• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanyaan Penelitian 1,

Dalam dokumen K A T A P E N G A N T A R (Halaman 159-167)

c) Kota Gorontalo

2.1.2. Pertanyaan Penelitian 1,

Apakah system penanganan pengaduan masyarakat yang ada saat ini sudah efektif ?

Untuk menjawab pertanyaan penelitian 1 diatas, dipilih 4 (empat) variable untuk mengukur apakah system penanganan pengaduan masyarakat telah efektif dalam pelaksanaan pembangunan TRIDAYA di 12 kelurahan lokasi penelitian. Keempat variable tersebut adalah : (1) Penerapan system penanganan pengaduan masyarakat; (2) penerapan prinsip-prinsip penanganan pengaduan masyarakat; (3) Sifat dan media pengaduan; dan (4) Kategori dan derajat masalah.

2.1.3. Penerapan Sistem PPM

Variable penerapan system penanganan pengaduan masyarakat memiliki 6 (enam) indicator untuk mengukur apakah system penanganan pengaduan masyarakat telah diterapkan dalam pelaksanaan pembangunan TRIDAYA, yaitu : (1) Pengelolaan Penanganan Pengaduan Masyarakat (PPM); (2) Penerimaan Pelaporan Pengaduan Masyarakat; (3) Pencatatan dan Pendistribusian Pengaduan masyarakat; (4) Penanganan Pengaduan Masyarakat; (5) Dokumentasi dan Sosialisasi Hasil PPM; dan (6) Pelaporan Pengaduan Masyarakat.

Berdasarkan informan yangz telah dikumpulkan di Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo memiliki kecenderungan yang sama yaitu penanganan pengaduan masyarakat belum dilaksanakan sesuai dengan prosedur P2KP, dengan perinciansebagai berikut :

2.1.3.1. Pengelolaan PPM

Informan yang memberikan jawaban Unit Pengelola PPM di tingkat kelurahan telah terbentuk tidak ada di ketiga kota lokasi penelitian. Informan yang menjawab Unit Pengelola PPM belum dibentuk di Kota Bengkulu 47,71%, di Kota Pasuruan 48,57% dan di Kota Gorontalo 47,19% menunjukan informasi yang diterima oleh mwarga dikelurahan lokasi penelitian masing-masing kota memiliki kecenderungan yang sama berkisar diantara 47,00% hingga

“BKM
pada
dasarnya
merupakan
lembaga
kepercayaan
masyarakatatau
“Board
of
Trusty”.
 Pengertian
board
of
trusty
pada
satu
sisi
merujuk
pada
keberadaan
BKM
yang
harus
mengakar,
 representative,
dan
aspiratif,
serta
beranggotakan
kumpulan
warga
yang
ikhlas,
adil,
jujur
dan
 tidak
dibayar
untuk
pengabdiannya.
Sehingga
menjadi
tumpuan
kepercayaan
masyarakat.
 Sedangkan
pada
sisi
lain,
BKM
sebagi

lembaga
kepercayaan
masyarakat
juga
harus
mampu
 diakui
dan
dipercaya
oleh
pihak‐pihak
lainnya.”
 Pedoman
Umum
P2KP
Tahun
2005
 49,00% warga menerima informasi mengenai pengelolaan penanganan pengaduan masyarakat (PPM), dengan demikian warga masyarakat yang belum menerima informasi mengenai pengelolaan penanganan pengaduan berkisar antara 51,00% hingga 53,00% sebagaimana jawaban informan di Bengkulu 52,29%, di Kota Pasuruan 51,43% dan di Kota Gorontalo 52,81%. Berdasarkan pendapat informan diatas dan pengamatan di lapangan, ditemui :

