2.3. Dampak Suksesi Kepemimpinan dalam Serat Babad Sunan Prabu
2.3.1. Perpecahan Kerajaan
Perpecahan Kerajaan timbul antara keturunan dari almarhum Paku Buwana I, perselisihan dimulai pada saat upacara (barang-barang pribadi) termasuk sawah milik Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar dicabut demi kepentingan bertahtanya Prabu Amangkurat, serta sikap Garwa Kandha yang memanas-manasi Pangeran Blitar untuk merebut keraton, padahal perbuatan Garwa Kandha itu mengandung misi lain yaitu untuk membebaskan anaknya yang telah dipenjara di dalam keraton, hal tersebut terlihat dalam kutipan-kutipan berikut:
Kutipan:
Sĕmantĕn Pangeran Adipati Purbaya Adipati Balitar pinundhut upacarane duk panjĕnĕnganipun ingkang rama putra kĕkalih kĕndhagannya gotongan pĕngawinanipun
gangsal ingkang munggeng ngarsa
wus pinundhut rĕnggan pangran badhe aji upacara kaputran.” (pupuh V bait 6 hal 27) Mung upacara sĕntana mĕksih
ingkang rayi kalih tan lĕnggana nanging anjarĕm galihe
myang gĕgadhuhanipun Jagasura wus denpundhuti wusdene ing Balora gih sampun pinundhut mila saya sangĕt susah
Bĕndara Pangran Balitar ngulig abdi paleler bojasmara.” (pupuh V bait 7 hal. 27) Garwa Kandha kang ngadon-adoni
angaturi angrĕbata pura nungswa Jawa padha duwe punapa kaotipun
tuwin wĕling dalĕm kang swargi ing nĕgara sajawa
singa ingkang mĕngku putra kĕkalih punika
salĕrĕse dhuh gusti tumuta mukti
kĕsangĕtĕn rakanta. (pupuh V bait 9 hal. 28) Garwa Kandha marmanya sru mamrih ing mangke kinunjara
pun Ragum ika arane Gĕdhong Tĕngĕn genipun dosanira asaba puri kados yen Garwa Kandha sangĕt aturipun
sĕmantĕn Pangeran Balitar anuruti abdine pinĕpak nuli
Terjemahan:
Begitu Pangeran Adipati Purbaya Adipati Blitar
diambil upacaranya (benda kehormatan pangeran) ketika mereka
yang ayahnya dua anak itu petinya digotong
pengiringnya
lima yang berada di depan
sudah diambil dipakai untuk menjadi raja upacara kaputran.
Hanya upacara keluarga kerajaan masih yang adik keduanya tidak menerima tetapi berbekas dihati
kepada kekacauannya Jagasura sudah diambil beserta yang di Balora juga sudah diambil
maka semakin sangat susah
Bendara Pangran Blitar mengelus abdi Memberikan makanan.
Garwa Kandha yang memanas-manasi memberitahu disekeliling pura
manusia jawa semua memiliki apa berlebih
juga wasiat Raja yang telah meninggal di Negara seluruh Jawa
singa yang memimpin kedua putra itu
sebenarnya dhuh Gusti ikutlah mukti kebangetan kakakmu.
Garwa Kandha rasa keras menghasut saat ini dipenjara
Ragum itu namanya Gedung Kanan tempatnya dosanya keluar puri
seperti yang Garwa Kandha sangat kata-katanya
begitu Pangeran Blitar
menuriti abdinya yang dipilih sebelumnya siap dalam peperangan.
Kutipan-kutipan di atas menunjuknya awal mula terjadinya perpecahan kerajaan yang disebabkan oleh Prabu Aamangkurat karena mengambil benda kehormatan kedua pangeran demi naik tahta menjadi raja, dan sifat Garwa Kandha yang memanasi-manasi Pangeran Purbya dan Pangeran Blitar untuk segera memberontak Prabu Amangkurat, karena sakit hati dan merasa telah dizolimi kedua pangeran melakukan pemberontakan yang mengakibatkan terjadinya perpecahan.
