Sesuai dengan tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memelihara keamanan dan perdamaian internasional maka seluruh negara anggota dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mengusahakan terwujudnya cita-cita dan tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa ini. Salah satu cara dalam membantu Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam mewujudkan tujuannya adalah adanya kewajiban dari negara-negara anggota untuk membantu dalam pemberian humanitarian assistance kepada negara-negara yang sedang berkonflik.
Sebenarnya pemberian Humanitarian Assistance ini tidak hanya kewajiban dari negara-negara di dunia yang menjadi anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun ada juga entitas lain yang diperbolehkan dalam pemberian Humanitarian Assistance kepada negara yang sedang bersengketa, beberapa entitas tersebut antara lain :
a). United Nations (UN)
merupakan organisasi internasional yang beranggotakan sebagian besar negara-negara di dunia. Sebagai organisasi yang besar Perserikatan bangsa-bangsa mempunyai organ-organ inti yang membantu jalannya organisasi ini. Perserikatan
33 Bangsa-Bangsa mempunyai 6 organ inti yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing dalam membantu terwujudnya tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, organ inti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah : (i). Dewan Keamanan(Security
Council), (ii). Majelis Umum (General Assembly), (iii). Sekertariat (the Secretariat),
(iv). Dewan Ekonomi dan Sosial (the economic and social Council), (v). Dewan Perwakilan (trusteeship Council), (vi). Mahkamah Internasional (The International
Court of justice). dalam hal pemberian humanitarian assistance organ inti dari
perserikatan bangsa-bangsa ini tidak bekerja sendirian, organ inti ini dibantu oleh
special agents yang dimiliki Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mempunyai
keterkaitan langsung pemberian bantuan kemanusian kepada negara yang sedang berkonflik ataupun yang bersengketa. Ada beberapa special agents yang dimiliki Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membatu dalam pemberian bantuan kemanusiaan, antara lain:
(i). United Nations Children’s Fund (UNCEF) merupakan salah satu special agents dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bekerjasama dengan badan lainnya untuk membangun kembali kebutuhan dasar para korban seperti tersediannya air,sanitasi, pembangunan sekolah, obat-obatan, dan jasa kesehatan lain untuk para korban42, tidak hanya itu UNCEF juga berperan dalam perlindungan terhadap anak-anak korban konflik.
(ii). United Nations Development Programme (UNDP) merupakan special agents dari pererikatan Bangsa-Bangsa yang membantu meringankan penderitaan
42. NN, Basic Facts About The United Nations, 1998, Published by the United Nations Department of Public Information, hlm: 257.
34 para korban terutama korban bencana alam mulai dari pencegahan dan saat bantuan setelah bencana itu terjadi. Jika bencana telah terjadi UNDP dapat bekerjasama dengan badan-badan local di negara yang terkena bencana itu agar memudahakan dalam penyaluran bantuan dan koordinasi di wilayah bencana tersebut.
(iii). World Food Programme (WFP)43 badan ini membatu para korban bencana alam maupun korban perang / konflik yang terjadi di suatu negara khusus pada bidang pangan, termasuk bantuan kepada para pengungsi dan penggungsi dalam negeri. Badan ini sudah bekerja sejak dua decade dan pada saat ini sudah memberikan bantuan kemanusian kepada hampir 80% negara-negara yang berkonflik.World Food
Programme (WFP) tidak bekerja sendiri dalam pemberian bantuan kemanusiaan
dalam bidang pangan namun di bantu atau juga bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization of United Nations (FAO) untuk meningkatkan kesejahteraan para korban konflik atau pun bencana alam. Dengan adanya kerjasama dua organ ini lebih memudahkan dalam pemberian bantuan kemanusiaan terutama dalam bidang pangan sehingga mampu membantu meringankan penderitaan dari para masyarakat sipil yang menjadi korban pertikaian bersenjata dinegaranya.
(iv). World Health Organization (WHO) badan ini berfokus pada bantuan bidang kesehatanyang di butuhkan para korban sengketa. WHO juga peduli dengan penyakit menular yang mungkin menjangkit pada masa konflik seperti HIV/AIDS, bantuan yang diberikan oleh WHO biasanya berbentuk Imunisasi, distribusi
43. Ibid., hlm: 259.
35 obatan, penanganan kesehatan mental para korban, juga mengatasi penyakit malaria dan pes yang mungkin menjangkit para korban pada masa perang/konflik.
