PENGADILAN TINGGI MEDAN
II. DALAM POKOK PERKARA ;
1. Segala uraian yang terdapat dalam pokok perkara ini merupakan satu kesatuan dengan eksepsi yang telah di sampaikan di atas ;
2. Bahwa tanah sengketa a quo merupakan adalah Kawasan Hutan Register 40 Padang Lawas berdasarkan :
1) Putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap (Inkracht van gewijsde) Nomor : 2642/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007 ;
2) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.579/Menhut-II/2014 Tentang Kawasan Hutan Provinsi Sumatera Utara ;
3. Dalil Penggugat angka 2 s/d 3 Halaman 2 yang intinya menyatakan bahwa atas tanah objek sengketa a quo telah diadakan kerjasama pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit antara Koperasi Parsadaan Masyarakat Ujung Batu (Parsub) dengan PT. Torus Ganda atas lahan seluas 23.000 Ha yang berada di Kecamatan Simangambat (Dahulu Kecamatan Barumun Tengah) yang bukan merupakan kawasan hutan, adalah dalil yang tidak berdasar hukum dengan alasan ;
a. Bahwa tanah objek sengketa merupakan kawasan hutan sebagaimana uraian angka 2 di atas ;
b. Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata, salah satu syarat sahnya suatu perjanjian adalah adanya kausa yang halal ;
c. Bahwa karena obejk perjanjian merupakan kawasan hutan Register 40 Padang Lawas yang belum memperoleh izin dari Tergugat I sesuai kewenangannya berdasarkan ketentuan Pasal 4 Ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan yaitu Undang-udang Nomor : 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu “Mengatur dan menetapkan
hubungan-PENGADILAN TINGGI MEDAN
hubungan hukum antara orang dengan hutan, serta mengatur perbuatan-perbutan hukum mengenai kehutaan” maka kausa perjanjian kerjasama pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit antara Koperasi Parsadaan Masyarakat Ujung Batu (Parsub) dengan PT. Torus Ganda atas lahan seluas 23.000 ha adalah tidak halal .
d. Bahwa oleh karena causa (objek) yang diperjanjikan adalah tidak halal/tidak sah maka perjanjian tersebut adalah batal demi hukm (Vanrechtswegw Nietig), sehingga dianggap tidak benar ada . Dengan demikian dalil Penggugat tidak berdasarkan hukum dan harus ditolak .
4. Dalil Penggugat Angka 5 Halaman 2 yang intinya menyatakan bahwa para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum sehingga mengganggu kegiatan perkebutan Penggugat adalah tidak berdasar hukum dengan alasan :
a. Bahwa tanah objek sengketa merupakan kawasan hutan sebagaimana uraian angka 2 diatas ;
b. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) Nomor : 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Pebrurai 2007 tanah objek sengketa telah dijadikan sebagai kawasan hutan dan dirampas oleh Negara untuk diserahkan kepada Departement Kehutanan ;
Dengan demikian tidak terdapat unsure perbuatan melawan hukum pada diri Para Tergugat, sehingga dalil Penggugat tidak beralasan hukum dan harus di tolak ;
5. Dalil Penggugat angka 13 halaman 6, angka 19 Halaman 9, Angka 27 Halaman 12 yang intinya menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu melanggar Pasal 15, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Pebruari 2012 dan Putusan MK Nomor : 35/PUU-X/2012, tanggal 16 Mei 2013 adalah dalil yang tidak beralasan hukum dengan alasan :
a. Berdasarkan pertimbangan Hukum Majelis Mahkamah Konstitusi pada angka 3.14 Putusan Nomor : 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Februari 2012, dinyatakan “Bahwa meskipun Pasal 1 angka 3 dan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
PENGADILAN TINGGI MEDAN
sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor : 19 Tahun 2004, mempergunakan frasa “ditujukan atau ditetapkan” dalam Pasal 81 Tetap sah dan mengikat”.
b. Berdasarkan ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor: 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi diatur bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi merupakan kekuatan hukum tetap sejak selesai diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum. Dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut tanggal 21 Pebruari 2012.
Dalam hukum tata Negara, keberlakuan suatu peraturan perundang-undangan didasarkan pada asa proaktif, artinya berlakunya untuk jangka waktu ke depan dan tidak retroaktif/ kebelakang.
c. Bahwa tempus delicti tindak pidana kehutanan atas nama Darianus Lungguk Sitorus dan Putusan Mahkamah Agung Nomor : 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Pebruari 2007 adalah sebelum diucapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Pebruari 2012.
Berdasarkan uraian tersebut huruf a s/d c di atas, maka GB dan Keputusan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 923/Kpts/UM/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Provinsi Dati I Sumatera Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.44/Menhut-II/2005 tanggal 16 Pebruari 2005 yang telah menunjuk Register 40 Padang Lawas sebagai kawasan hutan adalah sah dan mempunyai kekuatan hukum mengikat.
d. Terkait Putusan MK Nomor : 35/PUU-X/2012, tanggal 16 Mei 2013, Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan pembatalan Pasal 67 Undang-Undang Nomor : 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Dengan demikian quod non Penggugat adalah masyarakat adat, maka pengukuhan keberadaannya harus ditetapkan dengan peraturan daerah. Fakta hukumnya Penggugat tidak dapat menunjukkan Paraturan Daerah yang mengukuhkan keberadaan Penggugat sebagai masyarakat adat.
