URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH
15. Load factor angkutan perkotaan meningkat.
4.1 URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN
4.1.2.2 Program dan Kegiatan Tahun Anggaran
Capaian kinerja urusan kesehatan yang semakin baik dari tahun ketahun tidak menyurutkan upaya untuk senantiasa mencapai peningkatan lebih lanjut. Upaya peningkatan kondisi kesehatan masyarakat dari tahun 2012–2017 ditempuh melalui 20 program dan 130 kegiatan, dengan 3 kegiatan yang didanai melalui dana keistimewaan.
Jumlah anggaran ke 20 program tersebut Rp130.244.865.091,- dapat direalisasi sebanyak Rp70.726.297.039,- (54,30%), dengan pencapaian fisik 96,38%. Realisasi keuangan dari dana APBD 2013 sebanyak Rp124.656.865.091,- dengan realisasi sebanyak Rp70.174.345.139,- (56,29%) dengan capaian fisik 99,01%, sedangkan dari dana keistimewaan sebanyak Rp5.588.000.000,- realisasinya Rp551.951.900,- (9,88%) dan capaian fisik 43,78%.
4.1.2.3 Permasalahan dan Solusi
A. Permasalahan
Penerapan pola perilaku hidup bersih dan sehat untuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman risiko penyakit masih belum sepenuhnya baik, termasuk didalamnya adalah pola umum gizi seimbang (PUGS), kesehatan lingkungan (sanitasi dan akses air bersih), pencegahan penyakit menular, aktifitas fisik, penggunaan obat, jaminan kesehatan dan lain sebagainya.
B. Solusi
Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui posyandu, desa/kelurahan siaga, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi keagamaan.
4.1.3 Urusan Lingkungan Hidup
4.1.3.1 Kondisi Umum
Peningkatan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan merupakan upaya yang perlu terus dilakukan karena merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yaitu pro poor, pro growth, pro environment dan pro gender. Indikator yang digunakan dalam pembangunan lingkungan hidup di DIY adalah persentase peningkatan kualitas lingkungan, sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD DIY 2012 – 2017. Untuk penghitungannya digunakan indikator peningkatan kualitas udara ambien dan peningkatan kualitas air sungai. Untuk kualitas udara ambien mendasarkan hasil
pengukuran pada 5 kabupaten/kota, dengan parameter kunci yang digunakan hidro karbon (HC) dan karbon monoksida (CO). Untuk kualitas air sungai mendasarkan pada pengukuran pada 11 sungai yang mengalir di DIY, dengan parameter kunci yang digunakan Biological Oxygen Demand (BOD) dan
Chemical Oxygen Demand (COD).
Kinerja pembangunan urusan lingkungan hidup Pemerintah Daerah DIY pada tahun 2013 telah berhasil mencapai target 100% sebagaimana ditetapkan dalam RPJMD 2012-2017.
Tabel 4.5 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Lingkungan Hidup Tahunm 2012-2013 No Indikator Kinerja 2012 2013 Capaian 2013 Terhadap 2017 (%) Target 2017 Target Realisasi Realisasi
% 1 Prosentase peningkatan kualitas lingkungan 2 % 3,14 % 3,14 % 100 % 20 % 15,72 % 2 Prosentase Peningkatan akses informasi sumber daya air dan lingkungan hidup
10 % 15 % 15 % 100 % 20 % 35 %
3 Peningkatan Penaatan Lingkungan Hidup bagi kegiatan usaha
2 % 3 % 3 % 100 % 25 % 12 % 4 Sumber Pencemar Lingkungan yang dibina 360 unit usaha 360 unit usaha 360 unit usaha 100 % 90 % 400 unit usaha 5 Persentase pemenuhan penyediaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan 7 % 11,67 % 10 % 85,65 % 17,14 % 58,33 %
6 Luas Lahan yang terkonservasi terhadap luasan total lahan
3 Ha 9 Ha 17 Ha 189 % 37,78 % 45 Ha
A. Prosentase Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup
Perhitungan parameter prosentase peningkatan kualitas lingkungan di atas dihitung berdasarkan kumulatif antara kualitas udara ambien dan kualitas air. Kualitas udara ambien dihitung berdasarkan kumulatif parameter zat pencemar kunci, yaitu CO (karbon monoksida) dan HC (Hidrokarbon). Kadar zat CO nilai
reratanya di wilayah perkotaan Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan hasil uji yang dilakukan adalah 716, 15 µg/m3 dan nilai ambang batas yang
ditargetkan untuk parameter CO 11.140 µg/m3, sedangkan untuk HC
berdasarkan hasil uji didapat nilai reratanya sebesar 117,5 µg/m3 dan nilai
ambang batas yang ditargetkan adalah < 150 µg/m3. Konsentrasi CO dan HC
tersebut terjadi dimungkinkan karena peningkatan aktivitas lalu lintas pada ruas- ruas jalan perkotaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kualitas air sungai dihitung berdasarkan parameter BOD dan COD. Berdasarkan hasil uji kualitas air nilai rerata BOD adalah sebesar 9,96 mg/l dengan nilai ambang batas yang ditargetkan adalah sebesar < 10 mg/l, sedangkan hasil uji untuk COD nilai reratanya adalah sebesar 20,28 mg/l, dan nilai ambang batas yang ditargetkan adalah sebesar < 50 mg/l.
