• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Hak Asasi Manusia

Dalam dokumen Relasi Bisnis dan HAM OK fullset (Halaman 144-158)

Oleh: Celina Tri Siwi Kristianti158

A. Pendahuluan

U

U No. No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) memuat prinsip bahwa hak asasi manusia harus dilihat secara holistik bukan parsial sebab hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Mahaesa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukun, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Perlu diingat juga bahwa perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia di bidang sosial politik hanya dapat berjalan dengan baik apabila hak yang lain di bidang ekonomi, sosial dan budaya serta hak solidaritas juga juga dilindungi dan dipenuhi, dan begitu pula sebaliknya.

Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata- mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.159

Dalam arti ini, maka meskipun setiap orang terlahir dengan ras, suku, jenis kelamin, bahasa, budaya, agama, dan kewarganegaraan yang 158 Dosen Fakultas Hukum Unika Widya Karya, Malang

159 Jack Donnely, 2003, Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell University Press, London, hlm. 21.

berbeda-beda, ia tetap mempunyai hak-hak yang harus dijunjung tinggi oleh siapapun juga, dan di negara manapun ia berada. Inilah sifat universal dari hak asasi manusia tersebut.

Secara etimologis, hak asasi berasal dari bahasa Arab, yaitu haqq dan

asasiy. Kata haqq adalah bentuk tunggal dari kata huquq yang diambil dari kata haqqa, yahiqqu, haqqan yang artinya adalah benar, nyata, pasti, tetap, dan wajib. Berdasarkan pengertian tersebut, haqq adalah kewenangan atau kewajiban untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sementara itu, kata asasiy berasal dari akar kata assa, yaussu, asasaan yang artinya adalah membangun, mendirikan, dan meletakkan. Kata asas adalah bentuk tunggal dari kata usus yang berarti asal, esensial, asas, pangkal, dasar dari segala sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, hak asasi manusia dapat diartikan sebagai hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia.160

Hak asasi yang berkembang saat ini pada mulanya adalah produk mazhab hukum kodrati yang muncul dalam abad pertengahan bersamaan dengan karya tulisan filsuf Kristiani yang terkemuka, yaitu Santo Thomas Aquinas. Pandangan Thomas Aquinas mengenai hukum kodrati mempostulatkan bahwa hukum kodrati ini merupakan bagian dari hukum Tuhan yang sempurna, yang dapat diketahui melalui penggunaan nalar manusia. Sebagian isi dari filsafat hukum kodrati adalah ide bahwa posisi masing-masing orang dalam kehidupan ditentukan oleh Tuhan, tetapi semua orang apapun statusnya tunduk pada otoritas Tuhan. Dengan demikian, hak asasi manusia pada prinsipnya adalah hak yang diberikan oleh Tuhan, tidak dapat dirampas oleh siapapun juga.

Magnis Suseno161 menjelaskan bahwa inti dari paham hak asasi

manusia terletak dari kesadaran bahwa masyarakat atau umat manusia tidak dapat dijunjung tinggi kecuali setiap manusia individual, tanpa diskriminasi, tanpa kekecualian, dihormati dalam keutuhannya. Jadi, apapun yang diartikan atau dirumuskan dengan hak asasi, gejala tersebut tetap merupakan suatu manifestasi dari nilai-nilai yang kemudian dikonkretkan menjadi kaedah hidup bersama. Sistem nilai yang menjelma dalam konsep hak asasi manusia tidaklah semata-mata 160 Majda El Muhtaj, 2008, Dimensi-Dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi, Sosial, dan

Budaya, P.T. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 17

161 Frans Magnis Suseno, Etika Politik; Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 145

Bagian II: Konstekstualisasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia dari Dampak Operasional Korporasi di Indonesia

sebagai produk Barat, melainkan memiliki dasar pijakan yang kokoh dari seluruh budaya dan agama. Pandangan dunia tentang hak asasi manusia adalah pandangan kesemestaan bagi eksistensi dan proteksi kehidupan dan kemartabatan manusia.162

Perkembangan kebijakan hak asasi manusia di Indonesia seiring berjalannya waktu menjadi suatu kebutuhan, tidak hanya hak asasi manusia di bidang keamanan dan politik, namun sebagai dampak diratifikasinya Konvenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya oleh Indonesia melalui UU No. 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya. Setelah ratifikasi kewajiban Indonesia untuk melakukan pemenuhan dan jaminan-jaminan ekonomi, sosial dan budaya harus diwujudkan, baik melalui aturan hukum ataupun melalui kebijakan-kebijakan pemerintah.

