• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spiritualitas Ekaristis: Penghayatan Ekaristi sebagai

BAB I: PENDAHULUAN

1.2 Rumusan Masalah

1.2.2 Batasan Permasalahan

1.2.2.3 Spiritualitas Ekaristis: Penghayatan Ekaristi sebagai

Spiritualitas, pada umumnya, dimengerti sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah dan perwujudannya dalam sikap hidup: pikiran, perkataan dan perbuatan. Menurut Santo Paulus, baik doa maupun hidup konkret orang beriman tidak lain adalah “hidup dalam Roh” (Spiritus; Rom 8: 1-17; 1 Kor: 12-14).32 Roh yang memberi hidup telah memerdekakan orang beriman dalam Kristus menjadi anak Allah. Sebagai anak Allah, orang beriman perlu berusaha -dengan menggunakan segala cara dan sarana yang tersedia- untuk hidup sesuai dengan rahmat yang diterimanya dengan mencari kehendak Allah dalam segala

31 FC, art. 84.

32 Y.B. Prasetyantha, "Hidup yang Ekaristis di Tengah Arus Zaman Modern”, dalam Ekaristi dalam Hidup Kita, ed. Y.B. Prasetyantha, (Kanisius: Yogyakarta), 2008, 139-140.

17

hal. Dengan kata lain, spiritualitas kristiani dapat dirumuskan sebagai “hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dengan secara metodis mengembangkan iman, harapan, dan cinta kasih” atau sebagai “usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan ke dalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus” atau sebagai “pengalaman iman kristiani dalam situasi konkret masing-masing orang.”

Kurban Ekaristi adalah sumber dan puncak spiritualitas Kristiani.33 Pertumbuhan spiritualitas Kristiani yang bergerak ke arah “persatuan yang semakin erat dengan Kristus akan mencapai puncaknya pada Ekaristi yang adalah Kristus sendiri.”34 Kristus hadir di dalam Ekaristi, sesuai dengan janji-Nya pada saat meninggalkan warisan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya. Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan-Nya dan menjadi satu Tubuh.35

Ekaristi merupakan Perjanjian Baru dan Kekal yang menjadi dasar pembentukan Umat pilihan yang baru, yaitu Gereja.36 Di dalam Ekaristi umat Allah melihat cerminan liturgi surgawi dan kehidupan kekal di mana Allah meraja di dalam semua.37 Dengan menerima Ekaristi, manusia dipersatukan dengan Kristus dan melalui Dia, kepada Allah Tritunggal, sebab Ekaristi adalah kenangan kurban Yesus dalam ucapan syukur kepada Allah Bapa, oleh kuasa Roh Kudus.38

33 LG, art. 11.

34 KGK no. 2014.

35 KGK no. 1329.

36 Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (San Francisco: Ignatius Press), 1996, 28.

37 KGK no. 1326.

38 KGK no. 1358.

18

Dengan menerima Ekaristi, Tuhan tidak saja hadir, tetapi “tinggal” di dalam kita dan kita di dalam Dia, sehingga kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi, kehidupan yang memberikan kekuatan untuk mencapai kesempurnaan kasih yang diajarkan oleh spiritualitas Kristiani, yaitu “mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.”

Umat Allah mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah Kristus dan disatukan dengan Kristus dan dengan semua anggota-Nya saat menyambut Ekaristi.39 Sesuai dengan janji Kristus sendiri, dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus ini, manusia memperoleh hidup yang kekal (Yoh 6: 54). Dengan digabungkannya dengan Kristus, manusia memperoleh kekuatan baru untuk mengasihi dan mengampuni, sebagaimana Ia telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Oleh rahmat-Nya dalam Ekaristi, kita diubah untuk menjadi semakin serupa dengan Dia dalam hal mengasihi. Kesatuan antara kita dengan Kristus ini akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak, saat Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15: 28).

Mengkaji spiritualitas Ekaristis yang menyelamatkan jiwa penulis anggap penting karena yang berpisah dan menikah kembali merasa dirinya amat berdosa dan gagal sebagai orang Katolik. Selain itu, mereka pun tetap ingin hidup dalam perkawinan yang wajar dan sah menurut Gereja Katolik. Kemurahan rohani itu sungguh dirasakan mampu menghapus lara-tapa yang dialami jiwanya.

