vi
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Novia Paulien
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna pernikahan di dalam kehidupan waria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi interpretif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana makna pernikahan pada waria. Narasumber dalam penelitian ini adalah 3 orang waria yang telah mengakui eksistensi diri sebagai waria kurang lebih selama 10 tahun dan memiliki pasangan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi terstruktur dan observasi terhadap narasumber penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pernikahan bagi narasumber adalah : 1) Pengikat untuk mengekalkan hubungan dengan pasangan dan 2) Pengalaman yang indah karena dapat memiliki keluarga dan merasakan hal-hal romantik.
vii
THE MEANING OF MARRIAGE TO TRANSGENDER
Novia Paulien
ABSTRACT
This research is aimed to know the meaning of marriage to transgender’s life. This research used qualitative method with intrepretive phenomenoligical analysis. The question of this research was how is the meaning of marriage to the transgender. The informants were three transgender people who has been existing as a transgender more than 10 years and having a romantic partner. Data of this research were collected by observation and semi-structured interview to the informants. The results show the meaning of marriage toward transgender are: 1) The bond to make the relationship with romantic partner everlasting and 2) The precious experience for being able to have a family and experience the romantic things.
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh: Novia Paulien
119114022
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
i
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh: Novia Paulien
119114022
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“We are not the passenger in the real life,
we are the drivers.”
“Don’t let the failure be an ending. Make it as a beginning”
(unknown)
“Don’t pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult
one”
–
Bruce Lee
“Berkaryalah untuk Tuhan, keluargamu dan orang yang
kamu kasihi.”
vi
MAKNA PERNIKAHAN PADA WARIA
Novia Paulien
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna pernikahan di dalam kehidupan waria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi interpretif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana makna pernikahan pada waria. Narasumber dalam penelitian ini adalah 3 orang waria yang telah mengakui eksistensi diri sebagai waria kurang lebih selama 10 tahun dan memiliki pasangan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi terstruktur dan observasi terhadap narasumber penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pernikahan bagi narasumber adalah : 1) Pengikat untuk mengekalkan hubungan dengan pasangan dan 2) Pengalaman yang indah karena dapat memiliki keluarga dan merasakan hal-hal romantik.
vii
THE MEANING OF MARRIAGE TO TRANSGENDER
Novia Paulien
ABSTRACT
This research is aimed to know the meaning of marriage to transgender’s life. This research used qualitative method with intrepretive phenomenoligical analysis. The question of this research was how is the meaning of marriage to the transgender. The informants were three transgender people who has been existing as a transgender more than 10 years and having a romantic partner. Data of this research were collected by observation and semi-structured interview to the informants. The results show the meaning of marriage toward transgender are: 1) The bond to make the relationship with romantic partner everlasting and 2) The precious experience for being able to have a family and experience the romantic things.
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti haturkan kepada Tuhan atas berkat dan kekuatan yang telah diberikan sehingga peneliti mampu menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas akhir ini dikerjakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Selain itu, peneliti juga memiliki ketertarikan terhadap fenomena waria yang terkadang masih dipandang miring oleh masyarakat dan juga terkait dengan pernikahan pada waria.
Peneliti pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah memberikan bantuan kepada peneliti baik dalam bentuk materi maupun non materi selama proses pengerjaan tugas akhir ini. Terima kasih peneliti ucapkan kepada:
1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang telah memberikan kekuatan, semangat, pencerahan, harapan, kesehatan dan berkat penyertaan-Nya sehingga tugas akhir ini dapat selesai.
2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
x
4. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik. Terima kasih atas dukungan semangat yang diberikan agar peneliti yakin dapat segera menyelesaikan tugas akhir.
5. Seluruh dosen dan karyawan yang telah membantu memberikan pencerahan dan wawasan dalam penyelesaian tugas akhir ini, serta selama kurang lebih 4 tahun peneliti menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
6. Narasumber penelitian, Mbak Nur, Bu Shinta, Bu Sandra dan teman-teman waria di Ponpes Waria Kotagede Yogyakarta yang mau terbuka membagi kisah hidup singkatnya dan membantu peneliti sehingga peneliti merasa sudah seperti keluarga dan dimudahkan dalam melakukan penelitian.
7. Keluarga peneliti; mama, papa, cici nia dan cici lia. Thank you so much for the love and your support. Aku mah apa atuh tanpa kalian heheehe. Terimakasih
sudah mendukung dan mendoakan, ngejar-ngejar terus supaya skripsi cepat selesai.
8. Seseorang yang hadir dalam kehidupan peneliti, Benvenutus Sri Widya Paskha Panji Putra. Seorang istimewa, teman, kakak, saudara, partner dan pacar yang setia, mendukung, menemani peneliti dengan sabar selama pengerjaan tugas akhir ini.
9. Sahabat tersayang, Arsita Ayu Kumalasari dan Omega Nilam Bahana, Maeda Azalia dan Maria Veronika. Terimakasih atas segala dukungan dan keceriaan, sharing ide-ide dan kehadiran kalian untuk mendengarkan keluh kesah peneliti
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………...i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ………..ii
HALAMAN PENGESAHAN……….. iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……… iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………. v
ABSTRAK……… vi
ABSTRACT………. vii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH…………... viii
KATA PENGANTAR……… ix
DAFTAR ISI……… xii
DAFTAR TABEL………. xvii
DAFTAR SKEMA………... xviii
DAFTAR LAMPIRAN……….. xix
BAB I. PENDAHULUAN………. 1
A. Latar Belakang….………. 1
B. Rumusan Masalah ………10
C. Tujuan Penelitian. ………10
D. Manfaat Penelitian ……..………10
xiii
2. Manfaat Praktis……..………... 11
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ….………... 12
A. Pernikahan 1. Pengertian Pernikahan……...………... 12
2. Tujuan Pernikahan….………... 14
3. Latar Belakang Pernikahan………... 15
4. Pernikahan Tidak Sah ………... 16
B. Makna Pernikahan……....………... 17
C. Waria………... 19
1. Faktor Menjadi Waria ………... 20
a. Waria Dilihat Dari Aspek Medis-Psikologis... …... 20
b. Waria Dilihat Dari Aspek Sosial-Budaya …………... 20
2. Ciri-ciri Waria ………... 23
D. Makna Pernikahan Pada Waria………... 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN….………... 28
A. Jenis Penelitian.………... 28
B. Narasumber Penelitian….………... 29
C. Fokus Penelitian... ………... 29
D. Metode Pengambilan Data……...………... 30
1. Wawancara….………... 30
2. Observasi………... 32
xiv
F. Analisis Data………33
G. Keabsahan Data... ………... 34
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…. ... 36
A. Profil Narasumber Penelitian…...………... 36
1. Narasumber 1. ………... 36
a. Deskripsi.. ………... 36
b. Latar Belakang….………... 37
2. Narasumber 2. ………... 38
a. Deskripsi.. ………... 38
b. Latar Belakang….………... 38
3. Narasumber 3. ………... 39
a. Deskripsi.. ………... 39
b. Latar Belakang….………... 40
B. Hasil Penelitian ………... 41
1. Pemahaman Tentang Pernikahan…...………... 41
a. Narasumber 1…...………... 41
b. Narasumber 2…...………... 43
c. Narasumber 3…...………... 45
2. Perasaan yang Dialami Tentang Hidup Bersama…..…... 46
a. Narasumber 1…...………... 46
b. Narasumber 2…...………... 46
xv
3. Respon Pada Pengalaman Pernikahan Orang Lain……... 48
a. Narasumber 1…...………... 48
b. Narasumber 2…...………... 49
c. Narasumber 3…...………... 50
4. Pengalaman Hidup Bersama Dengan Pasangan………... 51
a. Narasumber 1…...………... 51
b. Narasumber 2…...………... 53
c. Narasumber 3…...………... 57
5. Harapan Tentang Pernikahan. ………... 59
a. Narasumber 1…...………... 59
b. Narasumber 2…...………... 59
c. Narasumber 3…. .………... 60
C. Pembahasan……..………... 64
1. Pemahaman Tentang Pernikahan…...………... 64
2. Perasaan yang Dialami Tentang Hidup Bersama…...…... 66
3. Respon Pada Pengalaman Pernikahan Orang Lain……... 67
4. Pengalaman Hidup Bersama Dengan Pasangan………... 67
5. Harapan Tentang Pernikahan. ………... 69
6. Makna Pernikahan Pada Waria……..………... 70
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……... 76
A. Kesimpulan……..………... 76
xvi
C. Saran………... 77
DAFTAR PUSTAKA……. ………... 79
xvii
DAFTAR TABEL
xviii
DAFTAR SKEMA
Skema 1. Narasumber 1 ………...62
xix
DAFTAR LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup seorang diri tanpa kehadiran orang lain. Mereka saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, baik itu kebutuhan biologis seperti makan dan minum maupun kebutuhan psikologis, seperti rasa kasih sayang, rasa aman, dihargai dan sebagainya. Simanjuntak (2012) menambahkan bahwa manusia membutuhkan ikatan yang intim dengan orang-orang di sekitarnya.
