• Tidak ada hasil yang ditemukan

White Paper. Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian Sistem Jaminan Sosial Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "White Paper. Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian Sistem Jaminan Sosial Nasional"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

1

White Paper

Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian

Sistem Jaminan Sosial Nasional

Disusun oleh Departemen Keuangan Republik Indonesia

Dibantu oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank (ADB)) – Mr. Mitchell Wiener, Spesialis Sektor Keuangan (Dana Pensiun)

(2)

2

DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF ...4

BAGIAN 1 ... 23

RENCANA STRATEGI UNTUK RANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SJSN ... 23

1.PENDAHULUAN ... 24

2.FILOSOFI ... 25

3.PERAN ADMINISTRATOR ... 26

4.BENTUK BADAN HUKUM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) ... 28

5.PERANAN DEWAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL (DJSN) ... 29

6.PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN DARI BPJS ... 30

7.PENDANAAN PROGRAM SJSN... 31

8.JAMINAN KESEHATAN ... 33

9.JAMINAN KECELAKAAN KERJA ... 34

10.JAMINAN PENSIUN ... 34

11.JAMINAN HARI TUA (JHT) ... 36

12.PROGRAM PENGELOLAAN ASET JAMINAN HARI TUA... 36

13.JAMINAN KEMATIAN ... 38

14.HARMONISASI DENGAN PROGRAM YANG ADA ... 38

15.PERLUASAN CAKUPAN DARI PERLINDUNGAN SEKTOR INFORMAL ... 39

16.IURAN DAN PENGUMPULAN DATA ... 40

17.DEFINISI MASYARAKAT MISKIN ... 41

18.KESIMPULAN ... 42

BAGIAN 2 ... 43

DESAIN RINCI PROGRAM SJSN ... 43

1.PROYEKSI POPULASI ... 44

2.ANGKATAN KERJA DAN PERKIRAAN JUMLAH PEKERJA ... 53

(3)

3

4.RANCANGAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DAN PENDANAANNYA ... 81

5.JAMINAN KEMATIAN ... 88

6.JAMINAN KESEHATAN ... 93

7.KESIMPULAN ... 101

BAGIAN 3 ... 103

PRASYARAT UNTUK MEMULAI SISTEM SJSN ... 103

1.PENDAHULUAN ... 104

2.MANAJEMEN IMPLEMENTASI ... 106

3.MANFAAT SJSN DAN IURANNYA ... 107

4.FUNGSI SISTEM POKOK DAN PROSES BISNIS ... 107

5.ADMINISTRASI PROGRAM JAMINAN PENSIUN ... 108

6.ADMINISTRASI PROGRAM JAMINAN HARI TUA ... 109

7.PENGELOLAAN KEUANGAN ... 111

8.PENGELOLAAN ASET UNTUK PROGRAM JAMINAN HARI TUA ... 113

9.PENGUMPULAN IURAN DAN DATA ... 115

10.PENEGAKAN ATURAN DALAM PENGUMPULAN IURAN ... 117

11.PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN BPJS ... 119

12.EDUKASI PUBLIK ... 120

13.PENGEMBANGAN ORGANISASI... 121

PART 4 ... 123

(4)

4

RINGKASAN EKSEKUTIF

Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional mengamanatkan pembentukan lima program asuransi sosial wajib secara terpisah yang meliputi seluruh penduduk Indonesia.

• Jaminan Pensiun: Program ini akan memberikan manfaat pembayaran bulanan seumur hidup kepada pekerja pada masa pensiun mereka, pekerja yang menjadi cacat, dan ahli waris dari pekerja atau penerima pensiun yang meninggal.

• Jaminan Hari Tua: Program ini memberikan manfaat pembayaran secara sekaligus pada saat pekerja memasuki masa pensiun, pekerja menjadi cacat, dan kepada ahli waris dalam hal pekerja meninggal dunia.

• Jaminan Kesehatan: Program ini akan memberikan manfaat kesehatan paripurna untuk semua penduduk Indonesia berdasarkan kebutuhan medis.

• Jaminan Kecelakaan Kerja: Program ini memberikan manfaat bagi pekerja yang mengalami cidera atau meninggal sebagai akibat dari kecelakaan atau sakit yang berhubungan dengan pekerjaan.

• Jaminan Kematian: Program ini memberikan manfaat berupa pembayaran secara sekaligus kepada ahli waris dari pekerja yang meninggal untuk menutup biaya pemakaman dan memberikan kompensasi tambahan kepada ahli waris.

Undang-Undang SJSN merupakan payung hukum. Undang-Undang tersebut mencantumkan struktur dasar sistem jaminan sosial yang telah direformasi, namun tidak secara spesifik menetapkan besarnya manfaat dan tingkat kontribusi untuk masing-masing jenis jaminan.

Dalam analisis ini, kami terfokus pada rancang bangun masing-masing program dan keterkaitan antar program. Semua program-program tersebut perlu dikemas dalam sebuah paket yang saling melengkapi sedemikian rupa sehingga mendukung kebijakan sosial dan kebijakan fiskal pemerintah. Masing-masing program harus memiliki peran dan alasan pembentukan yang jelas dalam mendukung skim perlindungan sosial secara keseluruhan.

Berdasarkan undang-undang SJSN, biaya program-program asuransi sosial ditanggung bersama diantara pekerja, pemberi kerja dan pemerintah.

• Iuran untuk pekerja sektor formal dan pemberi kerjanya ditentukan sebesar persentase tertentu dari upah mereka. Biaya tersebut ditanggung bersama antara pemberi kerja dan para pekerja. • Iuran untuk pekerja sektor informal dapat berupa sejumlah nominal tertentu atau persentase

dari upah. Iuran untuk pekerja sektor informal yang tergolong miskin harus dibayar oleh pemerintah. Para pekerja di sektor informal yang tidak tergolong miskin harus membayar iuran mereka sendiri.

Program-program SJSN pada dasarnya hanya akan memberikan perlindungan sosial dasar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Program-program SJSN masih perlu dilengkapi dengan dukungan keluarga dan program-program kesejahteraan sosial tambahan untuk golongan tertentu. Para pekerja juga dapat membeli tambahan perlindungan asuransi dan program-program pensiun dari sektor swasta.

(5)

5

Program-program SJSN perlu dilaksanakan secara bertahap dan hati-hati untuk memastikan bahwa program tersebut terjangkau oleh anggaran negara dan tidak memberikan pengaruh negatif terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya saing perusahaan-perusahaan di Indonesia. Prasarana yang diperlukan juga harus disiapkan sebelum program dimulai. Diperlukan adanya transparansi, akuntabilitas, dan sistem administrasi yang efisien agar sistem ini dapat berhasil.

1.

RENCANA STRATEGIS UNTUK IMPLEMENTASI SJSN

Sebagai langkah awal, para pemangku kepentingan harus mencapai kesepakatan pada strategi umum dalam pelaksanaan program-program SJSN. Bagian 1 dari laporan ini membahas secara keseluruhan pendekatan strategis terhadap rancangan dan implementasi program jaminan sosial SJSN. Poin-poin penting yang ditekankan dalam bagian laporan ini adalah:

• Program-program SJSN memberikan perlindungan dasar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Program-program tersebut tidak dimaksudkan untuk memenuhi semua kebutuhan dari setiap individu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, manfaat SJSN harus didukung dengan bantuan keluarga, program asuransi swasta, program pensiun, dan program kesejahteraan sosial lainnya. • Menurut Undang-Undang SJSN, empat persero yang ada saat ini yaitu PT Jamsostek, PT Taspen,

PT Asabri dan PT Askes secara bersama-sama akan menjadi administrator (BPJS) dari program SJSN. Secara teknis, untuk menjalankan program SJSN tidak diperlukan empat BPJS, namun cukup satu atau dua BPJS. Sebaiknya BPJS dibedakan berdasarkan jenis program jaminan sosial yang akan dijalankan daripada dibedakan berdasarkan segmen pasar tenaga kerja seperti yang berlaku sekarang. Misalnya, lebih baik ada satu BPJS bertanggung jawab atas program jaminan pensiun bagi semua segmen pasar tenaga kerja, daripada memiliki satu BPJS yang bertanggung jawab untuk program pensiun PNS dan beberapa BPJS lain untuk program pensiun bagi pekerja sektor formal.

• Bentuk badan hukum BPJS harus berdasarkan pada prinsip-prinsip dana amanat (trust fund). BPJS tersebut sebaiknya bersifat nirlaba dan harus melaksanakan segala upaya untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta. Aset peserta juga harus terpisah secara hukum dari aset BPJS untuk meningkatkan transparansi dan melindungi aset peserta terhadap klaim dari kreditur BPJS lainnya. Bentuk badan hukum calon BPJS yang ada saat ini kurang sejalan dengan tujuan-tujuan tersebut.

• Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan program SJSN dan terhadap BPJS. DJSN adalah suatu badan politik yang beranggotakan perwakilan dari seluruh pemangku kepentingan ditambah dengan para ahli di bidang sistem jaminan sosial. DJSN seharusnya bertindak sebagai "trustee" yang bertanggung jawab untuk melindungi kepentingan peserta dan memastikan SJSN beroperasi secara efisien dan berkelanjutan secara fiskal. Ketika bentuk hukum BPJS diubah, DJSN harus mengambil alih fungsi dan tanggung jawab pengawasan terhadap BPJS yang saat ini berada pada Kementrian Negara BUMN.