Salah satu hak asasi manusia di bidang ekonomi yang sering terabaikan adalah ketika kedudukan manusia sebagai konsumen. Masalah perlindungan konsumen terkadang kita sampai saat ini melupakan bahwa perlindungan konsumen adalah bagian dari perlindungan hak asasi manusia yang sekaligus merupakan hak dasar yang secara kodrat melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun.

Saat ini pelanggaran atas hak konsumen yang tidak sedikit terjadi di Indonesia adalah merupakan pelanggaran konstitusional sebab begitu banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat justru berkembang cara-cara kejahatan terhadap konsumen. Sementara itu, para penegak hukum kurang menyadari atas kejadian yang ada disekitarnya, termasuk perlindungan terhadap konsumen. Keadaan tersebut diakibatkan karena kurangnya pemahaman masyarakat yang sekaligus sebagai konsumen yang tidak pernah mau tahu dan tidak sadar atas hak-hak dasarnya yang telah dikurangi atau dirampas, oleh pelaku usaha.

Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan berkenaan dengan kasus-kasus yang dialami konsumen sebagai pelanggaran yang dilakukan pihak pelaku usaha atau pihak pemerintah sudah merupakan tindakan kejahatan di bidang ekonomi yang berakibat kerugian pada 162 Majda El Muhtaj, op. cit., hlm. 1

masyarakat trilliunan rupiah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkadang tidak diatur oleh peraturan perundang-undangan, tapi setelah dikomplain oleh sekelompok masyarakat, tiba-tiba muncul payung hukum yang mendukung kebijakan tersebut. Peristiwa ini indikasi terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, di satu sisi kebijakan tersebut malah membuat beban bagi masyarakat serta tidak memiliki bargaining position (posisi tawar) yang berimbang.

Jika hal di atas tidak disikapi secara serius, maka masyarakat yang juga sebagai konsumen akan semakin terabaikan hak-haknya, khususnya hak sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen. Konsumen juga menderita kerugian karena tidak adanya jaminan keadilan, tidak adanya kepastian hukum, serta perlindungan hukum, baik yang bersifat materiil maupun non-materiil. Berdasarkan pendahuluan di atas, penulis hendak menjawab pertanyaan mengenai bagaimana mewujudkan keadilan hukum perlindungan konsumen di era globalisasi dalam perspektif hak asasi manusia ?

B. Dampak Globalisasi terhadap Sistem Hukum Perlindungan Konsumen

Memahami dinamika globalisasi dengan segala dimensinya, maka globalisasi juga akan memberi pengaruh terhadap hukum. Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan negara-negara ber- kembang mengenai investasi, perdagangan, jasa-jasa, dan bidang- bidang ekonomi lainnya mendekati negara-negara maju (convergency).163

Globalisasi hukum kadang kala dipahami pula sebagai penyesuaian hukum-hukum nasional suatu negara bangsa sebagai dampak dari perkembangan perekonomian global misalnya. Penyesuaian hukum nasional bisa juga dilakukan atas adanya tekanan organisasi internasional atau badan-badan dunia seperti WTO, IMF, World Bank, dan lain sebagainya. Meskipun pengaruh sistem hukum yang datang dari luar itu bukan barang baru bagi Indonesia, tetapi yang membedakannya dari suatu waktu adalah kondisi dan situasi serta atas kepentingan apa hukum-hukum nasional Indonesia menyesuaikan diri atau memerlukan penyesuaian. Memang tidak bisa diingkari bahwa sebagian besar sistem 163 Erman Radjagukguk, Peranan Hukum Dalam Pembangunan Pada Era Globalisasi, Jurnal

Bagian II: Konstekstualisasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia dari Dampak Operasional Korporasi di Indonesia

hukum di Indonesia adalah sistem hukum import sejak dari zaman penjajahan sampai saat ini. Oleh karena itu, globalisasi hukum di Indonesia sudah berlangsung sejak lama akan tetapi globalisasi hukum yang terjadi masa lalu itu hanya menjadi sistem hukum yang hidup dan berkembang dalam suatu negara bangsa yang berdaulat. Globalisasi hukum dalam perkembangannya justru tumbuh dan berkembang melampaui batas-batas kedaulatan negara dan kalau pun ia hidup dalam suatu negara nasional, tetapi perubahan dan penyesuaian sistem hukum itu lahir dari suatu kesepakatan internasional.

