BAB II: EKARISTI SEBAGAI SAKRAMEN KESELAMATAN
2.3 Darah Kristus sebagai Pembaruan Baptis
2.3.2 Sakramen Ekaristi dalam Rupa Roti dan Anggur
Kehadiran tubuh dan darah Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur itu mestinya “mengenyangkan” jemaat dari rasa lapar dan “melegakan” dari rasa dahaga. Ekaristi memberikan buah-buah nyata dalam hidup harian. Melalui
107 Paul McPartlan, Sacrament of Salvation, 101.
108 Paul McPartlan, Sacrament of Salvation, 101.
51
Ekaristi, jemaat semakin memperdalam persatuan dengan Yesus. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (Yoh 6: 56). Ekaristi juga membebaskan umat dari belenggu dosa. Dengan persatuan dengan Yesus Kristus, umat dibersihkan dari noda-noda dosa yang telah dilakukan, serta melindungi dari dosa-dosa baru.109
Bahan pembuat hosti dan anggur telah diatur dan ditegaskan dalam Instruksi VI Redemptionis Sacramentum tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus.110 Dalam Instruksi Redemptionis Sacramentum disebutkan demikian:
Roti yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus harus tidak beragi, seluruhnya dari gandum, dan baru dibuat sehingga dihindari bahaya menjadi basi. Karena itu roti yang dibuat dari bahan lain, sekalipun dari butir padi atau yang dicampur dengan suatu bahan lain yang bukan gandum sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi memandang itu sebagai roti, tidak merupakan bahan sah untuk dipergunakan pada Kurban dan Sakramen Ekaristi. Adalah pelanggaran berat untuk memasukkan bahan lain ke dalam roti untuk Ekaristi itu, misalnya buah-buahan atau gula atau madu. Tentu saja hendaknya hosti-hosti dikerjakan oleh orang yang bukan hanya menyolok karena kesalehannya, tetapi juga trampil dalam hal mengerjakannya seraya diperlengkapi dengan peralatan yang sesuai.111 Anggur yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus itu harus alamiah, berasal dari buah anggur, murni dan tidak masam dan tidak tercampur dengan bahan lain. Dalam perayaan ini, sedikit air akan dicampur dengannya. Perlu diperhatikan dengan seksama agar anggur yang hendak dimanfaatkan untuk perayaan Ekaristi itu tersimpan baik dan tidak menjadi masam. Sama sekali tidak diizinkan untuk mempergunakan anggur yang keasliannya atau asalnya diragukan, karena sebagai persyaratan yang harus dipenuhi demi sahnya sakramen-sakramen, Gereja menuntut kepastian. Tidak
109 KGK, no. 1939.
110 Redemptionis Sacramentum (RS) merupakan Instruksi pelaksanaan keenam dari Dokumen Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium Konsili Vatikan II, khususnya nomor 47-58.
111 RS art. 48.
52
juga diperbolehkan minuman jenis lain apa pun dan demi alasan apa pun, karena minuman itu bukanlah bahan sah.”112
Berdasarkan kisah-kisah Injil dan dari kenyatan bahwa Perjamuan Malam Terakhir diadakan dalam konteks Perjamuan Paskah, dapat dipastikan bahwa Tuhan Yesus mempergunakan roti gandum tidak beragi dan air anggur sebagai unsur pokok dalam perjamuan itu. Oleh karena itu, sejak awal Gereja perdana -setidak-tidaknya dalam tradisi Barat- dan dalam setiap kisah awali mengenai Misa yang dicatat oleh para Bapa Gereja, tidak pernah didapati penyimpangan dalam penggunaan roti gandum tak beragi dan air anggur. Kitab Hukum Kanonik kanon 924 menyatakan demikian, “Kurban Ekaristi Mahakudus harus dipersembahkan dengan roti dan anggur, yang harus dicampur sedikit air.” Roti haruslah dibuat dari gandung murni dan masih baru, sehingga tidak ada bahaya telah membusuk.
Air anggur haruslah alamiah dari buah anggur serta belum membusuk.
Roti dan anggur yang digunakan dalam Ekaristi menunjuk pada apa yang dirindukan dan dibutuhkan oleh manusia di dunia ini: yakni makanan dan minuman yang karenannya manusia dapat hidup dan berkembang. Dalam arti inilah Ekaristi dapat dipandang sebagai kerinduan seluruh umat manusia.113
2.3.2.1 Roti
Ekaristi mempunyai dua makna sekaligus yakni sukacita dan keadilan, makanan dan pengampunan. Manfaat dari makanan disampaikan oleh roti yang
112 RS art. 50.
113 E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja, 265.
53
terkonsakrir, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu (bdk. 1 Kor 11: 24).”