Menurut Maslow, kebutuhan dimiliki dan cinta (belonging and love) menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia (dalam Alwisol, 2009). Individu mencari kebutuhan tersebut untuk dapat mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan, misalnya dengan hubungan pacaran, hidup bersama atau bahkan menikah. Selain itu, kurangnya kasih sayang dan tidak adanya keintiman dengan orang lain dapat menimbulkan gangguan pada individu. Kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi (Maslow dalam Alwisol, 2009).
pasangan merupakan salah satu aspek perkembangan orang dewasa, kemudian bersama pasangannya berkomitmen untuk melakukan pernikahan.
Di Indonesia terdapat peraturan pernikahan yang disahkan melalui Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pernikahan merupakan perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk menjalani kehidupan bersama yang telah disahkan oleh negara. Pernikahan dianggap sebagai suatu hal yang sakral sehingga peraturan tentang pernikahan dibuat dan ditetapkan agar sah atau legal secara hukum dan agama.
Melihat kenyataan bahwa pernikahan yang diakui dan dianggap sah adalah pernikahan antara laki-laki dengan perempuan, pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan tidak dimungkinkan terjadi. Berdasarkan hukum dan norma masyarakat, pernikahan yang dilakukan selain oleh laki-laki dan perempuan masih dipandang negatif dan dianggap menyimpang. Pandangan negatif dan anggapan menyimpang juga tertuju pada fenomena waria yang dianggap sebagai suatu hal yang berbeda di masyarakat. Hal tersebut menjadi menarik untuk diketahui.
adalah individu yang secara fisik laki-laki namun secara psikis merasa dirinya adalah anggota dari jenis kelamin yang berlawanan. Oleh sebab itu, kaum waria atau transgender berupaya untuk mengungkapkan jati diri dalam wujud perempuan dengan mengubah penampilan, tutur kata, bahasa tubuh, dan perilaku. Kaum waria yang merasa memiliki identitas gender seperti perempuan tentu memiliki keinginan untuk berpenampilan dan berperilaku layaknya perempuan. Menurut Yash (dalam Galink, 2013), kaum waria mengacu pada orang yang mengadopsi peran dan nilai-nilai lawan jenis kelamin biologisnya, misalnya laki-laki merasa lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku stereotip perempuan namun memiliki keunikan sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk dandanan, make up, gaya bicara dan tingkah laku.
Kehadiran waria tentu memunculkan berbagai pandangan dari sosial dan agama. Pandangan agama Islam menganggap bahwa waria adalah menyimpang. Hal tersebut dibuktikan dengan fatwa dari MUI. Di kalangan Kristen, pertanyaan mengenai kehadiran waria masih kontroversial karena perlu adanya perkembangan ilmu pengetahuan perubahan sosial dan pengalaman personal serta pemahaman Kitab. Hal yang cukup menarik adalah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia mengeluarkan himbauan bahwa kelompok LGBT adalah kelompok yang juga harus diberikan kasih, sama seperti jemaat lain (Galink, 2013). Isu tentang waria atau transgender dan homoseksualitas pun masih menjadi perdebatan bagi agama lain seperti Hindu, Budha dan Konghucu (Galink, 2013). Agama Hindu menolak adanya penyimpangan maupun ide perkawinan sesama jenis. Agama Budha tidak pernah mengutuk transgender atau homoseksual (atau siapapun itu). Sedangkan agama Konghucu menekankan tanggung jawab individu untuk menunjukkan kesalehan dan kesetiaan, seseorang diharapkan untuk mematuhi perintah dimana laki-laki dan perempuan harus menjalani tugas sesuai dengan perannya sehingga hal diluar tersebut Konghucu tidak dapat menerima.
diri mereka dapat diterima apa adanya oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan waria merasakan kecenderungan untuk menjadi waria semenjak kecil dan merasa bahwa keberadaan mereka merupakan suatu kodrat yang tidak bisa dipungkiri (Nadia, 2005). Waria ingin memperoleh hak-hak yang sama sebagai warga negara tanpa menanggalkan identitas waria mereka. Keinginan tersebut juga diutarakan oleh IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta) pada saat memperingati Transgender International Day 2013 dengan mengangkat tema “Waria, Kami
Indonesia, kami punya hak yang sama.” (PKBI DIY, 2013). Namun, kenyataan yang harus dihadapi adalah waria dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka terbentur oleh norma, nilai dan moralitas dalam masyarakat. Cassandra Valent, anggota dari IWAYO juga berpendapat bahwa kebencian tanpa alasan yang masuk akal tumbuh berkembang di masyarakat karena stigmatisasi dan diskriminasi yang masih sangat kuat (PKBI DIY, 2013).
Hal tersebut dapat sedikit memberi gambaran bahwa pernikahan pada kaum waria belum diterima secara umum.
Waria sebagai manusiapun membutuhkan seseorang yang dapat memberikan kasih sayang dan dapat melengkapi hidupnya. Peneliti menemukan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayuningsih (2007) yang menggunakan waria sebagai responden bahwa waria memiliki keinginan untuk hidup seperti masyarakat pada umumnya. Waria yang memiliki pasangan dan menyadari bahwa mereka tidak dapat menjalankan fungsi reproduksi dengan baik memilih cara mengangkat atau mengadopsi anak untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Cara yang dilakukan oleh waria tersebut ternyata memiliki makna psikologis dalam kehidupan mereka. Waria merasa mendapat pemenuhan kebutuhan batin yang berhubungan dengan emosional pada diri dan mempererat hubungan dengan pasangan.
sebagai “laki-laki” (Priyanto, 2013). Pernikahan yang dilakukan secara terpaksa dan bukan dengan identitas gender yang dimiliki oleh waria dapat menimbulkan suatu penyesalan.
Kasus lain yaitu waria berinisial Icha yang ingin menikah, tetapi merahasiakan status warianya dari pasangannya. Kebohongan yang dilakukan Icha diketahui oleh pasangan (suami) setelah enam bulan Icha tidak mau melakukan hubungan seksual (Januar, 2011). Keinginan untuk menikah dapat terlihat pada kaum waria dari kasus yang terjadi. Hal lain yang juga cukup memprihatinkan adalah waria yang tidak dapat menikah memilih untuk melacur demi memenuhi hasratnya untuk dapat memiliki pasangan diluar kebutuhan ekonomi (Koeswinarno, 2004).
Kaum waria tidak dapat mengekspresikan orientasi seksualnya secara jujur dan bebas memilih pasangannya bahkan hingga ke tahap pernikahan. Keinginan waria untuk memiliki pasangan sesuai dengan keinginan mereka tetap tidak dibenarkan dan tidak dapat ditolerir bagi negara dan masyarakat. Hubungan seksual dan/atau emosional yang dijalin oleh kaum waria dengan lelaki tidak dapat dicatatkan sebagai pernikahan seperti hubungan antara perempuan dan lelaki yang berniat mencatatkan pernikahannya (Oetomo, 2006).
mengembangkan cinta, perhatian, perlindungan dan kualitas diri. Perlakuan diskriminasi dan penyangkalan untuk menikah dapat menurunkan kualitas hidup dan juga memunculkan gangguan mood dan kecemasan (Mays et.all., dalam Herdt dan Kertzner, 2006). Herdt dan Kertzner (2006) juga menambahkan penolakan pernikahan sesama jenis dapat memiliki pengaruh psikologis dan kerugian sosial terhadap kaum LGBT. Selain itu, konflik dalam diri dapat muncul bila ada kebutuhan yang ditekan dan tidak dapat direalisasikan dengan baik.
