• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN PENELITIAN

4.4 Temuan Penelitian

4.4.2 Peta Persaingan Surat Kabar di Sumatera Utara

Peta persaingan koran umum lokal yang berada di wilayah Sumatera Utara saat ini padat dan kompetitif. Ada kurang lebih koran lokal 29 koran lokal di Sumatera Utara, dimana diantaranya juga merupakan koran lokal dibawah Jawa Pos grup, berikut daftar nama seluruh koran di daerah Sumut : Analisa, Andalas, Berita Sore, Gaya Medan, Gebrak, Harian Matahari, Jurnal Pemerintah, Koran Mandiri, Kupas Tuntas, Medan Bisnis, Medan Metropolitan, Medan Pos, Metro Karo, Metro Langkat, Metro Siantar, Metro Tabagsel, New Tapanuli, Portibi, Pos Metro Medan, Rakyat Tapanuli, Realitas, Siantar 24 Jam, Simantab, Sinar Indonesia Baru, Sketsa Publik News, Suara Kita, Sumatera Tenggara Pos, Tribun Medan dan Sumut Pos.

Sumut Pos sebagai koran yang membahas berita umum bermuatan lokal, melayani pembaca berdasarkan lokasi geografisnya. Persaingan dalam hal perluasan pasar kadang kala menjadi polemik tersendiri bagi Sumut Pos dikarenakan beberapa surat kabar daerah di Sumatera Utara berasal dari satu grup Jawa Pos, dimana ada ketentuan dari pusat untuk sebisa mungkin tidak bersaing dengan sesama anak perusahaan Jawa Pos grup. Koran-koran dibawah naungan Jawa Pos grup di Sumut antara lain seperti : Metro Karo, Metro Langkat, Metro Siantar, Metro Tabagsel, New Tapanuli, Portibi, oleh karena itu, koran-koran ini dapat dikatakan bukan sebagai pesaing utama dari koran Sumut Pos.

Segmentasi sasaran pasar Sumut Pos adalah para penikmat berita umum lokal di daerah Sumut, sehingga beberapa koran dengan segmentasi berbeda tidak

kriminal sensasional, yang dikenal dengan sebutan “koran kuning” seperti Pos Metro Medan yang juga merupakan anak perusahaan Jawa Pos grup. Koran-koran ini menarget audiens menengah kebawah. Selain itu koran-koran lain yang memang menyasar segmen khusus seperti Medan Bisnis yang lebih memfokuskan mengenai berita seputaran bisnis di kota Medan. Begitu juga dengan beberapa koran lokal dengan image dan branding yang masih belum terlalu kuat melekat di benak masyarakat Sumatera Utara seperti Berita Sore, Gaya Medan, Gebrak, Harian Matahari, Jurnal Pemerintah, Koran Mandiri, Kupas Tuntas, dsb. Koran nasional lain seperti Kompas adalah koran nasional yang bisa mengganggu laju Sumut Pos dalam memenangkan bisnis media cetak di Sumatera Utara. Namun koran nasional ini tidak menjadi perhatian penting Sumut Pos mengingat koran ini juga tidak memiliki segmen pasar yang sama.

Pesaing utama Sumut Pos adalah koran-koran yang juga bermain di muatan lokal seputar berita Sumatera Utara dan memiliki segmen pasar yang sama yakni beberapa koran lokal yang sudah ada terlebih dahulu sebelum Sumut Pos terbit. Posisi Sumut Pos yang terbit pada tahun 2000-an memiliki posisi yang cukup sulit untuk bersaing dengan tiga kompetitor koran lokal yang telah hadir dari tahun 1970-an yakni Waspada, Analisa dan SIB. Dimana para kompetitor memiliki segmen pasar yang sama dengan Sumut Pos.

