• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan dan solus

Dalam dokumen LKPJ 2013 DIY (Halaman 190-197)

URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

2009 2010 2011 2012 2013 Koperatif Aktif 1.805 1.926 1.981 2.090 2

4.1.12.3 Permasalahan dan solus

A. Permasalahan

1. Sarana dan prasarana yang dimiliki tidak sebanding dengan peningkatan jumlah masyarakat yang membutuhkan pelatihan sehingga penyelenggaraan pelatihan belum optimal.

2. Jumlah kesempatan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.

3. Sebagian besar perusahaan di DIY belum mempunyai atau membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) yang bertanggung jawab melaksanakan penerapan Norma Kerja dan Norma K3. B. Solusi

1. Revitalisasi lembaga pelatihan kerja pemerintah (BLK) dan optimalisasi peran pemerintah daerah kabupaten/kota dan swasta (LPKS) dalam upaya peningkatan pelayanan pelatihan.

2. Mengoptimalkan koordinasi dengan sektor swasta dalam meningkatkan kesempatan kerja dan mengembangkan kewirausahaan untuk dapat memperluas kesempatan kerja.

3. Pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan P2K3 di perusahaan.

4.1.13 Urusan Ketahanan Pangan

4.1.13.1 Kondisi Umum

Upaya peningkatan ketahanan pangan merupakan agenda penting dalam pembangunan daerah. Keberhasilan ketahanan pangan diarahkan menuju peningkatan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan. Oleh karena itu,

Pemerintah Daerah DIY terus berupaya memacu pembangunan ketahanan pangan melalui program dan kegiatan yang benar-benar mampu memperkokoh perwujudan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program dan kegiatan urusan ketahanan pangan tahun 2013 ditujukan untuk mewujudkan ketersediaan pangan yang berbasis pada pemanfaatan sumberdaya lokal secara optimal, keterjangkauan pangan (distribusi) dari aspek fisik dan ekonomi bagi seluruh masyarakat, terutama pada daerah rawan pangan, serta pemanfaatan pangan (konsumsi) untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. Program Pemberdayaan Ketahanan Pangan merupakan program yang mewadahi ketiga sub-sistem ketahanan pangan tersebut.

Kegiatan dalam Program Pemberdayaan Ketahanan Pangan meliputi tiga sub- sistem utama yaitu: (1)Sub-sistem ketersediaan pangan melalui penguatan cadangan pangan dan penanganan daerah rawan pangan, (2)Sub-sistem distribusi pangan yang menjamin kelancaran distribusi pangan dari sisi pasokan dan akses ke masyarakat melalui pemberdayaan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat dan Lembaga Akses Pangan Masyarakat, (3)Sub-sistem konsumsi pangan melalui perluasan gerakan mengkonsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, aman, dan sehat dengan berbasis produk pangan lokal serta penanganan keamanan pangan.

Pembangunan ketahanan pangan membutuhkan kelembagaan yang mantap, dengan didukung oleh sumber daya manusia yang handal. Sumber daya manusia mempunyai peran penting dan menentukan dalam pengelolaan dan dukungan program/kegiatan kelembagaan ketahanan pangan. Oleh karena itu, upaya pengembangan sumber daya manusia perlu lebih dioptimalkan. Program Pemberdayaan Penyuluhan merupakan program yang mewadahi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan aktivitas penyelenggaraan penyuluhan. Tingkat dan kualitas konsumsi pangan tercermin dari skor Pola Pangan Harapan (PPH). Skor PPH penduduk DIY pada tahun 2013 sebesar 83,1 atau meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun 2012 sebesar 78,7. Skor PPH DIY dalam empat tahun terakhir bahkan selalu di atas Skor PPH Nasional. Perbandingan antara skor PPH DIY dengan Nasional digambarkan dalam gambar di bawah ini:

Sumber: BKPP DIY, 2014

Catatan: Skor PPH Nasional tahun 2013 berdasarkan SUSENAS 2014 belum tersedia

Gambar 4.1 Perbandingan Antara Skor PPH DIY dengan Skor PPH

Nasional Tahun 2010-2013

Secara umum, capaian kinerja urusan ketahanan pangan pada tahun 2013 sudah sesuai dengan target yang ditetapkan dalam RPJMD 2012-2017 yang tercermin dari tercapainya target kelima indikator RPJMD 2012-2017 yaitu ketersediaan cadangan pangan; penurunan jumlah rawan pangan; persentase pengawasan dan pembinaan keamanan pangan; persentase ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan; serta peningkatan kapasitas penyuluh. Beberapa indikator seperti Ketersediaan Energi dan Ketersediaan Protein bahkan sudah melampaui target pada tahun 2017. Sementara capaian Skor PPH tahun 2013 sebagai Indikator Kinerja Utama sudah mencapai 93,06% dari target pada tahun 2017. Tabel 4.19 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Ketahanan Pangan

