BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Persepsi Keluarga yang tidak Memiliki Anak tentang
Keluarga sakinah, mawaddah, warahmah merupakan dambaan dan cita-cita bagi semua pasangan rumah tangga. Keluarga sakinah merupakan keluarga yang memiliki ketenangan dan kenyamanan dalam kehidupannya dengan ikatan cinta dan kasih sayang. Penelitian ini membahas mengenai keluarga yang tidak memiliki anak dalam mewujudkan keluarga yang
69 Wawancara dengan Ibu SM (Keluarga Infertil), 12 April 2021
70 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
sakinah. Bagaimana upaya yang dilakukan oleh keluarga tersebut untuk mewujudkan keluarga yang sakinah tanpa adanya seorang anak.
Anak merupakan dambaan bagi semua pasangan keluarga. Meskipun subjek penelitian belum memiliki anak, namun mereka sendiri mengatakan bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah agar memiliki generasi penerus, menjalankan ibadah sesuai ajaran Agama Islam, menjalin kekeluargaan, dan menambah persaudaraan karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan diciptakan berpasang-pasangan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ibu KTM yakni:
“Menurut saya tujuan berumah tangga ya ibadah. Terus supaya mempunyai keturunan biar ada generasi penerus. Nanti kalau udah tua ya ada yang ngurusin kami. Kalau kami sudah gak ada yaa ada anak yang mendoakan”.71
Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan yang diutarakan oleh Ibu SM sebagai berikut:
“Tujuan berumah tangga nek menurutku yoo menjalin kekeluargaan, kerukunan. Seng paling penting yo nggolek pahala karena wong seng wes omah-omah ki saking penak e nek nggolek pahala mba”.72
Berdasarkan apa yang telah sampaikan oleh subjek penelitian dapat dipahami bahwa salah satu alasan seseorang untuk berumah tangga adalah agar memiliki keturunan. Keturunan diharapkan agar suatu saat kelak ketika orangtua sudah berusia lanjut, ada yang mengurusi bahkan jika mereka sudah tiada, maka ada yang bisa mendo’akan karena salah satu penyebab yang dapat menolong seseorang diakhirat kelak adalah do’a anak yang shaleh.
71 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
72 Wawancara dengan Ibu SM (Keluarga Infertil), 12 April 2021
Pihak istri dari keluarga infertil yang kedua memiliki jawaban bahwa tujuan pernikahan adalah untuk beribadah. Jika semua orang yang menikah dengan tujuan beribadah maka tidak ada alasan yang tepat apabila ada keluarga sampai hancur hanya karena masalah ekonomi terlebih masalah anak. Namun tidak bisa dipungkiri, meskipun jawaban yang diberikan cukup baik pasti naluri sebagai seorang wanita tetap ada yakni adanya rasa khawatir jika sang suami akan meninggalkannya karena ia tidak bisa memberikan keturunan. Jadi seharusnya pemahaman antara suami dan istri mengenai tujuan berumah tangga harus ada kesamaan terutama dalam hal mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Hal ini juga tidak dapat dipungkiri bahwa secara tidak langsung dan tidak sadar adanya seorang anak merupakan faktor terbentuknya keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Pemahaman tentang keluarga sakinah diungkapkan oleh subyek penelitian yakni keluarga yang kehidupannya tenang, bahagia, jarang bertengkar, saling menyayangi, dan kebutuhan hidup selalu tercukupi. Hal ini diungkapkan oleh subjek penelitian yakni sebagai berikut:
“Menurut saya, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah itu kalau ada keluarga yang kehidupannya tenang, tentrem, bahagia. Jarang cekcok.
Kalau pun cekcok tetangga gak ada yang tahu”.73
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibu SHT yaitu:
“Menurut saya, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah itu keluarga yang hidupnya penuh dengan ketenangan, saling menyayangi, secara ekonomi tercukupi”.74
73 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
74 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
Jika menelaah pendapat dari kedua informan tersebut, dapat dipahami bahwa menurut mereka keluarga bisa dikatakan sakinah, mawaddah, warahmah apabila keadaan keluarga tertentu memiliki kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kesuksesan bahkan hampir tidak pernah terjadi pertengkaran.
Apabila sebuah rumah tangga dalam menjalani kehidupannya sudah tidak ada rasa khawatir lagi atau takut seperti contoh takut masalah ekonomi tidak tercukupi maka itu sebuah tanda bahwa keluarga tersebut belum mencapai sakinah. Lalu yang dimaksud dengan mawaddah adalah cinta dan harapan. Jadi sebuah keluarga yang ingin mencapai kategori mawaddah harus bersama-sama membangun dengan dasar cinta untuk mewujudkan harapan.
Warahmah berarti kasih sayang. Maksud dari kasih sayang di sini ialah saling memahami satu sama lain sehingga bisa menerima baik kekurangan maupun kelebihan pasangan.
Menurut sang istri dari keluarga infertil yang kedua, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah adalah keluarga yang memiliki ketenangan hidup, saling menyayangi, dan ekonomi tercukupi. Sedangkan cara menerapkan dalam kehidupan agar tercipta keluarga yang demikian yakni dengan cara berkata jujur dalam berucap, saling terbuka tidak ada yang ditutupi, berbicara dengan lemah lembut, giat bekerja dan rajin beribadah. Jika ini dilakukan maka keluarga sakinah dapat terwujud. Hal yang demikian bisa terwujud tergantung dari kepribadian masing-masing, terutama dalam lingkup keluarga
adalah bagaimana cara pembinaan yang dilakukan oleh sang suami dan pembagian tugas serta pemenuhan hak dan tanggung jawab masing-masing.