Berdasarkan hasil uji kualitas udara ambien maupun kualitas air dengan beberapa parameter tersebut diatas, bahwa konsentrasi zat-zat pencemar tersebut masih berada dibawah ambang batas dan didalam perhitungan angka realisasi target sebesar 3,14% dapat dijelaskan bahwa kumulatif angka hasil uji kualitas udara ambien dan kualitas air tersebut dari tahun awal yang dikurangi dengan tahun eksisting pengujian dibagi dengan tiap-tiap nilai ambang batas parameter yang ditetapkan dan kemudian diprosentasekan, maka angka 3,14% tersebut dapat tercapai.
B. Prosentase Peningkatan Akses Informasi Sumberdaya Air dan
Lingkungan Hidup
Peningkatan akses Informasi Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan yang ada di Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Kegiatan yang dilaksanakan seperti : Pemantauan Kualitas Air, Pemantauan Kualitas Udara Ambien, Pengendalian Pencemaran Tanah, Pengembangan Data dan Informasi Lingkungan dan Penyampaian Informasi Lingkungan.
Ditargetkan sampai dengan tahun 2017 dapat diakses 14 jenis data atau 35 % sesuai dengan target indikator kinerja terkait dengan ketersediaan data sektor lingkungan hidup. Pada tahun 2012 telah tersedia 4 jenis data atau sekitar 10 % dari capaian target indikator pada tahun tersebut, yaitu : data pemantauan kualitas air sungai dan kualitas udara ambien, data kualits air laut dan air sumur. Pada tahun 2013 ketersediaan data mengalami peningkatan terdapat tambahan
jenis data sebanyak 2 data, yaitu : data kualitas tanah dan data kualitas limbah padat, sehingga ketersediaan data tersebut sudah mencapai angka 15% dan sesuai dengan target capaian indikator pada Tahun 2013.
C. Peningkatan Penaatan Lingkungan Hidup Bagi Kegiatan Usaha
Didalam pencapaian indikator kinerja penaatan lingkungan hidup bagi kegiatan usaha pada tahun 2013 dilakukan pengawasan penaatan lingkungan bagi 60 kegiatan usaha yang meliputi 3 jenis kegiatan usaha yaitu: industri manufaktur (industri kulit, pangan, tambang, agro industri), jasa layanan kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas rawat inap) dan jasa pariwisata (hotel dan tempat rekreasi). Berdasarkan indikator kinerja yang disaratkan tersebut dari 60 kegiatan yang diawasi terdapat 4 unit yang masuk dalam kategori taat, sedangkan perusahaan lainnya masih dalam kategori kurang taat atau tidak taat. Angka capaian 4 unit usaha yang masuk dalam kategori taat tersebut apabila dikorelasikan dengan target capaian kinerja peningkatan penaatan lingkungan hidup bagi kegiatan usaha sudah mencapai 6,6% atau > 3% (indikator kinerja yang disaratkan).
Untuk mendorong peningkatan ketaatan terus dilakukan upaya pembinaan baik melalui ekspose hasil pengawasan, peneguran kepada penanggungjawab kegiatan usaha dan mengupayakan perusahaan untuk membuat surat kesanggupan kesediaan untuk menaati dokumen lingkungan yang telah dibuat. Program kegiatan yang mendukung dalam pencapaian indikator ini adalah Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, khususnya kegiatan : Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Lingkungan.
Berdasarkan hasil kegiatan yang sudah disampaikan tersebut, maka angka capaian indikator kinerja peningkatan penaatan lingkungan bagi kegiatan usaha sebesar 3% pada Tahun 2013 sudah tercapai.
