1. Gambaran Wilayah dan Ketenagakerjaan
Secara umum, sebagian besar wilayah Provinsi Banten merupakan daratan berdataran rendah dengan ketinggian antara 0 sampai 200 m di atas permukaan laut, serta memiliki beberapa gunung dengan ketinggian mencapai 2000 meter di atas permukaan laut. Adapun luas wilayah Provinsi Banten mencapai 9.663 km2 atau sekitar 0,51 persen dari luas seluruh daratan Indonesia. Berarti, Banten adalah provinsi dengan luas wilayah terkecil kelima di Indonesia setelah Kepulauan Riau (0,43 persen), Bali (0,30 persen), DI Yogyakarta (0,16 persen) dan DKI Jakarta (0,03 persen).
Provinsi Banten terdiri dari empat wilayah kabupaten dan empat kota, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Pemerintahan Daerah.
No Kabupaten/Kota Luas
Wilayah Jarak Ibukota Provinsi ke Kabupaten/
Kota 1 Kabupaten Pandeglang 2.746,89
km2 21 km
2 Kabupaten Lebak 3.426,56
km2 41 km
3 Kabupaten Tangerang 1.011,86
km2 33 km
2. Organisasi Pengawasan Ketenagakerjaan
Tabel 4. Gambaran geografis Provinsi Banten
a. Tipe dinas Provinsi
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Banten. Hasil Tipologi Perangkat Daerah yang dibentuk merupakan hasil dari fasilitasi dan validasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri adapun mengenai penggabungan urusan pada perangkat daerah ini sesuai dengan perumpunan urusan dan kebutuhan serta potensi pemerintah Provinsi Banten yang menghasilkan Perangkat Daerah bahwa Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan Tipe A yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang ketenagakerjaan dan bidang transmigrasi.
Perangkat Daerah tersebut merupakan hasil fasilitasi kementerian Dalam Negeri sesuai dengan prinsip desain organisasi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, yang pembentukannya didasarkan pada asas efisiensi, efektivitas, pembagian habis tugas, rentang kendali, tata kerja yang jelas, fleksibel, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan intensitas urusan pemerintahan dan potensi daerah.
b. Bidang Pengawasan
c. UPTD/Balai/Korwil dll per kabupaten jika sudah ada.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Banten Nomor 560.05/Kep.6-Huk/2017 Tentang Pembentukan Tim Pengawasan Ketenagakerjaan Provinsi Banten. Hal ini mempertimbangkan faktor geografis, tingkat risiko bahaya keselamatan dan kesehatan kerja, dan jumlah perusahaan yang ada, serta dalam upaya mengoptimalkan dan meningkatkan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan di wilayah Provinsi Banten.
Membagi wilayah kerja pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan di Provinsi Banten menjadi:
1) Wilayah Kerja Serang I yang meliputi Kabupaten Serang dan Kota Cilegon;
2) Wilayah Kerja Serang II yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak;
Gambar 1. Struktur Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan di Provinsi Banten
3) Wilayah Kerja Tangerang I yang meliputi Kabupaten Tangerang;
4) Wilayah Kerja Tangerang II yang meliputi Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan;
5) Wilayah Kerja Khusus yang meliputi seluruh wilayah kerja Provinsi Banten;
3. Gambaran Permasalahan Kelembagaan Pengawasan Ketenagakerjaan
a. SDM
Permasalahan yang timbul berkaitan dengan aspek Sumber Daya Manusia pada standarisasi unit pengawasan yang ada meliputi diantaranya : a. Jumlah SDM yang terbatas atau bahkan kurang.
Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bahwa jumlah perusahaan dan petugas pengawas berbanding terbalik. Provinsi Banten dengan jumlah perusahaan sekitar 16.000 hanya memiliki petugas pengawas 74
Ketua:
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi
Gambar 2. Struktur Keanggotaan Tim Pengawas Ketenagakerjaan Provinsi Banten
orang; dengan rincian pengawas umum 39orang, PPNS 21 orang dan pengawas spesialis 14 orang.
b. Kekurangan jumlah sumber daya manusia ini dipicu oleh kurangnya minat pegawai untuk menjadi petugas pengawas. Hal ini berkaitan dengan tunjangan fungsional yang rendah, kesulitan mengumpulkan angka kredit serta dan terbatasnya jumlah diklat pengawas.
c. Tingginya perputaran petugas pengawas sebagai kebijakan pemerintah daerah dari satu instansi ke instansi lain. Konsekuensi perpindahan pegawai ini menyebabkan penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan kompetensi atau substansi ketenagakerjaan.
b. Keterbatasan Sarana Prasarana
Implikasi dari pemberlakuan UU 23/2014 terhadap efektivitas pelayanan pengawasan mengubah sistem dan tata kerja petugas pengawas.
