BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Teori-Teori yang Mendukung
1. Pembelajaran yang Efektif
Penelitian ini merupakan sebuah upaya pencarian model pembelajaran yang efektif guna mengembangkan karakter. Model pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya berdasarkan satu teori tertentu saja, namun penelitian ini ingin mengkolaborasikan inspirasi dari
beberapa gagasan agar dapat menemukan solusi yang lebih komprehensif bagi permasalahan pendidikan karakter. Pembelajaran yang efektif adalah proses perubahan pada individu meliputi perubahan kognitif, tingkah laku, dan psikomotor dari proses pembelajaran yang didapat individu melalui pengalaman dan lingkungannya yang membawa pengaruh positif atau faedah. Pembelajaran yang efektif memberikan kesempatan peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya (Yusuf, 2018). Beberapa gagasan yang relevan dikaji dan dirumuskan menjadi indikator-indikator bagi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif memiliki kriteria, yaitu bervariasi, menstimulus, menyenangkan, operasional-konkret, berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, multikultural, dan karakter keadilan.
2. Pembelajaran Berfundamental Otak (Brain Based Learning)
Prinsip dasar berbasis otak, yaitu otak didesain untuk bertahan hidup (Jensen, 2011: 10). Pembelajaran yang berfundamental pada otak atau Brain Based Learning adalah salah satu pendekatan ilmiah yang diselaraskan dengan kinerja otak guna menggali pengetahuan maupun pengalaman (Jensen, 2011: 12). Lingkungan yang kondusif dapat membuat otak bekerja secara optimal untuk belajar (Jensen, 2011: 11). Pengalaman multi jalur dan multi rasa pada Brain Based Learning mampu menumbuhkan kemampuan otak dengan sangat baik (Jensen, 2011: 22).
Brain Based Learning memiliki inti konsep (Jensen, 2011: 50), yaitu 1) pembelajaran yang kaya akan variasi, 2) pembelajaran yang kaya akan stimulasi, dan 3) adanya kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.
Pembelajaran yang kaya akan variasi yaitu beragam gaya belajar dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang kaya akan stimulasi yaitu adanya rangsangan dalam proses pembelajaran terhadap indera anak sehingga kemampuan auditori, visual, dan kinestetik terasah.
Kegiatan yang menyenangkan mampu menciptakan ketertarikan dan kenyamanan bagi anak sehingga anak diberi kesempatan penuh dalam
proses belajarnya. Otak dapat belajar secara efektif apabila memenuhi tiga inti strategi tersebut.
3. Tingkatan Kognitif Anak Usia SD
Pendekatan konstruktivisme meyakini bahwa anak dapat efektif belajar apabila anak sendiri yang aktif mengkonstruksi pengetahuannya sehingga pengetahuan tidak untuk diberikan melainkan secara aktif dikonstruksi sendiri oleh anak dalam sistem kognitifnya. Jean Piaget (1896-1980) meyakini, anak terlahir dengan skemata sensorimotorik yang mempengaruhi pengalaman awal anak. Skemata motorik tersebut menjadi kerangka interaksi awal antara anak dengan lingkungan. Interaksi anak dengan lingkungan dapat mengubah struktur kognitif dan mengembangkan pengalaman secara berkelanjutan (Ibda, 2015).
Berikut merupakan tingkatan kognitif anak menurut Jean Piaget (Suparno, 2001: 24).
a. Tahap Sensorimotor (umur 0 hingga 2 tahun)
Konsep anak tentang kausalitas atau sebab akibat berkembang.