Pertama, pengelolaan penanganan pengaduan masyarakat (PPM) tingkat kelurahan

dilaksanakan oleh PK-BKM secara kolektif, tidak ada yang menangani secara khusus, atau tidak ada tim yang memiliki otoritas untuk menangani pengaduan masyarakat. Kedua, PK-BKM belum memahami bahwa pengelolaan PPM merupakan bagian tidak terpisahkan dari manajemen pembangunan TRIDAYA di tingkat kelurahan, di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat secara berjenjang yang harus dikelola sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan Program P2KP. Ketiga, pendampingan yang dilaksanakan oleh Tim Faskel, Korkot, KMW dan stakeholders di daerah belum mampu mengubah sikap dan perilaku PK-BKM dalam upaya menerapkan sistem manajemen kelembagaan yang komperhensif terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kelembagaan BKM sebagai representasi masyarakat warga kelurahan yang bersangkutan. Keempat, dengan belum terbentuknya Unit Pengelola PPM dan belum dilaksanakannya sosialisasi PPM kepada masyarakat di tingkat kelurahan, menjadikan hak-hak warga masyarakat dalam menyampaikan pendapat, usulan, saran dan pengaduan (complaint) menjadi tersumbat dan menghambat proses demokratisasi, transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembangunan TRIDAYA.

Sebagaimana disampaikan diatas, pengelolaan penaganan pengaduan masyarakat dalam Program P2KP merupakan bagian dari proses pemberdayaan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan penguatan kapasitas kelembagan masyarakat dalam kaitannya dengan penerapan prinsip-prinsip P2KP yaitu demokratis, transparansi dan akuntabilitas. Dalam peningkatan kapasitas (capacity building) masyarakat dan kelembagaan masyarakat, menurut pendapat Deborah Eade (1996:11) :

“Terdapat tiga sumbangan pemikiran bagi peningkatan kapasitas dan pemberdayaan. Pertama, penting bagi masyarakat belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Kedua, tumbuhnya kesadaran, belajar, menghargai diri sendiri, dan kapasitas politik yang saling memperkuat. Ketiga, warga miskin dan mereka yang terpinggirkan mendapatkan keadilan sehingga memiliki kemampuan mengorganisasi untuk bersaing dalam membangun masyarakatnya untuk mendapatkan otoritas yang bebas dari eksploitasi dan penindasan”

“Penguatan kemampuan masyarakat ditujukan untuk menentukan nilai dan prioritas mereka sendiri, dan untuk mengorganisasi kegiatan mereka sendiri adalah dasar dari pengembangan masyarakat” (Eade and william. 1995:9).

Berdasarkan pendapat diatas, pengelolaan penanganan pengaduan masyarakat sebagai bagian dari manajeman pembangunan TRIDAYA merupakan bagian penting dalam proses capacity building dan pemberdayaan masyarakat sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan program dalam upaya mencapai tujuannya yaitu masyarakat mandiri yang secara bertahap akan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

2.1.3.2. Penerimaan Pengaduan,

Informan yang memberikan jawaban penerimaan pengaduan sudah sesuai dengan prosedur P2KP di tiga kelurahan lokasi penelitian di Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo tidak ada. Informan yang menjawab bahwa penerimaan pengaduan belum sesuai dengan prosedur P2KP di Kota Bengkulu 57,80% di Kota Pasuruan 48,57% dan di Kota Gorontalo 47,19%. Dalam penerimaan pelaporan jawaban informan di Kota Bengkulu menunjukan kenaikan 9,29% artinya informasi yang diterima atau diketahui warga masyarakat mengenai penerimaan pengaduan lebih tingi dibandingkan dengan informasi yang diterima oleh masyarakat mengenai pengelolaan penanaganan pengaduan masyarakat, sementara di Kota pasuruan dan di Kota Gorontalo informasi yang diterima oleh masyarakat sama dengan pengelolaan penanaganan pengaduan masyarakat, sebagaimana hasil temuan di lokasi penelitian informan yang menjawab tidak tahu mengenai penerimaan pelaporan di Kota Bengkulu adalah 42,20%, di Kota Pasuruan 51,43% dan di Kota Gorontalo 52,81%. Pengaduan dari warga masyarakat pada umumnya diterima oleh para Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat dilingkungan tempat tinggal pelapor. Masyarakat, khususnya warga miskin

“Masyarakat
warga
yang
dibangun
dalam
P2KP
adalah
himpunan
masyarakat
yang
 memiliki
cirri‐ciri
sukarela,
kesetaraan,
kemitraan,
inklusif,
demokratik,
mandiri,
otonom,
 proaktif,
bersemangat

saling
membantu,
menghargai
kesatuan
dalam
keragaman
dan
 kedamaian.”
 Pedoman
Umum
P2KP
Tahun
2005
 


tidak ada yang langsung datang melaporkan masalahnya ke Sekretariat BKM secara tatap muka, menulis pengaduan dan memanfaatkan kotak pengaduan. Masyarakat melaporkan masalahnya ‘melalui’ para ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan Unit Pengelola yang dinilai dapat menampung serta menyalurkan aspirasinya kepada PK-BKM. Dengan kondisi seperti ini yang merata di semua kelurahan, seperti ada jarak antara PK-BKM dengan warga masyarakat terutama warga miskin dalam melakukan komunikasi, baik ia selaku penerima manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan maupun warga masyarakat (miskin) calon penerima manfaat.