Tahun 2012-2013 No Indikator Satuan 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s/d 2013 Terhadap 2017 (%) Target Realisasi Realisasi

% 1. Ketersediaan Pangan a. Ketersediaan Energi KKal/ kap/hr 3,689 3,511 3,867 110 3,511 110 b. Ketersediaan Protein Gr/ kap/hr 100,63 90,83 98,23 108 90,83 108 c. Ketersediaan Cadangan Ton beras 40 230 230 100 450 51,11 79.24 85.60 78.70 83.10 77.50 77.30 75.40 2010 2011 2012 2013

No Indikator Satuan 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s/d 2013 Terhadap 2017 (%) Target Realisasi Realisasi

% Pangan 2. Penurunan Jumlah Desa Rawan Pangan Desa 80 71 60 222 35 57,14

3. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Skor 78,7 80,2 83,1 104 89,3 93,06 4. Persentase Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan % 73 75,5 85 113 90 94,44 5. Distribusi,Harga dan Akses Pangan Meningkat Unit gapoktan 11 22 22 100 30 73,33 6. Persentase ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan

% 94 96,87 100 103 100 100 7. Peningkatan Kapasitas Penyuluh % 100 48 48 100 100 48 8. Kemampuan dan Kapasitas Pelaku Utama Meningkat Orang 14.400 150 150 100 750 20

4.1.13.2 Program dan Kegiatan Tahun Anggaran 2013

Pemerintah Daerah DIY pada tahun 2013 melalui BKPP DIY telah melaksanakan 4 program dan 28 kegiatan. Jumlah dana yang dialokasikan pada tahun 2013 sebanyak Rp6.005.008.830,- termasuk 2 program dan3 kegiatan yang dialokasikan melalui Dana Keistimewaan. Sampai dengan Desember 2013, realisasi capaian fisik sebesar 62,5% dan capaian keuangan sebesar Rp3.694.446.498,- (61,52%). Hal ini disebabkan oleh adanya sisa lelang pembangunan gedung, sisa lelang jasa konsultasi, dan kegiatan Dana Keistimewaan yang belum terlaksana karena terbatasnya waktu pelaksanaan. 4.1.13.3 Permasalahan dan Solusi

A. Permasalahan

1. Persentase ketersediaan informasi pasokan, harga, dan akses pangan sudah tinggi, namun ketersediaan data distribusi bahan pangan masih perlu lebih dioptimalkan dengan adanya data keluar-masuk bahan pangan.

2. Nilai capaian skor PPH DIY sudah melampaui target yang telah ditetapkan pada tahun 2013, namun pola konsumsi terhadap pangan khususnya protein dengan berbasis sumberdaya lokal masih rendah. 3. Pengawasan peredaran keamanan pangan sudah dilakukan dengan cukup

baik yang tercermin dari persentase pengawasan dan pembinaan yang sudah mencapai 85%. Namun demikian pengawasan terhadap makanan yang beredar di lingkungan sekolah, pinggir jalan, dan pasar tradisional masih perlu terus ditingkatkan.

B. Solusi

1. Pendataan oleh BKPP DIY diantaranya langsung dilakukan ke distributor, supermarket, pasar dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang baru dapat dipergunakan untuk penyusunan NBM yang sifatnya tahunan (n–1). Untuk masa mendatangkan diperlukan keberadaan lembaga/institusi khusus yang menangani distribusi keluar-masuk bahan pangan

2. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan lokal. Pada tahun 2013 Pemerintah Daerah telah melakukan kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis produk olahan pangan lokal. Untuk tahun mendatang akan semakin ditingkatkan intensitas dan diperluas sebarannya diantaranya melalui sinergi dengan kegiatan pariwisata. Surat Edaran Gubernur mengenai penggunaan pangan lokal sebagai hidangan konsumsi rapat di instansi Pemda DIY akan ditindaklanjuti dengan regulasi penggunaan pangan lokal secara lebih luas.

