• Tidak ada hasil yang ditemukan

POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL DAN PERUBAHAN POSTUR APBN

Dalam dokumen Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2012 A (Halaman 31-34)

Tema Pembangunan RKP 2012

Tema pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2012 yang ditetapkan oleh Pemerintah bersama dengan DPR RI tahun 2012 adalah “Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”. Untuk mendukung rencana tersebut, Pemerintah memfokuskan pada tiga langkah utama , yakni: (i) melanjutkan pembangunan menuju Indonesia sejahtera; (ii) memperkuat pilar-pilar demokrasi; dan (iii) memperkuat dimensi keadilan di semua bidang. RKP 2012 sebagai penjabaran RPJMN 2010- 2014

RKP tahun 2012 adalah penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) tahun 2010-2014. RKP tahun 2012 adalah untuk mendukung sasaran pembangunan dalam RPJM 2010-2014 dalam bentuk: (i) sasaran pembangunan kesejahteraan; (ii) sasaran pembangunan demokrasi; dan (iii) sasaran penegakan hukum. Pemerintah Indonesia senantiasa konsisten untuk menjalankan komitmen mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth), mengurangi pengangguran (pro-job), mengentaskan kemiskinan (pro-poor), serta pembangunan berwawasan lingkungan (pro-environment). Sejalan dengan hal tersebut, sasaran di bidang ekonomi ditujukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan pada kisaran 6,5 persen sejalan dengan sasaran RPJMN 2010-2014 rata-rata 6,3-6,8 persen pertahun. Pengendalian tingkat inflasi pada tahun 2012 diupayakan sebesar 6,8 persen (APBNP 2012). Penurunan tingkat pengangguran menjadi sekitar 6,4 - 6,6 persen dimana sasaran RPJMN adalah sebesar 5 sampai 6 persen pada akhir tahun 2014 dan kemiskinan menjadi 10,5 sampai 11,5 persen dimana sasaran RPJMN pada akhir tahun 2014 sebesar 8 sampai 10 persen. Untuk mendukung pencapaian sasaran-sasaran tersebut, Pemerintah menetapkan sebelas prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam RKP 2012 yang meliputi (1) reformasi birokrasi dan tata kelola; (2) pendidikan; (3) kesehatan dan kependudukan; (4) penanggulangan kemiskinan; (5) ketahanan pangan; (6) infrastruktur, (7) iklim investasi dan iklim usaha, (8) energi, (9) lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pasca-konflik, (11) kebudayaan, kreatifitas, dan inovasi teknologi.

Pokok-pokok Kebijakan Fiskal dan Postur APBN 2012

Perubahan APBN 2012, selain menampung perubahan indikator ekonomi makro dalam tahun 2012, juga dimaksudkan agar berbagai besaran APBN menjadi realistis dan dapat dilaksanakan secara baik. Perubahan kebijakan fiskal dan langkah-langkah antisipatif dalam perubahan APBN 2012 meliputi antar lain: (1) Penambahan dana infrastuktur dan kebutuhan mendesak, yang dibiayai dari pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL); (2) Kebijakan pengendalian subsidi BBM; (3) pemotongan Belanja Pegawai dan Belanja Barang yang tidak mempengaruhi output dan outcome pada kementerian negara/lembaga; (4) perluasan defisit anggaran serta (5) optimalisasi pendapatan negara utamanya peningkatan PNBP.

Tabel 2 Realisasi Anggaran TA 2012 dan Perubahan APBN 2012

(dalam triliun rupiah)

URAIAN TA 2012 (Realisasi) TA 2012 APBN APBNP Penerimaan Perpajakan 980,52 1.032,57 1.016,24 PNBP 352,00 227,99 341,14 Penerimaan Hibah 5,79 0,82 0,82

Pendapatan Negara & Hibah 1.338,31 1.261,38 1.358,20

Belanja Pemerintah Pusat 1.010,56 964,99 1.069,53

Transfer ke Daerah 480,65 470,41 478,77

Total Belanja Negara 1.491,41 1.435,40 1.548,30

Suspen 0,21 - -

Surplus (Defisit) (153.10) (174,02) (190,10)

Pembiayaan 174,96 124,02 190,10

Sumber: Nota Keuangan APBNP 2012 Kebijakan Umum

Perpajakan

Dari sisi penerimaan negara, Pemerintah berupaya meningkatkan penerimaan pajak melalui pokok-pokok kebijakan umum perpajakan. Pokok-pokok kebijakan umum perpajakan pada tahun 2012 adalah sebagai berikut: (a) melanjutkan pokok-pokok kebijakan perpajakan yang telah dilakukan di tahun 2011; (b) melakukan perbaikan pelayanan dan penyuluhan perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela; (c) melakukan perbaikan kebijakan perpajakan untuk mendukung optimalisasi pendapatan Negara dan mendukung kegiatan ekonomi, termasuk dengan pemberian insentif fiskal; (d) melakukan pembenahan internal aparatur dan sistem perpajakan; (e) penegakan hukum (law enforcement) kepada wajib pajak yang tidak patuh; dan (f) mensinergikan unsur Pemerintah dalam penggalian potensi perpajakan dengan memberikan dukungan data/informasi kepada Kementerian Keuangan.

