BAB II. TINJAUAN PUSTAKA …
A. Pernikahan
Novia Paulien
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna pernikahan di dalam kehidupan waria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi interpretif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana makna pernikahan pada waria. Narasumber dalam penelitian ini adalah 3 orang waria yang telah mengakui eksistensi diri sebagai waria kurang lebih selama 10 tahun dan memiliki pasangan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi terstruktur dan observasi terhadap narasumber penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pernikahan bagi narasumber adalah : 1) Pengikat untuk mengekalkan hubungan dengan pasangan dan 2) Pengalaman yang indah karena dapat memiliki keluarga dan merasakan hal-hal romantik.
vii
THE MEANING OF MARRIAGE TO TRANSGENDER
Novia Paulien
ABSTRACT
This research is aimed to know the meaning of marriage to transgender’s life. This
research used qualitative method with intrepretive phenomenoligical analysis. The question of this research was how is the meaning of marriage to the transgender. The informants were three transgender people who has been existing as a transgender more than 10 years and having a romantic partner. Data of this research were collected by observation and semi-structured interview to the informants. The results show the meaning of marriage toward transgender are: 1) The bond to make the relationship with romantic partner everlasting and 2) The precious experience for being able to have a family and experience the romantic things.
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh: Novia Paulien
119114022
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
i
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh: Novia Paulien
119114022
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“We are not the passenger in the real life,
we are the drivers.”
“Don’t let the failure be an ending. Make it as a beginning”
(unknown)
“Don’t pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult
one”
– Bruce Lee
“Berkaryalah untuk Tuhan, keluargamu dan orang yang
kamu kasihi.”
vi
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Novia Paulien
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna pernikahan di dalam kehidupan waria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi interpretif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana makna pernikahan pada waria. Narasumber dalam penelitian ini adalah 3 orang waria yang telah mengakui eksistensi diri sebagai waria kurang lebih selama 10 tahun dan memiliki pasangan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi terstruktur dan observasi terhadap narasumber penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pernikahan bagi narasumber adalah : 1) Pengikat untuk mengekalkan hubungan dengan pasangan dan 2) Pengalaman yang indah karena dapat memiliki keluarga dan merasakan hal-hal romantik.
vii
THE MEANING OF MARRIAGE TO TRANSGENDER
Novia Paulien
ABSTRACT
This research is aimed to know the meaning of marriage to transgender’s life. This
research used qualitative method with intrepretive phenomenoligical analysis. The question of this research was how is the meaning of marriage to the transgender. The informants were three transgender people who has been existing as a transgender more than 10 years and having a romantic partner. Data of this research were collected by observation and semi-structured interview to the informants. The results show the meaning of marriage toward transgender are: 1) The bond to make the relationship with romantic partner everlasting and 2) The precious experience for being able to have a family and experience the romantic things.
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti haturkan kepada Tuhan atas berkat dan kekuatan yang telah diberikan sehingga peneliti mampu menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas akhir ini dikerjakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Selain itu, peneliti juga memiliki ketertarikan terhadap fenomena waria yang terkadang masih dipandang miring oleh masyarakat dan juga terkait dengan pernikahan pada waria.
Peneliti pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah memberikan bantuan kepada peneliti baik dalam bentuk materi maupun non materi selama proses pengerjaan tugas akhir ini. Terima kasih peneliti ucapkan kepada:
1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang telah memberikan kekuatan, semangat, pencerahan, harapan, kesehatan dan berkat penyertaan-Nya sehingga tugas akhir ini dapat selesai.
2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
3. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi dan Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas waktu dan tenaga yang telah diberikan selama proses bimbingan.
x
4. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik. Terima kasih atas dukungan semangat yang diberikan agar peneliti yakin dapat segera menyelesaikan tugas akhir.
5. Seluruh dosen dan karyawan yang telah membantu memberikan pencerahan dan wawasan dalam penyelesaian tugas akhir ini, serta selama kurang lebih 4 tahun peneliti menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
6. Narasumber penelitian, Mbak Nur, Bu Shinta, Bu Sandra dan teman-teman waria di Ponpes Waria Kotagede Yogyakarta yang mau terbuka membagi kisah hidup singkatnya dan membantu peneliti sehingga peneliti merasa sudah seperti keluarga dan dimudahkan dalam melakukan penelitian.