• Teknis operasional BPJS harus dipantau secara ketat. Sebagai badan politik, DJSN tidak memiliki keahlian teknis untuk mengawasi operasional BPJS. Untuk itu diperlukan suatu badan pengawas

(6)

6

yang independen dan bebas dari pengaruh politik untuk memantau operasional sehari-hari BPJS agar operasional BPJS sesuai dengan peraturan yang berlaku. Lembaga yang paling sesuai untuk melaksanakan tugas ini adalah Sekretariat DJSN atau biro baru yang dapat dibentuk di Bapepam-LK yang bertugas khusus untuk mengawasi BPJS dalam melaksanakan program SJSN. Mengingat adanya keterbatasan staf dan gaji untuk anggota Sekretariat DJSN, Bapepam-LK mungkin perlu mengawasi BPJS dalam tahap awal implementasi program-program SJSN, dan selanjutnya tanggung jawab Bapepam-LK tersebut dapat dialihkan ke Sekretariat DJSN seiring waktu dan kesiapan dari Sekretariat DJSN.

• Besarnya iuran program-program SJSN yang merupakan persentase dari upah harus dibatasi. Iuran program-program tersebut harus terjangkau untuk para pekerja dan pemberi kerja, tidak menambah pengangguran, dan memungkinkan perusahaan-perusahaan Indonesia untuk mempertahankan daya saing regional dan internasional. Pemerintah Indonesia harus terlebih dahulu memutuskan besarnya pendanaan program SJSN yang dapat disediakan kemudian baru merancang program sesuai dengan parameter biaya yang telah ditetapkan. Tabel di bawah ini menyajikan secara ringkas rentang besar iuran yang layak untuk setiap program.

Program Iuran dalam % Upah

Jaminan Kesehatan 4.0%-6.0%

Jaminan Kecelakaan Kerja 0.25% - 0.50%

Jaminan Pensiun 5.0% - 6%

Jaminan Hari Tua 3.0% -4%

Jaminan Kematian 0.25% - 0.50%

Keseluruhan Program SJSN 12.5% - 17.0%

• Jaminan Kesehatan akan menyediakan jaminan kesehatan yang sama seperti yang disediakan program Askes untuk PNS dan program Jamkesmas untuk masyarakat miskin. Analisis aktuaria yang cermat diperlukan untuk menentukan besarnya iuran Jaminan Kesehatan. Pertama, diperlukan suatu studi untuk menentukan tingkat dan biaya pemanfaatan rata-rata untuk berbagai jenis layanan kesehatan dan biaya rata-rata untuk berbagai jenis layanan kesehatan tersebut. Kemudian dilakukan analisis yang cermat terhadap proyeksi biaya penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan dengan mempertimbangkan dampak dari pengenalan program ini sendiri, pembiayaan pemerintah untuk infrastruktur kesehatan, perluasan secara bertahap terhadap cakupan jaminan dan pembagian beban iurannya.

• Jaminan Kecelakaan Kerja seharusnya memberikan manfaat yang sama dengan program Jamsostek dan Taspen yang berlaku saat ini. Pemberi kerja harus membayar seluruh iuran untuk program ini. Tarif premi dibedakan berdasarkan jenis industri dan pekerjaan, serta didasarkan pada pengalaman klaim masing-masing pemberi kerja. Desain sistem Jaminan Kecelakaan Kerja

(7)

7

harus mendorong dan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berinvestasi dalam keselamatan kerja.

• Jaminan Pensiun merupakan program yang lebih penting daripada Jaminan Hari Tua karena Jaminan Pensiun akan memberikan jaminan pendapatan bulanan seumur hidup untuk pekerja yang pensiun atau berhenti kerja karena cacat, dan untuk ahli warisnya. Besarnya manfaat pensiun untuk setiap tahun iuran dapat berupa persentase dari rata-rata gaji atau nominal tertentu. Setelah dibayarkan, besarnya manfaat pensiun tersebut harus disesuaikan dengan tingkat inflasi. Pada awal implementasi program SJSN, usia pensiun disarankan untuk ditetapkan pada usia 60 tahun, dan kemudian harus disesuaikan dengan tingkat harapan hidup. Berdasarkan Undang-undang SJSN, untuk dapat memperoleh manfaat pensiun, pekerja harus telah mengikuti program pensiun sekurang-kurangnya selama 15 tahun. Ketentuan ini bukan merupakan rancangan yang baik karena menyebabkan banyak orang tua dan pekerja yang telah berusia lanjut tidak dapat menikmati manfaat pensiun. Pemerintah harus mempertimbangkan untuk memperhitungkan masa kerja sebelum berlakunya program jaminan pensiun SJSN dan memberikan manfaat pensiun secara cuma-cuma kepada mereka yang berada di atas usia pensiun ketika program SJSN dilaksanakan.

• Jaminan Hari Tua menyediakan manfaat pembayaran sekaligus kepada peserta pada saat pensiun. Jaminan ini akan membantu keuangan pekerja pada masa transisi dari saat aktif bekerja ke masa pensiun. Iuran Jaminan Hari Tua sebaiknya ditetapkan rendah pada awalnya dan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Hal yang lebih penting adalah fokus kepada Jaminan Pensiun, karena Jaminan Pensiun menyediakan pendapatan seumur hidup di usia tua. • Untuk program Jaminan Hari Tua, manajemen aset merupakan salah satu kunci keberhasilan

program. Perbedaan kecil tingkat hasil investasi tahunan dapat berdampak besar terhadap besarnya pembayaran manfaat Jaminan Hari Tua pada saat pensiun. Langkah-langkah penting dalam proses manajemen aset meliputi: merancang kebijakan investasi yang tepat, mengembangkan strategi alokasi aset yang optimal, dan memilih sekuritas yang tepat. DJSN dan BPJS mengembangkan kebijakan umum investasi, sementara pengelolaan investasi sehari-hari dilakukan oleh manajer investasi swasta untuk meningkatkan tingkat hasil investasi, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, dan membatasi intervensi politik dalam proses pengelolaan investasi.

• Jaminan Kematian memberikan manfaat secara sekaligus kepada ahli waris pekerja yang meninggal dunia. Program ini tidak membayarkan manfaat kematian apabila yang meninggal adalah anggota keluarga pekerja. Manfaat Jaminan Kematian tidak perlu dalam jumlah besar karena ahli waris dari pekerja yang meninggal dunia masih akan menerima manfaat bulanan dari program jaminan pensiun. Besarnya manfaat dapat ditetapkan dalam jumlah tertentu atau sebagai kelipatan tertentu dari upah. Diskusi lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas peran dari program jaminan kematian, apakah untuk sekedar menyediakan biaya pemakaman atau menyediakan manfaat yang lebih besar.

• Harmonisasi dengan program yang telah ada harus dilakukan untuk menghindari duplikasi manfaat dan untuk mengontrol biaya. Program-program yang telah ada untuk sektor formal dan PNS perlu disesuaikan pada saat program SJSN dimulai. Penyesuaian juga harus dilakukan terhadap program pesangon berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Manfaat yang dijanjikan dalam program-program yang ada saat ini setidak-tidaknya harus dikurangi dengan manfaat yang dijanjikan dalam program-program SJSN. Sebagai

(8)

8

contoh, manfaat pesangon berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 harus dikurangi dengan nilai dari manfaat pensiun SJSN, dan manfaat pensiun yang dibayarkan kepada PNS dari APBN akan dikurangi dengan manfaat pensiun SJSN. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan "carve-out” karena manfaat pensiun SJSN dikurangkan dari jumlah manfaat yang dapat dibayarkan berdasarkan program yang ada saat ini. Dengan demikian, besar manfaat dari program yang ada saat ini tidak akan berkurang. Jumlah manfaat yang dibayarkan dari program SJSN dan program non SJSN akan sama besar dengan jumlah manfaat yang dibayarkan berdasarkan program jaminan yang ada saat ini. Reformasi lebih lanjut atas program-program yang telah ada tentu mungkin untuk dilakukan.

• Sektor informal akan menimbulkan masalah khusus karena: kurangnya hubungan antara pemberi kerja dan pekerja, sulitnya mengukur pendapatan, dan sulitnya mengumpulkan data dan iuran bulanan. Isu keuangan akan timbul berkaitan dengan penetapan kriteria golongan masyarakat miskin dan pembayaran iuran program jaminan sosial SJSN bagi masyarakat golongan miskin. Program bantuan sosial untuk orang miskin yang telah ada saat ini juga perlu disesuaikan jika program SJSN mulai diterapkan.

Sebagai langkah awal, pemerintah dan para pemangku kepentingan harus mencapai kesepakatan pada seluruh hal-hal yang strategis dalam rancangan dan administrasi program-program SJSN. Saat ini telah tercapai kesepakatan dalam berbagai masalah pokok, namun masalah-masalah lain masih tetap menjadi perdebatan, antara lain masalah bentuk badan hukum BPJS, tugas dan tanggung jawab BPJS, badan pengawas operasional BPJS, dan struktur manajemen aset untuk program Jaminan Hari Tua.

2.

RANCANGAN TERPERINCI DAN PENDANAAN

Departemen Keuangan bertanggung jawab secara khusus dalam perancangan dan pendanaan Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Kematian. Fokus dari laporan ini adalah pada tiga program tersebut dan tidak mencakup analisis keuangan dan aktuaria untuk program Jaminan Kesehatan atau Jaminan Kecelakaan Kerja. Perancangan dan pembiayaan program Jaminan Kesehatan memerlukan suatu studi komprehensif yang terpisah.

2.1 PROYEKSI DEMOGRAFIS

Analisis pendanaan jangka panjang program Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Kematian dimulai dengan memproyeksikan seluruh populasi dan angkatan kerja. Khusus untuk program jaminan pensiun, analisis dilakukan setidaknya untuk rentang waktu 75 tahun karena karakteristik demografi penduduk Indonesia akan berubah secara signifikan selama rentang waktu tersebut. Populasi akan menua sehingga proporsi penduduk usia tua dibanding penduduk usia produktif dan anak-anak akan semakin tinggi. Iuran yang dibayar oleh pekerja juga digunakan untuk membiayai manfaat jaminan sosial bagi penduduk usia tua, dengan demikian maka proporsi jumlah penduduk usia tua terhadap pekerja akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pendanaan program SJSN.