Perubahan ini menuntut kesiapa instansi dalam menyiapkan sarana dan prasarana. Keterbatasan Sarana dan prasarana meliputi diantaranya : 1) Ruang kantor yang apa adanya;
2) Belum memiliki ruang pemeriksaan;
3) Kendaraan operasional tidak ada.
c. Kelembagaan/Organisasi
Beberapa permasalahan kelembagaan/organisasi di Provinsi Banten adalah terkait regulasi ketenagakerjaan dan Standar Operasional Prosedur bidang Pengawasan Ketenagakerjaan.
Permasalahan kewenangan antara Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi di mana masih terdapat Pemerintah Kabupaten yang enggan menyerahkan kewenangan pengawasan ke
Provinsi. Di Provinsi Banten, kelembagaan teknis pengawasan berbentuk korwil-korwil sehingga mengakibatkan adanya tumpang tindih kewenangan antara koodinator korwil dengan kepala bidang pengawasan sehingga pelayanan yang cepat dan tepat menjadi tidak optimal/apa adanya dengan dukungan sarana prasarana yang terbatas. Ketidakseragaman regulasi terkait petugas pengawas di setiap daerah menyebabkan perlu adanya koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah demi terlaksananya pengawasan yang ideal.
d. Tata/Sistem Kerja
Permasalahan dari tata kelola ini diantaranya adalah pegawai pengawas belum memilik rencana kerja pengawasan yang disebabkan usulan rencana kerjanya belum disetujui oleh kepala dinas.
Dampaknya, pegawai pengawas belum bisa melakukan pemeriksaan. Standar operasional prosedur pengawasan tidak menjadi jelas karena kurangnya pemahaman pejabat setempat terkait regulasi dan tata cara pengawasan. Contoh kasus:
tidak dilibatkannya pengawas ketenagakerjaan Kabupaten dalam pemeriksaan K3 di perusahaan diwilayahnya dimana pejabat pengawas Provinsi menganggap tidak perlu mendapat rekomendasi pengawai pengawas umum oleh karena tidak terdapat pengawas spesialis di wilayah tersebut.
Realitasnya, laporan hasil pemeriksan uji K3 hanya ditandatangani kepala dinas dan spesialis K3 dari perusahaan PJK3. Permasalahan selanjutnya yang muncul adalah, sering terjadinya pelaksanaan tugas-tugas administrasi yang tumpang tindih antara kewenangan pejabat struktural dan fungsional.
e. Kendala Geografis
Kendala geografis juga menjadi masalah utama. Hal ini tentunya akan menyulitkan koordinasi mengingat waktu dan biaya perjalanan yang cukup mahal.
f. Regulasi
Beberapa permasalahan mendasar dari regulasi
adalah belum terbitnya SK
pengukuhan/pengangkatan kembali pegawai pengawas sehingga pengawas belum dapat melakukan pemeriksaan, sementara ini Provinsi Banten hanya menerbitkan Surat Perintah Tugas yang sifatnya global dan tidak jelas status pengawasnya. Belum adanya PP Permendagri sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terkait ketentuan pembentukan kelembagaan, hal ini berdampak kepada salah satunya belum dapat dicairkannya anggaran.
g. Anggaran
Ketidakseragaman regulasi juga membuat perubahan anggaran unit pengawasan. Adanya keinginan korwil memperoleh anggaran sebagaimana bidang-bidang. Hal ini membuat permasalahan dari aspek anggaran menjadi hal yang sangat riskan. Anggaran yang tersedia juga belum dapat mencukupi biaya operasional unit.
Provinsi Banten masih melakukan revisi anggaran baik APBN maupun APBD sehingga anggaran belum dapat dicairkan. Hal ini juga yang menjadi penyebab kegiatan pemeriksaan belum dapat dilakukan.