Pembicaraan terhadap globalisasi hukum di Indonesia beberapa waktu belakangan, tampaknya lebih merupakan suatu pembicaraan berkaitan dengan pergerakan globalisasi di bidang lain. Dalam banyak pembicaraan dan bahasan sering diutarakan, bahwa globaliasi hukum di berbagai bidang, semisal globalisasi di bidang ekonomi, teknologi harus diikuti dengan globalisasi hukum. Artinya, globalisasi hukum berada di belakang globalisasi bidang lain. Jika disetujui bahwa globalisasi ekonomi merupakan manifesitasi baru dari perkembangan kapitalisme sebagai sistem ekonomi sosial, dimana transaksi dan lalu lintas ekonomi dan perdagangan tidak lagi terikat pada asal negara dari berbagai sistem hukum dan tradisi, maka globalisasi ekonomi harus diikuti globalisasi hukum. Meskipun demikian, tetap saja ada keraguan, dimana globaliasi hukum itu tetap diharapkan berlangsung pada sistem hukum yang berbeda. Hal ini berarti, model ini tidak menjelaskan apakah globalisasi hukum memiliki sistem sendiri atau sistem hukum yang berbeda menjadi kekayaan dari globalisasi hukum. Situasi ini menjadi indikasi bahwa arus globalisasi terus mengalir dengan deras. Dengan demikian, beberapa penyesuaian sistem hukum nasional Indonesia saat ini berkenaan dengan tuntutan globalisasi masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Salah satu bidang hukum yang seringkali terabaikan adalah hukum perlindungan konsumen. Hal ini sebagai akibat dari perkembangan dunia perdagangan dan industri yang terus tumbuh dan berkembang semakin kompleks sehingga melahirkan ketidakadilan sosial dan ekonomi bagi konsumen. Hubungan interdependensi yang ada antara pelaku usaha dan konsumen dalam perdagangan praktis bergeser ke arah dependensi terhadap dunia usaha. Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep, cara pandang, dan

cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula tentang konsep perlindungan konsumen secara global tentang perlindungan konsumen secara global. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting karena pertama konsumen di samping mempunyai hak- hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi).164

Dalam banyak hal, konsumen menerima segala sesuatu dari kalangan dunia usaha sebagai sesuatu yang “given”, baik itu informasi, jenis, dan macam produk, kualitas produk, dan lain-lain. Praktis daya tawar konsumen lemah, kekuatan pasar sedemikian rupa, antara lain ditandai dengan pertumbuhan konglomerasi dan multinational corporations

(MNCs) menjadikan nasib konsumen terpuruk. Banyaknya perselisihan di era globalisasi yang melibatkan konsumen dan pelaku usaha, baik pelaku usaha swasta maupun negara yang mengelola suatu badan usaha fasilitas umum seperti PLN, Rumah Sakit, PDAM, energi, transportasi, dan lain-lain, belum terselesaikan secara tuntas. Konsumen tidak memperoleh keadilan karena konsumen pada posisi yang lemah yang tidak memperoleh dukungan dari sistem hukum yang belum mampu mewujudkan keadilan bagi konsumen yang berlandaskan konstitusi dan ideologi Pancasila.

C. Pelanggaran terhadap Konsumen Merupakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Pelanggaran-pelanggaran hak konsumen yang terjadi merupakan perampasan hak asasi manusia. Salah satu aspek hak asasi manusia yang hingga kini belum tersentuh secara baik dalam perlindungan dan penegakan hak asasi manusia adalah dalam perlindungan konsumen. Implikasinya semakin mengkhawatirkan karena akselerasi pemberdayaan masyarakat di bidang konsumen dan hak asasi manusia masih sangat minimal, tidak dapat dilaksanakan secara merata pada semua lapisan, dan tidak berkelanjutan. Sementara itu, para produsen lebih mementingkan keuntungan perusahaan di tengah persaingan yang semakin ketat dan mengabaikan kepentingan konsumen.