Penelitian mengenai makna pernikahan sejauh ini lebih mengarah pada kaum heterosexual. Adapun pada beberapa jurnal penelitian dan artikel ilmiah yang telah dibaca oleh peneliti, penelitian makna pernikahan lebih mengarah pada pandangan agama di dunia dan pandangan kaum GLB (Gay, Lesbian dan Bisexual) (Yarhouse dan Nowacki, 2007). Menurut Hall (2006), seseorang yang dapat memaknai pernikahan akan berdampak pada bagaimana perilaku terhadap pernikahan tersebut dan dapat pula berkaitan dengan keberhasilan pernikahan. Selain itu, dengan memiliki makna pernikahan, seseorang akan dapat lebih menghargai dan menghormati beragamnya simbol pernikahan bagi berbagai pihak (Yarhouse & Nowacki, 2007).
tersebut dan bahkan pernikahan bagi waria tidak diakui?. Hal yang perlu diketahui bersama adalah makna dapat diperoleh meski seseorang tidak secara langsung mengalaminya. Pernyataan peneliti ini diperkuat dengan adanya pendapat dari Hall (2006) bahwa tidak memiliki pengalaman menikah bukan berarti melemahkan hubungan antara keyakinan atau kepercayaan tentang pernikahan dan bagaimana perilaku seseorang terhadap hal tersebut. Seseorang dapat mempelajari atau memaknai pernikahan melalui pengalaman diluar dirinya, seperti norma sosial, pengalaman keluarga dan lain-lain. Oleh sebab itu, kebermaknaan pernikahan dalam hidup yang dialami orang pada umumnya, tidak menutup pula kaum waria dapat memahami kebermaknaan pernikahan dalam kehidupan mereka.
Peneliti menggunakan metode kualitatif untuk membahas penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan metode kualitatif lebih cocok dan tepat dalam membahas realitas sosial dan mencari makna pada pengalaman seseorang. Metode kualitatif juga berguna untuk memahami, mengkomunikasikan dan memaknai suatu konteks (Altheide dalam Hall, 2006). Pengumpulan data penelitian akan dilakukan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur. Peneliti berharap dapat menggali lebih dalam pengalaman pada narasumber sehingga memudahkan peneliti untuk menggambarkan makna pernikahan.
Indonesia pun masih memiliki pandangan bahwa proses kehidupan manusia yang ideal adalah salah satunya menikah dan memiliki anak. Melalui penelitian ini
diharapkan dapat diketahui “Bagaimana makna pernikahan pada waria?” Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan seputar pernikahan pada waria. Selain itu, peneliti selanjutnya atau para ahli lain dapat menemukan cara yang bermanfaat bagi waria dalam mewujudkan kebutuhan akan rasa cinta dan dimiliki (belonging and love) bila pernikahan bagi waria dilarang.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, rumusan permasalahan yang diajukan adalah Bagaimana makna pernikahan bagi waria?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai makna pernikahan dalam kehidupan waria.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis:
1. Manfaat Teoretis
2. Manfaat Praktis
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pernikahan
Menurut Walgito dalam Psikologi Sosial (1990), manusia sebagai makhluk sosial memiliki hubungan dengan manusia disekitarnya. Secara sosial, manusia akan melakukan interaksi satu dengan yang lain di dalam lingkungannya. Menurut Walgito (1990), lingkungan sosial dibedakan menjadi lingkungan sosial primer dan lingkungan sosial sekunder. Lingkungan sosial primer yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat antara individu satu dengan yang lain, individu satu saling kenal dengan individu yang lain. sedangkan lingkungan sosial sekunder adalah lingkungan sosial di mana hubungan individu satu dengan yang lain agak longgar, individu satu kurang mengenal dengan individu yang lain. Pengaruh lingkungan sosial primer akan lebih mendalam dibandingkan dengan lingkungan sosial sekunder. Pernikahan terkait dengan lingkungan sosial primer, di mana individu mencoba mengenal lebih dalam individu lain yang menjadi pasangannya.
1. Pengertian Pernikahan
dikenal dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1974, yang dimaksud perkawinan yaitu:
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menurut Walgito (2000), di dalam perkawinan terdapat ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri. Hal tersebut memperjelas bahwa dalam perikatan perkawinan sebagai suami isteri adalah seorang wanita dan seorang pria. Ikatan lahir merupakan ikatan yang nampak, ikatan formal yang sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Hal tersebut terlihat dengan perkawinan yang diinformasikan kepada masyarakat luas melalui undangan pesta perkawinan. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, merupakan ikatan psikologis. Suami isteri harus saling memiliki ikatan tersebut dan tidak ada suatu paksaan dalam perkawinan. Bila tidak ada ikatan dan terdapat paksaan dapat menimbulkan persoalan dalam kehidupan pasangan.
keluarga. Stereotip tersebut memunculkan adanya perbedaan peran laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri dalam suatu pernikahan.
Dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan suatu tahap lanjut dari kehidupan individu yang memiliki pasangan dan memutuskan untuk terikat hidup bersama serta sah secara hukum dan agama.
2. Tujuan Pernikahan
Seseorang tentunya memiliki tujuan dalam melakukan suatu tindakan baik itu tindakan besar ataupun kecil. Hal tersebut berlaku juga pada perkawinan atau pernikahan. Pada pasal 1 Undang-Undang Perkawinan dengan jelas disebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (dikutip dari Walgito, 2000). Satu hal yang perlu diperhatikan adalah tiap pasangan dapat dimungkinkan memiliki tujuan pernikahan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, kedua pasangan harus saling menyadari dan menyatukan tujuan di dalam menjalani kehidupan bersama. Walgito (2000) mengemukakan bahwa tujuan pernikahan adalah milik bersama, akan dicapai bersama-sama dan suami isteri harus menuju ke arah tujuan tersebut.
Pernikahan dilakukan layaknya suatu lembaga yang didirikan karena alasan dan tujuan tertentu. Pernikahan memiliki tujuan agar ke depannya dapat diarahkan dan dijalankan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Tujuan pernikahan yang dikemukakan beberapa ahli memiliki kesamaan yaitu tujuan pernikahan tidak dapat diwujudkan apabila hanya secara sepihak. Pasangan harus bersama-sama, memiliki perasaan „saling‟ dan bersatu agar tujuan tercapai.
3. Latar Belakang Pernikahan
Pasangan yang menjalin hubungan tentunya adalah manusia biasa yang memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Kebutuhan tersebut dapat mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan, termasuk keinginan untuk menikah. Menurut Maslow (1970), terdapat lima kebutuhan dasar yang dimiliki seseorang, yaitu (1) the physiological needs yaitu kebutuhan yang bersifat fisiologis, merupakan kebutuhan yang paling kuat di antara kebutuhan yang lain, (2) the safety needs yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan rasa aman, (3) the belongingness and love needs yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan dengan orang lain, merupakan kebutuhan sosial, (4) the esteem needs yaitu kebutuhan berkaitan dengan penghargaan, termasuk rasa
dengan berkembang dalam kehidupan sosialnya, memiliki keluarga, teman dan pasangan. Kemudian seorang individu yang telah yakin dan memiliki komitmen dengan pasangannya akan melanjutkan ke tahap pernikahan.
Secara lebih jelas Fatchiah (2009) mengemukakan bahwa terdapat alasan yang beragam mengemukakan bahwa alasan adanya pernikahan, antara lain konformitas, cinta, hubungan seks yang halal, memperoleh keturunan yang sah, faktor emosional dan ekonomi, kebersamaan, sharing, keamanan dan harapan lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa alasan terjadinya pernikahan adalah karena ada kebutuhan untuk memiliki pasangan atau pendamping dan dicintai. Seseorang ingin menikah karena ada nilai persahabatan, cinta dan ketertarikan secara seksual. Selain itu, dari beragam alasan adanya pernikahan garis besar yang ditemukan bahwa seseorang ingin memiliki kebahagiaan bersama pasangannya.