(v). United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) merupakan badan bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurursi masalah penggunsi. Badan ini membantu para penggungsi yang terpaksa keluar dari negaranya karena konflik, rasa takut, perbedaan pandangan politik, ras, agama dan perbedaan keanggotaan dalam suatu kelompok dalam negara tersebut. Tugas utama dari UNHCR adalah menjamin penghormatan bagi para penggungsi, hak asasi manusia termasuk kemampuan mereka untuk mencari suaka dan juga untuk memastikan bahwa para penggungsi tidak dikembalikan secara paksa ke negara dimana mereka memiliki alasan takut akan penganiayan ataupun akan menjadi korbanm kekerasan.44
(vi). United Nation Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA)
Merupakan badan bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berada di bawah General Assembly dengan resolusi General Assembly 48/182. Awal pembentukannya di tujukan untuk membantu mobilisasi dan koordinasi agar penyaluran bantuan kemanusiaan lebih efektif dengan berkoordinasi dengan Non-Governmental
Organization (NGO) lokal dengan International Non-Governmental Organization
(INGO) internasional yang akan menyalurkan bantuannya45. Dalam tugasnya OCHA
44. Ibid., hlm: 261
45. http://www.unocha.org/about-us/who-we-are, diakses pada 4 Maret 2012 pukul 17.30WIB
36 membatu Dewan Keamanandan majelis umum serta organ di dalamnya yang hendak menyelurkan bantuannya kepada negara dimana terjadi konflik atau perang.
b). Europian Union (EU)
Merupakan organisasi regional yang dimiliki oleh kawasan eropa yang tahapan yang dilalui Uni Eropa untuk menjadi seperti sekarang ternyata melalui proses yang cukup panjang, dimulai dari pembentukan European Coal and Steel Community (ECSC), European Economic Community (EEC), dan European Atomic Community (Euroatom). Kemudian, pada 8 April 1965, ketiga organisasi tersebut (ECSC, EEC dan Euratom) digabung menjadi satu payung European Communities (EC) melalui Traktat Brussels. Pasca dibentuknya EC, semakin banyak negara di Eropa yang mencalonkan diri sebagai anggota komunitas tersebut yaitu : Denmark, Irlandia, Inggris, Yunani, Spanyol, Portugis. Penambahan jumlah anggota dalam EC menuntut kerja sama yang kompleks untuk mengurangi perbedaan antar anggota dalam konteks ekonomi. EC juga semakin memainkan peran yang penting pada 28 Februari 1986 yang diratifikasi oleh semua anggota pada 21 Maret 1987.46
Peristiwa runtuhnya Tembok Berlin diikuti penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur, demokratisasi di negara-negara Eropa Tengah dan Timur, disintegrasi Uni Soviet mendorong negara-negara Eropa mengubah interaksi dengan mempererat hubungan dan menegosiasikan traktat baru yang pokok-pokoknya utamanya disetujui pada 9-10 Desember 1991. Puncaknya, lahirlah The Treaty on European Union.
37 Sebagai tambahan, EU dalam rangka perlu adanya kontrol hukum, dimana agar terjadi kesesuain peraturan di tingkat Eropa dibentuklah Pengadilan Eropa (European
Court of Justice/ECJ. Pengadilan Eropa bertugas menilai legalitas interpretasi
pengadilan nasional terhadap isi suatu peraturan Eropa.47 Selain pengadilan Eropa, EU juga membentuk Pengadilan HAM Eropa (The European Court of Human Righst) yang berwenang memeriksa pengaduan individu dan pengaduan antar negara. Pengadilan HAM Eropa ini berkedudukan di Strasbourg, Perancis.
Europian Union juga mempunyai lembaga untuk pemberian bantuan kemanusiaan kepada negara yang sedang mengalami konflik. badan bentukan dari uni eropa ini adalah European Community Humanitarian Office (ECHO) yang memberikan bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk para korban bencana alam tapi juga pada para korban perang. Badan ini tidak bekerja sendiri tapi juga menjalin kerjasama dengan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Non-Governmental Organisations.
c. International Non-Governmental Organization (INGO)
salah satu subjek dalam Hukum Internasional yang baru di akui adalah International Non-Governmental Organization (INGO). INGO yang diakui keberadaannya adalah yang mempunyai Legal Personality48 Dengan adanya legal
47 Lihat Kedudukan Uni Eropa sebagai Subjek Hukum Internasional, oleh Peni Susetyorini 48.Reparation for injuries suffered in the service of the United Nations Case, Advisory Opinion, I.C.J. Reports 1949; Lihat D.J. Harris, International Law; Cases and Materials, London Sweet & Maxwell, 5th Edition, 1998, hlm 132-139, atau baca “Legalisasi NAFTA dalam Kaitannya dengan The Politics of Legalization dan The Politicization of Law”, oleh: Jessica Evangeline Manulong, FISIP UI, 2010.hlm 53.