(9)

9

Grafik di bawah ini menunjukkan proyeksi perubahan komposisi usia penduduk dari waktu ke waktu. Grafik tersebut menunjukkan bahwa persentase jumlah penduduk usia tua (lebih dari 60 tahun) akan bertambah dengan pesat sementara jumlah penduduk usia muda menurun.

Proyeksi ini dibuat berdasarkan asumsi adanya penurunan tingkat kesuburan dari 2,27 anak per perempuan pada saat ini menjadi 1,84 anak per perempuan pada tahun 2035. Dalam proyeksi ini juga diasumsikan adanya penurunan tingkat kematian akibat perbaikan kondisi ekonomi dan kualitas pelayanan medis.

2.2 PEMBIAYAAN PROGRAM PENSIUN

Program jaminan pensiun dapat memberikan replacement ratio sekitar 20% dari rata-rata upah jika iuran ditetapkan sebesar 5% dari upah. Jika iuran ditingkatkan menjadi 6%, maka dimungkinkan untuk memperhitungkan masa kerja sebelum diberlakukannya SJSN bagi pekerja usia tua dan memberikan jaminan pensiun bagi penduduk yang saat ini sudah memasuki usia pensiun.

Dalam rentang waktu analisis 75 tahun, iuran rata-rata akan mencapai 5-6% dari upah, namun iuran akan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awal dimulainya implementasi program SJSN, besarnya iuran hampir nol karena belum ada pekerja yang memasuki usia pensiun dan sejumlah kecil pekerja yang mengalami cacat atau meninggal. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pensiunan akan meningkat tajam karena penuaan populasi dan adanya manfaat pensiun yang jatuh tempo. Sementara itu, pertumbuhan jumlah pengiur melambat dan bahkan menurun. Grafik di bawah ini membandingkan proyeksi jumlah penerima manfaat pensiun dengan jumlah pengiur dari waktu ke waktu.

(10)

10

Tujuan analisis pendanaan program jaminan pensiun adalah untuk merancang sebuah program yang memberikan manfaat yang cukup berarti dengan tetap menjaga tingkat iuran sebesar 6% dari upah atau kurang. Sebagai titik awal, dalam laporan ini digunakan asumsi sebagai berikut:

• Usia pensiun : 60 tahun dengan lama masa mengiur 15 tahun • Rumusan Manfaat : 0,5% dari rata-rata pendapatan untuk setiap

tahun masa mengiur • Past Service Credit : Tidak ada

(Masa kerja sebelum SJSN)

• Pensiun sosial bagi penduduk usia tua : Tidak ada

• Manfaat minimum : Tidak ada

Dalam jangka panjang, rata-rata iuran program jaminan pensiun akan mencapai 5,27% dari upah, namun iuran aktual dari tahun ke tahun akan berfluktuasi seperti yang ditunjukkan dalam tabel di bawah ini. Pada 15 tahun pertama program jaminan pensiun, biaya hampir nol karena belum ada pekerja yang memasuki usia pensiun. Di antara tahun 2030 dan tahun 2050, biaya program pensiun akan meningkat tajam karena adanya manfaat pensiun yang jatuh tempo dan penuaan populasi. Pada tahun 2070, biaya program ini mendekati 10% dari upah.

2010 2020 2030 2050 2070 Persentase dari GDP 0.0% 0.1% 0.5% 2.0% 2.9% Iuran yang diperlukan 0.0% 0.2% 1.7% 6.3% 9.8%

Pola biaya ini menimbulkan masalah dalam pendanaan progam jaminan pensiun SJSN. Jika biaya rata-rata sebesar 5,27% dikenakan dalam rentang waktu 75 tahun maka akan terjadi kelebihan pendapatan dibandingkan dengan pengeluaran pada awal tahun implementasi program SJSN. Dana yang terkumpul akan mencapai lebih dari 30% dari PDB dan harus diinvestasikan secara tepat dan aman untuk mengantisipasi adanya kekurangan iuran pada tahun-tahun yang akan datang.

(11)

11

Jika pemerintah menetapkan iuran berdasarkan biaya sebenarnya bukan berdasarkan biaya rata-rata, maka iuran dari program pensiun, sebagai persentase dari gaji, akan meningkat pesat seiring waktu. Hal ini akan menimbulkan keberatan dari pekerja dan pemberi kerja karena iuran yang harus dibayarkan meningkat secara signifikan. Solusi yang paling mungkin untuk mengatasi masalah perancangan dan pendanaan adalah dengan mengkombinasikan beberapa elemen berikut:

• Memperhitungkan masa kerja sebelum diberlakukannya SJSN bagi pekerja usia tua sehingga mereka dapat menerima manfaat pensiun pada saat memasuki usia pensiun. Pekerja usia tua juga akan mendapatkan manfaat pensiun bukan sekedar mendapatkan pengembalian iuran. Dengan demikian manfaat yang mereka peroleh akan lebih besar daripada yang seharusnya. • Membayarkan pensiun sosial untuk penduduk usia tua yang telah ada saat ini, sehingga mereka

akan memiliki jaminan pendapatan bulanan untuk hidup. Manfaat pensiun sosial ini dibayarkan kepada masyarakat Indonesia yang telah mencapai usia pensiun sebelum program jaminan pensiun SJSN diberlakukan

• Meningkatkan usia pensiun seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup

• Menggunakan skim pendanaan pay-as-you-go (iuran diharapkan cukup untuk membayar manfaat pensiun dan pengeluaran lain) pada awal implementasi program jaminan pensiun dan kemudian secara bertahap akan beralih ke skim prefunding agar tingkat iuran program ini tidak melonjak tajam.

Tabel di bawah ini menunjukkan dampak kenaikan usia pensiun, adanya masa kerja sebelum program pensiun SJSN diberlakukan yang diperhitungkan, dan adanya jaminan pensiun sosial terhadap besarnya iuran. Dalam semua skenario, kecuali skenario pertama, usia pensiun diasumsikan meningkat dari usia 60 tahun pada saat implementasi SJSN dan menjadi usia 65 tahun pada tahun 2047.

Skenario Usia pensiun Past service credit Pensiun sosial Tingkat kontribusi 1 60 None Tidak 5.27% 2 60 -> 65 None Tidak 4.48% 3 60 -> 65 None Ya 4.64% 4 60 -> 65 15 tahun Tidak 5.69% 5 60 -> 65 15 tahun Ya 5.85% 6 60 -> 65 All years Tidak 6.02% 7 60 -> 65 All years Ya 6.18%

Dalam skenario di atas, seluruh masa kerja sebelum implementasi program SJSN dapat diperhitungkan dengan masa kerja maksimal yang diperhitungkan selama 15 tahun.

(12)

12

Sebagai ilustrasi, kita misalkan terdapat seorang pekerja berusia 50 tahun pada saat program pensiun SJSN dimulai dan ia mulai bekerja pada usia 25 tahun. Pada saat sistem dimulai, pekerja sudah memiliki masa kerja 25 tahun, namun pekerja tersebut tentunya belum pernah membayar iuran program jaminan pensiun SJSN. Menurut Undang-Undang SJSN, masa kerja yang dimiliki pekerja selama 25 tahun tersebut tidak berpengaruh dalam perhitungan besarnya manfaat pensiun. Ketika pekerja memasuki usia pensiun pada usia 60 tahun, ia hanya mengiur selama 10 tahun dalam program jaminan pensiun SJSN. Oleh karena itu, perkerja tersebut tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan manfaat pensiun. Pekerja dimaksud hanya akan memperoleh pengembalian iuran yang telah dibayar selama 10 tahun dan hasil pengembangannya, tanpa mendapatkan manfaat pensiun.

Namun, apabila sebagian atau seluruh masa kerja sebelum program jaminan pensiun SJSN dimulai dapat diperhitungkan, pekerja akan berhak menerima manfaat pensiun SJSN. Jika masa kerja yang telah dijalani dapat diperhitungkan selama 15 tahun, maka manfaat pensiun yang akan diterima pekerja pada usia 60 akan didasarkan iuran selama 25 tahun, walaupun iuran hanya dilakukan oleh pekerja selama 10 tahun. Pekerja tersebut akan memenuhi persyaratan untuk menerima manfaat pensiun dan akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dibandingkan jika hanya menerima pengembalian iuran beserta hasil pengembangannya.

Pensiun sosial dalam laporan ini adalah program pensiun bagi kelompok masyarakat yang telah berusia 60 tahun atau lebih ketika sistem jaminan pensiun SJSN dimulai. Untuk keperluan analisis, diasumsikan besarnya manfaat pensiun sosial adalah Rp100.000,00 per bulan dan disesuaikan besarnya setiap tahun berdasarkan tingkat kenaikan upah. Dengan asumsi ini, iuran untuk program jaminan pensiun SJSN akan berkisar mulai dari 4,48%, apabila masa kerja sebelum program SJSN dimulai tidak diperhitungkan dan pensiun sosial tidak diberikan, dan meningkat sampai dengan 6,18% apabila seluruh masa kerja sebelum program SJSN dimulai diperhitungkan dan pensiun sosial diberikan.

Tabel di bawah ini menggambarkan besarnya iuran program jaminan pensiun setiap tahun sebagai persentase dari PDB dan sebagai persentase dari upah apabila diasumsikan masa kerja sebelum program SJSN diperhitungkan secara penuh dan diasumsikan pula terdapat program pensiun sosial. Iuran pada awal dijalankannya program jaminan pensiun akan lebih tinggi daripada skenario pertama karena pekerja yang mendekati usia pensiun dan masyarakat yang berusia lebih dari 60 tahun akan menerima manfaat pensiun. Namun, dengan asumsi usia pensiun dinaikkan, iuran yang sebenarnya akan lebih rendah dari besar iuran dalam tabel ini.

