• Tidak ada hasil yang ditemukan

PInjaman LUar negerI

Dalam dokumen ISSN : INFO KAJIAN (Halaman 51-55)

DIreKtorat PenDanaan LUar negerI mULtILateraL email: [email protected]

aBstraK

Dalam menangani masalah penyerapan danapada kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan pinjaman luar negeri, diperlukan peningkatan kualitas terhadappemenuhan Kriteria Kesiapan yang terdapat pada PP No. 2 Tahun 2006 melalui penyusunan Draft SOP (Standard Operational Procedure).

Beberapa metode yang dilakukan dalam kajian adalah dengan mengeksplorasi faktor-faktor penting dalam pemenuhan Kriteria Kesiapan, yakni dari Dokumen Kriteria Kesiapan Kegiatan, penyebaran kuesioner (Project Management Unit, tenaga ahli baik di K/L dan donor) serta melalui diskusi (Focus Group Discussion). Dari ketiga sumber tersebut kemudian diperoleh irisan melalui Teknik Triangulasi. Selain itu, dalam kajian juga dilakukan analisis statistik deskriptif terhadap hasil kuesioner, untuk menghasilkan gambaran umum mengenai kondisi eksisting Kriteria Kesiapan.

Dari hasil analisis triangulasi, diperoleh bahan rumusan penyusunan SOP yakni: 1) Kriteria kinerja monitoring dan evaluasi berupa logical framework; 2) Kriteria dana pendamping adalah berupa Dokumen RKA-KL (Kementerian/ Lembaga), Dokumen RKAP (BUMN), dan Dokumen RKA-SKPD (daerah); 3) Kriteria ketersediaan tanah yang meliputi dokumen rencana pengadaan tanah, yakni LARAP (Land Acquitition and Resettlement Action Plan); 4) Draft final pengelolaan proyek berupa dokumen pengelolaan manual yang bersifat administrasi atau operasional; 5) Pernyataan kontribusi dari pemerintah daerah, yakni berupa surat pernyataan berkontribusi dalam dana pendamping.

Dari hasil kesimpulan, kriteria kesiapan yang sulit dipenuhi berturut-turut adalah Pernyataan Kontribusi Daerah, Ketersediaan Tanah dan Dana Pendamping. Kemudian untuk rekomendasi yang diusulkan adalah: 1) Monitoring dan evaluasi didesain untuk menunjukkan proses pencapaian target secara per tahun; 2) Kriteria Dana Pendamping untuk tahun pertama ditunjukkan melalui Dokumen RKA-KL, RKAP, Dokumen Pagu Definitif; 3) Kriteria PMU/ PIU ditunjukkan melalui SK yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang; 4) Kriteria pengadaan tanah berupa Dokumen LARAP disertai sertifikat tanah, atau bukti-bukti pengeluaran pembebasan tanah; 5) Surat pernyataan kontribusi dari pemerintah daerah ditunjukkan melalui surat pernyataan dari Pemda terkait yang dilampiri RAPBD; 6) Kriteria Draft Final Pengelolaan Proyek berupa dokumen yang bersifat operasional atau administrasi.

I. Latar BeLaKang

Pengelolaan bantuan luar negeri tersebut memerlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Karena ketidaktepatan pengelolaan justru akan menghambat upaya percepatan pembangunan dan kerugian bagi Bangsa Indonesia sendiri, salah satunya adalah keterlambatan dalam pelaksanaan proyek atau program. Dari forum CPPR (Country Portfolio Performance

Review), diperoleh hasil bahwa penyebab keterlambatan implementasi proyek yang otomatis mengakibatkan keterlambatan

penyerapan dana adalah belum adanya pedoman untuk mengidentifikasi kesiapan calon pelaksana proyek dalam menerima pinjaman atau ketika akan mempersiapkan pelaksanaan proyek. Pedoman dalam memenuhi tahap persiapan proyek diperjelas dalam PP No.2 Tahun 2006, Penjelasan Pasal 14 Tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Kemudian, pedoman tersebut tertuang dalam beberapa kriteria kesiapan (readiness criteria) yakni: (1) Indikator Kinerja Monitoring dan Evaluasi Proyek; (2) Dana pendamping untuk tahun pertama pelaksanaan; (3) Rencana pengadaan tanah; (4) Pembentukan PMU & PIU; (5) Draft final pengelolaan kegiatan proyek; (6) Pernyataan Pemerintah Daerah untuk berpartisipasi dalam penyediaan dana pendamping. Namun, adanya kriteria kesiapan itu saja belum cukup untuk pemenuhan kriteria kesiapan proyek-proyek dengan pinjaman dari luar negeri. Sehingga, dari temuan tersebut membuat Bappenas menilai penting untuk menindaklanjuti dengan mengadakan kajian untuk penyusunan standar umum dalam melengkapi kriteria kesiapan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri, Peraturan Menneg PPN Nomor : PER.05/M.PPN/06/2006 Tentang Tata Cara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang akan Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri, PP No.1/ M.PPN/ 03/2007 Tentang

Mekanisme dan Prosedur Proses Penyiapan, Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai Dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri, MoU CPPR tahun 2002. Kajian ini dimaksudkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi kegiatan, serta memberi rekomendasi untuk melengkapi dokumen kriteria kesiapan.