7. Keluarga peneliti; mama, papa, cici nia dan cici lia. Thank you so much for the love and your support. Aku mah apa atuh tanpa kalian heheehe. Terimakasih sudah mendukung dan mendoakan, ngejar-ngejar terus supaya skripsi cepat selesai.
8. Seseorang yang hadir dalam kehidupan peneliti, Benvenutus Sri Widya Paskha Panji Putra. Seorang istimewa, teman, kakak, saudara, partner dan pacar yang setia, mendukung, menemani peneliti dengan sabar selama pengerjaan tugas akhir ini.
9. Sahabat tersayang, Arsita Ayu Kumalasari dan Omega Nilam Bahana, Maeda Azalia dan Maria Veronika. Terimakasih atas segala dukungan dan keceriaan, sharing ide-ide dan kehadiran kalian untuk mendengarkan keluh kesah peneliti selama mengerjakan tugas akhir.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………...i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ………..ii
HALAMAN PENGESAHAN……….. iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……… iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………. v
ABSTRAK……… vi
ABSTRACT………. vii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH…………... viii
KATA PENGANTAR……… ix
DAFTAR ISI……… xii
DAFTAR TABEL………. xvii
DAFTAR SKEMA………... xviii
DAFTAR LAMPIRAN……….. xix
BAB I. PENDAHULUAN………. 1 A. Latar Belakang….………. 1 B. Rumusan Masalah ………10 C. Tujuan Penelitian. ………10 D. Manfaat Penelitian ……..………10 1. Manfaat Teoretis………... 10
xiii
2. Manfaat Praktis……..………... 11
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ….………... 12
A. Pernikahan 1. Pengertian Pernikahan……...………... 12
2. Tujuan Pernikahan….………... 14
3. Latar Belakang Pernikahan………... 15
4. Pernikahan Tidak Sah ………... 16
B. Makna Pernikahan……....………... 17
C. Waria………... 19
1. Faktor Menjadi Waria ………... 20
a. Waria Dilihat Dari Aspek Medis-Psikologis... …... 20
b. Waria Dilihat Dari Aspek Sosial-Budaya …………... 20
2. Ciri-ciri Waria ………... 23
D. Makna Pernikahan Pada Waria………... 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN….………... 28
A. Jenis Penelitian.………... 28
B. Narasumber Penelitian….………... 29
C. Fokus Penelitian... ………... 29
D. Metode Pengambilan Data……...………... 30
1. Wawancara….………... 30
2. Observasi………... 32
xiv
F. Analisis Data………33
G. Keabsahan Data... ………... 34
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…. ... 36
A. Profil Narasumber Penelitian…...………... 36
1. Narasumber 1. ………... 36 a. Deskripsi.. ………... 36 b. Latar Belakang….………... 37 2. Narasumber 2. ………... 38 a. Deskripsi.. ………... 38 b. Latar Belakang….………... 38 3. Narasumber 3. ………... 39 a. Deskripsi.. ………... 39 b. Latar Belakang….………... 40 B. Hasil Penelitian ………... 41
1. Pemahaman Tentang Pernikahan…...………... 41
a. Narasumber 1…...………... 41
b. Narasumber 2…...………... 43
c. Narasumber 3…...………... 45
2. Perasaan yang Dialami Tentang Hidup Bersama…..…... 46
a. Narasumber 1…...………... 46
b. Narasumber 2…...………... 46
xv
3. Respon Pada Pengalaman Pernikahan Orang Lain……... 48
a. Narasumber 1…...………... 48
b. Narasumber 2…...………... 49
c. Narasumber 3…...………... 50
4. Pengalaman Hidup Bersama Dengan Pasangan………... 51
a. Narasumber 1…...………... 51
b. Narasumber 2…...………... 53
c. Narasumber 3…...………... 57
5. Harapan Tentang Pernikahan. ………... 59
a. Narasumber 1…...………... 59
b. Narasumber 2…...………... 59
c. Narasumber 3…. .………... 60
C. Pembahasan……..………... 64
1. Pemahaman Tentang Pernikahan…...………... 64
2. Perasaan yang Dialami Tentang Hidup Bersama…...…... 66
3. Respon Pada Pengalaman Pernikahan Orang Lain……... 67
4. Pengalaman Hidup Bersama Dengan Pasangan………... 67
5. Harapan Tentang Pernikahan. ………... 69