Perkembangan yang dimaksud yakni dari yang belum memiliki konsep menjadi memiliki konsep. Konsep kausalitas anak berkembang sejalan dengan perkembangan konsep ruang dan waktu anak. Panca indera anak seperti melihat, mendengar, menjamah, meraba, atau membau menjadi dasar intelegensi anak. Objek yang jauh dalam jangkauan anak belum mampu ia ungkapkan dengan bahasa.
b. Tahap Pra-Operasi (umur 2 hingga 7 tahun)
Anak telah mampu menggunakan bahasa simbol atau tanda secara bersamaan dalam membicarakan atau mengungkapkan suatu hal yang terjadi. Perkembangan kognitif pada tahap ini dibagi menjadi dua perkembangan, yaitu pada umur 2 hingga 4 tahun mengalami perkembangan pemikiran simbolis dan pada umur 4 hingga 7 tahun anak mengalami perkembangan pemikiran intuitif.
c. Tahap Operasi Konkret (umur 7 hingga 11 tahun)
Logika anak dengan aturan-aturan yang logis telah berkembang pada tahap ini. Anak telah mampu mengembangkan dan menerapkan sistem logikanya
dalam menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapinya. Anak usia SD berada dalam tahap ini. Artinya, pembelajaran yang efektif dapat terjadi apabila anak dilibatkan dalam pembelajaran untuk melakukan sendiri berbagai aktivitas pembelajaran melalui sarana yang konkret.
d. Tahap Operasional Formal (umur 12 keatas)
Anak mulai mampu membayangkan kemungkinan-kemungkinan, atau pengalaman di luar pengalaman konkret mulai dipikirkan oleh anak secara lebih transendental, idealis, dan logis. Gagasan operasional formal yang abstrak pada anak akan tampak jelas dalam problem verbal tanpa perlu melihat elemen konkret (Hikmawati, 2018).
Berdasarkan tahapan-tahapan yang ada pada tingkatan kognitif dari kajian Piaget, anak yang berumur 9 hingga 12 tahun atau usia sekolah dasar dikategorikan dalam tingkatan operasional konkret. Artinya, pembelajaran yang efektif akan terjadi dalam pembelajaran tersebut jika anak dilibatkan secara aktif untuk beraktivitas melalui sarana yang konkret.
Aspek sosial menjadi salah satu aspek dari pendekatan konstruktivisme dalam perkembangan anak karena adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya. Aspek sosial meliputi lingkungan sekitar anak seperti rumah sekolah, guru, orang tua, dan teman sebaya mempengaruhi proses pengalaman belajar anak. Hal tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran sosial dari kajian Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934), bahwa kegiatan sosial dan kultural sangat berkaitan erat dalam perkembangan anak (Mutiah, 2010: 76). Pentingnya pengaruh sosial pada pembelajaran anak dicetuskannya melalui konsep tiga zona (Mutiah, 2010: 77), yaitu 1) zone of actual development, zona anak dapat melakukan tugas-tugas tanpa perlu dibantu oleh orang lain; 2) zone of proximal development, zona anak dapat mempelajari tugas-tugas sulit secara mandiri dengan bantuan orang lain yang lebih mampu dalam hal tersebut; dan 3) zone of potential development, zona anak mampu melakukan tugas-tugas akibat dari adanya interaksi dengan teman sebaya atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih dari dirinya.
Gambar 2. 1 Zone of Proximal Development
Pembelajaran efektif mengarah pada zone of proximal development. Tahap tersebut hanya dapat dicapai apabila konteks sosial dilibatkan dalam pembelajaran yang memiliki konsep scaffolding.
Scaffolding, yaitu bantuan dari teman sebaya atau orang lain yang lebih kompeten untuk menyelesaikan tugas atau masalah. Vygotsky menganggap anak belum memiliki konsep yang sistematis sehingga dengan dibantu teman sebaya atau orang yang lebih kompeten anak akan menemukan konsep yang lebih sistematis. Hal tersebut menunjukkan dimensi kolaboratif sangat sentral dalam pembelajaran yang efektif.
Menurut teori yang dikemukakan Piaget dan Vygotsky, lingkungan sosial sangat penting dalam perkembangan usia anak 9-12 tahun. Anak dengan usia tersebut membutuhkan pengalaman belajar yang memanfaatkan media yang real atau konkret serta perlunya lingkungan sosial yang mendukung. Media yang real atau konkret serta lingkungan sosial dapat menciptakan pembelajaran yang efektif bagi anak.