2.3.2. Pemberontakan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pemberontakan adalah proses, cara, perbuatan memberontak; penentangan terhadap kekuasaan yg sah. Pemberontakan, dalam pengertian umum, adalah penolakan terhadap otoritas. Pemberontakan dapat timbul dalam berbagai bentuk, mulai dari pembangkangan sipil (civil
disobedience) hingga kekerasan terorganisir yang berupaya
meruntuhkan otoritas yang ada. Istilah ini sering pula digunakan untuk merujuk pada perlawanan bersenjata terhadap pemerintah yang berkuasa, tapi dapat pula merujuk pada gerakan perlawanan tanpa kekerasan. Orang-orang yang terlibat dalam suatu pemberontakan disebut sebagai pemberontak.
Pemberontakan dalam Serat Babad Sunan Prabu diawali karena Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar tidak terima jika
upacara atau benda kehormatan Pangeran diambil semuanya demi
dipengaruhi oleh Garwa Kandha yang memanas-manasi kedua pangeran untuk melakukan pemberontakan, dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Kutipan:
Sĕmantĕn Pangeran Adipati Purbaya Adipati Balitar pinundhut upacarane duk panjĕnĕnganipun ingkang rama putra kĕkalih kĕndhagannya gotongan pĕngawinanipun
gangsal ingkang munggeng ngarsa
wus pinundhut rĕnggan pangran badhe aji upacara kaputran.” (pupuh V bait 6 hal 27) Mung upacara sĕntana mĕksih
ingkang rayi kalih tan lĕnggana nanging anjarĕm galihe
myang gĕgadhuhanipun Jagasura wus denpundhuti wusdene ing Balora gih sampun pinundhut mila saya sangĕt susah
Bĕndara Pangran Balitar ngulig abdi paleler bojasmara.” (pupuh V bait 7 hal. 27) Garwa Kandha kang ngadon-adoni
angaturi angrĕbata pura nungswa Jawa padha duwe punapa kaotipun
tuwin wĕling dalĕm kang swargi ing nĕgara sajawa
singa ingkang mĕngku putra kĕkalih punika
salĕrĕse dhuh gusti tumuta mukti
kĕsangĕtĕn rakanta. (pupuh V bait 9 hal. 28) Garwa Kandha marmanya sru mamrih ing mangke kinunjara
pun Ragum ika arane Gĕdhong Tĕngĕn genipun dosanira asaba puri kados yen Garwa Kandha
sangĕt aturipun
sĕmantĕn Pangeran Balitar anuruti abdine pinĕpak nuli
siyaga ing ngayuda. (pupuh V bait 28 hal. 31)
Terjemahan:
Begitu Pangeran Adipati Purbaya Adipati Blitar
diambil upacaranya (benda kehormatan pangeran) ketika mereka
yang ayahnya dua anak itu petinya digotong
pengiringnya
lima yang berada di depan
sudah diambil dipakai untuk menjadi raja upacara kaputran.
Hanya upacara keluarga kerajaan masih yang adik keduanya tidak menerima tetapi berbekas dihati
kepada kekacauannya Jagasura sudah diambil beserta yang di Balora juga sudah diambil
maka semakin sangat susah
Bendara Pangran Blitar mengelus abdi Memberikan makanan.
Garwa Kandha yang memanas-manasi memberitahu disekeliling pura
manusia jawa semua memiliki apa berlebih
juga wasiat Raja yang telah meninggal di Negara seluruh Jawa
singa yang memimpin kedua putra itu
sebenarnya dhuh Gusti ikutlah mukti kebangetan kakakmu.
Garwa Kandha rasa keras menghasut saat ini dipenjara
Ragum itu namanya Gedung Kanan tempatnya dosanya keluar puri
seperti yang Garwa Kandha sangat kata-katanya
menuriti abdinya yang dipilih sebelumnya siap dalam peperangan.
