompromi, 8) tidak menuduh orang lain tanpa bukti, 9) bersabar menunggu giliran, dan 10) melayani sesama dengan senang hati (Borba, 2008: 269). Sepuluh indikator tersebut diringkas menjadi mau peduli, mematuhi aturan, menyelesaikan masalah, inisiatif berbagi, menunjukkan sportivitas, bersikap reseptif, mencari solusi, tidak asal menuduh, bersikap sabar, dan melayani sesama. Setiap orang perlu memiliki karakter keadilan sebagai prinsip dalam bertindak untuk memperlakukan orang lain dengan adil secara objektif.

4. Tahap-tahap Keadilan pada Anak

Anak-anak mulai memahami keadilan secara bertahap. Berikut tahapan keadilan pada anak yang diadaptasi dari tulisan Dr. William Damon dan Dr. Thomas Lickona (Borba, 2008: 284).

a) Tahap 1: “Aku ingin itu. Ini tidak adil” (usia 1-4,5 tahun; masa prasekolah awal)

Anak masih egois dan merasa keadilan sebagai pemenuhan keinginan dan kebutuhan dirinya. Umumnya, anak selalu merasa kalah.

b) Tahap 2: “Sebaiknya aku bersikap adil, aku memang harus adil” (usia 4,5-5,5 tahun; masa prasekolah akhir)

Anak merasa harus bersikap adil karena keharusan dari aturan yang ada. Anak belum matang untuk memahami keadilan dan kebenaran secara dua arah.

c) Tahap 3: “Apa imbalannya jika aku bersikap adil?” (usia 5,5-8 tahun) Anak melihat keadilan sebagai sesuatu yang patut mendapat imbalan.

Bagi anak di tahap ini, keadilan merupakan sesuatu yang ketat, sesuatu yang penuh perhitungan, dan keadilan mengarah kepada pemahaman akan persamaan hak apabila anak berbagi maka harus ada imbalannya.

d) Tahap 4: “Aku tidak mengharap imbalan atas perbuatan baikku” (usia 8-13 tahun)

Di tahap ini, anak sudah dapat berpikir tentang kebutuhan orang lain dan menolong tanpa mengharap balasan.

e) Tahap 5: “Keadilan bersifat universal” (usia 12 tahun ke atas)

Anak memahami keadilan adalah hak semua orang dan sangat penting bagi terciptanya masyarakat yang baik dan dapat saling bekerja sama.

Dengan memahami tahapan keadilan pada anak, maka akan memudahkan guru membantu anak mencapai tingkat penalaran yang lebih tinggi tentang keadilan. Anak-anak perlu belajar berbagi sejak dini. Belajar berbagi tidak hanya dibutuhkan dalam bergaul di lingkungan, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan keadilan Berdasarkan ringkasan dari uraian di atas, pengertian karakter keadilan adalah entitas yang menggerakkan seseorang untuk mampu berperilaku mau peduli, mematuhi aturan, menyelesaikan masalah, inisiatif berbagi, menunjukkan sportivitas, bersikap reseptif, mencari solusi, tidak asal menuduh, bersikap sabar, dan melayani sesama.

2.1.1.4 Buku Pedoman Permainan Tradisional

1. Pengertian Buku Pedoman Permainan Tradisional

Buku adalah salah satu sumber pengetahuan yang diciptakan untuk menambah ilmu pengetahuan (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2018: 1).

Buku pegangan sama dengan buku pedoman atau sering disebut buku

manual, yaitu bunga rampai informasi yang dititikberatkan pada suatu subjek atau pokok bahasan untuk memperdalam bidang tertentu dan dapat digunakan sebagai acuan melaksanakan suatu penelitian atau praktikum (Irianti, 1998). Buku manual atau buku pedoman adalah terbitan tentang suatu subjek yang menguraikan petunjuk dan aturan dari subjek tersebut.

Buku pedoman juga memuat gambar-gambar untuk lebih memperjelas petunjuk operasionalnya dengan bagian akhir yang disertai daftar kepustakaan ditinjau dari isinya. Dari penjelasan definisi buku pedoman di atas, buku pedoman adalah petunjuk atau informasi suatu subjek atau bidang tertentu yang dimuat dalam suatu buku. Buku pedoman juga memuat gambar-gambar yang merujuk pada petunjuk operasional subjek yang dibahas.