Zone of Proximal
5. Tantangan Pembelajaran Abad 21
Kajian dari World Economic Forum diperoleh pokok-pokok hasil rekomendasi bahwa pengembangan kemampuan interpersonal, kemampuan berpikir secara analitis, dan kompetensi-kompetensi berpikir tingkat tinggi semakin dibutuhkan dalam pembelajaran. Di abad 21 pengetahuan dan teknologi berkembang menjadi semakin kompleks. Perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan. Berikut merupakan gambar kemampuan abad 21.
Gambar 2. 2 Bagan Kemampuan Abad 21
Di abad 21 penting sekali mengembangan beberapa kompetensi, yaitu 1) Critical thinking dan problem solving, 2) keterampilan berpikir kreatif, 3) keterampilan komunikasi, 4) keterampilan kolaborasi, dan 5) literasi dan kesadaran budaya. Masing-masing keterampilan tersebut memiliki peran yang berbeda-beda, a) critical thinking/ problem solving:
keterampilan dalam hal mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi KEMAMPUAN ABAD 21
situasi, ide dan informasi guna memformulasikan pendapat dan solusi; b) creativity: keterampilan dalam hal mengimajinasikan dan menyusun; c) communication: keterampilan verbal, nonverbal, visual, dan tertulis dalam hal memahami, mendengarkan, menyampaikan, dan mengkontekstualisasikan informasi; d) collaboration: kompetensi untuk bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama; e) cultural and civic literacy: keterampilan dalam memahami, menghargai, menganalisis, berinteraksi dengan individu lainnya sesuai sosial, budaya, dan etis.
Dari kajian teori tersebut dapat dirumuskan syarat-syarat bagi pembelajaran yang efektif dalam 10 indikator, yaitu bervariasi, menstimulus, menyenangkan, operasional-konkret, berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, multikultural, dan karakter keadilan. Permainan tradisional yang dikembangkan berdasarkan syarat-syarat tersebut dapat dijadikan sebagai solusi untuk merealisasikan pembelajaran yang efektif.
2.1.1.2 Permainan Tradisional 1. Pengertian Permainan Tradisional
Permainan dari kata dasar “main”. Main memiliki arti melakukan permainan guna membuat hati senang atau melakukan aktivitas yang membuat hati senang dengan memanfaatkan sarana tertentu atau tidak sama sekali memerlukan sarana lain menurut KBBI. Manusia disebut sebagai homo ludens, homo yang dimaksud ialah “manusia” dan ludens yang dimaksud adalah “yang suka bermain”. Ciri atau sifat bermain dalam kegiatan manusia adalah: a) a voluntary activity existing out-side “ordinary” life yang memiliki arti melakukan kegiatan yang ada di luar kehidupan “biasanya” secara sukarela; b) totally absorbing yang memiliki arti sepenuhnya memukau (menyita perhatian); c) unproductive yang memiliki arti tidak produktif; d) occurring within a circumscribed time and space yang memiliki arti terjadi pada waktu atau pun ruang tertentu; e) ordered by rules yang memiliki arti diatur oleh aturan-aturan; and f) characte-rized by group relationship which surround themselves by secrecy and disguise yang memiliki arti ada kerahasiaan dan
ketertutupan pada hubungan-hubungan antar kelompok yang menutupi dirinya (Huizinga, 1949: 13).
Secara etimologis, tradisional berasal dari kata Latin tradere yang memiliki arti menyerahkan. Tradisional dari kata tradisi. Tradisi merupakan budaya atau kebiasaan secara turun-temurun yang dijalankan oleh masyarakat seiring berkembangnya jaman. Anak-anak mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kedudukan atau peran sehingga anak-anak dapat membangun karakter melalui kegiatan bermain (Dharmamulya, 2005: 21). Berdasarkan pemaparan di atas, permainan tradisional adalah aktivitas menyenangkan yang berasal dari adanya budaya aau kebiasaan suatu masyarakat.
