BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Resolusi/Langkah-langkah Keluarga yang tidak Memiliki
Pada pinsipnya pasangan suami istri merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, keharmonisan keluarga atau upaya dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bagi pasangan yang tidak memiliki anak dapat terbentuk jika pasangan tersebut lebih banyak memiliki waktu untuk bersama baik di rumah maupun saat berada di luar.
Komunikasi langsung yang sangat intens memiliki dampak yang cukup besar.
Bagaimana suami istri bisa memahami karakter satu sama lain. Meskipun dalam komunikasi yang intens juga akan beresiko sering terjadinya perselisihan.
Dalam kehidupan keluarga rasanya sangat penting untuk memahami penyebab mengapa sampai tidak memiliki anak karena hal tersebut juga menjadi faktor agar hubungan rumah tangga dapat terjaga dengan baik.
Pemahaman tentang sebab-sebab tidak memiliki anak merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh bagi pasangan suami istri baik dengan cara konsultasi medis, mengadopsi anak, maupun langkah upaya dari sisi spiritual.
Ketiga informan tidak ada yang mengetahui dengan pasti penyebab sampai saat ini mereka tidak memiliki anak. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dengan cara konsultasi ke pihak medis. Namun informan 2 sampai
saat ini belum pernah melakukan konsultasi ke pihak medis karena merasa takut.
Halah mboh mba, aku pijet yo uwes, prikso yo uwes. Kon ngombe obat guede-guede mba. Jarene doktere yo ora enek masalah. Kon sabar mungkin memang urong di kei wae. Jawaban doktere ngono”.79 (Tidak tau mba. Saya sudah pijat, sudah periksa. Suruh minum obat besar-besar mba. Kata dokternya ya tidak ada masalah. Suruh sabar mungkin memang belum dikasih saja. Begitu jawaban dokter).
Keluarga yang peneliti temui ini terkesan memiliki cara berpikir yang positif. Mereka sudah pernah konsultasi ke dokter, secara medis semua dalam keadaan sehat. Mereka menganggap bahwa itu sebuah cobaan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. Namun meskipun cara berpikirnya cukup baik, tetapi keluarga tersebut tidak memahami faktor penyebabnya secara logis. Seperti contoh yang disampaikan oleh Ibu KTM yaitu:
“Gak tau ya mba. Karena dulu waktu periksa ya semua sehat kok.
Mungkin memang udah takdirnya Allah ngasih cobaan kayak gini”.80 Terkait faktor-faktor penyebab infertilitas/seseorang yang belum bisa memiliki anak disampaikan oleh tetangga Ibu KTM yaitu:
“Menurut pemahaman ibu SWD, biasanya orang tidak memiliki keturunan dikarenakan mandul. Bisa jadi dari pihak laki-laki bisa juga dari perempuan. Tapi kalau menurut orang jawa banyak faktornya.
Biasanya karena posisi rahimnya tidak tepat, ada istilah cancer, ada juga pendapat orang jawa biasanya orangnya tidak memiliki jiwa penyayang terhadap anak-anak”.81
Pemahaman dari sudut pandang manapun bisa jadi benar bisa juga salah. Jika peneliti pahami, alasan yang disampaikan ibu SWD tersebut ada benarnya karena peneliti sering mendengar bahwa banyak wanita/ibu yang
79 Wawancara dengan Ibu SM (Keluarga Infertil), 12 April 2021
80 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
81 Wawancara dengan Ibu SWD (Tetangga dari Ibu KTM), 7 April 2021
belum bisa hamil. Namun setelah memalui jalan pemijatan, lalu bisa hamil atau dengan cara lain yakni belajar untuk lebih menyayangi anak-anak dengan cara mengadopsi anak. Meskipun hal ini terdengar seperti mitos tapi pada kenyataannya cara tersebut juga bisa dilakukan. Banyak keluarga yang tidak memiliki keturunan, setelah mengadopsi anak langsung bisa memiliki keturunan. Langkah seperti ini juga sudah dilakukan oleh informan ketiga yaitu ibu SM. Beliau mengatakan,
“Alhamdulillah aku wes mupu anak mba. Dadi aku ngurusi anak e mba ku kui ket aku rabi umur 3 tahun opo yoo. Saiki anak ku kui yo wes rabi juga wes 2 tahun iki mba. Alhamdulillah urong di kei juga.
Mungkin memang wes dadi dalane ngene iki mba”.82 (Alhamdulillah saya sudah mengadopsi anak. jadi saya mengurusi anaknya mba saya sejak saya menikah usia 3 tahun. Sekarang anak saya itu juga sudah menikah 2 tahun ini. Alhamdulillah belum dikasih juga. Mungkin memang sudah jadi jalannya begini mba).