39 KGK no. 1331.

19 1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah, pertama penulis ingin menemukan pengaruh kemurahan rohani bagi orang Katolik yang berpisah dan menikah kembali. Kedua, penulis ingin menemukan dasar teologis bagi pemberian kemurahan rohani untuk orang Katolik yang berpisah dan menikah kembali. Ketiga, penulisan tesis ini juga bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada Program Magister Teologi, Program Pascasarjana di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah, pertama untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi pasangan-pasangan yang hidup dalam situasi perkawinan menikah dan berpisah kembali mengenai kemurahan rohani. Kedua, memberikan sumbangan pemikiran bagi panitia pastoral kemurahan rohani.

1.4 METODE PENULISAN

Untuk mendukung proses penelitian kualitatif dan penulisan laporan hasil penelitian, penulis akan menggunakan beberapa metode guna memperoleh data yang semakin lengkap dan akurat. Metode pertama yang akan digunakan adalah analisis teks melalui studi pustaka yakni membaca, mendalami, menggali, dan menganalisis sumber-sumber pustaka yang terkait dengan tema.

Buku yang akan dijadikan sumber pokok adalah buku tulisan Paul McPartlan, Sacrament of Salvation: an Introduction to Eucharistic Ecclesiology.

Buku lain adalah buku tulisan Walter Kasper The Gospel of Family dan Mercy:

20

The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life. Dari pembacaan mendalam ini diharapkan mampu menangkap gagasan masing-masing penulis. Penulis juga akan melakukan penelitian sampel data berupa berkas-berkas dokumen yang berkaitan dengan proses pengajuan kemurahan rohani yang dimiliki oleh Panitia Kemurahan Rohani Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Metode kedua, dengan riset fenomenologis. Riset fenomenologis bertujuan

untuk mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena.40 Penulis akan mengadakan observasi lapangan dengan cara mengadakan wawancara mendalam dengan narasumber untuk menemukan pengaruh pemberian kemurahan rohani Komuni terhadap penghayatan spiritualitas Ekaristis bagi pasangan-pasangan yang hidup dalam situasi berpisah dan menikah kembali.

Penulis juga mengadakan wawancara mendalam kepada nara sumber untuk menggali informasi dan pengalaman dari praktisi, yakni panitia kemurahan KAS.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I dalam tulisan ini berisi pendahuluan yang menguraikan mengenai latar belakang pemilihan tema “Pemberian kemurahan rohani Komuni bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali.” Batasan permasalahannya adalah mengenai pastoral kemurahan rohani sambut Komuni, pasangan yang hidup dalam kondisi perkawinan berpisah dan menikah kembali, serta penghayatan

40 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset: Memilih di Antara Lima Pendekatan (Edisi III), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 105-114.

21

spiritualitas Ekaristis sebagai sakramen yang menyelamatkan jiwa bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali. Penelitian kualitatif ini akan menggunakan metode wawancara mendalam untuk menggali data dan fenomena yang ada, setelah sebelumnya dilakukan studi pustaka untuk menggali ajaran Gereja Katolik yang diperoleh dari berbagai sumber.

Bab II berisi Ekaristi sebagai sakramen keselamatan jiwa. Dalam bab ini akan diuraikan ajaran-ajaran resmi Gereja mengenai Sakramen Ekaristi sebagai sakramen yang menyelamatkan jiwa. Buku yang dikaji adalah tulisan Paul McPartlan, “Sacrament of Salvation: an Introduction to Eucharistic Ecclesiology.” Dari pembacaan literatur seputar Ekaristi, diharapkan dapat

ditemukan pijakan teologis yang mantap bagi pemberian kemurahan rohani Komuni bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali sebagai keselamatan bagi jiwanya.

Bab III berisi hasil penelitian mengenai informasi-informasi yang terkait dengan pelaksanaan pemberian kemurahan rohani oleh panitia kemurahan rohani KAS dan pengalaman-pengalaman spiritual khususnya saat pasangan yang berpisah dan menikah kembali diizinkan untuk menyambut Komuni. Dua hal pokok yang akan disajikan adalah seputar pelayanan pastoral kemurahan rohani di KAS serta pengaruh pemberian kemurahan rohani itu bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali.