2010 2020 2030 2050 2070 Persentase dari GDP 0.6% 1.0% 1.6% 2.3% 2.7% Persentase dari upah 1.8% 3.1% 4.8% 6.8% 8.3%

Apapun rancangan program jaminan pensiun SJSN yang ditetapkan, pemerintah akan menemui permasalahan dalam pendanaannya untuk menjaga agar program jaminan pensiun dapat tetap berjalan dari tahun ke tahun. Program jaminan pensiun akan berjalan dengan baik ketika jumlah penduduk

(13)

13

meningkat dan proporsi jumlah pensiunan terhadap pengiur tetap atau bahkan menurun. Kestabilan pendanaan akan sulit bila populasi menua dengan cepat.

Pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola program jaminan pensiun. Pemerintah perlu melakukan analisis terhadap pengelolaan program jaminan pensiun setiap tahunya dan mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan agar pendanaan program pensiun dapat tetap terjaga. Pengelolaan program jaminan pensiun akan berhasil jika pemerintah melakukan penyesuaian secara berkala daripada membuat perubahan besar secara mendadak seperti penyesuaian usia pensiun, besar manfaat pensiun dan besar iuran pada saat program jaminan pensiun dalam kondisi kekurangan dana.

2.3 PROGRAM JAMINAN HARI TUA

Besar iuran untuk program jaminan hari tua adalah sekitar 3% dari upah pada awal penyelenggaraan program. Dengan iuran sebesar 3% tersebut, jika program jaminan hari tua SJSN dikelola dengan baik akan dapat memberikan manfaat yang lebih baik daripada program JHT yang disediakan Jamsostek (iuran sebesar 5,7%). Agar program jaminan hari tua SJSN dapat memberikan manfaat yang lebih baik, perlu dilakukan upaya untuk memaksimalkan tingkat hasil investasi, mengendalikan biaya administrasi dan biaya investasi, serta membatasi penarikan dana sebelum usia pensiun.

Perhitungan pendanaan program jaminan hari tua sebagai persentase dari PDB lebih sederhana dibandingkan dengan perhitungan pendanaan program jaminan pensiun. Apabila kita asumsikan bahwa total upah nasional adalah sebesar 35% dari PDB dan besarnya iuran adalah 3% dari upah, maka total kebutuhan pendanaan program ini menjadi sebesar 1,05% dari PDB (35% * 3%) dan akan tetap sama dari tahun ke tahun, kecuali besarnya iuran atau rasio dari total upah nasional terhadap PDB berubah. Untuk memperkirakan besarnya manfaat program jaminan hari tua pada saat pensiun, digunakan asumsi sebagai berikut:

• Besar iuran : 3% dari upah

• Frekwensi pembayaran iuran : Bulanan, iuran dibayar selama

pekerja aktif bekerja • Penarikan dana sebelum pekerja memasuki usia pensiun : Tidak ada

• Inflasi : 4%

• Tingkat kenaikan upah : 3%

• Tingkat hasil investasi : 4%

• Biaya-biaya : 2% dari kontribusi dan 0,6%

dari aset

Biaya untuk pengelolaan program jaminan hari tua umumnya terdiri dari dua jenis biaya. Pertama, biaya yang terkait dengan manajemen aset yang besarnya merupakan prosentase dari asset yang dikelola. Kedua, biaya untuk menutupi biaya administrasi kepesertaan, biaya cetak bukti kepesertaan, biaya penarikan iuran, dan biaya untuk fungsi lainnya yang besarnya merupakan prosentase dari iuran.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut di atas, pada saat memasuki usia pensiun, proyeksi besarnya manfaat program jaminan hari tua sebagai perkalian dari upah adalah sebagaimana tabel di bawah ini.

(14)

14 Lama iuran

(dalam tahun) Kelipatan Upah

5 1.8 10 3.7 15 5.6 20 7.6 25 9.6 30 11.6 35 13.7 40 15.8

Tabel di bawah ini menggambarkan pengaruh tingkat hasil investasi pada besarnya manfaat program jaminan hari tua SJSN dengan menggunakan asumsi seperti di atas. Sebagai gambaran, untuk pekerja dengan masa mengiur selama 30 tahun, perubahan tingkat hasil investasi sebesar 1% akan meningkatkan besar manfaat dari 11,6 kali upah menjadi 13,5 kali upah.

Lama mengiur (dalam tahun)

Tingkat hasil investasi

3% 4% 5% 5 1.8 1.8 1.9 10 3.6 3.7 3.9 15 5.3 5.6 6.1 20 6.9 7.6 8.4 25 8.5 9.6 10.9 30 10.1 11.6 13.5 35 11.6 13.7 16.4 40 13.0 15.8 19.4

(15)

15

Program jaminan hari tua SJSN akan menghimpun aset dalam jumlah yang sangat besar. Tabel di bawah ini menunjukkan perkiraan akumulasi aset program jaminan hari tua SJSN sebagai persentase dari PDB berdasarkan asumsi sebagaimana awal pembahasan program jaminan hari tua di atas.

Tahun % dari PDB

5 5.0%

10 9.6%

15 13.6%

20 17.0%

Berdasarkan tabel di atas, program jaminan hari tua akan memiliki aset sekitar 17% dari PDB setelah berjalan 20 tahun. Dengan jumlah aset yang demikian besar, pemerintah perlu memikirkan bentuk-bentuk investasi yang diperkenankan atas aset dimaksud dan prosedur penempatan aset untuk memastikan bahwa aset tersebut aman dan dapat memenuhi hak-hak masyarakat saat pensiun.

Keberhasilan program jaminan hari tua membutuhkan prosedur tata kelola yang dapat memaksimalkan tingkat hasil investasi dengan tetap memperhatikan tingkat risiko investasi yang aman, mengontrol biaya investasi, dan membatasi tingkat pengambilan dana oleh pekerja sebelum memasuki usia pensiun. Dalam melakukan manajemen aset program jaminan hari tua, terdapat tiga pilihan yaitu:

• BPJS bertanggung jawab dalam manajemen aset dan pemilihan sekuritas;

• BPJS menentukan strategi umum investasi dan menunjuk manager investasi swasta untuk melakukan manajemen aset dan selanjutnya BPJS melakukan penilaian atas kinerja manajer investasi tersebut;

• Seluruh aspek manajemen aset diserahkan kepada manajer investasi swasta. Dalam hal ini, BPJS dapat menunjuk beberapa manajer investasi.

Keunggulan dan kelemahan dari masing-masing pilihan di atas beserta studi kasus secara internasional akan dibahas pada bab selanjutnya dalam laporan ini. Kami menyarankan penggunaan manajer investasi swasta (pilihan 2 atau 3 di atas) untuk memaksimalkan pengembalian investasi dan mengurangi adanya intervensi politik dalam proses investasi.

2.4 PROGRAM JAMINAN KEMATIAN

Program jaminan kematian ini dimaksudkan untuk memberikan manfaat yang dibayarkan secara sekaligus kepada ahli waris pekerja yang meninggal dunia. Besarnya manfaat program jaminan kematian dapat merupakan perkalian dari upah atau dalam jumlah nominal tertentu. Dalam hal pekerja meninggal dunia, selain mendapatkan manfaat jaminan kematian, ahli waris juga akan menerima manfaat program jaminan pensiun SJSN atau akan mendapatkan manfaat program jaminan kecelakaan kerja apabila

(16)

16

pekerja meninggal karena kecelakaan kerja. Pemerintah perlu memperjelas tujuan jaminan kematian SJSN apakah hanya untuk menutup biaya pemakaman atau untuk memberikan tambahan manfaat kepada keluarga yang ditinggalkan oleh pekerja. Diskusi mengenai pembayaran jaminan kematian atas kematian anggota keluarga pekerja (selain pekerja) juga telah dilakukan. Namun, dalam Undang-undang SJSN sangat jelas bahwa hanya akan membayar manfaat kematian dari program jaminan kematian SJSN untuk kematian pengiur. Untuk itu, jaminan kematian bagi anggota keluarga dapat diberikan melalui program-program bantuan sosial.

Telah dilakukan perhitungan biaya untuk tiga manfaat jaminan kematian secara berbeda. Ketiga contoh perhitungan besar manfaat tersebut merupakan ilustrasi dan bukan rekomendasi dalam menetapkan besarnya manfaat. Diperlukan diskusi lebih lanjut untuk memperjelas tujuan dan jumlah manfaat dari program jaminan kematian SJSN. Contoh besar manfaat tersebut dimaksudkan untuk memberikan perhitungan manfaat yang dibayarkan sekaligus atas kematian pekerja ditambah manfaat biaya pemakaman. Rumus yang digunakan dalam menghitung besar manfaat adalah sama dengan yang digunakan dalam program jaminan kematian dan jaminan kecelakaan kerja pada JAMSOSTEK dan TASPEN saat ini.

• Besar manfaat sama dengan 12 bulan upah

• Besar manfaat sebesar Rp 10 juta (2007) yang disesuaikan dengan peningkatan upah. Dengan demikian, besar manfaat jaminan kematian meningkat setiap tahunnya secara proporsional dengan peningkatan jumlah upah rata-rata nasional. Oleh karena itu, persentase besar manfaat jaminan kematian terhadap upah rata-rata akan tetap sepanjang periode analisis

• Besar manfaat sebesar Rp 10 juta (2007) yang disesuaikan dengan inflasi. Pada umumnya, kenaikan upah melebihi inflasi, sehingga presentase besar manfaat kematian terhadap upah rata-rata nasional akan menurun.

Perhitungan biaya untuk ketiga ilustrasi tersebut akan menurun dari waktu ke waktu karena tingkat kematian diasumsikan akan menurun seiring dengan adanya perbaikan kondisi ekonomi, perbaikan sistem pelayanan kesehatan, dan kemajuan teknologi medis.

Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah pengiur dan perkiraan jumlah kematian pengiur dengan asumsi usia pensiun 60 dan angka kematian yang menurun. Rasio jumlah kematian terhadap jumlah pengiur menurun meskipun usia rata-rata pengiur meningkat sepanjang periode analisis.

2010 2020 2030 2050 2070

Pengiur (dlm ribuan) 95,167 106,528 112,418 115,298 108,000

Jumlah kematian (dlm ribuan) 373 386 358 272 260

Rasio, jumlah kematian terhadap Pengiur

(17)

17

Tabel berikut menunjukkan perhitungan biaya untuk masing-masing pilihan pada program jaminan kematian yang telah dijelaskan di awal bagian ini.

2010 2020 2030 2050 2070

Rata-rata

12 kali gaji 0.39% 0.36% 0.32% 0.24% 0.24% 0.28%

Rp10 juta, index upah 0.21% 0.19% 0.17% 0.13% 0.13% 0.15%

Rp10 juta, index inflasi 0.20% 0.13% 0.08% 0.03% 0.01% 0.06%

Untuk besar manfaat yang berbeda dengan yang tersebut di atas (Rp10 juta) atau bilangan pengali upah bulanan yang berbeda, iuran program jaminan kematian SJSN dapat dihitung langsung secara proporsional. Sebagai ilustrasi, jika besar manfaat dijadikan dua kali lipat, maka iuran akan menjadi dua kali lipatnya. Jika besar manfaat kematian sebesar 48 kali upah bulanan, maka iuran akan empat kali lebih tinggi dari 12 kali upah bulanan.

Tidak seperti program-program jaminan sosial SJSN lainnya, pendanaan program jaminan kematian SJSN dimulai dengan iuran yang tinggi dan menurun dari waktu ke waktu. Sehingga untuk manfaat jaminan kematian, pemerintah perlu menetapkan iuran yang lebih besar dibandingkan dengan iuran rata-rata pada awal penyelenggaraan program SJSN. Misalnya, jika manfaat kematian sebesar 12 gaji bulanan, maka iuran untuk 30 tahun pertama penyelenggaraan program minimal 0,35% dari upah dan dapat menurun untuk tahun-tahun berikutnya jika terjadi penurunan angka kematian seperti yang diprediksikan.

2.5 JAMINAN KESEHATAN

Manfaat jaminan kesehatan SJSN berupa pelayanan kesehatan dasar. Manfaat ini termasuk kunjungan untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama dan pelayanan kesehatan tingkat kedua, rumah sakit, operasi, farmasi, laboratorium dan pelayanan lain yang diperlukan untuk menjamin tingkat kesehatan. Program jaminan kesehatan didasarkan pada model managed care. Dalam model ini, setiap warga negara mempunyai pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan akses untuk layanan medis. Kecuali untuk keadaan darurat, pasien harus terlebih dahulu mengunjungi dokter keluarga mereka sebelum ke perawatan dokter spesialis atau sebelum dirujuk ke rumah sakit. Pelayanan kesehatan pada program jaminan kesehatan ini terutama diterapkan pada rumah sakit dan klinik pemerintah, namun pelayanan kesehatan swasta juga dapat berpartisipasi. Pendanaan untuk program jaminan kesehatan harus berdasarkan perhitungan aktuaris atau ekonom yang memiliki keahlian dalam bidang asuransi kesehatan. Pendanaan akan cenderung meningkat seiring waktu karena peningkatan cakupan serta peningkatan dalam pemanfaatan layanan, biaya yang dibutuhkan untuk perawatan medis, jumlah penyedia layanan dan fasilitas, perubahan dalam prosedur dan teknologi medis, perubahan dalam tingkat morbiditas dan tingkat harapan hidup.

Dalam melakukan estimasi pendanaan program jaminan kesehatan, digunakan data dari PT Askes tahun 2005 dan 2006. Dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian, data klaim dalam asuransi kesehatan

(18)

18

Pegawai Negeri Sipil digunakan untuk estimasi biaya program jaminan kesehatan SJSN pada sektor formal dan data dari program Askeskin untuk estimasi biaya program jaminan kesehatan SJSN untuk sektor informal. Asumsi-asumsi pokok yang digunakan dalam estimasi pendanaan program jaminan kesehatan adalah:

• Seluruh sektor formal tercakup pada saat program mulai diberlakukan • Sektor informal miskin tercakup pada saat program mulai diberlakukan • Sektor informal tidak miskin secara bertahap akan diprogramkan tahun 2020

• Biaya klaim untuk sektor informal naik secara bertahap dari kondisi saat ini sampai sebesar 90% dari biaya klaim untuk sektor formal tahun 2020.

Telah tersedia proyeksi 75 tahun untuk pendanaan jaminan kesehatan, namun pemerintah seharusnya melakukan proyeksi untuk jangka waktu 10 tahun atau kurang. Dengan adanya perubahan pesat pada teknologi medis dan standar praktek serta peningkatan akses untuk pelayanan kesehatan, pemerintah seharusnya melakukan proyeksi yang lebih pendek dari pada proyeksi untuk program pensiun. Dengan demikian, pemerintah seharusnya tidak terlalu banyak mengacu pada perkiraan biaya pada tahun mendatang.

Tabel di bawah ini menunjukkan estimasi biaya program jaminan kesehatan sebagai persentasi dari PDB. Selama 20 tahun pertama, biaya bervariasi bergantung pada jumlah pekerja miskin. Hal ini karena diasumsikan sektor informal miskin telah tercakup secara keseluruhan pada saat program mulai diberlakukan, sedangkan sektor informal tidak miskin secara bertahap juga akan dicakup dalam program jaminan kesehatan.

# pekerja miskin 2010 2020 2030 2050 2070 Level 14 juta 0.10% 0.30% 0.40% 0.50% 0.60% 0.44% 35 juta 0.30% 0.70% 0.90% 1.20% 1.50% 1.06% 46 juta 0.40% 1.00% 1.20% 1.60% 2.00% 1.41% 63 juta 0.50% 1.40% 1.60% 2.10% 2.70% 1.93%

Sumber: Perhitungan penulis

Iuran program jaminan kesehatan sebagai persentase dari upah jumlahnya akan bervariasi berdasarkan tingkat pendapatan. Biaya manfaat jaminan kesehatan tidak dibedakan berdasarkan pendapatan (namun semua orang mendapat manfaat yang sama). Jika iuran program dinyatakan sebagai persentase dari upah, iuran untuk pekerja sektor formal akan lebih rendah daripada iuran untuk pekerja sektor informal. Pada sektor formal terdapat biaya subsidi yang signifikan. Pekerja dengan upah lebih tinggi akan memberi subsidi manfaat kepada pekerja dengan upah yang lebih rendah karena semua pekerja sektor formal akan dikenakan iuran berdasarkan persentase yang sama dari upah.

(19)

19

2.6 BIAYA TERHADAP ANGGARAN NEGARA

Ketika program-program SJSN diperkenalkan, akan terdapat bererapa tambahan biaya yang harus dikeluarkan dari Anggaran Negara. Sumber-sumber utama pengeluaran dari Anggaran Negara adalah:

• Iuran program jaminan sosial SJSN untuk PNS di mana negara yang berperan sebagai pemberi kerja

• Pembayaran subsidi iuran bagi sektor informal miskin

• Anggaran untuk mendukung lembaga-lembaga yang diperlukan pada sistem SJSN. Anggaran tersebut termasuk untuk mendukung DJSN dan Sekretariat, dan untuk pengawasan dan pengendalian operasional BPJS, termasuk pula anggaran untuk mendukung BPJS atau penegakan hukum.

Menurut Undang-undang SJSN, pemerintah wajib membayar iuran semua program asuransi sosial bagi masyarakat miskin. Pemerintah belum menentukan metodologi yang akan digunakan dalam menentukan jumlah pekerja miskin yang berhak untuk memperoleh subsidi iuran. Beban yang akan ditanggung pemerintah tergantung pada jumlah masyarakat miskin dan upah/pendapatan mereka. Analisis biaya yang harus ditanggung oleh APBN dalam laporan ini dihitung berdasarkan beberapa asumsi jumlah masyarakat miskin yang memenuhi syarat untuk menerima subsidi, mulai dari yang paling sedikit pada tahun 2007 yaitu dari 14 juta orang sampai dengan sebanyak-banyaknya 63 juta pekerja miskin pada sektor informal.

Angka enam puluh tiga juta jiwa merupakan jumlah pekerja sektor informal yang miskin dan diasumsikan pemerintah tidak mampu memungut iuran dari seluruh pekerja sektor informal sehingga pemerintah harus menanggung iuran bagi seluruh pekerja sektor informal tersebut.

Tabel di bawah ini menyajikan kebutuhan pendanaan sebagai persentasi dari PDB untuk dua metode yaitu metode pay-as-you-go dan metode prefunding untuk program jaminan pensiun, jaminan hari tua, dan jaminan kematian. Dalam tabel ini, yang ditampilkan adalah pilihan kombinasi program jaminan sosial dengan kebutuhan pendanaan yang terbesar. Kombinasi tersebut yaitu program pensiun yang memperhitungkan seluruh masa kerja sebelum program SJSN dimulai, adanya program pensiun sosial, dan manfaat jaminan kematian sebesar 12 kali upah bulanan.