Dengan demikian tidak terdapat perbuatan melawan hukum pada diri Para Tergugat, sehingga gugatan Penggugat harus dinyatakan ditolak.
PENGADILAN TINGGI MEDAN
6. Dalil Penggugat angka 33 dan 35 halaman 18 dan 20 yang intinya menyatakan Tergugat I telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan Mengeluarkan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan dan Bupati Tapanuli Selatan kepada KPKS bukit Harapan, PT. Torganda, Koperasi Parsadaan Masyarakat Ujung Batu (Parsub) serta PT. Torus Ganda dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015 perihal pemberitahuan putusan MA Nomor : 2642 K/Pid/2006 tentang Register 40 Padang Lawas adalah dalil yang tidak berdasarkan hukum dengan alasan :
a. Bahwa dalam putusan Putusan MA Nomor : 2642 K/Pid/2006 tabggal 12 Pebruari 2007 di atas, yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde), Darianus Lungguk Sitorus dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan tindak pidana mengerjakan dan menduduki kawasan hutan secara tidak sah yang dilakukan secara bersama-sama dan dalam bentuk sebagai perbuatan berlanjut .
b. Selanjutnya dalam putusan tersebut dinyatakan barang bukti yang disita berupa :
- Perkebunan kelapa sawit di kawasna hutan Padang Lawas seluas + 23.000 hektar yang dikuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya ;
- Perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan Padangf Lawas seluas + 24.000 hektar yang dikuasai oleh Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.
Dirampas untuk Negara dalam hal ini Departemen Keuangan ;
c. Berdasarkan Berita Acara Penyerahan Barang Bukti Rampasan tanggal 26 Agustus 2009, telah dilaksanakan pelaksanaan putusan MA Nomor : 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Pebruari 2007 ;
PENGADILAN TINGGI MEDAN
d. Bahwa sampai saat ini KPKS Bukit Harapan, PT. Torus Ganda, PT. Torganda, Koperasi Parsub (Penggugat) tetap berada di tanah objek sengketa dan menguasai objek perkara tersebut serta memanen hasilnya yang seharusnya menjadi hak Negara ;
e. Dalam rangka pelaksanaan putusan dan agar pihak-pihak yang terkait dalam putusan pidana dapat segera menyerahkan objek perkara tersebut, maka dilakukan berbagai upaya yang antara lain berupa Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Tergugat I tidak melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga dalil Penggugat harus ditolak. 7. Dalil Penggugat dalam memori Gugatannya angka 37 halaman 21
berkaitan dengan ganti rugi yang harus dibayar Tergugat I kepada Penggugat sebesar Rp.1.000.000.000.000,- (satu triliun rupiah) adalah tidak beralasan hukum yang dilakukan Tergugat I yang menimbulkan kerugian bagi Penggugat, tuntutan ganti rugi yang di ajukan oleh Penggugat a quo juiga tidak di dukung dengan suatu perincian dan dasar hukum yang jelas, sehingga sudah sepatutnya di tolak, karena berdasarkan Yiriprudensi Mahkamah Agung Tanggal 18 Desember 1970 Nomor 492 K/Sip/1970 dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1720 K/Pdt/1986 tanggal 18 Agustus 1988 dengan tegas dinyatakan bahwa “Setiap tuntutan ganti rugi harus disertai perincian kerugian dalam bentuk apa yang menjadi dasar tuntutannya Tanpa perincian dimaksud maka tuntutan ganti rugi harus dinyatakan tidak dapat diterima karena tuntutan tersebut tidak jelas/tidak sempurna ;
8. Petitum Penggugat angka 5 halaman 28 yang intinya menyatakan putusan dalam perkara ini dapat dilaksanakan lebih dahulu walaupun ada banding/ menjatuhkan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) adalah tidak berdasar hukum karena tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor : 03 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (uitvoerbaar bij vorraad) dan provisional yaitu tidak terdapat gugatan provisional yang di kabulkan dan gugatan tidak didasarkan pada putusan yang telah
PENGADILAN TINGGI MEDAN
memperoleh hukum tetap yang mempunyai hubungan dengan pokok gugatan a quo. Di samping itu untuk dapat di kabulkannya putusan serta merta harus memenuhi syarat antara lain :
a. Memenuhi Pasal 191 ayat (1) RBg.
b. Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/obyek eksekusi. Sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain, apabila ternyata di kemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan tingkat pertama.
Atas dasar SEMA tersebut diatas jeas bahwa permohonan putusan serta merta yang di ajukan Penggugat tidak memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan, sehingga harus ditolak.