Pada kalangan pers terdapat julukan tiga serangkai koran di Medan, yakni Analisa, Waspada, dan SIB, yang memang dianggap sebagai market leader yang tak mudah digoyahkan oleh koran-koran baru. Ketiganya juga memiliki pasar yang sangat spesifik dan loyal. Jika Analisa banyak bermain di segmen pasar

masyarakat Tionghoa, maka SIB dikenal memiliki basis pembaca komunitas Nasrani, dan Waspada kuat di segmen pembaca Islam dan Nasionalis.

Jika dibandingkan dari ketiga market leader tersebut, Analisa saat ini terlihat lebih memimpin. Analisa merupakan salah satu surat kabar terbesar di Medan dengan oplah harian mencapai 50.000 eksemplar/ hari menurut sumber dari pendataan perusahaan surat kabar di website pemko Medan. Analisa memiliki format broadsheet, dengan jumlah halaman sebanyak 32 halaman yang terbit setiap hari. Analisa pertama kali terbit pada 23 Maret 1972. Analisa dapat dikatakan sebagai the first market leader surat kabar di Sumut, hal ini mudah diamati dari display iklan yang mereka peroleh tampak lebih menonjol dibanding Waspada dan SIB. Jika diamati dan dibandingkan dari halaman- halaman koran ketiganya, jumlah iklan display baik produk nasional maupun lokal di harian Waspada sangat jarang begitu pun dengan SIB.

Dominasi iklan di Analisa memperoleh pengakuan dari pimpinan perusahaan Sumut Pos yakni Valdesz Djunianto, menurutnya, hingga saat ini begitu sulit menggeser persepsi pengiklan dari Analisa. Bahkan mendapat bagian kecil dari belanja pengiklan ke Analisa saja, sudah sangat sulit. Apalagi sampai merebut iklan sepenuhnya dari Analisa.

Koran Waspada tercatat sebagi surat kabar tertua nomer dua dalam sejarah pers Indonesia yang terbit secara kontiniu di Medan sejak 11 januari 1947.

Tercatat umur Waspada saat ini telah mencapai 71 tahun, dimana umur tersebut bukan waktu yang singkat mengingat surat kabar ini telah hadir bahkan sejak zaman penjajahan dan ikut serta melengkapi sejarah kemerdekaan Indonesia.

Meskipun data oplah Waspada yang tepat tidak dapat didapatkan namun koran ini dapat dikatakan sebagai salah satu pemimpin pasar dalam persaingan surat kabar daerah di Sumut berdasarkan gambaran pasar di Sumut. Hal tersebut terlihat dari image Waspada sebagai koran senior bahkan sepuh, yang telah melekat dengan erat dibenak masyarakat Sumatera Utara, sehingga cukup sulit untuk merebut pelanggan setia dari surat kabar ini.

Harian umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Koran ini terbit pertama kali tanggal 9 Mei 1970. Meskipun terbit di Medan, SIB mendistribusikan koran bukan hanya di Sumatera Utara, tetapi meluas ke Jakarta dan daerah-daerah lain diluar Pulau Jawa. Oleh karena itu koran ini mengklaim dirinya bukan hanya sebagai koran lokal tetapi sebagi koran nasional. Walaupun dari pengamatan berdasarkan jumlah penanyangan kolom iklan di SIB masih tidak sebanyak iklan di Analisa, namun SIB masih memperoleh pendapatan lebih karena sering menjadi pemenang tender pemuatan iklan-iklan dari instansi pemerintah untuk daerah Sumatera Utara. Hal ini dapat jelas terlihat jika mengamati lembaran- lembaran halaman berita SIB yang banyak memuat iklan-iklan publikasi ataupun iklan adventorial dari instansi pemerintah untuk daerah Sumatera Utara.

Kerjasama jenis ini, juga menjadi salah satu pasar sasaran terbesar dari Sumut Pos saat ini, sehingga koran SIB juga merupakan saingan berat bagi Sumut Pos.

