• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Utama Pengawasan Ketenagakerjaan

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (Halaman 73-93)

ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. Permasalahan Utama Pengawasan Ketenagakerjaan

Sebelum menyusun kriteria dan sub kriteria permaslashan dalam model AHP, terlebih dahulu dilakukan inventarisasi dan pemetaan permasalahan melalui kegiatan focus group discussion yang dilakukan di dua lokasi yaitu Bandung dan Cirebon. Hasil identifikasi mengelompokkkan permasalahan dalam beberapa kriteria permasalahan yaitu : anggaran, sarpras, tata kerja, kendala geografis, regulasi, kelembagaan dan SDM dengan sub kriteria permasalahan atau turunan/penyebab permasalahan sebagaimana terlihat dalam gambar 4 dibawah ini. Permasalahan-permasalahan tersebut kemudian coba ditemukan apa permasalahan utamanya, hal ini penting dilakukan agar pengambil kebijakan memahami apa permasalahan prioritas yang terlebih dahulu harus ditangani.

Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan metode Analytical Hierarchi Process (AHP) yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner terhadap lima puluh satu responden ahli baik dari kelompok pejabat struktural maupun fungsional pengawas, hasilnya mendapatkan bahwa ada beberapa permasalahan utama atau prioritas yang muncul pada kelembagaan ini baik dalam level kriteria mapun sub kriteria. Apabila melihat karakteristik permasalahan, sebenarnya permasalahan ini dapat juga dikatakan merupakan permasalahan klasik kelembagaan yang belum tertangani dengan baik hingga kini dan situasi

ini diperkeruh dengan lahirnya ketentuan terkait pelimpahan fungsi pengawasan ketenagakerjaan.

Permasalahan-permasalahan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pada level kriteria permasalahan, permasalahan utamanya adalah: 1) Anggaran, 2) Kelembagaan/Organisasi, 3) SDM Pengawas dan seterusnya (gambar 5). Menarik untuk menganalisanya, berdasarkan pendapat ahli walaupun kelembagaan atau struktur organisasi, legalitas dan tata kerja (SOP) merupakan permasalahan yang paling sering didiskusikan namun ternyata prioritas permasalahannya tetap diseputar isu anggaran. Anggaran masih dianggap kunci

Gambar 4. Pemetaan permasalahan UPK

dalam menyelesaikan segala permasalahan kelembagaan pengawasan khususnya untuk mendukung kegiatan pemeriksaan dan operasional perkantoran. Permasalahan Kelembagaan ada diurutan kedua dengan sub kriteria permasalahannya ternyata pada jabatan bidang pengawasan banyak diisi oleh orang bukan dari bidang ketenagakerjaan atau dianggap kurang kompeten bukan pada sub kriteria permasalahan kelembagaan yang belum terbentuk.

Pada level sub kriteria permasalahan, permasalahan utamanya adalah 1) biaya pemeriksaan terbatas, 2) Pejabat banyak diisi oleh bukan orang ketenagakerjaan, 3) Biaya operasional unit terbatas, 4) Kekurangan pegawai pengawas, 5) Kelembagaan belum terbentuk dan seterusnya (Gambar 6).

Gambar 5. Permasalahan utama pada level kriteria

Biaya pemeriksaan dan operasional unit yang terbatas merupakan sebuah konsekuensi logis permasalahan yang muncul pasca ketentuan ini yaitu jarak dan minimnya sarana prasarana, namun juga dapat dikatakan bahwa kedua permasalahan ini merupakan permasalahan klasik yang terjadi hampir diseluruh kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan yang ada dan belum tertangani dengan baik hingga saat ini.

Gambar 6. Permasalahan utama pada level Sub Kriteria

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, problematika kebijakan ini adalah menjauhkan layanan pengawasan dari masyarakat, secara teknis, berdasarkan ketentuan Perka BKN No. 48 tahun 2015, maka pegawai pengawas harus berpindah kedudukan dari Kabupaten ke Provinsi.

Konsekuensi lainnya, mereka harus melepaskan sarana prasarana yang pernah ada dan digunakan seperti ruang kantor, kendaraan operasional, alat pengolah data hingga lebih luas lagi termasuk tunjangan dan jabatan yang dimiliki, dalam bahasa ironi, dapat dikatakan mereka seperti “terusir”. Di lain daerah, informan menyatakan bahwa permintaan kenaikan biaya pemeriksaan ini juga merupakan sebuah konsekuensi logis yang diakibatkan oleh meningkatnya intensitas kegiatan tim sapu bersih pungutan liar (saber pungli).

