1. Gambaran Wilayah dan Ketenagakerjaan
Provinsi Jawa Timur memiliki luas wilayah sebesar 47.963 km2 atau 2,41 % Luas Indonesai yang meliputi dua bagian utama, yaitu Jawa Timur daratan dan Kepulauan Madura. Wilayah daratan Jawa Timur sebesar 88,70% atau 42.541 km2, sementara luas Kepulauan Madura memiliki luas 11,30% atau sebesar 5.422 km2. Selain Pulau Madura, Jawa Timur juga memiliki gugusan pulau. Adapun gugusan pulau-pulau yang ada di Jawa Timur adalah tersebut antara lain meliputi :
a. Pulau Madura, yang merupakan pulau terbesar di Propinsi Jawa Timur dimana dihubungkan oleh Jembatan SURAMADU (Surabaya-Madura), sebuah jembatan antar kontinen yang menghubungkan jalur antar Pulau Madura dengan Pulau Jawa.
b. Pulau Masalembu, yang terletak di sebelah utara Propinsi Jawa Timur.
c. Pulau Bawean, yang terletak sekitar 150 km sebelah utara Pulau Jawa dan terletak di bagian selatan Propinsi Jawa Timur (Pulau Jawa)
g. Gugusan pulau-pulau kecil di Laut Jawa dan Samudera Hindia
Pada tahun 2010 Jumlah penduduk Provinis Jawa Tumur mencapai 37.476.757 jiwa. (Sumber: Database BPS tahun 2010). Secara administratif Jawa Timur terbagi menjadi 29 kabupaten dan 9 kota, dengan Kota
Surabaya sebagai ibukota provinsi. Ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang memiliki jumlah kabupaten/kota terbanyak di Indonesia.
Jawa Timur memiliki sejumlah industri besar, di antaranya adalah galangan pembuatan kapal terbesar di Indonesia PT PAL di Surabaya, industri besar kereta api terbesar di Asia Tenggara PT INKA di Madiun, pabrik kertas (PT Tjiwi Kimia di Tarik-Sidoarjo, PT Leces di Probolinggo), pabrik rokok ( Wismilak di Surabaya, Gudang Garam di Kediri, Sampoerna di Surabaya, dan Pasuruan, serta Bentoel di Malang). Di Gresik terdapat Semen Gresik, dan PT Petrokimia Gresik. Di Tuban terdapat pabrik Semen terbesar di Indonesia yaitu Semen Indonesia (ex Semen Gresik), dan Semen Holcim serta Kawasan Kilang Petrokimia.
Pemerintah telah menetapkan 12 kawaan industri estate, di antaranya Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) di Surabaya, Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) di Kabupaten Pasuruan, Madiun Industrial Estate Balerejo (MIEB) di kabupaten Madiun, Ngoro Industrial Park (NIP) di Kabupaten Mojokerto, Kawasan Industri Jabon di Kabupaten Sidoarjo, serta Lamongan Integrated Shorebase (LIS) di Kabupaten Lamongan. Sentra industri kecil tersebar di seluruh kabupaten/kota, dan beberapa di antaranya telah menembus ekspor; Industri kerajinan kulit berupa tas, dan sepatu di Tanggulangin, Sidoarjo adalah salah satu industri kecil yang sangat terkenal.
Jumlah Tenaga Kerja atau Penduduk Usia Kerja di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2015 berjumlah 29.884.845 orang atau 16,06 % dari Tenega Kerja Indonesia. Dari jumlah tenaga kerja di Jawa Timur tersebut yang aktif secara ekonomi atau masuk dalam pasar kerja atau Angkatan Kerja berjumlah 20.274.681 orang, yang bebrarti Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) nya 67,84 %, lebih tinggi dari
TPAK Nasional yang hanya 65,76 %. Berbeda dengan TPAK, ternyata Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jawa Timur sebesar 4,47 % lebih rendah dari TPT Nasional yang sebesar 6,18 %.
Tabel 2. Jumlah Tenaga Kerja Yang Bekerja Di Jawa Timur dan Indonesia, Menurut Lapangan Usaha Utama, Pada tahun 2015
a. Tipe dinas Provinsi
Hasil penetapan intensitas dan beban kerja urusan Pemerintahan daerah Provinsi Kalimanta Barat khususnya di Bidang Ketenagakerjaan adalah merujuk pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 100/2948/SJ Tahun 2016 terkait tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah yang hasilnya ditetapkan oleh Menteri Ketenagakerjaan melalui Permenaker 28 tahun 2016 tentang hasil pemetaan Pemerintahan daerah di Bidang Ketenagakerjaan Provinsi di seluruh Indonesia. Hasil dari pemetaan tersebut, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Timur ditetapkan berkategori sedang. Hasil ini dihitung dengan mempertimbangkan varaibel Umum yang terdiri dari, jumlah penduduk, luas wilayah dan jumlah APBD. Variabel terknis terdiri
Orang (%) Orang (%)
Lapangan Usaha Utama Jawa Timur Indonesia
dari jumlah angkatan kerja (penduduk usia 15 tahun keatas), dan jumlah perusahaan besar, menengah, dan kecil/mikro.
