BAB III: PASTORAL KEMURAHAN ROHANI
3.3 Situasi yang Dialami Pasangan Katolik yang Berpisah dan
3.3.2 Pernikahan Nongerejani dan Larangan Sambut Komuni
Menurut hukum Gereja Katolik, perkawinan merupakan lembaga yang sah karena terbentuk dengan sah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Demikian juga keyakinan Gereja: perkawinan adalah “kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orang-orang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan; kesepakatan itu tidak dapat diganti oleh kuasa manusiawi manapun”.175 Menurut aturan hukum Gereja, persetujuan bebas dalam pernyataan bersama secara sah mewujudkan perkawinan sebagai lembaga di depan hukum.
Di masa sulit sekitar Konsili Trente dan di saat kekacauan akibat kesepakatan perkawinan yang tidak jelas, Gereja Katolik mewajibkan semua orang Katolik agar menyatakan kesepakatan menurut cara yang ditetapkan oleh Gereja.176 Oleh karenanya, “perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan di hadapan Ordinaris Wilayah atau Pastor paroki atau Imam maupun Diakon yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang melayaninya, serta di hadapan dua orang saksi”.177 Sejak saat itu bagi orang Katolik berlaku:
kesepakatan perkawinan itu sah hanya kalau dinyatakan dengan tata cara yang ditetapkan Gereja; perkawinan sah dan nyata hanya kalau kesepakatan dinyatakan dengan sah; hanya perkawinan yang sah menjadi perkawinan nyata dan sakramental. Karena merupakan perkawinan nyata dan sakramental, maka perkawinan itu tidak dapat dipisahkan.
Sifat sakramental maupun lestari dan eksklusif perkawinan itu dikaitkan erat dengan tata hukum dan dengan aturan pelaksanaannya. Dan kesetiaan perkawinan,
175 KHK, Kan. 1057 §1.
176 KWI, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi, 80.
177 KHK Kan. 1108 § 1.
83
yakni keterikatan yang amat personal itu, terwujud dalam bentuk hukum yang teguh tegas.178 Maka perkawinan yang diteguhkan secara gerejawi dengan sah, tidak dapat dipisahkan. Orang Katolik yang terikat dalam perkawinan yang sah, tidak dapat nikah lagi, biarpun telah berpisah secara sipil atau sudah lama ditinggalkan oleh suaminya atau istrinya. Sanksi bagi orang Katolik yang telah berpisah secara sipil dan menikah kembali di luar Gereja, tidak diizinkan menyambut Komuni, “karena keadaan dan kondisi hidup mereka secara objektif bertentangan dengan persatuan kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan dan dihadirkan oleh Ekaristi”.179
Saat narasumber ditanya mengenai riwayat pernikahan dan efek yang dialami pasca pernikahan kedua, diperoleh jawaban yang kurang lebih seragam.
Ketujuhbelas narasumber menjalani pernikahan pertama secara Katolik baik sakramen (Baptis-Baptis) maupun nonsakramen (Baptis-nonbaptis/infideles).
Ketika pernikahan pertama bubar (cerai sipil), timbul kembali keinginan untuk membina rumah tangga dan hidup baru dengan pasangan yang baru. Namun karena halangan pernikahan terdahulu yang belum dinyatakan batal menurut hukum gerejani dan pasangannya pun masih hidup, maka saat akan menikah untuk kedua kalinya secara Katolik, mereka tidak bisa melangsungkannya.
Mereka terkena halangan karena masih adanya ikatan perkawinan sebelumnya (ligamen).180 Oleh karena halangan pernikahan untuk kedua kalinya menurut tata
178 Al. Purwa Hadiwardaya, Perkawinan dalam Agama Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 53-55.
179 FC, art. 84.
180 Kan. 1085 § 1-2. Menurut kodratnya perkawinan adalah penyerahan diri timbal balik, utuh dan lestari antara seorang pria dan seorang perempuan. Kesatuan (unitas) dan sifat monogam
perkawinan ini adalah salah satu sifat hakiki perkawinan, yang berlawanan dengan perkawinan
84
hukum Gereja Katolik itulah, maka mereka pun memilih untuk menikah di luar Gereja (KUA) atau difasilitasi oleh Imam hanya demi efek sipil saja. Langkah ini diambil demi ketenangan pasangan yang menjalani (dianggap sah karena dilaksanakan menurut tatap pernikahan agama tertentu dan sah menurut catatan sipil) juga demi alasan sosial kemasyarakatan (tidak dianggap kumpul kebo/
zinah).181
Menurut ajaran Gereja, konsekuensi dari umat yang menikah untuk ke dua kalinya menurut tata cara agama tertentu maupun efek sipil, apalagi yang bersangkutan masih terhalang oleh ikatan pernikahan sah sebelumnya, adalah tidak boleh sambut Komuni. Berdasarkan wawancara, konsekuensi dari tindakan pernikahan kedua itu ada yang diketahui dari semula -baik keduanya maupun salah satunya- atau baru disadari kemudian (setelah penjalani proses pernikahan sipil atau berdasarkan tata cara agama lain).182 Hal ini semata karena ketidaktahuan dari yang bersangkutan atau baru memperoleh informasi sesudah pernikahan terjadi. Informasi mengenai konsekuensi dari tindakan itu diperoleh dari yang bersangkutan atau diingatkan oleh tokoh umat maupun Rama Paroki.