II. tUjUan

Menyusun standart umum, Standard Operating Procedure (SOP), pada tiap-tiap kriteria kesiapan dalam menerima pinjaman luar negeri (readiness criteria) dalam meningkatkan koordinasi, ketepatan waktu dan akuntabilitas antara pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan kegiatan dalam negeri.

III. sasaran

Sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan kajian ini adalah teridentifikasinya indikator pada masing-masing Kriteria Kesiapan pada PP No.2 Tahun 2006, bagian Penjelasan Pasal 14.

IV. LIngKUP KajIan

Lingkup kajian penyusunan Standart Operating of Procedure (SOP) adalah sebagai berikut:

1. Mengkaji kriteria kesiapan dari beberapa studi kasus proyek PHLN dari Dokumen Kriteria Kesiapan. 2. Menggali faktor-faktor penting dalam pemenuhan kriteria kesiapan.

3. Menganalisis data-data yang terkumpul.

4. Menyimpulkan dan merekomendasikan Standard Operational of Procedure (SOP).

V. metoDoLogI

5.1 Pendekatan Penelitian dalam Kajian

Pendekatan kajian menggunakan pendekatan positivisme yang memiliki kebenaran teori empiri untuk berpikir spesifik, teramati, terukur dan dapat dieliminasikan. Pendekatan tersebut menghasilkan kebenaran umum, karena menggunakan teori-teori yang didasarkan pada kegiatan yang sudah terjadi serta dokumentasi resmi mengenai pemenuhan kriteria kesiapan proyek PHLN (Pinjaman Hibah Luar Negeri). Namun, dalam kajian ini hanya mengkaji tentang kesiapan proyek yang didanai pinjaman luar negeri. Sebagai langkah awal dalam kajian adalah dengan menggali informasi-informasi penting mengenai pedoman dan standart dalam pemenuhan kriteria kesiapan. Penggalian informasi tersebut dicapai melalui telaah dan review yang kemudian hasilnya diperoleh melalui analisis komparasi yang dijelaskan secara deskriptive. Penggalian informasi yang dimaksud berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri, khususnya pada kriteria kesiapan yang terdapat pada bagian penjelasan pasal 14 yakni:

1. Kriteria kinerja indikator monitoring dan evaluasi 2. Kriteria dana pendamping

3. Kriteria PMU/ PIU

4. Draft final pengelolaan proyek

5. Rencana pengadaan tanah dan/ resettlement telah ada

6. Pernyataan dari Pemerintah Daerah untuk ikut berpartisipasi dalam dana pendamping (bila diperlukan).

Melalui batasan keenam kriteria diatas kemudian dilakukan eksplorasi informasi untuk mencari pedoman atau standart dan alur dalam pemenuhan kriteria kesiapan. Kemudian melalui pendekatan komparasi, penggalian informasi untuk penyusunan SOP kriteria kesiapan juga dengan memperhatikan Peraturan Menneg PPN Nomor : PER.05/M.PPN/06/2006 Tentang Tata Cara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang akan Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri, PP No.1/ M.PPN/ 03/2007 Tentang Mekanisme dan Prosedur Proses Penyiapan, Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai Dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.

5.2 jenis Penelitian dalam Kajian

Jenis penelitian dalam kajian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan metode komparatif yakni suatu penelitian yang bersifat membandingkan dengan sample yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda, dengan model penelitian studi kasus (case study) dan eksplorasi pendapat para ahli. Melalui penelitian komparatif, beberapa hal yang diharapkan adalah tercapainya faktor-faktor, pedoman-pedoman, standart-standart dan masukan penting dalam penyusunan standar kesiapan pelaksanaan proyek yang dicapai melalui hal-hal sebagai berikut:

1. Menggali informasi pedoman dan prosedur dan lesson learned studi kasus di lapangan. 2. Mengeksplorasi pendapat dan masukan para responden.

3. Mengkaji pedoman-pedoman terkait dengan readiness criteria.

Pengumpulan data diatas termasuk kegiatan evaluasi, yakni pada tahap pertama diawali dengan menelaah studi kasus yang telah terjadi di lapangan. Melalui evaluasi tersebut diharapkan pedoman dan standart dalam pemenuhan kriteria kesiapan

diskusi. Sehingga, melalui beberapa sumber tersebut diharapkan dapat menemukan rumusan-rumusan dalam penyusunan SOP kriteria kesiapan.