Bab IV berisi refleksi teologis mengenai pemberian kemurahan rohani Komuni bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali berdasarkan magisterium yang diuraikan di bab II mengenai Ekaristi sebagai sakramen

22

keselamatan jiwa serta praksis pastoral pemberian kemurahan rohani Komuni di Keuskupan Agung Semarang (KAS) sebagaimana telah diuraikan di bab III.

Bab V berisi kesimpulan atas keseluruhan dari pokok-pokok pembahasan sebelumnya dan saran-saran atas pastoral kemurahan rohani Komuni bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali. Bab V merupakan bab penutup dari karya tulis ini.

23

BAB II

EKARISTI SEBAGAI SAKRAMEN KESELAMATAN JIWA

Hidup bersama dengan Allah dan sesama merupakan panggilan dasar dan kerinduan seluruh umat manusia.41 Dalam Yesus Kristus, kebersamaan dengan Allah dan sesama itu mencapai kepenuhan dan jawabannya. Sekarang ini, Yesus Kristus ditampakkan dan hadir bagi dunia melalui Gereja. Gereja secara khusus menghadirkan Yesus Kristus secara paling meriah di dalam Ekaristi. Dengan menyambut Komuni, orang Kristiani menerima tidak hanya pengampunan dosa, tetapi juga buah-buah yang lain: makanan rohani/jiwa, penyembuhan, perlindungan dari kematian, jaminan kemuliaan abadi, dan dipersatukan dengan seluruh Gereja karena Ekaristi melambangkan satu tubuh.42

2.1 GEREJA DI DUNIA SEBAGAI SAKRAMEN UNIVERSAL DARI KESELAMATAN ALLAH

Sakramen berasal dari kata sacr, sacer (Bahasa Latin) yang berarti kudus, suci. Kata sacramentum menunjuk tindakan penyucian atau pengudusan. Oleh orang Kristen abad II, kata sacramentum dipergunakan untuk menerjemahkan istilah dalam Kitab Suci mysterion (Bahasa Yunani) yang bermakna kurang lebih

41 E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 41; 266.

42 E. Martasudjita, Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 280.

24

berhubungan dengan pengalaman akan Yang Ilahi.43 Sacramentum, mysterium dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/mysterium kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Kol 1: 26, Rom 16: 25). Rahasia/„misteri‟ keselamatan ini tidak lain adalah Kristus (Kol 2: 2; 4: 3; Ef 3: 3) yang hadir di tengah-tengah kita (Kol 1: 27). Katekismus Gereja Katolik -mengutip perkataan St. Leo Agung- mengajarkan demikian, “Apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya/sakramen-sakramen-Nya.”44

Dalam perspektif dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium, Gerejalah yang secara dogmatis merupakan sakramen dari keselamatan Allah.45 Yesus membentuk mereka (jemaat) menjadi Gereja, supaya bagi semua dan setiap orang menjadi sakramen kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu.46 Tujuan setiap sakramen ialah agar Kristus mendekati umat-Nya dan umat mendekati Kristus, serta memulai hidup dengan hidup Kristus sendiri.

Segala kegiatan Gereja berpuncak pada liturgi, terutama Ekaristi. Ajaran teologis Konsili Vatikan II menyebut Ekaristi sebagai “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani”,47 bahkan dikatakan “sakramen-sakramen lainnya berhubungan erat dengan Ekaristi dan terarah kepadanya.”48 Melalui liturgi,

43 Bdk. E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja, 61-64.

44 Katekismus Gereja Katolik (KGK), no. 1115.

45 Bdk. LG, art. 1, 9, 48.

46 LG, art. 9.

47 Bdk. LG, art. 11; SC art. 10; AG art. 9; Dekrit Paus Paulus VI Cristus Dominus (CD), art. 30.

48 PO, art. 5.

25

terutama Ekaristi sebagai sakramen utama, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya.49 Kristus yang hadir di altar dan kemudian dalam hati setiap orang beriman (dalam Sakramen Mahakudus), menguduskan semuanya, mengarahkannya kepada Bapa demi kemuliaan-Nya.

Penghayatan Ekaristi tentu saja tidak bisa dibatasi hanya dengan menyambut Komuni atau menghormati Yesus dalam monstrans dan tabernakel.

