• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persentase penanganan sampah

Dalam dokumen RPJM 10 Agustus 2016 (Halaman 157-162)

B

éê ëë

Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai

Dalam rentang waktu tahun 2010 hingga tahun 2015 hasil yang dihasilkan dalam indikator rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk di Kota Dumai memiliki kecenderungan meningkat, yakni 9 TPS persatuan pendudukdi tahun 2010 meningkat menjadi 15 (TPS) di tahun 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja dari SKPD khususnya Dinas Tata Kota, Kebersihan, dan Pertamanan Kota Dumai juga meningkat.

Gambar 2.3.1.32

Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan Penduduk di Kota Dumai Tahun 2010 2015

Sistem pengangkutan sampah yang dilakukan oleh Dinas Tata Kota, Kebersihan, dan Pertamanan Kota Dumai sebagaimana yang tertulis dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) urusan pengelolaan sampah, pengangkutan sampah dibagi menjadi tiga bagian sesuai dengan sumber penghasil sampahnya. Pertama, sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga/ ruko. Sampah yang dihasilkan sebagian dikumpulkan oleh petugas sampah yang ditunjuk langsung oleh ketua RT, dan sebagian lainnya langsung diangkut oleh petugas dari Dinas Tata Kota.

Kedua, sampah yang terdapat di pasar. Pengumpulan sampah pasar dilakukan oleh pengelola pasar yang kemudian dikumpulkan di tempat pembuangan sementara (TPS) yang telah disediakan, lalu kemudian diangkut ileh petugas dari Dinas Tata Kota untuk dibawa menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Ketiga, sampah yang dihasilkan oleh perusahaan. Sampah perusahaan atau pabrik sebagian dikelola langsung oleh perusahaan

9 10 10 11 12 15 0 2 4 6 8 10 12 14 16 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan

Penduduk

B

ìí îî

Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai

dimaksud untuk diangkut langsung ke TPA, sedangkan sebagian perusahaan lainnya langsung dilayani oleh petugas kebersihan dari Dinas Tata Kota.

I. Pertanahan

Pada dasarnya tanah mempunyai makna dan nilai strategis yang tinggi, baik dari sisi historis, politik, sosial budaya, terlebih ekonomi karena didalamnya tidak saja terdapat aspek fisik, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, budaya, politik serta hukum, sedangkan banyak pihak memiliki kepentingan terhadap tanah, sehingga tanah merupakan sumber daya yang rawan konflik.

Di Daerah Kota Dumai terdapat beberapa status tanah antara lain : a. Tanah Kawasan Hak Pakai PT. Cevron Fasific Indonesia

b. Tanah Kawasan Hak Pakai PT. Pertamina

c. Tanah Pemerintah Daerah adalah tanah yang merupakan asset Pemerintah Daerah

d. Tanah Warga Masyarakat adalah tanah milik perseorangan

e. Tanah tanah perusahaan yang berstatus hak guna usaha yang bergerak di bidang HPH/HPHTI yaitu :

1. PT. SUNTARA GAJA PATI di Sungai Sembilan 2. PT RUAS UTAMA JAYA di Sungai Sembilan 3. PT. DIAMOND RAYA TIMBER di Sungai Sembilan 4. PT. ARARA ABADI DI Bukit Kapur

Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi terutama dalam pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, tanah-tanah yang ada di Daerah Kota Dumai dimungkinkan untuk dimanfaatkan, baik untuk dipakai sendiri atau disewakan, dilepaskan kepada Pemerintah, maupun Pihak Swasta yang berbadan hukum.