Penerimaan pengaduan masyarakat oleh para Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat ini telah ,membudaya’. Warga masyarakat miskin telah terbiasa menyampaikan masalahnya kepada para Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat berkaitan dengan permasalahan lingkungan sosial. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa pengaduan masyarakat disalurkan menggunakan perwakilan melalui peran elit di tingkat kelurahan. Elit kelurahan ini terbentuk sejalan dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk dalam lingkungan kelurahan dan semakin banyak program yang masuk ke tingkat kelurahan yang memerlukan pembagian kerja diantara warga masyarakat nya. Menurut pendapat Suzanne Keller (1995:87) mengenai golongan elit adalah :

“Golongan elit berkembang disebabkan oleh empat proses sosial yang utama : (1) pertumbuhan penduduk; (2) pertumbuhan spesialisasi jabatan; (3) pertumbuhan organisasi formal atau birokrasi; dan (4) perkembangan keragaman moral. Dengan berjalannya keempat proses itu, kaum elit pun menjadi semakin banyak, semakin beraneka ragam dan lebih bersifat otonom.”

“Elit yang dimaksud oleh Aristoteles adalah pemimpin –pemimpinnya bukan hanya kaum elit politis tetapi juga semua mereka yang tindakan dan usahanya berorientasi untuk mengamankan dan memajukan kepentingan-kepentingan masyarakat. Dalam hal ini mereka adalah menyerupai gabungan dari para pemimpin politik, ekonomi, moral dan budaya dari zaman kita sendiri.”(Suzanne Keller, 1995:6)

“Kelompok elit non-pemerintah dibagi dalam tiga tipe.Tipe pertama adalah berdasarkan hirarki dari kekayaan; tipe elit kedua berdasarkan kelas ekonomi; dan tipe elit ketiga berdasarkan status sosial.” (Gerain Parry, 1969:26).

Elit yang ditemui di enam kelurahan lokasi penelitian cukup beragam terdiri dari tiga tipe elit sebagaimana dikemukakan oleh Gerain Parry, seperti aktivis pemuda, aktivis partai dan ormas, pendidik, pemuka adat, pemuka agama, ketua kelompok perempuan, Ketua PKK, Ketua RT/RW, pegawai negeri, dosen, relawan dan lainnya. Sejalan dengan perannya selaku elit di tingkat kelurahan, para Ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan relawan ini menjadi tumpuan bagi masyarakat dalam menampung dan menyalurkan aspirasinya kepada PK-BKM.

Berdasarkan
pendapat
diatas,
elit
dapat
didefinisikan
;
“sebagai
pemimpin‐pemimpin
yang
 tindakannya
dan
usahanya
berorientasi
untuk
mengamankan
dan
memajukan


kepentingan‐kepentingan
masyarakat
yang
berasal
dari
berbagai
status
sosial.”


2.1.3.3. Pencatatan dan Pendistribusian,

Informan yang memberikan jawaban bahwa pencatatan dan pendistribusian telah sesuai dengan prosedur P2KP di tiga kota lokasi penelitian tidak ada. Sementara Informan yang menjawab bahwa pencatatan dan pendistribusian pengaduan masyarakat belum sesuai dengan prosedur P2KP di Kota Bengkulu 54.13%, di Kota Pasuruan 49.52% dan di Kota Gorontalo 47,19%. Sementara informan yang menjawab tidak tahu mengenai pencatatan dan pendistribusian pengaduan masyarakat di Kota Bengkulu 49,66%, di Kota Pasuruan 50,485 dan di Kota Gorontalo 52,81%. Berdasarkan pendapat informan diatas, di kelurahan lokasi penelitian Tipologi Kota Sedang memeiliki kecenderungan yang sama sbagai berikut :