D. Sumber Pencemar Lingkungan Yang Dibina
Untuk mencapai indikator kinerja jumlah Sumber Pencemar Lingkungan yang dibina dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang ada pada Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Program Peningkatan Pengendalian Polusi. Kegiatan-kegiatan yang mendukung untuk pencapaian indikator kinerja ini adalah :
1.
Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Bidang Lingkungan hidup2.
Pengendalian Pencemaran Air3.
Pengelolaan B3 Dan Limbah B34.
Koordinasi Penilaian Langit Biru5.
Pengujian Emisi/Polusi Udara Akibat Aktivitas Produksi6.
Pengujian Kadar Polusi Limbah Padat dan Limbah CairUntuk indikator sumber pencemar lingkungan yang dibina sudah dilakukan 360 unit usaha pada Tahun 2013. Hal ini selaras dengan indikator capaian kinerja untuk sumber pencemar lingkungan yang dibina.
Sumber pencemar yang dibina meliputi kegiatan usaha di berbagai bidang seperti : industri kulit, hotel, jasa pelayanan kesehatan, bengkel AC, industri batik, laboratorium, laundry, tekstile, percetakan, jasa pencucian kendaraan dan industri rumah tangga lainnya yang tersebar di 5 kabupaten/kota. Bentuk pembinaan yang dilakukan melalui pelaksanaan bimbingan teknis, sosialisasi, pengawasan terhadap dokumen lingkungan yang dimiliki, pengujian mutu sampel limbah cair maupun limbah padat dari kegiatan usaha serta melakukan evaluasi kinerja lingkungan bagi kegiatan usaha yang potensial menimbulkan pencemaan dan kerusakan lingkungan.
E. Persentase Pemenuhan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan
Perkotaan
Pada tahun 2013 untuk indikator peningkatan persentase pemenuhan penyediaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan baru tercapai 10% dari target 11,67%. Penambahan ruang terbuka hijau dilaksanakan melalui penanaman bibit tanaman pada median jalan di perkotaan kota wates dan Bantul dengan tanaman perindang sepanjang 720 meter, pembuatan demplot kampung hijau di 30 lokasi yang tersebar baik di kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta maupun di Kabupaten Sleman, pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sungai Winongo di Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo, kota Yogyakarta. Pengadaan Bibit Tanaman Buah sebanyak 1.500 batang terdiri dari bibit buah mangga, sirsat dan nangka dan dibagikan kepada kelompok kampung hijau masing-masing lokasi sebanyak 50 batang. Program/kegiatan yang mendukung pencapain kegiatan ini adalah Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau dengan 4 kegiatan yaitu :
1. Penataan RTH
2. Pembuatan Demplot Kampung Hijau 3. DED Ruang Terbuka Hijau
Pada tahun 2013 juga dilakukan pembuatan Detail Enginering Design (DED) Ruang Terbuka Hijau untuk lokasi Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman Terbuka Hijau, mendorong kabupaten/kota untuk menginventarisasi lahan/lokasi yang potensial untuk dijadikan RTH yang selanjutnya dapat ditindaklanjuti untuk tahun-tahun mendatang, serta mendorong sekolah baik SD, SMP maupun SMA serta perkantoran untuk mengembangkan Ruang Terbuka Hijau di lingkungannya.
F. Luas Lahan Yang Terkonservasi Terhadap Luasan Total Lahan
Target penambahan lahan yang terkonservasi untuk tahun 2013 yang disaratkan didalam indikator kinerja luas lahan yang terkonservasi terhadap luasan total lahan adalah 9 Ha, sedangkan realisasi pelaksanaannya mencapai 17 Ha atau mencapai 189%. Untuk mencapai target indikator ini dilaksanakan melalui Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, dengan 2 kegiatan yaitu : Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan dan Pengendalian dan Pengawasan Pemanfaatan SDA. Reklamasi seluas 17 Ha tersebut berada pada 2 lokasi yaitu :
1. Dusun Nglinggo Barat, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, seluas 9 Ha, jenis tanaman konservasi yang ditanam adalah sukun, sirsat, mangga, petai dan sengon, dengan jumlah tanaman sebanyak 4.500 batang. Dalam pelaksanaannya bermitra dengan kelompok tani Mekartani Dusun Nglinggo Barat, Desa Pagerejo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo.
2. Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman, seluas 8 Ha, jenis tanaman konservasi yang ditanam adalah sengon, mangga, jati, sukun, sirsat, dengan jumlah tanaman sebanyak 4.000 batang. Dalam pelaksanaannya bermitra dengan Kelompok Tani Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman
4.1.3.2 Program dan Kegiatan Tahun Anggaran 2013
Pada tahun anggaran 2013, urusan Lingkungan Hidup dilaksanakan melalui 11 program dengan 74 kegiatan dengan realisasi keuangan sebesar Rp11.288.880.028,- (89,58%) dan realisasi fisik sebesar 100%. Untuk urusan keistimewaan dilaksanakan dengan 1 Program dan 1 kegiatan dengan realisasi keuangan sebesar Rp450.446.830,- (90,09%).
4.1.3.3 Permasalahan dan Solusi
A. Permasalahan
1. Peningkatan aktifitas transportasi akibat peningkatan aktivitas perekonomian dan bisnis memang terus diupayakan penataannya dan, kondisi ini juga menyebabkan meningkatnya pencemaran udara terutama parameter CO, NO2, HC dan partikulat pada titik-titik tertentu di wilayah
perkotaan.
2. Adanya anggapan dari sebagian para pelaku usaha (penanggungjawab usaha dan atau kegiatan) serta masyarakat bahwa untuk melakukan pengolahan limbah cair (IPLC) dari proses produksi memerlukan biaya yang mahal sehingga menghambat investasi dalam pengembangan usaha. Hal ini merupakan tantangan dalam upaya pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan, terutama pencemaran air sungai, khususnya parameter BOD (kondisi saat ini masih fluktuatif kualitasnya) .
3. Masih terbatasnya jumlah kelompok masyarakat yang peduli lingkungan serta terbatasnya pemahaman terhadap pentingnya menjaga kualitas kesehatan lingkungan, sehingga menyebabkan replikasi percontohan/demplot pengelolaan lingkungan (biogas, IPLC, Komposter) belum bisa berjalan secara baik. Kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, terutama kandungan bakteri koli dalam air sungai dan air tanah masih tinggi.
4. Belum adanya kesadaran perusahaan dalam pengelolaan lingkungan terbukti masih banyak perusahaan yang belum memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang diberi tugas khusus untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang menjadi kewajiban perusahaan, sehingga kecenderungan adanya pelanggaran dari perusahaan dalam melaksanakan kewajiban pengelolaan lingkungan dan menimbulkan masalah/dampak terhadap lingkungan.
B. Solusi
1. Mendorong kepada kabupaten/kota untuk membuat peraturan sebagai tindak lanjut tentang pengendalian pencemaran udara dengan mewajibkan setiap sumber bergerak (kendaraan bermotor) untuk melakukan uji emisi, kerjasama dengan instansi terkait untuk melaksanakan upaya perbaikan sistem transportasi dan mendorong pengembangan/pembangunan ruang terbuka hijau (RTH ) maupun jalur hijau.
2. Melakukan upaya koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah daerah kabupaten/kota dan para pemangku kepentingan melalui rapat koordinasi, sosialisasi dan pembinaan kepada pelaku usaha (penanggungjawab usaha/kegiatan) serta menjalin kerjasama yang kondusif sesusai dengan kapaitas dan kewenangannya.
3. Mendorong kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan edukasi dan fasilitasi pembangunan IPLC komunal bagi masyarakat yang menjadi kewajibannya sesuai dengan regulasi yang berlaku (Perda Limbah Domistik)
4. Pembinaan yang intensif terhadap perusahaan agar kewajiban- kewajibannya dilaksanakan dengan baik sehingga potensi dampak bisa dikendalikan. Pembinaan dalam pelaksanaan kewajiban yang tertuang dalam dokumen RKL-RPL dan juga pelaporannya.
5.
Mendorong Pemerintah Kabupaten/ Kota untuk lebih tegas terhadap kegiatan usaha yang melakukan pelanggaran tata ruang. Dalam memberikan izin Kabupaten/Kota perlu lebih berhati-hati dan para penanggungjawab usaha/kegiatan diwajibkan untuk menyusun dokumen lingkungan terlebih dahulu sebelum memulai membangun/konstruksi untuk kegiatan/usahanya.4.1.4 Urusan Pekerjaan Umum
4.1.4.1 Kondisi Umum
Dalam menyelenggarakan urusan pekerjaan umum, Pemerintah DIY bertanggungjawab untuk :
1. Melaksanakan pengelolaan sungai dan infrastruktur irigasi yang menjadi kewenangan, dengan tiga pilar pengelolaan sumberdaya air yakni konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
2. Melaksanaan pengelolaan jalan dan jembatan, baik yang terkait pemeliharaan rutin, rehabilitasi, peningkatan maupun pembangunan jaringan jalan/jembatanprovinsi.
