• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN RINCI PROGRAM SJSN

3. RANCANGAN PROGRAM PENSIUN DAN PENDANAANNYA

3.7 PILIHAN ALTERNATIF RANCANGAN

Sekarang beberapa pilihan rancangan yang telah disajikan pada sub bagian sebelumnya perlu diamati lebih lanjut. Pada sub bagian ini akan diamati dampak finansial dari perubahan yang terjadi pada program:

• Meningkatnya usia pensiun pekerja dari 60 tahun menjadi 65 tahun pada tahun 2047. Terdapat kekurangan dalam analisis dasar yang cenderung menyebabkan biaya sebenarnya menjadi lebih tinggi dari seharusnya. Analisis ini mengasumsikan kenaikan yang signifikan pada harapan hidup pada masa pensiun, tetapi tidak ada perpanjangan usia pensiun. Agar konsisten, asumsi perpanjangan usia pensiun harus dimasukkan dalam analisis ini. Hal ini akan meningkatkan pendapatan serta mengurangi pengeluaran dan semua biaya dalam program ini.

• Memperhitungkan masa kerja sebelum implementasi program SJSN bagi pekerja usia tua. SJSN tidak dirancang untuk memperhitungkan masa kerja sebelumnya bagi pekerja usia tua pada waktu program tersebut dimulai. Rancangan besar SJSN ini tidak memperhitungkan masa kerja lalu bagi pekerja yang telah berusia lebih tua pada saat program SJSN ini dimulai. Sebagai akibatnya tidak ada pekerja yang menerima pensiun selama 15 tahun pertama sejak sistem tersebut dimulai dan semua pekerja yang ada sejak dimulainya sistem tersebut mendapatkan manfaat pensiun lebih kecil dibandingkan apabila keseluruhan masa kerja mereka diperhitungkan. Perlu diamati pengaruh dari pemberian beberapa variasi besaran perhitungan masa kerja sebelumnya dari pekerja yang ada.

• Menyediakan pensiun sosial bagi penduduk yang telah berusia lanjut. Dalam program SJSN, penduduk yang telah berusia lanjut pada waktu sistem ini dimulai tidak menerima apapun. Perlu diuji biaya yang dibutuhkan untuk membayarkan pensiun sosial minimum bagi mereka walaupun mereka tidak pernah mengiur. Perlu juga diperhitungkan pemberian pensiun sosial, yang merupakan pensiun minimum bagi semua pekerja yang memasuki masa pensiun.

75

• Menyediakan manfaat pensiun minimun yang sama dengan pensiun sosial. Bagi pekerja berpenghasilan rendah dan juga pekerja yang masa kerjanya pendek akan menerima manfaat pensiun yang tidak mencukupi. Untuk mengatasi masalah ini, pada umumnya disediakan manfaat pensiun minimum. Jika pensiun sosial bagi penduduk lanjut usia termasuk dalam program ini, maka besarnya pensiun minimum harus sama atau melebihi pensiun sosial tersebut.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, apabila diasumsikan mortalitas menurun namun usia pensiun tetap, hal ini tidak konsisten. Maka perlu diasumsikan tidak ada penurunan mortalitas dan usia pensiun tetap, atau usia pensiun perlahan meningkat seiring dengan kenaikan tingkat harapan hidup. Untuk melengkapi analisis ini, diasumsikan bahwa tingkat mortalitas tetap sama selama 75 tahun periode analisis. Asumsi ini akan menyebabkan tingkat iuran yang diwajibkan menurun dari 5,27% menjadi 4,54%. Opsi ini tidak dianalisis lebih lanjut.

Kemudian asumsi usia pensiun dinaikkan dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Usia pensiun 60 tahun dipertahankan sampai tahun 2037 kemudian dinaikkan 6 bulan setiap tahun sehingga mencapai 65 tahun pada tahun 2047. Usia ini dipertahankan sampai akhir periode analisis. Hal ini konsisten dengan asumsi mortalitas yang menurun setiap tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2047 dan dipertahan pada angka yang sama sampai akhir periode analisis.

Seiring dengan peningkatan usia pensiun, diasumsikan bahwa pengiur yang belum mencapai usia pensiun diwajibkan untuk tetap mengiur. Pensiun yang sudah saatnya dibayarkan tidak boleh ditunda. Namun pekerja tetap harus membayarkan iuran untuk waktu yang lebih lama dan mulai menerima manfaat pada umur yang lebih lanjut. Pekerja tersebut menerima manfaat pensiun yang lebih besar karena pembayaran iuran yang lebih lama. Diasumsikan bahwa pekerja yang pensiun pada usia 65 tahun mempunyai masa kerja 45 tahun dan menerima manfaat pensiun sebesar 22,5% dari pembayaran. Pada tabel dibawah ini menunjukkan hasil analisis dengan mengasumsikan peningkatan usia pensiun dan jumlah manfaat tanpa memperhitungkan masa kerja sebelumnya atau pensiun sosial. Setelah tahun 2037, jumlah pengiur lebih tinggi dan jumlah penerima manfaat pensiun lebih sedikit dari analisis dasar. Kelebihan dana dari perubahan tersebut di-offset dengan manfaat yang lebih tinggi yang harus dibayarkan bagi pekerja yang memasuki masa pensiun pada tahun 2047 atau sesudahnya. Perlu diperhatikan bahwa tingkat iuran yang diwajibkan menurun dari 5,27% menjadi 4,48% sehingga biaya program tersebut menjadi kurang dari yang ditargetkan (5-6%).

