PERUSAHAAN KREDITOR
4. Pertimbangan hukum majelis hakim
Bahwa keberatan-keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena keberatan-keberatan tersebut berisi pengulangan terhadap hal-hal yang telah dipertimbangkan oleh Judex Facti sehingga beralasan untuk dikesampingkan setelah meneliti secara saksama memori kasasi dan kontra memori kasasi dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, Mahkamah Agung berpendapat putusan Judex Facti tidak salah menerapkan hukum, dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Pada pokok perkara dalam permohonan a quo adalah mengenai tindakan Termohon yang mengakui tagihan Pemohon Kasasi terhadap PT Geo Cepu Indonesia (Debitor Pailit) sejumlah US$400,000.00 (empat ratus ribu dollar Amerika Serikat) dan menolak mengakui tagihan lainnya yaitu sejumlah US$1,662,879.01 (satu juta enam ratus enam puluh dua ribu delapan ratus tujuh puluh sembilan koma nol satu dollar Amerika Serikat), US$ 1,500,000.00 (satu juta lima ratus ribu dollar Amerika Serikat), serta Rp1.065.631.310,14 (satu miliar enam puluh lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu tiga ratus sepuluh koma empat belas rupiah);
2. Bahwa Judex Facti pada pokoknya berpendapat bahwa sesuai dengan hasil rapat pencocokan piutang dalam rapat Kreditor dan persidangan renvoi prosedur tanggal 18 Januari 2018 tagihan Pemohon Kasasi terhadap PT Geo Cepu Indonesia (Debitor Pailit) adalah US$400,000.00 (empat ratus ribu dollar Amerika Serikat);
3. Bahwa Pemohon Kasasi tidak sependapat dan mendalilkan pada pokoknya bahwa Judex Facti tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap dalil serta bukti yang diajukan oleh Pemohon Kasasi yang menunjukkan bahwa 3 (tiga) tagihan Pemohon Kasasi lainnya sebagaimana diurai dalam keberatan a quo adalah tagihan sah berdasarkan Undang-Undang dan Perjanjian yang sah;
4. Bahwa Mahkamah Agung berpendapat bahwa putusan Judex Facti sudah tepat dan benar karena tagihan-tagihan tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat dan sah, tidak beralasan, serta tidak obyektif karena tiga tagihan dimaksud hanya
didasarkan pada hasil audit internal Pemohon Kasasi secara sepihak bukan hasil audit bersama antara tim audit internal dan tim audit independen;
5. Bahwa karena itu sudah tepat keberatan Pemohon Kasasi dalam perkara a quo adalah tidak berdasar alasan sah.
Oleh karena itu pertimbangan hukum majelis hakim selanjutnya menyatakan karena penambahan jumlah hutang yang diajukan oleh kreditor PT. Pertamina EP tersebut hanya didasarkan kepada hasil perhitungan yang dilakukan oleh audit internal PT Pertamina EP, yang meskipun memiliki kewenangan dalam menjaga dan memelihara aset negara termasuk utang / piutang perusahaan kepada pihak lain, namun hasil perhitungan dari audit internal tersebut tidak dikonfirmasikan atau tidak diverifikasi terlebih dahulu dengan audit internal PT Geo Cepu Indonesia selaku debitor pailit serta dengan kurator sehingga hasil perhitungan penambahan hutang yang dilakukan oleh audit internal PT Pertamina EP tersebut dianggap tidak sah dan mengandung unsur ketetapan sepihak yang dilakukan oleh audit internal PT Geo Cepu Indonesia. Oleh karena itu renvoi prosedur tersebut tidak berdasarkan ketentuan hukum yang sah dan harus ditolak dalam permohonan kasasi kreditor PT Pertamina EP selaku kreditor tersebut yang diajukan ke Mahkamah Agung.
5. Analisis putusan Pengadilan Niaga No. 27/Pdt.Sus-PKPU/2016/PN Niaga Jkt.
Pst.