Program Penggalian Potensi Perpajakan

Sepanjang tahun 2012, Pemerintah telah melakukan berbagai program yang bertujuan untuk menggali potensi penerimaan perpajakan. Program-program tersebut antara lain adalah program intensifikasi perpajakan; program ekstensifikasi perpajakan; program canvassing (penyisiran potensi pajak berbasis wilayah); program intensifikasi penagihan; program penyempurnaan mekanisme keberatan banding dalam proses pengadilan pajak; law enforcement, yang meliputi pemeriksaan dan penagihan serta melakukan kegiatan pembinaan kepada wajib pajak yang telah terdaftar; dan mengefektifkan kegiatan sosialisasi dan edukasi perpajakan.

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 (audited)

Catatan atas Laporan Keuangan -21- Boks 1. Kebijakan Pajak Tahun 2012

Krisis yang terjadi pada beberapa negara Eropa memiliki potensi untuk mempengaruhi penerimaan pajak tahun 2012. Dampak krisis tersebut sudah mulai terasa dengan adanya penurunan ekspor-impor. Penurunan ekspor-impor akan berdampak pada turunnya penerimaan pajak terutama sektor Pajak Penghasilan (PPh) Impor dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Impor. Penerimaan perpajakan semester I 2012 mencapai Rp 457,00 triliun atau sekitar 44,26 persen dari target tahun 2012. Capaian tersebut sudah cukup baik mengingat kondisi perekonomian global yang tidak menentu. Untuk itu, pada semester II- 2012, Pemerintah menggenjot semua sektor guna mencapai target penerimaan perpajakan yang sudah ditentukan dalam APBN-P 2012 sebesar Rp 1.016,24 triliun. Selama ini tren penerimaan pajak pada semester II biasanya lebih tinggi dibandingkan realisasinya pada semester I. Namun demikian untuk tahun 2012, kemungkinan terjadinya perlambatan perekonomian Indonesia terkait krisis global harus diwaspadai. Oleh karena itu Pemerintah mengambil beberapa langkah pengamanan penerimaan pajak seperti perbaikan sistem PPN, perbaikan sistem teknologi informasi untuk pengawasan terhadap Wajib Pajak serta melakukan sensus pajak untuk menggali potensi penerimaan pajak yang lebih besar lagi.

Registrasi Ulang PKP

Tahapan awal dari perbaikan sistem PPN adalah Ditjen Pajak melaksanakan registrasi ulang pada Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dimulai sejak Februari sampai dengan 31 Agustus 2012. Ditjen Pajak merencanakan akan mencabut sekitar 300.000 PKP yang berpotensi menyelewengkan faktur pajak. Selama ini status PKP rawan disalahgunakan oleh pengusaha dengan menerbitkan faktur pajak fiktif. Dengan langkah ini diharapkan dapat mencegah kebocoran penerimaan PPN.

Sensus Pajak Nasional

Sensus Pajak Nasional adalah proses pengumpulan data Wajib Pajak untuk penggalian potensi perpajakan. SPN dilaksanakan karena sampai saat ini masih sangat banyak orang pribadi dan perusahaan di Indonesia yang belum melaksanakan kewajiban perpajakannya. Sensus pajak akan mendata para Wajib Pajak atau objek pajak yang berada di sentra bisnis, high rise building, perumahan dan ditambah dengan objek pajak potensial. Tahun 2012, SPN dilaksanakan mulai 1 Mei 2012 hingga 31 Oktober 2012. Ditjen Pajak menargetkan 2 juta Wajib Pajak bisa terdata dalam sensus pajak tahun ini atau meningkat dari target 2011 yaitu sebesar 900 ribu Wajib Pajak.

Kebijakan Lainnya

Selain kebijakan-kebijakan perpajakan yang ditujukan untuk mendongkrak penerimaan pajak, Pemerintah juga membuat kebijakan-kebijakan perpajakan yang memberikan keringanan perpajakan bagi masyarakat. Kebijakan itu antara lain rencana kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), penetapan sumbangan umat Hindu sebagai pengurang pajak, dan pembebasan PPN untuk rumah murah.

Pemerintah di tahun 2012 merencanakan kenaikan PTKP dari Rp 15,8 juta menjadi Rp 24 juta per tahun. Dengan kata lain, masyarakat penghasilan hingga Rp 2 juta per bulan tidak akan dipungut pajak. Kenaikan PTKP ini diharapkan akan membantu meringankan beban masyarakat yang berpenghasilan rendah. Kenaikan PTKP juga diharapkan dalam jangka panjang akan meningkatkan penerimaan pajak. Hal ini karena peningkatan PTKP itu akan memberikan insentif bagi masyarakat kecil, baik untuk pengembangan usaha baru, maupun ke arah konsumsi.

Pada bulan Juni 2012, Pemerintah telah menetapkan sumbangan wajib umat Hindu yang disumbangkan lewat Badan Dharma Dana Nasional Yayasan Adikara Dharma Parisad (BDDN YADP) dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dengan begitu, sumbangan tersebut dapat menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Sebelumnya pada tahun 2011, Pemerintah juga telah menetapkan 20 Badan/Lembaga penerima zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Pemerintah juga merencanakan membebaskan pengenaan PPN untuk rumah murah senilai Rp 90 juta sampai Rp 145 juta. Untuk harga rumah Rp 90 juta berlaku untuk rumah di Jabodetabek termasuk daerah lainnya dan rumah Rp 145 juta khusus di Papua. Dengan kebijakan ini diharapkan membantu masyarakat kelas bawah yang akan membeli rumah murah.

Sumber: Direktorat Jenderal Pajak

PEREKONOMIAN INDONESIA

Dalam dokumen Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2012 A (Halaman 31-34)