3. Memberikan sosialisasi dan edukasi kepada konsumen (masyarakat) dan para pelaku usaha pengolahan tentang pangan yang bermutu dan aman serta proses pengolahan pangan yang benar dan aman, terus dilakukan melalui pertemuan/apresiasi dengan melibatkan institusi terkait. Pengawasan peredaran makanan terutama di sekolah akan lebih diintensifkan melalui kerja sama dengan instansi terkait.

4.1.14 Urusan Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak

4.1.14.1 Kondisi Umum

Pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan bagian integral dari pembangunan DIY. Tujuan dari pembangunan

urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender, meningkatkan kedudukan dan peran perempuan dalam semua aspek kehidupan, meningkatkan peran perempuan sebagai pengambil keputusan, perlindungan perempuan dan anak dari tindakan salah (kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, pelecehan), dan menjamin pemenuhan hak- hak anak untuk hidup, berkembang, dan berpartisipasi sesuai dengan harkat dan martabat.

Beberapa upaya yang dilakukan Pemda DIY terkait pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan anak antara lain : menyusun kebijakan afirmatif dalam rangka pembangunan berprespektif gender, advokasi dan sosialisasi dalam rangka peningkatan peran perempuan dalam semua aspek kehidupan, memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak melalui regulasi dan fasilitasi korban.

Pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan anak di DIY dinilai cukup berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan diterimanya penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya tingkat utama (tertinggi) pada tahun 2013 sebagai provinsi yang dinilai telah berkomitmen dalam implementasi strategi yang terkait dengan Pengarusutamaan Gender (PUG), dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di berbagai sektor pembangunan.

Tabel 4.20 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2012-2013

No Indikator Kinerja 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s.d 2013 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi 1 Persentase Partisipasi Perempuan di lembaga swasta 96,41 96,50 96,65 100,16 96,99 99,65 2 Persentase Partisipasi Perempuan Penentu Kebijakan publik di lembaga pemerintah 35,55 35,97 35,50 98,69 36,48 97,31 3 Persentase Keanggota Perempuan dalam Organisasi Politik N/A 8,41 8,61 102,38 13,72 62,76

No Indikator Kinerja 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s.d 2013 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi 4 Jumlah penanganan perempuan korban kekerasan N/A 670 795 84,28 618 128,64 5 Jumlah Penanganan Anak Korban kekerasan N/A 322 301 106,98 297 101,35 6 Persentase Pembinaan Organisasi perempuan 37,64 50,14 50,14 100 100 50,14

Kondisi di tahun 2013 memperlihatkan bahwa sebagian besar indikator-indikator urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang tertuang di dalam RPJMD DIY tahun 2012-2017 telah dan hampir mencapai target di tahun tersebut. Indikator yang tidak mencapai target antara lain:

1) Persentase Partisipasi Perempuan Penentu Kebijakan publik di lembaga pemerintah, terealisasi sebesar 98,69%. Hal ini dikarenakan pengisian jabatan struktural di pemerintah berdasarkan pada kompetensi bukan kuota. Selain itu, beberapa pejabat struktural perempuan yang telah purna tugas digantikan oleh pejabat laki-laki .

2) Jumlah Penanganan Perempuan Korban kekerasan, realisasinya sebesar 84,28%. Hal ini dikarenakan jumlah pengaduan kekerasan yang melebihi target.

4.1.14.2 Program dan Kegiatan Tahun Anggaran 2013

Alokasi anggaran untuk urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun Anggaran 2013 terdiri dari 4 program dengan dana APBD dan 1 program dengan dana dari Keistimewaan, jumlah angaran sebesar Rp3.479.860.00,- dengan realisasi anggaran sebesar Rp3.264.924.150,- (93,82%). Realisasi fisiknya mencapai 100%.

4.1.14.3 Permasalahan dan Solusi

A. Permasalahan

1. Kompetensi PNS perempuan (hard skill dan soft skill) untuk mengisi jabatan struktural di lembaga pemerintah masih perlu dioptimalkan. 2. Angka kekerasan terhadap perempuan meningkat

B. Solusi

1. Memberikan edukasi dan advokasi kepada PNS perempuan dalam peningkatan kompetensi yang dibutuhkan.

2. Peningkatan upaya pencegahan, koordinasi, cakupan dan kualitas layanan korban kekerasan terhadap perempuan.

Dalam dokumen LKPJ 2013 DIY (Halaman 190-197)