Dua pendatang baru lainnya yang patut diperhitungkan yakni Andalas dan Tribun Medan yang berumur hampir sama dengan Sumut Pos. Perebutan pasar saat ini semakin sengit dengan kehadiran kedua koran ini yang juga menyasar segmen pembaca koran berformat berita dan informasi seputar Sumatera Utara.

Tribun Medan merupakan surat kabar yang termasuk dalam anak perusahaan grup Kompas Gramedia. Koran ini pertama kali terbit tahun 2009.

Tribun Medan sempat meresahkan pasar persaingan surat kabar di Sumatera Utara dengan penetapan strategi harga yang sangat murah yakni Rp. 1.000,-/ eksemplar.

Harga tersebut cenderung sangat jauh lebih murah dibandingkan para pesaing lain dimana harga tersebut bahkan tidak cukup untuk menutupi modal cetak rata-rata koran senilai Rp. 2.000,-. Strategi harga tersebut lah yang menimbulkan kepanikan hingga berujung protes para pesaing sejenis karena dianggap dapat merusak harga pasar surat kabar dan terjadi monopoli pasar. Tribun Medan dinilai sanggup untuk menetapkan harga jual serendah itu karena masih mendapat sokongan dana dari grup Kompas Gramedia. Meskipun saat ini Tribun Medan tidak lagi menetapkan harga Rp. 1.000,-/ eksemplar, namun subsidi masih diberikan dalam hal distribusi koran berupa para loper dan agen yang mendapatkan gaji tetap dari perusahaan, sehingga proses distribusinya jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan koran Sumut Pos yang telah berdiri independen dalam pembiayaan distribusinya. Sumut Pos masih mengandalkan loper koran lepas yang dibayar hanya berdasarkan komisi, hal ini menyebabkan sering terjadi pergantian personil secara mendadak yang mengakibatkan terbengkalainya proses distribusi koran Sumut Pos. Oleh karena itu Sumut Pos masih mengalami ketertinggalan yang harus diperbaiki dalam hal distribusi dibandingkan Tribun Medan saat ini.

Harian Andalas yang pertama kali diterbitkan pada 14 Juli 2005 di Medan.

Harian ini terbit saat reformasi, dimana ditengah-tengah persaingan yang cukup ketat kala itu Andalas mencoba untuk dapat memasuki celah pasar surat kabar di

Sumatera Utara. Menurut data dari dewan pers nasional bahwa oplah surat kabar Andalas mencapai 5.000 eksemplar per hari, meskipun angka ini masih dibawah rata-rata oplah Sumut Pos saat ini, tetapi kedepannya bisa saja Sumut Pos bisa terlampaui apabila tidak mempersiapkan strategi persaingan dengan baik.

Adapun Andalas memiliki strategi tertentu untuk mengejar posisinya di pasar persaingan saat ini, jika diperhatikan sekilas tipografi branding koran Andalas mirip dengan Analisa. Hal tersebut bisa jadi dikarenakan hendak membidik pasar Analisa yang banyak bermain pada segmen pembaca Tionghoa.

Oplah Analisa sebagai first market leader yang mencapai 50.000 eksemplar per hari, tentu sulit diimbangi oleh Sumut Pos yang saat ini memiliki oplah 6.400 eksemplar per hari. Kondisi tersebut dinilai wajar, karena gempuran media online memang membuat penurunan oplah terjadi serentak hampir diseluruh surat kabar baik lokal, nasional maupun internasional. Namun jumlah angka oplah Sumut Pos dalam tiga tahun terakhir yakni tahun 2016, 2017 dan 2018 tetap dapat bertahan bahkan mengalami kenaikan walaupun tidak terlalu signifikan. Berikut oplah Sumut Pos dari tahun 2016 sampai dengan pertengahan tahun 2018 saat ini :

Tabel 4.4.2a

Rata-rata Oplah Sumut Pos Per Hari tahun 2016 - 2018

TAHUN 2016 2017 2018

Dokumen terkait