Elemen dari pengampunan disampaikan melalui anggur yang terkonsakrir,
“Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku” (1 Kor 11:
25). Sekarang pokok iman Gereja ini diungkapkan dalam prefasi dari Ekaristi Kudus Misa Romawi I, “Dalam perayaan suci ini ya Bapa, umat kudus-Mu dikuatkan dan disucikan...”114
Di dalam Perjamuan Terakhir, Yesus sadar akan sebuah perjalanan yang harus ditempuh-Nya, melalui kematian kepada kehidupan kekal, dan roti ini sebagai makanan atas partisipasi umat manusia. Paskah bermakna ikut ambil bagian dalam perjamuan dan kesiapsediaan untuk ikut dengan-Nya. Roti sekarang ini menjadi hal yang tidak ditinggalkan dalam Gereja Katolik Romawi, sebagaimana umat Israel dalam Paskah pertama, ketika mereka bersiap-sedia untuk berangkat menyongsong kebebasannya (Kel 12).
Roti juga menjadi unsur pokok dalam hidup manusia. Ketika Bangsa Israel yang sungguh beriman itu sedang makan, mereka tak lupa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rejeki yang berlimpah-limpah dalam hidupnya. Roti yang dipergunakan dalam Ekaristi adalah roti tak beragi. Menurut tradisi Bangsa Israel makna penggunaan roti tak beragi dalam perjamuan Paskah mengingatkan pada kisah penyelamatan Allah dari perbudakan Mesir (Kel 13: 3-7) dan turunnya manna, roti dari surga yang diberikan Allah di padang gurun sebagai makanan nenek moyang Bangsa Israel, ketika diselamatkan Allah dari perbudakan Bangsa
114 Prefasi Ekaristi I: Buah-buah Ekaristi. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Tata Perayaan Ekaristi, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 76.
54
mesir (Kel 16: 15).115 Mukjizat penggandaan roti menunjukkan lebih dahulu kelimpahan “roti istimewa” dari Ekaristi-Nya (Bdk. Mat 14: 13-21; 15: 32-39),
“Tuhan mengucapkan syukur, memecahkan roti dan membiarkan murid- murid-Nya membagi-bagikannya, untuk memberi makan kepada orang banyak.”116 Melalui Sabda-Nya dalam konsekrasi, Yesus menawarkan diri-Nya sebagai sumber kehidupan bagi murid-murid-Nya. Mereka diberi dari keseluruhan hidup-Nya, Sabda-Nya, dan tindakan-Nya dalam ikatan yang telah dikuatkan dengan dan dalam Dia sebagai komunitas jemaat.
2.3.2.2 Anggur
Sekarang beralih kepada anggur, sebagaimana Yesus bersabda, “Ini adalah darah-Ku” (Mat 26: 28). Bagi orang Yahudi, darah berarti hidup dan itu dikuduskan. Allah memerintahkan Musa untuk mengolesi pintu-pintu rumah orang Israel agar selamat dari hukuman kematian yang diturunkan-Nya kepada Bangsa Mesir (Kel 12: 12-14). Piala anggur melambangkan juga ungkapan syukur dan pujian kepada Allah.117 Darah yang tercurah berkata mengenai kematian.
Yesus dengan jelas melihat Salib dan memberikan hidup-Nya melalui kematian bagi siapa pun yang mengikuti-Nya.
115 Erin K. McIntyre, Connections Between Christian Communion and the Jewish Seder, Verbum:
Vol. 2: Iss. 2, Article 10, 2005. Tersedia dari
https://fisherpub.sjfc.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1031&context=verbum; (diakses 20 April 2018).
116 KGK, no. 1335.
117 Erin K. McIntyre, Connections Between Christian Communion and the Jewish Seder, Verbum:
Vol. 2: Iss. 2, Article 10, 2005.
55
Perjanjian Allah dengan Israel di padang gurun bergema kembali dengan jelas (Kel 24). Dalam kisah itu disebutkan bahwa sebagian dari darah kurban disiramkan pada altar (melambangkan Allah) dan sebagian lagi kepada orang-orang Israel sebagai tanda perjanjian. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus mengintensifkan kesemuanya itu. Perjanjian Baru ditulis-Nya dalam hati setiap pengikut-Nya, bukan lagi pada loh batu. Darah perjanjian tidak lagi hanya bersifat luaran saja tetapi diminum. Ini adalah darah Tuhan sendiri, Darah Kristus. Pada masa lalu perjanjian-perjanjian selalu dirusak oleh dosa-dosa manusia, namun ini adalah Perjanjian Baru yang penuh harapan selamanya, yang akan dihadapi di masa datang dengan penuh harapan pasti.
Pada kenyataannya ada dimensi masa depan yang kuat dari meminum cawan. Katekismus mengajarkan, “Cawan berkat (1 Kor 10: 16) yang diminum di akhir perjamuan Paskah Yahudi menunjukkan dimensi eskatologis: harapan Mesianik yang akan membangun kembali Yerusalem.”118 Ketika memulai karya publiknya, Yesus mengubah air menjadi anggur dalam pesta pernikahan di Kana.
Ia memaklumkan saat pemulian-Nya dan memandang pada kepenuhan perjamuan nikah di dalam Kerajaan Bapa di Surga.119 Dalam Perjamuan Terakhir saat Yesus memberikan anggur kepada murid-murid-Nya, Ia memberikan darah-Nya sendiri.
Darah perjanjian yang akan dirayakan selama-Nya.