2. Ruang Lingkup Permainan Tradisional a. Karakteristik Permainan Tradisional
Berikut merupakan karakteristik pada permainan tradisional yang membuatnya memiliki kekhasan (Perdani, 2013).
1) Permainan tradisional menggunakan sumber bermain dan sumber alat permainan dari alam sekitar.
2) Permainan tradisional mengedepankan kolaborasi atau kerjasama, saling asah asih asuh, dan kekompakan.
3) Permainan tradisional melatih emosi dan moral anak dalam menumbuhkan karakter kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab yang penuh pada setiap pemainnya.
4) Permainan tradisional memupuk nilai luhur dan pesan moral yang bajik, seperti sportivitas, berlapang dada menerima kekalahan, kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab.
5) Permainan tradisional memberi kesempatan para pemainnya mendapat pengalaman secara emosional dari adanya kontak fisik atau komunikasi antar pemain.
b. Manfaat Permainan Tradisional
Permainan tradisional bermanfaat bagi anak. Hal tersebut tercerminkan dalam beberapa aspek, yaitu aspek perkembangan anak yang
mencakup aspek motorik, sosial, dan psikis yang terstimulasi melalui permainan-permainan tradisional (Kusmiati & Sumarno, 2018). Selain itu, permainan tradisional dapat menjadi sarana penyalur energi anak-anak yang masih sangat aktif, memberikan anak kesempatan bersosialisasi dengan lingkungannya, dan mengembangkan kepribadian anak (Kusmiati
& Sumarno, 2018).
c. Pengembangan Permainan Tradisional
Sebagai upaya dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dilakukan pengembangan permainan tradisional. Bagian ini menjadi dasar untuk buku pedoman pada bab 2 dan 3. Berikut merupakan pengembangan permainan yang perlu diperhatikan secara umum (Sugar, 2002: 8).
1. Permainan bersifat pengalaman
Permainan memberi kesempatan anak berinteraksi langsung dengan mengolah informasi yang terdapat dalam sebuah permainan.
2. Permainan memungkinkan guru atau fasilitator membimbing anak dalam jumlah tertentu secara khusus
Permainan dapat disesuaikan dengan hampir semua topik sehingga guru atau fasilitator dapat memanfaatkannya untuk memberikan bimbingan khusus kepada satu atau dua anak.
3. Permainan memberikan pilihan untuk guru atau fasilitator di kelasnya Permainan memungkingkan guru atau fasilitator untuk menambahkan variasi dan fleksibilitas pada penyampaian materi pembelajaran.
4. Permainan dengan menguatkan pembelajaran
Permainan memungkinkan guru atau fasilitator menyampaikan materi pembelajaran dengan cara menyenangkan.
5. Permainan harus memberikan umpan balik
Permainan memberikan anak umpan balik langsung tentang kualitas masukan mereka dengan umpan balik korektif yang tepat.
6. Permainan perlu meningkatkan kemampuan tes
Permainan menghadirkan tantangan tersendiri untuk pemainnya.
Tantangan dalam permainan berfungsi sebagai latihan pemainnya dalam meningkatkan kemampuan tes.
7. Permainan menunjukkan energi yang baik di kelas
Permainan memperkuat konsep bahwa kelas menjadi tempat yang mendukung anak mencurahkan energinya, misalnya setelah anak terlibat aktif dalam permainan anak dapat kembali fokus pada materi pelajaran.
8. Permainan dapat menjadi sarana mengenalkan topik pembelajaran baru atau topik sulit
Permainan dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas guru atau fasilitator memperkenalkan topik pembelajaran baru atau topik sulit karena format permainan menyenangkan khususnya bagi anak. Pertanyaan sulit yang ada dalam permainan yang tidak dapat dipecahkan oleh anak akan tampak bahwa “pertanyaan hanyalah bagian dari game”.
9. Permainan dapat melengkapi tugas membaca
Permainan dapat ditambahkan lembar panduan atau lembar tanya jawab yang akan melengkapi aktivitas membaca anak.