4. Pernikahan Tidak Sah
mau mengikuti agama pasangannya bisa saja memutuskan untuk hidup bersama tanpa berpindah agama. Selain itu, hidup bersama tanpa ikatan pernikahan yang sah juga dialami oleh pasangan sesama jenis. Pasangan homoseksual tidak dapat menikah sah secara hukum, lebih memilih untuk hanya hidup bersama atau hidup sendiri atau single (Dnes, 2007). Layaknya pasangan heteroseksual, pasangan sesama jenis juga menginginkan cinta, pengakuan, dukungan dan hubungan seksual (Lafontaine, 2013). Pasangan sesama jenis yang telah yakin dan memiliki komitmen dengan pasangannya masing-masing cenderung memilih untuk hidup bersama dalam satu rumah. Mereka hidup bersama layaknya pasangan menikah pada umumnya, tetapi hubungan mereka tidak disahkan di depan hukum dan agama.
B. Makna Pernikahan
merupakan bagian dari struktur kognitif yang dapat membuat mengerti dan menilai tentang pernikahan tersebut. Melalui proses kognitif seseorang dapat memahami pernikahan dan hal tersebut juga melibatkan perasaan dan perilakunya. Makna pernikahan berkaitan dengan tujuan pernikahan. Pernikahan dapat tidak bermakna bila tujuan pernikahan tidak tercapai atau tidak ada tujuan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dari Klinger (dalam Hall, 2006) bahwa segala sesuatu menjadi bermakna ketika dapat dikenali maksud dan tujuannya. Ketika seseorang memiliki gambaran dan tujuan pernikahan maka dapat mempengaruhi dan membentuk bagaimana seseorang berpikir dan mempercayai tentang pernikahan.
Makna pernikahan juga dapat mengandung unsur subjektivitas di mana seseorang mempersepsikan pernikahan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya ketika melakukan interaksi dengan orang lain (hubungan interpersonal) meski seseorang belum mencapai tahap pernikahan (Hall, 2006). Hall (2006) menyatakan bahwa makna pernikahan juga berkaitan dengan pengalaman awal di dalam keluarga yang dapat membentuk persepsi terhadap pernikahan. Pengalaman berpacaran atau hubungan intim yang dijalin sebelum pernikahan juga dapat membentuk persepsi yang terkait dengan pernikahan (Hall, 2006). Selain itu, melalui interaksi seseorang dapat memahami makna tentang suatu peristiwa, objek dan orang-orang di dalam lingkungan sosialnya (Mead, 1934; Stryker, 1987 dalam Timmer dan Orbuch, 2001).
pernikahan. Ketika seseorang telah mengetahui tujuannya untuk menikah, seseorang tersebut dapat memaknai pernikahan menurut pemahaman atau keyakinan, perasaan dan harapannya. Seseorang juga dapat memiliki makna pernikahan melalui pengalaman di luar dirinya misalnya, norma sosial, pengalaman keluarga, pengalaman teman, dan sebagainya. Makna pernikahan akan terlihat bila seseorang memiliki pengetahuan atau keyakinan, dapat merasakan dan memiliki harapan tertentu mengenai pernikahan
C. Waria
Kaum transgender, menurut Yash (dalam Galink, 2013) pada umumnya tidak melakukan operasi penggantian kelamin, apabila dilakukan pun bukan operasi dan terapi secara menyeluruh atau lengkap. Istilah waria yang umumnya diketahui oleh masyarakat lebih dikenal pada transgender laki-laki. Waria terlihat bersikap dan berperilaku layaknya perempuan, akan tetapi mereka biasanya ingin tetap dikenal sebagai waria. Mereka menganggap waria adalah “gender” ketiga.
1. Faktor Menjadi Waria
Pandangan tentang waria sangat beragam, agar lebih mudah dalam menjelaskan kaum waria, terdapat dua aspek yang dapat memberikan gambaran tentang waria (Saputra, 2013), yaitu:
a. Waria dilihat dari Aspek Medis-Psikologis
Penyebab utama seseorang menjadi waria adalah lingkungan. Pengaruh dari lingkungan secara tidak sadar dialami seseorang ketika seseorang tersebut masih kecil. Lingkungan merupakan suatu tempat seseorang bersosialisasi, baik atau buruknya diri seseorang dapat ditentukan dari tempat lingkungan ia dibesarkan. Apabila dari kecil terdapat suatu hambatan atau gangguan maka dapat mengganggu perkembangan kepribadiannya.
b. Waria dilihat dari Aspek Sosial-Budaya
pembantu rumah tangga, bahkan melacur. Sedikit waria yang melakukan pekerjaan laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga bidang pekerjaan waria menjadi terbatas. Menurut Sopjan (dalam Saputra, 2013), kehidupan waria dalam berbagai dimensi memiliki tiga proses sosial yang mungkin terjadi. Pertama, sosialisasi perilaku waria dalam konteks lingkungan sosial, karena waria tidak dapat lepas dari lingkungan sosial. Kedua, pandangan tentang realitas objektif yang dibentuk oleh perilaku mereka. Realitas objektif merupakan pemahaman untuk menjadikan perilaku individu sebagai nilai yang diharapkan atau tidak diharapkan dalam lingkungan sosial. Terakhir, proses pemaknaan dan pemahaman sebagai waria. Proses ini menyangkut pertahanan identitas. Mereka berusaha mengkonstrukkan makna hidup sebagai waria atas pengalaman-pengalaman sebelumnya yang terbentuk dari proses sosial dan realitas objektif dunia waria. Hidup sebagai waria seolah telah membudaya bagi waria. Dapat dikatakan bahwa kebudayaan dalam konteks waria merupakan tingkah laku yang dipelajari dan merupakan fenomena mental.
dan bagaimana cara anak dibesarkan juga menjadi salah satu contoh munculnya konflik identitas gender dengan jenis kelamin biologis. Menurut Money (dalam Jeffrey, 2005), penyebab adanya gangguan identitas gender yang menyebabkan seseorang menjadi transgender belum dapat dipastikan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya kemungkinan yang muncul, misalnya, karena faktor keluarga, pola sosialisasi dan ketidakseimbangan hormonal di masa-masa prenatal. Keluarga dapat menjadi salah satu faktor, misalnya kedekatan hubungan ibu dan anak laki-laki yang ekstrem, hubungan orangtua tidak baik atau renggang ataupun figur ayah yang jauh dari sang anak. Pola sosialisasi di mana orangtua menginginkan anak dari gender yang berbeda dapat secara kuat mendorong terbentuknya pola asuh atau cara membesarkan anak, seperti dari cara berpakaian, berperilaku dan pola bermain yang disesuaikan dengan keinginan orangtua. Selain itu, ketidakseimbangan hormonal di masa prenatal dapat berperan karena terjadi interaksi di uterus antara perkembangan otak dan pelepasan hormon.
2. Ciri-ciri Waria
Seseorang yang dikategorikan sebagai waria memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan mereka. Waria atau transgender berbeda dari kaum gay atau lesbian. Transgender memiliki hasrat untuk menjadi anggota gender yang berlawanan atau merasa jijik dengan alat genitalnya (Jeffrey, 2005). Di dalam DSM IV-TR (2000), waria termasuk dalam gangguan identitas gender (gender identity disorder/transsexual) dan memiliki beberapa kriteria, sebagai berikut:
a. Identifikasi kuat dan menetap terhadap lawan jenis
b. Pada remaja dan orang dewasa, gejala atau simptom seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah ke kelompok lawan jenis, ingin diperlakukan seperti lawan jenis dan memiliki keyakinan bahwa emosinya adalah seperti lawan jenis.
c. Muncul rasa tidak nyaman secara terus-menerus terhadap jenis kelamin biologisnya atau merasa terasing dari peran gender jenis kelamin tersebut. 1) Pada remaja dan orang dewasa, terwujud adanya keinginan yang kuat
untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekunder melalui pemberian hormone dan/atau melalui operasi; merasa yakin bahwa ia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah.
d. Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin
Nadia (2005) menjelaskan bahwa ciri-ciri kaum waria transseksual adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi transeksual menetap minimal 2 tahun dan berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau kromosom.
b. Memiliki hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenisnya biasanya disertai perasaan risih dan ketidakserasian anatomi tubuhnya.
c. Memiliki keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Ia juga menambahkan bahwa kaum waria memiliki ciri-ciri lain seperti ada dorongan kuat untuk berpakaian seperti lawan jenisnya, memiliki minat dan aktivitas berlawanan dengan jenis kelaminnya, penampilan fisik yang hampir menyerupai lawan jenis, bahasa dan nada suara seperti lawan jenisnya. Hal tersebut umumnya menjadi penyebab kaum waria ditolak oleh lingkungan tempat tinggalnya.