Ibu SM sudah mengadopsi anak sejak usia pernikahannya baru tiga tahun. Beliau mengadopsi anak dari saudara kandungnya. Bahkan anaknya tersebut sudah menikah dua tahun yang lalu dan hingga sekarang pun belum juga memiliki anak. Ibu SM memiliki pandangan yang positif yakni semua ini merupakan takdir dan menjadi jalan ujian dalam hidupnya.
Ternyata ikhtiar yang dilakukan oleh keluarga subjek memang sudah sangat maksimal mulai dari periksa ke dokter, menjalankan saran-saran yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya, sampai ia mengadopsi anak milik saudara kandungnya. Meskipun demikian, keluarga subjek tetap memiliki rasa syukur yang besar. Hal ini nampak dari ekspresi yang muncul bahwa beliau tetap terlihat senang dan bahagia. Dalam kehidupan sehari-hari pun
82 Wawancara dengan Ibu SM (Keluarga Infertil), 12 April 2021
tetap berbaur dengan masyarakat yang ditunjukkan oleh keaktifannya dalam kegiatan sosial. Namun kedua informan lainnya tidak melakukan langkah untuk mengadopsi anak. Meskipun pada dasarnya, kedua informan memiliki keinginan yang kuat untuk mengadopsi anak. Tetapi suaminya tidak mengijinkan. Suami dari informan 1 mempertimbangkan masalah ekonomi karena keadaan ekonominya dahulu belum stabil. Beliau takut ketika mengadopsi anak justru orangtua kandungnya merasa sedih karena anaknya tidak bisa tercukupi kebutuhannya. Alasan tersebut yang mengurungkan niatnya untuk mengadopsi anak. Hal ini berdasarkan hasil wawancara yaitu:
“Dulu pengen mba saya sama suami nyoba ngadopsi anak. Tapi setelah dipikir dan ditimbang kok jadi takut. Dulu kami mikirnya, keadaan ekonomi belum baik jadi takut nanti anak yang kami adopsi orangtuanya malah merino. Merino ki kayak sedih gitu mba”.83
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan, diketahui bahwa keluarga tersebut sebenarnya ingin mengadopsi namun yang menjadi pertimbangannya adalah keadaan ekonomi yang belum mapan. Jika melihat dari sudut pandang akidah maka keluarga ini belum memiliki keimanan yang kuat. Padahal setiap manusia sudah dijamin rizkinya oleh Allah SWT. Jadi meskipun keadaan ekonomi belum mapan seharusnya tidak perlu khawatir. Akan tetapi ada kalimat yang disampaikan yang menurut peneliti sangat baik dari sudut pandang sosial. Ia tidak ingin melihat orangtua kandung dari anak yang akan diadopsi merasa sedih karena kebutuhan anaknya belum bisa tercukupi dengan maksimal. Sedangkan Ibu SM memiliki keinginan yang kuat untuk
83 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
mengadopsi tetapi suaminya tidak mengijinkan dengan tidak memberikan alasan yang jelas.
Puluhan tahun menjalani kehidupan berumah tangga tanpa adanya seorang anak tidak menjadi masalah besar bagi pasangan suami istri yang menjadi subjek penelitian. Hal ini tidak berdampak buruk kepada mereka baik keharmonisan umah tangganya maupun secara psikologi. Subjek penelitian masih senang dengan kegiatan sosial yang ada dimasyarakat. Meskipun secara kuantitas, mereka telah mengurangi kegiatan dalam masyarakat. Hal tersebut terjadi karena mereka merasa sedikit memiliki beban. Adanya pertanyan yang sering kali dilontarkan membuat subjek penelitian merasa tidak nyaman. Padahal pertanyaan tersebut sebenarnya adalah bentuk kepedulian sauadara maupun tetangganya.
Ada satu informan yakni subjek 1 yang pada awalnya beliau sangat aktif dalam mengikuti kegiatan sosial masyarakat. Namun karena dalam perbincangan sering membicarakan masalah anak. Sehingga membuatnya tidak nyaman dan merasa minder. Sedangkan subjek 2 adalah orang yang sangat aktif dalam kegiatan masyarakat dan tetap percaya dir. Beliau sering ikut PKK, senam, olahraga voli, dan pengajian ibu-ibu.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh subjek penelitian yaitu:
“Dulu sering banget ikut kegiatan masyarakat. Kalau sekarang jarang ikut mba. Saya ngrasa gak nyaman. Walaupun sekarang orang-orang, tetangga itu udah biasa aja. Tapi saya sendiri malah gak nyaman.