Kutipan-kutipan di atas dapat dilihat bagaimana mulanya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar disebabkan karena upacara kedua pangeran telah diambil untuk kepentingan naik tahta Prabu Amangkurat. Sementara itu Garwa Kandha juga ikut memanas-manasi Pangeran Purbaya dan Blitar supaya melakukan pemberontakan terhadap Prabu Amangkurat, padahal tujuan Garwa Kandha memanas-manasi memiliki tujuan lain yaitu dia ingin membebaskan anaknya yang telah dipenjara di dalam Keraton. Rasa kecewa yang besar terhadap Prabu Amangkurat dan telah termakan oleh pengaruh dari Garwa Kandha maka Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar melakukan pemberontakan.
2.3.3. Peperangan
Teori Thomas Hobbes (1651), manusia dapat menjadi serigala bagi sesamanya Hal ini dilandasi tiga hal yaitu keuntungan, kemanan danreputasi. Konsekuensi logis dari naluri yang mendasar ini, manusia akan melakukantindakan bertahan untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Negara adalah lingkuplebih besar yang merupakan wujud dari individu manusia. !etiap Negara memiliki kepentingan nasional untuk menjamin kelangsungan berbangsa dan bernegara. Upaya kepentingan nasionalnya terpenuhi, pada suatu titik kulminasi tertentu dimana cara-cara normatif tidak mencapai
hasil, suatu Negara akan menyerang Negara lainnya. Implikasi yang ditimbulkan adalah suatu Negara akan berusaha mempertahankan dirinya dari serangan Negara lain sehingga timbulah perang.
Peperangan timbul antara keturunan Paku Buwana I, peperangan diawali karena Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar tidak terima jika upacara atau benda kehormatan Pangeran diambil semuanya demi kepentingan naik tahtanya Pangeran Dipati/Prabu Amangkurat. Perang berkecamuk karena Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar tidak terima apa yang dilakukan kakaknya kepadanya, sedangkan Prabu Amangkurat mau tidak mau beliau harus meladeni pemberontakan yang dilakukan oleh kedua adiknya demi melindungi tahtanya. Prabu Amangkurat juga melakukan penyerangan kepada kedua adiknya demi menjaga kepemimpinannya. Serangan Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya terhadap Prabu Amangkurat yang dipimpin oleh Garwa Kandha. Serangan yang dipimpin oleh Garwa Kandha dapat dilihat dari kutipan berikut:
Kutipan:
Garwa Kandha kang dadya cucuking ngarsa para lurah nambungi
ki gĕndara desa
lawan pun anggĕndara jaladara lawan malih kang mangundara
subala lan subali. (bait 1 pupuh 6 hal. 32)
Terjemahan:
Garwa Kandha yang menjadi pemimpin di depan para lurah mengikuti
para pemimpin desa juga menjadi pengikutnya
mendung dan juga
yang membentuk mendung prajurit dan prajurit.
Prabu Amangkurat memimta bantuan Kompeni yang dikomando oleh Tuan Atmral Baritman untuk mengatasi serangan dari kedua adiknya terhadap Kartasura, dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Kutipan:
Lutnan myarsa wuwuse Mangun Nĕgara kagyat wadya Kumpĕni
pan sampun sadhiya inggal dhatĕng pamĕkang mung Wĕlanda rong Kumpĕni prapteng pamĕngkang
lan mungsuh wus ajurit. (pupuh VI bait 11 hal. 13)
Terjemahan:
Letnan menyimak laporan Mangun Nagara kaget bala Kompeni
tetapi sudah bersiap segera menuju tempat hanya Belanda dua kumpeni sampai ke tempat
dan musuh sudah berperang
Peperangan terjadi antara Prabu Amangkurat dengan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar
Kutipan:
Sarta atĕngara umung sampun cĕlak Kumpĕni sarĕng bĕdhil
kang para ngulama
samya mamuk mring ngarsa sampun karsaning Ywang Widi tumpĕs sĕdaya
Kathah pĕjah ing prang sabil lawan kopar sigra sagunging mantri
myang para punggawa sami tĕtulung yuda
nanging gugup ingkang jurit Kumpĕni eca
alumbungan kang baris. (pupuh 6 bait 225 hal. 57) Pra punggawa Kablitaran tuna dungkap
kaclĕkuthak ing jurit suda manahira
binendrong ing sĕnjata akathah longe kang mati Sultan Balitar
kĕsisaning ngajurit.(pupuh 6 bait 226 hal. 58)
Terjemahan:
Serta tanda-tanda ramai sudah dekat kumpeni lalu menembak
yang para ulama
segera melihat ke depan sudah kehendak Tuhan tumpas semua
sedikit santri yang tertinggal.