D. Makna Pernikahan Pada Waria
Di Indonesia, menikah merupakan salah satu bagian dari proses kehidupan manusia dan perlu dilakukan agar memiliki kehidupan yang ideal. Isu pernikahan bagi pasangan sesama jenis ataupun pada kaum waria masih dinilai negatif. Hal tersebut dikarenakan belum adanya pengakuan universal atas keberadaan komunitas waria. Pandangan yang tertanam dalam pola pikir masyarakat tersebut terkadang membuat kaum minoritas seperti komunitas waria berada dalam kondisi terpaksa. Mereka terpaksa menerima kondisi tersebut dengan memilih tidak menikah atau memilih menikah dengan lawan jenis, memiliki anak dan membohongi diri mereka dengan hidup sebagai individu heteroseksual. Di sisi lain, waria sebagai manusia juga memiliki keinginan dan mengkehendaki kebebasan untuk hidup dengan menjadi dirinya. Waria juga memiliki kebutuhan untuk dicintai dan memiliki pasangan. Akan tetapi, kebutuhan tersebut terbentur dengan pandangan miring masyarakat dan berbagai aturan yang tidak mengakui keberadaan waria.
dalam bekerja, hak dalam bidang kesehatan, dan sebagainya (Galink, 2013). Namun, hingga saat ini, negara dan lembaga agama secara jelas menolak dan tidak memberikan toleransi pada pernikahan di luar pernikahan dengan lawan jenis (antara laki-laki dan perempuan).
Makna pernikahan dapat terlihat ketika seseorang memiliki pemahaman atau keyakinan, gambaran dan tujuan tentang pernikahan. Pengalaman di luar dirinya misalnya pengalaman keluarga, teman atau norma sosial juga dapat memengaruhi seseorang memahami makna pernikahan. Selain itu, makna pernikahan pun dapat diketahui bila seseorang dapat merasakan dan memiliki harapan tentang pernikahan.
Gambaran tentang pernikahan dapat terlihat pada masa perkembangan orang dewasa. Waria pun menunjukkan tugas perkembangan orang dewasa yang salah satunya membutuhkan cinta dan kasih sayang, mencintai dan dicintai, rasa saling memiliki dan berkeinginan memiliki pasangan. Kenyataan memiliki kehidupan berliku demi mempertahankan identitasnya sebagai waria, tidak menutup kesempatan mereka untuk mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang dengan melakukan berbagai cara di dalam kehidupannya. Makna pernikahan bagi waria juga dapat terbentuk dari lingkungan dan hubungan interpersonal. Norma sosial yang sangat jelas hanya mengakui pernikahan heteroseksual, pernikahan bertujuan memiliki keturunan, dan sebagainya juga dapat mempengaruhi pemikiran waria dalam memaknai pernikahan.
28 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Melalui penelitian ini peneliti dapat mengetahui pengalaman hidup, perilaku, perasaan dan pandangan narasumber terkait dengan pernikahan sehingga dapat diketahui bagaimana narasumber memaknai pernikahan.
B. Narasumber Penelitian
Narasumber dalam penelitian ini adalah waria, dengan karakteristik antara lain:
1. Berperilaku dan berpenampilan seperti perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Melakukan operasi pada bagian tubuh seperti dagu, hidung, mata, dan payudara agar terlihat seperti perempuan.
3. Mengakui dirinya sebagai waria sesungguhnya, bukan waria “jadi-jadian”. Waria jadi-jadian adalah seorang laki-laki yang hanya berdandan seperti perempuan untuk mencari uang, tetapi gender dan orientasi seksual tetap seperti laki-laki normal.
4. Telah mengakui keberadaan atau eksistensi diri sebagai waria selama kurang lebih 10 tahun. Lama waktu kurang lebih 10 tahun dapat meyakinkan adanya konsistensi diri menjadi waria. Selain itu, pembentukan karakter dan identitas diri sebagai waria dinilai telah matang.
5. Memiliki hubungan intim dengan orang lain atau pernah memiliki hubungan intim dengan orang lain.
6. Memiliki keinginan untuk hidup bersama atau menikah dengan pasangan.
C. Fokus Penelitian
proses kognitif terhadap pernikahan, yaitu proses informasi atau bagaimana seseorang berpikir tentang pernikahan dan memiliki pengalaman tertentu yang terkait dengan pernikahan. Melalui proses kognitif, seseorang dapat memahami pernikahan dan hal tersebut juga melibatkan perasaan dan perilakunya. Makna pernikahan juga berkaitan dengan tujuan pernikahan. Apabila ada tujuan pernikahan dan gambaran tentang pernikahan, seseorang dapat memikirkan dan memahami pernikahan.
Hal yang diutamakan adalah bagaimana seorang waria dapat melihat, memahami dan memiliki makna tentang pernikahan melalui interaksi dengan keluarga, pasangan ataupun masyarakat dan norma sosial yang berlaku di lingkungan sosialnya. Penjabaran tentang pemahaman pernikahan yang diberikan narasumber akan memunculkan makna pernikahan bagi narasumber.
D. Metode Pengambilan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua metode pengambilan data yaitu:
1. Wawancara
sebab itu, peneliti harus dapat menerima segala informasi yang diberikan oleh narasumber. Peneliti menggunakan pedoman pertanyaan dalam melakukan wawancara, akan tetapi tidak menutup kemungkinan apabila peneliti melakukan perluasan atau penambahan selama proses wawancara berlangsung. Panduan wawancara disusun berdasarkan batasan teori mengenai pernikahan dan maknanya pada kaum waria.
Tabel 1. Guideline Wawancara
No. Pertanyaan
1 Menurut Anda apakah yang dimaksud dengan pernikahan? 2 Menurut Anda apa yang menjadi tujuan dari suatu pernikahan?
3 Menurut Anda mengapa seseorang memiliki keinginan untuk menikah? 4 Apakah Anda memiliki keinginan untuk menikah? Jika ya mengapa?
Jika tidak mengapa?
5 Menurut Anda apa saja hambatan yang dapat muncul jika Anda menikah?
6 Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hambatan tersebut? 7 Bagaimana hubungan pernikahan orangtua Anda? Apa yang Anda
rasakan?
8 Apakah Anda memiliki teman atau sahabat yang telah menikah? Bagaimana perasaan Anda atas hal tersebut?
9 Bagaimana pandangan Anda mengenai norma atau aturan pernikahan di Indonesia? Bagaimana perasaan Anda?
10 Bagaimana hubungan Anda dengan pasangan Anda saat ini? 11 Apakah Anda dan pasangan Anda pernah membicarakan soal
pernikahan?
12 Bagaimana pandangan keluarga dan masyarakat (teman, tetangga, dll) mengenai hubungan Anda dengan pasangan Anda?
13 Bagaimana pandangan Anda mengenai kehidupan bersama yang Anda jalani dengan pasangan?
14 Bagaimana perasaan Anda mengenai kehidupan bersama yang Anda jalani dengan pasangan?
15 Apa harapan Anda terkait tentang pernikahan?
2. Observasi
Observasi merupakan kegiatan mengamati dengan menggunakan panca indera penglihatan yaitu mata sebagai alat bantu utama. Observasi juga dilakukan sebagai alat cross-check pada saat wawancara dilakukan. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai pengamat dan berusaha membangun suasana hubungan yang baik dengan narasumber penelitian. Peneliti juga menentukan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan observasi. Berikut adalah hal yang diperhatikan ketika observasi berlangsung:
a. Penampilan narasumber, meliputi cara berpakaian dan cara berdandan. b. Perilaku narasumber, meliputi perilaku narasumber saat berinteraksi
dengan peneliti, perilaku saat wawancara dan perilaku keseharian narasumber.