Bingung sendiri mba, kadang yang sering diobrolin masalah anak.
Saya jadi sedikit minder”.84
84 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
“Alhamdulillah mba sering dari dulu saya memang seneng kalau ada kegiatan di masyarakat. Saya ikut PKK, pengajian ibu-ibu, senam, dulu sering ikut voli. Alhamdulillah saya tetep percaya diri gak minder”.85
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti dapatkan, dapat dipahami baahwa meskipun keluarga subjek tidak memiliki anak dalam kurun waktu yang lama namun tidak berdampak apapun terhadap psikisnya seperti lebih senang mengurung diri di rumah, mengurangi kegiatan sosialnya, atau mencari kesibukan di luar rumah yang bertujuan agar tidak bertemu secara intens dengan lingkungan tetangga. Namun satu subjek yang merasa minder dan tidak percaya diri sehingga ia mengurangi aktivitas sosialnya. Ternyata dalam hal ini juga orangtua dari keluarga subjek memiliki peran yang cukup dominan yakni mendidik anak-anaknya agar patuh terhadap suami dan memberikan manfaat kepada oranglain dengan ikut berperan aktif di lingkungan masyarakat di mana ia tinggal.
Langkah-langkah lain yang bisa ditempuh yakni langkah spiritual.
Langkah spiritual adalah langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan visi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah baik dengan cara rajin mengikuti kajian atau ceramah di televisi maupun mencari solusi dengan jalan pemijatan perut/rahim pada ahli pijat. Mengikuti kajian keagamaan atau melihat ceramah di televisi merupakan langkah untuk menguatkan dan meningkatkan keimanan maupun ketaqwaan diri agar keluarga infertil dapat menerima sepenuh hati cobaan yang sedang dialami. Sedangkan langkah yang ditempuh
85 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
dengan cara pemijatan merupakan ikhtiar sebagai seorang hamba demi memiliki seorang anak seperti idealnya keluarga pada umumnya.
Saat ini, daerah lokasi penelitian jarang ada kajian keagamaan dikarenakan pandemi. Namun pengajian setiap hari jum’at (pengajian ibu- ibu) masih berjalan. Subjek penelitian masih sering mengikuti pengajian rutin tersebut. Selain itu, mereka juga sering menyaksikan kajian/ceramah di acara televisi setiap pagi hari setelah shalat subuh.
“Kajian keagamaan saya jarang mba. Kebetulan disini kan jarang ada pengajian. Paling adanya pengajian ibu-ibu tiap jum’at siang. Kalau nonton video ceramah malah gak pernah. Kalau nonton tv sering mba.
Mama dede sama ustad siapa yaa itu yang jamaaaaah gitu”.86
“Disini jarang ada kajian keagamaan mba. Nonton video juga gak pernah. Kalau nonton tv sering mba. Yang di trans itu ustadz Maulana kajiannya sering banget tentang keluarga mba”.87
Salah satu upaya dari sisi spiritual dalam mewujudkan keluarga sakinah yaitu dengan cara membina kehidupan beragama dalam keluarga, karena setiap anggota keluarga terutama orang tua dituntut untuk senantiasa bersikap dan berbuat sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian diharapkan setiap anggota keluarga memiliki sifat dan budi pekerti yang luhur dan mulia sangat diperlukan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Dalam hubungan ini, orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama bagi setiap anggota keluarga, khususnya bagi anak-anak. Pendidikan agama ditanamkan sedini
86 Wawancara dengan Ibu KTM (Keluarga Infertil), 5 April 2021
87 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
mungkin kepada anak-anak akan sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan kepribadian mereka.
Bagi pasangan suami istri, agama merupakan benteng yang kokoh terhadap berbagai ancaman yang dapat meruntuhkan kehidupan keluarga.
Dalam hal ini agama berperan sebagai sumber untuk mengembalikan dan memecahkan berbagai masalah. Oleh karena itu perlu bagi suami istri memegang dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya dalam arti mau dan mampu melaksanakan kehidupan beragama dalam kehidupan keluarga, baik dalam keadaan suka maupun duka. Upaya-upaya lain juga bisa dilaksanakan selain dengan cara gemar memperdalam ilmu agama juga dapat dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yakni memperbanyak ibadah dan selalu berbuat kebaikan.
Selain upaya dari sisi spiritual, keluarga infertil juga perlu menerapkan upaya-upaya dari sisi psikis dengan cara berkonsultasi dengan pihak keluarga atau tetangga terdekat yang bisa dipercaya untuk menjaga perbincangan yang sifatnya privasi.