6. Makna Pernikahan Pada Waria……..………... 70
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……... 76
A. Kesimpulan……..………... 76
xvi
C. Saran………... 77
DAFTAR PUSTAKA……. ………... 79
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Guideline Wawancara ...31 Tabel 2 Proses Rapport dan Wawancara ...33
xviii
DAFTAR SKEMA
Skema 1. Narasumber 1 ………...62
Skema 2. Narasumber 2 ………...63 Skema 3. Narasumber 3 ………...64 Skema 4. Makna pernikahan pada ketiga narasumber ………74
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Informed Consent Persetujuan Partisipasi Dalam Penelitian ...82 Lampiran 2 Informed Consent Data Partisipan Narasumber 1 ...84 Lampiran 3 Informed Consent Data Partisipan Narasumber 2 ...85 Lampiran 4 Informed Consent Data Partisipan Narasumber 3 ...86 Lampiran 5 Verbatim Wawancara Narasumber 1 ...87 Lampiran 6 Daftar Tema Utama Narasumber 1 ...109 Lampiran 7 Verbatim Wawancara Narasumber 2 ...112 Lampiran 8 Daftar Tema Utama Narasumber 2 ...137 Lampiran 9 Verbatim Wawancara Narasumber 3 ...139 Lampiran 10 Daftar Tema Utama Narasumber 3 ...149
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup seorang diri tanpa kehadiran orang lain. Mereka saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, baik itu kebutuhan biologis seperti makan dan minum maupun kebutuhan psikologis, seperti rasa kasih sayang, rasa aman, dihargai dan sebagainya. Simanjuntak (2012) menambahkan bahwa manusia membutuhkan ikatan yang intim dengan orang-orang di sekitarnya.
Menurut Maslow, kebutuhan dimiliki dan cinta (belonging and love) menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia (dalam Alwisol, 2009). Individu mencari kebutuhan tersebut untuk dapat mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan, misalnya dengan hubungan pacaran, hidup bersama atau bahkan menikah. Selain itu, kurangnya kasih sayang dan tidak adanya keintiman dengan orang lain dapat menimbulkan gangguan pada individu. Kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi (Maslow dalam Alwisol, 2009).
Individu dewasa yang saling mencintai dan ingin memiliki pasangannya serta telah yakin dengan pasangannya membuat komitmen untuk dapat memuaskan kebutuhan cinta dan kasih sayang. Komitmen tersebut membentuk suatu ikatan yang dikenal dengan pernikahan. Hal yang senada dikemukakan oleh Kelly & Conley (dalam Lemme, 1995) bahwa menentukan dan mempertahankan
pasangan merupakan salah satu aspek perkembangan orang dewasa, kemudian bersama pasangannya berkomitmen untuk melakukan pernikahan.
Di Indonesia terdapat peraturan pernikahan yang disahkan melalui Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir
batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pernikahan merupakan perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk menjalani kehidupan bersama yang telah disahkan oleh negara. Pernikahan dianggap sebagai suatu hal yang sakral sehingga peraturan tentang pernikahan dibuat dan ditetapkan agar sah atau legal secara hukum dan agama.
Melihat kenyataan bahwa pernikahan yang diakui dan dianggap sah adalah pernikahan antara laki-laki dengan perempuan, pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan tidak dimungkinkan terjadi. Berdasarkan hukum dan norma masyarakat, pernikahan yang dilakukan selain oleh laki-laki dan perempuan masih dipandang negatif dan dianggap menyimpang. Pandangan negatif dan anggapan menyimpang juga tertuju pada fenomena waria yang dianggap sebagai suatu hal yang berbeda di masyarakat. Hal tersebut menjadi menarik untuk diketahui.