Hal yang pokok dalam penghayatan Ekaristi adalah mengambil bagian dalam keseluruhan perayaan sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan.50 Komuni berarti ikut serta secara sakramental dalam Doa Syukur Agung, yang mengungkapkan iman Gereja akan misteri Paskah yang berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Setiap kali kita mengenangkan kurban salib dalam Liturgi Ekaristi, di dalamnya Kristus Sang Anak Domba Paskah dipersembahkan (1 Kor 5: 7), dirayakan di altar, dan terlaksanalah karya penebusan kita.51

Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, merupakan suatu pengalaman iman bagi umat. Dalam iman yang sama, orang dipersatukan dengan Kristus dan dengan sesama. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rom 14: 17) dapat ditemukan dasar teologis mengenai Perjamuan Tuhan yang berdimensi sosial. Dengan kata lain Perjamuan Tuhan adalah bentuk sosial dari umat

49 SC, art. 10.

50 A. Lukasik, Memahami Perayaan Ekaristi: Penjelasan Tentang Unsur-unsur Perayaan Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 1991), 9.

51 LG, art. 3.

26

Kristiani.52 Saat dirayakan, Ekaristi juga menjadi lambang dari perdamaian. St.

Paulus menulis, “Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1 Kor 10: 16).

Ekaristi berarti “persekutuan dengan Kristus.” Dan memang, manusia

“dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita” (1 Kor 1: 9). Hal itu berarti pertama-tama “persekutuan Roh Kudus” (2 Kor 13: 13), sebab kesatuan dengan Kristus berarti “persekutuan iman” (Flm. 6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Yesus Kristus yang diimani hadir dalam seluruh umat.

Ekaristi disebut sebagai sakramen keselamatan manusia karena di dalam Ekaristi manusia mengenangkan kembali sengsara dan wafat Kristus demi keselamatannya.53 Inilah ciri soteriologis Ekaristi bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya bagi kita dan bagi pengampunan dosa (Mat 26: 28, Mrk 14: 24, Luk 22: 19, 1 Kor 11: 24). Sebagaimana yang digambarkan dalam teks Yesaya 53 mengenai hamba Yahwe yang bersengsara, kematian Yesus adalah wafat untuk penebusan dosa semua orang. Maka Ekaristi berarti merayakan karunia penebusan dan pengampunan dosa yang diberikan Allah kepada manusia melalui wafat Yesus Kristus.

52 Geoffrey Wainwright dan Karen B. Westerfield Tucker (eds.), The Oxford History of Christian Worship, (New York: Oxford University Press, 2006), 14.

53 E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja, 279.

27

Pandangan yang lengkap dan komprehensif mengenai konsep keselamatan telah direfleksikan oleh banyak teolog. Pada dasarnya pemahaman mengenai keselamatan yang dapat diterima secara universal oleh umat Katolik didefinisikan sebagai keadaan rohani dan jiwa yang dikuduskan melalui anugerah Ilahi.54 Rahmat memampukan manusia yang menerimanya untuk melakukan tindakan jiwa yang supernatural sehingga ia bisa mencapai keselamatan. Karena dosa, manusia menjadi tidak selamat. Manusia yang berdosa karena kejahatan yang besar dapat diselamatkan dan dibebaskan dari dosa berdasarkan rahmat yang berasal dari Allah. Rahmat dapat membebaskan manusia secara pribadi atau bersama seluruh umat manusia dari dosa dan segala konsekuensinya.

Allah dengan kebebasan kehendak-Nya ingin menyelamatkan manusia.

Allah sesungguhnya bisa saja mengampuni dosa manusia tanpa harus melalui misteri inkarnasi Yesus Kristus. Meski demikian, melalui inkarnasi Yesus Kristus makna keselamatan dapat dipahami dengan lebih baik. Dosa melawan Allah hanya dapat ditebus melalui penebusan yang sempurna. Yesus Kristus sebagai penyelamat bermakna: mempertobatkan dari dosa dan kutukan, mempertobatkan dari ketidaktahuan akan kebenaran, dan pemberian rahmat agar manusia dikuatkan dalam peperangannya melawan dosa.

Tiga fungsi penyelamatan Yesus Kristus ini telah terpenuhi. Pengorbanan Kristus menebus kita dari perbudakan dosa; ajaran Kristus telah menunjukkan kebenaran; dan sumber abadi dari kekuatan spiritual telah diturunkan ketika Dia menetapkan Gereja-Nya. Sejak keberadaan Gereja dipenuhi dengan daya guna

54 Joseph Javorski, “A Catholic Conception of Salvation”, dalam Journal of Bible and Religion, Vol. 6 No.1. (New York: Oxford University Press, 1983), 35.

