B
Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
Tabel 2.3.1.18
Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 penduduk di Kota Dumai Tahun 2015
No Uraian TenagaKesehatan Target TahunRasio Per 100.000 Penduduk Keterangan 2015 Jumlah Tahun 2015Pencapaian Jumlah
1. Dokter Spesialis 12 36 8 24 Masih kurang
2. Dokter Umum 48 143 23 73 Masih kurang
3. Dokter Gigi 11 33 5 17 Masih kurang
4. Perawat 158 471 129 408 Masih kurang
5. Perawat Gigi 16 48 6 20 Masih kurang
6. Bidan 75 224 92 292 Telahmencukupi
7. Apoteker 12 36 5 17 Masih kurang
8. Asisten Apoteker 24 72 13 40 Masih kurang
9. Gizi 24 72 8 24 Masih kurang
10. Sanitasi 15 45 3 11 Masih kurang
11. Kesehatan.Masyarakat 12 36 9 31 Masih kurang
12. Teknisi Medis 9 27 19 61 Telahmencukupi
13. Keterapian Fisik 6 18 2 7 Masih kurang
Sumber: Dinas kesehatan, 2016
Permasalahan penduduk pendatang atau illegal merupakan permasalahan terbesar dalam pelaksanaan program kesehatan di Kota Dumai. Apabila permasalahan penduduk pendatang atau illegal ini tidak ditangani secara serius oleh Pemerintah Kota Dumai, maka dapat berdampak pada kegagalan pencapaian pelaksanaan program kesehatan yang diukur melalui indikator Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, Angka Kematian Ibu Melahirkan, serta persentase balita dengan gizi buruk dan gizi kurang. Pada umumnya permasalahan kesehatan yang ada banyak merupakan kontribusi dari penduduk pendatang (illegal) tersebut. Para penduduk pendatang (illegal) pada umumnya jarang mengakses pelayanan kesehatan dasar karena status mereka yang illegal yang otomatis tidak mempunyai kartu identitas seperti KTP.
4. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapat penanganan definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah Bersalin, RSIA/RSB, RSU, RSU PONEK).
B
Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani adalah Ibu hamil dengan komplikasi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas perawatan dan rumah sakit pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi dasar dan pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif).Tabel 2.3.1.19
Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani di Kota Dumai Tahun 2010-2015 Indikator Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 3,5 14,37 85,95 90,2 90,57 86,23
Sumber : Dinas Kesehatan, 2016
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa kasus komplikasi kebidanan yang terjadi di Kota Dumai pada tahun 2010 hingga 2015 telah melewatitarget Standar Pelayanan Minimal. Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Peraturan Menteri Kesehatan No 741/Menkes/Per/VII/2008, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kota Dumai sudah melebih dari target nasional (80%).
5. Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan yang
Memiliki Kompetensi Kebidanan
Kesehatan balita tidak hanya dipengaruhi oleh kesehatan ibu namun dipengaruhi pula oleh faktor yang lain, diantaranya adalah proses kelahiran/persalinan. Data penolong kelahiran merupakan salah satu indikator kesehatan terutama yang berhubungan dengan tingkat kesehatan ibu dan anak maupun pelayanan kesehatan secara umum. Persalinan yang ditolong oleh tenaga medis seperti dokter atau bidan dianggap lebih baik daripada yang ditolong dukun atau lainnya karena dapat menggambarkan tingkat kemajuan pelayanan kesehatan, terutama pada saat kelahiran.
Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan terlatih atau cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan adalah perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, seperti dokter, bidan, perawat, dan tenaga medis lainnya dengan jumlah persalinan seluruhnya, dinyatakan dalam persentase. Mengukur kematian ibu secara akurat adalah sulit, kecuali tersedia data registrasi yang sempurna
B
Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
tentang kematian dan penyebab kematian. Oleh karena itu sebagai proksi indikator digunakan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan terlatih. Dari data cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, selama tahun 2010 sampai 2015cenderung menurun. Berikut ini perkembangan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Kota Dumai.Tabel 2.3.1.20
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan
di Kota Dumai Tahun 2010-2015
Indikator Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
94,6 92,12 94,02 94,20 94,42 91,00
Sumber : Dinas Kesehatan, 2016
Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Kota Dumai cenderung turun dari tahun 2010 sampai 2015. Pada tahun 2010 angka cakupan tersebut sebesar 94,6%, dan pada tahun 2015turun menjadi 91,00%
Gambar 2.3.1.15
Grafik Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan di Kota Dumai Tahun 2010-2015
94.6 92.12 94.02 94.2 94.42 91 90.5 91 91.5 92 92.5 93 93.5 94 94.5 95 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
B
Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
Jika dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam Permenkes No 741/Menkes/VII/2008, yang menargetkan cakupan sebesar 90%, maka cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Kota Dumai pada tahun 2010 sampai 2015 telah melebihi target nasional. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyaknya penduduk yang memilih tenaga kesehatan sebagai penolong kelahiran utama karena semakin meningkatnya kemampuan penduduk untuk mengakses fasilitas kesehatan.6. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Universal Child Immunization (UCI) adalah tercapainya imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan), ibu hamil, wanita usia subur dan anak sekolah tingkat dasar. Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 4 dosis hepatitis B, 1 dosis campak. Pada ibu hamil dan wanita usia subur meliputi 2 dosis TT.Untuk anak sekolah tingkat dasar meliputi 1 dosis DT, 1 dosis campak dan 2 dosis TT.
Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) di Kota Dumai pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015berfluktuasi dengan cakupan diatas 80%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Dumai telah mendapatkan pelayanan imunisasi baik melalui Posyandu, Puskemas maupun Rumah Sakit. Berikut ini tabel cakupan desa/kelurahan UCI di Kota Dumai. Pada tahun 2012 sampai dengan 2014, cakupan kelurahan UCI telah mencapai 100%, namun pada tahun 2015 mengalami penurunan. Berikut ini perkembangan cakupan kelurahan UCI di Kota Dumai.
Tabel 2.3.1.21
Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) di Kota Dumai Tahun 2010-2015
Indikator Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan Desa/kelurahan Universal Child
Immunization (UCI) 87,5 78,79 100 100 100 96,67
Sumber : Dinas Kesehatan, 2016
Kementerian Kesehatan menargetkan pada tahun 2014 seluruh desa/ kelurahan mencapai 100% UCI (Universal Child Immunization) atau 90% dari seluruh bayi di desa/kelurahan tersebut memperoleh imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG, Hepatitis B, DPT-HB, Polio dan campak. Imunisasi memberikan konstribusi besar dalam meningkatkan Human
B
Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
menghindari kematian yang tidak diinginkan. Keberhasilan upaya imunisasi akan dapat meningkatkan kualitas anak bangsa sebagai penerus perjuangan dimasa mendatang.Kementerian Kesehatan menetapkan imunisasi sebagai upaya nyata pemerintah untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs), khususnya untuk menurunkan angka kematian anak. Indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur dengan pencapaian UCI desa/kelurahan, yaitu minimal 80% bayi didesa/kelurahan telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.Imunisasi dasar sangat penting diberikan sewaktu bayi (usia 0 11 bulan) untuk memberikan kekebalan dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Tanpa imunisasi anak-anak mudah terserang berbagai penyakit, kecacatan dan kematian.GAIN UCI akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2010-2015, dengan sasaran seluruh bayi usia 0-11 bulan mendapatkan imunisasi dasar lengkap yaitu BCG, Hepatitis B, DPT-HB, Polio dan campak.
Imunisasi BCG (Bacillus Celmette-Guerin) sebanyak 1 (satu) kali dilakukan untuk mencegah penyakit tuberkulosis. Imunisasi BCG diberikan segera setelah bayi lahir di tempat pelayanan kesehatan atau mulai 1 (satu) bulan di Posyandu.Imunisasi hepatitis-B sebanyak 1 (satu) kali untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan dan dapat menyebabkan pengerutan hati (sirosis) dan kanker hati. Imunisasi Hepatitis B ini diberikan segera setelah lahir di sarana pelayanan kesehatan.Imunisasi DPT-HB sebanyak 3 (tiga) kali untuk memberi kekebalan pada penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus dan Hepatitis B. Imunisasi ini pertama kali diberikan pada usia bayi 2 (dua) bulan. Kemudian imunisasi berikutnya selisihnya 4 minggu. Pada saat ini pemberian imunisasi DPT dan Hepatitis B dalam program imunisasi dilakukan bersamaan dengan menggunakan vaksin DPT-HB.Imunisasi polio untuk memberikan kekebalan dari penyakit polio dan diberikan sebanyak 4 (empat) kali dengan jelang waktu (jarak) 4 minggu.Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak, diberikan pada bayi umur 9 bulan.
7. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA
Jumlah penderita penyakit TBC yang meningkat justru merupakan nilai positif karena menunjukkan bahwa sistem surveilans di tingkat masyarakat telah optimal dengan adanya peningkatan kesadaran masyarakat
B
¡¢ ££Gambaran Umim Kondisi Kota Dumai
tentang penyakit TBC untuk memeriksakan secara dini apabila terjadi gejala- gejala yang mengarah pada penyakit TBC.Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA dikota Dumai berfluktuasi selama krun waktu 2010-2015. Jika dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dalam Permenkes No 741/Menkes/VII/2008, yang menargetkan cakupan sebesar 100% pada tahun 2010, maka cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA di Kota Dumai belum mencapai target nasional. Berikut ini cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakita TBC BTA yang disajikan dalam tabel dan grafik.
Tabel 2.3.1.22
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA di Kota Dumai Tahun 2010-2015
Indikator 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan penemuan dan penanganan penderita