Jika sebuah keluarga bisa menerapkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-harinya, maka bisa dikatakan bahwa keluarga tersebut bisa membangun keluarga menjadi sakinah, mawaddah, warahmah. Dalam hal ini, peneliti mencoba menggali lebih dalam bagaimana responden/subyek penelitian berupaya mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pemahaman yang mereka miliki. Subjek penelitian menerapkan pemahamannya tentang keluarga sakinah dalam kehidupan sehari-hari dengan cara selalu berkata jujur dan saling terbuka, berkomunikasi dengan cara yang baik, selalu menyisipkan canda tawa dalam setiap perbincangan, dan tidak mengganggu hidupan orang lain agar kehidupannya pun tidak diganggu oleh orang. Selain itu juga rajin beribadah, serta berkomunikasi dengan lemah lembut.
“Kalau saya sering ngrobrol sama suami, bercanda, bersyukur apa adanya, gak pernah nuntut lebih. Dikasih duit belanja berapapun yo tak terimo. Ada kejadian opo wae yo di ceritakne dengan terbuka gak ada yang ditutupi”.75
Cara yang sedikit berbeda dalam menerapkan pemahaman tentang keluarga sakinah dalam kehidupan sehari-hari disampaikan oleh Ibu SHT sebagai berikut:
“Jujur, saling terbuka, tidak ganggu orang lain juga tidak diganggu orang lain, komunikasinya dengan cara yang lembut dan giat bekerja juga ibadah”.76
75 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
76 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
Suatu upaya yang di lakukan oleh keluarga tersebut tergolong sederhana. Artinya tidak ada tips tententu dalam menerapkan pemahamannya mengenai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dalam kehidupan sehai- hari. Namun peneliti tetap meyakini bahwa terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah, warahmah disebabkan oleh banyak faktor. Tidak mungkin hanya sesederhana itu. Jika bicara mengenai teori, ada beberapa faktor terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yakni faktor kepribadian, ekonomi, pendidikan dan lingkungan keluarga. Hasil wawancara tersebut merupakan gambaran umum mengenai kepribadian responden. Gambaran secara khusus akan bisa terlihat ketika ia menceritakan kegiatan sehari-hari mengenai tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Ketiga subjek penelitian tidak pernah tidak ada pembagian peran hak dan kewajiban. Semua itu berjalan sesuai dengan kodratnya seorang laki-laki dan perempuan secara alamiah tanpa adanya kesepakatan tertentu antara suami dan istri. Kewajiban suami adalah menfkahi istri dan hak istri adalah mendapatkan nafkah seperti sandang, pakan dan papan (tempat tinggal).
Suami bekerja, sedangkan istri mengurusi pekerjaan rumah. Jika ada waktu senggang maka suami ikut membantu pekerjaan istri. Hal ini disampaikan oleh subjek penelitian:
“Gak pernah ada pembagian peran hak dan kewajiban mba. Karena berjalan begitu aja. Pokoknya suami ya kerja, saya masak, nyuci, bersih-bersih rumah. Kalau suami pulang kerja ya saya ambilin makan, kadang ya makan bareng. Kalau pas waktunya senggang, suami ikut bersih-bersih rumah tapi halaman depan. Kalau masalah hak saya ya berjalan gitu juga karena saya tahu kapan suami punya
duit. Jadi kalau masalah duit gak pernah nuntut yang penting untuk belanja ada”.77
Hal yang serupa juga disampaikan SHT dan Ibu SM sebagai berikut:
“Pembagian peran hak dan kewajibanya saya sesuaikan dengan kodratnya mba. Kewajiban saya ngurus rumah tangga, hak saya dapet nafkah lahir batin. Suami kewajibannya menafkahi keluarga. Ya dia bekerja. Tapi bukan berarti saya gak mau kerja. Kalau ada yang bisa saya bantu ya tetep saya bantu. Lagian saya juga memang gak dibolehin kerja sama suami”.78
Memahami hasil wawancara yang peneliti dapatkan tentang faktor kepribadian dapat dipahami bahwa pembagian peran hak dan kewajiban sedikit banyak dilakukan berdasarkan kodrat masing-masing. Maksudnya adalah bahwa seorang istri memiliki tugas mengurusi pekerjaan rumah sedangkan suami adalah mencari nafkah dan membantu pekerjaan istri ketika memiliki waktu luang. Hal ini memberikan pemahaman dan persepsi peneliti terhadap kepribadian responden bahwa ia memiliki kepribadian yang baik dan mengerti akan tanggung jawabnya. Sehingga, apabila hal tersebut dapat berjalan dan menjadi kebiasaan dalam rumah tangga, Insya Allah akan meminimalisir terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga.
Salah seorang suami dari keluarga infertil ini memiliki sifat tanggung jawab. Ia mengerti apa hak dan kewajiban antara suami dan istri sehingga ia tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja. Namun jika dipandang dari sisi lain, sifat suami yang tidak membolehkan istrinya untuk bekerja termasuk suami yang belum bisa memahami bahwa seorang istri yang cenderung berdiam diri di rumah akan merasa bosan apalagi belum memiliki anak. Tetapi jika
77 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
78 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
dipahami kembali sebenarnya sang istri diberikan kebebasan untuk membantu. Hal yang demikian merupakan sikap toleran dalam berumah tangga.
C. Resolusi/Langkah-langkah Keluarga yang tidak Memiliki Anak dalam