28

keselamatan, diikuti dengan ajaran bahwa hanya dengan mengikuti Kristus di dalam Gereja-Nya, penebusan itu akan dikaruniakan-Nya kepada kita. Kesatuan dengan Gereja menjadi syarat untuk mencapai keselamatan itu.

Gereja nampak terlihat dalam dua aspek: material dan spiritual.55 Dalam aspek spiritualnya, Gereja dikenali sebagai komunitas ilahi Anak-anak Allah.

Gereja mempunyai kuasa karena rahmat yang diberikan langsung oleh Kristus kepada Gereja-Nya. Gereja kemudian membagi kuasa dan rahmat itu kepada anggotanya. Jadi Gereja bekerja dalam pelayanan spiritualnya dalam tiga jalan utama: melalui ajarannya yang tidak dapat salah mengenai pewahyuan kebenaran, melalui kurban Kalvari yang diperbarui terus-menerus, dan melalui sakramen-sakramen. Pembaruan terus-menerus dari kurban Kalvari memperoleh bentuknya dalam kurban Misa, yang diinstitusikan Yesus Kristus dalam Perjamuan Terakhir.

Melalui jalan ini, kita mempunyai kurban penebusan yang terus-menerus diperbarui, kurban yang tidak berdarah di atas altar.

Dokumen Konsili Vatikan II tentang liturgi Sacrosanctum Concilium mengajarkan demikian:

Hendaknya mereka yakin, bahwa penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh Umat kudus Allah dalam perayaan liturgi yang sama, terutama dalam satu Ekaristi, dalam satu doa, pada satu altar, dipimpin oleh Uskup yang dikelilingi oleh para imam serta para pelayan lainnya.56

Ekaristi adalah tempat yang utama bagi misteri surgawi di dalam Gereja yang dibawa ke dalam sejarah dunia. Sakramen (Ekaristi) sungguh merupakan

55 Joseph Javorski, “A Catholic Conception of Salvation”, 35.

56 SC, art. 41.

29

misteri surgawi, baik isi dan gambarannya. Akhirnya, keselamatan tiada lain adalah partisipasi dalam misteri yang sama. Keselamatan bukanlah konsep yang abstrak, melainkan nyata di dalam keanggotaan sebagai persekutuan orang beriman dari segala usia di dalam Yerusalem surgawi.57 Para bapa konsili Vatikan II memberikan kata kunci Ekaristi pada ajarannya, khususnya di dalam Lumen Gentium, yang menyebutkan bahwa Gereja di dunia adalah sakramen universal

dari keselamatan.58

Pernyataan ini dapat dipahami mengingat bahwa Allah memanggil manusia kepada kesatuan keselamatan, “komunitas spiritual”. Realitas ini ditawarkan kepada manusia sebagai takdir “tubuh mistik Kristus”, Gereja dipenuhi dengan kekayaan surgawi, dan komunitas duniawi sebagai sakramen atau penampakan realitas surgawi di dunia ini. Semua itu mencapai kepenuhannya di dalam Perayaan Ekaristi.59 St. Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia (EE) menyatakan demikian:

Daya menyelamatkan dari kurban itu baru terwujud secara penuh tatkala kita menyambut tubuh dan darah Tuhan dalam Komuni.

Kurban Ekaristi dalam dirinya terarahkan kepada kesatuan batin antara pengiman dengan Kristus dalam Komuni; kita menyambut Dia sendiri yang mempersembahkan diri bagi kita, dan kita menyambut tubuh-Nya yang dikurbankan bagi kita di kayu salib, serta darah-Nya yang dicurahkan bagi pengampunan dosa banyak orang (Mat 26:28).60

57 Paul McPartlan, Sacrament of Salvation: An Introduction to Eucharistic Ecclesiology, (Edinburgh, Scotland: T&T Clark, 1995), 65.