Putusan Pengadilan Niaga No. 27/Pdt.Sus-PKPU/2016/PN Niaga Jkt. Pst yang menyebutkan bahwa
1. Mengabulkan Permohonan Pemohon sebagian;
2. Menyatakan nilai tagihan Pemohon adalah USD400.000 (empat ratus ribu dollar Amerika Serikat);
3. Memerintahkan Termohon untuk mencatat tagihan Pemohon tersebut ke dalam Daftar Piutang Tetap;
4. Membebankan biaya perkara ini kepada boedel pailit adalah sudah tepat karena tidak memasukkan tiga tagihan dari PT Pertamina EP sebesar Rp 19.954.548.120 (sembilan belas milar sembilan ratus lima puluh empat juta lima ratus empat puluh delapan ribu koma seratus dua puluh rupiah). Hal ini disebabkan karena tiga tagihan yang diajukan oleh PT Pertamina EP kepada PT Geo Cepu Indonesia tersebut adalah tagihan yang hanya didasarkan kepada audit internal secara sepihak dari PT Pertamina EP tanpa adanya konfirmasi maupun verifikasi dengan audit internal dari PT Geo Cepu Indonesia maupun dari kurator tiga tagihan dari PT Pertamina EP tersebut ketika diajukan renvoi prosedur dalam rapat verifikasi yang dihadiri oleh kurator, hakim pengawas maupun kreditor telah ditolak persetujuannya karena tidak pernah dilakukan pemberitahuan sebelumnya atas adanya penambahan hutang tersebut kepada kurator dalam rapat pencocokan piutang sebelumnya. Namun PT Pertamina EP berdasarkan audit internal secara sepihak telah menentukan penambahan hutang tersebut yang diajukan dalam renvoi prosedur kepada kurator.
Pada dasarnya audit internal memiliki kewenangan untuk melakukan audit atas seluruh aset perusahaan termasuk piutang perusahaan kepada pihak lain. Akan
tetapi hasil perhitungan piutang perusahaan tersebut seharusnya dikonfirmasi atau diverifikasi terlebih dahulu dengan audit internal tempat dimana piutang tersebut berada, sehingga dapat dilakukan pencocokan data atas besarnya piutang dari perusahaan kreditor maupun utang dari perusahaan debitor tersebut.
Kecocokan data utang/piutang baik dari audit internal perusahaan kreditor maupun audit internal perusahaan debitor menjadi dasar hukum untuk dilakukan penagihan atas hutang – hutang tersebut melalui suatu pembuatan kesepakatan bersama atas jumlah hutang / piutang dari perusahaan kreditor maupun debitor tersebut dalam suatu pernyataan tertulis yang menjadi dasar kekuatan hukum untuk melakukan penagihan atau untuk melakukan renvoi prosedur atas jumlah hutang yang telah diakui oleh kurator, debitor pailit maupun kreditor pada rapat pencocokan piutang/utang sebelumnya.141
Namun di dalam renvoi prosedur yang dilakukan oleh PT Pertamina EP atas tiga tagihan yang menjadi penambahan hutang bagi debitor pailit PT Geo Cepu Indonesia ditentukan secara sepihak oleh audit internal perusahaan PT Pertamina EP sehingga tidak memiliki kekuatan hukum untuk dilakukan penagihan. Penetapan sepihak atas penambahan jumlah debitor pailit oleh audit internal PT Pertamina EP menurut pendapat majelis hakim patut diragukan adalah sudah tepat pula karena dilakukan tidak berdasarkan prosedur dan tata cara penetapan jumlah hutang debitor pailit yang harus memperoleh pengesahan dalam rapat pencocokan hutang/piutang maupun rapat verifikasi terhadap renvoi prosedur yang dilakukan oleh PT Pertamina
141 E. Suherman, Faillissement (Kepailitan), (Bandung : Binacipta, 2010), hal. 17.
EP tersebut. Oleh karena itu putusan Pengadilan Niaga menolak renvoi prosedur yang diajukan oleh PT pertamina EP adalah sudah tepat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum kepailitan karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam pengajuannya.
B. Analisis Putusan Mahkamah Agung No. 617.K/Pdt.Sus.Pailit/2018 3. Pertimbangan hukum majelis hakim Mahkamah Agung
Pertimbangan hukum majelis hakim Mahkamah Agung yang menyebutkan bahwa dasar pengajuan gugatan renvoi prosedur dari kreditor PT Pertamina EP yang tidak didasarkan kepada ketentuan hukum yang berlaku karena hanya didasarkan kepada penetapan sepihak dari hasil perhitungan audit internal perusahaan kreditor PT Pertamina EP sehingga secara hukum gugatan renvoi prosedur tersebut lemah adalah sudah tepat dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini disebabkan di dalam hukum kepailitan setiap penetapan jumlah hutang debitor pailit harus melalui suatu rapta pencocokan hutang dan harus disetujui oleh kurator debitor pailit maupun kreditor. Apabila renvoi prosedur tersebut tidak memperoleh persetujuan dari kurator maupun debitor pailit di dalam rapat pencocokan piutang / hutang maka penetapan jumlah hutang tersebut tidak sah dan dipandang tidak ada karena tidak diakui keberadaannya oleh kurator yang memiliki kewenangan dalam pemberesan harta pailit maupun oleh debitor pailit.