b. Bidang Pengawasan
c. UPTD/Balai/Korwil dll per Kabupaten Jika Sudah Wilayah pengawasan ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Timur dibagi menjadi 6 koordinator wilayah (korwil). Akan tetapi, korwil tidak memiliki kewenangan apapun yang berkaitan dengan kelembagaan. Tujuan dibentuknya korwil adalah untuk membagi kedudukan pengawas berdasarkan
Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3
Kepala Seksi Norma Ketenagakerjaan
Kepala Seksi Norma K3
Kepala Seksi Bina Penegakan Hukum
Korwil II Korwil III Korwil IV Korwil V
KEPALA DINAS
Gambar 3. Struktur bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Prov. Jawa Timur
letak geografisnya. Adapun pembagian korwil adalah sebagai berikut
1) Korwil I berkedudukan di Kota Surabaya, dengan wilayah meliputi: Kota Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Kota Pasuruan, dan Kab.
4) Korwil IV berkedudukan di Bojonegoro, dengan wilayah meliputi: Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, dan Nganjuk
5) Korwil V berkedudukan di Jember, dengan wilayah meliputi: Jember, Kota Probolinggo, Kab.
Probolinggo, Banyuwangi, Bondowoso, dan Lumajang
6) Korwil VI berkedudukan di Pamekasan, dengan wilayah meliputi: Pamekasan, Bangkalan, Sumenep, dan Sampang
2. Gambaran Permasalahan Kelembagaan Pengawasan Ketenagakerjaan
a. SDM
Permasalahan SDM pengawasan ketenagakerjaan yang ada meliputi diantaranya :
1) Jumlah SDM yang terbatas, hal ini disebabkan diantaranya oleh : 1) kurangnya minat pegawai untuk menjadi pegawai pengawas ketenagakerjaan, 2) banyak pegawai yang dipindah tugaskan dll.
2) Kurangnya pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi
b. Keterbatasan Sarana Prasarana
Keterbatasan Sarpras meliputi diantaranya : 1) Sarana
Alat Pengolahan data terbatas dan belum memiliki fasilitas internet
2) Prasarana
Ruang kantor yang apa adanya, belum memiliki ruang pemeriksaan, kendaraan operasional tidak ada dll.
c. Kelembagaan/Organisasi
Beberapa permasalahan kelembagaan/organisasi di Provinsi Jawa Timur adalah Pejabat bidang pengawasan yang sebagian besar diisi oleh personil dari luar bidang pengawasan atau ketenagakerjaan.
Hal ini menyebabkan birokrasi menjadi berbeli-belit, dan teknis pelaksanaan menjadi tidak jelas dikarenakan kurangnya pemahaman pejabat baik dari Kepala dinas hingga kepala seksi terkait regulasi ketenagakerjaan dan Standar Operasional Prosedur bidang Pengawasan. Permasalahan kewenangan antara Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi dimana masih terdapat Pemerintah Kabupaten yang enggan menyerahkan kewenangan pengawasan ke Provinsi (Kabupaten Mojokerto) . Di Provinsi Jawa Timur, kelembagaan teknis pengawasan belum terbentuk sehingga mengakibatkan layanan menjadi tidak optimal/apa adanya dengan dukungan sarana prasarana yang terbatas.
d. Tata/Sistem Kerja
Permasalahan dari tata kelola ini diantaranya adalah pegawai pengawas belum memilik rencana kerja pengawasan yang disebabkan usulan rencana kerjanya belum disetujui oleh kepala dinas.
Dampaknya, pegawai pengawas ketenagakerjaan belum bisa melakukan pemeriksaan. Standar operasional prosedur pengawasan tidak menjadi jelas karena kurangnya pemahaman pejabat setempat terkait regulasi dan tata cara pengawasan. Contoh kasus: tidak dilibatkannya pengawas ketenagakerjaan Kabupaten dalam pemeriksaan K3 di perusahaan diwilayahnya dimana pejabat pengawas Provinsi menganggap tidak perlu mendapat rekomendasi pengawai pengawas umum oleh karena tidak terdapat pengawas spesialis di wilayah tersebut. Realitasnya, laporan hasil pemeriksan uji K3 hanya ditandatangani kepala dinas dan spesialis K3 dari perusahaan PJK3. Permasalahan selanjutnya yang muncul adalah, sering terjadinya pelaksanaan tugas-tugas administrasi yang tumpang tindih antara kewenangan pejabat struktural dan fungsional.
e. Kendala Geografis
Kendala geografis utamanya adalah jarak khususnya beberapa Kabupaten seperti diantaranya Kabupaten Ponorogo dan Trenggalek. Hal ini tentunya akan menyulitkan koordinasi mengingat waktu dan biaya perjalanan yang cukup mahal.
f. Regulasi
Beberapa permasalahan mendasar dari regulasi
adalah belum terbitnya SK
pengukuhan/pengangkatan kembali pegawai
pengawas sehingga pengawas belum dapat melakukan pemeriksaan.
g. Anggaran
Permasalahan dari aspek anggaran adalah biaya operasional unit yang terbatas.