2. Ruang Lingkup Buku Pedoman Permainan Tradisional a. Kriteria Buku Pedoman

Buku pedoman yang baik memiliki ciri (Irianti, 1998), yaitu dikelola oleh editor yang mahir dibidangnya, dilengkapi indeks, mudah digunakan, dan memiliki format yang menarik. Buku pedoman dan buku pegangan memiliki pengertian yang berbeda. Buku pedoman memuat petunjuk melakukan suatu kegiatan dan prosedur tertentu sedangkan buku pegangan menyajikan uraian informasi suatu subjek (Abdul, 2010: 39). Berikut merupakan kriteria buku yang berkualitas (PUSKURBUK, 2018: 9).

1) Cover Buku

Komponen yang dimuat pada cover buku, yaitu a) judul buku yang dapat mengilustrasikan isi buku menggunakan bahasa Indonesia yang efektif; b) judul buku tidak mengandung stereotip yang mengarah pada kelompok tertentu ataupun tidak melecehkan; c) cover buku mengilustrasikan isi buku; dan d) pada cover buku dimuat nama penulis.

2) Bagian Awal Buku

Komponen yang dimuat pada bagian awal buku, yaitu a) keterangan hak cipta, nomor International Standard Book

Number (ISBN), nama, alamat, kota domisili penerbit, dan nama penulis dicantumkan pada halaman hak cipta; b) halaman prakata atau kata pengantar yang ditulis oleh penulis buku; dan c) memuat halaman daftar isi, daftar tabel atau daftar gambar.

3) Bagian Isi Buku

Isi buku disesuaikan dengan jenjang dan karakteristik pendidikan, dalam hal ini buku panduan pendidik. Komponen yang dimuat pada bagian isi buku, yaitu a) berisi panduan tentang suatu metode, media, penilaian pembelajaran untuk meningkatkan kapasitas pedagogik, sosial, dan profesionalitas pendidik; b) seluruh sumber rujukan yang dimuat dituliskan pada daftar referensi di bagian halaman akhir buku sebagai bentuk tanggung jawab penulis; dan c) supaya mudah dipahami, isi buku ditulis menggunakan tata bahasa dan disajikan dengan gaya yang baik.

4) Bagian Akhir Buku

Komponen yang dimuat dalam halaman akhir buku, yaitu daftar pustaka, daftar istilah atau glosarium, indeks, dan lampiran.

b. Karakteristik Buku Pedoman

Berikut merupakan unsur karakteristik buku pedoman (Widodo &

Jasmadi, 2008: 50).

1) Self-Instructional

Unsur self-instructional pada buku pedoman dimaksudkan siapapun dapat menggunakan dan mempelajari buku pedoman secara mandiri. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar buku pedoman dapat memiliki unsur self-instructional, yaitu:

a) buku pedoman memuat contoh-contoh atau ilustrasi menarik, b) materi yang dimuat dalam buku pedoman berkaitan langsung dengan konteks kehidupan anak, c) bahasa mudah dipahami oleh anak, d) rangkuman materi pembelajaran disertakan, dan e) referensi pendukung materi pembelajaran dituliskan.

2) Self-Contained

Pada buku pedoman, unsur self-contained dimaksudkan untuk memuat materi pembelajaran yang dipelajari secara utuh dengan tujuan materi pembelajaran dapat dipelajari secara tuntas.

3) Stand Alone

Unsur stand-alone dimaksudkan untuk buku pedoman dapat dikembangkan dan digunakan tanpa bergantung dengan media lain.

4) Adaptif

Unsur adaptif dimaksudkan untuk buku pedoman mampu menyelaraskan dengan perubahan-perubahan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Isi materi buku pedoman hendaknya isi materi yang dapat dimanfaatkan hingga kurun waktu tertentu dan dapat digunakan di berbagai tempat secara fleksibel.

5) User Friendly

Unsur user-friendly dimaksudkan buku pedoman perlu memenuhi kaidah yang bersahabat dengan penggunanya. Informasi dan instruksi hendaknya memudahkan penggunanya, dan membantu penggunanya merespons sesuai dengan keinginan.

c. Fungsi Buku Pedoman

Berikut merupakan fungsi dari buku pedoman memiliki (Irianti, 1998).