Banyak yang mati dalam perang sabil melawan orang kafir segera seluruh mantri
dan para punggawa
saling menolong dalam perang tetapi gugup yang berperang kumpeni enak
banyak yang berbaris.
Para punggawa Kablitaran kurang mencukupi terkapar dalam perang
berkurang hatinya diserang dengan senjata banyak berkurang karena mati Sultan Blitar
kehabisan prajurit.
Kutipan di atas menunjukan peperangan antara Kompeni dengan pasukan Pangeran Blitar, pasukan Pangeran Blitar banyak yang mati, seluruh mantri dan para punggawa saling menolong
dalam perang tetapi barisan Kompeni sangat kuat, para punggawa Kablitaran kurang mencukupi dan terkapar dalam perang. Kompeni menembaki pasukan Kablitaran yang akhirnya membuat Pangeran Blitar kehabisan prajurit.
2.3.4. Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhar yang artinya menahan atau menangung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan dan lain-lain (Achmad Rosyidi, 2007).
Penderitaan, rasa sakit, dan tersiksa adalah bagian hidup manusia. Tiap manusia pernah dan akan mengalaminya, meskipun kadar penderitaanya, rasa sakit dan rasa tersiksa itu tidak sama.
Suksesi Kepemimpinan dalam Serat Babad Sunan Prabu juga membawa penderitaan. Penderitaan pertama kali dirasakan oleh Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar pada waktu semua barang kehormatan pangeran diambil oleh Prabu Amangkurat untuk naik tahta, sehingga membawa penderitaan tersendiri bagi keduanya. Penderitaan terutama dirasakan oleh prajurit karena prajurit banyak yang meninggal. Kesensaraan juga dirasakan oleh masyarakat kecil, karena adanya peperangan masyarakat kecil menjadi ketakutan. Penderitaan yang paling dirasakan adalah pada waktu Pangeran
Blitar dan pengikutnya terkena pagebluk atau terkena wabah penyakit setelah kalah perang dengan Kerajaan Kartasura.
Kutipan:
Pangran Purbaya mangsuli aris witne paman kula langkung awrat nanging yen emut wĕlinge
swargi Rakanta Prabu ing kawula mawanti-wanti tuwin dhatĕng putranta Ki Lurah puniku
gih winĕling pyambak-pyambak nitipakĕn sĕdhereke kang wuragil
samurwate wiryaa. (pupuh 5 bait 22 hal. 30) Pangran Balitar nambungi aris
pan kawula paman botĕn ĕsak upacara sĕkathahe
pinundhutan sĕdarum kula sampun ngraos yen alit dene tĕkan gadhuhan sabin kang pinundhut kang kula tĕdha punapa
bocah kula langkung sangking gangsal biting saksrik sangĕt awirang. (pupuh 5 bait 23 hal. 30)
Terjemahan:
Pangeran Purbaya menjawab pelan emosi paman saya lebih berat tetapi kalau ingat pesan almarhum Rakanta Prabu pada diri saya yang berhati-hati juga terhadap anak
Ki Lurah itu
ya pesan sendiri-sendiri
menitipkan saudara yang terakhir dibuat luhur.