E. Proses Pengambilan Data
kesediaannya juga bersedia membantu mencarikan narasumber lain yang sesuai dengan kriteria penelitian.
Peneliti mendapat tiga orang waria yang bersedia menjadi narasumber penelitian. Sebelum melakukan proses wawancara, peneliti meminta ijin dan menjelaskan tujuan diadakannya penelitian kepada para narasumber. Setelah para narasumber bersedia membantu dalam penelitian, peneliti menyusun jadwal untuk melakukan wawancara bersama narasumber. Wawancara dilakukan di Ponpes (Pondok Pesantren) Waria Kotagede Yogyakarta. Peneliti menggunakan handphone sebagai alat perekam isi wawancara yang dilakukan.
Tabel 2. Proses Rapport dan Wawancara
NO. KETERANGAN NARASUMBER
I II III
1 Rapport
TGL 9 Mei 2015 9 Mei 2015 31 Mei 2015 WKT pk 13.30 WIB pk 13.30 WIB pk 16.30 WIB
TMPT Ponpes Ponpes Ponpes
OBS
2 Wawancara I
TGL 30 Mei 2015 2 Juni 2015 2 Juni 2015 WKT pk 12.00 WIB pk 14.30 WIB pk 16.00 WIB
TMPT Ponpes Ponpes Ponpes
OBS
3 Wawancara II
TGL 16 Juni 2015 16 Juni 2015 16 Juni 2015 WKT pk 15.00 WIB pk 16.00 WIB pk 16.30 WIB
TMPT Ponpes Ponpes Ponpes
OBS
F. Analisis Data
1. Mencari Tema
Tema dapat dicari melalui verbatim dengan dibaca berulang kali. Dalam mempermudah menentukan tema, transkrip dimuat dalam tabel. Bagian kiri berisi transkrip dari verbatim, bagian tengah berisi komentar atau hal yang menarik dan bermakna dan bagian kanan berisi rumusan tema-tema
2. Menghubungkan Tema yang Ada
Tema disusun berdasarkan urutan kemunculan dalam transkrip. Kemudian tema dianalisis kembali dengan melihat hubungan antar tema. Tema yang tidak terkait dengan fokus penelitian boleh tidak dipergunakan. 3. Meneruskan Analisis Untuk Kasus Lain
Tema yang telah ditemukan dari kasus pertama dapat diteruskan pada analisis selanjutnya. Tema- tema kemudian dikumpulkan ke dalam table kelompok narasumber sehingga dapat ditemukan tema yang sama dari tiap kasus.
G. Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan demi mendukung hasil penelitian yang lebih baik, terutama untuk mengetahui data yang mendukung objek penelitian.
Secara lebih jelas dan lengkap, Creswell (2012) mengemukakan bahwa salah satu cara yang dapat digunakan untuk menguji keabsahan data penelitian, adalah dengan menggunakan member checking. Peneliti menggunakan member checking untuk mengkonfirmasi kembali mengenai keakuratan dan analisis data
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil Narasumber Penelitian 1. Narasumber 1
a) Deskripsi
Narasumber pertama memiliki nama inisial NA. Narasumber lahir pada tanggal 19 Januari 1969, saat ini berusia 45 tahun dan berasal dari Yogyakarta. Narasumber adalah anak ketiga dari delapan bersaudara, dua orang saudara perempuan dan lima orang saudara laki-laki. Pekerjaan yang dimiliki oleh narasumber adalah sebagai pembantu umum di Ponpes Waria Kotagede Yogyakarta. Selain itu, narasumber memiliki pekerjaan sampingan yaitu menerima pesanan makanan. Narasumber juga menceritakan bahwa terkadang dirinya mengamen di jalan.
Narasumber berpenampilan seperti perempuan, memakai pakaian perempuan, memanjangkan rambut, dan memakai make up. Narasumber juga mengaku melakukan beberapa upaya agar dirinya seperti perempuan, seperti meminum pil KB dan melakukan suntik silikon agar payudara besar. Pada lengan kiri narasumber terdapat tato berbentuk hati dengan tulisan nama.
b) Latar Belakang
Dari hasil wawancara, narasumber mengaku merasa dirinya sebagai waria sudah dimulai sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar narasumber merasa dirinya berbeda dengan teman laki-laki yang seusia dengannya. Narasumber merasa lebih nyaman berteman dengan perempuan. Saat masuk SMP kelas 2, narasumber memutuskan untuk hidup sebagai waria dan berhenti sekolah. Narasumber mengikuti berbagai kursus seperti, kursus menari, menjahit dan memasak. Hal yang paling disukai narasumber adalah memasak.
Narasumber mengaku menikmati hidup sebagai waria dan tidak merasa menyesal memilih jalan hidupnya hingga sekarang. Pilihan hidup sebagai waria yang dijalani oleh narasumber tidak membuat narasumber menutup diri dengan orang lain. Narasumber menceritakan bahwa dirinya seperti perempuan yang menyukai laki-laki. Narasumber mengaku memiliki ketertarikan hanya pada laki-laki sehingga orang yang menjalin hubungan intim dengan narasumber adalah laki-laki. Saat ini narasumber memiliki pasangan dan telah tinggal bersama selama kurang lebih 6 tahun. Kehidupan bersama yang dijalani narasumber dengan pasangan diakui tidak jauh berbeda dengan hubungan yang dijalin oleh pasangan-pasangan heteroseksual.
2. Narasumber 2 a) Deskripsi
Narasumber kedua berinisial SR. Narasumber lahir di Bantul pada tanggal 15 Oktober 1965 dan saat ini berusia 50 tahun. Pekerjaan narasumber adalah wiraswasta. Narasumber memiliki usaha membuat pesanan kerajinan tangan.
Penampilan narasumber layaknya perempuan, memakai make up dan memakai pakaian perempuan. Narasumber juga mengenakan hijab. Beberapa upaya untuk mempercantik diri dilakukan oleh narasumber seperti, melakukan suntik silikon pada bagian wajah (hidung, pipi dan dagu).
Narasumber menceritakan bahwa pernah dua kali memiliki pasangan dan hidup bersama. Narasumber merasa menjalani kehidupan pernikahan bersama pasangannya tetapi hanya sebatas diakui oleh lingkungan tempat tinggal.
b) Latar Belakang
perasaan suka kepada teman laki-laki dan hal tersebut terus berlanjut hingga narasumber masuk sekolah menengah atas.
Narasumber memutuskan menjalani kehidupan sebagai waria setelah lulus sekolah menengah atas. Ayah narasumber pernah mencoba meyakinkan narasumber bahwa narasumber adalah seorang laki-laki dan narasumber juga mencoba meniru bergaya seperti laki-laki. Namun, narasumber merasa hal tersebut tidak sesuai dengan dirinya dan menyadari bahwa menjadi waria adalah pemberian dari Tuhan.
Ketertarikan pada laki-laki membuat narasumber ingin memiliki pasangan. Narasumber mengaku pernah dua kali memiliki pasangan dan menjalani kehidupan bersama. Narasumber menjalin hubungan dengan pasangan pertama selama kurang lebih 15 tahun. Narasumber juga mengadopsi seorang anak. Setelah berpisah dari pasangan pertama, narasumber kembali hidup bersama dengan pasangan kedua. Hubungan narasumber dengan pasangan keduanya berjalan selama 17 tahun.
3. Narasumber 3 a) Deskripsi
Merasa dirinya sebagai perempuan, narasumber telah berpenampilan seperti perempuan sejak kecil. Narasumber senang memakai pakaian perempuan, berdandan, memanjangkan rambut dan merawat diri. Narasumber juga pernah menggunakan pil KB untuk memperbesar payudara dan melakukan suntik silikon pada bagian hidung dan dagu.