10. Permainan harus memuat kerja sama tim
Permainan harus melatih anak dalam aturan bekerja sama dan berkolaborasi sebagai kelompok.
11. Permainan memandu untuk bermain sesuai aturan
Permainan memperkuat konsep bahwa bermain sesuai aturan merupakan satu-satunya cara memenangkan permainan secara mutlak.
12. Permainan memupuk pencapaian individu dan kelompok
Permainan memberi kesempatan anak berbagi pendapat dalam kelompok setelah anak memproses pengetahuan tersebut secara mandiri.
13. Permainan meningkatkan keterampilan multitasking
Permainan menciptakan tekanan yang membantu membangun problem solving serta mendorong kreativitas.
14. Permainan menjadi pengganti kegiatan yang menuntut
Permainan menjadi pengganti kegiatan yang menuntut, meskipun dibutuhkan namun ditakuti anak dengan format permainan yang menyenangkan.
Pengembangan permainan dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu informasi dan materi yang diperlukan dalam permainan dipilah, informasi atau materi diubah menjadi pertanyaan, pertanyaan dibuat dimasukkan ke dalam permainan, di setiap pertanyaan ditetapkan skor pada jawaban, melakukan pengulangan pada pertanyaan yang telah dibuat untuk memastikan supaya sesuai dengan informasi atau materi yang akan disajikan, dan agar anak lebih fasih memahami informasi atau materi pembelajaran maka dilakukan pengulangan pada pemberian skor jawaban (Sugar & Sugar, 2002: 19). Berdasarkan gagasan yang dibahas sebelumnya tentang pentingnya mengembangkan wawasan multikultural, pemilihan permainan tradisional dipilih dari daerah-daerah yang berbeda dan disesuaikan dengan usia anak.
Dari kajian beberapa gagasan di atas, diperoleh ringkasan bahwa permainan tradisional adalah aktivitas menggembirakan dengan adanya aturan yang disepakati, baik memanfaatkan sarana atau tanpa memerlukan sarana tambahan. Dalam langkah-langkah pengembangan permainan tradisional perlu memperhatikan beberapa hal tersebut.
2.1.1.3 Pendidikan Karakter Keadilan
Pengertian dari pendidikan karakter yakni upaya mendidik seseorang supaya bijak dalam setiap langkah pengambilan keputusan dan dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari (Megawangi, 2004: 95). Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai sebuah usaha demi terwujudnya karakter siswa yang baik (Sudrajat, 2011). Pendidikan karakter merupakan usaha yang secara sadar ditujukan untuk menanamkan nilai kebaikan dan memperbaiki karakter (Musto, Japar, & Ms, 2018). Seorang individu yang berkarakter dapat lebih mempertanggungjawabkan setiap perilaku yang dilakukannya. Tujuan dari pendidikan karakter salah satunya adalah membimbing anak agar dapat terciptanya kepribadian dengan pengetahuan bijak dalam mengambil keputusan,
dan bermoral yang bajik (Lickona, 2012: 82). Selaras dengan padangan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) yang meyakini bahwa karakter merupakan budi pekerti atau watak dalam jiwa manusia yang berasas hukum kebatinan (Asa, 2019). Ki Hadjar Dewantara menegaskan seseorang yang berbudi pekerti dapat berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat menguasai dan memerintah diri sendiri.
Pendidikan karakter membantu memperluas pengetahuan seorang individu mengenai nilai-nilai moral dan etis yang akan mempengaruhi mereka dalam mengambil setiap keputusan yang perlu mereka pertanggungjawabkan secara moral (Kesuma, 2020: 116).
Aristoteles menempatkan pikiran sebagai pijakan awal pendidikan karakter.