Pangeran Blitar membalas pelan tetapi saya paman tidak bagus upacara sebanyaknya
diambil semua
saya sudah merasa kalau kecil karena sampai warisan
yang saya makan apa
anak saya lebih dari lima orang kantong sangat sedih.
Kutipan di atas menujukkan betapa bersedihnya Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar karena benda-benda miliknya telah diambil Prabu Amangkurat. Pangeran Purbaya emosi dan merasa susah, dia juga merasa gagal tidak bisa menjaga amanah dari ayahnya untuk menjaga adik bungsunya. Pangeran Blitar juga merasakan penderitaan dia merasa kecil karena sudah tidak memiliki apa-apa, segala hartanya telah diambil termasuk warisan dan sawahnya, padahal dia juga mempunyai anak banyak, dengan apa harus membiayai anaknya jika semua hartanya diambil.
Kutipan:
Duk sĕmana wong cilik ing Kartasura wus wĕdi mring Matawis
angladosi lunga
myang para mantrinira minggat prasamya abaris milyeng Mataram
lorodan sabĕn latri. (pupu 6 bait 61 hal. 39)
Terjemahan:
Pada waktu itu orang kecil di Kartasura sudah takut terhadap Matawis (Mataram) melayani pergi
ke para mantri
pergi pada mulai berbaris ke Mataram
turunan sertiap lumpur.
Kutipan di atas menunjukan bahwa orang kecil di Kartasura ikut merasakan pederitaan yang disebabkan oleh perang antarsaudara
dampak dari suksesi kepemimpinan. Rakyat kecil di Kartasura ketakutan dengan Mataram karena melakukan penyerangan terhadap Kartasura, rakyat kecil lebih memilih untuk pergi meninggalkan Kartasura untuk menghidari peperangan tersebut.
Kutipan:
Sampun mangkat saha bala Pangeran Hamangkubumi neng Kĕlathen barisira sigra wong Mataram prapti rame dennya ajurit
gĕnti dennya silih arug langkung sudiraning prang Pangeran Hamangkubumi
wong Mataram akathah longe kang pĕjah.(pupuh 7 bait 23 hal.
63) Terjemahan:
Sudah berangkat dengan prajurit Pangeran Hamangkubumi di Klaten Berbaris
kemudian orang Mataram datang ramai dengan peperangan
berganti orang berganti lawan lewat keberanian perang Pangeran Hamangkubumi
orang Mataram banyak orangya yang mati.
Kutipan di atas menunjukan penderitaan yang dialami oleh prajurit Mataram karenan terjadi peperangan di Klaten yang membuat prajurit Mataram banyak yang meninggal, sebenarnya kalau tidak terjadi peperangan antara Kartasura dengan Mataram mungkin prajurit Mataram tidak banyak yang meninggal.
Penederitaan juga dirasakan oleh Pangeran Blitar dan rakyatnya di Malang karena terserang Pageblug setelah kalah perang dengan pasukan Kompeni, dapat dilihat pad kutipan berikut:
Kutipan:
Sampun samya mĕsanggrahan neng lĕbak kuwune nĕnggih nuntĕn wontĕn wĕlak prapta wong cilik akeh kang grĕring sakite mutah mising
sadina satus kang lampus Tuwan Atmral wus budhal nĕgara Malang ginitik
datan suwe prĕrange Malang wus bĕdhah.(pupuh 7 bait 173 hal.
85)
Sultan Balitar gya tĕdhak wangsul dhatĕng Malang malih mĕsanggrahan Kali Gangsa Kangjĕng Sultan ing samangkin gĕrah sangĕt nglangkungi Sultan lajĕng sedanipun pra garwane karuna bubar mantrine kang abdi
kang sawĕneh nusul marang Panĕmbahan. Pupuh 7 bait 178 hal.