Pada bagian kelembagaan, bukan struktur kelembagaan atau organisasinya yang menjadi isu prioritas namun secara konsisten keberadaan pejabat yang banyak diisi oleh bukan orang ketenagakerjaan menjadi isu yang krusial. Pejabat yang banyak diisi orang yang bukan dari bidang ketenagakerjaan atau dapat dikatakan kurang kompeten dirasakan menghambat efektivitas pelaksanaan layanan pengawasan ketenagakerjaan.

Permasalahan kekurangan pegawai pengawas ketenagakerjaan merupakan permasalahan klasik dari kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan, kurangnya pegawai pengawas ini disebabkan oleh diantaranya diklat pengawas ketenagakerjaan yang terbatas, tunjangan fungsional yang rendah, mutasi baik atas permintaan sendiri atau karena intervensi kekuasaan dll.

Berdasarkan hasil olah data, masing-masing Provinsi mengalami permasalahan yang tidak jauh berbeda namun skala prioritasnya yang membedakan :

1. Provinsi Jawa Timur.

Permasalahan utama kelembagaan pengawasan di Provinsi Jawa Timur ialah biaya pemeriksaan yang terbatas (Gambar 7). Sebagaimana disampaikan sebelumnya, hal ini menjadi sebuah konsekuensi logis dari munculnya permasalahan jarak akibat diberlakukannya ketentuan ini.

Permasalahan selanjutnya adalah kelembagaan belum terbentuk dalam pengertian kelembagaan yang ada sekarang tidak representatif atau sifatnya dianggap sementara. Bentuk koordinator wilayah yang ada tidak memiliki kewenangan yang cukup sehingga menghambat efektivitas pelaksanaan pelayanan pengawasan ketenagakerjaan. Permasalahan kelembagaan lainnya yang secara konsisten muncul adalah pejabat bidang pengawasan yang banyak diisi oleh orang bukan dari bidang ketenagakerjaan.

Permasalahan selanjutnya yang muncul adalah tunjangan fungsional yang rendah. Hal ini juga merupakan salah satu akibat dari ketentuan ini dimana pada masa sebelumnya, pegawai pengawas ketenagakerjaan dibeberapa daerah Kabupaten/Kota tertentu telah mendapatkan tunjangan fungsional yang sangat memadai dan ketika berpindah ke Provinsi mereka tidak memilikinya lagi.

2. ProvinsiKalimantan Barat

Permasalahan utama kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan di Provinsi Kalimanta Barat ialah pejabat bidang pengawasan banyak diisi oleh orang

Gambar 7. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Prov. Jawa Timur

bukan dari bidang ketenagakerjaan (Gambar 8).

Merujuk pada Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Barat, bidang pengawasan ketenagakerjaan saat ini hampir seluruhnyanya diisi oleh personil yang semula berasal dari salah satu bidang ketransmigrasian. Hal ini dirasakan sangat mengganggu efektivitas pelayanan pengawasan ketenagakerjaan.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah SK pengukuhan kembali belum ada. Ini menyebabkan ketidak jelasan tanggung jawab dan secara legal posisi para pegawai pengawas menjadi lemah.

Selain itu permasalahan biaya pemeriksaan dan operasional unit yang terbatas juga menjadi permasalahan utama di kelembagaan pengawasan ini apalagi mengingat kondisis geografis daratan yang luas.

3. Provinsi Jawa Tengah

Berdasarkan data olahan, permasalahan utama kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah adalah masih banyaknya

Gambar 8. Permasalahan Utama Kelembagaaan UPK Prov. Kalimantan Barat

pegawai pengawas ketenagakerjaan yang belum menduduki jabatan fungsional pengawas dan juga kekurangan pegawai pengawas (Gambar 9). Hal ini dapat dipahami mengingat jumlah perusahaan dan jenis industri di wilayah Jawa Tengah cukup banyak dan beragam. Banyaknya pegawai yang telah mengikuti diklat namun belum diangkat menjadi pegawai pengawasan ketenagakerjaan begitu juga pegawai yang belum mengikuti diklat fungsional pengawas ketenagakerjaan.

Permasalahan yang cukup signifikan adalah pejabat pada Satuan Pengawasan Tenaga Kerja banyak diisi oleh orang bukan dari bidang pengawasan atau ketenagakerjaan. Hal ini tentu menyulitkan karena pada umumnya mereka tidak mengetahui seluk beluk dan mekanisme atau standar operasional pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan.