Pertama, pencatatan pengaduan masyarakat belum dilaksanakan di enam kelurahan tipologi

kota sedang. Kedua, PK-BKM tidak memahami bahwa penanganan pengaduan masyarakat bagian dari pengelolaan/manajemen pelaksanaan pembangunan partisipatif melalui pendekatan TRIDAYA di kelurahannya. Ketiga, salah satu kendala belum dilaksanakannya pencatatan dan pendistribusian pengaduan masyarakat oleh BKM adalah tidak tersedianya Blanko Format Pengaduan dan Buku Catatan Pengaduan. Keempat, pendokumentasian pengaduan masyarakat dicatat seperlunya pada buku catatan masing-masing penerima pengaduan (Ketua RT/RW, Unit Pengelola/UPK/UPLdan UPS), selanjutnya dilaporkan kepada PK-BKM juga secara lisan.

2.1.3.4. Penanganan pengaduan,

Informan yang menjawab penanganan pengaduan masyarakat sudah sesuai dengan prosedur P2KP tidak ada, sementra informan yang menjawab penanganan pengaduan masyarakat belum sesuai dengan prosedur P2KP di Kota Bengkulu 47,71%, di Kota Pasuruan 49,52% dan di Kota Gorontalo 47,19%. Informan yang memberikan jawaban tidak tahu di kota Bengkulu 52,29% di Kota Pasuruan 50,48% dan di Kota Gorontalo 52,81%. Dengan demikian dapat ditafsirkan sebagai berikut : Pertama, penanganan pengaduan masyarakat belum dilaksanakan sesuai dengan prosedur P2KP, antara lain seperti : pengklasifikasian masalah, investigasi, konfirmasi, rekomendasi dan informasi. Hasil investigasi yang dilakukan oleh Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) harus dikonfirmasikan kepada pihak terkait yang tepat. Selanjutnya dari hasil konfirmasi, UPM membuat rekomendasi kepada pihak yang berwenang menangani masalahnya. Kedua, tingginya masyarakat yang tidak mengetahui penanganan pengaduan masyarakat dalam P2KP dapat diinterpretasikan bahwa masyarakat belum mendapatkan informasi tentang penanganan pengaduan masyarakat sebagai ’ruang’ bagi masyartakat untuk menyampaikan pendapat, saran, dan usulan serta

“Salah
satu
kendala
bagi
kami
adalah
sering
berganti‐gantinya
Fasilitator
Kelurahan,


sehingga
proses
pendampingan
terputus
dan
tidak
berkelanjutan.
Fasilitator
kelurahan
 baru
sebagai
pengganti

membutuhkan
waktu
untuk
adaptasi
dalam
memberikan
 pendampingan,
dan
banyak
diantaranya
yang
belum
mengikuti
pelatiha
dasar
(Peldas).”


“Penanganan
pengaduan
masyarakat
dilaksanakan
oleh
PK‐BKM
secara
kolektif,
dengan
 demikian
semua
unsure
pimpinan
kolektif
terlibat
dalam
upaya‐upaya
penyelesaiannya,

 teknis
pelaksanaanya
ditangani
secara
proporsional
sesuai
dengan
pengaduan
yang
 masuk
ke
BKM”
 Koordonator
PK‐BKM
Kelurahan
Kandang
Kota
Bengkulu
 


pengaduan (complaint) yang berkaitan dengan pembangunan TRIDAYA dilingkungan kelurahannya.

Menurut pendapat Koordinatot PK-BKM di Kelurahan Kandang, Kota Bengkulu dan Koordinator PK-BKM Kelurahan Purworejo Kota Pasuruan, pendistribusian pengaduan masyarakat yang telah dilaksanakan menerapkan pendekatan tupoksi PK-BKM dan Unit Pengelola sebagai berikut : Pertama, bila pengaduan masyarakat sifatnya pengaduan informatif (seperti pertanyaan, saran, masukan dan lain-lain) akan diselesaikan di tingkat RT/RW, Kedua, bila pengaduan penyimpangan prosedur akan ditangani oleh Unit Pengelola terkait (UPK,UPS atau UPL). Ketiga, bila pengaduan menyangkut masalah kebijakan akan di selesaikan oleh PK-BKM. Setiap pengaduan yang masuk terutama yang manyangkut masalah penyimpangan prosedur dan kebijakan akan di musyawarahkan oleh PK-BKM dengan melibatkan para Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat stempat. Selanjutnya PK-BKM menugaskan Unit Pengelola terlait untuk menangani pengaduan tersebut atau PK-BKM sendiri yang menyelesaikan penanganan pengaduan yang bersifat kebijakan.