Bagian II: Konstekstualisasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia dari Dampak Operasional Korporasi di Indonesia

Dasar hukum dari apa yang dikemukakan di atas sebenarnya dapat dilihat pada Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa: “Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.” Pernyataan ini merupakan komitmen moral yang berdimensi kemanusiaan. Pengabaian terhadap perlindungan konsumen dengan sendirinya bermakna pelanggaran terhadap hak asasi manusia, baik dalam tataran masyarakat secara keseluruhan maupun manusia secara individu. Beberapa Pasal dalam UUD 1945 yang mengakomodir hak- hak konsumen, yaitu:

1. Pasal 28 H ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperolah pelayanan kesehatan;

2. Pasal 31 ayat (1) menyetakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya;

3. Pasal 34 ayat (3) menyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Berkaitan dengan perlindungan masyarakat Indonesia dapat dikatakan program pelayanan publik kepada konsumen (masyarakat). Pelayanan publik adalah pelayanan yang wajib diselenggarakan negara untuk pemenuhan hak-hak dasar warga negara (publik). Ketiadaan atau kurang memadainya pelayanan publik berarti tidak terpenuhinya hak asasi manusia oleh pelayan publik. Publik berhak memperoleh pelayanan publik dengan kualitas yang layak. Pemerintah wajib memastikan bahwa publik telah mendapatkan pelayanan yang layak. Untuk itu, pemerintah perlu mengatur hubungan antarwarga negara sebagai konsumen pelayanan publik dengan penyelenggara pelayanan publik.

Konsumerisme sebagai paham yang membela hak–hak konsumen ini lahir dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya dunia perdagangan dan industri, yang terbukti melahirkan ketidaktahuan konsumen (consumer iqnorance). Fakta bahwa konsumen adalah pihak yang lemah, telah diakui secara internasional dan dinyatakan di dalam

Resolusi Majelis Umum PBB 39th session April 16, 1985 Nomor 39/248

tentang Guidelines for consumer protection, yang menyatakan bahwa :165

“Taking into account the interests and needs of consumers in all countries, particularly those in developing countries; recognizing that consumers often face imbalances in economics terms, educational levels, and bargaining power; and bearing in mind that consumers should have the right of acces to non-hazardous products, as well as right to promote just, equitable and suistanaible economic and social development,...”

Resolusi ini berangsur-angsur membuka mata pemerintah berbagai negara tentang praktik-praktik ketidakadilan yang dialami konsumen, salah satu pelaku ekonomi yang secara empirik diakui keberadaannya, namun dinegasikan secara yuridis. Hal itu diakomodasi oleh pemerintah dengan mengeluarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang memberikan perlindungan terhadap pelanggaran- pelanggaran konsumen dan penyelesaian sengketa konsumen. Mayoritas pelanggaran-pelanggaran hak konsumen sangat kasat mata dijumpai dalam aktivitas keseharian (daily activities). Norma-norma perlindungan konsumen dalam sistem Undang-Undang mengenai Perlindungan Konsumen sebagai ”undang-undang payung” menjadi kriteria untuk mengukur dugaan adanya pelanggaran-pelanggaran hak-hak konsumen.

Hak-hak konsumen yang tertuang dalam Pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, meliputi:

1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/ atau jasa yang digunakan;

5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; 6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; 165 Craig Kubey, 1991, You Don’t Always Need a Lawyer-How to Resolve Your Legal Disputes

Bagian II: Konstekstualisasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia dari Dampak Operasional Korporasi di Indonesia

7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; 9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-

undangan lainnya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa Undang-Undang mengenai Perlindungan Konsumen juga merupakan penjabaran lebih detil dari hak asasi manusia, lebih khusus lagi hak-hak ekonomi yang tercantum dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Ratifikasi ini mengandung arti kewajiban Indonesia untuk melakukan pemenuhan dan jaminan- jaminan ekonomi, sosial dan budaya harus diwujudkan baik melalui aturan hukum ataupun melalui kebijakan-kebijakan pemerintah.

Kehadiran Undang-Undang mengenai Perlindungan Konsumen adalah wujud tanggung jawab pemerintah dalam menciptakan sistem perlindungan konsumen sehingga ada kepastian hukum, baik bagi pelaku usaha agar tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab, maupun bagi konsumen, yang merupakan pengakuan harkat dan martabatnya. Isi dari Undang Undang mengenai Perlindungan Konsumen selain asas dan tujuan serta hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha, dari segi materi hukum, secara umum undang-undang ini mengatur sekaligus hukum acara (formal) dan hukum materiil. Kemudian undang- undang ini juga mengatur kelembagaan perlindungan konsumen tingkat pusat dalam bentuk Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), maupun di daerah dalam bentuk Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), juga tentang penyelesaian sengketa konsumen dan ketentuan pidananya.

