• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Administratif Pengajuan Kemurahan Rohani

BAB III: PASTORAL KEMURAHAN ROHANI

3.4 Praktik Kemurahan Rohani di Keuskupan Agung Semarang

3.4.3 Syarat Administratif Pengajuan Kemurahan Rohani

Syarat administratif sebenarnya bukanlah sesuatu yang amat ditekankan dalam pemberian kemurahan rohani.217 Justru hal yang harus dilihat dan dibuktikan adalah hidup pernikahan kedua yang kendati tidak sah, tetapi tetap bisa berjalan dengan baik. Aturan baku dalam pelayanan pastoral ini beserta syarat-syarat administratif semata-mata agar memudahkan panitia dalam menimbang dan memutuskan setiap permohonan yang masuk. Syarat administratif sekurang-kurangnya berisi uraian yang menggambarkan keseriusan pemohon, disertai dengan kesaksian dari umat setempat atas sikap hidup pemohon yang baik.

Dukungan dari umat penting untuk mengetahui ada/tidaknya scandalum yang timbul di tengah-tengah jemaat.

Acuan persyaratan pengajuan kemurahan rohani adalah Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Familiaris Concortio. Dokumen ini menjadi dokumen utama yang melandasi pastoral kemurahan rohani.

...untuk mereka yang hidup dalam pernikahan yang tidak sah jangan diperkenankan menyambut Komuni suci, karena: dapat menimbulkan sikap indeferentisme, kebingungan/kesesatan, dan juga menimbulkan masalah-masalah pastoral, scandalum. 218

Panitia Kemurahan Rohani bertugas untuk melihat ketiga hal ini. Kalau ketiga hal ini tidak ada berarti bisa diterima secara penalaran hukum. Namun, kalau ketiga hal ini ada, bahkan satu atau dua hal saja, maka kemurahan rohani tidak akan diberikan kepada pemohon. Keyakinan bahwa Allah senantiasa akan mengampuni umat-Nya yang bertobat juga menjadi prinsip yang harus dijunjung tinggi.

217 Wawancara dengan G. Kriswanto Pr., tanggal 27 November 2017.

218 Wawancara dengan Mgr. R. Rubiyatmoko, tanggal 5 November 2017.

106

Allah tidak mungkin akan menghukum orang selamanya. Maka yang dituntut dari pemohon adalah mampu membangun sikap pertobatan. Namun pertobatan dengan meninggalkan anak istri (berpisah) dinilai tidak manusiawi.

Jika itu yang terjadi, berarti korban semakin banyak. Akhirnya minus malum, demi keselamatan jiwa umat maka ditempuhlah cara ini. Apabila dirinci, persyaratan untuk memperoleh kemurahan rohani adalah sebagai berikut:219

1. Pemohon hidup dalam perkawinan yang tidak sah secara gerejani, dan sudah ada ikatan perkawinan dalam bentuk lain yang sah secara sipil,

2. Usia perkawinan minimal 3 (tiga) tahun. Pemohon mampu menunjukkan hidup perkawinan yang harmonis dan menunjukkan tanda-tanda keseriusan dalam iman, kualitas hidup keluarga Kristiani, dan ada kepastian moral tidak akan berpisah lagi,

3. Dukungan secara tertulis dari umat (qualified) minimal dua orang (salah satu dari ketua lingkungan) yang menyatakan bahwa pemberian kemurahan rohani kepada pemohon tidak akan menjadi batu sandungan bagi umat,

4. Riwayat perkawinan singkat yang menggambarkan perjalanan perkawinannya dari yang pertama sampai yang dihidupi sekarang ini,

5. Deskripsi dari Rama paroki yang menggambarkan secara singkat tentang kehidupan pasangan tersebut dari perkawinan yang pertama sampai sekarang.

Skema riwayat perkawinan dapat disertakan untuk membantu Panitia Kemurahan Rohani. Bisa ditambahkan pula upaya pemberian pendidikan iman katolik kepada anak-anaknya,

219 G. Kriswanto Pr., Panitia Pastoral Kemurahan Rohani Keuskupan Agung Semarang, 2017.

107

6. Dalam deskripsi Rama paroki juga menyebutkan kemurahan yang dimohon, menjelaskan untuk siapa kemurahan itu, serta alasan singkat permohonan kemurahan rohani,

7. Dokumen yang disertakan: kutipan surat Baptis terbaru, surat nikah gerejani, foto kopi surat nikah sipil (jika masih), surat cerai sipil, surat nikah sipil/ KUA (untuk perkawinan kedua),

8. Surat pernyataan dari pasangan nonKatolik yang tidak mau menjadi Katolik yang menerangkan bahwa pasangan ini membiarkan dan bahkan mendukung suami/istri dan anak-anaknya ke gereja.