85)
Terjemahan:
Sudah pada tinggal
di lembah tempat tinggal yaitu kemudian ada kesensaraan datang orang kecil banyak yang kurus sakitnya muntah dan berak sehari seratus yang mati Tuwan Atmral sudah pergi negara Malang menysup
tidak lama perangnya Malang sudah kalah. Sultan Blitar segera turun
kembali ke Malang lagi
bertempat tinggal Sungai Gangsa Kangjeng Sultan kemudian
sakit sekali mendahului Sultan kemudian kematiannya para istrinya menangis
bubar prajurit yang mengabdi
yang diwaktu itu menyusul kepada Panembahan.
Kutipan di atas menunjukan penderitaan yang dialami oleh Pangeran Blitar dan prajuritnya karena setelah kalah pernag dengan Kartasuran, Pangeran Blitar pergi ke Malang dan tinggal disana bersama rakyat dan pengikutnya, mereka terserang wabah penyakit muntah berak atau pageblug. Banyak rakyat kecil yang kurus kering terserang penyakit muntah berak dan sehari seratus orang meninggal, tak luput Pangeran Blitar juga terserang penyakit yang akhirnya meninggal dunia, istrinya menangisi kepergian Pangeran Blitar, para abdi dan prajuritnya kemudian menyusul Pangeran Purbaya. Penderitaan terserang pageblug ini merupakan dampak dari suksesi kepemimpinan, misal tidak terjadi suksesi kepemimpinan dan pemberontakan maka hal ini mungkin tidak akan menimpa Pangeran Blitar dan rakyatnya.
2.3.5. Pembunuhan
Pembunuhan berarti perkosa, membunuh atau perbuatan bunuh. Peristiwa pembunuhan minimal ada dua orang yang terlibat, orang yang dengan sengaja menghilangkan atau mematikan nyawa disebut pembunuh, sedangkan orang yang dimatikan atau yang dihilangkan nyawanya disebut korban (Purwadarminta, 1976:169).
Pembunuhan dalam Suksesi kepemimpinan pada Serat Babad
Sunan Prabu ini tidak dapat dipungkiri, karena adanya peperangan
maka banyak yang saling membunuh, misalnya pembunuhan yang dilakukan oleh Tuan Atmral Baritman terhadap Pangeran Pancawati, terlihat dalam kutipan berikut:
Kutipan:
Atmral Britman umiyat kĕlangkung suka anulya tinut wuri
myang sagung dipatya umiringi marang Atmral prapteng ngarsaning surambi Atmral umiyat
mring Pangeran Pancawati. (pupuh VI bait 98 hal. 43) Gulangsaran pinĕrpĕkan dening Atmral
asru denira nangling
heh tabe Pangeran lu mau jadhi raja Amangkurat Tanah Jawi
mĕngapa lukak
putus tangannya kering.(pupuh VI bait 99 hal. 43) Mari bangun aku angkat jadhi raja
Pangeran Pancawati nangis mĕgap-mĕgap angranuhi brananya Atmral suka denirangling anarik pĕdhang
guwa akasih baik. (pupuh VI bait 100 hal. 43-44)
Terjemahan:
Atmral Britman pergi dengan gembira selanjutnya di buntuti
kepada seluruh adipati mengiringi kepada Atmral sampai ke depan serambi Atmral pergi
ke Pangeran Pancawati.
dengan keras dirinya berbicara
heh Kangjeng Pangeran kamu mau jadi raja Amangkurat tanah Jawa
mengapa luka
putus tangan kirinya.
Mari bangun aku angkat jadi raja Pangeran Pancawati
menangis tersedu-sedu merasa sedih kesakitan Atmral senang membuat sakit menarik pedang
aku masih baik.
Dari kutipan di atas dapat dilihat pembunuhan yang dilakukan Atmral Baritman kepada Pangeran Pancawati, pembunuhan Pangeran Pancawati sangat dramatis karena tuan Atmral membunuh Pangeran Pancawati penuh dengan ambisi untuk membunuh, Atmral sangat pintar memainkan kata-kata dia seolah-olah menawarkan Pangeran Pancawati untuk menjadi raja tapi yang dilakukan hanyalah untuk mengolok-olok ketidak berdayaan Pangeran Pancawati, dengan kondisi yang tidak berdaya Pangeran Pancawati hanya bisa menangis dan menerima takdir hidupnya yang berada ditangan Atmral Baritman. Setelah Atmral puas mengolok-olok Pangeran Pancawati dia langsung membunuh Pangeran Pancawati dengan pedangnya.