Narasumber merasa senang menjalani kehidupannya sebagai waria. Saat ini, narasumber juga memiliki dua orang pasangan. Hubungan narasumber dengan kedua pasangannya berjalan dengan baik. Kedua pasangan saling mengenal dan mereka hidup bersama dalam satu rumah.
b) Latar Belakang
Berdasarkan hasil wawancara, narasumber merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Narasumber memiliki saudara kembar laki-laki. Narasumber menceritakan saudara laki-lakinya hidup dengan normal menjadi seorang laki-laki, sedangkan narasumber menjalani hidup sebagai waria.
Sejak kecil narasumber merasa lebih senang bermain bersama anak-anak perempuan. Narasumber juga menolak untuk masuk sekolah
karena sering mendapat ejekan “wandu” atau “banci” dari teman
dalem Keraton Yogyakarta. Hingga saat ini narasumber sering menjadi penari untuk mengisi suatu acara.
Narasumber mengaku bahwa sebagai waria tidak menutup dirinya memiliki keinginan untuk memiliki pasangan. Pada awalnya narasumber merasa takut tidak ada yang menyukainya karena status kewariaannya. Namun, narasumber bertemu dengan seorang laki-laki yang akhirnya menjadi pasangan pertamanya. Pada awalnya pasangan narasumber tidak menyangka bahwa narasumber adalah seorang waria, akan tetapi hubungan tersebut tetap berlanjut. Hubungan tersebut telah dijalin kurang lebih selama 26 tahun. Setelah itu, di tengah hubungan dengan pasangan pertama, narasumber disukai oleh laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari narasumber. Hubungan narasumber dengan pasangan keduanya telah berlangsung kurang lebih selama 20 tahun. Narasumber mengaku bahwa hingga saat ini narasumber dan kedua pasangannya menjalin hubungan baik dan hidup bersama dalam satu rumah.
B. Hasil Penelitian 1. Pemahaman tentang pernikahan
a. Narasumber 1
“Pernikahan itu suatu..ee apa ya.. Pernikahan itu ee seorang laki-laki dan perempuan mereka menjadi satu.. satu rumah tangga itu tapi dengan mendapat surat resmi dari pemerintah.”
(Narasumber 1, 7-13) Narasumber juga mengutarakan bahwa tujuan pernikahan adalah menjadi satu dengan pasangan dan memiliki keturunan. Kemudian narasumber menganggap bahwa alasan seseorang menikah adalah karena kodrat manusia dan kewajiban dari agama. Narasumber juga memiliki pandangan bahwa hambatan yang dapat muncul dalam pernikahan adalah persoalan mengasuh anak. Oleh sebab itu, narasumber lebih memilih untuk tidak mengasuh atau mengadopsi anak. Berikut adalah perkataan narasumber pada saat wawancara:
“Kalo untuk aku ya banyak sekali hambatan karena ya mungkin kalo aku menikah, ya masalah untuk eee kita harus punya anak, kita harus bisa mengasuh anak, terus kita harus bisa ee apa menghidupi secara keseluruhannya dalam pendidikan maupun soal sehari-harinya. Ya aku mikir punya anak itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi ee kalo ngadopsi anak gitu juga aku enggak mau gitu karena enggak cukup soal dikasih makan aja.”
(Narasumber 1, 83-99) Dibalik pemahaman pernikahan yang dimiliki narasumber secara umum, kehidupan sebagai waria yang dijalani membuat narasumber menjadi tidak peduli dengan peraturan pernikahan di Indonesia meski terlihat narasumber membandingkan dengan peraturan negara lain. Hal tersebut terlihat pada perkataan narasumber:
tau. Tapi aku juga engga begitu ini kok..enggak emmm acuh aja aku dengan emm apa ya.. dengan peraturan pemerintah seperti itu. Dan aku juga tidak pingin seperti mereka yang menikah pada umumnya manusia.”
(Narasumber 1, 170-176 & 186-197)
b. Narasumber 2
Pernikahan bagi narasumber merupakan hubungan romantik antara dua orang yang kemudian membentuk rumah tangga dan hidup bersama. Hal tersebut dapat dilihat pada perkataan narasumber saat wawancara:
“Eee pernikahan adalah hubungan romantik antara dua orang yang membuat kesepakatan eee untuk hidup bersama di dalam eee membentuk ee dalam suatu rumah tangga lah ya..”
(Narasumber 2, 12-18) Narasumber menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah agar hubungan yang dijalin mendapat pengakuan dari keluarga dan teman-teman. Alasan seseorang menikah menurut narasumber adalah untuk mengekalkan hubungan yang dijalin. Narasumber mengungkapkan bahwa pernikahan adalah hal yang penting bagi pasangan agar mendapat pengakuan dari orang lain. Berikut adalah pernyataan narasumber pada saat wawancara:
“Ya…menurutku itu hal yang penting karena itu menjadikan kita merasa eee pasangan kita itu menjadi pasangan yang diakui oleh orang lain gitu.”
pernikahan bukanlah suatu hal mudah untuk dilakukan. Pernikahan melibatkan hubungan antara dua orang dan dua keluarga. Pada saat wawancara narasumber berkata:
“Iya karena pernikahan kan menyatukan dua..dua watak. Setelah dua watak itu dua keluarga. Dua keluarga yang model pengasuhan anaknya berbeda, lingkungannya berbeda dan ini adalah suatu hal yang rumit juga. Jadi ee itu memerlukan siasat yang tinggi untuk terus bisa berjalan gitu. Ee kalau kita masih sama-sama satu daerah itu masih agak mudah karena memang ee apa ya ee pola pengasuhan ee pola apa itu ee modelnya sama tetapi ketika kita sudah berbeda misal orang Jawa sama orang Sunda itu kita sudah eee Orang Jawa sama orang Jakarta kan udah lain. Bagaimana cara me ee me apa ya eee mengasuh anak walaupun itu sudah menikah, bagaimana kan ee. Jadi itu yang menimbulkan bentrok ee suatu keluarga.”
(Narasumber 2, 356-382) Menurut narasumber, hambatan yang dapat muncul di dalam pernikahan adalah penerimaan dari keluarga, terutama dari pihak keluarga pasangan. Penerimaan dari keluarga perlu didapat agar dapat menjalani kehidupan pernikahan dengan baik. Oleh sebab itu, narasumber berpendapat perlu mengenal secara dekat keluarga pasangan, mengetahui latar belakang kebudayaan dan hal-hal yang disukai. Narasumber juga berpendapat bahwa hambatan bagi waria adalah waria belum dapat menikah secara resmi. Menurut narasumber, pernikahan waria di Indonesia untuk dapat dilegalkan merupakan mimpi yang sulit dicapai. Hal tersebut dikemukakan pada saat wawancara:
“eee saya pikir untuk waria yang kepingin menikah yah biarlah teman-teman waria itu yang berusaha sendiri. Untuk kita melegalkan sesuatu eee pernikahan di Indonesia secara legal di Indonesia itu masih sesuatu yang mimpi yang sangat jauh-jauh ke depan.”
c. Narasumber 3
Narasumber mengartikan pernikahan merupakan hubungan suami istri yang disahkan oleh agama. Pada saat wawancara narasumber berkata demikian:
“Kalo menurut saya ya pernikahan itu ee suami-istri yang sudah disahkan dengan agama.”
(Narasumber 3, 8-11) Tujuan dari pernikahan adalah hidup bersama pasangan dan siap menerima segala kondisi yang akan terjadi. Narasumber menyatakan bahwa alasan pernikahan adalah sebagai pengikat hidup bersama dan memiliki keturunan. Narasumber juga mengungkapkan bahwa hambatan yang dapat muncul di dalam pernikahan adalah persoalan pengasuhan anak, mengurus suami dan persoalan keuangan. Hal tersebut dapat dilihat pada saat wawancara:
“Ya hambatannya kan kalo nikah kita harus mampu ngehidupin anak, bertanggung jawab hidupin anak ya kalo ngadopsi anak begitu. Terus ya meladeni laki-laki seperti rumah tangga umumnya enggak gampang juga. Kalo ga ada uang gitu ya mesti kesulitan. Ya makanya saya juga enggak ngadopsi anak gitu ya.”
