C. Analisis dan Pembahasan
1. Pola Komunikasi Interpersonal Guru dan Siswa kelas II-IV selama pembelajaran Daring
Hambatan yang terjadi pada proses pembelajaran hari ini adalah pada 1sesi yang sama, ada seorang siswa yang peneliti perhatikan tertinggal dengan teman yang lain. Ditambah lagi pada sesi (1) layar Hendra sedikit kresek dan blur, sehingga peneliti yakin bahwa sedang ada gangguan koneksi pada ponsel Hendra.
Hambatan berikutnya adanya kesulitan Dinara dalam memperagakan gerakan sesuai dengan yang guru contohkan, ini mengakibatkan guru harus berulang-ulang kali mengulangi gerakan yang sama.
oleh guru kepada siswa.Pola Komunikasi terdiri dari 3 macam yaitu : (Wood, 2013).
a. Model Komunikasi Linier
Model seperti ini digambarkan sebagai bentuk yang linear atau searah, proses di mana seseorang bertindak terhadap orang lain. Model linear awal ini memiliki kekurangan yang nyata. Hal tersebut digambarkan sebagai komunikasi satu arah-dari pengirim ke penerima pasif. Implikasinya adalah pendengar tidak pernah mengirim pesan dan hanya menyerap secara pasif apa yang dikatakan pembicara. Ini bukanlah komunikasi yang seharusnya.
b. Model Komunikasi Interaktif
Model ini menggambarkan komunikasi sebagai proses di mana pendengar memberikan umpan balik sebagai respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikan. Model interaktif menyadari bahwa komunikator menciptakan dan menerjemahkan pesan dalam konteks pribadinya.
Semakin banyak pengalaman komunikatordalam berbagai kebudayaan, akan semakin baik pemahamannya terhadap orang lain.
c. Model Komunikasi Transaksional
Salah satu ciri dari model ini adalah penjelasan mengenai waktu yang menunjukan fakta bahwa pesan, gangguan, pengalaman senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Model ini
menganggap bahwa gangguan muncul di seluruh proses komunikasi interpersonal. Pengalaman dari setiap komunikator dan pengalaman yang di bagikan dalam proses komunikasi berubah setiap waktu.
Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam interaksi dengan orang lain. Seperti yang kita ketahui, siswa tunarungu berbeda dari siswa lain pada umumya dalam hal berkomunikasi. Siswa tunarungu menggunakan komunikasi verbal dan non verbal atau biasa disebut juga komunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh. Bu Andini wali kelas II SDLB mengatakan bahwa siswa tunarungu menggunakan bahasa isyarat gerakan tangan, gerakan tubuh, ekspresi wajah maupun ujaran kata dalam berkomunikasi.
Biasanya pada saat pembelajaran di kelas, guru menggunakan metode komunikasi verbal dan non verbal pada proses pembelajaran di kelas. Komunikasi verbal yaitu komunikasi dengan menggunakan oral (lisan/bicara), tulisan serta membaca ujaran. Komunikasi non verbal merupakan komunikasi tanpa lisan dengan menggunakan keseluruhan ekspresi tubuh seperti sikap tubuh, ekspresi wajah (mimik), gesti/gerak (gestur) dan isyarat yang dilakukan secara alami.
Sejak pertengahan Maret 2020, SLB-B Raisya Puri Bekasi menerapkan sistem belajar dari rumah (study from home) bagi siswa dan kerja dari rumah (work from home) bagi guru.
Pembelajaran daring pada siswa SDLB Raisya Puri Bekasi mengkolaborasikan penggunaan aplikasi whatsapp dan zoom .
Dalam pembelajaran daring melalui aplikasi Zoom dan WhatsApp ini guru SLB menggunakan pola komunikasi linier yaitu dimana proses penyampaian komunikator kepada komunikan menggunakan alat atau sarana (media kedua) sebagai media utama untuk memudahkan komunikasi yang jauh tempatnya dan banyak jumlahnya dengan dukungan teknologi yang ada saat ini dan pola interaktif dimana adanya interaksi antara pengirim pesan (guru) dan penerima pesan (siswa).
