BAB II. TINJAUAN PUSTAKA …
C. Waria
Waria adalah istilah wanita-pria yang digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki identitas gender dan ekspresi gender unik serta terkadang muncul dorongan untuk mengubah gendernya karena memiliki ketidakcocokkan antara bentuk fisik dan kejiwaannya. Koeswinarno (2004) mengemukakan bahwa dalam konteks psikologi, seorang waria termasuk dalam istilah transeksualisme, yakni seseorang yang memiliki jasmani yang sempurna tetapi memiliki dorongan kuat untuk menjadi jenis kelamin yang berlawanan. Waria atau transgender mengacu pada seseorang yang memiliki identitas gender, persepsi diri yang berbeda dengan jenis kelamin biologisnya, bersikap dan berperilaku seperti stereotipe lawan jenis kelaminnya (Galink, 2013). Junaidi (2012) menambahkan bahwa waria merupakan laki-laki yang berorientasi seks perempuan, secara fisik ingin berpenampilan seperti perempuan dan secara psikologis mengidentifikasi diri sebagai perempuan.
Kaum transgender, menurut Yash (dalam Galink, 2013) pada umumnya tidak melakukan operasi penggantian kelamin, apabila dilakukan pun bukan operasi dan terapi secara menyeluruh atau lengkap. Istilah waria yang umumnya diketahui oleh masyarakat lebih dikenal pada transgender laki-laki. Waria terlihat bersikap dan berperilaku layaknya perempuan, akan tetapi mereka biasanya ingin tetap dikenal sebagai waria. Mereka menganggap waria adalah “gender” ketiga. 1. Faktor Menjadi Waria
Pandangan tentang waria sangat beragam, agar lebih mudah dalam menjelaskan kaum waria, terdapat dua aspek yang dapat memberikan gambaran tentang waria (Saputra, 2013), yaitu:
a. Waria dilihat dari Aspek Medis-Psikologis
Penyebab utama seseorang menjadi waria adalah lingkungan. Pengaruh dari lingkungan secara tidak sadar dialami seseorang ketika seseorang tersebut masih kecil. Lingkungan merupakan suatu tempat seseorang bersosialisasi, baik atau buruknya diri seseorang dapat ditentukan dari tempat lingkungan ia dibesarkan. Apabila dari kecil terdapat suatu hambatan atau gangguan maka dapat mengganggu perkembangan kepribadiannya.
b. Waria dilihat dari Aspek Sosial-Budaya
Fenomena sosial melihat kehidupan waria memiliki keadaan yang bermacam-macam. Waria menjalani kehidupannya dengan melakukan pekerjaan yang dapat mereka lakukan seperti bekerja di salon kecantikan,
pembantu rumah tangga, bahkan melacur. Sedikit waria yang melakukan pekerjaan laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga bidang pekerjaan waria menjadi terbatas. Menurut Sopjan (dalam Saputra, 2013), kehidupan waria dalam berbagai dimensi memiliki tiga proses sosial yang mungkin terjadi. Pertama, sosialisasi perilaku waria dalam konteks lingkungan sosial, karena waria tidak dapat lepas dari lingkungan sosial. Kedua, pandangan tentang realitas objektif yang dibentuk oleh perilaku mereka. Realitas objektif merupakan pemahaman untuk menjadikan perilaku individu sebagai nilai yang diharapkan atau tidak diharapkan dalam lingkungan sosial. Terakhir, proses pemaknaan dan pemahaman sebagai waria. Proses ini menyangkut pertahanan identitas. Mereka berusaha mengkonstrukkan makna hidup sebagai waria atas pengalaman-pengalaman sebelumnya yang terbentuk dari proses sosial dan realitas objektif dunia waria. Hidup sebagai waria seolah telah membudaya bagi waria. Dapat dikatakan bahwa kebudayaan dalam konteks waria merupakan tingkah laku yang dipelajari dan merupakan fenomena mental.