# poor workers

2010 2020 2030 2050 2070 Level

PENSION PLAN – FULL PAST SERVICE AND SOCIAL PENSION 14 juta 0.03% 0.04% 0.07% 0.10% 0.12% 0.10% 35 juta 0.08% 0.14% 0.22% 0.32% 0.38% 0.30% 46 juta 0.14% 0.23% 0.36% 0.52% 0.61% 0.49% 63 juta 0.29% 0.48% 0.77% 1.10% 1.30% 1.04%

(20)

20 # poor workers 2010 2020 2030 2050 2070 Level 14 juta 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 0.05% 35 juta 0.15% 0.15% 0.15% 0.15% 0.15% 0.15% 46 juta 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 63 juta 0.50% 0.50% 0.50% 0.50% 0.50% 0.50%

DEATH BENEFIT – 12 MONTHLY SALARIES

14 juta 0.01% 0.01% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 35 juta 0.02% 0.02% 0.02% 0.01% 0.01% 0.01% 46 juta 0.03% 0.03% 0.03% 0.02% 0.02% 0.02% 63 juta 0.07% 0.06% 0.05% 0.04% 0.04% 0.05% HEALTH PROGRAM 14 juta 0.1% 0.3% 0.4% 0.5% 0.6% 0.44% 35 juta 0.3% 0.7% 0.9% 1.2% 1.5% 1.06% 46 juta 0.4% 1.0% 1.2% 1.6% 2.0% 1.41% 63 juta 0.5% 1.4% 1.6% 2.1% 2.7% 1.93% TOTAL 14 juta 0.18% 0.40% 0.52% 0.65% 0.77% 0.58% 35 juta 0.55% 1.00% 1.28% 1.68% 2.03% 1.52% 46 juta 0.81% 1.49% 1.83% 2.38% 2.87% 2.16% 63 juta 1.36% 2.44% 2.93% 3.75% 4.54% 3.52%

Sumber : Perhitungan penulis

Berdasarkan tabel di atas, jika pemerintah menanggung iuran untuk seluruh sektor informal, maka pendanaan yang dibutuhkan berdasarkan metode pay-as-you-go akan berkisar antara 1,36% pada tahun 2010 dari PDB dan akan meningkat menjadi 4,54% pada tahun 2050. Apabila besar iuran yang dibayar adalah sama sepanjang tahunnya maka besar pendanaan yang dibutuhkan adalah setara 3,52% dari PDB. Jika didasarkan pada asumsi yang lebih realistik, dengan diasumsikan terdapat 35 juta pekerja

(21)

21

miskin yang disubsidi oleh pemerintah, dan apabila besar iuran yang dibayar adalah sama maka besar pendanaan yang dibutuhkan adalah setara 1,52% dari PDB.

Besar kebutuhan pendanaan program bagi masyarakat miskin sebagaimana yang digambarkan dalam tabel di atas merupakan jumlah pendanaan bruto dari program SJSN. Besarnya kebutuhan pendanaan tersebut belum memperhitungkan penghematan anggaran dengan adanya pengurangan atau penghapusan program bantuan sosial lainnya. Sebagai contoh, pada saat ditetapkannya SJSN, manfaat pensiun yang dibayarkan kepada PNS dari APBN akan berkurang. Demikian juga, pembayaran bantuan sosial untuk sektor informal miskin akan dikurangi atau dihapuskan. Ketika menghitung dampak SJSN pada anggaran negara, maka penghematan anggaran dari program sosial lainnya juga harus dipertimbangkan.

3. PRASYARAT UNTUK MEMULAI SISTEM SJSN

Sejumlah pekerjaan penting harus diselesaikan sebelum program-program asuransi sosial SJSN dapat dijalankan. Jika program-program SJSN ini dimulai sebelum semua prasyarat selesai disiapkan, maka kemungkinan besar program SJSN tersebut akan gagal walaupun telah dirancang dan didanai dengan baik.

Penyelesaian prasyarat tersebut membutuhkan proses minimal 2-3 tahun dan harus dikelola secara hati-hati, baik pada tingkatan politik maupun pada tingkatan teknis. Apabila prasyarat tersebut telah disiapkan dengan baik, sangat mungkin program-program jaminan sosial SJSN dapat dilaksanakan pada awal 2012. Namun, tanpa adanya perhatian secara serius, program ini tidak mungkin dimulai pada tahun 2012.

Tahun 2009 akan menjadi tahun penentuan bagi pelaksanaan SJSN. Pada akhir tahun 2009, semua keputusan strategis mengenai detail rancangan dan pendanaan masing-masing program jaminan sosial SJSN harus diselesaikan. Selain itu, penunjukan pihak yang bertanggung jawab untuk melaksanakan fungsi-fungsi utama seperti fungsi penarikan iuran, pengawasan dan pengendalian, penegakan hukum, analisis keuangan dan aktuaria, tata kelola, dan status badan hukum BPJS harus dapat diselesaikan. Peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan untuk implementasi program SJSN juga harus selesai dan diserahkan pada Parlemen. Jika hal ini tidak dapat selesai pada waktunya, maka tanggal mulai program SJSN hampir pasti akan tertunda.

Analisis dan desain secara aktuaria yang hati-hati diperlukan untuk menjamin biaya program kesehatan terkendali dan tetap dalam parameter biaya yang telah diasumsikan/ditentukan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan akan cenderung meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan berjalannya jaminan kesehatan nasional, meningkatnya kesadaran kesehatan, meningkatnya jumlah penyedia pelayanan kesehatan, dan membaiknya fasilitas pelayanan kesehatan. Beberapa hal yang harus dilakukan dan hal ini membutuhkan waktu adalah penyiapan perjanjian dengan penyedia pelayanan kesehatan, permufakatan mekanisme penggantian biaya kesehatan, prosedur pengendalian kualitas, akuntansi dan persyaratan pencatatan/administrasi kepesertaan, dan lain-lain.

(22)

22

• Penentuan bentuk badan hukum dan peranan dari masing-masing persero yang ada (Jamsostek,Taspen, Askes dan Asabri)

• Peningkatan pada seluruh struktur tata kelola, termasuk sistem pengawasan dan kontrol yang lebih efektif untuk BPJS

• Perancangan manfaat setiap program jaminan SJSN serta detail atas proyeksi fiskal jangka pendek dan jangka panjang untuk lima program jaminan sosial SJSN

• Perancangan semua undang-undang yang diperlukan, peraturan pemerintah dan keputusan presiden untuk menerapkan desain, pembiayaan, dan administrasi dari program SJSN.

Kemudian pada tahun 2010 dan 2011, badan penyelenggara yang bertanggung jawab untuk penyelenggaraan program-program SJSN harus dipersiapkan untuk menjalankan fungsi dan tanggung jawab yang baru. Setiap badan penyenggara memerlukan struktur organisasi yang baik dan deskripsi pekerjaan yang jelas. Pegawai yang layak perlu direkrut dan dilatih, detail proses bisnis dan dukungan sistem IT perlu dikembangkan, dan anggaran yang cukup harus tersedia.

Pekerjaan utama antara lain:

• Pembuatan nomor jaminan sosial tunggal untuk setiap individu (social individual numbers -SIN) • Perubahan badan hukum BPJS

• Perbaikan sistem penarikan iuran/premi/kontribusi dan sistem pengumpulan data

• Negosiasi kontrak dengan penyedia pelayanan kesehatan dan pelaksanaan prosedur pengendalian kualitas

• Penentuan metodologi untuk mengidentifikasi dan memonitor masyarakat miskin yang berhak untuk memperoleh subsidi dari pemerintah

• Pembentukan sebuah kantor aktuaria negara untuk mengelola aspek keuangan dan aspek manajemen risiko program SJSN

• Sosialisasi untuk menjelaskan skema asuransi sosial yang baru kepada masyarakat Indonesia, media massa dan parlemen.

Semua tugas di atas merupakan prasyarat untuk memulai program SJSN. Setiap tugas ini harus dikelola secara hati-hati dan dipantau agar dapat selesai tepat waktu. Diperlukan dukungan politik tingkat tinggi agar program jaminan sosial SJSN dapat menjadi prioritas dan sistem jaminan sosial SJSN dapat berhasil.

(23)

23

BAGIAN I

RENCANA STRATEGIS UNTUK RANCANGAN DAN

IMPLEMENTASI SJSN

(24)

24

1. PENDAHULUAN

Krisis keuangan tahun 1998 menunjukkan bahwa program-program perlindungan sosial yang ada di Indonesia tidak cukup untuk mencegah meningkatnya kemiskinan dan penderitaan rakyat. Akibatnya, Undang-Undang Dasar diamandemen dan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 (UU SJSN) ditetapkan untuk menciptakan suatu sistem perlindungan sosial yang lebih sehat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Undang-Undang SJSN menguraikan struktur umum sistem jaminan sosial yang baru, namun masih banyak unsur penting yang ditinggalkan bagi undang-undang dan peraturan di masa mendatang. Tujuan utama dari undang-undang ini ialah untuk menerapkan sebuah Sistem Jaminan Sosial Nasional yang sehat, efisien, dan transparan yang melayani kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Undang-undang ini mengamanatkan pembentukan lima program jaminan sosial yaitu jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan pensiun, jaminan hari tua, dan jaminan kematian, tetapi kurang menjelaskan tentang cara beroperasinya program-program tersebut. Implementasi undang-undang ini memerlukan kesepakatan di antara para pemangku kepentingan mengenai rancangan program, administrasi, dan tata kelola serta rancangan implementasi undang-undang dan peraturan yang tepat.

Menurut undang-undang SJSN, program jaminan kesehatan harus diimplementasikan terlebih dahulu tetapi undang-undang ini tidak menjelaskan program-program selanjutnya yang harus diimplementasikan. Namun, undang-undang ini menyatakan bahwa program-program tersebut harus dilaksanakan secara bertahap dengan cara yang terjangkau oleh anggaran negara. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang ini, program tersebut juga harus terjangkau bagi para pekerja dan pemberi kerja serta tidak memiliki dampak negatif bagi pasar tenaga kerja dan perkembangan makro ekonomi Indonesia. Undang-undang ini juga mengamanatkan mengenai bentuk badan hukum dari empat administrator, secara bersama-sama disebut sebagai BPJS, akan diubah dalam waktu lima tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang (yakni, pada Oktober 2009) sehingga keempat BPJS tersebut menjadi lembaga nirlaba dengan melaksanakan segala upaya untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.

