• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Khalayak tentang Siaran Televisi

II. PENDEKATAN TEORITIS 2.1Tinjauan Pustaka

2.1.6 Persepsi Khalayak tentang Siaran Televisi

Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran kita selalu dipengaruhi oleh indera. Melalui indera, kita dapat menerima informasi, kemudian mengolahnya dan kita merespon informasi tersebut. Proses pengolahan ini merupakan proses komunikasi antarpersonal yang sering kita alami. Komunikasi antarpersonal yang terjadi tersebut dipengaruhi oleh orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Semakin beragam budaya seseorang maka komunikasi yang terjadi pun akan semakin beragam. Komunikasi yang dimaksud disini adalah persepsi seseorang akan sesuatu yang terjadi. Perbedaan persepsi ini dapat menimbulkan konflik yang dikarenakan ketidaktahuan tentang keterbatasan kemampuan perseptual. Jika seseorang menyadari bahwa penginderaanya dapat salah, tentu tidak terlalu sulit untuk mengakui bahwa persepsinya keliru (Tubbs dan Moss, 1996).

Menurut Tubbs dan Moss (1996), persepsi adalah suatu proses aktif, dimana seseorang akan memperhatikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan semua pengalamannya secara selektif. Setiap orang memilih stimulus (ransangan), bergantung pada minat, motivasi, keinginan dan harapannya. Persepsi adalah suatu proses dimana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita. Persepsi mempengaruhi stimulus atau pesan yang kita serap dan apa makna yang kita berikan pada mereka ketika mereka mencapai kesadaran (DeVito, 1996). Sementara menurut Sarwono (1999) menjelaskan pula bahwa persepsi dalam pengertian psikologis adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat yang digunakan untuk memperoleh informasi tersebut adalah indera dan untuk memahaminya menggunakan kesadaran atau kognitif seseorang. Dalam mempersepsi benda maupun seseorang dapat ditinjau dari tiga unsur: pengamat, objek persepsi, dan konteks yang berkaitan dengan objek yang diamati (Tubbs dan Moss, 1996).

Menurut DeVito (1996) pula, ada enam proses yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap sesuatu, yaitu: (1) teori kepribadian implisit, (2) primasi-resensi, (3) aksentuasi perseptual, (4) ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, (5) konsistensi, (6) stereotipe. Proses-proses ini sangat mempengaruhi apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat, apa yang kita simpulkan dan apa yang tidak kita simpulkan tentang orang lain. Proses ini membantu menjelaskan mengapa kita membuat perkiraan tertentu dan tidak membuat perkiraan yang lain tentang orang. Keenam proses ini merupakan pula penghambat kita dalam menentukan persepsi maupun berinteraksi dengan orang lain.

Ada dua faktor yang menentukan persepsi, yaitu: (1) faktor fungsional: berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang disebut faktor personal. Persepsi bukan ditentukan oleh jenis atau bentuk stimuli tetapi karakteristik orang yang memberikan respons stimuli. (2) faktor struktural: berasal dari stimuli fisik dan efek-efek syaraf yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu.

Dalam proses persepsi ini, proses atribusi pun perlu diperhatikan. Dari proses atribusi ini akan “lahir’ konsep-konsep tentang memahami bagaimana perilaku itu. Atribusi adalah proses dimana kita mencoba memahami perilaku orang lain selain perilaku kita sendiri. Kita juga dapat memahami alasan atau motivasi seseorang, apakah ada fakor-faktor tertentu yang mempengaruhi seperti faktor internal seseorang ataupun faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang.

Proses persepsi dibutuhkan untuk mengetahui sampai sejauh mana minat, persepsi, opini khalayak terhadap tayangan televisi. Persepsi akan tayangan televisi disebabkan oleh variabel yang dibentuk oleh individu akan kemasan tayangan tersebut. Kemasan acara-acara televisi tersebut berupa isi cerita, aktor/ aktris yang berlakon , dan jam tayang. Isi cerita merupakan faktor yang dapat menimbulkan persepsi bagi khalayak. Cerita yang sarat dengan sisi humanis, nyata seperti kehidupan manusia layaknya membuat dorongan dan motivasi khalayak untuk berpersepsi akan tayangan tersebut. Tayangan-tayangan realita akan membuat khalayak merasa terusik pikiran dan perasaannya sehingga akan meninggalkan kesan akan ceria tayangannya. Contoh tayangan yang realita yang

cukup sering ditayangkan di televisi, yaitu tayangan tindak kriminal/ tindak kekerasan. Tayangan tersebut menayangkan suatu kejadian yang benar-benar terjadi di kehidupan masyarakat. Khalayak yang menonton tayangan tersebut tidak saja dari kalangan orang dewasa/ itu tetapi kalangan anak-anak pun hampir tidak terlewatkan.

Tayangan kekerasan itu akan menimbulkan suatu kesan dan membuat suatu persepsi tersendiri bagi khalayak khususnya anak-anak. Bagi anak-anak yang cukup mengerti dan diberi pengarahan oleh orang tua mereka, maka mereka cenderung untuk tidak terpengaruh atau meniru. Lain halnya dengan khalayak anak-anak yang tidak memperoleh pembinaan dari orang tuanya maka cenderung untuk meniru. Artinya bahwa peranan keluarga dan latar belakang keluarga menentukan pembentukan persepsi seseorang.

Karakteristik khalayak juga mempengaruhi penciptaan persepsi seseorang akan sebuah tayangan televisi. Menurut McQuail dalam Sarwono, 1999) yang menyatakan bahwa persepsi terhadap tayangan televisi dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.

Semua persepsi yang ditimbulkan oleh khalayak setelah menonton suatu tayangan akan menghasilkan suatu penilaian dan kepuasan tersendiri bagi khalayak. Khalayak yang menggunakan televisi ditawarkan suatu kepuasan yang diharapkan dan diramalkan oleh khalayak berdasarkan pengalaman mereka sebelum menonton televisi.

Palmgreen dan Rayburn dalam McQuail dan Windahl (1995) menjelaskan teori tentang suatu model kepuasan khalayak dalam menggunakan media televisi. Perilaku khalayak dalam menggunakan media televisi yang terus menerus cenderung akan meningkat setiap waktu. Bila kepuasan yang diperoleh khalayak lebih besar daripada kepuasan yang diharapkan dari penggunannya maka dapat dikatakan bahwa persepsi khlayak akan puas karena kebutuhannya terpenuhi dan pada akhirnya berlanjut pada perhatian dan penghargaan yang besar pada acara yang ditayangkan.

Masih menurut Palmgreen dan Rayburn dalam McQuail dan Windahl (1995), kepuasan yang diharapkan melalui televisi berdasarkan pada keyakinan terhadap isi tayangan televisi yang dapat memberikan hal-hal yang bermanfaat

bagi diri mereka. Isi tayangan televisi dapat dikategorikan menjadi: news and public affairs yang berisi berita umum, berita buletin atau berita khusus yang membahas kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat; features and documentary yang berhubungan dengan aspek ilmu pengetahuan, sosial budaya, atau laporan jurnal; education, yang tidak selamanya didefinisikan dengan pendidikan secara formal melainkan mendidik secara umum, arts and music, children program, drama, film, general entertainment, sport, religion, commercial (Williams, 1990).