Masyarakat mengenal waria sebagai laki-laki yang berperilaku layaknya perempuan. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III, 2003), transeksualisme adalah suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota kelompok dari lawan jenisnya. Transeksualisme yang umum ditemui
adalah individu yang secara fisik laki-laki namun secara psikis merasa dirinya adalah anggota dari jenis kelamin yang berlawanan. Oleh sebab itu, kaum waria atau transgender berupaya untuk mengungkapkan jati diri dalam wujud perempuan dengan mengubah penampilan, tutur kata, bahasa tubuh, dan perilaku. Kaum waria yang merasa memiliki identitas gender seperti perempuan tentu memiliki keinginan untuk berpenampilan dan berperilaku layaknya perempuan. Menurut Yash (dalam Galink, 2013), kaum waria mengacu pada orang yang mengadopsi peran dan nilai-nilai lawan jenis kelamin biologisnya, misalnya laki-laki merasa lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku stereotip perempuan namun memiliki keunikan sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk dandanan, make up, gaya bicara dan tingkah laku.
Jumlah waria di Indonesia tergolong cukup besar. Menurut Data Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia (2012), jumlah waria di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 31.179 jiwa. Di daerah Yogyakarta, jumlah waria yang tercatat adalah kurang lebih sebanyak 261 jiwa. Hal yang patut diperhatikan adalah kaum waria masih tergolong dalam kaum minoritas di mana masyarakat belum menerima dan mengakui keberadaannya secara terbuka sedangkan jumlah kaum waria tergolong cukup besar. Hal tersebut diperkuat dengan adanya Fatwa Majelis Ulama Indonesia tertanggal 1 November 1997 menegaskan bahwa waria adalah laki-laki dan tidak dapat dipandang sebagai kelompok (jenis kelamin) sendiri. Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diupayakan untuk kembali pada kodrat semula (MUI, 1997).
Kehadiran waria tentu memunculkan berbagai pandangan dari sosial dan agama. Pandangan agama Islam menganggap bahwa waria adalah menyimpang. Hal tersebut dibuktikan dengan fatwa dari MUI. Di kalangan Kristen, pertanyaan mengenai kehadiran waria masih kontroversial karena perlu adanya perkembangan ilmu pengetahuan perubahan sosial dan pengalaman personal serta pemahaman Kitab. Hal yang cukup menarik adalah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia mengeluarkan himbauan bahwa kelompok LGBT adalah kelompok yang juga harus diberikan kasih, sama seperti jemaat lain (Galink, 2013). Isu tentang waria atau transgender dan homoseksualitas pun masih menjadi perdebatan bagi agama lain seperti Hindu, Budha dan Konghucu (Galink, 2013). Agama Hindu menolak adanya penyimpangan maupun ide perkawinan sesama jenis. Agama Budha tidak pernah mengutuk transgender atau homoseksual (atau siapapun itu). Sedangkan agama Konghucu menekankan tanggung jawab individu untuk menunjukkan kesalehan dan kesetiaan, seseorang diharapkan untuk mematuhi perintah dimana laki-laki dan perempuan harus menjalani tugas sesuai dengan perannya sehingga hal diluar tersebut Konghucu tidak dapat menerima.
Di dalam masyarakatpun muncul berbagai istilah untuk menyebut kaum transgender seperti, banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe‐kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan berbagai istilah lainnya (Oetomo, 2006). Waria cenderung dipandang negatif, dibuang dan dipersalahkan karena penyimpangan yang ada di dalam diri mereka. Realita di mana waria ditolak dan menjadi kaum minoritas merupakan masalah yang serius dan harus dirasakan oleh kaum waria. Di sisi lain, waria sebagai manusia berharap bahwa
diri mereka dapat diterima apa adanya oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan waria merasakan kecenderungan untuk menjadi waria semenjak kecil dan merasa bahwa keberadaan mereka merupakan suatu kodrat yang tidak bisa dipungkiri (Nadia, 2005). Waria ingin memperoleh hak-hak yang sama sebagai warga negara tanpa menanggalkan identitas waria mereka. Keinginan tersebut juga diutarakan oleh IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta) pada saat memperingati Transgender International Day 2013 dengan mengangkat tema “Waria, Kami Indonesia, kami punya hak yang sama.” (PKBI DIY, 2013). Namun, kenyataan yang harus dihadapi adalah waria dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka terbentur oleh norma, nilai dan moralitas dalam masyarakat. Cassandra Valent, anggota dari IWAYO juga berpendapat bahwa kebencian tanpa alasan yang masuk akal tumbuh berkembang di masyarakat karena stigmatisasi dan diskriminasi yang masih sangat kuat (PKBI DIY, 2013).