Penambahan jumlah hutang yang diajukan oleh PT Pertamina EP dalam suatu renvoi prosedur terhadap tiga item hutang yaitu :
1. Piutang atas Biaya Penanganan Pasca Operasi dan Kegiatan Pemulihan Lingkungan (Abandonment & Site Restoration Costs) sebesar US$1,662,879.01 (satu juta enam ratus enam puluh dua ribu delapan ratus tujuh puluh sembilan koma nol satu dollar Amerika Serikat) atau sekitar Rp 19.954.548.120 (sembilan belas milar sembilan ratus lima puluh empat juta lima ratus empat puluh delapan ribu koma seratus dua puluh rupiah);
2. Piutang Garansi Bank atas Jaminan Komitmen Pasti sebesar US$1,500,000.00 (satu juta lima ratus ribu dollar Amerika Serikat) Rp 18.000.000.000 (delapan belas milyar rupiah);
3. Piutang atas aktivitas pencatatan dan pelaporan arus minyak sebesar Rp 1.065.631.310,14 (satu miliar enam puluh lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu tiga ratus sepuluh koma empat belas rupiah); sehingga penambahan hutan dari debitor pailit dalam pengadilan renvoi prosedur yang diajukan oleh PT Pertamina EP menjadi Rp 39.020.179.430.14 (tiga puluh sembilan milyar dua puluh juta seratus tujuh puluh sembilan ribu empat ratus tiga puluh koma empat belas rupiah), yang didasarkan kepada hasil perhitungan audit internal tidak pernah dilakukan pemberitahuan ataupun konfirmasi serta verifikasi kepada audit internal debitor pailit maupun kepada perusahaan PT Geo Cepu Indonesia, sehingga PT Geo Cepu Indonesia tidak merasa memiliki hutang terhadap tiga item hutang yang diajukan oleh PT Pertamina EP dalam renvoi prosedur tersebut.
Dengan demikian penetapan penambahan hutang yang dilakukan PT Pertamina EP berdasarkan hasil audit internal tersebut dinyatakan sebagai penetapan
sepihak yang patut diragukan kebenarannya sehingga tidak diakui oleh kurator maupun debitor pailit.
4. Analisis Putusan Mahkamah Agung No. 617.K/Pdt.Sus.Pailit/2018
Majelis hakim Mahkamah Agung dalam putusannya No.
617.K/Pdt.Sus.Pailit/2018 mengeluarkan putusan
a. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PT Pertamina EP tersebut;
b. Menghukum Pemohon Kasasi/Pemohon untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi yang ditetapkan sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) Putusan Mahkamah Agung tersebut di atas adalah sudah tepat dengan memperhatikan pertimbangan hukum yang disampaikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 27/Pdt.Sus-PKPU/2016/PN Niaga Jkt. Pst dimana Mahkamah Agung sependapat dengan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut yang menyebutkan bahwa renvoi prosedur yang diajukan PT Pertamina EP yang hanya didasarkan kepada perhitungan sepihak dari audit internal perusahaan PT Pertamina EP tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum. Audit internal yang melakukan perhitungan hutang / piutang perusahaan harus terlebih dahulu melakukan konfirmasi terhadap audit internal perusahaan debitor pailit atas hasil perhitungan hutang yang telah ditentukan oleh audit internal perusahaan PT Pertamina EP.
Penambahan jumlah hutang baru dipandang sah dan memiliki kekuatan hukum apabila audit internal perusahaan kreditor dan audit internal perusahaan debitor pailit telah sepakat dalam menetapkan penambahan jumlah hutang yang diajukan dalam renvoi prosedur tersebut. Namun pada kenyataannya prosedur
penetapan jumlah hutang yang dilakukan oleh audit internal PT Pertamina EP tidak melakukan konfirmasi atau verifikasi dengan audit internal perusahaan debitor pailit yaitu PT Geo Cepu Indonesia.