Langkah awal dalam proses merancang ini adalah mengembangkan konsensus pada kerangka strategis untuk program SJSN. Pada semester kedua tahun 2008, kami melakukan wawancara dengan para pemangku kepentingan utama dengan tujuan untuk lebih memahami wilayah kesepakatan dan perbedaan pendapat mengenai rancangan, administrasi, dan tata kelola program SJSN. Kemudian masukan tersebut kami gunakan untuk mempersiapkan rencana strategis untuk rancangan dan implementasi SJSN dalam laporan ini.

Bagian 1 dari laporan ini menguraikan visi strategis kami untuk implementasi program jaminan sosial nasional yang diamanatkan oleh UUD dan UU SJSN. Laporan ini mencerminkan masukan-masukan yang kami terima dari para pemangku kepentingan, studi kebijakan dan teknis terdahulu yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan donor internasional yang lain serta praktik internasional terbaik. Laporan ini juga mempresentasikan rencana strategis yang unik sesuai dengan demografi, sejarah, budaya, lembaga dan program yang ada, dan tingkat perkembangan makro ekonomi. Walaupun pengalaman dan sistem di negara-negara lain penting, Indonesia harus merancang sebuah sistem yang unik sesuai dengan keadaannya sendiri.

(25)

25

2. FILOSOFI

Terlihat jelas bahwa Indonesia tidak mampu membayar program-program jaminan sosial SJSN untuk memberikan semua perlindungan yang dibutuhkan kepada seluruh rakyat. Biaya yang dikeluarkan pekerja, pemberi kerja dan anggaran negara akan menjadi sangat tinggi. Hanya program SJSN yang sederhana yang bisa dibayarkan. Penting untuk menjaga iuran dari pemberi kerja, pekerja, sektor informal dan anggaran negara pada tingkat yang secara jelas terjangkau, bahkan jika perkembangan ekonomi hanya pada tahap yang relatif rendah.

Program-program SJSN yang sangat kaya tersebut juga akan menjadi tidak konsisten dengan filosofi perlindungan sosial Indonesia. Kebanyakan pekerja saat ini memiliki perlindungan sosial yang minim dan sumber utama dukungan bagi yang lebih tua adalah keluarga yang bertambah. Program-program SJSN bertujuan untuk memberikan jumlah dasar bagi seluruh pekerja Indonesia tetapi hal tersebut tidak bertujuan untuk sepenuhnya mengganti sistem pendukung keluarga. Indonesia juga memiliki sebuah sistem ekstensif tentang pensiun dan asuransi swasta dan program SJSN tidak bertujuan untuk mendesak atau mengganti program swasta ini. Mereka akan tetap memberikan peranan penting dalam sistem baru perlindungan sosial di Indonesia.

Program-program SJSN akan memberikan sebuah tingkat dasar perlindungan bagi seluruh warga Indonesia. Hal ini penting bagi militer, pegawai negeri, sektor formal, dan sektor informal untuk pada akhirnya berpartisipasi dalam program-program SJSN. Bagi beberapa kelompok pekerja, manfaat SJSN sendiri tidak akan mencukupi. Bagi kelompok ini, manfaat bisa ditambahkan di luar sistem SJSN melalui program-program tambahan pemerintah atau melalui sektor swasta sebagaimana ditunjukkan dalam diagram di sebelah kanan.

Juga penting untuk dicatat bahwa tujuan program SJSN tidak untuk mengurangi manfaat bagi militer atau pegawai negeri, tetapi hanya untuk memberikan tingkat dasar perlindungan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan menfasilitasi mobilitas pasar tenaga kerja. Program pensiun tambahan bagi pegawai negeri dan militer perlu disediakan dari APBN sehingga jumlah program SJSN dan non-SJSN bersama memberikan manfaat pada tingkat yang

diinginkan. Bagi mereka yang menginginkan jumlah tambahan bisa juga mengadakannya dari perusahaan asuransi swasta, dengan investasi di program-program tabungan pensiun swasta relawan atau melalui tabungan individu. Sebagai bagian dari pelaksanaan program SJSN, pemerintah akan bekerja dengan pengusaha dan serikat pekerja untuk mengharmonisasi manfaat program SJSN

yang ada. Formal Informal Civil Military

Sector Sector Servants

Private Pension and Insurance Programs

SJSN

(26)

26

3. PERAN ADMINISTRATOR

Undang-undang SJSN menyatakan bahwa BPJS yang ada sekarang (Taspen, Asabri, Jamsostek dan Askes) akan menjadi administrator dari program-program SJSN yang baru, tetapi undang-undang tersebut tidak menspesifikasi peranan yang tepat dari masing-masing administrator tersebut. Masing-masing organisasi yang saat ini melayani segmen pasar pekerja yang berbeda (lihat diagram). Program kesehatan jamkesmas bagi anggota termiskin dari sector informal diadministrasikan oleh Departemen Kesehatan.

Dari segi teknis, ada sedikit alasan untuk mempunyai empat administrator terpisah; hanya satu atau dua yang dibutuhkan dalam mengelola program SJSN secara efisien. Para administrator harus juga diorganisasikan oleh program perlindungan social dan bukan oleh segmen pasar pekerja. Dengan cara ini, struktur BPJS akan terharmonisasi dengan struktur SJSN baru.

Dalam pelaksanaan jangka pendek, bisa ada kesulitan politis dan teknis yang bergerak dengan cepat dari struktur yang sekarang. Akibatnya, rencana detail diperlukan untuk pindah dari struktur yang sekarang ke struktur yang lebih tepat dengan lebih sedikit administrator dan diorganisasikan oleh program asuransi kesehatan yang harus dikonsolidasikan di bawah Askes.

Tabel di bawah menggambarkan dua pilihan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah. Pilihan lain mungkin saja dan dibahas lebih detail dalam laporan draf kami bulan Desember 2008 yang berjudul “Tanggungjawab BPJS dalam undang-undang SJSN”.

Civ il M il ita ry F orm a l Inf orm a l Ci vil M i litar y F or m a l In for m al Se rv an ts Se ct or Se ct or S e rv a nt s S e cto r Se ctor

B P JS fo r SJSN R e tire m e nt P rog ra m s, G o ve rn m e n t an d M ilita ry S up ple m e nts

B PJS f o r SJSN In su ran c e Pro gra m s , G o ve rn m e n t an d M ilita ry S up ple m e nts BP JS fo r SJS N Insu ra nc e Pro gr am s

B PJS f or S JSN Re tir e m e n t Pro gra m s

BP JS G ove r nm e nt S upp le m e nt al Pro gra m s B P JS M ilita ry Su pp le m e nta l Prog ra m s

Dalam pilihan pertama, sato administrator akan bertanggungjawab bagi program-program pensiunan SJSN (pensiun dan tabungan hari tua) bagi semua pekerja sedangkan yang lain akan bertanggungjawab bagi program asuransi SJSN (kesehatan, kompensasi pekerja dan manfaat kematian). Akan ada juga hanya satu administrator yang bertanggungjawab terhadap kelima program SJSN. Administrator yang lain –mungkin Taspen dan Asabri-akan tetap bertanggungjawab terhadap manfaat tambahan non-SJSN bagi PNS dan Militer.

Pilihan kedua serupa dengan yang pertama tetapi perbedaanya dua administrator SJSN juga bertanggungjawab terhadap program non-SJSN tambahan yang disponsori oleh pemerintah. Susunan ke dua lebih kompleks karena satu administrator bertanggungjawab baik terhadap program SJSN maupun non-SJSN. Namun, struktur ini bisa juga membuatnya lebih mudah untuk mengkoordinasikan SJSN dan manfaat tambahan bisa dibayarkan kepada PNS dan militer. Masalah politis pada kedua

(27)

27

struktur ini ialah kedua struktur tersebut menghapuskan atau mengurangi peranan dari satu atau lebih persero yang ada. Masalah umum yang lain terkait dengan kebanyakan program asuransi sosial nasional ialah bahwa mereka menciptakan monopoli. Ada satu administrator semi-pemerintah untuk setiap program dan ada kecenderungan untuk tidak sedikit kompetisi. Akibatnya, sulit untuk memberikan insentif kepada administrator untuk menyediakan biaya layanan dan kontrol yang berkualitas tinggi.

Pilihan yang lebih radikal dapat dipertimbangkan yang menunjuk pada masalah ini. Di bawah susunan ini, keempat administrator yang ada sekarang akan diperkenankan untuk menawarkan salah satu atau kelima program asuransi sosial SJSN. Pekerja akan memiliki pilihan administrator untuk berbagai program asuransi sosial dan dapat diizinkan untuk beralih secara berkala di antara administrator-administrator jika mereka tidak puas dengan kinerja atau pelayanan. Ini juga akan menghentikan perebutan politik di antara administrator yang ada mengenai siapa yang akan mengelola program apa. Jika baik Askes maupun Jamsostek ingin menawarkan program asuransi kesehatan, misalnya, mereka bisa melakukannya. Indonesia tentunya cukup besar untuk mendukung lebih dari satu administrator untuk setiap program.

Secara teori, susunan ini akan menciptakan kompetisi dan memberikan insentif untuk pelayanan yang baik dan biaya yang rendah. Dalam praktiknya, hal ini tidak jelas apakah pengaturan ini akan mengakibatkan penurunan biaya administrasi atau apakah pemasaran dan biaya iklan akan mengimbangi kerugian beberapa tabungan dari efisiensi operasional. Pengaturan ini juga membuat sistem menjadi lebih kompleks, lebih memerlukan ketekunan dan pengertian dari para pekerja, dan akan lebih mahal bagi pemerintah untuk mengawasi dan mengatur. Akan diperlukan sebuah proses pendaftaran awal dan berkelanjutan dan sebuah program transfer. Peraturan akan dibutuhkan pada situasi di mana para pekerja gagal untuk membuat pilihan yang dibutuhkan. Hal ini akan sangat mirip dengan proses sudah diikuti seluruh Amerika Latin dan Eropa Timur untuk sistem pensiun swasta wajib mereka. Jadi pada sisi positif, masalah prosedur dan kembali dikenal.