Konsultasi mengenai kehamilan terhadap keluarga maupun tetangga merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir rasa khawatir karena dengan demikian wawasan akan bertambah sehingga dapat sedikit mengurangi beban yang dipikul. Seperti yang kita pahami bahwa memiliki anak merupakan harapan bagi keluarga. Maka jika sampai puluhan tahun belum juga memiliki anak akan bisa menjadi beban baik terhadap keluarga maupun lingkungan.
Selain masalah keluarga terkait infertilitas, peneliti juga menggali data-data sebagai penguat mengenai upaya-upaya lain yang dilakukan dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Adapun upaya yang dilakukan oleh keluarga infertil selama ini untuk bisa mewujudkan keluarga sakinah adalah dengan cara menjaga agar tidak terjadi pertengkaran, berusaha tidak mengganggu tetangga, komunikasi dengan baik dan selalu bersyukur.
Selain itu hal yang sering dilakukan adalah menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan bekerja dengan giat, mencari rezeki yang halal. Karena faktor terbesar kehancuran rumah tangga adalah masalah ekonomi. Hal ini sesuai dengan apa disampaikan oleh subjek penelitian yakni:
“Ya jujur, banyak bersyukur, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, omongannya yang lembut. Terus yang paling pokok bekerja dengan giat karena gak bisa dipungkiri penyebab ancurnya rumah tangga itu kebanyakan karena faktor ekonomi”.88
“Yo seng penting pas enek masalah yo digolek i solusine bareng- bareng, terus koyo aku kan urong nduwe keturunan, kui yo bareng- bareng dimaklumi, di syukuri, nggolek rejeki seng halal, terus yo nabung, terbuka sekabehane”.89 (Ya yang penting ketika ada masalah di cari solusinya bersama-sama. Seperti saya belum bisa memberi keturunan ya itu di maklumi bersama-sama, di syukuri, mencari rejeki yang halal, nabung, terbuka tidak ada yang ditutupi).
Kebersamaan dalam keluarga merupakan suatu keindahan.
Kebersamaan yang dimaksud tidak hanya dalam kebahagiaan saja tetapi juga saat dalam sulit maupun saat ada masalah. Kemampuan dalam bermusyawarah untuk mencari solusi dalam menyelesaikan masalah harus selalu diasah. Pasangan suami istri yang bisa saling memahami didasakan dari
88 Wawancara dengan Ibu SHT (Keluarga Infertil), 8 April 2021
89 Wawancara dengan Ibu SM (Keluarga Infertil), 12 April 2021
kebiasaan musyawarah yang sering dilakukan. Pasangan suami istri tidak akan bisa saling memahami jika sering mengambil keputusan sepihak dalam proses menyelesaikan masalah keluarga. Selain itu, konsumsi makanan yang halal juga akan berpengaruh terhadap karakter dan sifat seseorang. Biasanya hasil makanan atau uang yang didapatkan dengan cara yang tidak halal akan berdampak kepada suasana rumah tangga yang selalu tidak tenang. Maka dari itu harus berusaha menjaga mencai rizki yang halal dan saling terbuka.
Berdasarkan masalah atau kendala-kendala yang dirasakan dan langkah-langkah yang telah dilakukn oleh ketiga keluarga subjek penelitian, maka peneliti berusaha memberikan resolusi atau kiat-kiat dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bagi pasangan keluarga yang tidak memiliki anak yaitu 1) hendaknya saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, 2) luangkan banyak waktu untuk bersama meskipun hanya sekedar bercanda ria, 3) lakukan komunikasi secara intens.
Contoh sederhananya adalah saat bepergian atau bekerja jangan mengejutkan istri saat pulang kerumah. Berikan kabar terlebih dahulu agar istri bisa menyambut kepulangan suami. Atau bisa juga sebelum bepergian terlebih dahulu memberitahu perkiraan waktu pulang, 4) pasangan suami istri hendaknya selalu menampakkan wajah yang bahagia, 5) sesekali pasangan suami istri saling memberi kejutan berupa hadiah meskipun hanya satu baju/kaos, 6) memanggil dengan nama yang disukai oleh masing-masing pasangan atau memanggil dengan panggilan mesra yang penuh kasih sayang, 7) jangan sering bepergian keluar rumah dengan alasan yang tidak jelas, 8)
hindari untuk membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain, 9) saling memberikan pujian, 10) hendaknya saling membantu dalam pekerjaan rumah tangga, 11) sesekali mengajak istri untuk jalan-jalan atau rekreasi, 12) saling menutupi kekurangan masing-masing terlebih aib keluarga, 13) saling menasehati dan menegur dengan cara yang baik jika salah satunya melakukan kesalahan.
D. Kendala yang dihadapi Pasangan Suami Istri yang tidak Memiliki Anak