3. Menyediakan infrastruktur dasar (keciptakaryaan) untuk peningkatan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, peningkatan layanan masyarakat, dan kelestarian lingkungan di perkotaan dan perdesaan. Ruang
lingkup pelayanan keciptakaryaan ini meliputi: permukiman, air minum, air limbah, persampahan, drainase, dan penataan bangunan dan lingkungan. Pada Tahun 2013 Pemerintah Daerah DIY telah berhasil meraih prestasi di tingkat nasional dalam Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum yaitu:
1. Penghargaan Khusus Sub Bidang Penyelenggaraan Jalan dan Jembatan dengan menerima piala tetap sebagai Provinsi Pemegang Peringkat Terbaik Sub Bidang Penyelenggaraan Jalan dan Jembatan selama 3 tahun berturut-turut.
2. Peringkat Terbaik Kesatu Sub Bidang Pembinaan Jasa konstruksi. 3. Peringkat Terbaik Ketiga Sub Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Kinerja Pemerintah Daerah DIY dalam menjalankan pembangunan urusan pekerjaan umum diukur dengan menggunakan 17 (tujuh belas) indikator kinerja yang mana 3 diantaranya merupakan Indikator Kinerja Utama (IKU) SKPD yaitu :
1. Penambahan ketersediaan air baku;
2. Persentase penyediaan aksesibilitas dalam kondisi mantap; 3. Persentase Penduduk Berakses Air Minum Dan Sanitasi.
Realisasi dalam pelaksanaan urusan pekerjaan umum pada tahun 2013 secara keseluruhan telah mencapai target RPJMD pada tahun berjalan dan pada beberapa indikator bahkan melebihi target yang ditetapkan.
Tabel 4.6 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Pekerjaan Umum
Tahun 2012-2013 No Indikator 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s/d 2013 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi 1 Persentase jaringan
jalan provinsi dalam kondisi mantap
71,09% 72,04% 72,87% 101,15% 74,44% 97,89%
2 Cakupan jalan dan
jembatan yang diinspeksi 100% 100% 100% 100% 100% 20% 3 Persentase penyediaan 24,2% 26,97% 28,55% 105,86% 38,74% 73,70%
No Indikator 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s/d 2013 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi Aksesibilitas bagi
kawasan strategis dan kawasan strategis baru
4 Persentase Luasan Daerah Irigasi (DI) yang Terlayani Air Irigasi
75,06% 76,50% 76,81% 100,41% 82,5% 93,10%
5 Penambahan ketersediaan air baku
600 lt/det 700 Lt/det 767,6 Lt/det 109,66% 2.100 Lt/det 36,55% 6 Persentase Penduduk
Berakses Air Minum
70,38% 73,87% 74,25% 100,51% 87,83% 84,54%
7 Layanan jaringan air limbah terpusat di KPY 13.329 SR 14.300 SR 16.191 SR 113,22% 20.000 SR 80,95% 8 Persentase penerapan sistem pengelolaan sampah ramah lingkungan 45% 50% 53% 106% 70% 75,71% 9 Persentase Peningkatan aksesibilitas kawasan perkotaan yang difokuskan pada wilayah kecamatan miskin 53% 57% 64% 112,28% 73% 88% 10 Persentase PeningkatanAksesibil itas kawasan perdesaan yang difokuskan pada wilayah kecamatan miskin 39% 43% 47% 109,30% 59% 80% 11 Dukungan Infrastruktur Kawasan Agropolitan,
Minapolitan dan Desa Potensi 28% 34% 34% 100,00% 58% 59% 12 Pengurangan jumlah titik genangan 27,90% 33,90% 35,29% 104% 57,90% 60,95% 13 Persentase keandalan Bangunan gedung negara sesuai dengan peraturan yang berlaku
78% 80% 82% 102,50% 88% 93%
14 Jumlah titik rawan banjir yang ditangani
20 titik 40 titik 43 titik 107,50% 120 Titik 36%
No Indikator 2012 2013 Target Akhir RPJMD (2017) Capaian s/d 2013 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi 15 Persentase jumlah sertifikat/laporan hasil uji dalam pelayanan jasa laboratorium pengujian 70,00% 75,00% 75,00% 100% 100% 75,00 16 Persentase performence / kinerja jasa konstruksi 75% 77,5% 78,34% 101,08% 87,5% 88,57 17 Persentase penguasaan
teknologi dan penye- baran informasi (centre of excellence) bidang pekerjaan umum
72,50% 75,0% 75,0% 100% 85% 88,24
A. Persentase Penyediaan Aksesibilitas Dalam Kondisi Mantap dan