Untuk menjaga suasana tetap kondusif maka konflik tersebut perlu di fasilitasi Pemerintah Kota Dumai agar tidak menjurus ke hal-hal yang bersifat kekerasan. Adapun konflik tanah masyarakat dengan tanah perusahaan yang selama ini di fasilitasi oleh Pemerintah Kota Dumai yaitu. yaitu :

1. PT. SUNTARA GAJA PATI Di Kecamatan Sungai Sembilan 2. PT RUAS UTAMA JAYA Di Kecamatan Sungai Sembilan

3. PT. DIAMOND JAYA TIMBERS Di Kecamatan Sungai Sembilan

4. PT. PERTAMINA PERSERO Di Kecamatan Dumai Timur dan Kecamatan Dumai Selatan

B

ïð ññ

Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai

5. PT. CHEVRON PACIFIK INDONESIA Di Kecamatan Dumai Timur dan

Kecamatan Dumai Selatan

6. PT. ARARA ABADI di Kecamatan Bukit Kapur

Sedangkan konflik/permasalahan tanah lain yang ditangani oleh Pemerintah Kota Dumai adalah konflik/permasalahan tanah antara masyarakat dengan Tanah Aset Pemko Dumai

J. Kependudukan dan Catatan Sipil

Permasalahan yang dihadapi dalam urusan kependudukan dan Pencatatan Sipil adalah masih adanya sebagian masyarakat yang belum menyadari arti pentingnya kepemilikan identitas kependudukan maupun akta Pencatatan Sipil serta masih adanya sebagian masyarakat yang belum melaksanakan kewajibannya untuk segera melaporkan setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialaminya. Administrasi kependudukan merupakan rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan yang hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain.

1. Kepemilikan KTP

Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kepemilikan KTP adalah perbandingan jumlah penduduk yang memiliki KTP terhadap jumlah penduduk wajib KTP (berusia 17 tahun ke atas dan atau pernah/sudah menikah)

Dari data yang tercatat oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, dari tahun 2009 hingga tahun 2012persentase penduduk yang telah memiliki KTP semakin meningkat. Pada tahun 2010 rasio penduduk yang ber KTP sebesar 78%, dan pada tahun 2014menurun menjadi 47,95%.

Tabel 2.3.1.43 Kepemilikan KTP Tahun 2010-2014 Indikator Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015* Kepemilikan KTP 78% 56,41% 61,52% 59,66% 47,95% 94,27%

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Dumai, 2015

B

òó ôô

Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai

Gambar 2.3.1.33

Grafik Kepemilikan KTP Tahun 2010-2014

2. Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi

Data mengenai ketersediaan database kependudukan skala provinsi berdasarkan informasi dari instansi terkait yaitu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Dumai sudah ada mulai tahun 2007. Database kependudukan di Kota Dumai dilakukan secara rutin melalui program SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan). Melalui program tersebut,

database kependudukan di Kota Dumai dapat dilihat secara berkala dan

dapat diakses oleh siapa pun yang berkepentingan dengan data tersebut. Selain itu dengan adanya program yang dijalankan secara online tapi terpadu, maka koordinasi dengan Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil di tingkat provinsi dapat mudah dilaksanakan.

Tabel 2.3.1.45

Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Tahun 2010-2015

Indikator Tahun

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Ketersediaan database kependudukan skala provinsi

Ada Ada Ada Ada Ada Ada

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Dumai, 2016

78% 56.41% 61.52% 59.66% 47.95% 94.27% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Kepemilikan KTP

B

õö ÷÷

Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai

3. Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK

Penerapan KTP Nasional berbasis NIK telah dilakukan oleh Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kota Dumai sejak tahun 2005.

Tabel 2.3.1.46

Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Tahun 2010-2014

Indikator 2010 2011 Tahun2012 2013 2014

Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Ada Ada Ada Ada Ada

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Dumai, 2015

K. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

1. Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah

Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. Berdasarkan data dari Kantor Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Dumai, pada tahun 2010jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah sebesar 2.986dan pada tahun 2015 naik menjadi 3.046

Tabel2.3.1.47

Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2010-2015

Indikator 2010 2011 2012Tahun2013 2014 2015

Partisipasi Perempuan di

Lembaga Pemerintah 2.986 2.986 2.986 2.986 2.986 3.046

Sumber :Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Dumai, 2016

Gambar 2.3.1.33

Grafik Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kota Dumai Tahun 2010-2015 2,986 2,986 2,986 2,986 2,986 3,046 2,950 2,960 2,970 2,980 2,990 3,000 3,010 3,020 3,030 3,040 3,050 3,060 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga

Dalam dokumen RPJM 10 Agustus 2016 (Halaman 157-162)