2.1.3.5. Dokumentasi dan Sosialisasi Hasil

Di Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo tidak ada informan yang menjawab BKM telah melaksanakan pendokumentasian dan sosialisasi hasil penanganan pengaduan masyarakat. Di Kota Bengkulu informan yang menjawab belum ada dokumentasi PPM 58,78%, di Kota Pasuruan 49,52% dan di Kota Gorontalo 47,19%. Sementara informan yang menjawab tidak tahu di Kota Bengkulu 58,78%, di Kota Pasuruan 50,48% dan di Kota

Mekanisme
 penanganan
 pengaduan,
 pada
 dasarnya
 dilakukan
 melalui
 proses
 investigasi,
konfirmasi,
rekomendasi
dan
informasi.
Hasil
investigasi
yang
dilakukan
oleh
 Unit
 Pengaduan
 Masyarakat
 (UPM)
 harus
 dikonfirmasikan
 kepada
 pihak
 terkait
 yang
 tepat.
 Selanjutnya
 dari
 hasil
 konfirmasi,
 UPM


 membuat
 rekomendasi
 kepada
 pihak


yang
berwenang
menangani
masalahnya.


Gorontalo 52,81%. Berdasarkan deskripsi diatas, pendokumentasian dan sosialisasi hasil PPM di ketiga kota lokasi penelitian memiliki kecenderungan yang sama yaitu belum dilaksanakan. Belum dilaksanakannya pendokumentasian dikarenakan : Pertama, dengan belum dibentuknya Unit pengelola PPM, tidak ada yang ditugaskan untuk menanganani pencatatan dan dokumentasi pengaduan masyarakat. Pengaduan masyarakat diterima melalui para wakil masyarakat (Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat) secara lisan (verbal). Kedua, tidak tersedianya Blanko Format Pengaduan dan Buku Catatan Pengaduan di sekretariat BKM menyebabkan tidak terbangunnya tanggung jawab untuk mencatat dan mendokumentasikan setiap pengaduan yang masuk ke BKM. Ketiga, waktu pendampingan tim faskel di kelurahan sangat kurang, pada umumnya faskel datang ke kalurahan menyampaikan format yang harus diisi oleh BKM untuk kepentingan proyek dan banyak diantara faskel yang tidak memberikan pendampingan sesuai tupoksinya dan dalam memberikan tugas kepada BKM lebih bersifat instruktif. Keempat, informan yang menjawab belum dilakukan pendokumentasian rata-rata 54,02% menunjukan bahwa warga masyarakat di kelurahan lokasi penelitian di Tipologi Kota Sedang pada umumnya tidak mengetahui pendokumentasian dan sosialisasi hasil PPM.

Bila pernyataan informan bahwa pendampingan yang dilaksanakan oleh tim faskel sebagaimana dikemukakan diatas, maka terdapat kesalahan dalam memberikan pendampingan di tingkat kelurahan. Menurut pendapat Edi Suharto, PhD (dalam bahan

bacaan pelatih dalam meningkatkan kemampuan (capacity building) para pendamping sosial keluarga miskin pada proyek ujicoba model pemandu di lampung, jateng dan NTB, 2007):

“Pendampingan sosial sangat menentukan keberhasilan program penanggulangan kemiskinan. Mengacu kepada Ife (1995), peran pendamping umumnya mencakup tiga peran utama , yaitu : fasilitator, pendidik, perwakilan masyarakat, dan peran-peran teknis bagi masyarakat miskin yang didampinginya.” (Edi Suharto, 2007)

2.1.3.6. Pelaporan PPM

Laporan penanganan pengaduam masyarakat di tingkat kelurahan di Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo belum dibuat secara khusus oleh BKM. Berdasarkan hasil pengumpulan informasi di tiga kota tipologi sedang memiliki kecenderunagn yang sama mengenai Laporan PPM. Pertama, informan yang menjawab Laporan PPM sudah diibuat di tingkat kelurahan tidak ada atau 0,00%. Berdasarkan pendapat diatas, informan dari unsur

