MATERI UNDANG-UNDANG
C. MATERI MUTLAK UNDANG-UNDANG
3. Perubahan Undang-Undang
Seperti halnya dengan pencabutan, perubahan atas sesuatu undang-undang juga merupakan materi undang-undang atau setidak-tidaknya merupakan materi peraturan yang setingkat seperti Peraturan Pemerintah
100 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 94, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4226.
101 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan
Pengganti Undang-undang (Perpu). Perubahan undang- undang dilakukan (a) dengan menyisipkan atau me- nambah materi ke dalam rumusan ketentuan undang- undang; atau (b) dengan menghapus dan mengganti sebagian materi undang-undang itu. Perubahan dapat dilakukan terhadap seluruh isi atau sebagian isi undang- undang. Sebagian isi yang dapat diubah itu adalah buku, bab, bagian, paragraf, pasal, ayat, huruf, kata, istilah, kalimat, angka, dan/atau tanda baca.
Jika undang-undang yang diubah mempunyai nama singkatan, undang-undang baru yang mengubah dapat pula menggunakan nama singkatan yang sama. Pada pokoknya, batang tubuh materi undang-undang yang mengubah atau undang-undang perubahan itu cukup terdiri atas 2 (dua) ketentuan pasal. Pasal 1 me- muat judul undang-undang yang diubah dengan me- nyebutkan Lembaran Negara RI dan Tambahan Lem- baran Negara RI yang diletakkkan di antara tanda ku- rung serta memuat norma yang diubah. Jika materinya lebih dari satu, maka materi perubahan itu dirinci dengan menggunakan angka Arab 1, 2, 3, dan seterusnya. Jika perubahan itu telah dilakukan lebih dari 1 (satu) kali, maka selain mengikuti ketentuan tersebut di atas, Pasal 1 juga memuat tahun dan nomor undang- undang perubahan yang sudah ada serta Lembaran Negara RI dan Tambahan Lembaran Negara RI yang diletakkan di antara kurung dan dirinci dengan huruf- huruf abjad kecil a, b, c, d, e dan seterusnya. Jika dalam undang-undang tersebut ditambahkan atau disisipkan bab, bagian, paragraf, pasal, atau ayat yang baru, tambahan atau sisipan itu dicantumkan pada tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan.
Jika suatu pasal terdiri atas beberapa ayat sisipan ayat baru, penulisan ayat-ayat baru itu diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a, b, c yang diletakkan
di antara tanda kurung. Jika dalam undang-undang dilakukan penghapusan atas suatu bab, bagian, paragraf, pasal, atau ayat, maka urutan bab, bagian, paragraf, pasal, atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus.
Pada pokoknya, setiap perubahan undang- undang menimbulkan akibat-akibat yang serius terhadap bentuk dan isi undang-undang yang bersangkutan. Akibat yang timbul itu ialah:
a. sistematika undang-undang menjadi berubah; b. materi undang-undang itu berubah;
c. esensi norma yang terkandung di dalam undang- undang itu berubah.
Apabila perubahan itu mencakup lebih dari setengah atau 50% materi undang-undang yang bersang- kutan, maka sangat dianjurkan apabila undang-undang yang diubah itu dicabut saja, dan kemudian disusun kembali dalam undang-undang yang baru sama sekali yang mengatur hal yang sama. Demikian pula jika undang-undang yang bersangkutan telah berulang kali diubah, sehingga menyulitkan masyarakat dan para pejabat pelaksana undang-undang tersebut untuk me- mahami dan melaksanakannya, maka sebaiknya undang- undang yang bersangkutan juga dicabut saja untuk se- lanjutnya diatur kembali materinya dalam undang- undang baru yang tersendiri. Dalam undang-undang baru itu, dapat diatur dan diadakan penyesuaian se- hingga susunannya menjadi lebih baik dan sistematis, yaitu mengenai:
a. urutan bab, bagian, paragraf, pasal, ayat, angka, atau butir;
b. penyebutan-penyebutan dan istilah-istilah; serta c. ejaan-ejaan, misalnya, karena dalam undang-undang
Dengan perkataan lain, upaya penyusunan kembali berbagai materi undang-undang ataupun pe- raturan perundang-undangan yang telah berkali-kali mengalami perubahan itu dapat disebut sebagai upaya konsolidasi naskah undang-undang. Pada dasarnya u- paya konsolidasi semacam ini murni bersifat teknis dan tidak bermaksud mengubah substansi norma hukum yang diatur. Oleh karena itu, dapat timbul pemikiran, apakah untuk maksud yang semata-mata bersifat teknis demikian, upaya konsolidasi itu secara mutlak harus dituangkan dalam bentuk undang-undang? Dapatkah hal itu dilakukan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah? Misalnya, apakah memang hal itu cukup dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden saja?
Dalam UU No. 10 Tahun 2004, materi yang dapat dimuat dalam Peraturan Presiden adalah materi yang diperintahkan untuk diatur lebih lanjut oleh undang- undang atau oleh Peraturan Pemerintah. Artinya, Peraturan Presiden tidak dapat lagi seperti Keputusan Presiden dalam era Orde Baru mengatur sesuatu secara mandiri tanpa didasarkan atas perintah peraturan yang lebih tinggi. Namun, dalam praktik, dapat ditemukan adanya kebutuhan hukum (legal need) seperti tersebut di atas. Jika upaya konsolidasi perumusan ketentuan undang-undang seperti dikemukakan di atas secara objektif memang diperlukan, sementara untuk me- nuangkannya dalam bentuk undang-undang dinilai terlalu rumit dan membutuhkan waktu yang melibatkan DPR dengan resiko waktu dan biaya yang dipandang tidak efisien, maka satu-satunya kemungkinan untuk mengaturnya secara lebih sederhana ialah melalui Peraturan Presiden.
Jika kita merujuk kepada Undang-Undang No. 10 Tahun 2004, ketentuan Pasal 11 menentukan, “Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang
diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah”. Artinya, me- nurut Pasal 11 ini tidak mungkin kita membentuk Peraturan Presiden yang dimaksudkan untuk meng- konsolidasikan materi ketentuan berbagai undang- undang yang tersebar di beberapa naskah yang terpisah- pisah menjadi satu kesatuan naskah undang-undang. Namun, karena adanya kebutuhan hukum dalam praktik, memang sebaiknya dipertimbangkan bahwa pada saa- tnya nanti, harus dimungkinkan juga bahwa Peraturan Presiden lah yang mengkonsolidasikan aneka materi undang-undang yang terpisah-pisah itu dengan syarat bahwa yang disempurnakan benar-benar hanya terbatas kepada soal-soal yang berkenaan dengan:
a. urutan bab, bagian, paragraf, pasal, ayat, angka, atau butir;
b. penomeran, perubahan nomor, dan penulisan nomor dengan menggunakan angka Arab atau Latin; dan c. penulisan huruf miring, huruf besar dan/atau huruf
kecil;
d. penggunaan ejaan-ejaan, misalnya, karena dalam undang-undang yang lama masih dipakai ejaan-ejaan lama.