1) Memberikan penjelasan yang rinci dan sangat detail mengenai suatu bidang.

2) Memandu pembaca untuk lebih memperdalam bidang cakupan suatu buku pedoman.

3) Sebagai sarana untuk memeriksa dan menguji data bagi pemakainya dalam melaksanakan tugas mereka terutama peneliti, penguji mutu barang dan para pekerja lapangan.

4) Sebagai petunjuk bagi pemakai untuk melakukan suatu tugas.

3. Indikator Pengembangan Buku Pedoman

Buku pedoman permainan tradisional dikembangkan berdasarkan karakteristik pembelajaran yang efektif yang sesuai dengan pemahaman pembelajaran untuk pendidikan karakter, yaitu 1) bervariasi artinya buku pedoman memuat berbagai pendekatan dalam pembelajaran dalam hal ini permainan tradisional, 2) menstimulus artinya buku pedoman mampu memberikan stimulasi-stimulasi melalui permainan tradisional, 3) menyenangkan artinya buku pedoman memberikan kesenangan bagi penggunanya dengan dimanfaatkannya permainan tradisional, 4) operasional-konkret artinya buku pedoman mengajak penggunanya untuk melakukan aktivitas secara konkret dengan dimanfaatkannya permainan tradisional, 5) berpikir kritis artinya buku pedoman dapat mengajak penggunanya berpikir secara kritis, 6) kreatif artinya buku pedoman memberikan kesempatan penggunanya untuk mengembangkan kreativitas melalui permainan tradisional, 7) komunikasi artinya buku pedoman dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi penggunanya dengan memanfaatkan permainan tradisional, 8) kolaborasi artinya buku panduan dapat menciptakan pembelajaran yang kolaboratif melalui permainan tradisional, 9) multikultural dalam hal ini dimanfaatkannya permainan tradisional dari berbagai budaya di Indonesia, dan 10) karakter keadilan dalam buku pedoman dapat dipupuk melalui permainan tradisional.

Berdasarkan uraian di atas, buku pedoman permainan tradisional adalah petunjuk atau informasi mengenai permainan-permainan tradisional dari beberapa daerah di Indonesia yang dimuat dalam suatu buku yang memiliki indikator bervariasi, menstimulus, menyenangkan, operasional-konkret, berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, multikultural, dan karakter keadilan.

2.1.2 Hasil Penelitian yang Relevan

Riset yang mengkaji konsep dari suatu pembelajaran dengan kesenian kebudayaan adat daerah setempat dan permainan tradisional dinyatakan dapat meningkatkan pendidikan karakter anak sekolah dasar (Prastyan, 2019). Selain itu, pendidikan karakter siswa sekolah dasar dapat

ditanamkan dengan pembelajaran berbasis kearifan lokal yang dipadukan dengan seni tari (Rosala, 2016). Karakter pelajar di tingkat satuan pendidikan dasar juga dapat ditumbuhkan dengan pengembangan permainan tradisional Goteng, Lari Papan atau Segi Empat, dan Kasti Tangan (P. Widodo & Lumintuarso, 2017). Sejalan dengan penelitian yang memanfaatkan permainan tradisional, yaitu dalam mengembangkan karakter kontrol diri anak (Sekarningrum, Nugrahanta, & Kurniastuti, 2021), menumbuhkan karakter hati nurani anak (Putri & Nugrahanta, 2021), mengembangkan karakter kebaikan hati anak (Astuti &

Nugrahanta, 2021), menumbuhkan karakter toleran anak umur 6-8 tahun (Nugraheni, Nugrahanta, & Kurniastuti, 2020), dan memperkuat karakter hati nurani anak umur 6-8 tahun (Pratiwi, Nugrahanta, & Kurniastuti, 2021). Karakter fairness siswa sekolah dasar dinyatakan dapat meningkat dengan media permainan roda pelangi (Setyaputri, Krisphianti, &

Puspitarini, 2018).

Selain dengan permainan tradisional dan Roda pelangi, media wayang topeng dengan teknik storytelling dinyatakan menjadi salah satu cara efektif meningkatkan karakter fairness siswa (Krisphianti, Irtadji, &

Hidayah, 2016). Permainan tradisional juga dapat dimanfaatkan untuk

Hidayah, 2016). Permainan tradisional juga dapat dimanfaatkan untuk