Suami-istri yang mengajukan permohonan kemurahan rohani harus berada dalam pernikahan yang sah secara publik. Jadi tidak bisa pasangan suami-istri meminta kemurahan rohani dalam keadaan konkubinat atau tidak ada ikatan pernikahan sama sekali. Ikatan pernikahan publik itu bisa berbentuk pernikahan sipil, KUA, Kristen, dan lain-lain. Mereka hidup tekun dalam perkawinannya dan ingin setia menghayati imannya secara Katolik, meskipun secara Gerejawi pernikahan mereka tidak sah. Mereka juga diminta agar mendidik anak-anak secara Katolik.

Pasangan harus menunjukkan keaktifan yang baik di lingkungan maupun Gereja. Mereka tetap rajin ke Gereja sekaligus tetap taat-setia tidak menyambut Komuni. Ini bentuk ketaatan dan kesetiaan kepada ajaran Gereja serta taat pada sanksi yang diterimanya. Apabila faktor-faktor yang ditentukan telah terpenuhi, pemohon dapat mengajukan kemurahan rohani lewat Rama Paroki. Kemurahan rohani harus dimohonkan kepada Gereja karena kemurahan rohani bukanlah hak

108

setiap umat beriman. Kemurahan rohani juga bukan hadiah atas jasa-jasa hebat yang telah dibuat untuk Gereja atau karena mempunyai keterlibatan yang baik di Gereja. Apapun yang telah dilakukan, dia tetap berada dalam kesalahan hukum dan tidak mampu memenuhi ketentuan hukum. Dengan keterlibatan, ketekunan, kesetiaan, ketaatan terhadap ajaran Gereja, dan menjalankan ajaran Gereja dengan baik, maka ia diperbolehkan untuk mengajukan permohonan kemurahan rohani kapada Gereja.

Pemohon harus mendapat dukungan dari umat setempat yang ditunjukkan dengan rekomendasi dari saksi-saksi. Rekomendasi dan dukungan dari saksi-saksi menjadi bukti bahwa pemberian kemurahan rohani kepada pemohon tidak menjadi batu sandungan di tengah umat. Salah satu prosedur administratif yang perlu disiapkan adalah riwayat perkawinan. Riwayat perkawinan hendaknya dapat mengisahkan jalannya perkawinan terdahulu sampai berakhir pada perpisahan serta kisah perkawinan yang dijalan saat ini. Riwayat pernikahan bisa dijadikan pedoman untuk melihat posisi yang bersangkutan dalam pernikahan sebelumnya (kurban/penyebab).

Penanganan kasus menjadi lebih mudah jika pemohon berada di pihak korban. Namun pertimbangan atas kasus ini akan semakin luas jika pemohon berada di pihak yang bersalah/penyebab bubarnya perkawinan. Pertanyaan lanjutan untuk mendalami setiap kasus adalah: apakah pasangan si pemohon sudah hidup baik dengan orang lain? Apakah istri/suami dan anak-anak yang ditinggalkan terjamin hidupnya atau tidak?

109

Jika pemohon bersalah, pengabulan permohonan turut dipertimbangkan (saat ini atau lain waktu). Jadi meskipun pemohon bersalah atas bubarnya perkawinan pertama, masih tetap terbuka kemungkinan untuk memperoleh kemurahan rohani. Hal ini tergantung dari banyak aspek riil yang bisa dilihat sebagai bahan pertimbangan, baik pernikahan dengan pasangan yang terdahulu maupun pernikahan dengan pasangan yang sekarang. Pertimbangan lainnya adalah apakah selama menjalani pernikahan kedua hidup rohaninya semakin meningkat, semakin berkualitas, atau justru mengulangi kesalahan sebagaimana yang dilakukan dalam pernikahan pertama. Pertimbangan Pastor Paroki dan kesaksian umat sangat penting sehingga pertimbangan semakin matang.