Peneliti berkeyakinan bahwa seorang waria tidak seburuk seperti pandangan orang pada umumnya. Mereka juga manusia dan memiliki kehidupan yang mereka jalani. Peneliti berpendapat bahwa layaknya manusia biasa, seorang waria dapat pula memiliki keinginan untuk memiliki pasangan dan bahkan menikah. Hal tersebut dikarenakan pengalaman peneliti yang pernah berbincang dengan seorang waria di daerah Yogyakarta. Mbak N menuturkan bahwa pernikahan bagi waria belum dapat dilakukan karena hidup sebagai waria pun masih dianggap sebelah mata. Sebagai seorang waria dirinyapun membutuhkan seseorang di dalam hidupnya yang dapat menyayangi dan mengisi kehidupannya. Mbak N memiliki seorang pacar dan mereka memutuskan untuk tinggal bersama.
Hal tersebut dapat sedikit memberi gambaran bahwa pernikahan pada kaum waria belum diterima secara umum.
Waria sebagai manusiapun membutuhkan seseorang yang dapat memberikan kasih sayang dan dapat melengkapi hidupnya. Peneliti menemukan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayuningsih (2007) yang menggunakan waria sebagai responden bahwa waria memiliki keinginan untuk hidup seperti masyarakat pada umumnya. Waria yang memiliki pasangan dan menyadari bahwa mereka tidak dapat menjalankan fungsi reproduksi dengan baik memilih cara mengangkat atau mengadopsi anak untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Cara yang dilakukan oleh waria tersebut ternyata memiliki makna psikologis dalam kehidupan mereka. Waria merasa mendapat pemenuhan kebutuhan batin yang berhubungan dengan emosional pada diri dan mempererat hubungan dengan pasangan.
Pernikahan yang dilakukan dengan sesama jenis dapat menimbulkan kontroversi dan dianggap menyimpang oleh masyarakat serta yang lebih ironis lagi adalah digolongkan pada suatu gangguan. Menurut Oetomo (2006), banyak kaum waria yang menjalin hubungan seksual maupun secara emosional dengan lelaki. Akan tetapi, mereka tidak dapat menentukan pasangan secara bebas, banyak yang dipaksa untuk menikah dengan lawan jenisnya sehingga sepanjang masa pernikahannya korban merasa terbebani. Contoh kasus yang dialami oleh seorang waria bernama Agus Kasiono alias Mentul menggambarkan adanya keterpaksaan dalam pernikahan. Ia terpaksa menikahi seorang perempuan. Akan tetapi, Mentul tetap menjalani profesinya sebagai waria meskipun ia menikah
sebagai “laki-laki” (Priyanto, 2013). Pernikahan yang dilakukan secara terpaksa dan bukan dengan identitas gender yang dimiliki oleh waria dapat menimbulkan suatu penyesalan.
Kasus lain yaitu waria berinisial Icha yang ingin menikah, tetapi merahasiakan status warianya dari pasangannya. Kebohongan yang dilakukan Icha diketahui oleh pasangan (suami) setelah enam bulan Icha tidak mau melakukan hubungan seksual (Januar, 2011). Keinginan untuk menikah dapat terlihat pada kaum waria dari kasus yang terjadi. Hal lain yang juga cukup memprihatinkan adalah waria yang tidak dapat menikah memilih untuk melacur demi memenuhi hasratnya untuk dapat memiliki pasangan diluar kebutuhan ekonomi (Koeswinarno, 2004).