Davison (2006) mengemukakan dua aspek penyebab terjadinya seseorang memiliki ketidakcocokan antara identitas gender dengan jenis kelamin biologisnya. Pertama, faktor-faktor biologis, identitas gender dipengaruhi oleh hormon sehingga menimbulkan minat dan perilaku lintas gender. Kedua, faktor-faktor sosial dan psikologis, lingkungan memberikan kontribusi yang besar dalam konflik antara jenis kelamin anatomis dan identitas gender seseorang, kedekatan anak dengan orangtua
dan bagaimana cara anak dibesarkan juga menjadi salah satu contoh munculnya konflik identitas gender dengan jenis kelamin biologis. Menurut Money (dalam Jeffrey, 2005), penyebab adanya gangguan identitas gender yang menyebabkan seseorang menjadi transgender belum dapat dipastikan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya kemungkinan yang muncul, misalnya, karena faktor keluarga, pola sosialisasi dan ketidakseimbangan hormonal di masa-masa prenatal. Keluarga dapat menjadi salah satu faktor, misalnya kedekatan hubungan ibu dan anak laki-laki yang ekstrem, hubungan orangtua tidak baik atau renggang ataupun figur ayah yang jauh dari sang anak. Pola sosialisasi di mana orangtua menginginkan anak dari gender yang berbeda dapat secara kuat mendorong terbentuknya pola asuh atau cara membesarkan anak, seperti dari cara berpakaian, berperilaku dan pola bermain yang disesuaikan dengan keinginan orangtua. Selain itu, ketidakseimbangan hormonal di masa prenatal dapat berperan karena terjadi interaksi di uterus antara perkembangan otak dan pelepasan hormon.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa waria adalah seorang laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, memiliki jiwa perempuan sehingga ingin menyesuaikan antara tubuh dan jiwanya.
2. Ciri-ciri Waria
Seseorang yang dikategorikan sebagai waria memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan mereka. Waria atau transgender berbeda dari kaum gay atau lesbian. Transgender memiliki hasrat untuk menjadi anggota gender yang berlawanan atau merasa jijik dengan alat genitalnya (Jeffrey, 2005). Di dalam DSM IV-TR (2000), waria termasuk dalam gangguan identitas gender (gender identity disorder/transsexual) dan memiliki beberapa kriteria, sebagai berikut: a. Identifikasi kuat dan menetap terhadap lawan jenis
b. Pada remaja dan orang dewasa, gejala atau simptom seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah ke kelompok lawan jenis, ingin diperlakukan seperti lawan jenis dan memiliki keyakinan bahwa emosinya adalah seperti lawan jenis.
c. Muncul rasa tidak nyaman secara terus-menerus terhadap jenis kelamin biologisnya atau merasa terasing dari peran gender jenis kelamin tersebut. 1) Pada remaja dan orang dewasa, terwujud adanya keinginan yang kuat
untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekunder melalui pemberian hormone dan/atau melalui operasi; merasa yakin bahwa ia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah.
d. Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin
Nadia (2005) menjelaskan bahwa ciri-ciri kaum waria transseksual adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi transeksual menetap minimal 2 tahun dan berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau kromosom.
b. Memiliki hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenisnya biasanya disertai perasaan risih dan ketidakserasian anatomi tubuhnya.
c. Memiliki keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Ia juga menambahkan bahwa kaum waria memiliki ciri-ciri lain seperti ada dorongan kuat untuk berpakaian seperti lawan jenisnya, memiliki minat dan aktivitas berlawanan dengan jenis kelaminnya, penampilan fisik yang hampir menyerupai lawan jenis, bahasa dan nada suara seperti lawan jenisnya. Hal tersebut umumnya menjadi penyebab kaum waria ditolak oleh lingkungan tempat tinggalnya.
Uraian di atas dapat memperlihatkan bahwa terdapat ciri-ciri pada waria yang dapat membedakan dengan laki-laki, perempuan ataupun gay dan/atau lesbian. Individu yang merasa terlahir sebagai waria ingin selalu menampilkan identitas diri sebagai lawan jenisnya, memiliki keinginan kuat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenis dan memiliki ekspresi gender seperti lawan jenis, misal dari cara berpakaian dan berperilaku.