Adapun skema pola komunikasi linier adalah sebagai berikut:
Gambar 8. Skema Pola Komunikasi Linier
Dalam hal ini, peran guru adalah sebagai komunikator, aplikasi penunjang pembelajaran berupa whatsapp dan zoom sebagai media, dan siswa tunarungu sebagai komunikan. Guru menggunakan media ini karena yang menjadi sasaran tempat komunikasi berada di tempat yang berbeda dan berjauhan serta banyak jumlahnya.
GURU
MEDIA(ZOOM, WA)
SISWA
SUMBER GANGGUAN
Dengan ini guru dapat melakukan WFH (work from home) dan siswa dapat melaksanakan SFH (study from home).
Pembelajaran daring SDLB Raisya Puri dimulai pukul 08.00 setiap hari Senin-Jum’at. Setiap kelas mempunyai grup pembelajaran sendiri di aplikasi whastapp. Sebelum pembelajaran dimulai guru memberi salam serta mengajak siswa untuk berdoa terlebih dahulu sebelum belajar. Selanjutnya guru menyapa siswa dan memberikan materi pembelajan dan diakhiri dengan tugas apabila ada tugas.
Pada penggambaran pola linier ini dapat diartikan sebagai komunikasi searah dimana pengirim pesan (guru) mengirimkan pesannya melalui media (zoom dan whatsapp) kepada penerima pesan (siswa). Pada proses komunikasi seperti ini siswa hanya menjadi pendengar dan peniru. Proses komunikasi seperti ini terjadi apabila guru memberikan materi berupa tayangan video singkat melalui fitur sharescreen pada aplikasi zoom.
Komunikasi dengan siswa tunarungu tentu berbeda dengan siswa lain, oleh karena itu guru cenderung menggunakan motode visual pada saat mengajar seperti memberikan video yang berkaitan dengan materi dan melakukan panggilan video dengan siswa atau dengan memberikan gambar terkait dengan materi pembelajaran.
Pada saat melakukan video conference, siswa akan merasa senang karena mereka dapat melihat wajah satu sama lain terutama dengan guru mereka. Interaksi komunikasi interpersonal antara guru dan siswa ini dengan menggunakan bahasa isyarat.
Adapun skema pola komunikasi interaktif sebagai berikut:
Gambar 9. Skema pola komunikasi Interaktif
Pada pola komunikasi interaktif ini dapat diartikan sebagai komunikasi dua arah karena menggambarkan komunikasi sebagai proses dimana pendengar (siswa) memberikan umpan balik sebagai respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikan (guru).
Proses komunikasi seperti ini terjadi ketika guru memberikan materi melalui whatsapp grup kemudian siswa merespon dengan membalas chat tersebut. Terjadi juga pada saat guru melakukan pengajaran melalui aplikasi zoom dimana guru memberikan materi kemudian siswa memberikan respon dengan mengangguk ataupun meniru gerakan guru, serta memberikan respon balik terhadap pertanyaan apasaja yang guru lontarkan.
Pada saat pembelajaran Daring adanya keterbatasan komunikasi antara guru dan siswa. Selain adanya keterbatasan fisik komunikan, juga karena adanya keterbatasan jarak dan waktu antara komunikator dan komunikan dalam melakukan aktivitas komunikasi. Meskirpun SLB-B Raisya Puri melakukan sistim
GURU
MEDIA(ZOOM, WA)
SISWA
pembelajaran yang memungkinkan komunikator dan komunikan dapat bertatap muka langsung sehingga memungkinkan terjadi nya komunikasi interperrsonal transaksional karena adanya pertukaran dialog secara berulang, namun daring disini adalah pembelajaran yang menggunakan adanya penggunaan media kedua dimana pada prosesnya lebih masuk kepada pola komunikasi sekunder seperti linier dan interaktif.
2. Hambatan Komunikasi interpersonal pada siswa tunarungu saat