Tingkat iuran Belanja melebihi iuran Belanja melebihi pendapatan Cadangan habis Cadangan maksimum % terhadap PDB 4.48% 2046 2069 2082 30.0%

Sumber: perhitungan penulis

Selanjutnya, beberapa variasi perhitungan masa kerja diberikan kepada pekerja yang telah bekerja pada waktu program pensiun SJSN ini dimulai. Dilakukan pengujian terhadap dua tingkat masa kerja sebelumnya. Pada kasus pertama, pada saat dimulainya sistem pensiun SJSN setiap pekerja diperhitungkan masa kerja sebelumnya maksimal 15 tahun. Karena pekerja diasumsikan mulai bekerja pada usia 20 tahun dan memasui usia pensiun pada usia 60 tahun, setiap pekerja yang berusia diatas 35

76

tahun menerima beberapa tambahan masa kerja. Tabel dibawah ini menunjukkan jumlah masa kerja yang ditambahkan dalam perhitungan manfaat dengan memperhatikan faktor usia pada saat program pensiun SJSN dimulai. Usia saat penetapan SJSN Tahun pensiun Usia Pensiun Jaminan masa kerja Penerimaan Iuran pada masa yang akan datang

Total tahun iuran tunjangan 60 2007 60 15 0 15 50 2017 60 15 10 25 45 2022 60 15 15 30 40 2027 60 15 20 35 35 2032 60 15 25 40 30 2037 60 10 30 40 20 2047 65 0 45 45

Sumber: perhitungan penulis

Dapat dilihat dari tabel ini bahwa semua pekerja yang ada akan mendapat setidaknya 15 tahun perhitungan masa kerja sebelumnya, sehingga setiap orang berhak menerima pensiun. Pekerja yang berusia 35 tahun atau kurang akan mendapatkan perhitungan masa kerja selama 40 tahun (atau 45 tahun), sementara pekerja yang berusia lebih dari 35 tahun akan mendapatkan perhitungan masa kerja lebih dari 15 tahun tetapi kurang dari 40 tahun. Jadi sekarang setiap pekerja yang memasuki masa pensiun pada atau setelah tahun 2032 akan mendapatkan perhitungan masa kerja penuh 40 tahun, sementara pada analisis dasar hanya pekerja yang memasuki usia pensiun pada tahun 2047 atau setelahnya yang menerima pensiun penuh.

Pada kasus kedua, setiap tahun masa kerja sebelum program SJSN ini diperhitungkan dalam analisis. Jadi semua pekerja diasumsikan mempunyai masa kerja 40 tahun pada saat mencapai usia pensiun 60 tahun (atau 45 tahun masa kerja pada waktu mencapai usia pensiun 65 tahun).

Terakhir, dilakukan pengamatan terhadap pemberian perhitungan masa kerja sebelumnya bagi pekerja yang berusia lebih dari 60 tahun pada saat dimulainya program pensiun SJSN. Untuk keperluan analisis ini diasumsikan bahwa setiap penduduk yang berusia 60 tahun ke atas akan menerima pensiun sosial sebesar Rp.100.000 per bulan, yang akan terus meningkat seiring inflasi di masa yang akan datang. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil dari semua kombinasi yang memperhitungkan masa kerja sebelumnya dan pensiun sosial. Dalam semua kasus tersebut , usia pensiun diasumsikan meningkat menjadi 65 tahun pada tahun 2047.

77 Masa Bakti pensiun

Sosial

Tingkat iuran Belanja melebihi iuran Belanja melebihi pendapatan Cadangan habis Cadangan maksimum % terhadap PDB None No 4.48% 2046 2069 2082 30.0% 15 years No 5.69% 2042 2068 2082 28.0% All years No 6.02% 2043 2068 2082 24.3% None Yes 4.64% 2047 2069 2082 28.2% 15 years Yes 5.85% 2043 2068 2082 25.5%

All years Yes 6.18% 2041 2068 2082 21.8%

Sumber: perhitungan penulis

Seperti dapat dilihat dari tabel di atas, perhitungan masa kerja sebelumnya menimbulkan biaya yang lebih tinggi dari pensiun sosial. Pensiun sosial sendiri meningkatkan tingkat iuran sebesar 0,16% dari 4,48% menjadi 4,64%. Jika tidak ada pensiun sosial yang dibayarkan, namun diperhitungkan masa kerja 15 tahun sebelumnya, maka tingkat iuran meningkat sebesar 1,21% dari 4,48% menjadi 5,69%.

Namun, pilihan untuk memberikan pensiun sosial tanpa memperhitungkan masa kerja sebelumnya tidak masuk akal. Dalam hal ini, setiap orang yang telah mencapai usia 60 tahun sehari sebelum program pensiun SJSN diberlakukan akan mendapatkan pensiun sebesar Rp 100.000 per bulan, sedangkan seseorang yang mencapai usia 60 tahun sehari setelah program pensiun SJSN ini berlaku tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga perhitungan manfaat dengan memperhitungkan masa kerja sebelumnya tanpa pensiun sosial juga sulit untuk diterima. Sebagai contoh, seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun sehari sebelum program pensiun berlaku tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan seseorang yang mencapai usia 60 tahun sehari setelah program pensiun berlaku mendapatkan pensiun. Untuk itu, sebaiknya kedua pilihan tersebut sama-sama dimasukkan atau dikeluarkan, meskipun jumlah perhitungan masa kerja sebelumnya dan besarny pensiun sosial dapat diubah untuk mengontrol biaya.

Dari semua variasi yang telah dijelaskan di atas, menyebabkan pertumbuhan cadangan sebagai presentase sangat besar dari PDB dan hal ini tidak diinginkan. Tingkat iuran yang tetap mungkin akan lebih sesuai apabila perhitungan masa kerja sebelumnya yang signifikan diberikan kepada pekerja. Namun akan menjadi tidak sesuai jika masa kerja sebelumnya tidak diperhitungkan.