Pemikiran yang baik perlu diterapkan dalam menjalani hidup dengan sesama melalui tindakan-tindakan baik yang nyata (Lickona, 2012: 72). Karakter yang baik dicerminkan dengan pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action) (Lickona, 2012: 84). Karakter baik pada diri seseorang bermula dari mengetahui hal baik, berlanjut pada mengingini hal yang baik, lalu diterapkan pada tindakan yang baik. Sebuah kebiasaan yang menjadi karakter merupakan hasil dari pengulangan tindakan baik secara konsisten dalam kurun waktu yang lama (Lickona, 2012: 82). Berikut merupakan bagan unsur karakter yang baik (Lickona, 2012: 84).
Gambar 2. 3 Bagan Unsur Karakter Yang Baik
Moral Knowing
Ketiga unsur karakter tersebut saling berhubungan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral. Dari anak panah yang menghubungkan setiap bagian berdasarkan diagram di atas menunjukkan bahwa setiap komponen saling mempengaruhi dan tidak dapat berfungsi sebagai bagian yang terpisah. Pengetahuan moral (moral knowing) merupakan muatan enam aspek, yaitu aware of moral, understand moral values, choose perspective, moral contemplation, make a decision, dan personal knowledge sebagai tujuan pendidikan karakter yang diinginkan (Lickona, 2012: 85). Perasaan moral (moral feeling) merupakan sisi emosional karakter yang memuat aspek, yaitu conscience, pride, empathy, love good things, self control, dan modesty. Tindakan moral (moral action) memuat tiga aspek, yaitu ability, volition, dan habit.
1. Pengertian Karakter Keadilan
Karakter keadilan merupakan karakter yang perlu dipupuk pada anak sejak usia dini. Dalam bahasa Inggris, keadilan memiliki beberapa term yang berbeda, seperti justice diterjemahkan sebagai peradilan, equity diterjemahkan sebagai hak menurut keadilan, fairness diterjemahkan sebagai adil atau kewajaran, dan impartiality diterjemahkan sebagai sifat yang netral atau tidak memihak. Secara etimologis, keadilan adalah kebenaran ideal sesuatu hal mengenai benda atau orang secara moral.
Keadilan adalah entitas yang menggerakkan seseorang untuk mampu berperilaku reseptif, menerapkan kejujuran, dan melakukan kebajikan (Borba, 2008: 267). Fairness merupakan sikap untuk mampu transparan terhadap sesama, menghargai kesetaraan antar individu, bermain sesuai aturan yang disepakati, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai keuntungan (Setyaputri dkk, 2018). Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa keadilan adalah entitas yang menggerakkan seseorang untuk mampu berperilaku transparan, reseptif, melakukan kebajikan, menghargai hak orang lain, dan mematuhi aturan.
2. Ruang Lingkup Keadilan
Ruang lingkup keadilan terdiri dari masalah-masalah yang menimbulkan krisis keadilan dan langkah-langkah untuk memupuk karakter adil.
a. Masalah-masalah yang Menimbulkan Krisis Keadilan
Hal berlawanan dengan keadilan yang menjadi pemicu krisis keadilan yaitu kompetisi, individualisme, dan materialisme (Borba, 2008: 262). Kasus-kasus kekerasan pada anak dianggap masih marak terjadi. Dari hasil survei nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan sebesar 62% anak perempuan dan laki-laki di Indonesia menjadi korban tindak kekerasan dari satu tindak kekerasan (UNICEF, 2002: 46). Survei dari Dr.
Donald McCabe dan The International Center for Academic Integrity (May, 2020) terhadap lebih dari 70.000 siswa sekolah menengah di Amerika Serikat menunjukkan 64% siswa memberi kesaksian bahwa mereka menyontek saat ujian, 58% melakukan plagiarisme, dan 95%
mengatakan mereka berpartisipasi dalam beberapa bentuk kecurangan seperti menyalin pekerjaan rumah milik teman, dikutip dari laman resmi The International Center for Academic Integrity (ICAI).
Kasus kecurangan lain yang diteliti oleh Bretag, dkk (2018: 5) bahwa 14.086 siswa yang mewakili 4,38% dari total siswa di delapan Universitas Australia yang disurvei menunjukkan 81,7% siswa terlibat 1-2 kali menyontek dan 9,4% siswa terlibat 10 kali atau lebih.