Kaum waria tidak dapat mengekspresikan orientasi seksualnya secara jujur dan bebas memilih pasangannya bahkan hingga ke tahap pernikahan. Keinginan waria untuk memiliki pasangan sesuai dengan keinginan mereka tetap tidak dibenarkan dan tidak dapat ditolerir bagi negara dan masyarakat. Hubungan seksual dan/atau emosional yang dijalin oleh kaum waria dengan lelaki tidak dapat dicatatkan sebagai pernikahan seperti hubungan antara perempuan dan lelaki yang berniat mencatatkan pernikahannya (Oetomo, 2006).
Menurut Herdt dan Kertzner (2006), kehidupan pernikahan berkaitan dengan kesehatan mental seseorang. Melalui pernikahan seseorang dapat mengembangkan rasa cinta dan kasih sayang. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Erikson (dalam Herdt dan Kertzner, 2006) bahwa pernikahan merupakan lembaga yang dapat membuat seseorang merealisasikan potensi individu dalam
mengembangkan cinta, perhatian, perlindungan dan kualitas diri. Perlakuan diskriminasi dan penyangkalan untuk menikah dapat menurunkan kualitas hidup dan juga memunculkan gangguan mood dan kecemasan (Mays et.all., dalam Herdt dan Kertzner, 2006). Herdt dan Kertzner (2006) juga menambahkan penolakan pernikahan sesama jenis dapat memiliki pengaruh psikologis dan kerugian sosial terhadap kaum LGBT. Selain itu, konflik dalam diri dapat muncul bila ada kebutuhan yang ditekan dan tidak dapat direalisasikan dengan baik.
Penelitian mengenai makna pernikahan sejauh ini lebih mengarah pada kaum heterosexual. Adapun pada beberapa jurnal penelitian dan artikel ilmiah yang telah dibaca oleh peneliti, penelitian makna pernikahan lebih mengarah pada pandangan agama di dunia dan pandangan kaum GLB (Gay, Lesbian dan Bisexual) (Yarhouse dan Nowacki, 2007). Menurut Hall (2006), seseorang yang dapat memaknai pernikahan akan berdampak pada bagaimana perilaku terhadap pernikahan tersebut dan dapat pula berkaitan dengan keberhasilan pernikahan. Selain itu, dengan memiliki makna pernikahan, seseorang akan dapat lebih menghargai dan menghormati beragamnya simbol pernikahan bagi berbagai pihak (Yarhouse & Nowacki, 2007).
Penelitian tentang makna pernikahan yang dilakukan secara khusus terhadap kaum waria belum banyak ditemukan. Oleh sebab itu, peneliti sangat tertarik untuk membahas makna pernikahan pada kehidupan seorang waria. Asumsi atau pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran seseorang yang mendengar atau membaca judul penelitian ini adalah bagaimana seorang waria dapat memaknai pernikahan, sedangkan ia tidak mengalami peristiwa pernikahan
tersebut dan bahkan pernikahan bagi waria tidak diakui?. Hal yang perlu diketahui bersama adalah makna dapat diperoleh meski seseorang tidak secara langsung mengalaminya. Pernyataan peneliti ini diperkuat dengan adanya pendapat dari Hall (2006) bahwa tidak memiliki pengalaman menikah bukan berarti melemahkan hubungan antara keyakinan atau kepercayaan tentang pernikahan dan bagaimana perilaku seseorang terhadap hal tersebut. Seseorang dapat mempelajari atau memaknai pernikahan melalui pengalaman diluar dirinya, seperti norma sosial, pengalaman keluarga dan lain-lain. Oleh sebab itu, kebermaknaan pernikahan dalam hidup yang dialami orang pada umumnya, tidak menutup pula kaum waria dapat memahami kebermaknaan pernikahan dalam kehidupan mereka.
Peneliti menggunakan metode kualitatif untuk membahas penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan metode kualitatif lebih cocok dan tepat dalam membahas realitas sosial dan mencari makna pada pengalaman seseorang. Metode kualitatif juga berguna untuk memahami, mengkomunikasikan dan memaknai suatu konteks (Altheide dalam Hall, 2006). Pengumpulan data penelitian akan dilakukan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur. Peneliti berharap dapat