5.3 Penentuan Pemilihan sampel studi Kasus

Pelaksanaan penelitian bahkan kajian selalu berhadapan dengan obyek atau sampel yang akan diteliti baik berupa manusia, benda, peristiwa maupun gejala yang terjadi, karena hal tersebut merupakan variabel penting dalam memecahkan masalah atau menunjang keberhasilan kajian. Pemilihan sampel dapat diambil melalui berbagai cara karena harus menyesuaikan dengan ketepatan sasaran kajian, mengandung banyak informasi yang masih berlaku dan aktual serta dapat dipercaya.Dalam kegiatan kajian ini, terdapat dua tipe sampel yang akan dipakai, yakni studi kasus proyek yang didanai pinjaman luar negeri dan responden yang menjadi stakeholder atau pelaku yang mempunyai kepentingan dalam pemenuhan kriteria kesiapan proyek dengan pinjaman luar negeri. Penjelasan metode pengambilan sampel dijelaskan melalui sub-subbab sebagai berikut:

5.3.1 metode Pemilihan studi Kasus Proyek-Proyek PHLn

Metode pemilihan studi kasus proyek-proyek PHLN didapat melaluibatasan atau kriteria-kriteria yang telah disetujui untuk menyeleksi proyek-proyek yang dapat dijadikan sebagai obyek studi. Batasan-batasan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Penilaian kualitatif dari Kasubdit Direktorat Pendanaan Luar negeri multilateral

Pemilihan proyek menurut penilaian kualiatif dari Kasubdit merupakan sarana dalam pemilihan, mengingat Kasubdit merupakan stakeholder yang cukup berpengalaman untuk menilai proyek yang pantas dijadikan studi kasus dalam kegiatan kajian penyusunan SOP.

2. tingkat kompleksitas proyek

Tingkat kompleksitas proyek menjadi penilaian untuk pemilihan studi kasus untuk mencari faktor-faktor apa saja yang mampu mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan proyek. Tingkat kompleksitas yang diambil cukup beragam baik pada proyek yang gagal maupun berhasil dalam persiapan dan pelaksanaannya.

3. terdiri dari beragam stakeholder

Ragam stakeholder menjadi penilaian dalam pemilihan studi kasus supaya tidak hanya mendapatkan faktor-faktor yang mampu mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan proyek dari single agency namun juga dari multiple agency.

Dari batasan-batasan tersebut, diperoleh sampel studi kasus untuk telaah kriteria kesiapan, yakni sebagai berikut:

tabel 3.1 sampel Proyek-Proyek PHLn

Lembaga Donor sampel sumber Data

World Bank PAMSIMAS Dokument POM (Project Operasional Management) PAMSIMAS

FEATI Pedoman Pengelolaan Program FEATI

BERMUTU Dokumen Readiness Criteria BERMUTU

Asian Development

Bank INVEST Dokume Readiness Criteria INVEST

STAR Dokumen Readiness Criteria STAR

ICWRMIP ICWRMIP dan Dokumen Readiness Criteria Laporan kompilasi Readiness Criteria

ICWRMIP Java-Bali Distribution

Performance Project Dokumen Readiness CriteriaJava Bali Distribution Performance Project

Islamic Development

Bank Belawan-Sibolga Fishing Ports Project Surat Laporan Pemenuhan Readiness Criteria

Sumber: Hasil Analisis, 2010

5.3.2 metode Pemilihan responden

Telah dijelaskan bahwa pengambilan sampel selain berasal dari survey sekunder, juga terdapat sampel yang diperoleh melalui survey primer melalui metode penyebaran kuesioner. Hal yang paling penting dalam penyebaran kuesioner adalah ketepatan pendistribusian kuesioner supaya sampai pada obyek atau responden yang tepat sehingga tujuan kuesioner dapat tercapai. Salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis ketepatan pemilihan responden adalah melalui Analisis Stakeholder. Analisis stakeholders merupakan alat yang penting untuk memahami konteks sosial dan institusional dari suatu program, proyek ataupun kebijaksanaan. Alat ini dapat menyediakan informasi awal dan mendasar mengenai:

1. Siapa yang akan terkena dampak dari suatu program (dampak positif maupun negatif); 2. Siapa yang dapat mempengaruhi program tersebut (positif maupun negatif);

3. Individu atau kelompok mana yang perlu dilibatkan dalam program tersebut, dan 4. Bagaimana caranya, serta kapasitas siapa yang perlu dibangun.

Analisis stakeholder dalam kajian ini bertujuan untuk menganalisis pihak-pihak yang berpengaruh dan berperan dalam pemenuhan kriteria kesiapan, sehingga dapat membantu pengambilan keputusan dalam pendistribusian kuesioner, khususnya pada penentuan responden. Perumusan stakeholders dalam kajian ini dapat dijelaskan dalam matriks pemetaan sebagai berikut: tab el 3.2 m atriks a nalisis stak eholder

Dari matriks analisis stakeholder diatas, kemudian dirumuskan kembali menurut kepentingannya berdasarkan kesuksesan program dan tingkat pengaruh responden dalam program. Berdasarkan pertimbangan tersebut kemudian disusun pengelompokkan stakeholder sebagai berikut:

tabel 3.3 Pengelompokkan stakeholder Dalam eksplorasi standart Kriteria Kesiapan

Kepentingan

Dalam dokumen ISSN : INFO KAJIAN (Halaman 51-55)