poligami atau poliandri, baik simultan maupun suksesif. Sifat monogam perkawinan adalah tuntutan yang bersumber dari hukum ilahi kodrat, yang tak bisa didispensasi. Kan 1085 § 1 memberikan prinsip hukum kodrat demi sahnya perkawinan: “Adalah tidak sah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawinan sebelumnya, meskipun perkawinan itu belum disempurnakan dengan persetubuhan.” P. Antonius Dwi Joko, Paham Perkawinan menurut Kitab Hukum Kanonik 1983. Tersedia dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id302.htm;
(diakses 3 Desember 2017).
181 Pasangan yang menikah ke dua hanya demi efek sipil saja adalah pasangan pemilik data 2.Pl.2;
4.Bbd.1; 5.Bbd.2; 6.Pwl.; 7. Btg.1; 8.Btg.2; 9. Ngl. Pasangan yang ingin atau sudah melakukan pernikahan menurut tata peneguhan agama lain adalah pasangan pemilik data 5.Bbd.2-1; 7.Btg.1;
10.Bcr.-1.
182 Sanksi yang diketahui sendiri adalah data 1.Pl.1-3; 3.Gjr.1-3b. Narasumber lain mengatakan bahwa sanksi itu diketahui dari tokoh umat maupun Rama Paroki saat berkonsultasi.
85
Konsekuensi yang harus ditanggung ini dirasa sangat berat oleh mereka. Saat mendengar adanya sanksi tidak boleh sambut Komuni mereka merasa kurang percaya diri, ada rasa bersalah, rasa berat di hati, sedih, kangen (Ind. rindu), tidak bahagia, gelisah, gemeter (Jawa)/gemetar, isin (Jawa)/malu, dan merasa berdosa.
Saat menjalani hari-hari tidak boleh sambut Komuni beragam perasaan yang diungkapkan oleh narasumber. Mereka merasa putus asa karena terbayang sedemikian lamanya tidak boleh terima Komuni.183 Mereka juga merasakan
“kehausan” rohani, gelo (Jawa)/kecewa, kemecer (Jawa)/merasakan dorongan yang luar biasa untuk bisa segera menyambut Komuni, merasa diri tidak pantas, merasa jauh dari Tuhan, merasa tertekan, merasa kehilangan kontak dengan Tuhan, kagok (Jawa)/susah ketika ingin melakukan sesuatu saat orang di sampingnya sambut Komuni,184 memeng, aras-arasen (jawa)/malas, puasa rohani, bingung, berjalan dalam kegelapan, dan merasa hampa.
Narasumber terus setia, bertahan, dan bersabar dalam menjalani sanksi yang diterimanya. Ada godaan untuk sembunyi-sembunyi menyambut Sakramen Mahakudus di Paroki lain atau tetap membandel sebagaimana umat yang tetap sambut Komuni meski secara publik sudah diketahui jika ia sebenarnya tidak boleh karena berdosa berat. Untuk mengusahakan agar boleh sambut Komuni lagi, mereka memilih untuk menempuh proses mendapatkan kemurahan rohani dari Gereja, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rama Paroki. Dalam situasi yang
183 Narasumber berdasarkan data yang diperoleh tidak sambut Komuni selama 3-19 tahun.
184 Kagok (Jw.) dalam istilah Bahasa Indonesia kurang lebih bermakna susah atau menjadi terhalang untuk melakukan sesuatu. Dari data 9.Ngl.-2 ditemukan data ketika umat di sekelilingnya mau maju untuk terima Komuni, narasumber kaget dan lupa mau berdiri karena terbiasa. Namun begitu ingat akan sanksi yang sedang dijalani, yang bersangkutan lalu duduk kembali.
86
sulit dan tidak mudah itu, narasumber tetap berdoa dan percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka.
3.4 PRAKTIK KEMURAHAN ROHANI DI KEUSKUPAN AGUNG