Jadi dapat dilihat bahwa baik roti maupun anggur yang telah dikonsakrir menyatakan kematian Kristus dan undangan untuk mengikuti-Nya melalui kematian dan hidup di dalam kelimpahan Kerajaan Allah. Secara sederhana aspek
118 KGK, no.1334.
119 KGK, no. 1335.
56
misteri yang berbeda dari elemen-elemen ini adalah roti yang bermakna makanan untuk perjalanan, sementara cawan anggur bermakna pengampunan dosa.120
2.3.2.3 Rahmat Pengampunan Dosa di Dalam Ekaristi
Hans Urs von Balthasar mengatakan bahwa ada signifikansi yang teramat besar saat Yesus memberikan darah-Nya dan kemudian (para murid) meminumnya.121 Di dalam Perjanjian Lama, daging hewan dapat dikonsumsi, tetapi tidak pernah boleh dengan darahnya. Darah hewan kurban harus dituangkan semuanya karena ini merupakan simbol kehidupan dan hanya milik Allah semata.
Dan juga, darah orang yang dibunuh menangis kepada Allah untuk menuntut balas, sebagaimana jelas tergambar ketika Kain membunuh Habel (Kej 4:10).
Dari semua darah yang telah ditumpahkan, tidak ada darah yang lebih berharga daripada darah Putra Allah yang telah berinkarnasi menjadi manusia:
Yesus Kristus. Allah memberikan darah yang jauh lebih berharga bagi para pendosa. Darah Kristus ini menjadi tanda paling penuh dan paling kelihatan dari belas kasih Allah dan pengampunan atas seluruh tindakan manusia yang melawan-Nya. Inilah darah yang direcikkan yang disebutkan penulis surat kepada orang Ibrani “berteriak lebih lantang dari pada darah Habel (Ibr 12: 24).” Hal ini disebabkan karena darah ini mampu memohon belas kasih Allah, bukan menuntut balas dendam. Darah ini juga mengajak kita untuk tidak “berdiri jauh-jauh” dari-Nya tetapi mau menerima-dari-Nya demi pengampunan dosa. Menurut Balthasar,
120 Paul McPartlan, Sacrament of Salvation, 103.
121 Hans Urs von Balthasar, The Glory of The Lord, T&T Clark, Edinburgh, vol. 6 (1991), 388-401.
57
secara liturgis “kurban sudah sempurna di dalam Komuni”, sebagaimana kita mengerti bahwa kurban anak domba Paskah sudah dimakan dengan sempurna oleh Israel (Kel 12).
Katekismus memberikan ajaran akan adanya kenyataan bahwa Ekaristi dan Gereja, Roh Kudus dan masa depan memiliki suatu hubungan. Sekarang kita diajarkan mengenai adanya keterkaitan yang erat antara Ekaristi dan pengampunan dosa. Sakramen yang normal untuk pengampunan dosa harian adalah Ekaristi,122 sementara Sakramen Rekonsiliasi diberikan kepada jemaat yang semenjak Baptis telah jatuh dalam kuburan dosa.123 Pernyataan bernada ekumenis dari Gereja Ortodoks menyatakan bahwa Ekaristi mampu menjadi jalan pengampunan dan penyembuhkan dosa, sejak Ekaristi menjadi sakramen dari cinta ilahi Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Konsili Trente (1551) mengajarkan bahwa ada dua rahmat supernatural yang bekerja sekaligus dari Ekaristi, yakni makanan dan pengampunan. Sakramen ini menjadi obat yang membebaskan kita dari kesalahan harian dan menyelamatkan dari dosa yang mematikan.124 Afirmasi yang penting dari Trente adalah bahwa Yesus Kristus sungguh Allah sungguh Manusia. Dalam Ekaristi, Ia nyata dan hadir secara penuh dalam rupa roti dan anggur sesudah konsekrasi.
Ketika jemaat ikut serta secara penuh dalam sakramen ini, mereka akan terbuka secara penuh akan makna sakramental dari sakramen yang diterimanya. Roti yang telah dikonsekrasi, tubuh Kristus, secara partikular diterima sebagai makanan.
122 KGK, no. 1394-1395, 1436.
123 KGK, no. 1446.
124 KGK, no. 1436.
58
Cawan yang berisi darah-Nya yang mulia, dengan jelas dan kuat menyatakan tentang pengampunan.125
Di dalam Sacrosanctum Concilium, dimungkinkan umat beriman untuk menerima piala kembali dalam keadaan khusus sejauh itu mungkin dilakukan di dalam Misa.126 Banyak dimensi dari Ekaristi terungkap dengan meminum cawan yang berisi darah Kristus. Pengampunan adalah makna paling menonjol. Aspek ini sangatlah penting untuk jemaat Kristen sekarang ini di saat pemanfaatan secara tepat dari Sakramen rekonsiliasi diperdebatkan dan umat Katolik yang pergi ke tempat pengakuan jumlahnya semakin sedikit dari sebelum konsili.
2.4 EKARISTI DITINJAU DARI ASPEK TEOLOGIS, YURIDIS, DAN