“Waktu
pendampingan
tim
faskel
di
kelurahan
sangat
kurang,
pada
umumnya
faskel
 datang
ke
kalurahan
menyampaikan
format
yang
harus
diisi
oleh
BKM
untuk
kepentingan
 proyek
dan
banyak
diantara
faskel
yang
tidak
memberikan
pendampingan
sesuai


tupoksinya
dan
dalam
memberikan
tugas
kepada
BKM
lebih
bersifat

instruktif.”


pelaku P2KP yaitu Pimpinan Kolektif BKM sendiri menjawab bahwa belum dibuat laporan PPM secara khusus dalam pengertian terpisah dari Laporan BKM. Laporan mengenai penanganan pengaduan masyarakat yang telah dibuat menjadi bagian dari Laporan BKM.

Kedua, informan yang memberikan jawaban Laporan PPM belum dibuat sesuai dengan

prosedur P2KP di Kota Bengkulu 53,21%, di Kota pasuruan 49,52% dan di Kota Gorontalo 47,19%, memberikan gambaran bahwa disamping laporan PPM belum diabuat, prosentasi masyarakat pada umumnya yang mendapat informasi mengenai penanganan pengaduan masyarakat di tingkat kelurahan lebih tinggi di Kota Bengkulu disusul oleh Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo. Ketiga, informan yang memberikan jawaban tidak tahu di Kota Bengkulu adalah 46,79%, di Kota Pasuruan 50,48% dan di Kota Gorontalo 52,81%, dapat diinterpretasikan bahwa informasi mengenai pelaporan PPM dan pengelolaan penangaduan pengaduan masyarakat belum sampai kepada masyarakat secara merata, di Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo lebih dari 50,00% warga masyarakat tidak tahu mengenai laporan PPM khususnya dan tidak tahu ada penanganan pengaduan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan TRIDAYA.

Berdasarkan persepsi informan kunci ti tingkat kelurahan terhadap indikator-indikator Penerapan Prosedur dalam Penerapan Sistem Penanganan Pengaduan Masyarakat diatas, dapat diinterpretasikan bahwa Penanganan Pengaduan Masyarakat sebagaimana tertuang dalam Pedoman umum P2KP dan Pedoman Teknis P2KP belum diterapkan dalam implementasi pembangunan TRIDAYA di tingkat kelurahan, dengan penjelasan sebagai berikut : (1) Unit Pengelola PPM di tingkat kelurahan/BKM dari enam kelurahan lokasi penelitian baru di Kelurahan Biawao yang telah terbentuk, akan tetapi belum berjalan dikarenakan PK-BKM yang aktif hanya 6 (enam) orang. Dengan belum dibentuknya Unit Pengelola PPM, berimlikasi kepeda pengelolaan PPM secara umum di tingkat kelurahan; (2) Penerimaan pengaduan masyarakat, di enam kelurahan lokasi penelitian memiliki kecenderunagn yang sama, yaitu dilakukan warga masyarakat, khususnya rumah tangga miskin melalui perwakilan kepada elit di lingkungan tempat tinggalnya. Warga miskin tidak menyampaikan pengaduannya secara langsung datang ke Sekretariat BKM melalui tatap muka, atau tertulis. Dengan demikian penerimaan pengaduan masyarakat di tingkat BKM lebih banyak dari para elit sebagai penyambung lidah warga miskin; (3) Pencatatan dan Pendistribusian pengaduan masyarakat baru dilaksankan sesuai dengan pemahaman PK-BKM di masing-masing kelurahan lokasi penelitian. Kendala utama dalam pencatatan pengaduan masyarakat adalah tidak tersedianya sarana dan prasarana penanganan pengaduan masyarakat, seperti : (a) Kotak Pengaduan hanya ditemui di Kelurahan Kandang dan Kelurahan Sukarami Kota Bengkulu, Kelurahan Bangilan dan Kelurahan Purworejo Kota Pasuruan dalam keadaan kosong tidak dimanfaatkan oleh warga masuarakat, (b) Blanko Format Pengaduan dan Buku Catatabn Pengaduan pada saat penelitian dilaksanakan tidak ditemui di semua kelurahan lokasi penelitian. Pendistribuasian penanganan pengaduan masyarakat dilakukan dari elit ke BKM sebagai laporan pengaduan, dan dari BKM ke Unit Pengelola dalam upaya penanganan penyelesaian pengaduan; (4) Penanganan pengaduan masyarakat diselesaikan berdasarkan sifat pengaduan yang masuk, yaitu bila sifat pengaduan adalah informatif dan dapat diselesaikan di tingkat komunitas oleh elit akan diselesaikan di tingkat komunitas. Bila sifat pengaduan penyimpangan prosedur, PK-BKM melalui musyawarah akan menunjuk/menugaskan Unit Pengelola terkait untuk menyelesaikan didampingi elit setempat. Bila sifat pengaduan menyangkut kebijakan dan atau penyimpangan Dana BLM ditangani oleh PK-BKM bersama Unit Pengelola dan elit di tingkat kelurahan maupun di level