Permasalahan tersebut dapat terjadi karena adanya 4 faktor penghambat terbentuknya keadilan pada anak, yaitu 1) hubungan antara orang tua dan anaknya yang kurang baik sejak usia dini, 2) ketiadaan contoh yang baik dari orangtua, tokoh panutan seperti, guru, orang tua, tokoh agama, atau tokoh masyarakat 3) keharusan berkompetisi, dan 4) kurangnya bermain bersama teman (Borba, 2008:
263).
b. Langkah-langkah Mengembangkan Karakter Keadilan
Terdapat tiga langkah yang dapat diterapkan untuk membangun kebajikan utama keadilan pada anak, yaitu 1) memperlakukan anak
secara adil sebagai bentuk pemberian contoh yang nyata agar anak menangkap makna keadilan, 2) mempraktekkan sikap adil kepada anak seperti mau berkompromi, transparan, mengedepankan kejujuran, mematuhi aturan dan 3) anak diajarkan untuk menentang ketidakadilan dan kecurangan dengan cara mendorong anak melakukan pelayanan atau kegiatan sosial (Borba, 2008: 270).
3. Indikator Karakter Keadilan
Anak yang memiliki rasa keadilan yang kuat diindikasikan dengan indikator, yaitu 1) menghormati hak sesama, 2) mengikuti aturan, 3) berusaha memecahkan masalah secara damai, 4) inisiatif membagi benda miliknya, 5) menerima menang atau kalah, 6) berpikiran terbuka, 7) berkompromi, 8) tidak menuduh orang lain tanpa bukti, 9) bersabar menunggu giliran, dan 10) melayani sesama dengan senang hati (Borba, 2008: 269). Sepuluh indikator tersebut diringkas menjadi mau peduli, mematuhi aturan, menyelesaikan masalah, inisiatif berbagi, menunjukkan sportivitas, bersikap reseptif, mencari solusi, tidak asal menuduh, bersikap sabar, dan melayani sesama. Setiap orang perlu memiliki karakter keadilan sebagai prinsip dalam bertindak untuk memperlakukan orang lain dengan adil secara objektif.
4. Tahap-tahap Keadilan pada Anak
Anak-anak mulai memahami keadilan secara bertahap. Berikut tahapan keadilan pada anak yang diadaptasi dari tulisan Dr. William Damon dan Dr. Thomas Lickona (Borba, 2008: 284).
a) Tahap 1: “Aku ingin itu. Ini tidak adil” (usia 1-4,5 tahun; masa prasekolah awal)
Anak masih egois dan merasa keadilan sebagai pemenuhan keinginan dan kebutuhan dirinya. Umumnya, anak selalu merasa kalah.
b) Tahap 2: “Sebaiknya aku bersikap adil, aku memang harus adil” (usia 4,5-5,5 tahun; masa prasekolah akhir)
Anak merasa harus bersikap adil karena keharusan dari aturan yang ada. Anak belum matang untuk memahami keadilan dan kebenaran secara dua arah.
c) Tahap 3: “Apa imbalannya jika aku bersikap adil?” (usia 5,5-8 tahun) Anak melihat keadilan sebagai sesuatu yang patut mendapat imbalan.
Bagi anak di tahap ini, keadilan merupakan sesuatu yang ketat, sesuatu yang penuh perhitungan, dan keadilan mengarah kepada pemahaman akan persamaan hak apabila anak berbagi maka harus ada imbalannya.
d) Tahap 4: “Aku tidak mengharap imbalan atas perbuatan baikku” (usia 8-13 tahun)
Di tahap ini, anak sudah dapat berpikir tentang kebutuhan orang lain dan menolong tanpa mengharap balasan.
e) Tahap 5: “Keadilan bersifat universal” (usia 12 tahun ke atas)
Anak memahami keadilan adalah hak semua orang dan sangat penting
Anak memahami keadilan adalah hak semua orang dan sangat penting