Penetapan sepihak penambahan jumlah hutang yang dilakukan PT pertamina EP berdasarkan hasil perhitungan sepihak audit internal perusahaan patut diragukan karena tidak dilaksanakan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di bidang kepailitan. Mahkamah Agung yang menolak renvoi prosedur dari PT Pertamina EP tersebut adalah sudah tepat dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum kepailitan yaitu ketentuan Pasal 115, 116, 117, 118 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU dimana hasil perhitungan ulang dari audit internal tersebut harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari audit internal debitor pailit maupun oleh debitor pailit itu sendiri dan juga oleh kurator, agar dapat memperoleh persetujuan dalam hal renvoi prosedur tersebut.
Pertimbangan majelis hakim Mahkamah Agung selanjutnya menyatakan bahwa renvoi prosedur yang dilakukan oleh audit internal PT. Pertamina EP telah menyalahi prosedur perubahan jumlah hutang / piutang dari debitor pailit maupun kreditor dengan tidak terlebih dahulu melakukan konfirmasi maupun verifikasi kepada debitor pailit melalui audit internal serta dengan kurator sehingga renvoi tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 115-118 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU tersebut.
C. Kepastian hukum ketentuan Renvoi prosedur dalam putusan Mahkamah Agung No.617.K/Pdt.Sus.Pailit/2018
Teori kepastian hukum meliputi dua hal yaitu, kepastian hukum dalam perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya baik dari pasal-pasal undang-undang itu secara keseluruhan maupun kaitannya dengan pasal-pasal lainnya yang berada di luar undang-undang tersebut.
Kedua, kepastian hukum juga berlaku dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip-prinsip hukum undang-undang tersebut.142
Kepastian hukum itu harus meliputi seluruh bidang hukum. Kepastian hukum tidak saja meliputi kepastian hukum secara substansi tetapi juga kepastian hukum dalam penerapannya (hukum acara) dalam putusan-putusan badan peradilan. Antara kepastian substansi hukum dan kepastian penegakan hukum seharusnya harus sejalan, tidak boleh hanya kepastian hukum bergantung pada law in the books tetapi kepastian hukum yang sesungguhnya adalah bila kepastian dalam law in the books tersebut dapat dijalankan sebagaimana mestinya sesuai dengan prinsip-prinsip dan norma-norma hukum dalam menegakkan keadilan hukum.143
Putusan Mahkamah Agung No617.K/Pdt.Sus.Pailit/2018 menimbulkan suatu kepastian hukum terhadap renvoi prosedur yang diajukan oleh perusahaan kreditor PT Pertamina EP. Kepastian hukum yang dimaksud adalah bahwa suatu penambahan jumlah utang yang diajukan oleh kreditor PT Pertamina EP yang didasarkan kepada
142RochmatSoemitro, Yayasan Status Hukum dan Sifat Usaha,(Bandung :Aditya Bakti, 2010), hal. 76
143Kusno Sudarmanto, Hukum dan Keadilan, (Jakarta : Pradnya Paramita, 2011), hal. 19
hasil perhitungan sepihak audit internal perusahaan tidak dapat dijadikan dasar hukum untuk mengajukan renvoi prosedur. Hasil perhitungan audit internal PT Pertamina EP tersebut baru memiliki kekuatan hukum apabila hasil perhitungan audit internal perusahaan PT Pertamina EP tersebut telah dilakukan konfirmasi maupun verifikasi terhadap audit internal perusahaan debitor pailit maupun terhadap kurator serta debitor pailit itu sendiri untuk memperoleh suatu pengakuan dan persetujuan agar dapat menimbulkan suatu kepastian hukum dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu putusan Mahkamah Agung tersebut menimbulkan suatu ketentuan hukum yang menyebutkan bahwa hasil audit internal suatu perusahaan yang belum dikonfirmasi atau belum di verifikasi kepada audit internal tempat dimana piutang tersebut berada maupun terhadap perusahaan debitor pailit maupun kurator sebelumnya tidak dapat dijadikan dasar hukum dalam mengajukan gugatan renvoi prosedur atas sanggahan terhadap penambahan jumlah hutang yang ditentukan oleh kreditor terhadap debitor pailit tersebut.
Berdasarkan ketentuan Pasal 115 Undang-Undang Kepailitan menyebutkan bahwa
(1) Semua Kreditor wajib menyerahkan piutangnya masing-masing kepada Kurator disertai perhitungan atau keterangan tertulis lainnya yang menunjukkan sifat dan jumlah piutang, disertai dengan surat bukti atau salinannya, dan suatu pernyataan ada atau tidaknya Kreditor mempunyai suatu hak istimewa, hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak untuk menahan benda.