diatasnya; (5) Sosialisasi hasil progres, pada umumnya di enam kelurahan lokasi penelitian di tipologi kota sedang belum dilakukan kepada masyarakat pada umumnya. Sosialisasi hasil dilaksanakan melalui pendekatan perwakilan kepada para elit di tingkat kelurahan seperti para Ketua RT/RW, toma, toga, tokoh adat, dll; (6) Pelaporan PPM belum dilaksanakan secara khusus, dalam pengertian terpisah dari laporan bulanan BKM sebagai bahan laporan MIS bagi Tim Faskel dan pengelola p2KP dilevel diatasnya. Laporan Pengaduan Masyarakat yang sudah dibuat oleh BKM adalah laporan penyimpangan Dana BLM, seperyi yang terjkadi di Kelurahan Sukarami Kota Bengkulu dan Kelurahan Bangilan di Kota Pasuruan. Laporan yang dibuat BKM terkait dengan adanya penyimpangan Dana BLM merupakan hasil investigasi yang dilakukan kepada berbagai pihak di kelurahan, seperti kepada masyarakat penerima manfaat, relawan, Unit Pengelola dan unsur PK BKM-sendiri. Laporan ini selanjutnya disampaikan kepada Tim Faskel, Lurah dan PJOK selaku pembina dan pengelola P2KP di tingkat kecamatan.

2.1.4. Penerapan Prinsip PPM

Berdasrkan pendapat informan di kelurahan tipologi kota sedang mengenai penerapan prinsip penanganan pengaduan masyarakat (PPM) dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, di kelurahan lokasi penelitian di Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gorontalo informan yang memberikan jawaban bahwa Prinsip-prinsip PPM telah diterapkan secara menyeluruh tidak ada atau 0,00%; Kedua, informan yang memberikan jawaban prinsip-prinsip penanganan pengaduan masyarakat belum dilaksanakan secara keseluruhan di Kota Bengkulu 44,95%, di Kota Pasuruan 49,52% dan di Kota Gorontalo 55,06%. Berdasarkan informasi yang disampaikan para informan di tipologi kota sedang, dapat diinterpretasikan bahwa penerapan prinsip-prinsip pananganan pengaduan masyarakat (PPM) di tiga kota yaitu Kota Bengkulu, Kota Pasuruan dan Kota Gotrontalo belum diterapkan secara menyeluruh, namun demikian prinsip-prinsip yang telah diterapkan dalam penanganan pengaduan masyarakat di ketiga kota diatas antara lain adalah kemudahan, partisipatif, cepa, proporsional, obyektif dan aman. Ketiga, tingginya informan yang memberikan jawaban tidak tahu mngenai penerapan prinsip-prinsip penanganan pengaduan masyarakat, dikarenakan masyarakat secara umum belum mendapatkan informasi mengenai penangananan pengaduan masyarakat secara keseluruhan, Sosialisasi Penanganan Pengaduan Pengaduan di ketiga kota tipologi sedang ini baru dilaksanakan di tingkat pelaku P2KP yang terdiri dari PK-BKM, Unit Pengelola dan para elit di tingkat kelurahan, yang menyebabkan terputusnya informasi kepada masyarakat. Untuk mendapatkan gambaran perbandingan pendapat informan mengenai penerapan prinsip PPM di tipologi kota sedang dapat dilihat pada Gambar.3.98. diatas.

Dalam dokumen K A T A P E N G A N T A R (Halaman 159-167)