4. ProvinsiBali

Provinsi Bali adalah provinsi yang agak unik permasalahan kelembagaannya jika dibandingkan dengan provinsi lainnya yang menjadi lokus penelitian. Walaupun kelembagaannya berbentuk Korwil namun hal ini tidak menjadi permasalahan

Gambar 9. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Provinsi Jawa Tengah

utama kelembagaan. Luas wilayah yang relatif kecil menyebabkan permasalahan jarak dan koordinasi tidak menjadi signifikan. Selain itu, insentif yang diberikan Provinsi berupa tunjangan kinerja nilainya cukup tinggi jika dibanding tunjangan yang diperoleh para pegawai pengawas ketenagakerjaan sebelumnya diwilayah masing-masing, hal ini menyebabkan antusiasme para pegawai pengawas ketenagakerjaan untuk pindah ke Provinsi. Berbekal surat penetapan Kepala Dinas, para pegawai pengawas ketenagakerjaan melakukan pekerjaannya dengan baik.

Permasalahan utama kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan di wilayah ini adalah biaya operasional unit terbatas, minimnya kendaraan operasional dan tunjangan fungsional yang rendah.

Minimnya Biaya operasional unit dan kendaraan merupakan konsekuensi logis dari berkumpulnya para pegawai pengawas ketenagakerjaan di Provinsi selain memang permasalahan ini merupakan permasalahan klasik unit pengawasan ketenagakerjaan begitu juga dengan permasalahan tunjangan fungsional yang rendah.

Gambar 10. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Prov. Bali

5. ProvinsiBanten

Permasalahan utama kelembagaan pengawasan di Provinsi ini adalah kelembagaan belum terbentuk (Gambar 11). Kelembagaan belum terbentuk dalam pengertian kelembagaan yang ada sekarang sifatnya sementara (temporary). Model koordinator wilayah ini dirasakan tidak efektif karena tidak memiliki kewenangan yang cukup seperti misal penandatanganan surat perintah tugas dan dokumen pertanggungjawaban kegiatan. Apabila melihat permasalahan berikutnya seperti SOTK dan kewenangan, permasalahan utama kelembagaan diwilayah ini memang diseputar struktur kelembagaan yang ada. Berdasarkan informasi yang diperoleh, permasalahan yang umum muncul di Provinsi lainnya seperti biaya pemeriksaan dan operasional unit tidak muncul disisni mengingat ketersediaan anggaran yang memadai.

6. Provinsi Kepulauan Riau

Permasalahan utama kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan di Provinsi ini juga tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di Provinsi lainnya.

Biaya pemeriksaan terbatas juga merupakan

Gambar 11. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Prov. Banten

konsekuensi logis dari kondisi geografis wilayah yang berciri kepulauan (Gambar 12).

Permasalahan selanjutnya adalah kelembagaan yang belum terbentuk dalam pengertian kelembagaan yang ada saat ini yaitu korwil dirasa tidak representatif mengingat kewenangan yang tidak memadai, sifat tugas, lingkungan strategis dan kondisi geografis yang menyulitkan koordinasi dalam misal penyelesaian administrasi.

Begitupun di daerah lainnya, kelembagaan pengawasan ketenagakerjaan Provinsi Kepulauan Riau belum memiliki gedung kantor yang representatif.

7. Permasalahan utama dari perspektif Pegawai Pengawas dan Manajemen.

Untuk lebih memahami permasalahan secara lebih detil, kiranya harus juga melihat bagaimana pendapat dari masing-masing pelaku dalam institusi

Gambar 12. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Prov. Kepri

pengawasan yakni pihak manajemen dan fungsional pengawas itu sendiri.

Dari sisi pengawasan, permasalahan utama terkait kelembagaan adalah 1) Biaya pemeriksaan terbatas, 2) Pejabat banyak diisi oleh bukan orang ketenagakerjaan, 3) Kelembagaan belum terbentuk dan seterusnya (Gambar 13). Sedangkan dari perspektif manajemen, permasalahan utama kelembagaan pengawasan adalah 1) Biaya pemeriksaan terbatas, 2) Biaya operasional unit terbatas, 3) Kekurangan pegawai pengawas dan seterusnya.

Gambar 13. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK Perspektif Pengawas

Gambar 14. Permasalahan Utama Kelembagaan UPK perspektif Manajemen

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang (Halaman 73-93)