38
personality maka organisasi tersebut adalah subjek hukum internasional dan memiliki
kapabilitas untuk memiliki hak dan kewajiban internasional dalam tataran internasional termasuk merumuskan hukum serta menegakkannya melalui mekanisme peradilan internasional. Attribusi inilah yang membedakan organisasi internasional dengan institusi atau lembaga internasional lainnya yang hanya mampu menggunakan lembaga tersebut secara fungsional melalui negara-negara anggotanya yang hanya berjumlah puluhan. Dengan kata lain, hukum internasional memiliki indikator tersendiri untuk memilih organisasi mana yang harus diperhatikan sebagai organisasi internasional dan mana yang hanya merupakan kumpulan negara-negara saja.49
Tidak semua organisasi internasional atau regional serta-merta dianggap sebagai subjek hukum dan bisa melakukan aktivitasnya seperti negara pada umumnya. Menurut Teuku M. Rudi dalam bukunya berjudul Administrasi dan Organisasi Internasional, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh organisasi internasional atau regional untuk memiliki legal personalities sendiri, yaitu:
1. Merupakan himpunan (keanggotaan) negara-negara yang bersifat tetap (permanen), serta dilengkapi dengan struktur organisasi yang lengkap. Dengan kata lain, bukan sekedar komite ad-hoc yang biasanya berfungsi hanya sementara atau dalam jangka waktu tertentu
49 “Legalisasi NAFTA dalam Kaitannya dengan The Politics of Legalization dan The
39 2. Memilik perbedaan, dalam hal kewenangan hukum dan tujuan organisasi,
antara organisasi tersebut dengan negara anggota
3. Adanya kewenangan hukum organisasi itu yang dapat diterima (oleh pihak lain) serta diterapkan dalam melaksanakan kegiatan pada ruang lingkup internasional, bukan sekedar kegiatan dalam lingkup nasional salah satu atau masing-masing anggotanya. Dengan kata lain, diakui sebagai satuan atau entitas tersendiri (bukan sekedar pengelompokan beberapa negara) dalam transaksi atau hubungan dengan pihak lain. Syarat di atas masih harus dilengkapi dengan:
1. Kemampuan mengadakan perjanjian (the treaty making power);
2. Adanya hak dan kewenangan secara hukum untuk memiliki aset-aset berupa barang, modal, bangunan, peralatan (milik organisasi), serta status khusus bagi personalia yang diberi kepercayaan atau amanat;
3. Kemampuan mengajukan tuntutan (claim) terhadap negara anggota dan juga negara bukan anggota, jika terjadi hal yang merugikan organisasi;
4. Locus standi untuk mengajukan perkara ke pengadilan internasional dan berdasarkan jurisdiksi internasional;
5. Adanya perlindungan fungsional terhadap staf dan personalia;
6. Hak organisasi yang disertai pengakuan/penerimaan oleh negara atau organisasi lain untuk mengirim perwakilan dalam menghadiri berbagai konferensi internasional yang bersangkutan;
40 Legitimasi bahwa organisasi internasional regional50 mempunyai ‘legal
personality’ diperkuat oleh J.G Starke dalam bukunya ‘Pengantar Hukum Internasional Bagian ke-2’ pada pembahasan ‘juridicial personality’nya PBB, Selain
Charter PBB, konstitusi lembaga-lembaga internasional lainnya, baik umum maupun regional, memuat ketentuan yang serupa dengan Pasal 104 Charter atau Pasal 1 Konvensi tentang Privilege-Privilege dan Imunitas-imunitas PBB. Sesuai dengan opini nasihat International Court of Justice, yang telah dikemukakan di atas, sebagian besar lembaga-lembaga ini memiliki personalitas hukum internasional. Dalam Pasal 47 Konvensi Penerbangan Sipil Internasional 1944, yang menetapkan kapasitas hukum dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), “State such legal
capacity as may be necessary for the performance of its functions. Full juridical personality shall be granted wherever compatible with the constitution and laws of the State concerned.”51 Rumusan dalam Pasal ini tampaknya membiarkan negara-negara peserta perjanjian tetap bebas untuk memberikan atau mencabut personalitas hukum apabila hukum nasionalnya mengizinkan tindakan demikian, namun ketentuan-ketentuan yang sama dalam sejumlah besar konstitusi badan-badan internasional mengikat negara-negara sepenuhnya untuk mengakui personalitas tersebut”52
50 ASEAN sebagai salah satu organisasi regional di dunia khusus kawasan Asia Tenggara 51 Pasal 47 Konvensi Penerbangan Sipil Internasional (Chicago, 7 Desember 1944), “Organisasi harus menikmati dalam wilayah setiap negara peserta perjanjiannya kapasitas hukum yang mungkin diperlukan untuk pelaksanaan fungsi-fungsinya. Personalitas yuridis penuh harus diberikan apabila sesuai dengan konstitusi dan hukum dari negara-negara terkait”
41