Di bawah penerapan konsep ini yang mungkin paling sederhana, semua administrator akan diminta untuk menawarkan paket manfaat yang sama pada harga yang sama. Kompetisi akan terutama berdasarkan kualitas layanan dan kinerja. Tingkat kerumitan berikutnya yang akan mengizinkan administrator untuk bersaing juga pada harga yang sama dengan tetap menjaga standar manfaat paket. Struktur yang lebih rumit akan mengizinkan variasi manfaat dan harga, tunduk kepada paket manfaat minimal.

Civil Military Formal Informal Servants Sector Sector

Death Worker Accident Health Insurance Old-Age Savings

Pensions

WORKERS SELECT DESIRED BPJS FOR EACH PROGRAM

(28)

28

4. BENTUK BADAN HUKUM

BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)

Salah satu isu yang harus dibicarakan segera adalah perubahan bentuk badan hukum dari BPJS dan keseluruhan struktur tata kelola dari sistem SJSN seluruhnya. Sebuah bentuk badan hukum baru harus ditetapkan pada Oktober 2009.

Struktur persero saat ini tidak konsisten degan undang-undang SJSN. Undang-unang tersebut membutuhkan sebuah bentuk badan hukum berdasarkan konsep dana terpercaya jaminan sosial yang dikelola oleh BPJS pada basis tidak untuk mencari keuntungan (not for-profit). Akibatnya, bentuk badan hukum BPJS harus berdasarkan pada prinsip-prinsip di bawah ini:

• BPJS harus tidak untuk mencari keuntungan. BPJS secara hukum harus tidak perlu membayar pajak atau dividen kepada pemerintah atau pemegang saham lainnya.

• Iuran dana asuransi sosial SJSN harus digunakan hanya untuk tujuan membayar manfaat kepada peserta dan memenuhi pengeluaran administrasi yang masuk akal dan beralasan.

• Kewajiban fidusier badan pengelolaan BPJS haruslah hanya kepada peserta. Manajemen harus bertanggungjawab atas pengggunaan iuran secara efisien untuk membayar manfaat dan biaya administrasi.

• Semua keputusan harus dibuat demi kepentingan terbaik peserta.

• Pengangkatan badan manajemen dan komisi pengawasan harus berdasarkan pada test yang “pantas dan tepat” yang menjamin bahwa semuanya memiliki pendidikan, latar belakang dan pengalaman yang sesuai posisi yang ditempati.

• Uraian pekerjaan dan patokan kinerja dibutuhkan bagi semua anggota badan manajemen. Kinerja harus ditinjau kembali pada waktu tertentu dan hal-hal yang tidak mencapai sasaran dan tujuan harus diganti.

Sayangnya, mungkin tidak realistis kalau kita menganggap model ini bisa ditetapkan secara keseluruhan sebelum bulan Oktober 2009, tanggal struktur yang ada saat ini sudah tidak lagi berada di bawah SJSN. Sebagaimana pada bagian lain penerapan SJSN, mungkin perlu untuk memiliki bentuk badan hukum sementara untuk jangka pendek dan sebuah bentuk badan hukum akhir untuk jangka panjang.

Langkah pertama ialah memakai bentuk badan hukum sementara untuk BPJS yang memenuhi kondisi seperti yang diuraikan di atas. Undang-undang baru sepertinya harus dipakai oleh parlemen untuk menerapkan struktur yang baru. Pemerintah sedang mempertimbangkan beberapa bentuk bentuk yang mungkin termasuk persero non-laba atau lembaga non-laba semi-pemerintah.

Jika struktur persero non-laba yang dipilih, kemudian penting untuk menggambarkan tanggungjawab masing-masing DJSN dan Kementerian BUMN. Sebagaimana yang akan dibahas pada seksi berikutnya dengan lebih detail, DJSN harus mempunyai kewenangan pokok akhir di atas semua aspek sistem SJSN dan kegiatan BPJS. Sedangkan BUMN tetap bisa memberikan peranan penting, jika diinginkan, BUMN akan secara langsung dan tidak langsung membawahi Dewan dengan tujuan agar sesuai dengan undang-undang SJSN.

(29)

29

Di bawah struktur yang ada saat ini, BUMN memiliki pengawasan penting. Mereka menunjuk dan menghapus pengelolaan dan pengawasan anggota komisi. Mereka memiliki 100 % stok pada administrator dan oleh karena itu mengawasi rapat umum pemegang saham (GOMS). Pengawasan BUMN semacam itu tidak memiliki dasar logis di bawah undang-undang SJSN karena administratos tersebut tidak untuk mencari keuntungan, pengawasan fungsi BPJS terletak di tangan DJSN dan BPJS harus dilaksanakan demi kepentingan anggota daripada kepentingan pemerintah. Pembahasan yang lebih jelas mengenai pilihan-pilihan pemerintah di bawah pendekatan persero non-laba terdapat di nota yang terpisah.

Undang-undang SJSN juga mengharuskan kekayaan peserta dipisahkan secara hukum dari kekayaan BPJS. Kekayaan peserta akan diadakan dengan “kepercayaan” yaitu kesatuan legal yang terpisah dari BPJS. Struktur ini menyediakan peningkatan transparansi, biaya eksplisit untuk pelayanan administrator dan perlindungan kekayaan peserta terhadap tuntutan kreditor BPJS.

Saat ini di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur dana perwalian. Namun, dana perwalian terdapat di negara-negara hukum perdata yang lain dan struktur semi-percaya sudah ada untuk dana bersama/mutual Indonesia dan dana-dana pensiun swasta. Akibatnya, memungkinkan untuk mendasarkan struktur jangka panjang dari sistem asuransi social ini pada model ini dan struktur ini merupakan yang terbaik untuk sistem SJSN.

5. PERANAN DEWAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL (DJSN)

Undang-undang SJSN membentuk satu kesatuan baru yang penting disebut dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional. Terdiri dari 15 anggota yang merupakan wakil pemerintah, pekerja, dan persatuan buruh, dan juga ahli dari luar, yang mana anggota tersebut ditunjuk oleh presiden. Dewan ini dibantu oleh skretariat yang bertanggungjawab untuk melakukan penelitian dan analisa dan Dewan juga bias menyewa konsultan jika diperlukan. Sekretaris Sekretariat Dewan beserta pegawainya akan menjadi PNS.

Dalam UU SJSN, DJSN memiliki peranan kritis dalam seluruh penguasaan sistem asuransi social. Dia merupakan badan badan pembuat keputusan yang bertanggungjawab atas aspek social politik dari operasional sistem. Juga berperan penting dalam meninjau kembali kinerja BPJS. Harus memastikan bahwa administrator beroperasi sesuai UU, mengelola program asuransi sosial sesuai kepentingan utama anggota dan menjalankan sistem yang ada dengan efisien. Jika struktur legal BPJS telah selesai, akan dibutuhkan UU yang menguraikan dengan jelas struktur legal baru dan struktur pemerintahan untuk sistem SJSN. Unsur utama yang harus dibicarakan dalam UU tersebut adalah:

• Proses penunujukkan dan penghapusan Dewan Direksi BPJS dan Komisi Pengawasan. • Wewenang, peranan, dan tanggungjawab pokok Komisi Pengawasan.

Gambar

Grafik  di  bawah  ini  menunjukkan  proyeksi  perubahan  komposisi  usia  penduduk  dari  waktu  ke  waktu
Tabel  di  bawah  ini  menunjukkan  dampak  kenaikan  usia  pensiun,  adanya  masa  kerja  sebelum  program  pensiun SJSN diberlakukan yang diperhitungkan, dan adanya jaminan pensiun sosial terhadap besarnya  iuran
Tabel  di  bawah  ini  menggambarkan  besarnya  iuran  program  jaminan  pensiun  setiap  tahun  sebagai  persentase dari PDB dan sebagai persentase dari upah apabila diasumsikan masa kerja sebelum program  SJSN  diperhitungkan  secara  penuh  dan  diasums
Tabel  di  bawah  ini  menggambarkan  pengaruh  tingkat  hasil  investasi  pada  besarnya  manfaat  program  jaminan  hari  tua  SJSN  dengan  menggunakan  asumsi  seperti  di  atas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% kulit buah carica ( Carica pubescens) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi peneliti memiliki

Judul Tesis : Penerapan Prinsip Kehati – hatian (Prudential Banking) Dalam Rangka Pemberian Kredit dengan Jaminan Deposito Secara Gadai di Bank X.. Telah berhasil dipertahankan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan probiotik pada ransum itik berpengaruh terhadap peningkatan bobot badan secara nyata (P<0,01), dapat

Instrumen yang sudah diperbaiki berdasarkan hasil analisis validitas dan reliabiltas akan digunakan untuk melakukan pengukuran nilai kerjasama siswa kelas IX SMP

Dapatan soal selidik yang dilakukan oleh The Independent Sector (1995) menunjukkan hanya 53% keluarga bangsa kulit hitam Amerika yang menderma berbanding

Pihak manajemen diharapkan dapat melakukan pengelolaan permasalahan- permasalahan dan insiden terkait dengan penerapan dan pegelolaan TI di perusahaan untuk

Informasi di atas hanya menyangkut bahan spesifik yang telah ditentukan dan mungkin tidak berlaku jika bahan tersebut digunakan sebagai campuran dengan bahan lain atau dalam

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Menghua Dong, dkk pada tahun 2013 dengan judul “ Aged black garlic extract inhibits HT29 colon cancer cell growth via the