2. Perasaan yang dialami tentang hidup bersama a. Narasumber 1
Narasumber telah menjalin hubungan cukup lama dengan pasangannya. Narasumber mengaku bahwa dirinya tidak yakin bahwa pasangannya sungguh-sungguh mencintai narasumber. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil wawancara:
“Aku ya enggak yakin betul sih aku dicintai apa enggak. Aku juga enggak begitu ya..apa ya..aku enggak berharap dia tuh cinta sama aku apa enggak juga enggak. Pokoknya ya aku tinggal satu rumah, apa yang aku butuhkan aku dapatkan gitu aja.”
(Narasumber 1, 743-752) Narasumber terlihat lebih mementingkan hal-hal yang dibutuhkan dan diinginkan terwujud selama narasumber memiliki pasangan. Di sisi lain, narasumber merasa senang dapat hidup bersama pasangannya karena narasumber merasa seperti memiliki suami yang memperlakukan dirinya layaknya perempuan. Hal tersebut nampak pada:
“Ya seneng ya, rasanya seperti aku punya suami. Apapun kita selalu berdua, makan berdua, main kemana juga berdua. Dan karena aku sudah biasa aku punya pasangan dari dulu aku tidak asing lagi, aku juga tidak merasa aku bangga ataupun aku aneh kok aku punya pasangan gitu. Lalu aku diperlakukan seperti perempuan dengan pasangan aku. Juga dengan apa ya..ya pokoknya pada umumnya seorang suami kasih nafkah ke istri.”
(Narasumber 1, 927-936 & 488-494)
b. Narasumber 2
menerima dan mengakui hubungannya dengan pasangan. Hal tersebut terlihat pada perkataan narasumber:
“iya iya benar saya bangga. Jadi dari eee seolah-olah benar-benar aku mendapat peneguhan. Ee pernikahanku di di dalam lingkungan masyarakat diakui saya sebuah keluarga ya seperti itu. Maka ketika aku menikahkan, saya juga seperti orang mantu yang lain, aku menikahkan anakku dengan mengundang para tetangga, para relasi ya seperti itulah.”
(Narasumber 2, 980-992) Narasumber juga mengaku merasa senang dan dapat menerima pasangannya menikah dengan perempuan meski kehidupan bersama yang dijalin telah berlangsung cukup lama. Narasumber dan pasangannya telah sepakat untuk tidak berhubungan seksual dan menjalin hubungan sebagai saudara agar dapat berpisah secara baik-baik. Hal tersebut dapat dibuktikan pada saat wawancara:
“Jadi ya udah enggak canggung, enggak sedih gitu. Dengan tidak berhubungan seksual lagi itu membantu perubahan itu. Artinya kita sudah belajar selama 4 tahun itu untuk merubah hubungan romantis ini menjadi hubungan persaudaraan. Hubungan kita tetap baik gitu. Jadi ketika hari-H dia menikah, saya pun tidak apa-apa. Malah saya yang membikin pesta, malah saya yang membuatkan hantaran seperti itu. Saya seneng dan tidak masalah.”
(Narasumber 2, 491-508)
c. Narasumber 3
“Ya saya bahagia sekali ya karena saya sudah direstui gitu, sama keluarga sama tetangga juga.”
(Narasumber 3, 332-335) Perasaan senang yang dirasakan oleh narasumber juga muncul karena narasumber bisa memiliki pasangan yang mau menerima dirinya dan menemani di saat suka dan duka. Hal tersebut dapat dilihat dari pengakuan narasumber pada saat wawancara:
“Ya rasanya seneng, bangga gitu mbak. Dia mau sama saya, saya kan waria. Saya lebih bangga lah dia mau sama saya karena saya begini. Iya saya senang dan bangga. Sampe sekarang mbak karena juga kalo punya laki gitu aku mau pergi kemana dia bisa jaga rumah, kalo aku sakit bisa merawat. Bisa saling melengkapi gitu, jadi ya kalau suami istri pahit manisnya ya kita harus apa namanya gotong royong dan bisa merangkul bareng gitu.”
(Narasumber 3, 426-430 & 436-445)
3. Respon pada pengalaman pernikahan orang lain a. Narasumber 1
Hubungan pernikahan orangtua diakui biasa saja oleh narasumber. Narasumber menceritakan bahwa kehidupan pernikahan orangtuanya layaknya hubungan pernikahan pada umumnya. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada saat wawancara:
“emmm kalau hubungan keluarga aku, orangtua juga biasa-biasa aja. Ya mereka biasa.. kalau dalam rumah tangga kan seperti ada cekcok. Tapi itu kan cuma suatu bentuk hubungan dalam berumah tangga, tapi abis itu juga baik lagi.”
berandai-andai ingin seperti teman-temannya tersebut dikarena waria tidak dapat menikah secara resmi. Pengakuan narasumber dapat dilihat pada saat wawancara:
“Nyantai aja sih. Aku enggak pernah kepikiran aku, apa ya…kayak pingin seperti itu enggak. Cuma aku ikut bahagia teman aku sudah menikah itu aja. Tapi aku berandai-andai aku pingin seperti itu tu, seperti mereka itu enggak.”
(Narasumber 1, 160-168)
b. Narasumber 2
Narasumber menceritakan bahwa pernikahan orangtua dahulu masih diatur atau melalui perjodohan. Atas pengalaman pernikahan orangtuanya, narasumber masih memegang nasihat yang diberikan ibu narasumber yaitu perempuan tidak boleh bergantung pada laki-laki. Hal tersebut diutarakan narasumber pada saat wawancara:
“Tidak ee kita tidak pernah berkaca bahwa eee ibuku hanya mengajarkan yang sampai sekarang masih kuingat bahwa seorang perempuan itu..ee karena ibuku sudah menganggap aku seorang perempuan ya. Ketika dia bilang bahwa “seorang perempuan jangan tergantung pada laki-laki karena ibu pernah mengalami itu dan itu sakit sekali. Kemudian ibu bekerja dan kamu lihat sekarang penghasilan ibu lebih besar dari penghasilan ayahmu”. Dia bilang begitu ya seperti itu dan aku juga melakukan itu, aku tidak pernah bergantung pada suamiku seperti itu.. Eee ya karena masih orang jaman dulu eemm jadi karena memang tradisi di jaman itu jadi itu sesuatu yang biasa gitu. Jadi ya saya mencoba lebih memahami aja bahwa itu sudah biasa gitu, karena pada akhirnya ketika ibu saya dijodohkan itu ya jadi cinta dengan ayah saya gitu.”
rumah tangga. Selanjutnya, narasumber menceritakan bahwa banyak dari temannya yang sudah menikah. Narasumber mengaku merasa senang melihat hal tersebut karena bisa saling membantu dan berbagi persoalan rumah tangga dengan teman-temannya yang sudah menikah. Hal tersebut dapat dilihat pada saat wawancara:
“Maksudnya.. oh iya, iya. Banyak temanku yang sudah menikah. Kita sering sharing, kita sering berbagi ee kesulitan rumah tangga, kita saling meminjami uang.”
(Narasumber 2, 312-317)
c. Narasumber 3
Pengalaman pernikahan orangtua dinilai baik oleh narasumber. Narasumber menceritakan bahwa hubungan pernikahan orangtuanya berakhir karena dipisahkan oleh kematian. Narasumber merasa senang melihat hubungan pernikahan orangtua yang berjalan dengan baik.
Narasumber juga menceritakan bahwa banyak temannya yang telah menikah. Namun, narasumber memilih untuk menjaga jarak dan lebih memilih untuk berteman dengan teman-teman waria. Pada saat wawancara narasumber menyatakan demikian:
“Kalo untuk umum sih mbak hanya di kampung, karena ya gimana ya karena ya kita seringnya kumpul sama waria karena saya seorang waria. Di kampung itu juga ya gimana ya mbak, Cuma itu aja kumpul rewang kalo ada hajat, penganten gitu. Jadi kalo kita ya seringnya ketemunya disini karena gimana ya walaupun saya itu di kampung ya baik, tapi enggak ee jadi saya jaga jarak gitu aja karena ya orang belum tentu banyak yang suka.”