58 Bdk. LG art. 1,9, 48.

59 Paul McPartlan, Sacrament of Salvation, 66.

60 Johanes Paulus II, “Encyclical Letter Ecclesia de Eucharistia of His Holiness Pope John Paul II to the Bishops, Priests and Deacons, Men and Women in the Consecrated Life and All the Faithfull on the Eucharist in Its Relationship to the Church” (Ecclesia de Eucharistia untuk selanjutnya disebut EE), art. 16. Tersedia dari

https://w2.vatican.va/content/john-paul-ii/en/encyclicals/documents/hf_jp-ii_enc_20030417_eccl-de-euch.html; (diakses 11 Mei 2017).

30

“Berhimpun menjadi satu” tentu saja tidak boleh dipahami hanya secara fisik, melainkan harus ditempatkan dalam konteks pemahaman Konsili Vatikan II tentang Gereja sebagai “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (LG 4). “Kesatuan” Gereja berpola pada kehidupan Allah Tritunggal: Allah yang tidak terkurung dalam kesepian diri, melainkan Allah yang selalu berelasi dalam cinta dan selalu mengalirkan kehidupan-Nya sendiri secara berlimpah-limpah.

Dalam perspektif kristologis, misteri Yesus Kristus hanya dapat dipahami dalam kerangka pewahyuan misteri trinitarian, sebagaimana misteri Ekaristi yang secara sempurna tersusun dalam struktur trinitarian.61 Iman akan karya trinitarian adalah rangkuman ajaran mengenai misteri keselamatan, dan Ekaristi adalah ringkasan sakramennya.62 Allah seperti ini adalah Allah yang selalu memberikan diri-Nya kepada manusia. Dengan kata lain, ”berhimpun menjadi satu” atau

”kesatuan” Gereja adalah sebuah communio, sebuah pola hidup persaudaraan iman yang dilandasi oleh semangat saling mengasihi, solidaritas, dan saling berbagi baik kekayaan rohani maupun material, sehingga tidak ada seorang pun yang mengalami kekurangan.63

Ekaristi merupakan perayaan communio, baik dalam dan dengan Kristus, maupun dalam dan dengan Gereja. Pada mulanya communio pertama-tama bukan berarti kebersamaan, melainkan partisipasi atau peran serta atau ambil bagian

61 SC, art. 6.

62 Walter Cardinal Kasper, Sacrament of Unity: The Eucharist and he Church, (New York: The Crossroad Publishing Company, 2004), 113-116.

63 Bdk. Ign. L. Madya Utama, Menjadikan Ekaristi sebagai Puncak

dan Sumber Kehidupan Gereja, Jurnal Teologi Vol. 03, No. 01, Mei 2014, hlm. 75-81. Tersedia dari http://www.jurnalteologi.net/03.01.Mei.2014/JT.03.01.Mei.2014-7.pdf; (diakses 10 Mei 2017).

31

dalam karunia keselamatan Allah, yakni peran serta dalam Roh Kudus, dalam hidup baru, dalam cinta kasih, tetapi terutama dalam Ekaristi.64 Itulah mengapa

“penerimaan Ekaristi” disebut “Komuni”.65 Konsili Vatikan II juga mengajarkan teologi communio Gereja dengan mendasarkannya pada partisipasi kita di dalam Ekaristi. “Dalam pemecahan roti Ekaristis kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuhan; maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita.”66

Dalam konteks pemahaman seperti inilah St. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa membangun communio merupakan prasyarat untuk dapat merayakan Ekaristi secara sungguh-sungguh. Selanjutnya St. Yohanes Paulus II menegaskan:

….Perayaan Ekaristi tidak dapat menjadi titik-tolak dari persekutuan persaudaraan (communio). [Sebaliknya] Perayaan Ekaristi mengandaikan atau memprasyaratkan bahwa persekutuan persaudaraan tersebut harus sudah ada lebih dahulu. Dengan Perayaan Ekaristi, persekutuan persaudaraan tersebut akan menjadi semakin kokoh dan mencapai kesempurnaannya.67

Maksud dari persekutuan persaudaraan (communio) adalah cara hidup jemaat Kristiani yang diwarnai oleh semangat cinta kasih, kesediaan untuk saling berbagi sehingga tidak ada anggota jemaat yang kekurangan, saling memberikan

Maksud dari persekutuan persaudaraan (communio) adalah cara hidup jemaat Kristiani yang diwarnai oleh semangat cinta kasih, kesediaan untuk saling berbagi sehingga tidak ada anggota jemaat yang kekurangan, saling memberikan