Di samping itu, dalam Undang-Undang mengenai Perlindungan Konsumen dikenal istilah sengketa konsumen, yaitu sengketa yang lahir dari suatu hubungan hukum antara pelaku usaha dengan konsumen. Pelaku usaha sebagai pihak penyedia barang dan atau jasa, sedangkan konsumen sebagai pemakai produk barang dan jasa tersebut. Menilik

kasus-kasus yang lahir dari adanya sengketa konsumen, secara umum sengketa konsumen lahir dari adanya kerugian di pihak konsumen sebagai akibat dari (setelah ia) mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dipasarkan oleh pelaku usaha. Kerugian konsumen itu pada dasarnya bersumber dari produk barang dan atau jasa yang ia konsumsi, baik dalam hal yang menyangkut kualitas, manfaat, volume (isi), sampai pada hal-hal yang menyangkut risiko atas keamanan dan keselamatan diri konsumen.

Akibat dari peredaran barang dan atau jasa di masyarakat yang bermacam-macam kondisi, kualitas dan tingkat risiko yang ditimbulkannya, maka diyakini bahwa terdapat kemungkinan yang sangat besar di pihak konsumen untuk mengalami kerugian manakala ia memakai atau menggunakan suatu produk. Namun dari berbagai observasi dan pengalaman dalam praktik, tidak banyak konsumen yang dirugikan menggunakan haknya untuk menuntut ganti kerugian. Berbagai alasan dapat dikemukakan, seperti kerugian konsumen yang relatif bernilai lebih kecil, kecenderungan untuk menghindari konflik, posisi tawar yang rendah sehingga cenderung “nrimo”, sampai pada masalah ketidaktahuan mereka akan hak-haknya sebagai konsumen. Kebanyakan konsumen yang ekonominya menengah ke bawah, berkutat dengan kalkulasi rumit dan dilematis untuk menentukan pilihan produk yang benar-benar memberikan perlindungan baginya. Pengetahuan akan hak dan kewajiban konsumen masih lemah, selain itu kebutuhan akan lembaga (payung) yang mengakomodasi kepentingan (kerugian) konsumen juga belum bekerja secara optimal.

D. Mewujudkan Keadilan Hukum Perlindungan Konsumen di Era Globalisasi dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

Mewujudkan keadilan hukum perlindungan konsumen di era globalisasi diperlukan beberapa upaya antara lain pertama, penegakan hukum perlindungan hukum konsumen di era globalisasi perlu dikaji secara komprehensif adanya harmonisasi aturan, bukan sekedar mengimplementasikan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen semata. Namun juga perlu dikaitkan dengan hak asasi manusia sebagaimana dituangkan dalam UUD 1945 dan Pancasila

Bagian II: Konstekstualisasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia dari Dampak Operasional Korporasi di Indonesia

sebagai landasan konstitusional dan landasan filosofis. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sifatnya adalah sebagai hukum payung, ketentuan secara umum yang membutuhkan ketentuan lain yang masih ada keterkaitan dengan konsumen, misalnya aturan tentang pangan, transportasi, kesehatan, dan lain-lain.

Kedua, sebagai negara hukum, Indonesia harus lebih bertanggung- jawab melindungi rakyatnya di era globalisasi. Penyelenggaraan negara yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka negara tidak boleh cuci tangan terhadap pemenuhan hak-hak konsumen sebagai bagian hak asasi manusia di bidang ekonomi. Negara dari hulu sampai hilir menjadi penanggungjawab utama mulai dari proses regulasi, pelaksanaan, dan pengawasan serta pemberian sanksi. Bila dikaitkan dengan persaingan dengan negara lain, maka dapat ditarik lagi tentang peran negara dalam melindungi warganya agar tidak terjadi apa yang menurut Hobbes sebagai “homo homini lupus”. Inilah tantangan negara kesejahteraan tersebut, di mana negara tidak boleh

Dalam dokumen Relasi Bisnis dan HAM OK fullset (Halaman 144-158)