2.3.6. Kesedihan
Kesedihan adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi (Daniel Goleman, 1995).
Kesedihan dalam Serat Babad Sunan Prabu yaitu sangat dirasakan oleh Ratu Ageng yaitu ibunda Prabu Amangkurat, Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar. Sosok ibu pasti akan sedih jika melihat anaknya tidak akur, seperti halnya Kanjeng Ratu Ageng yang sangat sedih melihat perang saudara yang melibatkan Prabu Amangkurat dengan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar, kesedihan yang dirasakan Kangjeng Ratu Ageng dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Kutipan:
Malbeng pura malih sing kidul kewala nulya mundur tumuli
sawadya lon-lonan sĕmantĕn pan meh ĕbyar Kangjĕng Ratu Agĕng nĕnggih dupi miyarsa
amuwun kuntrang-kantring. (pupuh 6 bait 17 hal. 34) Masambat kang raka Jĕng Sinuhun Swarga
dhuh lah e Sri Bupati tan sagĕd kawula tĕngga putra paduka Sunan gawanĕn ngĕmasi putra paduka
sami bĕrwala jurit.(pupuh 6 bait 18 hal. 34) Samangkana Kangjĕng Ratu lajĕng minggah dhumatĕng Gunung Kunthi
Pangeran Balitar prapta ing Purubaya ngidul sawadyanira glis kang ibu mirsa
ngawe nguwuh anjĕlih. (pupuh 6 bait 19 hal. 34) Asta tĕngĕn angawe-awe kang putra
astane ingkang kering angusapi waspa
dhuh kulup dipuninggal ngungsia kangmasmu nuli
Ki Purubaya
dhuh kulup poma aglis. (pupuh 6 bait 20 hal. 34)
Terjemahan:
Masuk ke dalam Pura yang letaknya di sebelah selatan sering mundur kemudian
berjalan bergandengan
hanya beberapa yang akan bubar Kangjeng Ratu Ageng melihat semua itu
kemudian menangis tersedu-sedu.
Sang kakak Mengeluh kepada Kangjeng Sinuhun Swarga dhuh lah e Sri Bupati
aku tidak bisa menunggu putra raja Sunan bawalah mati putra paduka
prajurit saling berperang.
Begitulah Kangjeng Ratu kemudian naik menuju Gunung Kunthi
Pangeran Balitar sampai di Purubaya
menuju ke selatan dengan tergesa-gesa bersama teman-temannya Sang Ibu mengetahui
melambaikan tangan berseru memanggil. Tangan kanan melambai-lambai sang anak tanganya yang kiri
mengusapi air mata duh ikut ditinggal menyikir kakakmu cepat Ki Purbaya
duh ikut cepat.
Dari kutipan di atas sangat jelas Kangjeng Ratu Ageng sangat sedih dan khawatir melihat ketiga putranya terlibat perang saudara. Beliau bersedih karena tidak bisa menjaga putranya dengan baik, merasa gagal dalam mendidik anak dan merasa bersalah kepada Paku Buwana I karena setelah meninggalnya Paku Buwana kerajaan
menjadi ricuh penuh peperangan. Kangjeng ratu begitu sedihnya dan mengeluh, beliau juga mendoakan Pakubawana I supaya mendapatkan tempat yang nyaman di surga. Kutipan di atas juga menunjukkan betapa Kangjeng Ratu Ageng mengkhawatirkan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar supaya mereka melarikan diri untuk berlindung.
Kesedihan juga dirasakan oleh Pangeran Harya Mataram selaku paman dari Prabu Amangkurat, Pangeran Purbaya dan