(2) Atas penyerahan piutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kreditor berhak meminta suatu tanda terima dari Kurator.
Pasal 116 Undang-Undang Kepailitan (1) Kurator wajib:
a. mencocokkan perhitungan piutang yang diserahkan oleh Kreditor dengan catatan yang telah dibuat sebelumnya dan keterangan Debitor Pailit; atau b. berunding dengan Kreditor jika terdapat keberatan terhadap penagihan
yang diterima.
(2) Kurator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak meminta kepada Kreditor agar memasukkan surat yang belum diserahkan, termasuk memperlihatkan catatan dan surat bukti asli.
Pasal 117
Kurator wajib memasukkan piutang yang disetujuinya ke dalam suatu daftar piutang yang sementara diakui, sedangkan piutang yang dibantah termasuk alasannya dimasukkan ke dalam daftar tersendiri.
Pasal 118
(1) Dalam daftar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117, dibubuhkan pula catatan terhadap setiap piutang apakah menurut pendapat Kurator piutang yang bersangkutan diistimewakan atau dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak untuk menahan benda bagi tagihan yang bersangkutan dapat dilaksanakan.
(2) Apabila Kurator hanya membantah adanya hak untuk didahulukan atau adanya hak untuk menahan benda, piutang yang bersangkutan harus dimasukkan dalam daftar piutang yang untuk sementara diakui berikut catatan Kurator tentang bantahan serta alasannya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 115 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepaitan dan PKPU bahwa kreditor wajib menyerahkan seluruh catatan piutangnya kepada kurator disertai dengan bukti-bukti yang autentik untuk menguatkan kedudukan piutang kreditor pada rapat pencocokan piutang. Kurator juga wajib untuk melakukan pencocokan hutang / piutang yang ada pada catatan kreditor maupun yang ada catatan debitor sehingga terdapat persamaan jumlah hutang / piutang yang ada pada catatan debitor pailit, kreditor maupun kurator. Setiap pengajuan renvoi prosedur juga harus terlebih dahulu dilakukan pencocokan perubahan jumlah piutang tersebut kepada debitor pailit maupun kepada kurator untuk memperoleh persetujuan
dari debitor pailit maupun dari kurator sehingga perubahan jumlah piutang kreditor tersebut diterima atau disetujui dalam rapat pencocohan hutang/piutang kreditor / debitor pailit bersama dengan kurator.
Pengajuan gugatan renvoi prosedur ke Pengadilan Niaga dalam praktek pelaksanaanya kreditor harus mengumpulkan data-data / fakta-fakta hukum untuk menguatkan perubahan jumlah piutang yang diajukan oleh kreditor dalam gugatan penetapan renvoi prosedur tersebut ke Pengadilan Niaga. Putusan Pengadilan Niaga terhadap penetapan renvoi prosedur dapat diajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan dapat pula dilakukan peninjauan kembali atas putusan pengadilan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap apabila terdapat novum atau bukti baru yang mendukung gugatan renvoi prosedur tersebut oleh kreditor.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa untuk pelaksanaan penetapan jumlah utang / piutang debitor pailit maupun kreditor apabila terjadi gugatan terhadap penetapan renvoi prosedur oleh debitor pailit maupun kreditor, maka kurator harus menunggu putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap terhadap jumlah utang / piutang debitor pailit maupun kreditor yang mengandung unsur kepastian hukum, sehingga berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tersebut dapat dilaksanakan pemberesan terhadap harta pailit oleh kurator dalam upaya melaksanakan pembayaran hutang – hutang debitor pailit kepada para kreditornya.144
144 Wawancara dengan Nurdin Sipayung Kurator Medan, pada hari Rabu, tanggal 10 Juli 2019 di ruang kerjanya
Penetapan secara sepihak oleh audit internal dari kreditor PT. Pertamina EP pada dasarnya telah melanggar ketentuan Pasal 115, 116, 117 dan 118 dimana audit internal perusahaan pertamina EP tidak terlebih dahulu melakukan konfirmasi terhadap perubahan jumlah piutang kreditor PT. Pertamina EP tersebut kepada debitor pailit maupun kepada kurator sehingga tidak diakui oleh debitor pailit maupun kurator.
BAB V